cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Kibas Rumbai Nabila Triyani
Joged Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.736 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i2.2547

Abstract

Kibas Rumbai merupakan karya tari yang terinspirasi dari gerak kibas dan efek rumbai pada kostum. Kibas adalah gerakan yang dilakukan dengan mengayun-ayunkan beberapa anggota tubuh seperti kepala, badan, tangan, dan kaki yang digerakkan secara bergantian tetapi tidak dilakukan berurutan. sedangkan Rumbai ialah kostum yang pada tarian aslinya terbuat dari daun pisang yang dipotong kurang lebih dua atau tiga jari tangan. Pada karya ini daun yang digunakan adalah daun Gajeh. Daun gajeh memiliki tekstur yang ringan dan menghasilkan suara ketika digerakkan para penari sesuai dengan apa yang diharapakan penata.Kibas Rumbai terisnpirasi dari tari Hudoq Kayoq pada masyarakat Dayak Bahau di Kalimantan Timur. Tari Hudoq Kayoq bertujuan meminta perlindungan Tuhan Yang Maha Esa agar tanaman padi terlindung dari serangan binatang yang dianggap sebagai hama berbahaya seperti monyet, babi, tikus, serta binatang perusak lainnya. Tari Hudoq biasanya digelar di lapangan atau sawah yang akan ditanami padi. Tari ini menggunakan ritme musik yang cepat dengan gerakan Nyidok dan Ngedok.Pada karya tari ini, Nyidok dan Ngedok menjadi sumber dasar gerak yang akan di gunakan sebagai langkah awal ekplorasi penemuan gerak yang akan di kembangkan dari pola ruang, waktu, dan tenaga. Karya tari ini bertipe studi yang artinya memfokuskan pada gerak berbatas dan spesifik karena tari studi menekankan pada terwujudnya sebuah kompleksitas gerak yang khas. Koreografi tari kelompok dengan jumlah penari 6 orang, dengan pembagian 3 orang penari laki-laki dan 3 orang penari perempuan.
MEDOMBO Enggar Trisnawati Yudhiono
Joged Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.186 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i2.2543

Abstract

Medombo adalah judul dari karya yang diwujudkan ke dalam sebuah koreografi kelompok, menunjuk pada konsep dasar prosesi ritual Mamang. Medombo diambil dari bahasa asli suku Paser yang artinya menaikkan. Medombo yang dimaksudkan adalah rangkaian awal pada elemen penting yang terdapat pada ritual Mamang yaitu ritual mengawinkan bibit padi guna menghasilkan bibit padi unggul dengan meminta jasa Mulung dan Penggading mengawinkan padi layaknya sepasang pengantin.Karya tari ini menggunakan tipe tari dramatik dengan mengangkat suasana prosesi dalam ritual Mamang. Berkaitan dengan konsep, pilihan bentuk karya dan tema yang dipilih adalah prosesi ritual Mamang, merupakan upacara yang dilaksanakan pada penggarapan padi dalam sistem ladang berpindah. Koreografer memvisualisasikan sebuah karya koreografi kelompok dengan penari yang berjumlah sepuluh orang penari terdiri dari lima penari laki-laki terbagi menjadi tiga orang penari laki-laki sebagai peladang laki-laki dan dua orang penari laki-laki sebagai simbolisasi padi dan Mulung atau dukun, serta lima penari perempuan terdiri dari tiga orang penari perempuan sebagai peladang perempuan dan dua orang penari perempuan sebagai Dewi Sri lambang kesuburan atau simbolisasi padi dan Penggading/Itak Pare atau pembantu dukun.Bentuk penyajian dalam karya ini adalah simbolis representasional dengan menggunakan properti tari berupa gelang atau gitang sebagai pendukung suasana sakral dan penyampaian pesan pada ritual tersebut. Penggunaan properti gitang dikomposisikan dengan memperhatikan aspek ruang, waktu dan tenaga pada karya ini. Keberhasilan karya ini didukung oleh banyak pihak dan elemen-elemen yang mempengaruhi diantaranya musik, artistik, pencahayaan, tata suara serta rias dan busana.
NGOYOG BALI JINJIT Jiyu Wijayanti
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.577 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2495

Abstract

Ngoyog bali Jinjit, adalah judul dari koreografi yang dirancang, ditarikan oleh empat penari putri. Istilah ngoyog bali jinjit didapat dalam teknik gerak dalam tari gaya Yogyakarta yang selanjutnya dijadikan rangsang kinestetis, disajikan secara simbolik representasional dengan tipe tari studi dan murni.Metode yang dipakai dalam penciptaan tari ini adalah metode kontruksi oleh Jacqueline Smith. Hal ini dipandang sesuai diterapkan dalam membimbing mahasiswa pemula untuk mewujudkan suatu koreografi. Tahapan-tahapan yang sifatnya hirarkis, yang satu mengkait dengan yang lain, yang dimulai dari adanya rangsang, kemudian ditanggapi dengan memperhatikan langkah-langkah dan tahapan akhirnya mampu membentuk rangkaian motif yang selanjutnya dirangkai dalam sebuah kesatuan yang disebut dengan koreografi.Ngoyog Bali Jinjit dipahami sebagai gerak yang terus menerus, dari titik kembali ke titik, memberi kesan ada suatu proses perputaran. Unsur-unsur putaran tangan, kaki, dan badan diujudkan dalam motif-motif gerak yang terangkai. Permainan ruang dan waktu mengacu pada metode konstruksi tiga yaitu motif menuju komposisi kelompok, dengan memvariasikan antara gerak rampak dan berturutan.
MAKNA SIMBOLIK TARI ASMARADANA KARYA PRAGINA GONG YOGYAKARTA Nana Noviana
Joged Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.853 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i2.2548

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik tari Asmaradana karya Pragina Gong Yogyakarta. Pragina Gong adalah sebuah komunitas tari yang dibentuk sejak 3 Desember 2005 oleh mahasiswa Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta angkatan tahun 2004. Grup ini lahir dari peserta grand finaslis ajang pencarian bakat Indonesia’s got Talent yang diadakan oleh salah satu stasiun TV swasta Indonesia.Karya tari Praginagong berangkat dari unsur tradisional hingga kontemporer. Karya-karya tari yang diciptakan semua berangkat dari ide kreatif yang berpijak pada unsur tradisi, namun telah dikemas menjadi suatu sajian yang lebih inovatif dan bersifat entertainment (seni sebagai hiburan). Salah satu karya terbaiknya adalah tari Asmaradana.Teori yang digunakan adalah teori semiotika dari Ferdinad de Saussure. Data yang digunakan dikumpulkan dengan teknik observasi non partisipan melalui melihat pertunjukan, mengamati anggota grup Pragina Gong berlatih serta dengan wawancara. Berdasarkan pengamatan tersebut dapat disimpulkan tari Asmaradana merupakan tari kreasi yang seringkali ditampilkan oleh grup pragina Gong. Tari tersebut selau dikembangkan sesuai dengan kebutuhannya. Konten dalam tari Asmaradana ini memiliki konsep yang menggambarkan tentang cinta kasih, keberagaman antar sesama manusia, bangsa dan tanah air yang diwujudkan dalam bentuk gerak, properti tari, iringan musik dan kostum.
Pergeseran Fungsi Tari Berutuk dari Desa Trunyan, Bali Fisabil Mahardika Putra
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.793 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2500

Abstract

Tulisan ini menjawab pertanyaan tentang fungsi tari Berutuk dari desa Trunyan, Bali. Pertunjukan tari ini dilakukan oleh laki-laki yang masih perjaka berjumlah ganjil, namun yang umum dilaksanakan berjumlah 21 orang. Para penari berutuk ini merupakan simbol dari penjaga Ratu Sakti Pancering Jagat beserta permaisurinya. Pakaian yang digunakan terbuat dari daun pisang kepok yang kering dan menggunakan topeng.Pada awalnya kesenian Berutuk sangat disakralkan karena dapat memberi kesejahteraan masyarakat setempat dengan perwujudan datangnya hujan, namun sejak tahun 1997 mengalami desakralisasi. Saat ini kesenian tersebut mengalami pergeseran fungsi karena modenisasi dimana menggunakan pendekatan rasionalisme yang mana rasional bertolak belakang dengan takhayul. Artinya kesenian tersebut dapat diselenggarakan dengan sangat sakral, tetapi juga dapat diselenggarakan untuk kepentingan hiburan atau kesenian semata.Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan. Teori yang digunakan adalah teori rasional dimana teori tersebut berhasil menjawab bahwa pergeseran fungsi tari berutuk dikarenakan rasio. Teori ini tidak mempercayai hal-hal yang tidak rasional.
MAKNA DAN SIMBOL TARI DEWA MEMANAH DALAM UPACARA ADAT ERAU DI KERATON KUTAI KARTANEGARA Auliana Rizka Luthfitasari
Joged Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.035 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i2.2544

Abstract

Penelitian ini menganalisis makna dan simbol tari Dewa Memanah yang merupakan salah satu tari dalam ritual perayaan adat Erau Erau di Keraton Kutai Kartanegara. Tari Dewa Memanah merupakan tarian yang wajib ada dalam upacara ritual Bepelas dan ditarikan oleh seorang penari perempuan yang disebut Dewa Belian dengan properti sebuah busur dan anak panah yang ujungnya bercabang tujuh dan berapi.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan semiotika Pierce. Bagi Pierce tanda dan pemaknaan bukan merupakan sebuah struktur melainkan suatu proses yang berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang disebutnya semiosis. Proses semiosis ini melalui tiga tahap yaitu tahap pertama adalah penyerapan aspek representamen tanda melalui panca indra, kedua mengaitkan secara spontan dengan pengalaman dalam kognisi manusia yang memaknai representament itu (disebut object), dan ketiga menafsirkan object sesuai dengan keinginannya, tahap ketiga ini disebut interpretant.Hasil dari penelitian ini adalah tari Dewa Memanah merupakan penggambaran seorang dewa yang sedang memanah dengan maksud untuk mengusir roh-roh jahat agar tercipta ketentraman, keselamatan, dan keamanan selama prosesi ritual Bepelas berlangsung.
BENTUK KOREOGRAFI TARI BEDANA HASIL REVITALISASI TAMAN BUDAYA PROVINSI LAMPUNG Eris Aprilia
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.942 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2496

Abstract

Tari Bedana merupakan tari tradisi masyarakat Lampung yang berkembang di wilayah pesisir pada masa perkembangan agama Islam. Seiring perkembangannya tari Bedana sempat mengalami pasang surut, hingga akhirnya dilakukan revitalisasi dan ditampilkan kembali oleh Taman Budaya provinsi Lampung sebagai bentuk tari yang baru namun tetap berpijak pada nilai-nilai dan pola tradisi yang ada. Bagi masyarakat Lampung, tari Bedana merupakan tari pergaulan yang di dalamnya berisi filosofi pencerminan tata kehidupan masyarakat Lampung, yang digunakan sebagai simbol adat istiadat agama dan etika dalam pergaulan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk koreografi hasil revitalisasi. Bagaimana proses revitalisasi yang dilakukan Taman Budaya sehingga di dapatkan bentuk tari Bedana saat ini. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan koreografi yang difungsikan untuk menganalisis kajian teks koreografi. Pendekatan koreografi merupakan cara mengkaji analisis teks koreografi suatu tarian dengan melihat aspek bentuk gerak, teknik gerak, gaya gerak, jumlah penari, jenis kelamin dan postur tubuh, struktur keruangan, struktur waktu, struktur dramatik, tata teknik pentas yang meliputi tata cahaya dan tata rias busana.Hasil analisis koreografi menunjukkan bahwa tarian ini yang sebelumnya memiliki tiga belas ragam gerak, saat ini menjadi sembilan ragam gerak yang telah dibakukan. Gerak tersebut meliputi tahtim, khesek injing, khesek gantung, ayun, ayun gantung, belitut, jimpang, gelek, humbak moloh. Selain itu pada peralatan pendukung lainnya seperti busana dan aksesoris tari Bedana saat ini ditambahkan busana yang mencirikan daerah Lampung. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa proses revitalisasi yang dilakukan oleh Taman Budaya dan instansi yang terkait telah membawa jati diri hingga menunjukkan ciri khas atau identitas daerah Lampung.
BENTUK KOREOGRAFI REYOG KENDANG SANGGAR “SANGTAKASTA” KABUPATEN TULUNGAGUNG Yussi Ambar Sari
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.441 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2501

Abstract

Reyog Kendang merupakan tarian khas Tulungagung, yang tergolong tarian kelompok dengan jumlah penari 6 sesuai jumlah properti kendang. Adapun kendang sebagai properti utamanya, terdiri dari: Kendang 1, Kendang 2, Trinting, Imbal 1, Imbal 2, dan Keplak. Tarian ini bisa ditarikan oleh laki-laki ataupun perempuan. Tarian ini menggambarkan arak-arakan prajuri Kediri ketika mengiringi pengantin Ratu Kilisuci ke Gunung Kelud. Inti dari beberapa cerita tersebut tentang lamaran seorang Putri cantik yang bernama Klilisuci. Salah satu sanggar yang melestarikan tarian ini adalah Sanggar Sangtakasta, pimpinan Endin Didik Handoko, yang diresmikan tanggal 13 April 2013.Penelitian ini menganalisis bentuk Koreografi Reyog Kendang Sanggar Sangtakasta di Tulungagung. Untuk itu digunakan pendekatan koreografi yang i analisisi koreografi dengan analisis bentuk gerak, teknik gerak, isi gerak, aspek ruang, aspek waktu, aspek tenaga, dan gaya gerak.Hasil analisis menunjukkan bahwa Sanggar Sangtakasta memiliki variasi dalam bentuk gerak, rias dan tata iringan. Jumlah 8 penari yang terdiri dari4 penari perempuan dan 4 penari laki-laki, membuat koreografi dalam wujud gerak, desain lantai, dan permainan level tarian ini semakin menarik. Rias yang digunakan penari perempuan menggunakan rias korektif, sedangkan penari laki- laki menggunakan rias karakter. Instrumen selain kendang dalam tarian ini yaitu saron demung, kenthongan, calung, gitar, siter, tamborin, drum, gong, kenong, suling, rinding, angklung, dan bass.
BASIR BELIAN Harianto Harianto
Joged Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.301 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i2.2545

Abstract

Basir Belian merupakan judul karya tari yang terinspirasi dari upacara Berayah, yaitu sebuah ritual pengobatan suku Dayak Jalai yang menganut kepercayaan Kaharingan yang dipimpin oleh seorang Belian. Basir berarti laki-laki yang menjadi seorang Belian. Jadi, Basir Belian dipilih sebagai judul karya agar dapat mewakili rangkaian dari upacara ritual itu sendiri, serta sosok pemimpin atau Belian Bancir yang juga diartikan sebagai seorang Basir, juga seorang Belian dalam ritual pengobatan. Karya Basir Belian menyampaikan beberapa hal yaitu fenomena keperempuanan dalam sebuah upacara ritual yang dilakukan oleh Belian Bancir dan aktivitas yang dilakukan Belian Bancir dalam upacara ritual.Gerak dasar dalam karya tari ini banyak terinspirasi dari gerak-gerak tradisi Kalimantan Tengah dengan kualitas gerak keras sebagai penggambaran sisi maskulin laki-laki Dayak dan kualitas gerak lembut visual dari roh gaib yang memiliki sifat feminin. Motif vibrasi dan stakato yang dipadukan dengan beberapa gerak tradisi Kalimantan Tengah menghasilkan beragam motif gerak baru yang memperkaya garapan ini. Selain itu aktivitas yang terjadi dalam sebuah upacara ritual melengkapi dramatisasi yang dibangun dari awal hingga akhir tarian.Karya tari Basir Belian disajikan dalam garap koreografi kelompok besar, sembilan penari laki-laki dengan format musik live music dipentaskan di proscenium stage Jurusan Tari ISI Yogyakarta. Tata rias dan busana merupakan hasil kreasi penata yang tetap mengacu pada bentuk asli dari tata rias dan busana yang dikenakan Belian Bancir pada saat upacara ritual.
JALA (Jaring Menangkap Ikan) Riska Gebrina
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.949 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2497

Abstract

Karya tari Jala merupakan gambaran aktivitas masyarakat pesisir Aceh dalam menjalani keseharian sebagai seorang nelayan dalam usaha mencari rezeki. Di dalamnya suasana kegotongroyongan dengan nilai kekompakkan, semangat dan kebersamaan. Jala yang artinya adalah jaring untuk menangkap ikan, proses yang dilakukan pada tari ini menggunakan properti tali dan dirajut menjadi sebuah jala atau jaring.Berawal dari rangsang visual yaitu saat melihat para nelayan yang pergi ke laut untuk mencari ikan sebagai mata pencaharian sehari-hari. Tari ini menceritakan tentang aktivitas para nelayan yang ada di Aceh yang menangkap ikan di laut, namun lebih memperlihatkan bagaimana cara membuat sebuah rangkaian tali untuk menangkap ikan yang disebut Jala.Pendekatan kreativitas adalah milik semua orang yang mampu atau bisa membuat sebuah inovasi baru, baik itu inovasi baru tanpa adanya unsur tradisi maupun inovasi yang ada perkembangan tradisi berdasarkan pemikiran masing-masing seniman yang mempunyai daya kemampuan yang berbeda-beda juga. Melalui pendekatan inilah cara berpikir dan cara bekerja secara kreatif akan dibangun. Pendekatan kedua adalah koreografi, merupakan suatu seni dalam membuat dan merancang suatu komposisi tari, yang digunakan sebagai landasan dalam mencipta yang meliputi bentuk penyajian tari, gerak tema, judul, tata rias, tata busana, pola lantai, musik, properti.

Page 7 of 18 | Total Record : 172