cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : 22527702     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
“Experientia” merupakan istilah dalam bahasa Latin yang artinya “pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman”. Pemilihan nama ini selaras dengan metode transfer dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dipraktikkan di Unika Widya Mandala Surabaya, yakni “experiential learning” (mahasiswa dan dosen belajar bersama melalui partisipasi aktif dalam pembelajaran akademik). Berkala ilmiah ini dipublikasikan oleh Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, terbit dua kali setahun, dan memuat kajian/analisis/telaah/tinjauan empirik dalam ranah psikologi; yang bisa berupa penelitian lapangan maupun kajian teoretik. Misi jurnal ini adalah “give psychology away”—mengutip kata-kata klasik Philip Zimbardo—yakni membantu pengembangan psikologi menjadi ilmu yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi kemaslahatan manusia dalam tataran mikro (individual) dan makro (komunal).
Arjuna Subject : -
Articles 127 Documents
DINAMIKA GRATITUDE PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK DOWN SYNDROME Pipit Meidy Teguh; Eli Prasetyo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2913

Abstract

Down syndrome adalah sebuah kelainan kromosom 21 menyebabkan anak dengan memiliki kekurangan dalam aspek kognitif. Ketika seorang ibu dihadapkan dengan lahirnya anak down syndrome pasti akan memberikan dampak pada kehidupan ibu. Adanya keterbatasan yang dialami oleh anak down syndrome, pengasuhan yang diberikan kepada anak down syndrome dengan anak normal akan berbeda. Dalam hal ini, gratitude penting untuk tumbuh dalam kehidupan orangtua atau ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Adanya gratitude ini penting, sebagai protective factor agar individu menjadi pribadi yang resilien dalam melampaui kondisi yang penuh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah tiga ibu yang memiliki anak down syndrome usia remaja. Peneliti memperoleh informan dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data inductive thematic analysis. Hasil penelitian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa titik di mana informan merasakan gratitude adalah ketika terjadi proses internal dalam diri informan yang disertai oleh nilai-nilai spiritualitas, lalu informan membandingkan kondisinya dengan kondisi orang lain yang lebih di bawahnya dan adanya dukungan sosial dari keluarga dan lingkungannya. Dengan adanya gratitude, ketiga informan dapat memunculkan rasa empati, memaknai kehadiran anak, dan juga mendukung perkembangan anak. 
GAMBARAN HUBUNGAN ROMANTIS PADA WANITA YANG MELAKUKAN ABORSI ATAS PERMINTAAN PASANGAN Fransisca Rosalinda Purnamasari
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2764

Abstract

Pada suatu hubungan romantis terdapat unsur-unsur keintiman fisik, hal tersebut yang membedakan hubungan romantis dengan hubungan teman dekat. Pada masa emerging adult kebanyakan individu mulai aktif secara seksual meskipun belum menikah. Adanya dorongan tersebut yang membuat timbulnya perilaku seks pranikah yang memiliki beberapa resiko, salah satunya kehamilan diluar pernikahan. Pilihan dari kejadian kehamilan diluar pernikahan adalah menikah atau melakukan aborsi. Di Indonesia sendiri fenomena aborsi masih terjadi di setiap tahunnya. Salah satu dampak aborsi adalah adanya tekanan emosional, hal tersebut dapat juga mempengaruhi kestabilan hubungan romantis suatu pasangan. Penelitian ini mencari tahu gambaran hubungan romantis pada wanita yang pernah melakukan aborsi atas permintaan pasangan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif model single case study dengan teknik analisis data inductive thematic analysis. Subjek dalam penelitian ini adalah wanita yang pernah melakukan aborsi minimal dua kali atas permintaan pasangan dan masih mempertahankan hubungan romantis dengan pasangannya. Subjek dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa gambaran hubungan romantis wanita yang pernah melakukan aborsi saat ini rumit karena tidak memiliki tujuan untuk masa depannya. Alasan subjek tetap mempertahankan hubungannya adalah karena adanya ketertarikan terhadap pasangan dan keintiman yang memuaskan. Kata kunci: Aborsi, hubungan romantis, keintiman dan ketertarikan pada pasangan
KONSEP DIRI PADA INDIGO DEWASA AWAL Maria Dini Prasetio
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v7i2.2729

Abstract

Indigo phenomenon in Indonesia at few moments have been trending topic in society. This phenomenon receive every positive or negative view of points in society. Indigo individuals are individual that have a differents potency for every indigo, which is ESP experience (Extrasensory Perception), sensitive, and rational. The purpose of this research is obtain a picture of the self concept’s development. This study uses a qualitative case study method through an interview on early adults aged 18-40 years old and have ESP experience (Extrasensory Perception) since child. There are two participants in this research. The analysis technique that used is inductive technique. This research use two kinds validity such as comunicative and argumentative validitas. Research result show that indigo individuals since child feels different between normal people. They feel special with their advantages and sometimes get different treatment with negative view from society and their family. The views and over-treatment related to their ability resulted indigo individuals not being open to their environment. Early adults who are indigo tend to be forced accept their advantages. Their self concept development influenced by their parents, family, and friendship environment. Early adults who are indigo saw indigo as a permanent ability, which couldn’t be eliminated or easily rejected.
GAMBARAN RESILIENSI PADA MANTAN PENGGUNA METHAMPHETAMINE HYDROHLORIDE PASCA MENJALANI REHABILITASI Elisa Arli Tunggal; Nurlaila Effendy
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v6i2.2718

Abstract

Methamphetamine hydrochloride is known as methamphetamine or sabu which is a synthetic addictive substance that can be easily found in society. Individuals suffer from methamphetamine addiction require to go through rehabilitation to recover and stop the risk of substance tolerance. After rehabilitation, individuals need to have an ability to maintain the recovery process and avoid relapse. This study aimed to explore resilience ability former and in-depth interview technique. Data were gathered from three informants who were former methamphetamine users and had gone through rehabilitation. The result showed an internal condition called resilience and an external condition supporting the resilience ability of informants in order not to relapse. The internal conditions found in this study were attitude towards challenges, self-endurance and positive self-concept. Attitude towards challenges includes avoiding methamphetamine usage, resisting the urge to use methamphetamines, avoiding relationships with other drugs users, realizing their sense of worth, and being aware of their responsibilities and social life. Self-endurance is shown in the form of altering mindset to be more rational, believing in the Almighty God and conducting positive activities. Positive self-concept includes recognizing their strengths, positive emotions, positive mindset, and positive behaviour. In addition to internal conditions, this study also found external condition that supports resilience, which is positive relationship with people that they love and care.
PERBEDAAN INTENSITAS LONELINESS PADA MAHASISWA INDONESIA YANG MELANJUTKAN STUDI DI LUAR NEGERI DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN Eileen Kristlyna; Jaka Santosa Sudagijono
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2867

Abstract

ABSTRAKLoneliness adalah suatu emosi negatif yang terjadi karena berkurangnya hubungan sosial atau karena seseorang tidak mampu untuk membangun hubungan sosial sesuai dengan apa yang diharapkannya. Loneliness dapat terjadi pada mahasiswa yang melanjutkan studi di luar negeri karena salah satu faktor loneliness adalah karakteristik individual yaitu kepribadian. Tipe kepribadian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepribadian ekstrovert dan introvert. Individu dengan tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan untuk mengalami kesepian lebih tinggi daripada individu dengan tipe kepribadian ekstrovert karena mereka memiliki karakteristik yang memilih lingkungan yang tenang, memilih kegiatan yang dilakukan seorang diri, cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, sedangkan individu dengan tipe kepribadian ekstrovert memiliki karakteristik yang mudah bergaul, suka berkumpul dengan banyak orang, dan mudah beradaptasi di lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas loneliness ditinjau dari tipe kepribadian pada Mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan data purposive dan snowball sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala tipe kepribadian Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) dan skala Loneliness yang disusun oleh peneliti. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri yang berusia 18-22 tahun. Data diolah dengan menggunakan teknik statistik non-parametrik Mann-Whitney U karena tidak memenuhi uji asumsi. Hasil pada penelitian ini mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara intensitas loneliness pada mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri ditinjau dari tipe kepribadian karena adanya faktor lain yaitu self-esteem, dukungan sosial dan juga adanya perkumpulan mahasiswa Indonesia.Kata Kunci: Loneliness, Tipe Kepribadian, Mahasiswa yang Melanjutkan Studi Di Luarnegeri.ABSTRACTLoneliness is a negative emotion that occurs due to reduced social relationships or becausesomeone is unable to build social relationships in accordance with what they expect. Loneliness can occur in students who continue their studies abroad because one of the factors of loneliness is individual characteristic, namely personality. The personality types used in this study are extrovert and introvert personality. Introverted individuals have a higher tendency to experience loneliness than extroverted individuals because they havecharacteristics that prefer quiet environments, choose activities that are carried out alone,tend to withdraw from social environments, while individuals with extrovert personality types have characteristics that are easy to get along with, likes to hang out with many people, and easy to adapt in social environment. This study is to determine the difference in loneliness intensity in terms of personality types among Indonesian students who continue their studies abroad. This study used a quantitative methods with purposive and snowball sampling techniques. Data were collected using the Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) personality type scale and the Loneliness scale compiled by the researcher. Subjects in this study are Indonesian students who studies abroad, aged 18-22 years. The data are process using non-parametric statistical techniques Mann-Whitney U because it did not meet the assumption test. The results said that there was no difference between the intensity of loneliness among Indonesian students who continued their studies abroad in terms ofpersonality types due to other factors such as self-esteem, social support and also Indonesian students associations.Keywords: Loneliness, Personality Type, Students Who Study Abroad.
RESILIENSI IBU DARI ANAK DENGAN DOWN SYNDROME YANG BERPRESTASI DALAM BIDANG OLAHRAGA Allicia Allicia; Made Dharmawan Rama Adhyatma
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i1.2429

Abstract

Down Syndrome is a disorder caused by chromosome abnormalities that are associated with mental retardation, characteristic facial appearance, and poor muscle. The disorder makes a child diagnosed with this disorder has a typical characteristic such as lower intellectual capability, social capability, and healthiness than the other child with normal development. The presence of a child with Down Syndrome makes the majority of mothers experience deep sadness, stress, and depression. That's why the capability to respond and accept the presence of the child positively is needed. Resilience is an individual capability to face, deal, and respond to difficulties or challenges in life in a healthy and productive manner. This study using qualitative research method with phenomenological approach. Informant in this study were three mothers which having a child with Down Syndrome that is achieved in sport. The informant was chosen with a purposive sampling method. This study using an inductive thematic analysis data analysis technique. The results of this study indicate that mothers who have Down Syndrome child’s see her child’s is a gifts, have a sense of pride in the child’s achievements, social support from those around her makes her have an optimism to develop children’s potential, and an effort to develop children’s interests and talents.
DINAMIKA SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA PENYANDANG TUNADAKSA DI UNIVERSITAS X SURABAYA Jeanet Yener Hingkua
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v7i2.2724

Abstract

Physical disability is a condition of a physical defect that a person has in which the body part is not functioning properly.This condition makes a person feel negative emotions, and experiences some difficulties in conducting their activities especially because the individual also has a role as a college students. The purpose of this research was to explore self-meaning of individuals with physical disability and how the dynamic process of self-esteem of individuals with disabilities that have a role as college students. Self-Esteem is individuals’ assessment of themselves. Assessments or evaluations made are different between person to person, it can be positive or negative that affects a person's behavior in carrying out their activities and the outcomes.This study used a qualitative-inductive approach with phenomenological methods.The informant in this study were college students with physical disability since birth. Data collection was conducted through interview process with two research informants. The result of this study showed that both informants have a positive judgment to themselves. Both informants were able to accept their physical disabilities that were experienced since childhood and made peace with their less enjoyable experiences in the past. The process of forming positive judgment by the two informants were seen from social support where the two informants had feelings of self-meaning, life values, ability and skills in conducting activities and achieving goals as a child and particularlyas a college student.
DINAMIKA PSIKOSPIRITUAL PENYEMBUHAN LUKA BATIN Katharina Anggun Dwi Novitasari; Gratianus Edwi Nugrohadi
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2954

Abstract

AbstraksiHingga saat ini luka batin menjadi salah satu persoalan kompleks, terkhusus bagi anak muda dengan segala tugas dan tanggung jawab berat yang mulai diterimanya.  Maka penelitian ini ingin mengkaji secara ilmiah mengenai dinamika psikospiritual pada anak muda yang menjalani penyembuhan luka batin. Penyembuhan luka batin merupakan suatu proses mengingat, memahami, dan menerima kembali pengalaman yang melukai batin seseorang dengan apa adanya (Bock, 2011). Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan proses wawancara mendalam pada tiga informan yaitu laki-laki dan perempuan dengan usia dewasa awal (18-35 tahun) yang belum menikah dan telah mengikuti penyembuhan luka batin. Penelitian ini menggunakan teknik purposive dalam menentukan informan penelitian. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik induktif, dengan melakukan validitas komunikatif dan argumentatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dinamika psikospiritual pada anak muda yang melakukan penyembuhan luka berangkat dari keinginan untuk sembuh dan berdamai dengan masa lalunya sehingga bisa memiliki perasaan, pemikiran, dan perilaku baru yang terlepas dari pengalaman luka batin. Selain itu orang yang sudah berdamai dengan luka batinnya akan lebih bisa menggali pengalaman cinta dan juga hidup bagi sesama dan semesta, tidak memikirkan diri sendiri. Kemauan dari diri sendiri dan dukungan sosial sangat berperan pada proses penyembuhan luka batin ini. Kata kunci : luka batin, penyembuhan luka batin, dinamika psikospiritual
PERBEDAAN TINGKAT SELF-EFFICACY PADA ANAK DISLEKSIA DENGAN PELATIHAN BERKONSEP GROWTH MINDSET Veronica Amelinda Chauwito; Eli Prasetyo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v8i2.2765

Abstract

Abstrak    Pendidikan dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan manusia, dan akan berlangsung sepanjang hayat manusia. Namun tidak semua anak dapat melalui proses pendidikan dengan baik. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5; APA, 2013), terdapat tiga jenis gangguan belajar yang dapat mempengaruhi proses belajar di masa kanak-kanak, yaitu disleksia, disgrafia, dan diskalkulia. Disleksia sendiri adalah gangguan belajar yang paling sering ditemui diantara tiga jenis gangguan belajar yang lainya. Anak-anak dengan disleksia memiliki kecenderungan self-efficacy yang rendah dibandingkan anak-anak pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan self-efficacy anak dengan disleksia dengan memberikan perlakuan yang berlandaskan pada konsep Growth Mindset. Metode penelitian ini adalah dengan menggunakan desain penelitian single case-experimental design. Jumlah subjek yang digunakan adalah dua orang, satu sebagai subjek try out dan satu sebagai subjek perlakuan. Metode pengumpulan data adalah dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan yaitu dari 53 ke 75. Serta diperoleh hasil dari wawancara bahwa subjek lebih mau mencoba dan tidak mudah menyerah.  Sehingga hipotesa penelitian diterima yaitu ada perbedaan tingkat self-efficacy pada anak dengan disleksia sebelum dan sesudah diberi pelatihan yang berlandaskan pada konsep Growth Mindset, ada peningkatan self-efficacy pada anak dengan disleksia sesudah diberi pelatihan yang berlandaskan pada konsep Growth Mindset.Kata kunci: Disleksia; self-efficacy; Growth Mindset 
KUALITAS LAYANAN PADA FRONTLINER DI PERGURUAN TINGGI SWASTA SURABAYA Selviana Novela Suryadiningsih; Andhika Alexander Repi
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v7i2.2730

Abstract

Optimal service quality is related to customer satisfaction which can have an impact on organization's existence. All industrial sectors such as educational institutions, including PTS X, need to optimize their service quality. Results of preliminary research showed that students as the frontliner users of PTS X General Administration Bureau evaluated the bureau as having less-than-optimal quality of service. This study aimed to examine and describe the quality of service of the PTS X General Administration Bureau. Participants were PTS X students who were recruited using incidental sampling technique. The scale of service quality, comprising different aspects such as tangible appearance, reliability, responsiveness, assurance, and empathy, was used as a method of data collection, meanwhile descriptive analysis was used as data analysis technique. Result showed that the quality of service of PTS X General Administration Bureau was perceived at a high level, meaning that students as the service users provided a good evaluation to the service. This was different from the result of preliminary study. Different findings may be due to the implementation of new information technology system as well as self-improvement efforts made continuously by PTS X. Despite this, the head of PTS X General Administration Bureau still needs to optimize human resources within the organization, including the frontliner staff. The management of PTS X should develop the quality of service not only within the General Administration Bureau, but also in other bureau and departements of PTS X.

Page 8 of 13 | Total Record : 127