cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,183 Documents
Keanekaragaman Jenis Herpetofauna di Kawasan Ekowisata Goa Kiskendo, Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Febri Qurniawan, Tony; Eprilurahman , Rury
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 2 (2012): June 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.652 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i2.132

Abstract

Perubahan ekosistem dan kondisi lingkungan sangat memengaruhi kehidupan herpetofauna (amfibi dan reptil). Salah satu wilayah yang diduga masih cukup layak untuk menunjang kehidupan herpetofauna adalah Kawasan Ekowisata Goa Kiskendo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian tentang keanekaragaman jenis herpetofauna di daerah tersebut perlu dilakukan untuk mendapatkan informasi jumlah jenis dan sebarannya sebagai data awal keanekaragaman fauna. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan (November 2007–April 2008) dengan metode pengamatan langsung baik siang maupun malam. Berdasarkan penelitian diperoleh 42 jenis herpetofauna yang terdiri atas 29 jenis reptil dan 13 jenis amfibi. Reptil yang diperoleh terdiri atas kadal (empat suku) dan ular (lima suku), sedangkan untuk amfibi terdiri dari enam suku. Dua jenis amfibi (Limnonectes kuhlii dan Michrohyla achatina) diketahui merupakan jenis endemik Pulau Jawa. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kondisi ekosistem di kawasan wisata Goa Kiskendo masih cukup bagus sebagai habitat herpetofauna.
Diversitas Ikan pada Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat Hernowo, Rusman; Djumanto, Djumanto; Probosunu, Namastra
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.05 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i1.259

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengkaji keragaman ikan-ikan karang dan mengetahui penutupan terumbu karang di perairan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat. Penelitian dilaksanakan dari akhir bulan April sampai awal bulan Mei 2012 di perairan Pulau Menjangan. Jumlah stasiun pengamatan ditetapkan sebanyak 8 lokasi berdasarkan perbedaan habitat. Pengukuran kondisi lingkungan dan pengambilan sampel dilakukan dengan penyelaman pada kedalaman 3 dan 10 m. Jumlah dan jenis ikan yang berada pada jangkauan 2,5 m dari transek sepanjang 50 m disensus dengan metode Underwater Visual Census. Jenis ikan karang diidentifikasi secara langsung insitu. Jenis dan luas penutupan karang dicatat dengan metode Line Intercept Transect. Pencatatan jenis terumbu karang yang dilewati transek didasarkan pada bentuk pertumbuhan (lifeform), sedangkan luas penutupan terumbu karang menggunakan Lifeform Report. Data yang diperoleh dianalisis secarakuantitatif berdasarkan indeks biologis. Hasil dari penelitian diperoleh nilai indeks keanekaragaman ikan (H’) berkisar antara 0,8499–2,1360, keseragaman (E) antara 0,36–0,73 dan indeks dominansi (C) berkisar antara 0,163–0,647. Cacah individu ikan sebanyak 5753 ekor dari 62 genus yang berasal dari 32 suku, sedangkan kemelimpahan ikan (D) berkisar antara 0,756–2,680 ekor/m2. Jumlah individu dan suku ikan mayor dominan pada semua lokasi. Tutupan terumbu karang berada pada kisaran 0,66–67,34% yang dikategorikan pada kondisi sedang hingga baik.Kata kunci: keragaman, ikan, terumbu karang, Pulau Menjangan, Bali
Kultivasi Scenedesmus sp. Pada Medium Air Limbah Kawaroe, Mujizat
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.846 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.99

Abstract

Proses fotosintesis pada mikroalga membutuhkan CO2 dan cahaya matahari serta nutrien untuk pertumbuhannya. Kultivasi Scenedesmus sp. pada medium air limbah bertujuan guna mencukupi kebutuhan mikroalga akan nutrien dan mengurangi masukan dari bahan kimia yang terkandung dalam air limbah tersebut ke lingkungan. Kultivasi Scenedesmus sp. dilakukan selama tujuh hari pada medium air limbah industri tanpa penambahan nutrien. Hasil kepadatan tertinggi pada akhir kultivasi diperoleh pada medium air effluent senilai 8,033,333 sel/ml dengan berat kering 4,60 gr. Kultivasi mikroalga tersebut juga dapat menurunkan nilai dari Total Padatan Tersuspensi dan Terlarut serta penurunan kadar dari BOD, COD, Nitrit, Sulfit, Sulfat, besi, Krom, Tembaga, dan Seng. Kultivasi Scenedesmus sp. dapat dilakukan pada medium air limbah tanpa perlu penambahan nutrien.
Komposisi Jenis dan Kepadatan Sponge (Porifera: Demospongiae) di Kepulauan Spermonde Kota Makassar Haris, Abdul; Werorilangi, Shinta; Gosalam, Sulaiman; Mas’ud, Andry
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.054 KB) | DOI: 10.24002/biota.v19i1.453

Abstract

AbstractSponge is one of the components on the coastal and marine ecosystems, especially coral reefs and seagrass beds. Climate change and environmental conditions can affect the life of the sponge. The study is conducted to determine the distribution of the composition and density of sponge using belt transects (transect quadrant) with a size of 5x5 m, then count the number of each type of sponge contained in the transect. Study site divided into three (3) zones indicating different conditions of eutrophication. A total of 49 species were identified from 16 families of 8 orders. Composition and density of the sponge in inner zone as many as 11 families with a density of 0.96 ind/m2, and lower compared to the composition and density in the middle zone and outer zone. This is related to the difference in environmental conditions of the three zones based on eutrophication conditions.Keywords: Sponge, species composition, density, spermondeAbstrakSponge merupakan salah satu penyusun pada ekosistem pesisir dan laut, terutama pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Perubahan iklim dan kondisi lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan dari sponge. Maka dilakukan penelitian untuk mengetahui sebaran komposisi dan kepadatan sponge menggunakan metode transek belt (transek kuadran) dengan ukuran 5x5 m, kemudian menghitung jumlah dari setiap jenis sponge yang terdapat dalam transek. Lokasi penelitian terbagi atas 3 (tiga) zona eutrofikasi yang menunjukkan kondisi eutrofikasi yang berbeda. Sebanyak 49 spesies yang teridentifikasi berasal dari 16 famili 8 ordo. Komposisi dan Kepadatan sponge pada zona dalam sebanyak 11 famili dengan kepadatan 0,96 ind/m2,, lebih rendah dibandingkan dengan komposisi dan kepadatan pada zona tengah dan zona luar. Hal tersebut terkait dengan adanya perbedaan kondisi lingkungan dari ketiga zona yang terbagi berdasarkan kondisi eutrofikasi tersebut.Kata kunci: Sponge, komposisi jenis, kepadatan, spermonde
Pemetaan Distribusi Biomassa Hutan dan Kaitannya dengan Suhu dan Intensitas Cahaya Melalui Pendekatan Sistem Informasi Geografi Mardiatmoko , Gun
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.136 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.127

Abstract

Informasi mengenai distribusi vegetasi dan kandungan biomassa dalam penyerapan karbon sangat penting dalam mendukung proyek Clean Development Mechanism (CDM), Reducing Emissions from Deforestation and forest Degradation (REDD) melalui perdagangan karbon dan tujuan lainnya. Studi mengenai distribusi biomassa hutan dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) telah dilaksanakan pada areal hutan Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura Ambon. Tujuan penelitian adalah mengetahui distribusi vegetasi, biomassa hutan, suhu udara, dan intensitas cahaya matahari serta menyusun pangkalan data vegetasi hutan berikut kandungan biomassanya serta suhu udara dan intensitas cahaya matahari melalui pendekatan SIG. Tesedianya pangkalan data dimaksud akan bermanfaat dalam mendukung proyek CDM atau REDD dan efisiensi penggunaan energi berbagai gedung yang dikelilingi dengan vegetasi. Hasil studi menunjukkan bahwa distribusi biomassa pada areal hutan seluas 0,85 ha telah berhasil diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) kelas yaitu sebaran biomasa tinggi 0,39 ha (46%), sedang 0,31 ha (37%), dan rendah 0,15 ha (17%). Melalui penggunaan SIG, distribusi biomassa hutan tersebut telah dapat disajikan dalam peta distribusi biomassa, termasuk peta distribusi vegetasi, suhu udara, intensitas penyinaran matahari dan data non spasialnya.
Genetic Parameter Estimates for Growth in a Progeny Test of Sengon (Falcataria moluccana) in Jember, East Java B. Hardiyanto, Eko
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 3 (2012): October 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.456 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i3.144

Abstract

Uji keturunan sengon penyerbukan terbuka (half-sib) sengon (Facataria moluccana) dibangun di Ambulu, Jember, Jawa Timur untuk mengevaluasi potensi pertumbuhan dan pemuliaan genetiknya untuk pembuatan pertanaman kayu pertukangan. Seratus enam famili penyerbukan terbuka dari 11 sumber benih diuji dalam uji keturunan. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap berblok, 4 pohon per plot dengan ulangan sebanyak 15. Pada umur 1 tahun tinggi rerata sebesar 8,3 m sedangkan diameter rerata 10,2 cm. Terdapat perbedaan nyata di antara sumber benih dan di antara famili dalam sumber benih untuk pertumbuhan tinggi dan diameter. Taksiran heritabilitas individu untuk tinggi tergolong rendah (0,08 (±0,01), sedangkan untuk diameter termasuk sedang (0,01±0,05). Heritabilitas famili untuk tinggi dan diameter termasuk sedang, secara berturut-turut adalah 0.37±0.06 dan 0,45 ±0,04 untuk tinggi dan diameter. Korelasi genetik (0,72) antara pertumbuhan tinggi dan diameter adalah positif dan cukup tinggi (0,72) sedangkan korelasi fenotipik antarsifat-sifat ini adalah 0,67.Kata kunci: Sengon, Falcataria moluccana, uji keturunan, heritabilitas, korelasi genetik
Skrining Fitokimia Lima Jenis Tumbuhan Paku Polypodiaceae Dari Provinsi Riau Sofiyanti, Nery; Wirdayanti, Wirdayanti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 4, No 2 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.694 KB) | DOI: 10.24002/biota.v4i2.2470

Abstract

Jenis-jenis paku dari famili Polypodiaceae banyak digunakan sebagai sumber obat tradisional. Namun kajian fitokimia jenis paku tersebut dari Provinsi Riau masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, tanin dan terpenoid dari lima jenis paku Polypodiaceae. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode eksplorasi. Skrining fitokimia dilakukan di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau. Pada penelitian ini, organ yang digunakan untuk pembuatan ektrak cair adalah rimpang dan daun segar. Hasil skrining fitokimia pada rimpang paku yang diteliti menunjukkan kandungan emapat golongan metabolit sekunder yaitu alkaloid (5 jenis), flavonoid (1 jenis), tanin (1 jenis) dan terpenoid (2 jenis), sedangkan saponin dan stereoid tidak ditemukan pada ekstrak rimpang. Pada organ daun, senyawa metabolit sekunder lebih banyak dijumpai sebanyak 5 golongan senyawa yaitu alkaloid (5 jenis), flavonoid (5 jenis), tanin (1 jenis), steroid (3 jenis) dan terpenoid (1 jenis). Hanya golongan metabolit sekunder saponin yang tidak dijumpai pada ekstrak daun paku Polypodiaceae. Jenis yang paling banyak banyak menunjukkan kandungan metabolit sekunder adalah Pyrrosia lanceolata (4 senyawa).
Determinasi Salmonella sp dan Ektoparasit dalam Pupuk Organik dari Kotoran Sapi Potong di Yogyakarta Suwito, Widodo; -, Supriadi; Winarti, Erna; Bimo Bekti, Utomo
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 18, No 2 (2013): June 2013
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.19 KB) | DOI: 10.24002/biota.v18i2.388

Abstract

AbstractOne of by products derived from beef cattle farm is manure. The manure can be processed to make organic fertilizer. Salmonella sp is bacterium of the manure origin and harmful for human. Currently, organic fertilizer is mostly used for vegetables and fruits, but the problem is people consume those vegetables. The aim of this study was to determine Salmonella sp and ectoparasite in organic fertilizer which were made from the manure of beef cattle farm in Yogyakarta. A total of 10 manure samples were collected the farms to make organic fertilizer. The manure was fermented with lactic acid bacteria (BAL) for one month. Before and after fermented, the manure was isolated and identified for Salmonella sp based on biochemical reactions and ectoparasite using native method. The study showed that there were no Salmonella sp and ectoparasite in the organic fertilizer made from the manure fermented for one month.Keywords: Organic fertilizer, manure, farm, Salmonella spAbstrakSalah satu hasil sampingan dari peternakan sapi potong adalah kotoran ternak. Kotoran ternak dapat dimanfaatkan untuk dibuat pupuk organik. Salmonella sp merupakan bakteri yang berasal dari kotoran ternak dan dapat membahayakan kesehatan manusia. Saat ini pupuk organik banyak digunakan untuk tanaman sayuran dan buah-buahan, sedangkan sebagian masyarakat mengonsumsi sayuran dalam keadaan mentah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Salmonella sp dan ektoparasit dalam pupuk organik yang dibuat dari kotoran sapi pada peternakan sapi potong di Yogyakarta. Telah dikumpulkan sebanyak 10 sampel kotoran sapi yang akan dibuat pupuk organik dari peternakan sapi potong di Yogyakarta. Kotoran sapi difermentasi dengan bakteri asam laktat (BAL) selama satu bulan. Kotoran sapi sebelum dan sesudah difermentasi dilakukan isolasi dan identifikasi Salmonella sp berdasarkan reaksi biokimia dan ektoparasit dengan metode natif. Penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam kotoran sapi yang dibuat pupuk organik dengan fermentasi selama satu bulan tidak ditemukan Salmonella sp.Kata kunci: Pupuk organik, rabuk, peternakan sapi, Salmonella sp
Pemanfaatan Vegetasi Mangrove sebagai Obat-obatan Tradisional pada Lima Suku di Papua -, Mahmud; -, Wahyudi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 19, No 1 (2014): February 2014
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.441 KB) | DOI: 10.24002/biota.v19i1.448

Abstract

AbstractMangrove plays important role to coastal communities across Papua. Mangrove provides food, material construction, firewood, medicine, shelter and others. This research is designed to determine the traditional practices of utilizing mangrove vegetation used for medicinal material remedieson for five ethnicgroups in Papua. Field observation, and intensive literature reviews were used to collect the data and information required. The results showed that seven spesies of mangrove belonging to five families were used for medicinal puposes by five ethnic groups in Papua. Utilizations of mangrove as traditional medicines could be used for treatments for twelve diseases or health syndromes, ranging from mosquito repellency, scabies medicine, cleanse for pregnancey, children’s speaking ability, insecticides, malaria medicine, tooth medicine, diarrhoea, energy booster and stimulant for birth delivery. More importanly, the method of extraction, preparation and dosages of comsumption among five ethnics groups are almost similar.Keywords: Mangrove vegetation, traditional medicines, five ethnics, PapuaAbstrakVegetasi mangrove berperan penting dan cukup nyata, serta merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Papua, khususnya yang berdomisili di pesisir pantai. Mangrove dimanfaatkan sebagai sumber makanan, kayu bakar, obat-obatan tradisional, dan pelindung dari bahaya tsunami, badai, dan aberasi air laut. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasi lapangan dan studi pustaka. Tujuan penelitian ini mengetahui pemanfaatan vegetasi mangrove sebagai tumbuhan berkhasiat obat pada lima suku pesisir di tanah Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak tujuh jenis dari lima famili vegetasi mangrove yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan berkhasiat obat, untuk mengobati dua belas penyakit atau gejala penyakit, termasuk pestisida alami.Kata kunci: Vegetasi mangrove, obat tradisional, lima suku, Papua
Perbaikan Adaptasi Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) di Dataran Rendah Melalui Mutasi Induksi Riyati , Rati
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 17, No 1 (2012): February 2012
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.045 KB) | DOI: 10.24002/biota.v17i1.122

Abstract

Penelitian bertujuan meningkatkan keragamanan genetik tanaman gandum di Indonesia melalui teknik mutasi menggunakan sinar gamma dari Cobalt-60, dan menemukan galur gandum yang dapat dibudidayakan di dataran rendah. Penelitian lapangan dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Gadjah Mada, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada ketinggian  150 m dpl. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 2 faktor. Faktor I adalah iradiasi sinar gamma yang terdiri atas 3 aras, yaitu D0 : Tanpa perlakuan iradiasi, D1: iradiasi 20 Krad, dan D2: iradiasi 30 Krad. Faktor II adalah tanaman M3 yang terdiri atas 4 aras, yaitu: V1=WL- 2265, V2=SA-75, V3=DWR -195, dan V4=PN-81. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan iradiasi sinar gamma dengan Cobalt-60 dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman gandum di Indonesia dengan tetua WL-2265, SA-75, DWR-195, dan PN-81, sehingga dapat digunakan sebagai sumber genetik baru dalam program hibridisasi. Varietas WL-2265 dan DWR-195 yang diberi perlakuan iradiasi sinar gamma Cobalt-60 dengan dosis 20 krad maupun 30 krad dapat menghasilkan galur gandum yang mampu tumbuh di dataran rendah dengan hasil yang lebih baik daripada tanaman tetuanya.

Page 12 of 119 | Total Record : 1183


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue