cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
VISIKES
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018" : 10 Documents clear
PERILAKU DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA PADA WANITA DENGAN RIWAYAT KELUARGA KANKER PAYUDARA Widya Hary Cahyati; Ulfah Husna Labibah; Sofwan Indarjo
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.258 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1847

Abstract

ABSTRACTBased on the data from Tugurejo Hospital, in 2014, there were 52 hospitalized patients who had been diagnosed with breast cancer and 8 died cases founded. Increased in 2015, as many as 119 patients with 11 died cases and it was getting worst where 192 patients with 21 died cases founded in 2016. The aim of the research was to analyze the early detection behaviour of breast cancer in women with a family history of breast cancer in Tugurejo hospital Semarang. This study used qualitative methods with phenomenology design. The result showed that all the informants have been fully understanding about early detection of breast cancer, have a great attitude and have already been practicing their own manual inspection. Most of them gained both family and environmental support toward early detection. They could then feel the benefits of early check. Thus, they would consider to have an early check after suffering breast cancer. In conclusion, all informants have done breast self-early detection well.Keywords: Early Detection, Breast Cancer, Women with a Family History ABSTRAK Data dari RSUD Tugurejo, pada tahun 2014, tercatat pasien rawat inap yang telah terdiagnosis kanker payudara sebanyak 52 pasien dengan 8 kasus meninggal, meningkat pada tahun 2015 sebanyak 119 pasien dengan 11 kasus meninggal, dan menjadi 192 pasien dengan 21 kasus meninggal pada tahun 2016. Tujuan penelitian adalah menganalisis perilaku deteksi dini kanker payudara pada wanita dengan riwayat keluarga kanker payudara di RSUD Tugurejo Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Rancangan penelitiannya adalah fenomenologi. Hasil penelitian seluruh informan mempunyai pengetahuan yang cukup baik tentang deteksi dini kanker payudara, sudah mempunyai sikap yang baik, dan sudah mempraktekkan pemeriksaan dini sendiri atau manual. Sebagian besar informan memperoleh dukungan dari keluarga untuk melakukan deteksi dini. Sebagian besar informan juga memperoleh dukungan dari lingkungan sekitarnya. Seluruh informan dapat merasakan adanya manfaat melakukan pemeriksaan dini, sebagian besar informan melakuakan deteksi dini setelah ibu menderita kanker payudara. Kesimpulannya seluruh informan telah melakukan pemeriksaan payudara sendiri.Kata Kunci: Deteksi Dini, Kanker Payudara, Wanita dengan Riwayat Keluarga
DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Yunida Haryanti
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.669 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1852

Abstract

ABSTRACTExclusive breastfeeding is breastfeeding only to infants up to the age of 6 months without additional liquids or other foods. Based on the data coverage of exclusive breastfeeding in the Rahmawati by 80%, this shows there are still 20% that the baby is not exclusively breastfed. Efforts to improve breastfeeding is still lacking.This study aims to identify factors associated with exclusive breastfeeding which includes factors of knowledge, attitude, work, support health workers and support her husband. This type of research is analytic survey with cross sectional approach.Respondents in this study were mothers who have children aged 6-59 months amounted to 52 people and taken samples using total sampling. Collecting data using questionnaires and data analysis using Chi-Square.The results showed factors associated with exclusive breastfeeding ie knowledge (P value = 0.011), occupation (P value = 0.047), the support of health workers (P value = 0.019) and the support of her husband (P value of 0.006, while factors unrelated that is the attitude (P value = 0.067). To improve exclusive breastfeeding can improve the health centers health education services for mothers and their families about the mechanism of pumping mechanism and the role of families in supporting exclusive breastfeeding by the method of group discussions and home visits.Keywords: Exclusive Breastfeeding, Mothers, BabiesABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada basyi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain (Dewi, 2013). Berdasarkan data cakupan ASI eksklusif di BPS Rahmawati sebesar 80% hal ini menunjukkan masih 20 % bayi yang belum mendapatkan ASI eksklusif. Upaya meningkatkan pemberian ASI masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif yang meliputi faktor pengetahuan, sikap, pekerjaan, dukungan petugas kesehatan dan dukungan suami. Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi 7-12 bulan yang berjumlah 52 orang dan diambil dan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisa data menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif yaitu pengetahuan (P value = 0,011), pekerjaan (P value = 0,047), dukungan petugas kesehatan (P value =0,019) dan dukungan suami (P value 0,006 sedangkan faktor yang tidak berhubungan yaitu sikap (P value = 0,067). Untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif puskesmas dapat meningkatkan pelayanan pendidikan kesehatan bagi ibu dan keluarganya tentang mekanisme mekanisme memompa ASI serta peranan keluarga dalam mendukung pemberian ASI esklusif dengan metode diskusi kelompok dan kunjungan kerumah.Kata Kunci: ASI Esklusif, Ibu dan Bayi
FAKTOR–FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DI KECAMATAN BANTUL, KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA Maria Yeny Eskawati; Yulian Endarto
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.993 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1848

Abstract

Background: Based on the ICPD, the world's nations agreed to formulate the MDGs in which one of them about the increase in Promote Gender Equality and Empowerment Women. However, having many irregularities in its development, its form is one of domestic violence (domestic violence). Each year domestic violence has increased significantly. In Indonesia in 2010 reached 295 836. In Bantul District to increase this year from 6 to 12. This study there were about two dozen who became an informant, but about four people who are willing to become informants in this study. Methods: The method used is descriptive qualitative. Purposive sampling techniques Sampling. Data was collected through in-depth interviews, semi standard way and as a key instrument is the human instrument with tiangulasi as the validity of the data. Research Objectives: To determine factors that lead to domestic violence (domestic violence). Result : There are many factors that lead to domestic violence, but the results of research in Bantul District, there are many different factors, is factors of economic situation, harmony in intimate relationships, confidence, communication, stress, and the past experiences. The education is not caused of domestic violence.Keywords: The factors that cause occurrence of domestic violence (Domestic Violence) ABSTRAK Berdasarkan pada ICPD, maka negara di dunia sepakat merumuskan MDGs yang mana salah satunya mengenai Peningkatan Kesataraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Namun, dalam perkembangannya mengalami banyak penyimpangan, salah satu bentuknya adalah kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT ). Tiap tahun kekerasan dalam rumah tangga mengalami peningkatan yang signifikan. Di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 295.836. Di Kecamatan Bantul meningkat pada tahun ini dari 6 menjadi 12. Penelitian ini ada sekitar dua belas yang menjadi informan namun sekitar empat orang yang bersedia menjadi informan dalam penelitian ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pengambilan sampel dengan teknik Purposive Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, jalannya wawancara semi standart dan sebagai key instrument adalah human instrument dengan tianggulasi sebagai keabsahan datanya. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga , namun dari hasil penelitian di Kecamatan Bantul ada beberapa faktor, yaitu faktorkeadaan ekonomi, keharmonisan dalam hubungan intim, keyakinan, komunikasi, stres, pengalaman masa lalu dan lingkungan. Sedangkan pendidikan tidak menyebabkan KDRT.Kata Kunci: Faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT )
FAKTOR UMUR, PENDIDIKAN, DAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU MEROKOK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI DURIAN, KABUPATEN SINTANG Elvi Juliansyah; Achmad Rizal
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.379 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1853

Abstract

ABSTRACT: Smoking is a risk factor for chronic diseases such as lung cancer, upper respiratory tract cancer, heart disease, stroke, bronchitis, emplysema and causes of death. In 2003 about 4.9 million people in developing countries died from cigarettes. The number of smokers in Indonesia tends to increase 31.5% of Indonesia's population in 2000. The number of smokers in West Kalimantan is 27.2% of the population and the Sintang District of 28.5% in the Sungai Durian Public Health Center Working Area reaches 75% of men smoker. This research uses quantitative approach with cross sectional study with male population of 4,321 people and the sample of this research are 218 respondents of smoking behavior based on the distribution of smoking respondents in Durian River Health Center work area as much as 180 respondents (82,6% ). Statistical test using chi square test to see the relationship of independent variables and bound using the degree of meaningfulness. The result of bivariate analysis shows that the variables related to smoking behavior are age with p value 0,000 and OR is 6,176, education with p value 0.011 and OR is 3,068, and knowledge with p value 0,031 and OR 2,753. It is advisable to conduct health education directly and continuously about the dangers of smoking to students in junior high and high school.Keywords: Age, Education, Knowledge, and Smoking BehaviorABSTRAK: Merokok merupakan faktor risiko untuk penyakit kronis seperti kanker paru-paru, kanker saluran pernapasan atas, penyakit jantung, stroke, bronkitis, emplysema dan penyebab kematian. Pada 2003 sekitar 4,9 juta orang di negara berkembang meninggal karena rokok. Jumlah perokok di Indonesia cenderung meningkat 31,5% dari penduduk Indonesia pada tahun 2000. Jumlah perokok di Kalimantan Barat adalah 27,2% penduduk dan Kabupaten Sintang 28,5% di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Durian mencapai 75% pria perokok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi cross sectional dengan populasi laki-laki sebanyak 4.321 orang dan sampel penelitian ini adalah 218 responden perilaku merokok berdasarkan distribusi responden merokok di wilayah kerja Puskesmas Sungai Durian sebanyak 180 responden (82,6%). %). Uji statistik menggunakan uji chi square untuk melihat hubungan variabel independen dan terikat menggunakan derajat kebermaknaan. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan perilaku merokok adalah usia dengan p value 0,000 dan OR adalah 6,176, pendidikan dengan p value 0,011 dan OR adalah 3,068, dan pengetahuan dengan p value 0,031 dan OR 2,753. Dianjurkan untuk melakukan penyuluhan kesehatan secara langsung dan berkesinambungan tentang bahaya merokok kepada siswa di SMP dan SMA.Kata Kunci: Umur, Pendidikan, Pengetahuan, dan Perilaku Merokok
KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI USIA 9-12 BULAN DAN FAKTOR DETERMINAN DI KELURAHAN RANDUSARI KOTA SEMARANG TAHUN 2017 Dewi Sulistyoningrum; Suharyo Suharyo
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.794 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1849

Abstract

ABSTRACT: Immunization is an attempt to boost immunity against a disease that may cause disability or death due to diseases that can be prevented by immunization, namely Hepatitis B, Diphtheria, Pertussis, Tetanus, Polio, Tuberculosis and Measles. This study aims to determine the factors associated with the completeness of immunization in infants aged 9-12 months in the Village Randusari Puskesmas Pandanaran Semarang.This research use quantitative research methods with cross sectional design. The samples were mothers with babies aged 9-12 months in the village health center Randusari Pandanaran Semarang as many as 30 people. Collecting data using questionnaires. Data analysis using Chi Square test with a limit value of α used is alpha 5% or p value 0,05.Statistical test results showed there was no relationship between mother knowledge (p-value = 0.360), maternal attitude (p-value = 0.378), concierge services (p-value = 0.641) and family support (p-value = 1.000) with the completeness of immunization.To the sub-district health officer Pandanaran should conduct outreach to the community on a regular basis. Mother to her baby in order to immunize on time. To the volunteers to monitor and disseminate information on immunization in the whole society.Keywords: Immunization, Knowledge, Attitude, Service OfficerABSTRAK: Imunisasi adalah upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit yang bisa saja menimbulkan kecacatan atau kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, yaitu Hepatitis B, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Tuberkulosis dan Campak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi pada bayi usia 9-12 bulan di Kelurahan Randusari Wilayah Kerja Puskesmas Pandanaran Semarang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah ibu yang memiliki bayi usia 9-12 bulan di Kelurahan Randusari Puskesmas Pandanaran Semarang sebanyak 30 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan batas nilai α yang digunakan adalah alpha 5% atau p value 0,05. Hasil uji statistik menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu (p-value=0,360), sikap ibu (p-value=0,378), pelayanan petugas (p-value=0,641) dan dukungan keluarga (p-value=1,000) dengan kelengkapan imunisasi. Kepada petugas kesehatan Puskesmas Pandanaran sebaiknya melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat secara rutin. Kepada ibu bayi agar mengimunisasikan anaknya tepat waktu. Kepada kader agar memantau dan menyebarluaskan informasi tentang imunisasi pada seluruh masyarakat.Kata Kunci: Imunisasi, Pengetahuan, Sikap, Pelayanan Petugas.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG SANITASI LINGKUNGAN SEKOLAH DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA PELAJAR DI SEKOLAH DASAR NEGERI (SDN) MAKMUR KECAMATAN GAMBUT, KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN Elsi Setiandari Lely Octaviana; Edy Ariyanto
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.825 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1854

Abstract

ABSTRACT: Efforts to improve the quality of education require a genuine effort from students and teachers. A clean learning environment strongly supports the emergence of interest and comfort during the learning process takes place, in contrast to the dirty learning environment, space will produce the impression of lazy and boring does not appear a sense of spirit that can help students learn.The research method used is an analytical survey using cross sectional design. In cross-tubal analysis result between perception about school environment with Standard Variable that is Learning Achievement at school of SDN Makmur Regency of Banjar 2017 shows that p-value 0,000 where p value (= 0,05), make-up with member-in order have an awareness to always keep a clean and healthy life not only in the home environment but also in the learning environment in school, and can also increase the healthy role in order to provide understanding to the students and teachers who teach in the school environment by doing the work health how to learn the school environment with student achievementKeywords: perception, school environmental sanitation, learning achievementABSTRAK: Upaya peningkatan kualitas pendidikan diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari para siswa dan guru. lingkungan belajar yang bersih sangat mendukung timbulnya ketertiban dan kenyamanan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, berbeda halnya dengan lingkungan belajar yang kotor, tentunya akan menimbulkan kesan malas dan membosankan sehingga tidak muncul rasa semangat yang dengan sendirinya dapat mempengaruhi minat belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Pada hasil analisis tubulasi silang antara persepsi tentang sanitasi lingkungan sekolah dengan Variabel terikat yaitu Prestasi Belajar di sekolah SDN Makmur Kabupaten Banjar tahun 2017 menunjukkan bahwa nilai p-value 0.000 dimana nilai (p <= 0,05), disarankan kepada para siswa agar dapat memiliki kesadaran untuk senantiasa tetap berperilaku hidup bersih dan sehat bukan hanya di lingkungan rumah saja melainkan juga pada lingkungan belajar di sekolah, serta dapat mengoptimalkan peran tenaga kesehatan agar dapat memberikan pemahaman kepada para siswa dan kepada para guru yang mengajar di lingkungan sekolah dengan cara melakukan penyuluhan kesehatan mengenai persepsi tentang sanitasi lingkungan sekolah sehubungan dengan prestasi belajar pada siswa.Kata Kunci: Persepsi, Sanitasi Lingkungan Sekolah, Prestasi Belajar
EFFECT OF NONI LEAF (Morinda Citrifolia Lignosae) EXTRACT LARVACIDE TO THE MORTALITY OF Aedes sp. INSTAR III-IV LARVAE Mochammad Malik Ibrahim
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.938 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1850

Abstract

ABSTRACTThe eradication of DHF is through the control of Aedes sp. Vector using larvacide. However, the use of synthetic larvacide causes new problems, such as an environmental pollution and toxicity to human beings therefore safe botanical larvacide should be used compound originated from such as mengkudu leaves extract which contains active compunds, i.e. flavonoida, alkaloida, saponin causing mortality to larva. However the research of mengkudu leaves extract effect to larva isn’t yet examined with Aedes sp larva sample in Indonesia specially larva sample in west village Krapyak.To proof that noni leaf extract 50% (LC50) and 90% (LC90) could lethal Aedes sp. Instar III-IV larva.Mortality of Aedes sp. larva at noni leaf extract 100 ppm was (0%), 200 ppm (1%), 300 ppm (4%), 400 ppm (6%), 500 ppm (11%) and the result of correlation test showed p=0.006 < α = 0.05, thus there was correlation between concentrate of noni leaf extract to with percentage of death of percentage Aedes sp. Instar III-IV larva with linear regression γ = -3.7 + 0.027 used as estimation LC50 and LC90.Concentrate of noni leaf extract could not lethal Aedes sp. instar III-IV larva as much as 50% (LC50) and 90% (LC90) but based on linear regression equivalent it was estimated LC50 was 2.000 ppm and LC90 was 3.475 ppm.Keywords: Larvacide, noni leaf extract, Aedes sp.ABSTRAKPengendalian DBD menggunakan larvasida sintetik menimbulkan masalah baru, diantaranya adalah pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia sehingga perlu larvasida botanis yang lebih aman seperti senyawa yang berasal dari daun mengkudu seperti flavonoida, alkaloida, saponin yang dapat mengakibatkan kematian larva. Namun penelitian terkait efek larvasida ekstrak daun mengkudu terhadap larva ini belum dilakukan uji menggunakan sampel larva nyamuk Aedes sp. di Indonesia terutama sampel larva di Dusun Krapyak Kulon.Tujuan penelitian untuk membuktikan ekstrak daun mengkudu dapat mematikan larva instar III-IV Aedes sp. sebesar 50% (LC50) dan 90% (LC90).Metode penelitian menggunakan Penelitian eksperimental dengan rancangan posttest-only control group design. Analisis data menggunakan korelasi dan regresi linier.Hasil penelitian yaitu jumlah kematian larva Aedes sp. pada pemaparan ekstrak daun mengkudu kosentrasi 100 ppm (0%), 200 ppm (1%), 300 ppm (4%), 400 ppm (6%), 500 ppm (11%) dan hasil uji korelasi menunjukkan p=0,006 < α = 0,05, sehingga dinyatakan ada hubungan antara konsentrasi ekstrak daun mengkudu terhadap persentase kematian larva instar III-IV Aedes sp. dengan persamaan regresi linier γ = -3,7 + 0,027 yang digunakan sebagai prediksi LC50 dan LC90.Konsentrasi ekstrak daun mengkudu yang digunakan tidak dapat mematikan larva instar III-IV Aedes sp. sebesar 50% (LC50) dan 90% (LC90) namun berdasarkan persamaan regresi linier didapatkan bahwa prediksi LC50 sebesar 2.000 ppm dan LC90 sebesar 3.475 ppm.Kata Kunci : Larvasida, ekstrak daun mengkudu, Aedes sp.
TINJAUAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS REKAM MEDIS TENTANG KODE SEBAB KEMATIAN/ UNDERLYING CAUSE of DEATH DI RUMAH SAKIT TUGUREJO SEMARANG 2016 Yanuar Dwi Madyo Hardono; Dyah Ernawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.186 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1856

Abstract

ABSTRACT: Determination code of underlying cause of death is one of the important functions of medical record unit that require precision. To determine the code, the officer must pay attention to the procedures or rules that set by the WHO in ICD-10. In a preliminary survey conducted by the author, in determined the underlying cause of death, coding officers only saw major diagnoses that existed at RM1 and did not see the diagnosis that written in SMPK. This caused an incorrect code.This type of research was descriptive and cross sectional approach. The method used were observation and interviews. The study population were 30 medical record officers and sample were the officers who meet the criteria for a sample of 14 people.The results based on the characteristics, 64.29% did not receive any coding training. All educated diploma of medical record and there were 3 officers who continued study on undergradute program. Most work experience of medical record officer within a period of 6-10 years (57.14%). Most age were 36-40 years old (50%). Most were female (78.57%). Knowledge of non coder officers classified as good with an average value of 94.55 while the average value of 80 for coder. The attitude of coder officer classified as good but for non coder officers there were still many doubts to answer the statement.For that officers need training about the code of underlying cause of death. ICD-10 volumes 1-3 should be used to obtain accurate code. It should be made Standard Operating Procedure and socialization on how the code of underlying cause of death and the provision tables of Mortality Medical Data System (MMDS) to assist in determining the code of underlying cause of death.Keywords: Knowledge, Attitude, Code of Underlying Cause of DeathABSTRAK: Penentuan kode penyebab dasar kematian merupakan salah satu fungsi yang penting dari unit kerja rekam medis yang membutuhkan ketelitian. Untuk menentukan kode, petugas harus memperhatikan prosedur atau aturan yang ditetapkan oleh WHO di dalam ICD-10. Dalam survey awal yang dilakukan penulis, dalam menentukan sebab dasar kematian (Underlying Cause Of Death) petugas coding hanya melihat diagnosa utama yang ada pada RM1 saja dan tidak melihat diagnosa yang tertulis dalam SMPK. Hal ini menyebabkan kode tidak tepat. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik, pengetahuan dan sikap petugas rekam medis tentang kode penyebab dasar kematian berdasarkan ICD-10 di RSUD Tugurejo Semarang Tahun 2016. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Metode yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Populasi penelitian adalah 30 orang petugas rekam medis dan sampel dalam penelitian ini adalah petugas rekam medis yang memenuhi kriteria sampel sebanyak 14 orang. Hasil penelitian berdasarkan karakteristik, sebesar 64,29% tidak pernah mendapatkan pelatihan koding. Semua berpendidikan terakhir DIII-RMIK dan ada 3 petugas yang melanjutkan S1. Masa kerja petugas rekam medis paling banyak dalam jangka waktu 6-10 tahun (57,14%). Persentase umur paling banyak berumur 36-40 tahun (50%). Sebagian besar petugas berjenis kelamin perempuan (78,57%). Pengetahuan petugas non koder tergolong baik dengan rata-rata nilai 94,55 sedangkan rata-rata nilai petugas koder 80. Sikap petugas koder sudah baik namun untuk sikap petugas non koder masih ada banyak keraguan untuk menjawab pernyataan. Perlu adanya pelatihan koding khususnya tentang kode penyebab dasar kematian. Buku ICD-10 volume 1-3 tetap harus digunakan untuk mendapatkan kode yang akurat. Perlu dibuat Standar Operasional Prosedur dan sosialisasi tentang cara penentuan kode penyebab dasar kematian dan penyediaan tabel Medical Mortality Data System (MMDS) untuk membantu dalam penetapan kode penyebab dasar kematian.Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Kode Penyebab Dasar Kematian
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU DI KOTA MAGELANG Erlin Fitria Dewi; Hanifah Ardiani; Suhartono Suhartono; Mateus Sakundarno Adi
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.285 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1851

Abstract

ABSTRACTPrevalence of tuberculosis in Magelang reached 394,18 per 100.000 population. However, there were a decline TB case detection rate from 96,85% to 78,05%. Previous research about TB in association with environmental risk factors showed controvercial results.The objective was analyzing association between environmental house factors with TB incidence in Magelang. An observational analytic was conducted with case control study design with 120 respondents (40 confirmed cases, 40 controls with symptoms of TB and 40 controls without symptoms of TB and using purposive technique sampling.Data were analyzed using chi-square and multiple logistic regression. Bivariat analysis showed association between type of wall (p=0,005; OR=3,8; 95% CI=1 , 57-8,34) and humidity levels (p=0,022; OR=2,9; 95% CI=1,24-6,73) with incidence TB. Multivariate analysis showed that the risk factors of TB were temperature OR=4,0 (95% CI=1,22-13,37, p=0,022), type of wall OR=3,8 (95% CI=1,47-9,89, p=0,006), and humidity levels OR=2,8 (95% CI=1,12-7,20, p=0,027).There was an association between type of wall, temperature and humidity levels with TB cases in Magelang. It was expected that the window function to be optimized so that the air circulation from outside to inside of the house can occur.Keywords: pulmonary TB, house environment, MagelangABSTRAK Prevalensi tuberkulosis di Kota Magelang mencapai 394,18 per 100.000 penduduk. Namun terjadi penurunan angka penemuan kasus TB dari 96,85% menjadi 78,05%. Penelitian terdahulu tentang TB yang dikaitkan dengan faktor lingkungan rumah masih menunjukkan kontroversi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan rumah dengan kejadian TB paru di Kota Magelang. Metode penelitian adalah observasional analitik dengan desain case control. Jumlah sampel sebesar 120 responden yang terdiri dari 40 kasus confirm, 40 kontrol dengan gejala TB dan 40 kontrol tanpa gejala TB yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan chi square dan multipel regresi logistik. Hasil uji bivariat menunjukkan terdapat hubungan jenis dinding (p=0,005; OR=3,8; 95%CI=1,57-8,34) dan tingkat kelembaban (p=0,022; OR=2,9; 95%CI=1,24-6,73) dengan kejadian TB paru. Kemudian hasil uji multivariat menunjukkan suhu OR=4,0 (95%CI=1,22-13,37, p=0,022), jenis dinding OR=3,8 (95%CI=1,47-9,89, p=0,006), dan tingkat kelembaban OR=2,8 (95%CI=1,12-7,20, p=0,027). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara suhu, jenis dinding, dan tingkat kelembaban dengan kejadian TB paru di Kota Magelang. Diharapkan fungsi jendela dapat dioptimalkan sehingga dapat terjadi sirkulasi udara dari luar ke dalam rumah dan sebaliknya.Kata Kunci : TB paru, faktor lingkungan rumah, Magelang
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PRAKTIK VULVA HYGIENE SAAT MENSTRUASI PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 25 SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2017-2018 Faik Agiwahyuanto
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 17, No 01 (2018): APRIL 2018
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.553 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v17i01.1858

Abstract

ABSTRACT: Adolescence is a time of growth or the transition from childhood to time up, this is known by the term puberty, this occurs at 9-15 years age. Symptoms arising in puberty is menstruation. Vulva hygiene is an act which by woman to keep the health and cleanliness of her vulva area. The patterns and habits of students in Semarang SMP 25 do not yet controlled by vulva hygiene school parties, while the school has been doing its job to provide reproductive health education about vulva hygiene, but has never carried out an evaluation of the knowledge students to do vulva hygiene during menstruation.The purpose of this research is to know the level of vulva hygiene practice upon knowledge of menstruation.Population studies 128 respondents, with sampling stratified random sampling, so retrieved 97 respondents. Engineering data collection using primary data and secondary data. The research results of 97 students of class VIII SMP 25 Semarang in obtaining results from the 72 respondents (74,2%) in both the category and the category quite 25 respondents (16%).Conclusions in this study is that most students of class VIII in SMP 25 Semarang have good knowledge about the practice (74,2%) vulva hygiene during menstruation. The advice of the author is respondents are expected to apply the vulva hygiene while mestruating regularly and properly.Keywords: knowledge, adolescence, vulva hygieneABSTRAK: Masa remaja adalah masa pertumbuhan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa ke atas, hal ini dikenal dengan istilah pubertas, ini terjadi pada usia 9-15 tahun. Gejala yang timbul saat pubertas adalah menstruasi. Vulva hygiene adalah tindakan yang dilakukan oleh wanita untuk menjaga kesehatan dan kebersihan area vulvanya. Pola dan kebiasaan siswa di SMP Negeri 25 Semarang belum dikendalikan oleh pihak sekolah kebersihan vulva, sementara sekolah telah melakukan tugasnya untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi tentang kebersihan vulva, tetapi belum pernah melakukan evaluasi terhadap pengetahuan siswa untuk melakukan kebersihan vulva selama menstruasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat praktik kebersihan vulva pada pengetahuan menstruasi. Studi populasi 128 responden, dengan pengambilan sampel stratified random sampling, sehingga diambil 97 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian 97 siswa kelas VIII SMP 25 Semarang dalam memperoleh hasil dari 72 responden (74,2%) baik dalam kategori maupun kategori cukup 25 responden (16%). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa sebagian besar siswa kelas VIII di SMP 25 Semarang memiliki pengetahuan yang baik tentang praktik (74,2%) kebersihan vulva selama menstruasi. Saran dari penulis adalah responden diharapkan untuk menerapkan kebersihan vulva saat berjajar secara teratur dan benar.Kata Kunci : Pengetahuan, Remaja, Kebersihan Vulva

Page 1 of 1 | Total Record : 10