cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Kelimpahan dan Pola Penyebaran Bulu Babi (Echinoidea) di Terumbu Karang Pantai Pasir Putih, Situbondo, Indonesia Somma, Andi; Zahida, Felicia; Yuda, Pramana
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 2, No 3 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.689 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i2.1887

Abstract

Penelitian tentang kelimpahan ikan, moluska dan bentos pada daerah terumbu karang sudah banyak dilakukan, penelitian tentang kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi di Pantai Pasir Putih, Situbondo sebagai daerah wisata belum dilakukan. Ramainya wisatawan yang datang mampu mengganggu daya dukung lingkungan terhadap organisme laut seperti bulu babi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi di ekosistem terumbu karang perairan Pantai Pasir Putih, Situbondo. Penelitian ini dilakukan pada tiga stasiun yang mewakili daerah Pantai Pasir Putih, Situbondo yaitu: Watu Lawang sebagai stasiun 1, Karang Mayit – Teluk Pelita sebagai stasiun 2 dan Watu Pon – Pon sebagai stasiun 3. Pengambilan data menggunakan metode transek kuadrat. Setiap stasiun memiliki lima transek dengan panjang dan jarak antar transek 100 m. Bidang observasi sepanjang transek menggunakan petak ukur dengan luas 1 m2. Selanjutnya kelimpahan dan pola penyebaran bulu babi dihitung. Bulu babi yang diperoleh dari penelitian ini adalah Diadema setosum, Echinothrix calamaris duri putih dan Echinothrix calamaris duri coklat belang. Bulu babi D. setosum merupakan spesies yang dominan di ketiga stasiun dengan kelimpahan relatif, berturut turut adalah 60,976%, 69,136% dan 45,333%. Pola penyebaran bulu babi D. setosum seragam, sedangkan E. calamaris duri putih dan E. calamaris duri coklat belang mengelompok.
Toksisitas Akut Ekstrak Albertisia papuana Becc. pada Daphnia magna dan Danio rerio Marihot Pasaribu,Sjarif Ismail, Hary Nugroho,
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 3 (2018): October 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.09 KB) | DOI: 10.24002/biota.v3i3.1898

Abstract

Albertisia papuana Becc. (A. papuana) digunakan oleh etnis Dayak di Kaltim sebagai obat antihipertensi, antiinfeksi, anti demam, dan bumbu masak pengganti vetsin. Belum adanya data mengenai toksisitas akut pada Albertisia papuana Becc. (A. papuana) menyebabkan perlunya uji toksisitas akut. Tujuan dari peneltian ini adalah untuk mengetahui toksisitas akut pada ekstrak daun A. papuana dengan uji imobilisasi Daphnia magna (D. magna) dan uji toksisitas akut Danio rerio (D. rerio). Metode: Daun A. papuana diambil dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol. Uji imobilisasi D. magna dan uji toksisitas akut D. rerio dilakukan dengan  metode OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Hasil yang didapatkan adalah nilai Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak pada D. magna adalah (170 + 28) mg/L untuk 24 jam dan (45 + 9) mg/L untuk 48 jam.Nilai LC50 ekstrak pada D. rerio adalah (885 + 55) mg/L untuk 24 jam, (670 + 94) mg/L untuk 48 jam, (504 + 102) mg/L untuk 72 jam, dan (393+89) mg/L untuk 96 jam. Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah ekstrak etanol A. papuana sedikit toksik pada D. magna sedangkan pada D. rerio dewasa bersifat tidak toksik
Indeks volume 2 2, Indeks volume
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 2, No 3 (2017): October 2017
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i2.1919

Abstract

Indeks volume 2
Indeks volume 3 3, Indeks volume
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 3, No 3 (2018): October 2018
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v3i3.1920

Abstract

Indeks volume 3
Inventarisasi Ikan Hias Pantai Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta: Sebuah Kajian Awal Sidharta, Boy Rahardjo; Probosunu, Namastra ; Suwarman, Suwarman
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.477 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.68

Abstract

Kajian “Inventarisasi Ikan Hias di Pantai Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)” ini diharapkan dapat memberikan data yang lebih akurat dan tepat tentang keberadaan ikan hias di kawasan ini. Kawasan kajian berdasar survei kawasan/lingkungan menetapkan delapan (8) pantai di Kabupaten Gunungkidul sebagai lokasi kajian. Dari delapan pantai tersebut didapat sebanyak 67 jenis ikan hias. Temuan ini seyogianya segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang dalam bentuk penetapan rencana strategis (renstra) yang terkait dengan sumber daya ikan hias, meliputi antara lain: rencana konservasi, pemintakatan (zonasi), pengelolaan, pengembangan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan.
Vegetasi Mangrove sebagai Bahan Makanan pada Empat Suku di Papua Mangrove Vegetation as Foods amongst Ethnics in Papua Mahmud , Mahmud
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.085 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.63

Abstract

Vegetasi mangrove merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Penelitian dilakukan dengan observasi lapangan dan telah pustaka. Tujuan penelitian untuk mengetahui vegetasi mangrove yang dipergunakan sebagai bahan makanan pada empat suku yang ada di Papua Hasil penelitian menunjukkan terdapat 7 jenis dari 3 suku vegetasi mangrove yang dimanfaatkan sebagai makanan. Ke-7 jenis tersebut :Bruguiera gymnorrhiza Lam, Ceriops tagal B.Rob, Nypa fruticans Wurmb, Bruquiera parviflora, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba J.Sm, dan Sonneratia avota dari 3 suku Rhizophoraceae, Sonneratiaceae, Arecaceae. Kegunaan vegetasi mangrove sebagai bahan makanan di antaranya: sebagai makanan pokok, rujakan, pengganti pinang, pengganti kelapa, penambah rasa, dan minuman.
Struktur Lentisel pada Pneumatofor Avicennia marina: sebagai Alat Pengantar Oksigen Pada Akar Mangrove Purnobasuki , Hery
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.561 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.113

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap lentisel pneumatofor Avicennia marina menggunakan mikroskop cahaya dan mikroskop pemindai electron untuk mengetahui keterkaitan perkembangan dan struktur dari fungsi lentisel sebagai alat pengantar oksigen pada akar mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur lentisel bervariasi dalam hal ukuran dan morfologi, mulai dari bentuk seperti kawah dengan jaringan lunak di bagian tengahnya. Lentisel tersusun dari jaringan pelengkap yang tersusun atas sel-sel berdinding tipis dan membentuk ruang-ruang interseluler. Sel-sel tersebut mengandung lignin yang terdeteksi positif dengan pewarnaan sfranin. Dalam pertumbuhannya, sel-sel pelengkap merusak lapisan peridermis dan selanjutnya lentisel berfungsi sebagai bagian dari sistem saluran penghantaran udara.
Aplikasi Abu Sekam pada Padi Gogo (Oryza sativa L.) terhadap Kandungan Silikat dan Prolin Daun serta Amilosa dan Protein Biji Yugi Rahayu, Ahadiyat; Harjoso, Tri
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.29 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.58

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi abu sekam terhadap kandungan prolin dan silikat daun serta kualitas hasil yaitu protein dan amilosa biji padi gogo dan hubungan korelasi antar keempat komponen tersebut pada kondisi pertanaman 80 persen kapasitas lapang pada skala pot. Penelitian dilakukan di polibag dalam screen house Fakultas Pertanian Unsoed dengan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan faktor varietas (Situ patenggang, Limboto, Towuti, Batutegi dan Aek sibundong) dan faktor abu sekam (0, 2, 4, 6 t/ha), diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian abu sekam dosis 2−6 t/ha mampu meningkatkan kandungan silikat daun antara 18,49−29,43% dan menurunkan kandungan amilosa biji pada lima varietas sekitar 4,19−6,92%. Pemberian abu sekam dosis 2−6 t/ha mampu meningkatkan kandungan prolin daun antara 27,56−70,63% dan protein biji antara 2,35−16,71%. Antarvarietas menunjukan bahwa kandungan prolin tertinggi dihasilkan oleh varietas Batu tegi 18,58 persen dan protein biji pada varietas Situ patenggang 9,55%. Terdapat korelasi antar karakter fisiologis yaitu antara silikat-prolin (0,62) dan kandungan protein-amilosa biji (-0,78).
Ukuran Diameter dan Takaran Vermikompos Menentukan Produksi Inokulan Fungi Mikoriza Arbuskula dan Biomassa Legum Penutup Tanah Nusantara, Abimanyu D.; Kusmana , Cecep; Mansur , Irdika; K. Darusman, Latifah; Soedarmadi, Soedarmadi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.9 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.53

Abstract

Vermikompos merupakan pupuk organik yang diproduksi dengan bantuan sistem pencernaan dan mikrob dalam usus cacing tanah. Vermikompos diketahui berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman dan perkembangan simbiosis mikoriza. Penelitian ini bertujuan mencari ukuran diameter dan bobot vermikompos yang optimal untuk menghasilkan biomasa tanaman kudzu (P. phaseoloides Roxb) dan inokulum fungi mikoriza arbuskula (FMA) G. etunicatum NPI-126. Percobaan rumah kaca dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok dengan kombinasi ukuran diameter dan bobot vermikompos sebagai perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa vermikompos berpotensi positif sebagai pengganti pupuk buatan untuk meningkatkan produksi biomassa tanaman kudzu dan inokulum FMA G. etunicatum NPI-126. Vermikompos dengan ukuran diameter < 250 µm bobot 150–172 mg menghasilkan bobot kering akar dan kolonisasi FMA di akar tanaman kudzu serta jumlah spora G. etunicatum tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Kolonisasi FMA di akar tanaman berkorelasi positif dengan jumlah spora G. etunicatum.
Potensi Bekasam Bandeng (Chanos chanos) sebagai Sumber Angiotensin I Converting Enzyme Inhibitor Wikandari, Prima Retno; Suparmo , Suparmo; Marsono , Y.; Rahayu , Endang S.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 1 (2011): February 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.935 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i1.69

Abstract

Bekasam adalah produk fermentasi ikan. Bekasam diduga mempunyai aktivitas Angiotensin I Converting Enzyme (ACE) inhibitor, yang disebabkan oleh terbentuknya peptida ACE inhibitor hasil aktivitas proteolitik enzim endogenous ikan dan bakteri asam laktat. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan populasi bakteri asam laktat, pH, total asam, perubahan protein terlarut dan besarnya aktivitas ACE inhibitor selama proses fermentasi bekasam. Jumlah populasi bakteri laktat meningkat dari 5,16 menjadi 8,15 log CFU/g, nilai pH menurun dari 6,5 menjadi 4,41 disertai dengan peningkatan total asam. Bekasam bandeng menunjukkan aktivitas antihipertensi sebesar 51,77% yang terbentuk pada hari ke 6, dan tidak menunjukkan aktivitas penghambatan pada proses fermentasi selanjutnya. Besarnya aktivitas ACE inhibitor berkorelasi dengan terjadinya kenaikan protein terlarut selama proses fermentasi bekasam.

Page 9 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue