cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Sistim Perburuan dan Etnozoologi Biawak (Famili Varanidae) oleh Suku Yaur pada Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih A. Iyai, Deny; Murwanto, A. Gatot; Killian , A. M.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.274 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.110

Abstract

Salah satu suku yang dikenal dan merupakan etnis pesisir adalah suku Yaur yang hidup di dalam dan sekitar wilayah Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih. Beberapa satwaliar sering dimanfaatkan oleh etnis Yaur, salah satunya adalah biawak (Varanus spp.). Bagaimana berburu dan pemanfaatannya merupakan tujuan penelitian ini dilakukan. Sebanyak 15 responden dari 50 kepala keluarga telah berpartisipasi. Interview dan observasi dilakukan untuk justifikasi antara informasi dan obyek meliputi jenis biawak dan aktifitas perburuan. Hasil penelitian dinyatakan bahwa perburuan masih dilakukan secara tradisional. Sistim perburuan individu dan kelompok merupakan pola yang masih berlangsung. Jerat, parang, panah dan tombak serta tali dodeso digunakan dalam berburu. Terdapat 3 jenis jerat yaitu jerat babi, jeat tikus dan jerat melingkar. Sementara kulit adalah bagian tubuh yang sering digunakan. Hati, gigi dan lemak biawak juga digunakan. Tujuan pemanfaatan untuk kesehatan dan minyak pijat. Tifa dan opset adalah dua produk dari kulit. Daging diproses dengan pengasapan. Secara ekonomi kulit memiliki pasar yang prospektif.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Spirulina platensis terhadap Respon Imun Humoral Mencit setelah Uji Tantang Dengan Takizoit Ida Simanjuntak, Sorta Basar; Moeljopawiro , Sukarti; Artama , Wayan Tunas; Wahyuono , Subagus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.878 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.61

Abstract

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Toxoplasma gondii. Penyakit ini sangat berbahaya pada hewan maupun manusia. Toksoplasmosis sampai sekarang masih sulit ditanggulangi. Untuk itu, dicari akternatif dengan cara pemberian imunostimulator, seperti Spirulina platensis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak Spirulina platensis yang paling potensial meningkatkan respon imun humoral dan mengetahui dosis Spirulina platensis yang efektif dalam meningkatkan respons imun humoral. Rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial. Faktor pertama adalah jenis ekstrak (ekstrak etil asetat, ekstrak air dan Spirulina platensis murni). Faktor kedua adalah dosis ekstrak (0, 5, 10, 15 mg/ekor mencit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat dengan dosis 5 mg/ekor mencit adalah yang terbaik meningkatkan respon imun humoral. Uji lanjut dengan Latin Square Design (LSD) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara jenis ekstrak dan dosis ekstrak.
Tingkat Kematangan Gonad Ikan Tembang (Clupea platygaster) di Perairan Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur Sulistiono, Sulistiono; Ichsan Ismail, Muhammad; Ernawati , Yunizar
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.894 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.56

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kematangan gonad ikan tembang (Clupea platygaster). Pengambilan ikan contoh dilakukan dari bulan Juli sampai Desember 2005. Ikan contoh diperoleh dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan gill net dan jager di perairan Ujung Pangkah. Analisis dilakukan terhadap kematangan gonad, indeks kematangan gonad, fekunditas dan diameter telur. Ikan tembang (Clupea platygaster) yang diperoleh selama penelitian berjumlah 254 ekor terdiri dari 124 ekor ikan jantan dan 130 ekor ikan betina dengan kisaran panjang total tubuh 115–240 mm. Nisbah kelamin selama penelitian diperoleh 1:1 (uji “chi-square” pada α=0,05). Ikan tembang jantan pertama kali matang gonad pada selang panjang 175–189 mm dan ikan betina pada panjang 145–159 mm. Berdasarkan nilai tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad, ikan tembang diduga memijah pada bulan Juli sampai Oktober dengan puncak pemijahan pada bulan September. Fekunditas ikan tembang berkisar 25630–465636 butir telur. Adapun diameter telurnya berkisar 0,23–0,74 mm. Berdasarkan distribusi telur, ikan tembang diduga memiliki tipe pemijahan total spawner.
Isolasi dan Seleksi Bakteri dari Sedimen Mangrove untuk Pembentukan Konsorsium Bakteri Perombak Dibenzofuran W. Ratih, Yanisworo; Radjagukguk , Bostang; Martani , Erni; Prijambada , Irfan D.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.747 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.115

Abstract

Dibenzofuran merupakan salah satu senyawa hidrokarbon aromatis polisiklik (HAP) yang mengandung oksigen. Paparannya di alam harus segera ditanggulangi karena dibenzofuran berperan sebagai prekursor bagi senyawa berkhlor turunannya yang bersifat lebih toksik. Dibenzofuran dapat dijadikan senyawa model karena beberapa bakteri perombak dibenzofuran juga mampu merombak senyawa mirip lainnya seperti dibenzodioksin, fluorena, fluorantena, dibenzofuran terkhlorinasi, fenantrena dan antrasena. Penelitian ini dilakukan untuk membentuk konsorsium bentukan yang mempunyai kemampuan tinggi dalam merombak dibenzofuran. Isolat bakteri diperoleh dari sedimen mangrove asal Balongan, Indramayu, Jawa Barat menggunakan medium mineral cair yang diperkaya dengan dibenzofuran sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Total 12 isolat bakteri, GMYk-1, GMYk-2, GMYk-3, GMYk-4, GMYk-5, GMYs-1, GMYs-2, GMYs-3, GMYs-4, GMYs-5, GMYs-6 dan GMYs-7 berhasil diisolasi dari sedimen. Berdasarkan pengamatan terhadap keragaman isolat-isolat yang diperoleh serta interaksi di antara isolat dalam merombak dibenzofuran, empat isolat berhasil terseleksi untuk menyusun konsorsium bentukan. Isolat tersebut adalah GMYs-1, GMYs-6, GMYs-7 dan GMYk-1. Berdasarkan kemampuan merombak dibenzofuran dari kombinasi isolat-isolat yang disusun, biakan campuran GMYs-1- GMYs-6-GMYk-1 dipilih sebagai konsorsium bentukan. Konsorsium bentukan mempunyai kemampuan paling tinggi dalam merombak dibenzofuran.
Klasifikasi Numerik-fenetik Salmonella typhi Asal Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Hasil Karakterisasi Fenotipik Darmawati , Sri; Sembiring , Langkah; Asmara , Widya; Artama , Wayan T.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.271 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.67

Abstract

Demam tifoid adalah penyakit endemis yang disebabkan oleh strain bakteri S. typhi, bakteri tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan perbedaan mikromorfologi, morfologi koloni, penggunaan sumber karbon, produksi enzim, kemampuan mendegradasi makromolekul. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan melakukan klasifikasi numerik-fenetik 4 starin S. typhi asal Jawa Tengah dan 2 strain asal DIY dengan 2 strain acuan S. typhi NCTC 786 dan BLKS berdasarkan karakterisasi fenotipik dengan analisis hubungan similaritas yang didasarkan atas analisis Simple Mattching Coefficient (SSM) serta algoritme UPGMA (unweighted pair group methode with averages) yang kemudian dipresentasikan dalam bentuk dendogram. Hasilnya dapat dikelompokkan menjadi empat klaster, klaster pertama beranggotakan 3 strain berasal dari Jawa Tengah dan 1 strain acuan BLK Semarang (similaritas 100%). Klaster kedua beranggotakan satu strain acuan S. typhi NCTC 786 (similaritas 98,6%) dengan klaster pertama. Klaster ketiga beranggotakan 1 strain MDA dari Jawa Tengah (similaritas 96,8%) dengan klaster pertama dan kedua. Klaster keempat beranggotakan 2 strain S. typhi asal DIY yang memiliki (similaritas 96,4%) dengan ketiga klaster lainnya.
Fraksi Petroleum Eter Tanaman Ceplukan (Physalis angulata L.) Menghambat Proliferasi dan Memacu Apoptosis pada Sel HeLa Maryati, Maryati; Sutrisna , EM
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.599 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.62

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kanker masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, demikian juga di dunia. Oleh karena itu, penelitian untuk mengembangkan obat baru sangat penting untuk dilakukan. Ceplukan (Physallis angulata L.) adalah salah satu tanaman yang potensial untuk dikembangkan sebagai cancer chemoprevention agent. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek sitotoksik tanaman ceplukan serta efek pada proliferasi dan apoptosis pada sel HeLa. Tanaman ceplukan diekstraksi dengan etanol 96%, selanjutnya ekstrak difraksinasi menggunakan pelarut yang berbeda kepolarannya yaitu petroleum eter, kloroform dan etil asetat. Penentuan efek sitotoksik dan pengaruh terhadap proliferasi sel HeLa dilakukan dengan metode MTT. Pengaruh sampel terhadap apoptosis pada sel HeLa dilakukan dengan doublestanning menggunakan ethidium bromide-acridyne orange. Protein markers pada apoptosis diamati dengan immunocytochemistry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi petroleum eter mempunyai efek sitotoksik pada sel HeLa dengan nilai IC50 sebesar 120,198 µµg/ml. Fraksi petroleum eter menghambat proliferasi sel HeLa dan memacu terjadinya apoptosis dengan meningkatkan ekspresi protein p53 dan Bax.
Aktivitas Lipase Rhizopus microsporus var. rhizopodiformis UICC 520 dan Rhizopus microsporus var. oligosporus UICC 550 pada Substrat Minyak Nabati Mangunwardoyo , Wibowo; Lusini , Yuyun ; Gandjar , Indrawati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.842 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.57

Abstract

Dua biakan micro-Rhizopus ditumbuhkan pada substrat minyak nabati untuk meneliti kemampuan memproduksi lipase ekstraselular. Medium basal ditambahkan minyak olive, kelapa, jagung, bunga matahari dan minyak kedelai. Aktivitas lipase diuji dengan metode titrasi. Aktivitas lipase tertinggi pada substrat minyak olive pada R. microsporus var. oligosporus UICC 550 (16,23 U/g Biomassa) dan minyak kelapa pada R. microsporus var. rhizopodiformis UICC 520 (30,5 U/g Biomassa) setelah 48 jam inkubasi. Nilai pH mengalami kenaikan selama berlangsungnya proses fermentasi.
Variasi Intraspesifik dalam Kecepatan Tumbuh di antara Tiga Populasi Gastropoda Intertidal, Nerita japonica (Dunker) Paulus Paruntu , Carolus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.296 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.114

Abstract

Untuk mengetahui kecepatan tumbuh Nerita japonica, maka diadakan penelitian pada populasi- populasi yang hidup pada tiga macam habitat yang berbeda di Pulau Shimoshima Amakusa, Kyushu bagian barat, Jepang. Parameter yang diamati adalah kecepatan tumbuh rata-rata, pola kecepatan tumbuh rata-rata musiman, dan hubungan antara kecepatan tumbuh dan ukuran tubuh diantara tiga populasi. Pengamatan dilakukan dalam waktu dua bulan selama satu tahun sehingga dapat diketahui variasi menurut musim. Ketiga populasi memperlihatkan kecepatan tumbuh yang berbeda. Populasi pantai rocky tumbuh paling pesat dan populasi pantai stony bagian atas paling lambat. Pola kecepatan tumbuh ketiga populasi, bervariasi menurut musim. Populasi pantai rocky memiliki kecepatan tumbuh maksimal pada periode pertumbuhan MeiJuli, sedangkan dua populasi pantai stony pada JuliSeptember. Pada bulan November−Maret tahun berikutnya ketiga populasi tumbuh sangat lambat. Kecepatan tumbuh ketiga populasi berkurang secara signifikan seiring bertambahnya ukuran tubuh, kecuali pada November−Maret tahun berikutnya, satu dari tiga populasi tidak memperlihatkan hubungan antara kecepatan tumbuh dan ukuran tubuh. Dapat disimpulkan terdapat variasi intraspesifik pada N. japonica dalam hal kecepatan tumbuh menurut musim dan habitat walaupun dengan jarak geografi yang pendek.
Klasifikasi Habitat Mangrove Berdasarkan Kemiringan, Ketebalan Lumpur dan Salinitas di Kawasan Rehabilitasi Pantai Utara Jawa Tengah Poedjirahajoe, Erny; Marsono, Djoko; Sastrosumarto, Setyono; Dradjat , Moch.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.656 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.59

Abstract

Penyebab gagalnya rehabilitasi mangrove di Pantai Utara Jawa Tengah adalah faktor habitat. Oleh karena itu perlu kajian yang lebih mendalam terhadap habitat mangrove, antara lain upaya menyederhanakan komponen habitat yang rumit dengan cara membuat klasifikasi. Klasifikasi habitat mendasarkan pada delineasi tiga peta, yaitu peta kemiringan pantai, ketebalan Lumpur dan salinitas. Peta-peta tersebut difokuskan pada tiga tahun tanam (1997, 1999 dan 2000). Delineasi peta menghasilkan 32 unit ekologis. Tiap-tiap unit ekologis diukur kerapatan dan tinggi vegetasi, kepadatan plankton, hara pada lumpur dan oksigen terlarut. Klasifikasi menggunakan analisis tandan dengan koefisien jarak Mean Euclidean Distance (MED). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi 32 unit ekologis menghasilkan 4 kelompok habitat berdasarkan komponen habitat yang dikaji. Pertama, pada jarak tandan 15 terdapat 2 kelompok besar, yaitu A (ada 13 unit ekologis) dan B (ada 19 unit ekologis). Kedua, pada jarak 10 kelompok A terbagi menjadi terdapat 2 kelompok, yaitu C (ada 15 unit ekologis) dan D (ada 4 unit ekologis). Ketiga, pada jarak 5, kelompok B terbagi menjadi 2, yaitu E (ada 6 unit ekologis) dan F (ada 7 unit ekologis). Keempat, pada jarak 4, kelompok C terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu G (ada 7 unit ekologis) dan H (ada 8 unit ekologis). Kelompok yang paling baik sebagai habitat mangrove adalah kelompok D yang meliputi daerah Pantai Utara Brebes dan Kendal. Secara umum faktor pembeda terbentuknya klas-klas tersebut adalah plankton. Pola pengelompokan ini dapat dijadikan acuan dalam menentukan lokasi yang baik untuk p enanaman khususnya di Pantai Utara Jawa Tengah.
Profil Protein Klebsiella sp. dalam Kondisi Cekaman Osmotik dan Keasaman Ikhwan , Ali; Yuwono , Triwibowo; Widada , Jaka
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.969 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.94

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui profil protein yang dibuat oleh Klebsiella sp. yang tumbuh dalam kondisi cekaman osmotik dan keasaman. Cekaman osmotik dilakukan menggunakan NaCl, sedangkan cekaman keasaman menggunakan aluminium sulfat. Klebsiella sp. ditumbuhkan dalam medium minimal yang ditambah dengan NaCl, atau aluminium sulfat, untuk menimbulkan efek cekaman tunggal, atau menggunakan kedua senyawa tersebut untuk menghasilkan efek cekaman ganda. Protein total yang diekstrak dari sel kemudian dielektroforesis pada SDS-PAGE 12%. Hasil analisis menunjukkan beberapa protein intraselular, protein membran, atau protein ekstraselular yang dibuat dalam kondisi cekaman spesifik. Dalam kondisi cekaman osmotik, dibuat protein intraselular berukuran 42,7 kDa, dan protein membran berukuran 53,3 kDa. Pada cekaman asam dihasilkan protein intraselular berukuran 54,7 kDa, 25,3 kDa, 14,2 kDa, dan satu protein membran berukuran 43,9 kDa, serta protein ekstraselular berukuran 17–29 kDa. Dalam kondisi cekaman ganda, terdeteksi satu protein intraselular spesifik berukuran 26,7 kDa dan satu protein membran berukuran 61,1 kDa. Dalam cekaman osmotik, diketahui terdapat korelasi positif, sedangkan dalam cekaman ganda terdapat korelasi negatif terhadap macam protein. Dalam cekaman keasaman, tidak diperoleh pola korelasi yang spesifik.

Page 11 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue