cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Juke
Published by Universitas Lampung
ISSN : 20889348     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
Karakteristik Pasien Kanker Ovarium di Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2009-2013 Resti Arania; Indri Windarti
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.176 KB)

Abstract

Tumor ovarium merupakan salah satu neoplasma yang dijumpai pada sistem genitalia wanita. Tumor ovarium dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu tumor jinak, bordeline, dan tumor ganas. Tumor ovarium diperkirakan 30% dari seluruh kanker pada sistem genitalia wanita. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan sampel dari penderita kanker ovarium di RSUD dr. H. Abdul Moeloek (RSAM) Bandar Lampung dari tahun 2009-2013. Didapatkan sampel sebanyak 24 orang. Dianalisis dengan analisis univariat. Dari penelitian ini didapatkan usia penderita kanker ovarium di RSAM Bandar Lampung yang terbanyak adalah berusia 31-40 tahun yaitu 10 orang (41,7%). Ukuran kanker ovarium yang terbanyak yaitu berukuran 10 cm dan 15 cm yaitu masing-masing sebanyak 8 orang (33,3%). Jenis kanker yang terbanyak adalah karsinoma epitelial yaitu 16 orang (66,7%) dengan jenis terbanyak adalah adenokarsinoma jenis serosum sebanyak 5 orang (20,8%). Simpulan, sebagian besar penderita penyakit kanker ovarium di RSAM Bandar Lampung periode 2009-2013 berusia  31-40 tahun, dengan diameter 10 cm dan 15 cm. Jenis kanker yang paling sering dijumpai adalah karsinoma epitelial yaitu adenokarsinoma jenis serosum. [JuKe Unila 2015; 5(9):43-47]
Tatalaksana Dermatomikosis pada Pasien Morbus Hansen dengan Reaksi Reversal Dwi Indria Anggraini
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.455 KB)

Abstract

Penggunaan steroid jangka panjang pada pasien morbus Hansen dengan reaksi reversal dapat menimbulkan penekanan sistem imun sehingga lebih mudah mencetuskan dermatomikosis superfisialis. Terdapat berbagai pilihan terapi dermatomikosis. Perlu tatalaksana yang tepat pada pasien dengan reaksi reversal yang menderita infeksi jamur agar morbiditas cepat teratasi. Laporan kasus ini menunjukkan keberhasilan terapi dermatomikosis luas pada pasien Morbus Hansen dengan reaksi reversal. Pasien laki-laki berusia 36 tahun dengan bercak merah yang makin meluas dan terasa gatal terutama saat berkeringat atau panas  di kedua lipat paha dan bawah pusar sejak dua bulan yang lalu. Timbul juga keluhan bercak putih, bersisik, tidak baal di kedua lengan dan punggung sejak 1 bulan yang lalu. Pasien sudah berhenti dari terapi morbus Hansen sejak sekitar dua tahun lalu. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang ditegakkan diagnosis tinea fasialis, korporis, et kruris, pitiriasis versikolor, dan morbus Hansen tipe borderline lepromatosa release from treatment dengan reaksi reversal. Terapi yang diberikan selama dua minggu berupa terbinafin tablet 250 mg/hari dan sampo ketokonazol 2% dioleskan ke seluruh tubuh kecuali wajah dan genitalia 1 kali per hari selama 10 menit sebelum mandi. Selain itu, tatalaksana linen infeksius dan menjaga higiene. Hasil evaluasi dua minggu pasca terapi, pasien dinyatakan sembuh berdasarkan klinis dan laboratoris. [JuKe Unila 2015; 5(9):48-53]
Kekerasan dalam Rumah Tangga: Laporan Kasus Winda Trijayanthi Utama; Asep Sukohar
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.2 KB)

Abstract

Keutuhan dan kerukunan rumah tangga yang bahagia, aman, tenteram, dan damai merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga. Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat terganggu apabila kualitas pengendalian diri orang-orang yang ada dalam lingkup rumah tangga tidak dapat dikontrol yang pada akhirnya dapat terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga merupakan masalah global yang menyebabkan morbiditas, mortalitas, dan gangguan kesehatan mental. Kasus KDRT harus ditangani secara tuntas agar tidak terjadi “lingkaran kekerasan”. Untuk mencegah, melindungi korban serta menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga maka negara dan masyarakat berkewajiban memberikan perlindungan kepada korban KDRT sebagaimana kemudian diatur di dalam UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Pembuktian terhadap kasus KDRT dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT dapat dilakukan dengan hanya mendengarkan keterangan saksi korban, atau dapat juga ditambah dengan alat bukti yang lain. Salah satu cara untuk membuktikan tindak pidana KDRT ini adalah dengan menggunakan Visum et Repertum (VeR). Kasus, seorang perempuan, 44 tahun, datang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung untuk dilakukan pemeriksaan fisik dan dibuatkan VeR atas tindak KDRT yang dialaminya. Simpulan, VeR merupakan salah satu alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), meskipun mengenai VeR ini tidak diatur secara khusus dalam KUHAP namun VeR ini termasuk dalam kategori alat bukti surat dan alat bukti keterangan ahli. [JuKe Unila 2015; 5(9):54-60]
Pendekatan Holistik Penatalaksanaan Gagal Jantung NYHA Functional Class III pada Pasien Laki-Laki Usia 69 Tahun dengan Pekerjaan Pedagang Sembako Fitria Saftarina; Febrina Dwiyanti
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.782 KB)

Abstract

Gagal jantung kronik masih merupakan penyakit kardiovaskular dengan peningkatan beban hospitalisasi dan pengeluaran biaya perawatan kesehatan. Prevalensi gagal jantung meningkat dengan peningkatan usia harapan hidup, dengan gagal jantung diastolik yang dominan terjadi pada populasi lanjut usia. Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk insidensi dan progresifitas gagal jantung. Penyakit jantung hipertensi merupakan akibat abnormalitas termasuk di dalamnya hipertrofi ventrikel kiri, disfungsi sistolik dan diastolik, dan manifestasi kliniknya meliputi gagal jantung simptomatik. Penerapan prinsip pelayanan dokter keluarga yang holistik dan paripurna berbasis evidence based medicine pada pasien lanjut usia dengan mengidentifikasi faktor risiko dan masalah klinis, serta prinsip penatalaksanaan pasien berdasarkan kerangka penyelesaian masalah pasien (problem oriented). Data primer diperoleh melalui anamnesis (autoanamnesis dan alloanamnesis), pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, home visit untuk menilai kondisi  rumah dan keluarga. Penilaian berdasarkan diagnosis holistik awal, proses dan akhir studi secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil disajikan dalam format case report. Laki-laki usia 69 tahun dengan keluhan sesak napas saat beraktivitas sejak lebih dari 5 tahun dan juga sesak napas saat beristirahat. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 25 tahun. Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 180/100 mmHg, laju nadi 89x/menit. Terdapat murmur pansistolik dan peningkatan tekanan vena jugular 2 cm di atas normal. Pasien didiagnosa dengan gagal jantung NYHA kelas III dan diterapi dengan diuretik, penghambat ACE, ISDN, aspirin, diet rendah garam dan restriksi asupan cairan. Telah dilakukan penatalaksanaan pasien dengan prinsip pelayanan dokter keluarga yang holistik dan paripurna, berbasis evidence based medicine. Perbaikan klinis belum dapat dilihat pada akhir masa intervensi, karena membutuhkan waktu yang lama sesuai patofisiologi penyakit dan kerjasama antara pasien, keluarga dan provider pelayanan kesehatan. [JuKe Unila 2015; 5(9):61-68]
Diagnosis dan Tatalaksana Polymyositis Ade Yonata
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.658 KB)

Abstract

Polymyositis adalah miopati inflamasi idiopatik yang menyebabkan kelemahan otot simetris proksimal, peningkatan kadar enzim otot rangka, serta elektromiografi (EMG) dan temuan biopsi otot yang spesifik. Wanita 51 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama nyeri pada otot tangan dan kaki sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit. Laboratorium menunjukkan peningkatan transaminase dan creatin kinase (CK) serta ANA dan anti-dsDNA yang positif. Pasien didiagnosis polymyositis autoimun dan diterapi dengan steroid. Polymyositis merupakan penyakit yang jarang. Diagnosis dan tatalaksana yang baik pada pasien polymyositis dapat mengurangi keluhan pasien dan memperbaiki kualitas hidupnya. [JuKe Unila 2015; 5(9):69-75]
Full-Thickness Skin Grafts Hendra Tarigan Sibero
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.617 KB)

Abstract

Skin grafts adalah tindakan memindahkan bagian dari kulit yang telah dipisahkan dari tempat suplai darah lokalnya ke lokasi lain. Teknik ini telah dilakukan sejak 2.500 hingga 3.000 tahun lalu. Skin grafts dapat dibagi menjadi empat tipe yakni full-thickness skin grafts (FTSG), split-thickness skin grafts (STSG), composite grafts, dan free cartilage grafts. Full-thickness skin grafts terdiri atas pemindahan keseluruhan epidermis dan dermis, termasuk struktur adneksa seperti folikel rambut dan kelenjar keringat. Prosedur skin grafts sering dilakukan di Divisi Tumor Bedah Kulit Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin terutama untuk terapi pasien dengan keganasan kulit yang tidak dapat atau sulit ditutup dengan tindakan bedah lain, seperti flap. Prosedur Skin grafts yang sering dilakukan yaitu FTSG. Sari pustaka ini akan membahas mengenai FTSG secara keseluruhan, baik indikasi, kontraindikasi, persiapan pra operasi, pemilihan daerah donor, teknik melakukan tindakan, perawatan paska operasi, dan komplikasi paska operasi. Diharapkan sari pustaka ini dapat membantu pembaca agar mampu melakukan penjelasan dan menjawab pertanyaan dan harapan pasien dengan benar, mampu memahami, mengerti dan dapat melaksanakan prosedur FTSG. Mengetahui, memahami dan mampu melakukan tindakan FTSG sangat diperlukan bagi seorang ahli kulit untuk membantu menyelesaikan masalah keganasan kulit yang semakin meningkat. [JuKe Unila 2015; 5(9):81-88]
Obesitas dan Stres Oksidatif Tiwuk Susantiningsih
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.329 KB)

Abstract

Penderita obesitas meningkat pesat akhir-akhir ini baik di negara maju maupun di negara berkembang. Di Indonesia prevalensi obesitas cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Obesitas memegang peran penting dalam patogenesis berbagai kejadian penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, hipertensi, proses penuaan, serta kanker. Obesitas juga dihubungkan dengan terjadinya penyakit kardiovaskuler seperti penyumbatan pembuluh darah, hiperlipidemik, aterosklerosis, dan stroke. Pada keadaan obesitas bisa memicu timbulnya keadaan stres oksidatif karena ketidakseimbangan prooksidan dan antioksidan di dalam tubuh. Obesitas erat kaitannya dengan stres oksidatif, dikarenakan adanya peranan cAMP (cyclic Adenosin Mono Phosphat) dalam pengaturan keseimbangan energi. Jaringan adiposa selain berperan sebagai tempat penyimpanan energi juga berfungsi sebagai organ endokrin, yang  bertanggung jawab terhadap patofisiologi stres oksidatif serta sindrom metabolik dan kelainan kardiovaskular. Pada keadaan obesitas terjadi proses inflamasi, lipogenesis yang berlebihan, penghambatan lipolisis, serta meningkatkan apoptosis adiposit. Obesitas akhirnya meningkatkan pelepasan Reactive Oxygen Species (ROS) dan akan menyebabkan suatu kondisi yang disebut dengan stres oksidatif. Stres oksidatif adalah keadaan saat jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Pada kondisi stres oksidatif akan menyebabkan kerusakan sel, jaringan atau organ yang kemudian bisa memicu terjadinya penyakit-penyakit degeneratif. Simpulan, obesitas memicu proses inflamasi dan kelainan metabolisme yang akan mengakibatkan peningkatan stres oksidatif. Stres oksidatif yang berlangsung lama akan menyebabkan kerusakan sel dan jaringan serta memicu munculnya penyakit-penyakit degeneratif. [JuKe Unila 2015; 5(9):89-93]
Vitiligo Rika Lukas; Hendra Tarigan Sibero
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.288 KB)

Abstract

Vitiligo merupakan penyakit kulit dan membran mukosa kronis akibat destruksi melanosit, dengan karakteristik makula depigmentasi, mempunyai faktor predisposisi multifaktorial dan faktor pencetus seperti trauma, terbakar matahari, stres, dan penyakit sistemik. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, tetapi terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang hilangnya melanosit epidermal pada vitiligo. Teori patofisiologi vitiligo yang paling berperan antara lain mekanisme autoimun, sitotoksik, biokimia, oksidan-antioksidan, neural, dan virus. Manifestasi klinis berupa makula amelanotik berwarna putih susu atau seperti kapur, biasanya berbatas tegas dan tepi dapat berlekuk. Klasifikasi vitiligo antara lain segmental, akrofasial, generalisata, dan universal, atau berdasarkan pola daerah yang  terkena yaitu jenis fokal, campuran, dan mukosa. Penyakit endokrinopati yang sering ditemukan pada pasien vitiligo antara lain disfungsi tiroid, penyakit hipertiroid lain (penyakit Grave) atau hipotiroid (tiroiditis Hashimoto). Pemeriksaan laboratorik yang membantu dalam membangun diagnosis vitiligo, antara lain kadar thyroid stimulating hormone, anti-nuclear antibody, dan darah lengkap. Pada pemeriksaan histologi tidak ditemukan melanosit pada lesi kulit. Pengobatan berupa tabir surya, kortikosteroid topikal, imunumodulator topikal, kalsipotriol topikal, pseudokatalase, kortikosteroid sistemik, PUVA, NBUVB, laser excimer, bioskin, laser helium neon, khellin, L-fenilalanin, antioksidan, depigmentasi, autologous thin thiersch grafting, suction blister grafts, transplantasi kultur melanosit autologous, kamuflase, TNF-α, dan imunosupresan sistemik. [JuKe Unila 2015; 5(9):94-103]
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembelajaran Keterampilan Klinik di Institusi Pendidikan Kedokteran Oktadoni Saputra; Rika Lisiswanti
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.157 KB)

Abstract

Keterampilan klinik merupakan komponen penting dalam pendidikan kedokteran. Pembelajaran keterampilan klinik saat ini sudah mengalami pergeseran dan sudah dimulai dari tahap pre-klinik pada setting khusus yang dikenal sebagai skills-lab. Namun demikian, pembelajaran keterampilan klinik pada setting skills-lab ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang banyak serta biaya yang cukup mahal. Simpulan, ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran keterampilan klinik di skills-lab tersebut, diantaranya adalah konten materi, metode penyampaian, peserta, instruktur, peralatan serta lingkungan pembelajarannya. Kesemua faktor tersebut harus berjalan dengan baik agar proses pembelajaran keterampilan klinik tersebut bisa mencapai tujuannya. [JuKe Unila 2015; 5(9):104-109]
Ruptur Uteri Ratna Dewi Puspita Sari
JUKE Unila Vol 5, No 9 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.054 KB)

Abstract

Ruptur uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau persalinan pada saat umur kehamilan lebih dari 28 minggu. Manifestasi perdarahan masih merupakan trias penyebab kematian maternal tertinggi, di samping preeklampsi/eklampsi dan infeksi. Angka kematian ibu akibat perdarahan yang disebabkan ruptur uteri berkisar antara 17,9%  sampai 62,6%. Saat persalinan kala I dan awal kala II batas antara segmen bawah rahim dan segmen atas rahim dinamakan lingkaran retraksi fisiologis, jika bagian terbawah tidak mengalami kemajuan akan timbul retraksi patologis (Bandl’s ring). Apabila saat persalinan tetap tidak ada kemajuan maka akan terjadi ruptur uteri dan menyebabkan komplikasi berupa kematian maternal. Simpulan, ruptur uteri masih merupakan salah satu penyebab kematian maternal dan janin dalam rahim paling tinggi di Indonesia. Untuk itu diperlukan ketepatan dalam mendiagnosis terjadinya ruptur uteri dan melakukan penatalaksaaan dengan tepat dan cepat sehingga angka kematian akibat komplikasi persalinan dapat menurun. [JuKe Unila 2015; 5(9):110-114]

Page 8 of 11 | Total Record : 107