cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016): June 2016" : 14 Documents clear
Populasi Serangga pada Tingkat Perkembangan Agroforestri Jati yang Berbeda Ahmad Ja`far Anshorulloh, Ananto Triyogo Ahmad Ja`far Anshorulloh
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.675 KB) | DOI: 10.24002/biota.v1i2.994

Abstract

Kajian tentang dampak modifikasi vegetasi dalam sistem agroforestri semakin meningkat. Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati menjadi pusat perhatian dari sisi ekologi sementara pemanfaatan lahan demi produktivitas dianggap sebagai solusi ketahanan pangan. Arthropoda, khususnya serangga berada di dua isu tersebut (konservasi dan ketahanan pangan). Penelitian ini bertujuan mengetahui populasi serangga pada lahan agroforestri berbasis jati dengan tingkat perkembangan yang berbeda (awal, tengah, lanjut). Pengambilan data dilakukan di Nglanggeran, Gunung Kidul, Yogyakarta. Metode inventarisasi populasi serangga menggunakan metode pitfall dan sticky trap yang ditempatkan secara purposive pada petak ukur 20 x 20 m2. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus dan September 2015. Serangga yang tertangkap bervariasi berdasar tingkat perkembangan agroforestri dan bulan pengamatan. Pengamatan bulan Agustus total 8 ordo (11 famili) dengan jumlah populasi sebanyak 379, 1193, dan 443 individu berturut-turut untuk tingkat agroforestri awal, tengah, dan lanjut. Sementara pada bulan September total 7 ordo (9 famili) dengan jumlah populasi 198, 700, dan 1767 individu berturut-turut untuk umur tingkat agroforestri awal, tengah. Formicidae (Hymenoptera) mendominasi di semua tingkar agroforestri, kemudian Orthoptera, dan Coleoptera. Jumlah serangga herbivora tertinggi dan berpotensi menjadi serangga hama adalah pada tingkat agroforesri awal.
Keanekaragaman dan Dominansi Jenis Semut (Formicidae) di Hutan Musim Taman Nasional Baluran Jawa Timur Siriyah, Siti Latifatus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.642 KB) | DOI: 10.24002/biota.v1i2.995

Abstract

Semut merupakan salah satu anggota kelompok serangga yang memiliki keanekaragaman tinggi. Keanekaragaman semut meliputi keanekaragaman spesies dan keanekaragaman peran ekologis. Kajian mengenai keanekaragaman semut khususnya di wilayah Taman Nasional Baluran Jawa Timur belum banyak dilakukan, padahal kawasan tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati cukup tinggi. Koleksi spesimen semut di Kawasan Taman Nasional Baluran dilakukan di Ekosistem Hutan Musim. Koleksi spesimen menggunakan pit fall trap, umpan gula, umpan ikan, pengayakan serasah, dan koleksi langsung. Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh 4 sub famili, 19 genus dan 40 spesies. Indeks keanekaragaman dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon – Wiener (H’). Hasil analisis indeks keanekaragaman semut di hutan musim Taman Nasional Baluran adalah 2,268. Diacamma sp1, Paratrechina longicornis, Anoplolepis gracilipes dan Monomorium sp3 merupakan spesies yang paling dominan di hutan musim Taman Nasional Baluran.
Hubungan Kekerabatan Fenetik Lycopersicon esculentum Mill. Kultivar Betavila F1, Fortuna F1 dan Tymoti F1 Berdasarkan Tingkat Kesamaan Fenotip Niken Satuti Nur Handayani, Muhammad Thoifur Ibnu Fajar Purnomo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.326 KB) | DOI: 10.24002/biota.v1i2.996

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menentukan hubungan kekerabatan fenetik ketiga kultivar tomat Betavila F1, Fortuna F1 dan Tymoti F1 melalui pendekatan fenotip daun, bunga, dan buah. Sampel penelitian diambil dari greenhouse Situbondo. Bagian tanaman yang diamati terdiri dari 42 karakter, meliputi bentuk daun, bentuk mahkota bunga, warna mahkota bunga, bentuk buah, warna buah muda, transisi dan matang. Data skoring karakter fenotip dianalisis dengan Jaccard coefficient menggunakan software MVSP. Hasil dendogram dibagi menjadi empat klaster dengan indeks similaritas 36%. Hubungan kekerabatan fenetik menunjukkan kultivar Fortuna F1 berkerabat dekat dengan kultivar Tymoti F1 dan kultivar Betavila F1 tidak membentuk hubungan kekerabatan fenetik karena memiliki karakter kualitatif yang berbeda. Keseragaman fenotip ketiga kultivar tomat diharapkan untuk mengembangkan budidaya tomat melalui persilangan menggunakan karakter fenotipe yang unggul.
Struktur Komunitas Karang Jamur (Fungiidae) di Perairan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah Souhoka, Jemmy
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.198 KB) | DOI: 10.24002/biota.v1i2.991

Abstract

Karang jamur (Fungiidae) termasuk salah satu suku karang keras (Scleractinian) yang hidup soliter dan bebas tidak melekat pada substrat dasar perairan. Penelitian tentang jenis karang jamur dan struktur komunitasnya belum banyak terungkap, salah satunya di perairan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Tujuan penelitian ini mendapatkan data komposisi jenis dan struktur komunitas karang jamur di perairan Pulau Haruku. Penelitian struktur komunitas karang jamur telah dilakukan pada bulan April 2014 di perairan Pulau Haruku yang bertempat di 4 lokasi yaitu Desa Hulaliu (Stasiun 1), Desa Aboru (Stasiun 2), Desa Haruku (Stasiun 3) dan Desa Kailolo (Stasiun 4). Metode penelitian yang digunakan yaitu transek sabuk dengan luas transek 140m² (2x70m). Hasil analisis ditemukan 12 jenis karang jamur yang mewakili 6 genus. Karang jamur jenis Fungia concinna, Fungia fungites dan Herpolitha limax sangat dominan ditemukan di perairan Pulau Haruku. Nilai indeks keanekaragaman spesies (H) berkisar dari 0,72 – 0,92 dalam kondisi rendah atau tidak stabil. Nilai keseragaman jenis (E) berkisar dari 0,72 – 0,90 yang berarti komunitas labil sampai stabil. Nilai indeks dominansi jenis (D) berkisar dari 0,15 – 0,28 yang berarti dominansi rendah. Kekayaan jenis (d) berkisar dari 4,34 – 6,38. Kepadatan karang jamur untuk tiap stasiun berkisar dari 0,25 (Stasiun 4) – 0,50 individu/m² (Stasiun 1). Perairan pulau Haruku cukup baik bagi pertumbuhan karang jamur.
Faba Bean: a Promising Crop for Realizing a Healthier Potato Cropping System in the Dieng Highlands Banjarnahor, Dina Rotua Valentina
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.616 KB) | DOI: 10.24002/biota.v1i2.997

Abstract

Dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah menjadi pusat produksi kentang yang ternama di Indonesia karena kondisi iklimnya yang sangat mendukung. Kentang diperkenalkan ke petani setempat sekitar empat dekade yang lalu dan telah menjadi tanaman utama sejak saat itu. Setelah masa produksi yang panjang dan terus menerus, persoalan-persoalan agroekologis yang memicu turunnya hasil panen muncul di lahan. Di dalam tulisan ini akan dibahas potensi kacang babi (Vicia faba L.) sebagai salah satu kekayaan lokal Dieng untuk membangun sistem pertanaman kentang Dieng yang lebih sehat. Kacang babi umumnya dibudidayakan sebagai salah satu produk makanan ringan bagi wisatawan, tetapi pamornya masih kalah dibandingkan kentang. Tanaman ini, ketika bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium dan cendawan mikoriza, memiliki kemampuan untuk mengikat nitrogen dari atmosfer dan meningkatkan ketersediaan fosfor (P) dan kalium (K) di tanah. Tanaman ini tahan dingin sehingga dapat menjadi pilihan budidaya yang tepat selama periode dingin di Dieng: yaitu pada bulan Juli dan Agustus. Selain itu, budidaya kacang babi berpotensi mengurangi pencucian hara tanah karena kebutuhan dan serapan hara P oleh tanaman relatif tinggi. Integrasi tanaman kacang babi ke dalam sistem pertanaman kentang, baik dalam bentuk tumpang sari ataupun rotasi, dapat membawa manfaat bagi tanah dan tanaman lainnya. Tantangan di masa yang akan datang dalam mewujudkan inovasi sistem pertanaman ini adalah pemahaman yang lebih dalam tentang dinamika unsur hara pada kondisi klimatik dan variasi tanah Dieng, kontribusi agroekologis tanaman-tanaman lain yang telah ada di lahan, serta persepsi dan sumber daya petani setempat.
Deteksi Gen Ketahanan Terhadap Gsb-4 (Gummy Stem Blight) pada Tanaman Melon (Cucumis Melo L.) Budi Setiadi Daryono, Ganies Riza Aristya Aisha Rizky Rahmawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.22 KB) | DOI: 10.24002/biota.v1i2.993

Abstract

Perakitan melon tahan penyakit gummy stem blight (Gsb-4) merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyakit gummy stem blight. Untuk itu harus diketahui ada tidaknya gen ketahanan terhadap gummy stem blight. Tujuan penelitian ini adalah mendeteksi adanya gen ketahanan terhadap gummy stem blight pada 18 kultivar melon dan 1 kultivar mentimun. Hasil amplifikasi menggunakan penanda molekular Simple Sequence Repeat (SSR) dengan primer spesifik yaitu CMTA170a menunjukkan pita berukuran 120 bp sedangkan dengan primer CMCT160a+b menunjukkan pita berukuran 212 bp. Hasil yang diuji menunjukkan bahwa semua kultivar melon memiliki gen ketahanan terhadap gummy stem blight baik homozigot maupun heterozigot.
Bio-Priming Benih Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) untuk Meningkatkan Mutu Perkecambahan Livia Trihanni Hasan, Theresa Dwi Kurnia Endang Pudjihartati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.689 KB) | DOI: 10.24002/biota.v1i2.992

Abstract

Sifat benih kedelai dengan kandungan protein dan lemak tinggi menjadi penyebab benih kedelai cepat mengalami deteriorasi atau penurunan mutu benih. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu perkecambahan adalah dengan perlakuan pemeraman atau bio-priming. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh bio-priming dalam meningkatkan mutu perkecambahan. Penelitian ini menggunakan benih kedelai kuning varietas Grobogan yang sudah disimpan selama tiga bulan. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf signifikansi 5%. Perlakuan dalam penelitian ini adalah: 1) Kontrol (K), 2) Priming (M) perlakuan matriks priming dengan memasukkan benih kedelai ke dalam media berupa arang sekam lembab dengan perbandingan benih : arang sekam : air = 3 : 10 : 3 (b/b/v), 3) Bio-priming menggunakan EM-4 (E) dengan cara merendam benih dalam larutan EM-4 0.3% selama satu jam, 4) Bio-priming menggunakan Trichoderma harzianum (T) yaitu priming benih dengan 75 g Trichoderma harzianum selama satu hari, dan 5) Bio-priming menggunakan EM-4 + Trichoderma harzianum (ET). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bio-priming dengan menggunakan EM-4 mampu memperbaiki viabilitas, vigor dan pertumbuhan kecambah kedelai, sedangkan bio-priming menggunakan Trichoderma harzianum tidak menunjukkan perbedaan nyata pada semua variabel pengamatan dibandingkan kontrol. Perlakuan bio-priming menggunakan kombinasi EM-4 dan Trichoderma harzianum cenderung menurunkan mutu perkecambahan kedelai dibandingkan kontrol.
Struktur Komunitas Karang Jamur (Fungiidae) di Perairan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah Jemmy Souhoka
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v1i2.991

Abstract

Karang jamur (Fungiidae) termasuk salah satu suku karang keras (Scleractinian) yang hidup soliter dan bebas tidak melekat pada substrat dasar perairan. Penelitian tentang jenis karang jamur dan struktur komunitasnya belum banyak terungkap, salah satunya di perairan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Tujuan penelitian ini mendapatkan data komposisi jenis dan struktur komunitas karang jamur di perairan Pulau Haruku. Penelitian struktur komunitas karang jamur telah dilakukan pada bulan April 2014 di perairan Pulau Haruku yang bertempat di 4 lokasi yaitu Desa Hulaliu (Stasiun 1), Desa Aboru (Stasiun 2), Desa Haruku (Stasiun 3) dan Desa Kailolo (Stasiun 4). Metode penelitian yang digunakan yaitu transek sabuk dengan luas transek 140m² (2x70m). Hasil analisis ditemukan 12 jenis karang jamur yang mewakili 6 genus. Karang jamur jenis Fungia concinna, Fungia fungites dan Herpolitha limax sangat dominan ditemukan di perairan Pulau Haruku. Nilai indeks keanekaragaman spesies (H) berkisar dari 0,72 – 0,92 dalam kondisi rendah atau tidak stabil. Nilai keseragaman jenis (E) berkisar dari 0,72 – 0,90 yang berarti komunitas labil sampai stabil. Nilai indeks dominansi jenis (D) berkisar dari 0,15 – 0,28 yang berarti dominansi rendah. Kekayaan jenis (d) berkisar dari 4,34 – 6,38. Kepadatan karang jamur untuk tiap stasiun berkisar dari 0,25 (Stasiun 4) – 0,50 individu/m² (Stasiun 1). Perairan pulau Haruku cukup baik bagi pertumbuhan karang jamur.
Bio-Priming Benih Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) untuk Meningkatkan Mutu Perkecambahan Theresa Dwi Kurnia Endang Pudjihartati Livia Trihanni Hasan
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v1i2.992

Abstract

Sifat benih kedelai dengan kandungan protein dan lemak tinggi menjadi penyebab benih kedelai cepat mengalami deteriorasi atau penurunan mutu benih. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu perkecambahan adalah dengan perlakuan pemeraman atau bio-priming. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh bio-priming dalam meningkatkan mutu perkecambahan. Penelitian ini menggunakan benih kedelai kuning varietas Grobogan yang sudah disimpan selama tiga bulan. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf signifikansi 5%. Perlakuan dalam penelitian ini adalah: 1) Kontrol (K), 2) Priming (M) perlakuan matriks priming dengan memasukkan benih kedelai ke dalam media berupa arang sekam lembab dengan perbandingan benih : arang sekam : air = 3 : 10 : 3 (b/b/v), 3) Bio-priming menggunakan EM-4 (E) dengan cara merendam benih dalam larutan EM-4 0.3% selama satu jam, 4) Bio-priming menggunakan Trichoderma harzianum (T) yaitu priming benih dengan 75 g Trichoderma harzianum selama satu hari, dan 5) Bio-priming menggunakan EM-4 + Trichoderma harzianum (ET). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bio-priming dengan menggunakan EM-4 mampu memperbaiki viabilitas, vigor dan pertumbuhan kecambah kedelai, sedangkan bio-priming menggunakan Trichoderma harzianum tidak menunjukkan perbedaan nyata pada semua variabel pengamatan dibandingkan kontrol. Perlakuan bio-priming menggunakan kombinasi EM-4 dan Trichoderma harzianum cenderung menurunkan mutu perkecambahan kedelai dibandingkan kontrol.
Deteksi Gen Ketahanan Terhadap Gsb-4 (Gummy Stem Blight) pada Tanaman Melon (Cucumis Melo L.) Ganies Riza Aristya Aisha Rizky Rahmawati Budi Setiadi Daryono
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 1, No 2 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v1i2.993

Abstract

Perakitan melon tahan penyakit gummy stem blight (Gsb-4) merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyakit gummy stem blight. Untuk itu harus diketahui ada tidaknya gen ketahanan terhadap gummy stem blight. Tujuan penelitian ini adalah mendeteksi adanya gen ketahanan terhadap gummy stem blight pada 18 kultivar melon dan 1 kultivar mentimun. Hasil amplifikasi menggunakan penanda molekular Simple Sequence Repeat (SSR) dengan primer spesifik yaitu CMTA170a menunjukkan pita berukuran 120 bp sedangkan dengan primer CMCT160a+b menunjukkan pita berukuran 212 bp. Hasil yang diuji menunjukkan bahwa semua kultivar melon memiliki gen ketahanan terhadap gummy stem blight baik homozigot maupun heterozigot.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue