cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Eksistensi Kesenian Jepin Di Dusun Bandungan Desa Darmayasa Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara Ika Prawita Herawati
Joged Vol 8, No 1 (2017): APRIL 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.805 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i1.1672

Abstract

Kesenian Jepin merupakan salah satu kesenian rakyat yang masih bertahan hingga sekarang di dusun Bandungan. Eksistensi kesenian tersebut di dusun Bandungan desa Darmayasa disajikan dalam berbagai acara yaitu acara dusun seperti pesta nadar, dan acara hajatan seperti khitanan, dan pernikahan. Selain itu, keseniaan Jepin juga disajikan dalam acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia dan penyambutan tamu.Kesenian Jepin sampai sekarang masih eksis dalam masyarakat dusun Bandungan terbukti dari banyaknya penonton dan frekuensi pertunjukan atau banyaknya tawaran pentas. Kesenian ini memiliki fungsi yang penting yaitu sebagai hiburan. Sejak awal terbentuknya hingga sekarang, kesenian ini telah mengalami perkembangan baik dari gerak dan penambahan alat musik. Hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan keberadaan kesenian Jepin agar dapat bertahan, tetap eksis dan diminati oleh masyarakat.Masyarakat dusun Bandungan merasa bahwa mereka membutuhkan kesenian Jepin sebagai hiburan dan sebagai bagian dari budaya yang patut dibanggakan. Kesenian Jepin dapat bertahan sampai sekarang menunjukan bahwa kesenian ini mempunyai kedudukan dalam masyarakat dusun Bandungan. Tanggapan yang baik dari masyarakat ditunjukkan pula dengan semakin menyebar luasnya kesenian Jepin di berbagai daerah di kecamatan Pejawaran dan sekitarnya.Kesenian Jepin tetap bertahan dan diminati oleh masyarakat serta eksis juga karena kesenian ini sejalan dengan adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat dusun Bandungan.
Lunar Dewi Sinta Fajawati
Joged Vol 7, No 2 (2016): NOPEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.328 KB) | DOI: 10.24821/joged.v7i2.1599

Abstract

Bulan merupakan sumber inspiratif dalam penggarapan karya tari ini. Secara ilmu pengetahuan, Bulan adalah benda langit yang disebut satelit, satelit satu-satunya yang dimiliki Bumi dan tercipta secara alami. Banyak teori yang mengatakan tentang terbentuknya Bulan, salah satunya adalah teori Big bang atau dentuman besar. Pada dasarnya Bulan hanyalah sebuah Benda besar berbentuk bulat yang tidak bisa bercahaya, cahaya yang kita lihat pada malam hari merupakan refleksi dari cahaya matahari. Akan tetapi keindahannya memang tidak bisa dipungkiri, karena dia paling bercahaya diantara hamparan langit yang gelap. Cahayanya tidak selalu terang, bahkan tidak selalu bulat, terkadang hanya terlihat setengah atau terlihat seperti sabit..            Penata tari memetaforakan objek bulan yang berada di tempat yang sangat tinggi sebagai sebuah cita-cita yang ingin dicapai. Seringkali lagu anak-anak yang menjadi pengalaman auditif penata tari, menjadikan bulan sebagai objek yang ingin digapai, misal lagu ‘Ambilkan Bulan Bu’. Namun intisari yang akan dipakai dalam penggarapan koregrafinya adalah tentang fase bulan yang tercipta. Bersumber dari rangsang awal melihat bulan atau rangsang visual, penata tari menginterpretasikan fase-fase bulan yang terjadi sebagai fase kehidupan yang dijalani untuk menggapai sebuah cita-cita tersebut.            Koreografi diwujudkan dalam bentuk kelompok dengan membagi dua karate penari. Delapan penari merupakan simbolisasi Bulan, dan satu penari sebagai manusia yang bercita-cita. Dengan bentuk tari dramatik, penyajiannya dibagi menjadi 5 adegan, yaitu Introduksi Big bang, Adegan 1 Moon happen, Adegan 2 Mengejar Impian, Adegan 3 Dancing with Moon, dan Ending ‘Catch Your Dream’. The moon is the essential inspirations of this choreograph. Theoretically, the moon is a sky object which is called as satellite. The one and only naturally created satellite belongs to the planet Earth. There are many theories that explain how the moon was created. One of those theories is Big Bang theory or massive crash. Basically, the moon is just a huge circle thing which is unable to shine its glow. The light that we experience in the evening is the reflection of the sun. However, thebeauty of the moonlight is undeniable as it has the significant light within the darkest night sky. Its light is not always the strongest, even it’s not always circle (full), every so often it is seemed only the half part of it or crescent moon.            The choreographer interpreted the moon that belongs in the highest as the goals that she wants to reach. Most of the time, the children songs (lullaby) that pick the moon as the main object that is desired to be reached, for example the song “Ambilkan Bulan, Bu”. The essential idea that is explored in this choreograph is the creational phase of the moon itself. It was started by way of visual reaction when the choreographer observed the moon, she interpret the moon’s phases as the phases in human’s life which are gone through to reaching their goals. Fall and recovery, passionate, and even sometimes they give it in, are interpreted from the moonlight. The full moon which has the brightest and the most perfect light is likened as the strong spirit. The crescent moon with its soft light is interpreted as low spirit and unconfident.             This in-group-choreograph is separated into two characters with 8 female dancers that are the symbolization of the moon and the other one female dancer symbolizes a human with aspire. With dramatic dance form, this choreograph is presented into five parts, including introduction part of Big Bang, Moon Happen in part one, Chasing Dream is part two, Dancing With The Moon in part three, Catch Your Dream in the ending part.
Proses Ritual Sêblang Olehsari Ammy Aulia Renata Anny
Joged Vol 7, No 1 (2016): APRIL 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.726 KB) | DOI: 10.24821/joged.v7i1.1590

Abstract

Sêblang Olehsari adalah ritual adat yang ada di desa Olehsari, Banyuwangi Jawa Timur. Secara etimologi kata Sêblang berasal dari bahasa Osing yang merupakan akronim dari kata sêbêlé ilang yang artinya membuang sial. Ritual Sêblang Olehsari diselenggarakan setelah hari raya Idul Fitri dan dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut. Pada hari ketujuh dilakukan prosesi Idêr Bumi (berjalan mengelilingi desa Olehsari) dan keesokan harinya diadakan upacara Ngêlungsur atau siraman. Bagian terpenting dalam ritual ini adalah ketika penari yang terpilih berdasarkan garis keturunan, mampu menari selama tiga jam dalam kondisi kesurupan. Tertarik dengan melihat perubahan moral dan kognitif subjek, maka penelitian ini difokuskan untuk mengamati proses ritual yang dialami subjek ritual. Berdasarkan pada teori proses ritual Victor Turner yakni separasi, liminalitas, reagregasi, dan dalam ritual Sêblang Olehsari ini subjek juga mengalami tahap transformasi. Diharapkan hasil penelitian yang dikaji dengan perspektif Etnokoreologi ini, memberikan kontribusi pengetahuan yang lebih luas tentang ritual Sêblang Olehsari. Sêblang Olehsari was customary ritual that existed in Olehsari village, Banyuwangi East Java. Etimologycally, Sêblang derived from Osing languages, acronyim from ‘sêbêlé ilang’ which mean unfortunate throw way. Sêblang Olehsari ritual held after the day of Eid Fitri during seven consecutive days. On the seventh days be a procession Idêr Bumi (walk around in the Olehsari village) and the next day held Ngêlungsur or steady ceremonial. The most important part in this ritual was when the dancer who elected based on line descent, and able to dancing during three hours in trance condition. Interest with moral and cognitive changes from subject, so this research focused to observe ritual process that subjects experienced. Based on ritual process theories of Victor Turner even separation, liminality, reagregation, and in this Sêblang rituals subject also suffered transformation phases. Expected the results of research which is examined by ethnocoreological perspective, can contribute knowledge that was more widespread about Sêblang Olehsari ritual.
Analisis Koreografi Tari Ganjur Pada Upacara Adat Erau Kutai Kertanegara Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur Agus Yulianti
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.831 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1886

Abstract

Tari Ganjur merupakan kesenian yang berbentuk ritual dalam sebuah upacara adat yaitu Upacara Erau adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yang dilestarikan oleh masyarakat kota Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.Tari Ganjur merupakan tarian Klasik yang dimiliki oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam bentuk koreografi kelompok, karena dapat dilihat dari bentuk pertunjukan tari ganjur yang ditarikan oleh empat penari laik-laki. Di dalam tari Ganjur menggunakan sebuah properti Gada yang biasa disebut dengan ganjur. Tari Ganjur menggambarkan seorang pangeran yang sedang menjaga keamanan tiang ayu agar pada saat acara Bepelas Sultan tidak diganggu oleh roh-roh jahat. Tari Ganjur mengenakan busana atasan miskat sedangkan bawahannya mengenakan celana panjang berwarna hitam dipadukan dengan sarung Samarinda. Rias penari menggunakan rias natural, serta iringan tari menggunakan seperangkat alat gamelan Kutai.Dalam hal ini yang menjadi pokok permasalahan adalah analisis koreografi tari Ganjur pada Upacara Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka akan meminjam teori Y. Sumandiyo Hadi mengenai Koreografi Bentuk-Teknik-Isi. Menurut Y. Sumandiyo Hadi ketiga konsep bentuk, teknik, dan isi ini tidak dapat dipisahkan dalam sebuah pertunjukan tari. Dalam penelitian ini tari Ganjur pada Upacara Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura dapat ditinjau dari aspek bentuk, teknik, dan isi. Aspek bentuk tari Ganjur terbagi menjadi tiga bagian, pembagian ini terlihat dari perpindahan iringan musiknya. Aspek teknik gerak tari Ganjur terdapat kesamaan dengan gerak tari Klasik yang ada di Surakarta dan Yogyakarta. Aspek isi tari Ganjur bertemakan keamanan yang bertujuan untuk menjaga keamanan daerah sekeliling Tiang Ayu. Kehadiran tari Ganjur dalam upacara Erau adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura sangat berperan penting dalam acara bepelas sultan, karena kehadirannya diperuntukan menurunkan Pangeran Sri Ganjur untuk menjaga keamanan tiang ayu dari roh-roh jahat, dan kehadirannya selalu ada pada malam Bepelas Sultan.  Ganjur dance is a ritual art form in a traditional ceremony that is customary Erau ceremony Kutai Ing Martadipura, preserved by the people of Tenggarong city, district, Kutai, East Borneo. Ganjur dance a classical dance that is owned by the Sultanate of Kutai Ing Martadipura in the form of choreography Group, because it can be seen from the form of dance performances ganjur danced by four male-male dancers. In Ganjur dance uses a property called Gada commonly called ganjur. Ganjur Dance depicts a prince who is guarding the security pole so that at the time of the Sultan Bepelas event is not disturbed by evil spirits. Ganjur Dance wearing a clothing top miskat while his subordinates dressed in black trousers combined with sarong Samarinda. The dancers makeup using natural makeup, dance accompaniment using a set of Kutai gamelan instruments.In this case an issue of concern is the analysis of dance choreography Ganjur Ceremony Indigenous Erau Martadipura Kutai Ing. To answer these problems, it will borrow Y. Sumandiyo Hadi theory regarding Choreography Form-Fill-technique. According to Y. Sumandiyo Hadi these three concepts of form, technique, and content can not be separated in a dance performance. In this study dance Ganjur Ceremony Indigenous Erau Kutai Ing Martadipura can be viewed from the aspect of forms, techniques, and content. Aspects of dance form Ganjur is divided into three parts, this division is seen from the transfer of musical accompaniment. Techniques of motion dance movement Ganjur there are similarities with Classical dance movement in Surakarta and Yogyakarta. Aspects of dance contents Ganjur themed security that aims to maintain the security of the surrounding area Tiang Ayu. The presence of dance in the ceremony Ganjur custom Erau Kutai Ing Martadipura very important role in the event bepelas sultan, because his presence is intended to lower the Prince Sri Ganjur to maintain the security of ayu pole of evil spirits, and his presence is always there at night Bepelas Sultan.
After Dark Annisa Zahara
Joged Vol 8, No 1 (2017): APRIL 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.172 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i1.1668

Abstract

After Dark adalah karya tari yang di ciptakan berdasarkan dari pengalaman empirik penata. Ide ini muncul berdasarkan fenomena yang terjadi yaitu selain sebagai mahasiswi, penata juga berprofesi sebagai penari klub malam. Penari klub malam adalah para wanita yang berprofesi sebagai dancer atau penari di klub malam dengan kostum atau pakaian yang lebih terbuka. Para pelaku profesi ini kebanyakan adalah para pendatang dari luar daerah Yogyakarta yang pada awalnya berniat untuk melanjutkan pendidikan.Fenomena ini menarik bagi penata dan menjadi masalah yang kemudian diangkat menjadi sebuah karya tari. Berpijak pada pengalaman penata terhadap profesi ini dan juga lingkungan penata sebagai seorang mahasiswi jurusan tari. Penata merasa menjadi seorang penari klub malam bukanlah hanya sekedar menari dan menghibur tetapi ada hal lain yang tidak terungkap dan tidak diketahui oleh banyak orang. Gejolak terdalam di hati seorang perempuan, perasaan yang disembunyikan di balik tuntutan pekerjaan yang baginya bukanlah sebuah keinginan. Perasaan kecewa, khawatir, sedih, dan selanjutnya, munculah gagasan untuk mengangkat fenomena ini ke dalam sebuah karya tari, misteri apa yang terjadi di balik fenomena ini. Mengapa fenomena ini begitu marak terjadi di kalangan mahasiswi? After Dark yang bila diartikan adalah “Setelah Gelap”, yang dimaksud adalah waktu yang berlangsung ketika menjalani rutinitas sebagai penari klub malam dan harapan untuk menjadi lebih baik seperti yang diyakini oleh penata bahwa setelah gelap akan selalu ada kebaikan.Karya ini memunculkan unsur dramatik tentang gejolak perasaan wanita yang berprofesi sebagai penari klub malam. Gejolak perasaan yang dihadirkan dalam karya ini adalah segala perasaan yang muncul yang dibagi dalam 3 bagian yaitu : kebahagiaan, kesedihan, perasaan tertekan serta kekalutan karena imaji yang beredar di masyarakat bahwa seorang penari klub malam sebagai hal yang negatif. Karya ini dikemas menarik dalam koreografi kelompok dengan jumlah penari lima orang penari putri.
Sonyol Megal-Megol Sekar Ayu Oktaviana Sari
Joged Vol 7, No 2 (2016): NOPEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.419 KB) | DOI: 10.24821/joged.v7i2.1595

Abstract

Tulang adalah penopang tubuh, tanpa tulang tubuh tidak akan bisa berdiri tegak. Salah satu tulang yang berfungsi sebagai tumpuan badan ketika duduk disebut dengan tulang panggul atau pangkal paha di sebelah belakang. Keunikan yang terjadi ketika tulang panggul digerakkan dengan cara memutar atau bergerak ke kanan dan ke kiri akan berakibat yang disebut dengan istilah Jawa yaitu megal-megol atau pantat yang bergerak ke kanan dan ke kiri.            Melihat fenomena di atas muncul ide untuk menciptakan sebuah karya tari yang bersumber dari gerakan otot bagian panggul. Penata memiliki postur tubuh yang menonjol di bagian panggul, sehingga tampak kurang proposional, hal ini menjadi menarik sehingga terinspirasi untuk menciptakan sebuah koreografi kelompok. Karya tari ini akan fokus pada gerakkan seputaran panggul. Gerakan tersebut sangat menarik karena memiliki keunikan tersendiri. Permainan panggul yang digerakan secara vibrasi mengakibatkan pantat bergetar, sehingga gerakan tersebut menjadi salah satu gerak yang akan dikembangkan.            Karya koreografi Sonyol Megal-Megol ini melibatkan dua puluh delapan orang penari perempuan, dengan delapan penari inti dan duapuluh penari pendukung. Adapun jumlah penari sebagai pertimbangan untuk komposisi koreografi, sedangkan untuk pemilihan jenis kelamin karena yang memiliki panggul atau pantat besar dominan perempuan. Karya koreografi mengangkat konsep tentang salah satu bagian tubuh yang berfungsi sebagai tumpuan badan ketika duduk yaitu panggul atau pantat. Musik yang akan digunakan adalah play recorder. Skull is the supporting of the body, and without it body will not be able to stand upright. Skull which has the function to support the body when in sit position is called hip. When hip is being moved to the right and left side or by the curning way, it will create a movement named megal-megol(the bottom move to the right and left side) in javanese analogy.             Look at the phenomenon stated above, an idea to create a dance work based on the movement muscle in hip arises. Choreographer has a prominent hip therefore it looks less proportional. This interisting fact inspires choreographer to create a group dance. This dance focuses on hip movement which has uniqueness inside it. Hip which is being moved vibratory causes a movement on the bottom, therefore this a dance that will be developed.             Sonyol Megal-Megol choreography involves twenty eight female dancers consist of eight main dancer and twenty supporter dancer. Choreography composition considers the number of dancers. The reason of choosing female as the dancer is because female more likely to have a big hip. The concept of the choreography come up from a part of the body which is used to be a body supporting when in a sit position called hip. The music is being played by recorder.
Ondeh Marawa Janihari Parsada
Joged Vol 8, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.804 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i2.1891

Abstract

“Ondeh Marawa” merupakan judul karya tari ini. Ondeh berarti aduh, sedangkan Marawa merupakan nama bendera kebesaran Minangkabau yang dipinjam sebagai judul karya. Jadi, “Ondeh Marawa” berarti aduh Marawa. Kata aduh di sini memiliki banyak pengertian di antaranya: ungkapan rasa kagum terhadap sosok Marawa, bentuk kekesalan terhadap diri sendiri atas keterlambatan menyadari keberadaan Marawa, dan penekanan terhadap kata Marawa yang masih menjadi inspirasi karya hingga saat ini. Karya “Ondeh Marawa” menyampaikan beberapa hal yaitu bentuk visual dan gejolak hati yang dialami terhadap sosok bendera Marawa. Visualisasi bendera Marawa dipresentasikan melalui gerak tubuh dan busana penari. “Ondeh Marawa” juga merupakan bentuk ungkapan rasa terima kasih terhadap ibu pertiwi dan kedua orang tua yang telah melahirkan penata di tanah Minangkabau.Gerak dasar dalam karya tari ini banyak terinspirasi oleh visual bendera saat tertiup angin. Kualitas gerak lembut sebagai penggambaran bendera saat tertiup hembusan angin yang lembut, dan kualitas gerak cepat atau enerjik saat tertiup angin kencang. Motif meliuk, vibrasi serta stakato yang dipadukan dengan beberapa gerak dasar Minangkabau menghasilkan beragam motif gerak baru yang memperkaya garapan ini. Selain itu, gejolak hati atau konflik batin yang dialami penata melengkapi dramatisasi yang dibangun dari awal hingga akhir tarian.Karya tari “Ondeh Marawa” disajikan dalam garap koreografi kelompok besar, 14 penari dan 2 aktor, dengan format live music. Warna busana penari dibuat dalam tiga kelompok yaitu merah, kuning dan hitam sesuai dengan warna asli bendera Marawa. Komposisi tari menjadi semakin menarik karena adanya kompoisisi warna busana para penari.  “Ondeh Marawa” is the title of this dance. Ondeh means ‘aduh’ (Indonesian) which refers to a hyper expression to be said on something with both good and bad values, and Marawa is the name of Minangkabau’s official flag which is used to be the choreograph’s title. So, Ondeh Marawa refers to the expression like, “My, oh my, Marawa!”. The word ‘aduh’ (My, oh My!) can be meant to be admiration of Marawa, and it as well can be kind of self-regretful expression for being late to notice the existence of Marawa (when its important role starts to fade away in the era of modernization), and praise to the Marawa itself for inspiring many artworks until today. Ondeh Marawa dance work is the visual form and emotion of one’s inner-conflict upon Marawa. Marawa’s visualization is represented by the dancers’ bodies and dance costume. Ondeh Marawa is also appreciations to the motherland and choreographer’s parents who have given birth to and raised him up on the land of Minangkabau.The essential movements of this dance work are mostly inspired by the visualization of the flag when it is blown by the wind. The smooth quality movement is representing the flag when it is blown by soft wind, while the energetic and high-speed quality movement is blown by gale. The movement pattern of curving, vibrating and staccato which are combined with some essential movements of Minangkabau traditional dance, create brand-new movement motives enriching this choreograph. Put aside of that, the inner-conflict which is gone through by the choreographer gives such dramatical nuance from the beginning until the end of the dance.The Ondeh Marawa dance work is presented in big-group composition of choreography by 12 male dancers with live-music concept. The dance costumes are made into 3 groups of colour: red, yellow, and black based on the original colour of Marawa (flag). The dance composition becomes more attractive because of the different colours of the dance costume.
Nyai Dasima Novianti Novianti
Joged Vol 8, No 1 (2017): APRIL 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.883 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i1.1673

Abstract

Karya tari “Nyai Dasima” terinspirasi dari ketertarikan penata untuk membuat karya tari bernuansa Betawi dengan bekal pengetahuan tentang tari Betawi yang pernah dipelajari penata. Selain itu juga karena ketertarikan penata terhadap salah satu cerita rakyat yang sudah melegenda di Jakarta tentang tokoh Nyai Dasima yang ditulis oleh S.M Ardan dalam bukunya berjudul “Nyai Dasima”.Ketertarikan tersebut menjadi dorongan bagi penata untuk mewujudkan cerita Nyai Dasima yang ditulis oleh S.M Ardan untuk diwujudkan dalam bentuk karya seni pertunjukan khususnya karya tari. Karya tari ini memvisualisasikan sosok Nyai Dasima dan cerita cinta segitiga yang membawa petaka bagi dirinya.Karya tari ini diciptakan dalam koreografi kelompok dengan 13 penari yang terdiri dari empat penari wanita dan sembilan penari laki-laki. Karya tari ini dipentaskan di dalam ruang pertunjukan proscenium stage dengan setting yang mendukung karya ini. Jenis musik yang digunakan untuk mendukung karya tari ini adalah live music. Lewat karya ini penata ingin menyampaikan bahwa tidak selalu sebutan “Nyai” memiliki konotasi negatif khususnya dalam cerita Nyai Dasima.
Proses Kreatif Tari Bedaya Putri Pakungwati Keraton Kasepuhan Cirebon Karya Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat Dian Rahayu
Joged Vol 7, No 2 (2016): NOPEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.89 KB) | DOI: 10.24821/joged.v7i2.1600

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji proses kreatif tari bedaya Putri Pakungwati karya Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, tarian yang terilhami oleh dokumentasi yang dimiliki oleh Keraton Kasepuhan berupa foto-foto. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati objek secara langsung yang diteliti saat melakukan penelitian, wawancara dilakukan melalui proses tanya jawab secara lisan, bertatap muka dengan narasumber yang diperlukan, studi pustaka berupa sumber tertulis yang diperoleh dari beberapa buku yang sesuai dengan permasalahan untuk membantu penulisan dan kerangka berpikir.            Hasil penelitian menunjukan bahwa, dalam karya tari Bedaya Putri Pakungwati, menghadirkan nafas-nafas baru untuk tari yang ada di Cirebon khususnya tari bedaya. Secara keseluruhan ada banyak unsur kreatif yang tertuang dalam karya tari Bedaya Putri Pakungwati. Terlihat dari konsep rancangan ide garapan, materi gerak tari yang berasal dari pengembangan gerak gaya Cirebonan, iringan tari yang terinspirasi dari iringan yang ada di Keraton Kasepuhan, kostum yang mengambil konsep islami hingga properti yang disajikan.  This research have purpose to find and analize the process of Putri Putri Pakungwati Bedaya Dance by Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, dance that inspired by photo documentation that owned by Keraton Kasepuhan. Using data collecting technique like observation, interview, literature, review, documentation. Observation for observasing object directly when doing research. Interiew for having process question and answer orally, face to face with interviewees needed, literature review like written sources that taken from few books that suitable with problem to help writing and design thinking.             The result of research shows that ini Putri Pakungwati Bedaya Dance gives new knowledge for dance in Cirebon, there are many creative element in Putri Pakungwati Bedaya Dance. Seen from the idea of arable design concept, dance mves material from Cirebon style moves development, music for dance that inspired from music in Keraton Kasepuhan, and costume andproperty using Islamic concept.
Sarosacitta Adi Putra Cahya Nugraha
Joged Vol 7, No 1 (2016): APRIL 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.699 KB) | DOI: 10.24821/joged.v7i1.1591

Abstract

Sarosacitta adalah judul karya tari yang diciptakan. Sarosacitta merupakan bahasa Jawa Kuno yang berarti berjuang penuh semangat. Judul tersebut dipilih untuk merujuk pada konsep utama karya yaitu semangat juang rakyat pada masa perang 10 November 1945.Dalam tari Rema, gerak utama sebagai pijakan untuk dikembangkan adalah teknik sadhukan sampur dan beberapa motif lainnya seperti: dolanan sampur, tropongan, bumi langit, dan ngundang bala. Fungsi sampur dalam tari Rema adalah sebagai senjata. Teknik tersebut dikembangkan dan dikemas menjadi sebuah pertunjukan tari secara utuh dengan mengusung kronologi perang 10 November 1945, sebagai landasan cerita yang membentuk tema, alur dan unsur dramatik karya.Karya tari Sarosacitta divisualisasikan dalam bentuk tari kelompok, didukung oleh delapan penari putra, dan dipentaskan di proscenium stage. Sarosacitta is the title of a dance piece created. Sarosacitta an ancient Javanese language, which means fighting vigorously. The title was chosen to refer to the main concept of the work is the fighting spirit of the people in times of war 10 November1945.In the Rema dance, the main motion as a foothold to be developed is a technique sadhukan sampur and some other motifs such as: dolanan sampur, tropongan, bumi langit, and ngundang bala. Sampur function in Rema dance is as a weapon. The technique has been developed and packaged into a dance performance as a whole and brought the chronology of the war 10 November 1945, as the basis for stories that make up the theme, plot and dramatic elements of thework.Sarosacitta dance piece visualized in the form of dance groups, backed by eight dancers son, and staged in a proscenium stage. 

Page 5 of 18 | Total Record : 172