cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2016)" : 7 Documents clear
STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PROGRAM TELECENTER DI PROPINSI JAWA TIMUR Niken Lestari
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i1.1269

Abstract

This paper discusses the communication strategy developed by telecentres and challenges faced by the manager. The purpose of this paper is to analyze the effective communication strategy in the extension process conducted through telecenters. The primary data obtained through field visits, observation, and interviews with managers of telecenters. Meanwhile secondary data obtained from writings made by telecenter managers on the internet and the data from the Communications and Information Technology Ministry. Telecenter in Indonesia is designed as a community development center to hold activities such as training, improvement of skills and knowledge as well as the implementation of economic activity. Based on data from Communications and Information Technology Ministry, East Java is the province that has the most telecenters because it was developed with cost sharing between provinces and districts budget. The analysis showed that the telecentres implement 10 stages of Wilson’s strategy with some adjustments. The role of the Office of Communications and Information Technology is very crucial in the planning and management of communication so that there should be capacity building for the officers. The challenges are about the institutional strengthening (organizational structure obscurity) and the unavailability of sources of information in accordance with the level and/or pattern of knowledge in rural communities. Infomobilisator role as an educator is very important given the complexity of the issue and the large amount of information in the internet. Telecenter was considered successful in creating a interconnectedness between individuals and between groups (communities). However, the impact related to increased prosperity for farmers have not been prominent. For the old generation of farmers, information about the price of commodities, seeds, and means of support have not become a real need and a felt need. Therefore, it is the role of infomobili sator to achieve intermediate objectives in order to reach the ultimate goal of poverty reduction.Tulisan ini membahas tentang strategi komunikasi yang dikem bang kan oleh telecenter dan tantangan yang dihadapi oleh pengelola. Tujuan tulisan ini yaitu menganalisis strategi komunikasi yang efektif dalam proses penyuluhan yang dilaku kan melalui telecenter. Data primer diperoleh melalui kunjungan lapangan, pengamatan, dan wawancara dengan pengelola telecenter. Sementara data sekunder diperoleh dari tulisan yang dibuat pengelola telecenter di internet dan data dari Kominfo. Telecenter di Indonesia dirancang sebagai tempat kegiatan pemberdayaan masya  rakat berupa pelatihan, peningkatan ketrampilan, dan pengetahuan serta pelaksanaan kegiatan ekonomi. Berdasarkan data Kominfo, Jawa Timur merupakan provinsi yang memiliki paling banyak telecenter karena dikembangkan dengan pola pembiayaan bersama antara provinsi dengan kabupaten. Hasil analisis menunjukkan bahwa telecenter menerapkan 10 tahap strategi Wilson dengan bebe rapa penyesuaian. Peran Dinas Kominfo provinsi sangat besar dalam proses perencanaan dan manajemen komunikasi sehingga perlu ada peningkatan kapasitas SDM Dinas Kominfo terkait kedua hal tersebut. Tantangan yang dihadapi pengelola yaitu seputar kelembagaan (ketidakjelasan struktur organisasi) dan tidak tersedianya sumber informasi yang sesuai dengan tingkat dan/atau pola pengetahuan masyarakat desa. Peran infomobilisator sebagai penyuluh sangat penting mengingat kompleksitas isu dan jumlah informasi yang sangat besar di internet. Telecenter dianggap berhasil menciptakan “keterhubungan” (interconnectedness) antar perorangan dan antar kelompok masyarakat (komunitas). Namun dampaknya bagi peningkatan kesejahteraan bagi petani belum menonjol. Bagi petani generasi lama, informasi seputar harga komoditi, bibit, sarana pendukung belum menjadi real need dan felt need. Oleh karena itu, peran infomobilisator sangat penting untuk membantu mencapai tujuan antara sebagai jembatan ke tujuan akhir yaitu pengentasan kemiskinan.
MODAL JARO DALAM ARENA POLITIK LOKAL: Studi Kasus di Desa Cileuksa Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor Iwansyah Iwansyah; Satyawan Sunito; Sofyan Syaf
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i1.1272

Abstract

This research concern swith the role of Jaro capital at local political arena in Cileuksa village of Sukajaya District, West Jawa. The aim of this research is to understand the relationship between Jaro capital at local political arena, capital elaboration as foundation for vertical mobility and capital reproduction within local political arena. Using case study as its research method, this research finds that as cultural actor, Jaro or Jawara, has significant meaning in local political arena, namely cultural influence and formal authority. With regards to cultural influence, this study finds that Jaro’s presenceis essential for Cileuksa’s villagers. Furthermore, as the head of the village, Jaro holds formal structure authority to go vernits people. This research concludes that both cultural influence and formal authority were supported by maintained and reproduced capital in local political arena.Penelitian ini berfokus pada konsep modal Jaro di arena politik lokal di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Jawa Barat. Tujuan dari riset untuk mengetahui hubungan antara modal Jaro di arena politik lokal, elaborasi antara modal sebagai fondasi untuk mobiltas vertikal dan reproduksi modal di dalam arena politik lokal. Dengan menggunakan studi kasus sebagai metode kajian, riset ini bertujuan untuk menemukan aktor kultural, Jaro atau Jawara, yang memiliki makna yang signifikan dalam arena politik lokal, yang disebut dengan pengaruh kebudayaan dan otoritas formal. Dengan melihat adanya pengaruh kebudayaan, kajian ini menemukan bahwa peran Jaro sangat penting bagi masyarakat Desa Cileuksa. Selanjutnya, sebagai seo rang pemimpin di desa, Jaro mengendalikan struktur otoritas formal bagi masyarakat desa. Riset ini menemukan bahwa ada dua pengaruh budaya dan otoritas formal yang didukung oleh adanya pengendalian dan reproduksi modal di arena politik lokal.
PEMBERDAYAAN MANTAN BURUH MIGRAN PEREMPUAN (BMP) DI DESA LIPURSARI, KECAMATAN LEKSONO, KABUPATEN WONOSOBO Arifiartiningsih Arifiartiningsih
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i1.1275

Abstract

Buruh Migran Perempuan (BMP/women migrant workers) are national foerign exchange hero for Indonesia. However, after retur ning home, ex-BMPs are usually unable to face social and economic realities. Therefore, they need an organisation to develop and empower thier potential. This research aims to explain how community intervention empower ex-Buruh Migran Perempuan (BMP/women migrant worker) in Lipursari Village, Subdistrict Leksono of Wonosobo District, Central Java. By means of community, this research refers to NGO, local organisation, and government agencies. This study collected data by using observation, interview and archival documents. Primary data were from ex-BMP’s interview who actively engage in MUIWO, while secondary data were from interview with community leaders and Lipursari Villlage’s official docu ments. Data were then analysed by using Rothman’s theory of community intervention to understand patterns and categories of ex-BMP’s empowerment. This research finds community interven tion’s empowerment affect positively for ex-MBPs through three approaches, namely local society empowerment, social plan, and social action. Economic and social empowerment involves several parties, such as individual, groups/community (i.e. Migrant Care, SARI, MUIWO and ISTANA RUMBIA), and government agencies. Economic empowerment includes trainings (i.e. sewing, bridal make up, embroider, and snacks) and setting up business plan. Social empowerments includes advocacy and mentoring exBMPs for capacity building and self development.Buruh Migran Perempuan (BMP) merupakan salah satu kelompok yang disebut pahlawan devisa. Persoalannya, setelah kembali ke Indonesia mantan BMP seringkali diposisikan sebagai pihak yang terpinggirkan (marginal). Hal ini dikarenakan ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi tantangan dan realita kehidupan, baik dari segi ekonomi maupun sosial. Oleh karena itu, mantan BMP memerlukan wadah untuk mengembangkan dan memberdayakan potensi yang mereka miliki. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menjelaskan bagaimana bentuk pemberdayaan yang diperoleh mantan BMP melalui intervensi komunitas baik dari lembaga swadaya masyarakat, organisasi lokal, ataupun pemerintah. Peneli tian yang dilakukan di Desa Lipursari, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo ini menggunakan teknik penelitian kualitatif dengan proses pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data primer yang digunakan berasal dari wawancara dengan mantan BMP yang aktif dalam organisasi MUIWO. Data sekunder diperoleh melalui wawancara dengan tokoh masyarakat dan penelusuran dokumentasi di Desa Lipursari. Data yang diperoleh, kemudian diolah dan dianalisis menggunakan teori intervensi komunitas Rothman untuk menemukan pola dan kategori pemberdayaan yang diperuntukkan bagi mantan BMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan melalui intervensi komunitas memberikan dampak positif bagi mantan BMP. Pemberdayaan dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu pengembangan masyarakat lokal, perencanaan sosial dan aksi sosial. Dari tiga pendekatan tersebut dapat diketahui bahwa pemberdayaan yang ter jadi meliputi peberdayaan ekonomi dan sosial yang melibatkan individu untuk individu, komunitas untuk individu dan komunitas untuk kelompok. Pada proses pemberdayaan, untuk mencapai tujuan dibutuhkan sinergi antara mantan BMP, komunitas/organisasi (Migrant Care, SARI, MUIWO dan Istana Rumbia) serta pemerintah yang meliputi dinas terkait dalam proses pemberdayaan. Pemberdayaan ekonomi yang diterima berupa rencana usaha dan berbagai pelatihan (kursus menjahit, tata rias pengantin, salon, bordir dan pembuatan makanan kecil). Pemberdayaan sosial diperoleh BMP berupa advokasi dan pengembangan diri mantan BMP. 
RESPON MASYARAKAT ACEH TERHADAP ATURAN DAN IMPLEMENTASI SYARIAT ISLAM PASCA TSUNAMI Siti Ikramatoun
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i1.1261

Abstract

2004 Indian ocean earthquake and tsunami changed Aceh society significantly in particular political, social and culture system. Just before the tsunami hit Aceh, Islamic law was vigorously implemented by the Govermentof Aceh. After the tsunami, the dynamic of Islamic law in Aceh changed. The aim of this research is to envisage Banda Aceh city residents’ response of Islamic law rule and implementation after 2004 Indian ocean earth quake and tsunami. Data were collected qualitatively by applying observation and interiew method. Participants of this research were sellected purposively. The results showed that the new leadership post-tsunami Aceh gives the impression of anelitist that caused various negative reactions and responses from the public. Most people think that the new administration is less concerned and lessserious in implementing Islamic law holistically. A pragmatic attitude towards the rules of Islamic law emerged in some communities, especially the younger generation. Therefore, for some open-minded and crtical people, the implemen tation of Islamic law is seen deteriorating as Islamic law is often only becomes an attribute and a tool of legitimacy to the ruling elite. Therefore, it is necessary to revitalize Islamic law at both the elite and the people level, for example by doing a cultural movement. This movement aims to rebuild the spirit enforce Sharia Law  which are cultural, not a political and elitist.Key words : Islam Sharia, elite and society responsePeristiwa tsunami merupakan momentum besar bagi perubahan masyarakat Aceh. Tsunami disebut sebagai cikal bakal per damaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia (RI). Dalam per janjian damai disepakati bahwa anggota GAM diberi kan kebebasan menjadi warga sipil kembali, artinya GAM diberikan hak politik penuh sebagai warga Negara Indonesia. Kesepakatan damai juga memberikan ruang bagi anggota GAM untuk berpartisipasi dalam politik praktis. Hal itu terbukti dengan peralihan kepemimpinan pasca Tsunami ke tangan mantan anggota GAM. Perubahan kepemimpinan dan sistem politik ini membawa pengaruh pada dinamika penerapan syariat Islam yang baru disahkan menjadi peraturan daerah Aceh beberapa tahun sebelum Tsunami. Implementasi syariat Islam sesaat sebelum Tsunami sedang sangat gencar diterapkan oleh pemerintah, sehingga perubahan sistem politik ber dampak pada dinamika sosial budaya masyarakat Aceh. Kepemimpinan Aceh yang baru pasca Tsunami memberikan kesan elitis, yang kemudian menimbulkan berbagai reaksi dan respon dari masyarakat. Sebagian masya rakat menganggap pemerintahan yang baru kurang peduli dan kurang serius dalam menerapkan syariat Islam secara kaffah. Sikap pragmatis terhadap perda syariat Islam muncul di sebagian masyarakat, terutama generasi mud, sehingga bagi sebagian kelompok masyarakat yang kritis, menganggap bahwa implementasi syariat Islam semakin merosot. Syariat Islam sering kali hanya menjadi atribut dan alat legitimasi bagi elit yang berkuasa, bahkan terkesan dipolitisasi. Oleh karena itu, perlu adanya revitalisasi syariat Islam baik di tingkat elit maupun masyarakat.Gerakan kultural merupakan salah satu alternatif yang perlu dibentuk untuk membangun kembali semangat menjalankan syariat Islam yang bersifat kultural, bukan politis dan elitis
DINAMIKA MODAL SOSIAL NELAYAN DALAM ARENA EKONOMI: Studi Kasus Nelayan Rajungan Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak Joni Trio Wibowo; Rilus A Kinseng; Titik Sumarti
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i1.1276

Abstract

Relations in the fishermen community of Betahwalang village are shown in economic field and non economic field. The strong network and social norm within community enable fishermen community members to confineand to direct actions of actors within the group. Fishermen of Betahwalang are able to separate economic field and non economic field by logic of separation. This research aims to understand the dynamic of fishermen’s social capital in economic arena. Qualitatively, this study finds dynamic relationship in economic field in blue swimming crab fishermen community of Betahwalang village. Economic action is the actions of individual to maximize profits for themselves. Collaboration in economic field can occur in low level of trust, strong norms and network. In contrast, Sosial capital form different element of capital (i.e. trust, norms and networks) in different sosial situations (i.e. cooperation, competition or conflict).
BAMBI ARI’ SEBAGAI WUJUD KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DAYAK DALAM PENANGANAN BENCANA KABUT ASAP DI KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT Muryanti Muryanti; Rokhiman Rokhiman
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i1.1268

Abstract

The massive scale of forest fire by big companies in Kapuas Hulu have caused smog disaster that affect surrounding areas suh as Kalimantan Island and Malaysia.These companies cleared land without considering season calendaras indigenous peopleof Dayak did. As a result, forest fire is uncontrollable that cause serious haze disaster. In contrast, the Dayak people have local wisdom called bambi‘ari to prevent forest fire. According to bambi ‘ari, Dayak people clear small scale land and use season calendar before fire the forest.This research concern swith bambi ‘ari’s implementation to prevent forest fire haze by using qualitative method to collect primary data. This research argues that as a local wisdom, bambi ‘ari was built upon collaboration among the Dayak people to develop social solidarity. Since the Dayak people rely heavily on natural resources, they set a system to help natural resources management, such as forest. This set of system called tembawang, applies season calendar to determine planting in the field and land clearing. Forest fire as a tool of land clearing, conducted in natural ways and in particular time to avoid haze disaster. Collaboration among the Dayak people occurred when they fire forest by monitoring hot spots and supplying water to prevent uncontrolled forest fire.This research concludes that the implementation of bambi‘ari as a long term natural resources management by the Dayak people enable haze disaster prevention.Bencana kabut asap yang terjadi di Kapuas Hulu disebabkan oleh pembakaran hutan  untuk membuka lahan baru. Mayori tas pelakunya perusahaan yang membakar dalam skala massif dan tidak menggunakan kalender musim. Masyarakat Dayak pun melakukan pembakaran hutan dalam skala kecil dengan meng gunakan konsep bambi ‘ari untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Penelitian ini hendak mengkaji bagaimanakah implementsai bambi ari’ dalam penanganan bencana kabut asap. Metode peneli ti an kualitatif untuk mendapatkan data primer dari masyarakat Dayak tentang bagaimana mengelola hutan. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Dayak memiliki kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengelolaan hutan untuk kehidupan sehari-hari dengan sistem tembawang yang mengenal kalender musim untuk proses penanaman di ladang. Pembakaran hutan sebagai bagian dari pembukaan lahan dilakukan dengan cara dan waktu yang tepat sehingga secara alami tidak menimbulkan bencana. Pada saat proses pembakarran hutan dilakukan dengan melibatkan banyak orang (keluarga atau komunitas) dengan menjaga titik-titik yang rawan terbakar dan menyediakan air untuk mencegah kebakaran hutan. Konsep bekerja bersama dan membangun solidaritas sosial tersebut yang mereka namakan bambi ‘ari. Sistem ini memungkinkan pengelolaan alam dalam jangka panjang dan menggunakan tanda-tanda alam dalam prosesnya, yang mampu untuk mencegah timbulnya bencana kabut asap.
PEREMPUAN DALAM BUDAYA PATRIARKHI Napsiah Napsiah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v11i1.1278

Abstract

Judul Asli : Ketertindasan Perempuan dalam Tradisi Kawin Anom. Subaltern Perempuan pada Suku Banjar dalam Perspektif PoskolonialPengarang : Rosramadhana Nasution.Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016.Tebal buku: 218 halaman.

Page 1 of 1 | Total Record : 7