cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN PARTIKEL, PERUBAHAN KATA SIFAT, DAN KATA TANYA BAHASA JEPANG KELAS XI BAHASA SMA KEMALA BHAYANGKARI TAHUN AJARAN 2006/2007 Rina Suci Andriani
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 5 No. 2 (2014): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v5i2.355

Abstract

Abstrak Mampu menggunakan bahasa Jepang dengan baik adalah tujuan belajar bahasa asing Bahasa. Dalam kegiatan belajar bahasa asing, membuat kesalahan merupakan hal yang tidak bisa dihindari, begitu pula dalam mempelajari bahasa Jepang. Dengan membuat kesalahan, diharapkan siswa dapat memahami lebih baik tentang apa yang telah mereka pelajari. Peserta didik SMA yang belajar bahasa Jepang diharapkan mampu memahami pola dasar bahasa Jepang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa level SMA sederajat di SMA KEMALA Bhayangkari Surabaya kelas XI dalam hal penggunaan partikel partikel (Joshi), perubahan kata sifat (keiyoushi ada Henka), dan kata tanya (Gimon shi). Setelah melakukan analisis, skor penilaian siswa di untuk penggunaan partikel dikatakan baik dengan skor 69,56 sedangkan untuk perubahan kata sifat (keiyoushi ada Henka) dinyatakan cukup dengan nilai 67,89 dan kemampuan siswa perihal kata tanya (Gimon Shi) dinyatakan cukup baik dengan skor 76,81. Kata kunci: partikel (joshi), perubahan kata sifat (keiyoushi ada Henka), kata tanya (Gimon shi) Abstract Being able to use the Japanese language properly is the purpose of learning a foreign language Bahasa. In the activities of learning foreign language, it can not be separated from making mistakes, especially in learning Japanese language. By making mistakes, it is expected that students can understand better about what they have learned. High school learners who learns foreign languages like Japanese are expected to understand the basic Japanese patterns. Thus, this research is conducted on the ability of high school students in high school English class XI KEMALA Bhayangkari Surabaya in working on particles (Joshi), adjectives changes (keiyoushi no Henka), and question words (Gimon shi). After doing analysis, the results found that student
PRAANGGAPAN DAN PERIKUTAN DALAM BAHASA INGGRIS DAN BAHASA JEPANG Sri Aju Indrowaty
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 5 No. 2 (2014): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v5i2.356

Abstract

Abstrak Bahasa memiliki peran penting dalam komunikasi manusia. Tanpa bahasa, manusia tidak dapat melakukan interaksi satu sama lain. Penelitian ini berkaitan dengan analisis struktural dan tindak tutur yang merupakan bagian dari pragmatik. Ketika pembicara mengatakan sesuatu, pendengar harus memahami maksud pembicara. Dalam hal ini, praanggapan dan perikutan dapat ditemukan dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Jepang. Penelitian ini akan membahas lebih lanjut tentang perbedaan praanggapan dan perikutan dalam bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Kata Kunci: pragmatik, praanggapan, perikutan Abstract Language has an important role in human language communication. Without a languge, human cannot do interaction to each other. This research is related to structural analysis and speech act, a part of pragmatics. When a speaker says something, a hearer should understang the intention of speakers. It turns out both English and Japanese a presupposition and entailments. This research will explore more about differences of presupposition and entailments in English and Japanese. Key Words: pragmatics, presupposition, entailment
ANALISIS FORMULA TERHADAP POPULARITAS NOVEL THE KITE RUNNER KARYA KHALED HOSSEINI (AN ANALYSIS OF FORMULA TOWARDS THE POPULARITY OF THE KITE RUNNER NOVEL BY KHALED HOSSEINI) Endang Endang Suciati
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 6 No. 2 (2015): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v6i2.387

Abstract

Abstrak Novel
PERUBAHAN BAHASA DALAM PERSPEKTIF PRE NEOGRAMMARIAN DAN NEOGRAMMARIAN DAN PENGAJARAN BAHASA DALAM KONTEKS EFL ( PRE-NEOGRAMMARIAN AND NEOGRAMMARIANS Uswatun Qoyyimah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 6 No. 2 (2015): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v6i2.388

Abstract

Abstrak Artikel ini menjelaskan dua perspektif yang berbeda dalam menanggapi perubahan dalam bahasa, dan memadukan dua perspektif tersebut dalam pengajaran bahasa Inggris yang dilakukan dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL context). Pra-Neogrammarian dan Neo-grammarians yang masing masing menjelaskan bahwa perubahan pada bahasa dapat mengarah ke perusakan atau peningkatan eksistensi bahasa akan diuraikan dalam artikel ini. Selain itu artikel ini menjelaskan bahwa teori berasal dari kedua perspektif dapat diterapkan untuk menganalisa bahasa apapun. Jika terjadi kontak budaya antara dua bahasa, bahasa yang dominan akan cenderung menekan bahasa non-dominan. Oleh karena itu, selain fokus pada perubahan yang terjadi dalam bahasa Inggris dan efek perubahan dalam bahasa Inggris, artikel ini juga menjelaskan bahwa bahasa bahasa local juga mengalami perubahan sebagai akibat dari interaksi penggunanya dengan bahasa Inggris. Kemudian, artikel ini juga menawarkan tindakan yang harus dilakukan oleh guru dalam menyikapi berbagai akibat dari perubahan bahasa tersebut dan menguraikan dilemma yang dirasakan oleh guru atas pergesekan dua bahasa tersebut. Kata kunci: EFL konteks, variasi bahasa Inggris, Neogrmmrianns, Pre Neogramarian, perubahan bahasa, pengajaran bahasa. Abstracts This article describes different perspectives in response to language change, and aligns the perspectives of language change to English language pedagogy in non- English speaking contexts. The Pre-Neogrammarian and Neo-grammarian linguists that believe the change leads to respectively language decay or language existence will be outlined. This article suggests that the theories derived from both perspectives can be applied to any language. Once there is cultural contact between languages, the dominant language tends to suppress the non-dominant language. Hence, besides focusing on changes that happen in English and the effects of the changes into this language, this article also considers that other language
PENGGUNAAN VARIASI BAHASA JAWA OLEH PARA MAHASISWA UNIPDU JOMBANG (THE USE OF JAVANESE VARIATION BY THE STUDENTS OF UNIPDU JOMBANG) Afifa S. Zulfikar
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 6 No. 2 (2015): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v6i2.389

Abstract

Abstrak Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan: krama, madya dan ngoko dengan fungsi-fungsi khasnya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana responden menggunakan tingkatan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar mereka. Berdasarkan survei yang dilakukan, dapat diketahui bahwa responden cenderung menggunakan tipe T dalam berkomunikasi dengan keluarga termasuk dengan orang tua mereka, dan juga teman-teman mereka. Namun tingkatan bahasa Jawa
DASAR PERBEDAAN SECARA FONETIS BUNYI KONSONAN OBSTRUENT DAN SONORAN (THE PHONETIC BASIS FOR THE DISTINCTION OF OBSTRUENT AND SONORANT CONSONANTS) Achmad Farid
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 6 No. 2 (2015): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v6i2.390

Abstract

Abstrak Menurut keberadan aliran udara ketika memproduksi bunyi bahasa, bunyi konsonan dapat dibagi menjadi obstruen dan sonorant (Rice, 1993). Artikel ini berusaha menjelaskan perbedaan antara bunyi konsonan obstruen dan sonoran. Selanjutnya, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan alasan mengapa bunyi voiced implosives, tap dan flap, dan thrill yang sulit untuk dikategorikan sebagai bunyi sonoran atau obstruen. Setelah membahas kedua kategori bunyi secara menyeluruh, ditemukan bahwa perbedaan mendasar antara obstruen dan sonoran terletak pada keadaan pita suara, apakah pita suara bergetar atau tidak, dan juga terletak pada aliran udara, apakah aliran udara terhambat atau terhalang. Implosif bersuara sulit untuk dikategorikan sebagai obstruen dan sonoran karena sebenarnya bunyi tersebut termasuk bersuara (voiced), sedangkan obstruen pada umumnya tak bersuara (voiceless). Selain itu, ketika bunyi ditahan dan dilepasakan membuat bunyi flaps dan taps, dan thrills sulit untuk dikategorikan sebagai obstruen atau sonoran. Bunyi-bunyi tersebut dapat dianggap sebagai sonoran jika kita menekankan pada fase ketika bunyi itu ditahan. Namun bunyi-bunyi tersebut dianggap sebagai sonoran jika kita menekankan pada fase dilepaskannya bunyi-bunyi tersebut. Kata kunci: sonorants, obstruents, voiced implosives, trills, flaps and taps Abstract According to the state of airflow when producing sounds, consonants can be divided into obstruents and sonorants (Rice, 1993). This article attempts to elucidate the differences between obstruent and sonorant consonants. Further, it aims to explain the reasons why voiced implosives, tap and flap, and trill consonants are difficult to be categorized as sonorants or obstruents. After discussing the the two category of sounds thoroughly, it was found that the underlying distinction between obstruents and sonorants lies in the vocal fold status, whether it is vibrating or not, and in the airstream flow, whether it is obstructed or unobstructed. Voiced implosives are difficult to be categorized as obstruent and sonorants because of in fact they are voiced, while obstruents are commonly voiceless. In addition, the hold and release phase makes the flaps and taps and trills difficult to be categorized as obstruents or sonorants. They can be treated as sonorants if we highlight their hold phase and as sonorants if we emphasize on their release phase. Key words: sonorants, obstruents, voiced implosives, trills, flaps and taps
KONSEP BAHASA DAN PIKIRAN DALAM PEMAHAMAN BAHASA JEPANG (A CONCEPT OF LANGUAGE AND MIND IN UNDERSTANDING JAPANESE) Nurul Laili
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 6 No. 2 (2015): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v6i2.391

Abstract

Abstrak Berdasarkan beberapa kategori menurut beberapa ahli dan contoh dalam pemahaman bahasa Jepang, diketahui bahwa
NOVEL DARMAGANDHUL DALAM TINJAUAN PASCASTRUKTURALISME ROLAND BARTHES (DARMAGANDHUL NOVEL IN ROLAND BARTHES Dharma Satrya
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 6 No. 2 (2015): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v6i2.392

Abstract

Abstrak Tulisan ini merupakan pembacaan novel Darmagandhul dengan teori Roland Barthes. Pembacaan dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan teks sebagai entitas yang plural, yang memungkinkan berbagai kemungkinan muncul, sehingga metode yang digunakan adalah metode interpretasi, yaitu dengan menginterpretasi teks-teks yang berdasarkan pada keluasan pandangan yang menginterpretasi tersebut. Tulisan ini menginterpretasi manifestasi lima kode Roland Barthes dalam novel tersebut. Kode hermeneutika termanifestasi dalam Darmagandhul sebagai manusia yang menjalankan pancadharma, yang lahir ketika dharma sedang dijalankan, yang lahir sebagai akibat laku berdharma. Kode Semik termanifestasi pada Darmagandhul yang lahir dan diberi nama itu sebagai akibat adanya orang yang berperilaku dharma, yaitu Kidang Sengkelat, ayah dari Darmagandhul. Kode Proaritik termanifestasi pada Darmagandhul sebagai awal, jalan, isi, hasil, akhir, dan tujuan. Kode Kultural termanifestasi pada pengetahuan tentang sejarah dan sastra sebagai acuan dari novel tersebut. Kode Simbolik termanifestasi pada Darmagandhul sebagai lambang kedamaian, lambang dari pengetahuan, lambang dari kebaikan, lambang keharmonisan dalam sebuah relasi antara manusia dengan Tuhan, diri, dan alam semesta. Kata Kunci: Novel Darmagandhul, interpretasi, kode Barthes. Abstract This writing is about the reading of Darmagandhul novel using Roland Barthes theory. The objective of the reading was describing the texts as plural entity, that gives chance for some possibilities. So that, it used interpretation method which was interpreting the texts based on the wide view of the interpreter. This writing interpreted the manifestation of Roland Barthes five codes in the novel. Hermenutic code was manifestated in Darmagandhul as human that run pancadharma which was born when dharma was being done, which was born as the result of dharma behave, which is through it, the dharma can be revealed both in zahir and mahir. Dharma became motivation for the behaviour of its character. Semic code was manifestated in Darmagandhul which was born and given that name as the result of the person who did the dharma behave, he was Kidang Sengkelat, the father of Darmagandhul. Proaritic code was manifestated in Darmagandhul as the beginning, the way, the content, the result, and the goal. Cultural code was manifestated to historical knowledge and literature as the guide of the novel. Simbolic code was manifestated as the symbol of peacefullness, knowledge, goodness, and harmony in the relation between human and God, self, and universe. Key words: Darmagandhul novel, interpretation, Barthes
MITIGASI: UPAYA PENGHALUSAN TUTURAN SEBAGAI WUJUD STRATEGI KESANTUNAN Angga Aminullah Mansur
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 1 (2015): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i1.393

Abstract

Abstrak Dalam komunikasi antarpribadi, keadaan muka (face) tiap peserta tutur yang terlibat dalam sebuah percakapan dikatakan senantiasa dalam keadaan terancam. Tuturan yang diujarkan oleh seorang penutur berisiko mengakibatkan tindak pengancaman muka (face threatening act) bagi petuturnya. Untuk menghindarkan diri dari tindak pengancaman muka (face threatening act) tersebut serta untuk mencapai tujuan komunikasi sebagaimana dikehendaki, sebuah upaya penghalusan tuturan atau mitigasi lazim dilakukan. Tulisan ini akan membahas mitigasi ditinjau dari sudut pandang pragmatik; yakni sebuah upaya penghalusan tuturan sebagai wujud dari strategi kesantunan (politeness strategy). Beberapa teori mitigasi dari beberapa pakar akan dipaparkan. Bentuk-bentuk mitigasi dan korelasinya dengan prinsip-prinsip kesantunan sebagai sebuah konsep budaya yang universal tak luput dari pokok bahasan tulisan ini. Kata kunci : mitigasi, bentuk, strategi kesantunan, prinsip kesantunan Abstract In an interpersonal communication, someone's face always tends to be in a threatened condition. The utterance uttered by a speaker tends to cause a face threatening act on its hearer. To keep one's face away from this face threatening act and to achieve the objective of communication, some softening act of an utterance known as mitigation needs to be done. This paper discusses mitigation from pragmatics point of view; that is, a speech softening-act as a form of politeness strategy. Some theories of mitigation are also presented. The forms of mitigation and its correspondence to politeness principles as a culture-universal concept are also discussed. Key words: mitigation, forms, politeness strategy, politeness principle
PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM MENERJEMAHKAN PERCAKAPAN Irta Fitriana
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 7 No. 1 (2015): September
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v7i1.394

Abstract

AbstrakPragmatik dapat menjadi salah satu pendekatan dalam penerjemahan. terutama dalam menerjemahkan ujaran atau percakapan. Pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu bahasa (linguistik) yang berfokus pada makna kontekstual atau studi tentang makna pembicara. Dalam hal ini, makna pembicara merupakan pesan atau makna yang dimaksudkan. Pemikiran ini sejalan dengan konsep penerjemahan. Terjemahan dianggap sebagai fasilitator untuk membuat komunikasi antara dua orang dengan bahasa yang berbeda dapat saling memahami satu sama lain dengan baik. Memahami pragmatik dapat menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh siapa saja termasuk penerjemah. Kadang-kadang makna literal yang dihasilkan, belum menghasilkan hasil terjemahan yang maksimal. Sebuah kondisi praktis analisis bahasa diluar dari prinsip-prinsip struktural akan mendapatkan komunikasi yang efektif. Tulisan ini berisi beberapa pemikiran dan kontribusi pendekatan pragmatik dalam menerjemahkan percakapan. Kata kunci: terjemahan, pragmatik, percakapanAbstractPragmatics can be an approach in translation, especially in translating utterances or conversations. Pragmatics is a linguistic study focusing on the context or the study of speaker meaning. In this case, speaker meaning is considered as message or intended meaning. This proposition is in line the concept of translation. Translation is considered as a facilitator to make a communication between two people with different language understand well each other. Understanding pragmatics can be one of competencies should be exactly had by anyone learning language included a translator. Sometimes a literal meaning found has not produced a maximal result. A practical condition of language analysis which is out of structural principles will get an effective and efficient communication. This paper contains some consideration and contribution of pragmatics approach in translating conversation. Key words: translation, pragmatics, conversation

Page 11 of 19 | Total Record : 183