cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 179 Documents
ESTETIKA GERAK TARI GREGET SAWUNGGALING Sujarwati, Ani; Trisakti, Trisakti; Yanuartuti, Setyo; Juwariyah, Anik
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17921

Abstract

ABSTRAKTari tradisional Greget Sawunggaling yang berasal dari Kota Surabaya menyajikan gaya gerak khas pahlawan lokal, Sawunggaling. Penelitian ini bertujuan menganalisis keindahan gerak dalam tari ini dengan menggunakan teori estetika Djelantik yang terdiri atas tiga unsur pokok yaitu wiraga (bentuk gerakan), wiranga (irama), dan wirasa (ekspresi). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data lewat obeservasi langsung, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Data tersebut kemudian diinterpretasikan untuk mengungkap makna simbolis dan filsafat di balik tiap gerak. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Tari Greget Sawunggaling tak cuma menawarkan keindahan visual melainkan penuh dengan nilai-nilai budaya Jawa seperti keberanian, kehormatan, serta ketekunan. Gerakan dalam tari ini merefleksikan keselarasan antara teknik, irama, dan ekspresi yang berfungsi menyampaikan pesan moral dan budaya yang dalam. Bagaimana masing-masing elemen dalam tari, baik bentuk gerak maupun ungkapan penari, mengandung makna filosofis yang mewakili semangat perjuangan serta menjadi simbol identitas budaya Kota Surabaya. Penelitian ini memperkaya kajian estetika gerak tari serta memberi pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara seni pertunjukan dengan nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya.ABSTRACTGreget Sawunggaling traditional dance originating from Surabaya City presents the distinctive movement style of the local hero, Sawunggaling. This study aims to analyze the beauty of movement in this dance using Djelantik's aesthetic theory which consists of three main elements, namely wiraga (form of movement), wiranga (rhythm), and wirasa (expression). The method used is descriptive qualitative by collecting data through direct observation, in-depth interviews, and documentation studies. The data is then interpreted to reveal the symbolic meaning and philosophy behind each movement. The results revealed that Greget Sawunggaling Dance not only offers visual beauty but is full of Javanese cultural values such as courage, honor, and perseverance. The movements in this dance reflect the harmony between technique, rhythm, and expression that serves to convey deep moral and cultural messages. How each element in the dance, both the form of movement and the expression of the dancer, contains philosophical meanings that represent the spirit of struggle and symbolize the cultural identity of the city of Surabaya. This research enriches the study of dance aesthetics and provides a deeper understanding of the relationship between performing arts and the cultural values of the supporting community..
BENTUK PENYAJIAN BEKSAN AJI SAKA YASAN SRI SULTAN HB KA-10 PADA UYON-UYON HADILUHUNG 1 FEBRUARI 2021 DI KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT Suprobo, Warih Sungging; Winarti, Tutik; Winahyuningsih, M. Heni
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17922

Abstract

ABSTRAKBeksan Ajisaka merupakan salah satu tarian Keraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 yang terilhami dari Serat Ajisaka. Serat tersebut merupakan pemaknaan dari aksara Jawa yang berisi ajaran luhur kehidupan manusia di dunia, yakni tindakan hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia kepada Tuhan. Penciptaan Beksan Ajisaka mengalami proses intermedialitas yang berawal dari Serat Ajisaka kemudian menjadi sebuah wujud sajian karya tari. Pijakan garap Beksan Ajisaka adalah tari klasik gaya Yogyakarta, yang dikembangkan dari konsep beksan sekawanan (4 orang), namun dibawakan dua pasang sehingga menjadi delapan orang sebagai Wadya. Ditambah dengan dua orang penari sebagai tokoh Ajisaka sehingga keseluruhan penari berjumlah sepuluh orang. Sepuluh orang penari Beksan Ajisaka merepresentasikan tahta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10. Beksan Ajisaka yang disajikan dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung tanggal 1 Februari 2021 bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Manis Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdurasi kurang lebih 50 menit. Penyajian Beksan Ajisaka ini merupakan sajian yang paling utuh dan lengkap, karena pada perjalanan selanjutnya ada pemangkasan durasi pertunjukan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tekstual untuk menganalisis bentuk penyajian dan makna yang terkandung dalam Beksan Ajisaka.ABSTRACTBeksan Ajisaka is one of the dances of the Yogyakarta Palace created by Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 which was inspired by Serat Ajisaka. The fiber is the meaning of the Javanese script which contains the noble teachings of human life in theworld, namely the act of relationship between fellow humans and human relationships with God. The creation of Beksan Ajisaka experienced an intermediacy process starting from Serat Ajisaka which later became a form of presentation of dance works. The footing of Beksan Ajisaka is a Yogyakarta-style classical dance, which was developed from the concept of a flock of people (4 people), but performed by two pairs so that it became eight people as Wadya. Coupled with two dancers as Ajisaka figures, the total number is ten people. Ten Beksan Ajisaka dancers represent the throne of Sri Sultan Hamengku Bawono Ka- 10.Beksan Ajisaka is a dance presentation with the concept of bedhayan by adapting some of the essence of the Yogyakarta style bedhaya 9 dance concept with different visual development and meaning. In the presentation, Beksan Ajisaka packaged the development of the existing Yogyakarta style tradition such as dance movements, floor patterns, accompaniment, clothing, and the form of the presentation. The form of dance movements, floor patterns, accompaniment and clothing are symbolic messages of the Sultan that will be conveyed through the form of presentation of Beksan Ajisaka.
MELACAK DEWI SARASWATI: DALAM LEGENDA DAN SITUS Sulistijaningtijas, Erlina Pantja; Martiara, Rina; Vania, Venawa
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19860

Abstract

ABSTRAKTulisan ini merupakan upaya melacak hakikat Dewi Saraswati sebagai Dewi kesenian di Jawa melalui legenda dan situs. Salah satu situs yang paling kuat menghadirkan sosok ini adalah Candi Cetha dan Candi Sukuh di Karanganyar. Pelacakan ini dipandang penting untuk dilakukan karena keberadaan dan kapasitas Dewi Saraswati sangat erat kaitannya dengan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang didudukkan sebagai logo dan sekaligus ikon. Melalui pelacakan ini diharapkan diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai Dewi Saraswati, yang nantinya dapat dijadikan acuan dalam menata strategi dalam arah dan kiprah Institut Seni Indonesia, baik di bidang keilmuan maupun kesenimanan.ABSTRACT This research aims to trace the nature of Dewi Saraswati as the goddess of art in Java through legends and sites. One of the most powerful sites to present this figure is Cetha Temple and Sukuh Temple in Karanganyar. This tracking is considered important because the existence and capacity of Dewi Saraswati is closely related to the Yogyakarta Institute of Indonesian Art, which is both a logo and an icon. Through this tracking, it is hoped that a more comprehensive understanding of Dewi Saraswati, which can later be used as a reference in arranging strategies in the direction and work of the Indonesian Art Institute, both in the field of science and art.
KARAKTERISTIK VISUAL TARI SRIMPEN MANGGALA RETNA KARYA S. NGALIMAN TJONDROPANGRAWIT Supriyanti, Supriyanti; Fatimah, Siti Nurul
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19865

Abstract

ABSTRAKSrimpen Manggala Retna merupakan tari klasik gaya Surakarta, yang diciptakan oleh S. Ngaliman Tjondropangrawit, pada tahun 1970. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan karakteristik visual tari Srimpen Manggala Retna. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan koreografi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Penelitian karakteristik visual tari Srimpen Manggala Retna dapat diketahui melalui bentuk penyajian yang dapat dilihat secara visual tentang ciri khas yang ada pada tarian ini. Melalui bentuknya dapat dianalisis dari keutuhan jika dikaitkan dengan konsep Jawa tentang sêlirang sêtangkêp dan loro-loroning atunggal. Variasi dapat disejajarkan dengan wilêd dalam Hasta Sawanda. Repetisi atau pengulangan dapat diketahui dari perhitungan beberapa motif yang sering diulang. Kontras dapat diketahui dari motif gerak yang berlawanan. Transisi dapat disejajarkan dengan pancad dalam Hasta Sawanda.Urutan dapat diketahui dari struktur koreografi dan struktur iringan. Klimaks dapat diketahui dari struktur koreografi dan struktur gendhing. Proporsi dapat diketahui dari besar kecilnya kuantitas antara gerak, tempat pertunjukan dan penari. Keseimbangan dapat dikaitkan dengan konsep Jawa tentang sangkan paraning dumadi. Selaras dapat diketahui dari keselarasan gendhing pengiring dengan gerak-gerak yang lembut, runtut, luruh, teratur, serta mbanyu mili.ABSTRACTSrimpen Manggala Retna is a classical dance from the Surakarta style, created by S. Ngaliman Tjondropangrawit in 1970. This research aims to identify, analyze, and describe the visual characteristics of the Srimpen Manggala Retna dance. A qualitative research method with a choreographic approach was employed. Data was collected through literature review, observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using qualitative descriptive analysis. The visual characteristics of the Srimpen Manggala Retna dance can be identified through its visual presentation, revealing the unique features of this dance. Through its form, it can be analyzed in terms of its wholeness when linked to the Javanese concept of sêlirang sêtangkêp and loro-loroning tunggal. Variation can be equated with wilêd in Hasta Sawanda. Repetition can be determined by counting the frequency of repeated motifs. Contrast can be identified through opposing movement motifs. Transition can be equated with pancad in Hasta Sawanda. Sequence can be determined from the choreographic structure and the accompanying musical structure. Climax can be identified from the choreographic structure and the structure of the gendhing. Proportion can be determined by the quantity of movement, performance space, and dancers. Balance can be linked to the Javanese concept of sangkan paraning dumadi. Harmony can be identified from the harmony of the accompanying gendhing with the gentle, flowing, smooth, and rhythmic movements."
TUBUH, LAYAR, DAN KEPERCAYAAN DIRI: KONSTRUKSI EKSPRESI TARI SISWA SMA DALAM PRAKTIK DIGITAL TIKTOK Widiya, Gita; Jaeni, Jaeni; Fussala, Yahfenel Evi
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19861

Abstract

ABSTRAKPerkembangan media digital telah mengubah cara individu mengekspresikan diri, termasuk dalam praktik seni di kalangan siswa SMA dari ruang panggung menuju ruang layar yang lebih terbuka dan partisipatif. Salah satu platform yang menonjol adalah TikTok, yang memberi peluang bagi siswa untuk mengekspresikan gerak secara lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana ekspresi tari dan kepercayaan diri siswa dikonstruksi dalam praktik digital TikTok melalui relasi tubuh dan layar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang melibatkan 20 siswa SMA Negeri 1 Cicalengka sebagai partisipan. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis secara interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara tubuh dan media digital mendorong munculnya bentuk ekspresi tari yang lebih variatif dan kontekstual. Selain itu, proses publikasi konten dan respons audiens turut memperkuat kepercayaan diri siswa melalui tampil dan pengakuan sosial. TikTok tidak hanya menjadi sarana berbagi, tetapi juga ruang pembentukan identitas dan eksplorasi artistik. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan platform digital sebagai ruang eksplorasi ekspresi yang reflektif, dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara ekspresi diri dan tekanan sosial dalam budaya visual digital.ABSTRACTBody, Screen, and Self-Confidence: High School Students’ Construction of Dance Expression in TikTok Digital Practices. The development of digital media has transformed the way individuals express themselves, including in artistic practices among high school students, shifting from the stage to a more open and participatory screen space. One prominent platform is TikTok, which provides students with opportunities to express movement more broadly. This study aims to examine how students' dance expression and self-confidence are constructed in TikTok's digital practices through the relationship between the body and the screen. The study employed a qualitative approach with a case study design involving 20 students from SMA Negeri 1 Cicalengka as participants. Data were obtained through observation and in-depth interviews, then analyzed interpretively. The results show that the interaction between the body and digital media encourages the emergence of more varied and contextual forms of dance expression. Furthermore, the process of content publication and audience response also strengthens students' self-confidence through performance and social recognition. TikTok serves not only as a means of sharing but also as a space for identity formation and artistic exploration. This study recommends utilizing digital platforms as a space for reflective exploration of expression, while still paying attention to the balance between self-expression and social pressures in digital visual culture.
TINJAUAN ESTETIK TARI NYAMBUT LAWANG KIDUL SUMATERA SELATAN PADA HARI TARI DUNIA KE-19 DI ISI SURAKARTA Alvioline, Vanessia Lesa; Slamet, Slamet; Utomo Putro, Renaldi Lestianto
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19866

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas tentang nilai estetika yang terkandung dalam pertunjukan tari Nyambut Lawang Kidul, sebuah tarian penyambutan tradisional yang berasal dari Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Tarian ini dipentaskan pada Hari Tari Dunia ke-19 di Institut Seni Indonesia Surakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap unsur-unsur estetika yang muncul dalam tarian tersebut melalui pengamatan gerak, musik, kostum, properti dan tata rias. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keindahan tari Nyambut Lawang Kidul tercermin dari harmonisasi antara gerak yang gemulai, iringan musik tradisional yang khas, kostum berwarna emas yang memiliki makna simbolis, dan properti pendukung yang mengandung nilai budaya. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian estetika tari tradisional dan menjadi referensi dalam pelestarian seni pertunjukan daerah.ABSTRACTThis research discusses the aesthetic value contained in the performance of Nyambut Lawang Kidul Dance, a traditional welcoming dance from Lawang Kidul District, Muara Enim Regency, South Sumatra. This dance was performed on the 19th World Dance Day at the Indonesian Institute of Arts Surakarta. The purpose of the research is to reveal the aesthetic elements that appear in the dance through observation of movement, music, costumes, properties and makeup. This research uses a descriptive qualitative approach with data collection methods in the form of observation, interviews, and documentation. The results showed that the beauty of Nyambut Lawang Kidul Dance is reflected in the harmonization between graceful movements, typical traditional music accompaniment, gold-colored costumes that have symbolic meanings, and supporting properties that contain cultural values. This research is expected to enrich the study of traditional dance aesthetics and become a reference in the preservation of regional performing arts.
FUNGSI TARI BUNGA SILAT DALAM UPACARA ADAT NAIK PANAMUNGK SUKU DAYAK KANAYATN KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK Melania, Melania; Putri Aditya, Mega Cantik; Satrianingsih, Aline Rizky Oktaviari
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19862

Abstract

ABSTRAKUpacara adat Naik Panamungk pada masyarakat suku Dayak Kanayatn di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, merupakan tradisi sakral yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Jubata (Tuhan) dan penghormatan kepada Enek Arek (nenek moyang) atas hasil panen padi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan upacara adat Naik Panamungk serta menganalisis fungsi Tari Bunga Silat dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan antropologi dan koreografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan pelaku seni, serta studi dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, upacara adat Naik Panamungk terdiri atas empat tahapan utama, yaitu Nyangahatn Manta, Nyangahatn Masak, makan bersama, dan penutupan dengan Tari Bunga Silat. Setiap tahapan memiliki makna simbolik yang mencerminkan hubungan spiritual antara manusia dengan Jubata, leluhur, serta sesama anggota masyarakat. Tari Bunga Silat berfungsi sebagai sarana hiburan, ungkapan rasa syukur, dan media mempererat solidaritas sosial setelah seluruh prosesi ritual selesai. Tarian ini dibawakan secara individu maupun berpasangan laki-laki maupun perempuan dengan rentang usia 15 hingga 60 tahun, menggunakan properti rotan atau kayu, dengan iringan musik tradisional seperti Agung’k, Dau, dan Gadobong yang dimainkan secara langsung. Walaupun tidak termasuk dalam prosesi inti, Tari Bunga Silat memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi, memperkuat kebersamaan masyarakat, serta menegaskan identitas budaya suku Dayak Kanayatn. ABSTRACTThe Naik Panamungk traditional ceremony of the Dayak Kanayatn community in Ngabang District, Landak Regency, is a sacred tradition held every three years as an expression of gratitude to Jubata (God) and respect to Enek Arek (ancestors) for the rice harvest. This study aims to describe the process of the Naik Panamungk ceremony and analyze the function of the Bunga Silat Dance within its implementation. The research method used is qualitative with anthropological and choreographic approaches. Data were collected through observation, interviews with traditional leaders and artists, and documentation studies. Based on the findings, the Naik Panamungk ceremony consists of four main stages: Nyangahatn Manta, Nyangahatn Masak, communal feasting, and closure with the performance of the Bunga Silat Dance. Each stage carries symbolic meanings that reflect the spiritual relationship between humans, Jubata, ancestors, and fellow community members. The Bunga Silat Dance functions as a form of entertainment, an expression of gratitude, and a medium to strengthen social solidarity after the entire ritual process is completed. The dance is performed individually or in pairs by both men and women aged between 15 and 60 years, using rattan or wooden props, accompanied by traditional musical instruments such as Agung’k, Dau, and Gadobong, which are played live. Although not part of the main ritual process, the Bunga Silat Dance holds significant cultural value as it helps preserve tradition, strengthen community bonds, and affirm the cultural identity of the Dayak Kanayatn people.
PROSES KREATIF PENCIPTAAN TARI BEHUMA KARYA RITAWATI Baharuddin, Baharuddin; Winarti, Tutik; Supadma, Supadma
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19863

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berfokus pada proses kreatif penciptaan tari Behuma karya Ritawati yang diciptakan pada tahun 2013. Ide penciptaan tari Behuma terinspirasi dari elemen bentuk yang ada pada tari Jepen yaitu gerak, busana dan properti. Ritawati menyadari bahwa elemen-elemen tersebut memiliki potensi dan peluang untuk dikembangkan menjadi produk tari yang baru dan menarik. Proses kreatif penciptaan tari Behuma menggunakan kerangka pikir 4P dari Rhodes untuk melihat kreativitas yang ada di dalam penciptaan tari Behuma karya Ritawati. Untuk mendeskripsikan proses yang dilalui dalam menciptakan tari Behuma digunakan konsep penciptaan yang dikemukakan Alma Hawkins. Konsep tersebut berdasarkan pengamatan peneliti, pada kenyataannya diterapkan oleh Ritawati dalam mencipta tari. Penciptaan tari Behuma sebagai upaya dalam melestarikan dan mengenalkan kembali tari tradisional kepada generasi muda dalam bentuk tari yang lebih baru, terstruktur dan orisinal. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sebagai sumbangan wawasan, pemikiran, dan pengetahuan kepada pembaca mengenai proses kreatif penciptaan tari Behuma karya Ritawati.ABSTRACTCreative Process of Behuma Dance Creation by Ritawati. This research focuses on the creative process of creating the Behuma dance by Ritawati in 2013. The idea for creating Behuma was inspired by the elements of movement, costumes, and props found in the Jepen dance. Ritawati recognized the potential and opportunities to develop these elements into a new and captivating dance production. The creative process of creating Behuma utilizes Rhodes' 4P framework to explore the creativity within Ritawati's work. The concept of creation proposed by Alma Hawkins is employed to describe the process undergone in creating Behuma, which was observed by the researcher to be implemented by Ritawati. The creation of Behuma serves as an effort to preserve and reintroduce traditional dance to the younger generation in a newer, structured, and original form. This research aims to provide insights, thoughts, and knowledge about the creative process of creating Behuma by Ritawati, contributing to the reader's understanding and awareness.
SHANG: KOREOGRAFI YANG TERINSPIRASI DARI PROBLEMATIKA SAHANG (LADA) DI BANGKA Karim, Rezika Mariandy; Alfirafindra, Raja; Setyastuti, Setyastuti
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19864

Abstract

ABSTRAKShang merupakan karya tari video yang berangkat dari problematika pergeseran popularitas sahang atau lada di pulau Bangka Belitung dengan hadirnya tambang timah. Karya tari video ini menyampaikan tentang keterpurukan yang terjadi pada popularitas sahang dan juga kondisi alam Bangka yang semakin rusak. Tata panggung berupa pasir, sahang, junjung, daun kering, dan juga daun hijau menjadi bagian artistik pendukung karya tari video Shang.Motif gerak ragam dua dan ragam tiga dari tari Kedidi yang merupakan tari tradisional di daerah Bangka menjadi dasar pijakan dengan pengembangan aksi gerak dan disajikan dalam bentuk koreografi tunggal. Pemilihan musik tari dengan menampilkan iringan dambus, vokal daek, dan elemen suara tambang timah serta air menjadi penguat penyampaian alur dramatik.Hasil akhir dari proses produksi Shang berupa dance film yang menggunakan tiga sudut pandang pengambilan video di antaranya follow, top angle, dan high angle, dan juga tiga teknik pengambilan video di antaranya long shot, one shot one kill, dan juga insert.ABSTRACTShang is a video dance work that departs from the problem of shifting the popularity of sahang or pepper on the island of Bangka Belitung with the presence of a tin mine. This video dance work conveys about the downturn that has occurred in the popularity of sahang and also the natural condition of Bangka which is increasingly damaged. The stage arrangement in the form of sand, sahang, jujung, dry leaves, and also green leaves became an artistic part of the supporting Shang's video dance work. The motifs of the two and three variations of the Kedidi dance, which is a traditional dance in the Bangka area, are the basis for developing the motion of the Shang video dance work combined with modern dance techniques, namely the body wave technique and vibration, presented in the form of a single choreography. The choice of dance music featuring dambus accompaniment, daek vocals, and elements of the sound of tin mines and water strengthens the delivery of the dramatic flow. The final result of Shang's production process is a dance film that uses three video shooting points of view including follow, top angle, and high angle, as well as three video shooting techniques including long shot, one shot one kill, and also insert.