cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UNTAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
KARAKTERISASI NANOENKAPSULASI KITOSAN-EKSTRAK ETANOL 70% DAUN SIRIH (Piper betle Linn) DENGAN METODE GELASI IONIK ., Gia Saputra
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.588 KB)

Abstract

Daun sirih merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki khasiatsebagai antioksidan. Kandungan kimia yang diduga memiliki aktivitas antioksidanyaitu polifenol. Namun, senyawa ini memiliki kelemahan yaitu tidak stabilterhadap pengaruh suhu dan intesitas cahaya tinggi sehingga mudah teroksidasi.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan dan melindungisenyawa tersebut dari kerusakan adalah dengan nanoenkapsulasi. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui karakteristik nanoenkapsulasi yang mengandungekstrak etanol daun sirih dengan berbagai variasi kitosan meliputi ukuran partikel,zeta potensial, morfologi partikel dan inhibisi ekstrak yang tidak terjerap,sehingga diperoleh formula dengan karakterisktik yang paling optimal. Penelitianini digunakan kitosan sebagai polimer serta natrium tripolifosfat sebagai agenpenaut silang untuk membentuk nanopartikel melalui metode gelasi ionik.Nanopartikel dibuat dalam empat formula dengan memvariasikan konsentrasilarutan kitosan antara lain 0,1%, 0,2%, 0,3%, dan 0,4% b/v yaitu F1, F2, F3 danF4. Berdasarkan hasil karakterisasi nanopartikel ekstrak etanol daun sirihkonsentrasi kitosan 0,3% merupakan konsentrasi yang paling optimal dalamformulasi sediaan nanopartikel dengan ukuran partikel sebesar 257,8 nm, indekspolidispersitas 0,236, nilai zeta potensial +30,7 mV, nilai persen inhibisi ekstrakyang tidak terjerap sebesar 16,434%±0,687 dan bentuk morfologi partikel yangtidak sferis.
Diabetes Mellitus Type 2 Medication Rationality Evaluation of Kampung Bali Clinic Outpatient from January to December 2015 ., Ef Yudi Harjo
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.446 KB)

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolism disorder associated with abnormal carbohydrate metabolism, fat, and proteins caused by decreased insulin secretion which leads to hyperglycemia. The purpose of this study is to determine and evaluates the rationality of DM type 2 in outpatient Clinics in Kampung Bali, Pontianak from January to December 2015. This study is a nonexperimental research which utilizes descriptive cross-sectional design. Data were collected retrospectively from medical record of patients who suffers from DM 2. Data obtained were analyze with PERKENI 2011 Standards. The results show that the antidiabetic drugs used for DM type 2 patients in Clinics of Kampung Bali in Pontianak were 62,96% of metformin, 22,22% of glibenclamide, and the combination of both of these types of drugs up to 14,81%. The rationality of type 2 DM patient treatment in Clinics of Kampung Bali City Pontianak, compared to the PERKENI 2011 standards for 27 cases in Kampung Bali Clinic in Pontianak, indication suitability was 96.30%, and suitability of dosing, medication and patients were 100%.
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DENGANKEJADIAN HIPERTENSI INTRADILITIK PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD DR. ABDUL AZIZ SINGKAWANG ., Venny Romian Utari Sinaga
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2145.837 KB)

Abstract

Peningkatan tekanan darah sistolik sebesar ≥ 10 mmHg pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisis dikenal dengan istilah hipertensi intradialitik. Usia, riwayat hemodialisis, durasi hemodialisis, jumlah obat antihipertensi serta adanya jenis obat antihipertensi yang hilang secara intesif dan tidak intensif merupakan hal yang diindikasi sebagai faktor risiko penyebab terjadinya hipertensi intradialitik. Penelitan ini bertujuan untuk menentukan gambaran penggunaan antihipertensi dan karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami hipertensi intradialitik. Penelitian dengan desain cross sectional ini dilakukan pada periode Juli-Agustus 2015. Subyek penelitian diperoleh sebanyak 10 pasien. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 pasien (50%) yang mengalami kejadian hipertensi intradialitik. Karakteristik pasien GGK yang menjalani hemodialisis dan mengalami kejadian hipertensi intradialitik berdasarkan usia < 60 tahun (60%), riwayat hemodialisis < 12 bulan (60%), durasi hemodialisis < 3,5 jam (80%), dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2 (60%). Penggunaan obat antihipertensi pada pasien dengan kejadian hipertensi intradialitik adalah golongan ARB, beta bloker, diuretik dan vasodilator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian hipertensi intradialitik didominasi oleh pasien dengan usia < 60 tahun, lama hemodialisis < 12 bulan, durasi hemodialisis < 3,5 jam dan jumlah obat antihipertensi ≥ 2.  Jenis antihipertensi yang paling sering digunakan adalah kombinasi golongan ARB dan Diuretik.
RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT INAP BALITA PENDERITA PNEUMONIA DENGAN PENDEKATAN METODE GYSSENS DI RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE PONTIANAK ., Yuli Evi Yanti
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.436 KB)

Abstract

Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bagian bawahyang mengenai parenkim paru. Terapi pengobatan yang umumnya digunakanuntuk mengatasi penyakit pneumonia adalah dengan pemberian antibiotik.Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan pengobatan kurangefektif, tingkat keamanan obat menurun, meningkatnya resistensi, dan mahalnyabiaya pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitaspenggunaan antibiotik pada pasien rawat inap balita penderita pneumonia denganpendekatan metode Gyssens di Rumah Sakit Umum Daerah Sultan SyarifMohamad Alkadrie Kota Pontianak periode Juli 2014 – Juni 2015. Penelitian inimerupakan penelitian observasional dengan rancangan studi cross-sectional.Pengumpulan data secara retrospektif. Analisis data menggunakan diagram alurmetode Gyssens dan dibandingkan dengan standar terapi yang dikeluarkan WHO.Dari 18 pasien balita yang terdiagnosa pneumonia, ditemukan bahwa penggunaanantibiotik meliputi gentamisin (33,33%), sefotaksim (24,44%), sefiksim (17,78%),seftriakson (13,33%),  ampisilin (4,44%), amikasin (4,44%), meropenem (2,22%).Berdasarkan penilaian kualitas penggunaan antibiotik dengan metode Gyssensdiperoleh hasil bahwa terdapat antibiotik yang diresepkan termasuk dalamkategori IVa sebesar 5,56%, kategori IVc (2,78%), kategori IIa (50,01%), dankategori IIb (41,67%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masihditemukannya ketidakrasionalan penggunaan antibiotik pada pasien balitapenderita pneumonia. Kata kunci : antibiotik, metode Gyssens, rasionalitas, pneumonia
FORMULASI SEDIAAN SALEP MADU KELULUT (Heterotrigona itama) DAN FASE AIR EKSTRAK IKAN GABUS ., Gorada
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.122 KB)

Abstract

Salep merupakan sediaan setengah padat untuk pemakaian luar atau topikal dan mudah diaplikasikan. Fase air ekstrak ikan gabus mengandungalbumin yang efektif untuk mempercepat proses penyembuhan. Secara empirismadu merupakan salah satu bahan alam yang mempunyai banyak khasiat danrelatif aman, salah satu manfaat madu dalam proses regenerasi sehinggabermanfaat dalam penyembuhan luka. Adeps lanae merupakan dasar salepabsorpsi yang berfungsi meningkatkan sifat serap air dan mengandung air tidaklebih dari 0,25%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi sediaansalep kombinasi madu kelulut (Heterotrigona itama) dan fase air ekstrak ikangabus (Channa striata) terhadap uji stabilitas fisik selama 28 hari. Variasi madukelulut:fase air ekstrak ikan gabus yang digunakan yaitu 25:75%, 50:50% dan75:25% dan diuji stabilitas sifat fisiknya yang meliputi uji organoleptis danhomogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji daya proteksi kemudiandianalisis statistik menggunakan SPSS. Hasil uji ANOVA menunjukan bahwatidak terdapat perbedaan signifikan antara formula dilihat dari sig (p > 0,05), danberdasarkan hasil uji posthoc pada daya sebar dan pada daya lekat formula yangterjadi ketidak stabilan. Hasil uji stabilitas sifat fisik menunjukan bahwa semua formula memiliki stabilitas sifat fisik yang tidak memenuhi persyaratan dan tidakmampu memberikan proteksi terhadap kulit.Kata kunci : Madu kelulut, ikan gabus, adeps lanae, stabilitas salep.
STUDI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN ANAK TERDIAGNOSIS INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE PONTIANAK TAHUN 2018 ., Grassella
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.585 KB)

Abstract

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi pada saluran pernapasan yangterjadi hingga 14 hari, terdiri atas ISPA atas meliputi rinitis, sinusitis, faringitis,laringitis, tonsilitis, dan otitis media serta ISPA bawah meliputi bronkitis, bronkiolitis,dan pneumonia. ISPA pada anak memiliki prevalensi periode yang tinggi merupakanpenyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitianini bertujuan untuk menilai rasionalitas penggunaan antibiotik dan kajian interaksi obatpada pasien anak terdiagnosis ISPA di instalasi rawat jalan RSUD Sultan SyarifMohamad Alkadrie Pontianak. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan pada datarekam medis yang dilakukan dengan teknik total sampling yaitu mengambil seluruh datayang memenuhi kriteria inklusi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 340 pasien. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa rasionalitas penggunaan antibiotik dari parameter tepatindikasi (91,72%), tepat pasien (99,71%), tepat obat (72,94%), dan tepat regimen yangterdiri atas tepat rute (100%), tepat frekuensi (96,50%), tepat dosis (72,62%), tepat durasi(56,76%), serta tepat kekuatan dan bentuk sediaan (88,53%). Interaksi obat yang terjadiberdasarkan tingkat keparahan meliputi interaksi mayor (1,37%), moderat (34,48%),minor (52,75%), dan unknown (7,24%) serta berdasarkan mekanisme kerjanya meliputiinteraksi farmakokinetik (23,44%) dan farmakodinamik (76,89%).Kata Kunci : ISPA, antibiotik, anak, rasionalitas, interaksi obat
PENGARUH CERA ALBA TERHADAP SIFAT FISIK LIP GLOSS EKSTRAK ETANOL BIJI KESUMBA KELING (Bixa orellana L.) ., Wiwin Anjari
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.455 KB)

Abstract

Cera alba adalah bahan yang mempunyai sifat sebagai pengikat minyak dan malam yang baiksehingga dapat menghasilkan massa sediaan yang homogen, Selain itu cera alba juga dapat menjagakonsistensi dan kestabilan warna. Cera alba di formulasi sebagai lip gloss dengan tambahan zat warnadari ekstrak etanol biji kesumba keling dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi cera albasebagai wax terhadap sifat fisik dan stabilitas sediaan lip gloss. Lip gloss ekstrak etanol biji kesumbakeling dibuat dalam 3 formula dengan konsentrasi cera alba yang berbeda-beda yaitu : 1, 3, dan 5%.Evaluasi yang dilakukan meliputi uji organoleptis, intensitas warna, homogenitas, viskositas, iritasi,hedonik, pH serta stabilitas sediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan lip gloss berwarnafire red, bau khas ekstrak serta bertekstur kental, intensitas warna stabil, homogen, viskositas berkisarantara 2666,7-5533,3 cps, tidak mengiritasi, pH berkisar antara 5-6. Formula 3 merupakan formulaoptimal berdasarkan uji sifat fisik (organoleptis, intensitas warna, viskositas, pH) dan uji kesukaan. HasilUji stabilitas Lip gloss formula optimal tidak menunjukkan adanya perubahan organoleptis,homogenitas, intensitas warna, viskositas dan pH. Maka dapat disimpulkan, formula optimal sediaan Lipgloss dengan konsentrasi cera alba 5% stabil selama penyimpanan 28 hari.Kata kunci : cera alba, kesumba keling, Lip gloss
HUBUNGAN ANTARA PENGOBATAN DENGAN PERSEPSI PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK DAN KUALITAS HIDUP PASIEN YANG MENJALANI HAEMODIALISA DI RSUD SOEDARSO PONTIANAK ., Ayu Pratiwi
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.403 KB)

Abstract

Gagal ginjal kronik biasanya diserta penyakit penyerta sehingga menyebabkan bervariasinya pengobatan yang dapat mempengaruhi persepsi tentang penyakit dan kualitashidup. Pengukuran persepsi dan kualitas hidup sangat perlu dilakukan karena persepsi penyakitdapat mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien dan penilaian kualitas hidup dapat menjadievaluasi keberhasilan suatu terapi yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipersepsi penyakit dan kualitas hidup, hubungan antara persepsi penyakit dan kualitas hidup,hubungan antara pengobatan dengan persepsi penyakit dan kualitas hidup pasien gagal ginjalkronik yang menjalani haemodialisa di RSUD dr. Soedarso Pontianak. Metode penelitianmenggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Besaransampel berjumlah 51 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling.Pengumpulan data diperoleh melalui hasil wawancara, instrumen B-IPQ dan EQ-5D, rekammedik dan resep. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95 %(α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan pasien lebih banyak memiliki persepsi negatif (54,90%) , kualitas hidup yang baik (72,55 %) dan mengalami polifarmasi (50,98 %). Hasil ujistatistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara persepsi penyakit dankualitas hidup (p value = 0,058); antara pengobatan dan persepsi penyakit (p value = 0,683)dan terdapat hubungan antara pengobatan dan kualitas hidup (p value = 0,004).
OPTIMASI KOMBINASI KARBOPOL 940 DAN HIDROKSIPROPIL METILSELULOSA (HPMC) TERHADAP EFEKTIVITAS GEL ANTISEPTIK FRAKSI ETIL ASETAT DAUN KESUM (Polygonum minus Huds.) DENGAN METODE SIMPLEX LATTICE DESIGN ., Deasy Natasya
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 1, No 1 (2014): Naskah Publikasi Mahasiswa Farmasi Untan
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.19 KB)

Abstract

Kesum (Polygonum minus Huds.) leaves have been investigated have antibacterial activity. Thisresearch was done to optimize the exploration of kesum plant by knowing that the ethyl acetate fraction ofKesum had antibacterial activity and how its effectiveness after it was formulated in gel with the optimumcombination of HPMC and Carbopol 940 by the Simplex Lattice Design (SLD) method. Extraction of kesumleave was done by maseration method, then was fractionated using n-hexane, ethyl acetate and methanolsolvent. The effectiveness test was done to ethyl acetate fraction by determination at the measurement of theinhibition by clear zone. One Way ANOVA test at concentration 5%, 10% and 15% indicated that the 10%concentration gives the optimum inhibition and will be formulated in a gel form. Based on the test of gel A(100% Carbopol- 0% HPMC); gel B (0% Carbopol - 100% HPMC); and gel C (50% Carbopol 50%HPMC) was obtained the best combination was Carbopol 940 100% - HPMC 0%. The data was analyzedstatistically using SPSS Version 17 with signification value p>0,05, the Simplex Lattice Design method canbe used to predict the optimum formulation. While comparison with positive control was obtained thesignificant value p>0,05 showed there was no a significant difference between optimum gel and positivecontrol. Based on the results of the analysis with paired samples t-test was obtained significance valuep<0,05. This means that there was no significant inhibition difference between the ethyl acetate fractionwithout formulation with the ethyl acetate fraction that have been formulated into gel form. Gel of theoptimum formula has a good physical and chemical properties.Key words : Kesum leaves, Ethyl acetate fraction, Gel, Simplex Lattice Design
PENENTUAN NILAI MIC AMOKSISILIN TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aurues ., Vitori
Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Farmasi Kalbar
Publisher : Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.403 KB)

Abstract

Infeksi merupakan salah satu penyebab angka kesakitan dan kematianyang cukup tinggi, salah satu penyebabnya adalah bakteri Staphylococcus aureus. Antibiotik menjadi salah satu andalan dalam pengobatannya infeksi bakteri seperti amoksisilin yang penggunaannya sangat tinggi di Indonesia dan efektif digunakan. Antibiotik amoksisilin merupakan antibiotik golongan penisilin atauantibiotik golongan β-laktam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilaiMIC (Minimum Inhibitory Concentration) amoksisilin pada bakteriStaphylococcus aureus menggunakan metode difusi Kirby Bauer. Tahapan ujiyang dilakukan meliputi sterilisasi alat, pembuatan media, pembuatan kultur kerja bakteri, pembuatan inokulum bakteri, pembuatan larutan seri konsentrasi,penentuan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Hasil MIC amoksisilinterhadap Staphylococcus aureus adalah 0,0625 mg/ml dengan diameter zonahambatnya sebesar 8,2 ± 0,47 mm.Kata kunci : antibiotik, amoksisilin, MIC