cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
+6281805329239
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2016)" : 8 Documents clear
PEMETAAN POTENSI EKOWISATA WILAYAH PESISIR DI KABUPATEN BULELENG I Putu Ananda Citra
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8280

Abstract

wilayah pesisir Kabupaten Buleleng dengan tujuan 1) mendeskripsikan potensi ekowisata yang dimiliki DTW wilayah pesisir Kabupaten Buleleng, 2) Menganalisis peranan masyarakat desa adat untuk pengembangan potensi ekowisata di pesisir Kabupaten Buleleng, 3) memetakan sebaran tingkat potensi ekowisata di kawasan pesisir Kabupaten Buleleng. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survai didukung dengan metode observasi. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, 1) Potensi ekowisata yang berada di wilayah pesisir Kabupaten Buleleng secara umum dapat dikembangkan sebagai ekowisata. 2) Peranan Desa Adat dalam pengembangan ekowisata pesisir dalam kategori tinggi. DTW yang dikelola oleh desa adat memberikan tanggung jawab langsung untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. 3) Sebaran tingkat potensi ekowisata pada kawasan timur masih perlu ditingkatkan, sedangkan wilayah pesisir bagian dan bagian barat memiliki potensi tinggi. Nilai tertinggi pada pesisir bagian barat. Hal ini karena DTW biorock di Desa Pemuteran melibatkan wisatawan untuk turut menjaga lingkungan dan berpartisipasi dalam melestarikan terumbu karang sebagai daya tarik utama. Kata kunci: Pemetaan, Ekowisata, Wilayah Pesisir Abstract This research was conducted in the coastal areas of Buleleng with the purpose of 1) describe the potential of ecotourism owned DTW coastal areas of Buleleng, 2) to analyze the role of indigenous villagers for potential development of ecotourism in the coastal district of Buleleng, 3) to map the distribution of the level of potential eco-tourism in the coastal area district Buleleng. The method used in this study is a survey supported by the observation method. Sampling with purposive sampling technique. Data was analyzed using qualitative descriptive analysis techniques. Results showed that 1) The potential for ecotourism in the coastal areas of Buleleng in general can be developed as an ecotourism. 2) Role of the Village People in coastal ecotourism development in the high category. DTW managed by indigenous villages provide direct responsibility for developing potential. 3) Distribution rate ecotourism potential in the eastern region still needs to be improved, while the coastal areas and western parts have a high potential. The highest value on the western coast. This is because the DTW biorock in the village of Pemuteran involving tourists to participate in maintaining the environment and participate in the preservation of coral reefs as the main attraction. Keywords: Mapping, Ecotourism, Coastal Areas
PENGEMBANGAN MODEL STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN BERBASIS MODAL SOSIAL UNTUK MENCEGAH KEBANGKRUTAN LEMBAGA PERKREDITAN DESA (LPD) DI BALI Anantawikrama Tungga Atmadja; Nyoman Ari Surya Darmawan; Nyoman Trisna Herawati
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8281

Abstract

Abstrak Sebagai lembaga bentukan desa pakraman, selain memiliki fungsi bisnis LPD juga memiliki fungsi sosial untuk memajukan perekonomian desa pakraman beserta seluruh krama-nya. Fungsinya yang penting ini mengakibatkan LPD harus dihindarkan dari permasalahan keuangan yang dapat berujung pada kebangkrutan. Berbeda dengan lembaga keuangan lainnya selain mempergunakan tata aturan organisasi formal, LPD mempergunakan modal sosial yang dimiliki oleh desa pakraman sebagai basis aktivitas operasionalnya. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk membangun model srtuktur pengendalian intern berbasis modal sosial yang dapat diterapkan pada seluruh LPD di Bali yang dibagi menjadi tiga tahapan penelitian. Pada tahapan pertama ini akan diinventarisir modal sosial apa yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat struktur pengendalian LPD dengan mengetahui, 1) alasan desa pakraman membentuk LPD, 2) hubungan antar para pemangku kepentingan di LPD, dan 3) bentuk penyertaan modal sosial dalam struktur pengendalian intern LPD. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif pada 18 LPD di seluruh kabupaten dan kota madya di Bali. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi partisipasi, dan studi dokumentasi yang selanjutnya dianalisis berdasarkan kerangka teoritik yang telah disusun sebelumnya. Hasil penelitian menujukkan bahwa 1) LPD didirikan berdasarkan instruksi penguasa supra desa sekaligus merupakan kebutuhan krama desa pakraman, 2) pola hubungan antar stakeholder berbasis modal sosial yang dilandasi ideologi Tri Hita Karana, serta 3) modal sosial yang berperan dalam aktivitas operasional sekaligus pelaksanaan struktur pengendalian intern LPD adalah trust, jaringan sosial, dan pranata sosial. . Kata kunci: Lembaga Perkreditan Desa, Model Struktur Pengendalian Intern, Modal Sosial, Tri Hita Karana, Kebangkrutan Abstract As an institution formed by Desa Pakraman, besides having a business function LPD also has a social function to promote the economy of Desa Pakraman and its members. This important functions derive LPD should be avoided from the financial problems that can lead to bankruptcy. Compared to other financial institutions, LPD is ruled by using the formal organization and importantly social capital belonged to Desa Pakraman as the basis of operational activities. Therefore, this study aims to develop a model of internal control structure based on social capital that can be applied to the entire LPD in Bali. This study is divided into three stages of research. In the first stage it will be inventoried what social capital can be used to strengthen the structures of LPD’s control by knowing: 1) the reason of Desa Pakraman in building an LPD, 2) the relationship among the stakeholders in LPD, and 3) form of social capital share in the LPD’s internal control structure. This research was conducted using qualitative method at 18 LPDs in all regencies in Bali. Data were collected through interviews, participatory observation and documentation study. It was then analyzed based on the theoretical framework that has been developed previously. The results showed that 1) LPD was established based on instruction of the ruler of the supra-villages as well as the need of Desa Pakraman, 2) the pattern of relationships among stakeholders was based on social capital with the ideology of Tri Hita Karana, and 3) the social capital involved in operational activities and the implementation of internal control structure of LPD is trust, social networks, and social institutions. Keywords: Lembaga Perkreditan Desa (LPD), model of internal control structure, social capital, Tri Hita Karana, bankruptcy.
REINVENTARISASI MAKANAN TRADISIONAL BULELENG SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN SENI KULINER BALI Ni Wayan Sukerti; Cok.Istri Marsiti; Ni Made Suriani
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8282

Abstract

pertama ini adalah untuk memperoleh strategi reinventarisasi makanan tradisional Buleleng sebagai salah satu upaya pelestarian seni kuliner Bali. Tujuan dapat dijabarkan sesuai tahapan pencapaian (1) Mengidentifikasi jenis-jenis makanan tradisional yang khas di Kabupaten Buleleng sejak dulu sampai sekarang (2) Menyusun pedoman/panduan resep beragam makanan tradisional khas di Kabupaten Buleleng. Jenis penelitian ini berupa penelitian survei dan pengembangan (Survei and Development Research ) yang dilaksanakan selama 2 (dua) tahun. Penelitian tahun pertama, menghasilkan rancangan sebagai berikut: (a) melakukan identifikasi terhadap jenis-jenis makanan tradisional khas Buleleng yang dikonsumsi masyarakat di Kabupaten Buleleng sebelumnya.,(b) melakukan pengkajian resep-resep berbagai jenis makanan tradisional khas Buleleng berdasarkan hasil identifikasi secara tradisional, (c) Menyusun draft pedoman resep tradisional . Lokasi penelitian ini adalah di delapan Kecamatan yang ada di kabupaten Buleleng, yang terbagi ke dalam 24 desa sebagai wilayah sampling. Metode pengumpulan data adalah metode wawancara, metode observasi partisipasi, dan metode Dokumentasi. Selanjutnya Data dianalisis secara deskriftif kualitatif yaitu pemaparan dengan kata-kata untuk menggambarkan objek yang diteliti. Penggambaran data hasil penelitian dilakukan secara objektif,sesuai dengan keadaan sebenarnya. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Jenis-jenis hidangan khas tradisional kabupaten Buleleng meliputi : (a) Makanan Pokok seperti nasi tulen, nasi moran gadung, nasi moran keladi/talas, moran sele sawi, mengguh, blayag, tipat srosob; (b) Lauk Pauk meliputi : serapah, sate celeng, timbungan , dll, (c) Sayuran meliputi : urab paku, urab kacang dll, (d) Jajanan meliputi: jaja bantal, jaja kaun tulud, jaja lemu, jaja satuh ; dll, (e) Minuman meliputi loloh kunyit, loloh belimbing, es daluman, es kuud, rujak timun.;(2) tersusunnya 1 buah buku draft resep makanan tradisional Buleleng. Kata kunci: reinventarisasi, makanan tradisional, kuliner Bali Abstract The aim of research in the first year is to obtain Buleleng traditional foods re-inventory strategy as one of efforts to conserve Bali culinary arts. Goals can be outlined to the stage of achievement such as: (1) Identify the types of traditional food that is typical in Buleleng since long time ago until now (2) Develop guidelines/manual of various traditional food recipes in Buleleng. This type of research is in the form of Survey and Development Research which held for 2 (two) years. The first year, would produce the design as follows: (a) the identification of the types of Buleleng traditional food that consumed by people in Buleleng in the previous time, (b) assessing the recipes of various kinds of Buleleng traditional food based on the identification which has been conducted traditionally, (c) doing the process of testing traditional recipes. The location of this research was in the eight sub-districts in the Buleleng Regency, which were divided into 24 villages as the sampling area. Data collection methods used in this reseach were interviews, observation method of participation, and methods of documentation. Further data were analyzed by descriptive qualitative that would be presented by describing the object under study. Data depiction of the research results conducted objectively, in accordance with the actual and the real situation. The result of data showed that: (1) The types of Buleleng traditional dishes include: (a) Staple Food such as rice, gadung moran rice, taro moran rice, sweet potato moran rice, mengguh, blayag, tipat srosob; (b) the Side Dish include: serapah, pork satay, timbungan, etc., (c) Vegetables include: urab paku, urab kacang, etc., (c) Snacks include: bantal cake, Kaun tulud cake, Lemu cake, satuh cake, etc., (d) Beverages include turmeric herb, star fruit herb, daluman ice, young coconut ice, cucumber salad. Keywords: re-inventory,traditional foods, Bali Culinary arts
PEMANFAATAN TEPUNG SINGKONG SEBAGAI SUBSTITUSI TERIGU UNTUK VARIASI CAKE Risa Panti Ariani; I.A.P Hemy Ekayani; Luh Masdarini
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8283

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini untuk memperoleh variasi cake dari tepung singkong dengan mensubstitusi terigu. Karena terigu merupakan produk impor olahan dari gandum, sebagai usaha mendukung peningkatan ketahanan pangan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental semu di laboratorium karena keterbatasan untuk mengontrol semua variabel yang relevan. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar observasi untuk memperoleh data uji kualitas dari panelis terlatih, sedangkan data uji selera diperoleh dari masyarakat umum untuk mengetahui keberterimaan variasi cake singkong. Analisis data penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian memperoleh kualitas cake singkong pada kriteria yang sempurna pada, (a) pound cake dengan substitusi 80% bahan utama, (b) roll cake dengan substitusi 100% bahan utama, tetapi kualitas tekstur terendah, (c) chiffon cake dengan substitusi 100% bahan utama, serta pengembangan (volume) maksimal, (d) bolu kukus dengan substitusi 80% bahan utama, tetapi kualitas aroma terendah, (e) sponge cake dengan substitusi 80% bahan utama, tetapi semua kriteria terendah, (f) brownies dengan substitusi 100% bahan utama, serta semua kriteria tertinggi, (g) fruit cake menggunakan buah-buahan lokal dengan substitusi 100% bahan utama, serta semua kriteria tertinggi, dan (g) rainbow cake dengan substitusi 100% bahan utama, tetapi kualitas tekstur terendah. Secara umum keberterimaan masyarakat sangat menyukai variasi cake singkong, tetapi sponge cake dan rainbow cake memperoleh keberterimaan terendah. Dengan demikian 8 jenis cake dapat menggunakan tepung singkong sebagai substitusi terigu untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan. Kata kunci: tepung singkong, variasi cake, substitusi terigu Abstract The purpose of this study to obtain a cake variation of substituting wheat with cassava flour. Because wheat is imported products processed from wheat, in an effort to support increased food security. This study uses a quasi-experimental research in the laboratory because of the limitations to control all the relevant variables. Data collection instrument uses observation sheets to obtain quality test data from trained research, while the taste test data obtained from the general public to determine the acceptability of variation cassava cake. The data analysis was conducted by qualitative descriptive study. Research results obtained quality cake cassava on the criteria perfectly on, (a) pound cake with a substitution of 80% of the main ingredient, (b) roll cake with substitution of 100% main ingredient, but the quality of the texture of the lowest, (c) chiffon cake with substitution of 100% the main ingredient, and development (volume) maximum, (d) steamed sponge with the substitution of 80% of the main ingredient, but the quality of the aroma room, (e) sponge cake with a substitution of 80% of the main ingredient, but all the criteria lows, (f) brownies with substitution 100% main ingredient, as well as all the supreme criterion, (g) fruit cake using local fruits by substitution of 100% main ingredient, as well as all the supreme criterion, and (g) rainbow cake by substituting 100% main ingredient, but the texture quality lowest. In general acceptability of the community is like the variety of cassava cake, but the cake and rainbow sponge cake obtain the lowest acceptance. Thus the 8 types of cake can be used as a substitution of cassava flour wheat to support increased food security. Keywords: cassava flour, cake variation, substitution wheat
BENTUK PERKAWINAN MATRIARKI PADA MASYARAKAT HINDU BALI DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM ADAT DAN KESETARAAN GENDER Ni Ketut Sari Adnyani
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8284

Abstract

Abstrak Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model hukum perkawinan berorientasi gender berbasis desa adat Hindu Bali. Penelitian ini akan dilakukan selama 3 tahun, yaitu dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2016. Luaran penelitian selama tiga tahun dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) luaran tahun I (2015) terdiri adalah artikel ilmiah di jurnal terakreditasi, dan draft buku ajar hukum waris pengaruh dari perkawinan berorientasi gender berbasis desa adat Hindu Bali. (2) luaran tahun II (2016) terdiri adalah artikel ilmiah di jurnal nasional terakreditasi, dan buku ajar terkait dengan hukum waris pengaruh dari perkawinan berorientasi gender berbasis desa adat Hindu Bali, dan artikel ilmiah di jurnal internasional. Hasil penelitian bentuk perkawinan matriarki di beberapa daerah di provinsi Bali seperti Buleleng, Tabanan, Gianyar, telah dijumpai penerapannya dalam masyarakat, sedangkan, di beberapa daerah lain seperti Jembrana, Klungkung, dan Bangli masih menolak bentuk perkawinan nyentana (nyeburin) yang secara proses menyerupai perkawinan matriarki, namun menurut esensinya status putrika pada anak perempuan yang menjadi sentana rajeg sudah didaulat berdasarkan pauman krama sebagai purusa (status laki-laki) penerus keturunan keluarga. Beberapa daerah lain seperti Karangasem, dan Kodya Denpasar, di satu sisi pada umumnya masyarakat menganut bentuk perkawinan patriarki, tapi dalam prakteknya tidak dapat dipungkiri ada beberapa desa seperti Tianyar, dan Abang di wilayah kabupaten Karangasem yang dijumpai telah melaksanakan bentuk perkawinan matriarki. Dikaitkan dengan pewarisan, pengaruh bentuk perkawinan matriarki terhadap anak perempuan yang semula bukan sebagai ahli waris dapat menjadi ahli waris terhadap harta orang tuanya. Implikasinya putrika mempunyai kewenangan yang sama dengan laki-laki untuk mewarisi harta kekayaan dan sanggah (tempat suci keluarga) sebagaimana layaknya laki-laki. Model rekonstruksi kebijakan perkawinan yang direkomendasikan oleh peneliti menjawab permasalahan di lapangan adalah penerapan model formulasi kebijakan perkawinan parental (Pada Gelahang). Kata Kunci: perkawinan, matriarki, gender. Abstract In general, this study aims to develop a model of marriage laws gender-oriented village-based traditional Hindu Bali. This study will be conducted over three years, from 2015 until 2016. The output of the study for three years can be described as follows: (1) outputs the first year (2015) is composed of scientific articles in accredited journals and textbooks draft law of inheritance the influence of gender-oriented marriage of traditional village-based Hindu Bali. (2) The outcome of the second year (2016) is composed of scientific articles in accredited national journals, and textbooks related to inheritance laws the influence of gender-oriented marital village-based traditional Balinese Hindu and scientific articles in international journals. The results of the study form of marriage matriarki in some areas in the province of Bali as Buleleng, Tabanan, Gianyar, has found its application in society, whereas, in some other areas such as Jembrana, Klungkung and Bangli still refuse forms of marriage nyentana (nyeburin) which process resembles marriage matriarki, but according to its essence putrika status in young women who become Rajeg cemetery has been asked by pauman manners as purusa (status male) successor to the family lineage. Several other areas such as Karangasem, and Denpasar municipality, on the one hand to the general public embrace patriarchal forms of marriage, but in practice there is no doubt there are some villages like Tianyar, and brother in the district of Karangasem who are found to carry out the marriage form matriarki. Associated with inheritance, marriage forms matriarki effect against girls which was originally not as heirs may be heir to the wealth of their parents. , The implication putrika have the same authority as men to inherit wealth and corrected (sanctum family) as befits a man. Model reconstruction marriage policy recommended by researchers to answer the problem in the field is the application of the model policy formulation parental marriage (In Gelahang). Keywords: marriage, matriarki, gender.
PENGARUH PEMBINAAN PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN USAHA YANG DIMEDIASI OLEH SIKAP PADA PERTUMBUHAN USAHA, NORMA SUBYEKTIF DAN PERCEIVED BEHAVIOR CONTROL PENGUSAHA UKM Ni Made Suci
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8285

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh pembinaan pemerintah terhadap pertumbuhan usaha yang dimediasi oleh sikap pada pertumbuhan usaha, norma subyektif, perceived behavior control/PBC pengusaha pada UKM di Provinsi Bali. Penelitian ekplanatori ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menghasilkan temuan yang bersifat konklusif. Jumlah sampel sebanyak 180 pengusaha yang ditetapkan berdasarkan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data adalah survey dengan instrumen kuesioner. Teknik analisis data dengan Structural Equation Modelling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pembinaan pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap pada pertumbuhan usaha, norma subyektif dan PBC pengusaha (2) Norma subyektif dan PBC pengusaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan usaha UKM. (3) Sikap pada pertumbuhan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan usaha. (4) Norma subyektif dan PBC terbukti memediasi pengaruh pembinaan terhadap pertumbuhan usaha. (5) Sikap pada pertumbuhan usaha tidak terbukti memediasi pengaruh pembinaan terhadap pertumbuhan usaha pada UKM. Perlu program pembinaan yang tepat secara berkelanjutan untuk membentuk sikap dan perilaku positif pengusaha dalam mengembangkan usaha. Kata kunci: pembinaan, sikap pada pertumbuhan usaha, norma subyektif, perceived behavior control dan pertumbuhan usaha Abstract The purpose of this study was to test the effect of government guidance on business growth of SMEs mediated by entrepreneur’s attitude toward business growth, subjective norms, perceived behavioral control / PBC to SMEs in the Province of Bali. This explanatory research uses a quantitative approach to generate conclusive findings. The total sample of 180 entrepreneurs who are determined based on purposive sampling technique. Data collection techniques are survey by questionnaire. Data analysis techniques with Structural Equation Modelling (SEM). The results showed that: (1) Guidance government have significant and positive effect on the entrepreneur’s attitude toward business growth, subjective norm and PBC (2) Entrepreneur’s subjective norm and PBC have positive and significant impact on the growth of SMEs (3) The entrepreneur’s attitude toward business growth does not significantly affect on business growth of SMEs. (4) The subjective norm and PBC proved to mediate the effect of govermen guidance on business growth (5) The entrepreneur’s attitude toward business growth is not proven to mediate the effect of govermen guidance on business growth in SMEs. Need proper and continuing coaching program to form positive attitudes and behavior of entrepreneur,s in developing businesses. Keywords: coaching, attitude to business growth, subjective norm, perceived behavioral control and business growth
REALISASI ISI KEPUTUSAN PESAMUAN AGUNG III MUDP BALI NO. 01/KEP/PSM-3 MDP BALI/X/2010 TERKAIT DENGAN ANAK PEREMPUAN TERMASUK BERHAK MEWARIS (STUDI KASUS DI KABUPATEN BULELENG) Ketut Sudiatmaka
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8286

Abstract

Abstrak Latar belakang penelitian ini adalah kajian terhadap status hukum perempuan Bali lemah dari segi pewarisan, karena menurut Hukum Adat Bali yang berhak mewaris hanyalah keturunan pria dan pihak keluarga pria dan anak angkat lelaki.. Wanita di dalam Hukum Adat Masyarakat Bali masih mengalami diskriminasi dari segi ketentuan hukum. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk (1) untuk mengetahui bentuk pengambilan kebijakan dalam proses pengambilan keputusan adat perihal waris di kabupaten Buleleng; (2) untuk mengetahui realisasi isi keputusan MUDP Provinsi Bali No.01/Kep/PsM-3/MDP BALI/X/2010, 15 Oktober 2010 tentang perempuan Bali menerima 1/2 dari hak waris purusa setelah dipotong 30% untuk harta pusaka dan kepentingan pelestarian. (3) Untuk mengetahui pandangan dan keberterimaan perempuan di Kabupaten Buleleng terhadap implementasipsamuan agung III MUDP Bali; (4) untuk mengetahui pengaruh dari penetapan SK MUDP Provinsi Bali No.01/Kep/PsM-3/MDP BALI/X/2010, dan daya ikat bagi masyarakat adat di kabupaten Buleleng. Penelitian ini akan dilakukan selama 2 tahun, yaitu dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2016. Luaran penelitian dijabarkan sebagai berikut: (1) luaran tahun I: perancangan dan pengembangan kebijakan tentang ketentuan adat yang lebih menjamin hak-hak perempuan secara hukum, dan Buku Ajar. (2) luaran tahun II: artikel ilmiah di jurnal nasional terakreditasi/internasional seperti jurnal Hukum Pandecta, dan rekomendasi yang berkaitan dengan rujukan draft naskah akademik yang dirancang oleh peneliti untuk diusulkan ke instansi terkait sebagai rujukan dalam penetapan hukum. Hasil penelitian Bentuk pengambilan keputusan di wilayah adat sudah menyesuaikan dengan uger-uger adat yang berlaku di masing-masing daerah di Kabupaten Buleleng tempat penelitian dilaksanakan. Untuk dapat dilaksanakan isi Pesamuan Agung III itu, dirasakan sangat perlu adanya perarem-perarem di masing-masing desa adat guna adanya pengenjuh awig yaitu penambahan atau perubahan awig-awig yang telah dimiliki dan berlaku. Dalam aplikasi putusan Pesamuan Agung III MUDP Bali, mendapat respon negarif dari anak laki-laki yang kurang memahami asas komunalitas di antara anak laki-laki maupun perempuan, tetapi jika dilihat pemberi waris dalam bentuk paweweh tampaknya anak laki-laki pun tidak keberatan. Tanggapan positif masyarakat Buleleng menghormati hak perempuan Bali dalam bidang kehidupan sosial dan ekonomi dengan kebijaksanaan memberikan kesempatan sebagai pewaris di dalam keluarga. Kata Kunci: Decision Tree, Diskriminasi Perlakuan, Hukum Adat, Kebijakan, Keputusan, Kontradiktif , Mewaris, Perempuan Bali. Abstract The background of this research is the study of the legal status of women Bali weak in terms of inheritance, because according to the Customary Law Bali rightful heir only male offspring and the families of men and male foster child. Women in the Indigenous people of Bali are still suffering discrimination in terms of provision law. In general, this study aims to (1) to determine the form of policy making in the traditional decision-making process regarding inheritance in Buleleng district; (2) to determine the actual contents of Bali Province MUDP decision No.01/Kep/PSM-3/ MDP BALI/X/2010, October 15, 2010 on Bali receives 1/2 of the women's inheritance rights purusa after the deduction of 30% for inheritance and conservation purposes. (3) To know the views and acceptance of women in Buleleng against the great implementasion pesamuan III MUDP Bali; (4) to determine the effect of fixing SK MUDP Bali Province No.01/ Kep/PSM-3/MDP BALI/X/2010, and the holding capacity for indigenous peoples in Buleleng regency. This study will be conducted over two years, ie from 2015 to 2016. The output of the study described as follows: (1) the outcome of the first: the design and development of a policy on customary provisions that guarantee the rights of women in law, and Textbook , (2) the outcome of II: scientific articles in journals accredited national / international as Pandects law journal, and recommendations with regard to the referral draft academic paper designed by the researchers to be proposed to the relevant institutions as a reference in determining the law. The form of the decision-making research results in the area of indigenous adjust with uger-uger custom prevailing in each region in Buleleng where research is conducted. To be able to browse the congregation carried Agung III, perceived necessary for perarem-perarem in each indigenous village to the pengenjuh awig that additions or changes awig awig which has been owned and is valid. In applications congregation Court ruling III MUDP Bali, getting a response negarif of boys who do not understand the principle of commonality among boys and girls, but when seen in the form of inheritance giver paweweh boy apparently did not mind. Positive response community Bali Buleleng respect women's rights in the areas of social and economic life with the wisdom of giving a chance as heir in the family. Keywords: Decision Tree, Discrimination treatment, Customary Law, Policy, Decisions, Contradictory, heir, Women Bali.
PERBANDINGAN KOMUNIKASI NONVERBAL PENUTUR ASLI DAN PENUTUR ASING BAHASA INGGRIS DALAM PUBLIC SPEAKING I Made Suta Paramarta; Putu Ayu Prabawati Sudana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish-undiksha.v5i1.8287

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan fitur-fitur nonverbal penutur asli dan penutur asing dalam public speaking. Perbedaan budaya antara kedua kelompok penutur tersebut menimbulkan perbedaan penggunaan fitur nonverbal dalam public speaking. Desain penelitian ini adalah desain deskriptif kualitatif dengan 10 subjek. 5 subjek adalah video penutur asli Bahasa Inggris dan 5 video subjek yang lain adalah video mahasiswa Jurusan D III Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha. Penutur asli menunjukkan gerakan nonverbal yang jauh lebih variatif dari penutur asing Bahasa Inggris. Penutur asli memiliki gerakan-gerakan spesifik yang mengacu pada makna yang spesifik juga. Di lain pihak, penutur asing menunjukkan gerakan nonverbal yang bersifat umum tanpa rujukan pasti pada maksud yang spesifik. Fitur nonverbal yang dicermati dikelompokkan pada gerakan kepala, gerakan badan, dan kontak mata. Kata kunci: perbandingan, nonverbal, public speaking Abstract The purpose of this research is to compare the nonverbal features of the native speakers and the non-native speakers of English in public speaking. Cultural differences between the two groups make significant differences on using the nonverbal features in public speaking. The design of this research was a descriptive-qualitative design with 10 subjects. 5 subjects were videos of 5 English native speakers and the other 5 subjects were the videos of 5 students of Diploma III English Department Universitas Pendidikan Ganesha. The native speakers showed more variative nonverbal movements compared to the non-native speakers. The native speakers made specific gestures which refered to certain specific meanings. On the other hand, the non-native speakers applied general nonverbal movements without specific referents. The investigated nonverbal features were grouped into head movements, body movements, and eye contacts. Keywords: comparison, nonverbal, public speaking

Page 1 of 1 | Total Record : 8