cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
Penggemar Grup Idola Arashi di Indonesia: Fenomena Budaya Populer Global dan Fan Culture Firtha Ayu Rachmasari; Almira Fidela Artha; Dhaniswari Ananta Ayu
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 15 No. 2 (2024): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v15i2.4657

Abstract

Munculnya istilah budaya populer global ditandai dengan fenomena mudahnya budaya populer suatu negara menjadi tren secara global. Salah satunya adalah budaya populer yang berasal dari Jepang, seperti anime, manga hingga musik J-Pop. Kepopuleran musik J-Pop secara tidak langsung ikut mengenalkan grup-grup idola Jepang seperti Arashi. Arashi memiliki cukup banyak penggemar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penggemar Arashi di Indonesia layaknya penggemar Arashi di negara asalnya yaitu Jepang, juga melakukan berbagai macam aktivitas yang berhubungan dengan Arashi. Oleh karena itu, penelitian ini meneliti bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan penggemar Arashi di Indonesia, seperti aktivitas konsumsi, produksi hingga membentuk dan bergabung dalam suatu komunitas penggemar seperti Arashindo. Penelitian ini juga mengamati budaya penggemar di Indonesia, serta melihat bagaimana penggemar melakukan proses adaptasi dan negosiasi pada saat melakukan aktivitas tersebut. Informan dalam penelitian ini adalah para anggota komunitas Arashindo yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan beberapa kriteria, seperti pernah berpartisipasi dalam kegiatan komunitas Arashindo; pernah menonton konser atau menghadiri event Arashi; pernah berkunjung atau tinggal di Jepang. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh hasil: aktivitas konsumsi penggemar Arashi di Indonesia tidak hanya ditandai dengan membeli CD, DVD, goodies konser dan produk iklan yang dibintangi Arashi saja, tetapi juga berupa datang ke konser dan menonton acara televisi; penggemar tidak hanya menjadi konsumer, tetapi juga produser yang menghasilkan sebuah fanwork; penggemar mengalami proses adaptasi dan negosiasi ditunjukkan dengan keinginan belajar bahasa Jepang hingga keinginan mengetahui lebih banyak tentang budaya Jepang. Kata kunci: arashi, budaya penggemar, budaya populer global, komunitas penggemar     Abstract The term of global popular culture is marked by the phenomenon in which the popular culture of a country easily becomes a global trend, for example, Japanese popular culture, such as anime, manga and J-Pop music. The popularity of J-Pop music indirectly introduced many Japanese idol groups such as Arashi. Arashi has quite a lot of fans around the world, as well as in Indonesia. Similar to Japanese fans, Indonesian fans carry out various activities related to the idol. Therefore, this study examines the forms of activities carried out by Arashi fans in Indonesia, such as consumption, production as well as forming and joining a community, namely Arashindo. This study also observes fan culture in Indonesia and sees how fans through the adaptation and negotiation process while carrying out these activities. The informants, in this study, were members of the Arashindo who were selected using a purposive sampling technique based on several criteria, that are having participated in Arashindo community activities; been to an Arashi concert/event; have visited or lived in Japan. The data collection method used is in-depth interviews. From these interviews, the results obtained that: the consumption activities of Arashi fans in Indonesia are not only marked by buying CDs, DVDs, concert goodies and advertising products starring Arashi, but also by coming to concerts and watching television programs; fans are not only consumers, but also producers who produce a fanwork; fans go through the process of adaptation and negotiation shown by the desire to learn Japanese, and also the desire to know more about Japanese culture. Keywords: arashi, fan culture, global popular culture, fan community
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada Tokoh Utama Seita dalam Anime Hotaru no Haka Karya Isao Takahata Siti Sabi'a; Novi Andari
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 15 No. 2 (2024): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v15i2.4668

Abstract

Psikologis manusia memiliki ragam bentuk respons yang berbeda saat mengalami suatu peristiwa. Salah satunya adalah peristiwa traumatis. Peristiwa traumatis yang dialami individu dapat memicu adanya stres sehingga menyebabkan munculnya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).  Anime Hotaru no Haka karya Isao Takahata menceritakan tentang tokoh utama bernama Seita yang menunjukkan gejala PTSD, dikarenakan peristiwa traumatis perang antar negara yang menyebabkan kematian keluarganya. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan tinjauan teori PTSD dalam DSM-5 yang diterbitkan oleh APA. Permasalahan yang diangkat ialah mengenai kriteria diagnostik peristiwa traumatis dan gejala PTSD pada tokoh utama Seita. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan dan dokumentasi teks yang diambil dari dialog dan monolog, serta tangkapan layar sebagai penguat untuk mengungkapkan hasil penelitian yang dipaparkan dalam bentuk kata. Pada kasus PTSD usia lebih dari 6 tahun, DSM-5 mengatakan bahwa terdapat 4 kriteria diagnostik peristiwa traumatis yang menjadi penyebab munculnya gejala PTSD yang terdapat 4 kategori gejala dengan masing-masing mempunyai ciri-ciri sebagai pembuktian munculnya gejala gangguan. Tokoh utama Seita yang berumur 12 tahun dalam anime Hotaru no Haka ditemukan mengalami seluruh kriteria diagnostik peristiwa traumatis dan juga menunjukkan adanya semua gejala PTSD. Hasil penelitian yang ditemukan pada tokoh utama Seita pada kriteria diagnostik peristiwa traumatis ialah mengalami perang, menyaksikan kematian korban perang, mengetahui kematian keluarga akibat perang, dan mengalami paparan berulang terhadap peristiwa traumatis yang menjadi penyebab munculnya gejala PTSD berupa gejala intrusi, penghindaran, perubahan negatif dalam kognisi, serta perubahan gairah dan reaktivitas.
Nilai-Nilai Filosofis dalam Novel “The Alchemis” Karya Paulo Coelho Fransisca Dwi Harjanti; Roely Ardiansyah
Diglossia: Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan Vol. 15 No. 2 (2024): April
Publisher : Unipdu Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/diglossia.v15i2.4802

Abstract

Penelitian ini termasuk dalam bidang ilmu kesusasteraan dan Filsafat. Penelitian ini menganalisis novel yang berjudul the Alchemist karya Paolo Choelho dengan menggunakan teori filsafat. Yang menjadi kajian dalam novel ini adalah nilai-nilai filosofis yang di antaranya adalah nilai eksistensialisme, skeptisisme, dan empirisme. Tujuan dalam penelitian ini antara lain mendeskripsikan nilai-nilai eksistensialisme, skeptisisme, dan empirisme yang terdapat dalam novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengunakan metode pengumpulan data dokumentasi dengan teknik catat bebas libat cakap. Data dalam penelitian ini adalah nilai-nilai folosifis yang di antaranya adalah nilai eksistensialisme, skeptisisme, dan empirisme yang diambil dari novel berjudul the Alchemist karya Paulo Coelho. Hasil penelitian ini dapat diungkapkan sebagai berikut. Pertama, nilai eksistensialisme ditandai dengan dibuatnya beberapa keputusan dan pilihan yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Keputusan yang telah dibuat tokoh utama dalam novel The Alchemist yang dijadikan pilihan dalam hidup diantaranya adalah keputusan untuk meninggalkan seminari, keputusan untuk memberitahukan tanda-tanda, dan keputusan untuk mengikuti nasihat orang lain. Kedua, nilai skeptisisme ditandai dengan sikap keragu-raguan. Keragu-raguan tersebut diantaranya adalah ketika tokoh utama memutuskan keluar dari pilihan hidupnya selama ini, keraguan terhadap arti sebuah mimpi, dan keraguan terhadap nasihat dari orang lain. Ketiga, nilai empirisme ditandai dengan munculnya pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman hidup. Beberapa pengetahuan yang didapatkannya di antaranya adalah pengetahuan tentang sebuah kebiasaan bukan hanya dimiliki manusia melainkan binatang, pengetahuan tentang tanda-tanda yang berasal dari mimpi, pengetahuan tentang dusta terbesar, pengetahuan tentang jiwa dunia, kemampuan membaca tanda-tanda, pengetahuan tentang rahasia kebahagiaan, pengetahuan adanya bahasa universal, pengetahuan tentang ilmu alkemia, ajaran bahwa hidup sudah digariskan/dituliskan oleh Tuhan, ajaran mengenai kebaikan Tuhan, ajaran tentang hal-hal yang diharamkan/dinajiskan, ajaran tentang cinta sejati, dan ajaran tentang adanya suara hati.