cover
Contact Name
Dr. Istiadah, MA
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
egalita@uin-malang.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
EGALITA
ISSN : 19073641     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
EGALITA merupakan Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender yang menyajikan sejumlah hasil penelitian, pemahaman dan perenungan mendalam tentang problematika gender, baik dalam bangunan intelektual maupun konstruksi sosial yang ada pada masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2020): June" : 5 Documents clear
POLIGAMI SIRRI DAN DAMPAKYA TERHADAP MENTAL ISTRI DAN ANAK PERSEPEKTIF SIGMUND FREUD Noer Azizah
EGALITA Vol 15, No 1 (2020): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v15i1.10177

Abstract

Pernikahan merupakan jalan terbaik untuk memenuhi tabiat manusiawi, menyalurkan hasrat, melampisakan gairah sesksualnya, dan melahirkan keturunan. Maka dari itu, pernikahan haruslah sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Undang-undang perkawinan, supaya mendapat kepastian dan perlindungan hukum. Saat ini, kecenderungan yang terjadi pernikahan yang dilakukan dengan cara sirri, biasanya kecenderungan ini terjadi pada saat pernikahan seorang pria yang akan dilakukan kedua kalinya atau lebih.  Artikel disini mengkaji tentang poligami nikah sirri dan dampaknya terhadap mental istri dengan perespektif Sigmud Freud. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana analisa pemikiran Sigmund Freud terhadap mental istri dan anak akibat dampak dari poligami sirri. Metodelogi penelitian yang dipakai ialah dengan metodelogi penelitian kualitatif, teknis analisa data ialah teknik deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh bersumber dari buku, literatur kepustakaan, serta diperkuat dari penelitian lapangan yang bersumber dari wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa poligami sirri berdampak pada beban psikis, yakni akan adanya rasa malu, minder, anak tersebut merasa kurang percaya diri, rusaknya pergaulan anak dan jika dibiarkan dalam jangka panjang akan berdampak terhadap ketidak sehatan mental seseorang. Namun ketika dikaitkan dengan aliran Sigmund Freud tidak semua orang yang seperti itu dianggap lemah mental, karena ketika dikaitkan menurut pendapatnya orang yang bisa mengatasi tekanan dan kecemasan berarti orang tersebut mentalnya masih dianggap baik.          
PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI ANAK KORBAN PEMERKOSAAN Riza Gineung Adi Anggara; Kevin Sianturi; Debora Wibi Florency; Tomy Michael
EGALITA Vol 15, No 1 (2020): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v15i1.10178

Abstract

Tujuan penelitian ialah memperluas suatu wawasan hukum bahwasannya anak korban dari kekerasan seksual adalah korban dan harus dillindungi, bukan untuk didiskrimansi. Dengan menggunakan metode empiris yang dikonsepkan sebagai suatu gejala, sejauh mana menjalankan tugas, pokok , dan fungsinya  dalam pelaksanaannya  atau  kenyataan  pada  lembaga pendidikan. Pada penelitian ini, peneliti menawarkan pembaruan dalam sistem pendidikan ini, yaitu dengan ditambahnya mata pelajaran sex education pada sekolah dasar hingga menengah atau kejurusan sehingga anak seusia dini dapat memahami atau mengerti fungsi dan makna dari suatu organ-organ vital, sehingga tindakan pelecehan sejak dini dapat dicegah. Dalam masa sekarang ini berbagai bentuk kejahatan sangat merebak, mulai dari kejahatan seksual dan sebagainya. Kejahatan seksual ini tidak hanyanya dialami wanita dewasa saja, tetapi anak-anak pun juga menjadi korban. Korban yang masih anak-anak ini yang dikawatirkan karena dapat merusak masa depannya. Faktornya pun bermacam-macam, mulai dari faktor fisik seperti penampilan wanita yang terbuka hingga karena faktor teknologi yang mudah sekali untuk mengakses konten porno.
MEMAKNAI KEMBALI KONSEP NUSYUZ DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM PERSPEKTIF GENDER & MAQASHID SYARIAH JASSER AUDA Muhammad Habib Adi Putra; Umi Sumbulah
EGALITA Vol 15, No 1 (2020): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v15i1.10179

Abstract

Sebagian ulama kontemporer memandang bahwa konsep nusyuz dalam pasal 84 Kompilasi Hukum Islam (KHI) bersifat diskriminatif terhadap perempuan. Dalam pasal tersebut setidaknya hak dan kewajiban banyak dilimpahkan terhadap perempuan. Jika istri tidak dapat menjalankan kewajiban, maka berlaku hukum nusyuz, namun tidak berlaku sebaliknya bagi suami. Dalam konteks ini maka terdapat ambivalensi, ambiguity, dan ketidakadilan suatu hukum. Karena itu, tulisan ini mendiskusikan  kembali makna nusyuz dalam KHI perspektif gender dan relevansinya dalam perkembangan hukum Islam di Indonesia. Penelitian pustaka dengan pendekatan historis dn analisis gender ini menunjukkan: pertama, relevansi konsep nusyuz dalam fikih dan KHI terletak pada implikasi hukum yang tersirat dari pemahaman pada substansi tekstualitas; kedua, pemaknaan kembali konsep nusyuz melalui pendekatan sistem maqashid al-syariah Jasser Auda bahwa dalam rangka melindungi dan mengembangkan hak asasi perempuan adalah dengan menambahkan konsep nusyuz suami pada pasal 84 KHI. Dengan demikian, prinsip kesetaraan dan keadilan menjadi aspek penting dalam memaknai kembali konsep nusyuz, yang bisa saja dilakukan baik oleh isteri maupun suami.
MEMBANGUN PENDIDIKAN RAMAH ANAK DALAM KELUARGA DI ERA PANDEMI COVID-19 Laily Fitriani; Sri Bintang Gelang
EGALITA Vol 15, No 1 (2020): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v15i1.10117

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang pentingnya pendidikan ramah anak dalam keluarga. Maraknya kekerasan dalam keluarga pada anak membuat perlu adanya penguatan-penguatan dalam keluarga untuk membangun pendidikan ramah anak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada era pandemi Covid-19 saat ini. Era pandemi Covid-19 telah memberikan pengaruh yang signifikan dalam pertumbuhan berbagai sektor kehidupan, baik dari segi ekonomi, kesehatan, sosial, politik, dan tak terkecuali pendidikan. Berdasarkan ketentuan pemerintah yang mengalihkan pendidikan dari sekolah ke rumah ternyata banyak memunculkan berbagai problemantika bagi anak dan keluarga. Orang tua yang pada awalnya kurang perhatian dalam pendidikan anak, selama masa pandemi Covid-19 wajib memberikan pengasuhan sekaligus pendidikan yang optimal kepada anak. Memberikan pendidikan ramah anak sejak dini secara terus menerus dapat menanamkan perilaku positif anak dalam hidupnya. Sehingga akan lahir generasi ramah anak dalam pribadi anak sekaligus memutus mata rantai kekerasan pada anak, sebab pendidikan dengan kekerasan akan memberikan dampak pada fase tumbuh kembang anak dan fase kehidupan anak dari remaja dan dewasanya. Pendidikan ramah anak di keluarga dapat dilakukan dengan: 1) Penerapan komunikasi yang berimbang antara orang tua dan anak; 2) Penerapan disiplin anti kekerasan; dan 3) Penerapan pembentukan karakter positif pada anak.
MODEL TREATMENT TERHADAP ANAK KORBAN VERBAL ABUSE DALAM KELUARGA Moh Usman
EGALITA Vol 15, No 1 (2020): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v15i1.9991

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang pentingnya pendidikan ramah anak dalam keluarga. Maraknya kekerasan dalam keluarga pada anak membuat perlu adanya penguatan-penguatan dalam keluarga untuk membangun pendidikan ramah anak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada era pandemi Covid-19 saat ini. Era pandemi Covid-19 telah memberikan pengaruh yang signifikan dalam pertumbuhan berbagai sektor kehidupan, baik dari segi ekonomi, kesehatan, sosial, politik, dan tak terkecuali pendidikan. Berdasarkan ketentuan pemerintah yang mengalihkan pendidikan dari sekolah ke rumah ternyata banyak memunculkan berbagai problemantika bagi anak dan keluarga. Orang tua yang pada awalnya kurang perhatian dalam pendidikan anak, selama masa pandemi Covid-19 wajib memberikan pengasuhan sekaligus pendidikan yang optimal kepada anak. Memberikan pendidikan ramah anak sejak dini secara terus menerus dapat menanamkan perilaku positif anak dalam hidupnya. Sehingga akan lahir generasi ramah anak dalam pribadi anak sekaligus memutus mata rantai kekerasan pada anak, sebab pendidikan dengan kekerasan akan memberikan dampak pada fase tumbuh kembang anak dan fase kehidupan anak dari remaja dan dewasanya. Pendidikan ramah anak di keluarga dapat dilakukan dengan: 1) Penerapan komunikasi yang berimbang antara orang tua dan anak; 2) Penerapan disiplin anti kekerasan; dan 3) Penerapan pembentukan karakter positif pada anak.

Page 1 of 1 | Total Record : 5