cover
Contact Name
Achmad Zainal Arifin, Ph.D
Contact Email
achmad.arifin@uin-suka.ac.id
Phone
+6281578735880
Journal Mail Official
sosiologireflektif@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Jl. Adisucipto 1, Yogyakarta, Indonesia, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Reflektif
ISSN : 19780362     EISSN : 25284177     DOI : https://doi.org/10.14421/jsr.v15i1.1959
JSR focuses on disseminating researches on social and religious issues within Muslim community, especially related to issue of strengthening civil society in its various aspects. Besides, JSR also receive an article based on a library research, which aims to develop integrated sociological theories with Islamic studies, such as a discourse on Prophetic Social Science, Transformative Islam, and other perspectives.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2021)" : 12 Documents clear
DEKONSTRUKSI KARAKTER DRUPADI DALAM PEWAYANGAN (STUDI GENDER DAN LIVING QUR’AN MENGENAI POLIANDRI) Ahmad Hidayatullah; Syamsul Bakhri
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2147

Abstract

One of the many evidences about the concepts of justice and gender equality in Islam can be seen in the creation of the plot and of a central female character in the Javanese puppet, namely Drupadi. This article employs a qualitative research with this literature study approach to determine the deconstruction character of Drupadi.  The validity of the data is obtained by triangulating data sources and integrating data from journals and books about Drupadi characters in puppets, supported by analysis of gender studies and living Qur'an studies of the concept of polyandry. The results showed that there is a deconstruction of the character of Drupadi figures from the Hindu to the Islamic version. Drupadi, who is described in the Mahabharata story of having five husbands, in a Javanese puppet show, especially after the arrival of Islam, is described only married to Yudhistira. The deconstruction of Drupadi's character as a symbol of women is no longer objectified. Drupadi's new character reflects equality between men and women in Islam.Satu dari sekian bukti tentang adanya konsep keadilan dan kesetaraan gender dalam Islam bisa dilihat dalam pembangunan alur dan karakter tokoh perempuan sentral pada pewayangan Jawa, yakni Drupadi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka ini, bertujuan untuk menentukan dekonstruksi karakter Drupadi di Wayang. Validitas data diperoleh dengan melakukan triangulasi sumber data, mengintegrasikan data dari jurnal dan buku tentang karakter Drupadi dalam wayang dengan berfokus pada analisis studi gender dan Living Qur’an mengenai poliandri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi dekonstruksi karakter tokoh Drupadi dari versi Hindu ke versi Islam; Drupadi dalam cerita Mahabharata melakukan Poliandri dengan 5 suami, dalam pewayangan Jawa setelah datangnya Islam hanya bersuamikan Yudhistira. Dekonstruksi karakter Drupadi menjadi simbol bahwa perempuan tidak lagi menjadi objektifikasi seksual. Karakter Drupadi yang baru mencerminkan kesetaraan antara pria dan perempuan dalam ajaran Islam.
RELIGIUSITAS DIGITAL DAN DIMENSI PERLAWANAN MILENIAL DALAM RUANG ONLINE Hanry Harlen Tapotubun; Hilda Rahmah
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v15i2.2042

Abstract

This article aims to analyze the reasons behind the increasing number of expressing the religiosity on social media by the millennials, especially by discussing the preconditions those religious expressions. This study uses a qualitative approach with literature-based and netnographic study methods. It is also supported by interviews and observations on social media related to the activities of millennials in expressing their religiosity on Instagram, Facebook and WhatsApp. The results showed that the massive expression of religiosity on social media by the millennial could be considered as a "resistance" against the dominant discourse, both in virtual and in the religious spaces. These dominant discourses, such as: 1) religion is a private matter, and 2) the existence of a virtual world can only be achieved by displaying an established image, academic achievement, hedonic behavior, good looking appearance and creativity. By using the idea of mimicry by Bhabha, that massive activity of expressing religiosity in the virtual space emphasizes a counter-discourse that millennials have created. This is done in a “similar” way from common social media users, in response to the dominant discourse which tends to place their religious expression and their existence on social media as two separates aspects. Mimicry shows that anyone can show their religiosity in the same ways as the common users or celebrity on Instagram, but with a different idea and interests.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis alasan dibalik maraknya aktivitas mengekspresikan religiusitas di media sosial oleh generasi milenial, dengan membahas bagaimana prakondisi yang melandasi aktivitas tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan netnografi, dibantu teknik wawancara dan observasi partisipan di media sosial untuk mengamati aktivitas para millenial dalam mengekspresikan religiusitasnya di platform Instagram, Facebook dan WhatsApp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masifnya ekspresi religiusitas di media sosial oleh generasi milenial merupakan sebuah praktik “pelawanan” terhadap wacana dominan, baik dalam ruang virtual maupun dalam ruang agama. Wacana dominan ini antara lain: 1) agama adalah urusan privat, dan 2) eksistensi dunia virtual hanya dapat dicapai dengan cara memamerkan citra kemapanan, pencapaian akademik, perilaku hedon, good looking dan kreatif. Menggunakan gagasan Mimikri Bhabha, ekspresi religiusitas yang masif di ruang virtual menegaskan adanya sebuah upaya counter wacana yang ingin dibangun oleh para milenial. Hal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak jauh berbeda dengan para pengguna sosial media lainya dalam menampilkan citra good looking, pencapaian akademik dan perilaku hedon sebagai bentuk eksistensi, demi merespon wacana dominan yang cenderung menempatkan ekspresi beragama dan eksistensi di media sosial sebagai dua hal terpisah. Mimikri menunjukkan bahwa siapapun bisa menunjukkan ekspresi religiusitasnya dengan cara-cara yang sama seperti yang dilakukan oleh artis atau selebgram di Instagram, namun dengan dasar dan kepentingan yang berbeda. 

Page 2 of 2 | Total Record : 12