cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
“TITIS TUTUS” Budi Jaya Habibi
Joged Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.6 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i2.2541

Abstract

Wadian Dadas merupakan ritual pengobatan suku Dayak Ma‟anyan yang dipimpin oleh seorang wanita. Konon dalam pertapaannya untuk menjadi seorang Wadian, Ineh Payung Gunting mendapatkan ilham dari pertarungan burung elang dengan ular tedung, dan macan, sehingga teciptalah sebuah tarian ritual yang mengadopsi gerak ketiga binatang tersebut. Dewasa ini muncul fenomena perubahan pelaku ritual yang semula seorang wanita menjadi laki-laki yang bersifat keperempuanan yang biasanya masih memiliki hubungan darah.Fenomena perubahan pelaku ritual Wadian Dadas dalam karya ini disebut sebagai Wadian Liminal. Wadian Liminal diartikan sebagai manusia netral yang berada pada posisi di ambang atau di antara. Posisi liminal ini adalah sebuah fase penghilangan jati diri untuk membentuk sebuah citra imaji baru dalam ritual. Analisis berikutnya, ketiga binatang yang menjadi sumber gerak tari ritual Wadian Dadas, sesungguhnya adalah perlambangan tiga dunia. Burung elang sebagai penguasa alam atas, ular tedung sebagai penguasa alam bawah, dan macan sebagai penguasa alam tengah.Titis Tutus dipilih sebagai judul karya tari yang berorientasi pada sejarah, esensi tari ritual, dan perubahan pelaku Wadian. Titis diartikan sebagai darah keturunan, dan Tutus berarti anak keturunan. Karya tari dengan kekuatan sebelas penari ini dikemas dalam bentuk fragmen. Penari akan hadir menjadi titik fokus utama di proscenium stage dengan balutan busana bernuansa Dayak vintage. Karakter penari laki-laki yang feminin merupakan gambaran liminalitas pelaku ritual Wadian Dadas. Materi gerak tari mengadopsi gerak nginsai’, juga akan dihadirkan gerak-gerak hasil pencarian tentang esensi gerak ular tedung, burung elang, dan macan, sebagai bentuk inti dari tarian ritual Wadian Dadas. Musiknya bersumber dari irama Palu Dadas dan Saranginging dengan pola garap orchestra untuk menguatkan setiap fragmen.
FUNGSI TARI BELIAN NAMANG PADA MASYARAKAT KEDANG IPIL DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR Dwi Ariyanti
Joged Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.538 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i2.2546

Abstract

Tari Belian Namang merupakan tari tradisi yang disakralkan yang hidup di masyarakat desa Kedang Ipil Kalimantan Timur. Tari Belian Namang menjadi bagian dari beberapa upacara adat yang dimiliki masyarakat Kedang Ipil, yang merupakan gambaran perjalanan yang sangat jauh dari masyarakat untuk bertemu dengan Dewa. Perjalanan itu dilakukan untuk memberitahu dan momohon izin kepada Dewa, bahwa mereka akan melakukan kegiatan. Mereka berharap agar kegiatan yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar dan terhindar dari roh-roh jahat.Untuk membantu menemukan jawaban dari permasalahan, maka dipakai teori Struktural Fungsional Radcliffe Brown. Menurut Brown fungsi lebih mengacu dalam struktur sosial yang di dalamnya memiliki relasi antar sistem yang saling berkaitan.Hasil penelitian tari Belian Namang memiliki tiga fungsi yaitu, fungsi ritual, fungsi sosial, dan fungsi estetis. Fungsi ritual merupakan salah satu wadah yang memposisikan tari Belian Namang menjadi hal yang penting. Salah satu contohnya dalam setiap pelaksanaan upacara ritual, tari Belian Namang selalu dipentaskan dengan tujuan agar apa yang diinginkan oleh para pelaku upacara dapat terlaksana. Fungsi yang kedua yaitu fungsi social, yang menempatkan tari Belian Namang sebagai wadah untuk hidup saling bersosialisasi antar sesama. Pada pementasan tari Belian Namang seluruh lapisan masyarakat turut serta membantu demi kelancaran pementasan. Fungsi ketiga adalah fungsi estetis, yang terlihat dari beberapa gerakan tari Belian Namang. Gerak tari ini membutuhkan kerja sama antar penari. Sikap kebersamaan ini menggambarkan juga sikap keseharian masyarakat Kedang Ipil.
UPAYA PELESTARIAN TARI TREBANG RANDU KENTIR PADA SANGGAR ASEM GEDE DESA MUNTUR KECAMATAN LOSARANG KABUPATEN INDRAMAYU-JAWA BARAT Irayanti Irayanti
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.193 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2498

Abstract

Tari Trebang Randu Kentir merupakan pengembangan dari Kesenian Trebang yang diperkirakan telah berkembang cukup lama di Losarang. Kesenian Trebang telah akrab dengan kepercayaan animisme, nuansa kehinduan, hingga pengaruh dari agama Islam sekitar abad ke 17. Tari Trebang Randu Kentir mulai dikenalkan secara luas pada tahun 1970 oleh Cahya dengan mengangkat sebuah cerita rakyat tentang hanyutnya Nyi Dariwan di Sungai Cimanuk. Pada tahun 2009, Tari Trebang Randu Kentir diangkat kembali oleh Dede Jaelani dari Sanggar Asem Gede. Usaha yang dilakukan Dede Jaelani, sejalan dengan apa yang tengah pemerintah Indramayu lakukan mengenai program revitalisasi pada tahun 2011 dengan menghidupkan kembali kesenian daerah yakni Tari Trebang Randu Kentir agar dapat dilestarikan, dikelola dan dikembangkan.Pendekatan yang digunakan yaitu ilmu sosiologi dan koreografi. Ilmu sosiologi diharapkan dapat membantu untuk mengetahui aktivitas dari Sanggar Asem Gede dan apresiasi masyarakat terhadap Tari Trebang Randu Kentir. Pendekatan koreografi digunakan untuk membedah aspek bentuk, teknik, isi serta pengembangan gerak dalam koreografi Tari Trebang Randu Kentir pada Sanggar Asem Gede.Beberapa cara dan usaha pelestarian yang dilakukan Sanggar Asem Gede, yaitu mengembangkan bentuk, pembagian materi dan susunan gerak (SD, SMP, SMA/sederajat), pelatihan tari, dan sosialisasi. Tidak hanya Sanggar Asem Gede, pemerintah dan masyarakat secara tidak langsung diharapkan mampu mendukung dan menjaga Tari Trebang Randu Kentir agar masih bias dinikmati oleh generasi berikutnya.
PAT PINURBA Oky Bima Reza Afrita
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.162 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2803

Abstract

Pat Pinurba merupakan koreografi kelompok yang terinspirasi dari konsep kiblat papat lima pancer yang berarti “empat arah yang ke lima pusat” di Jawa. Judul ini diambil dari bahasa Sanskerta, Pat berasal dari kata papat yang berarti empat, sedangkan Pinurba berasal dari kata purba yang berarti kekuasaan. Pat Pinurba dapat dimaknai sebagai empat yang dikuasai/dikendalikan.  Karya tari Pat Pinurba diekspresikan secara simbolis dan ditarikan oleh delapan penari, empat penari putra dan empat penari putri. Esensi kualitas gerak lembut dan keras (kendho dan kenceng) serta kualitas gerak dengan tempo lambat/pelan dalam teknik tari alusan Jawa yang tenang, mengalir, lambat dan detail menjadi inspirasi dasar untuk mengekspresikan karya Pat Pinurba. Karya tari ini didukung dengan video mapping, sehingga pencahayaan yang digunakan membutuhkan beberapa special light. Pendekatan koreografis yang digunakan pada karya tari Pat Pinurba yaitu sensasi ketubuhan, sensasi emosi, sensasi imaji, dan ritus ekspresi.Pat Pinurba is a dance art work created as a group choreography. This title took from sanskerta language, “Pat” from the word papat which means four, then “Pinurba” from the word purba which means control. Pat Pinurba has a meaning to control the four. Kiblat papat lima pancer concept which means “four directions then the fifth is the central” in Java, was take to express Pat Pinurba. Pat Pinurba shown symbolisly and danced by eight dancers, four male dancers and four female dancers. The soft and strong movement quality (kendho and kenceng) also the dinamic movement in alusan dance from Java which are smooth, flow, slow, and detail become a basic inspiration to express Pat Pinurba. This dance art work supported with a video mapping, so it needs a special lights. To create this choreography it used fisical sensation, emosional sensation, imaginal sensation, and ritual expression.
BALI JAWI Menghidupkan Kembali Nilai-Nilai Luhur Manusia Jawa Anter Asmorotedjo
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.486 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2684

Abstract

Tari berjudul Bali Jawi, sebuah karya yang terinspirasi dari sebuah ritual tradisi Jawa yang sering disebut dengan sowan leluhur. Ritual tersebut sering dilakukan oleh masyarakat penganut paham spiritual Jawa atau yang sering disebut dengan kejawen. Ritual sowan leluhur dipercaya sebagai warisan para leluhur Nuswantara. Para pelaku spiritual Jawa percaya bahwa para leluhur selalu njampangi anak cucunya, maka ritual tersebut sebagai wujud bakti dan bukti memuliakan para leluhurnya. Salah satu situs yang sering dikunjungi untuk ritual tersebut adalah Watu Gilang di Kotagede yang merupakan singgasana raja peninggalan kerajaan Mataram. Dari ritual yang dilakukan, banyak nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Tetapi di era modern saat ini ritual semacam itu sudah banyak ditinggalkan orang. Orang Jawa sendiri semakin menjauh bahkan tidak mengenal ritual semacam itu. Ironisnya ritual semacam itu dianggap sebagai tindakan yang menyesatkan. Padahal realitanya banyak ajaran kebaikan serta nilai-nilai keluhuran yang ada. Akibatnya orang Jawa semakin kehilangan jati dirinya sebagai manusia Jawa. Nilai-nilai luhur manusia Jawa semakin luntur dan banyak orang Jawa yang kehilangan identitasnya, Wong Jawa Ilang Jawane. Melihat realita yang terjadi terkait nilai-nilai luhur Jawa yang mulai luntur, didukung pengalaman empiris, serta proses refleksi diri memunculkan suatu energi untuk mengangkat persoalan tersebut dalam sebuah karya tari agar manusia Jawa kembali menjadi Jawa. Situs Watu Gilang sebagai tempat yang dijadikan sebagai titik awal penelitian artistik dalam penciptaan karya ini. Hasil riset di lapangan, informasi dari berbagai sumber, serta referensi dari literasi yang ditemukan dijadikan sebagai kekuatan karya Bali Jawi. Gagasan ditransformasikan ke dalam simbol-simbol ketubuhan, musik, properti, serta elemen pendukung lainnya. Simbol-simbol yang dihadirkan diharapkan mampu menginspirasi dalam upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur manusia Jawa. Pencipta tari mencoba melihat kembali masa lalu yang dikaitkan dengan masa kini, sebagai bekal untuk membaca dan melihat masa depan. Nilai-nilai luhur manusia Jawa kembali para ranahnya, dan menjadi gerbang awal menuju kejayaan Nuswantara. The dance Bali Jawi is inspired by a ritual from the Javanese culture that used to called sowan leluhur; it is a ritual where people do an ancestral pilgrimage. This ritual is often done by a Javanese spiritual person or in Javanese culture called kejawen. The ancestral pilgrimage, sowan leluhur ritual is believed as a Nuswantara heritage. The Javanese spiritual person believes that their ancestors are always njampangi; a term in Javanese means „keep watching from a distance‟ their posterity. So, this ritual is often believed as a devotional form to the ancestors. One of the site that often be visited for this ritual is Watu Gilang at Kotagede that was the throne of a king of Mataram Kingdom. There are a lot of honorable values of Java in this ritual. In the other hand, this kind of ritual has been forgotten in this modern era. Javanese people tend to make a distance from this kind of ritual. Ironically, they also tend to consider this kind of ritual as a misguiding doctrine while the fact is there are so many values of kindness included in it. This reality, ironically, make the Javanese people lost their Javanese identity. The honorable values as a Javanese human faded day by day and most of them get lost; it is called “Wong Jawa Ilang Jawane”. Witnessing this reality that the Javanese honorable values begin to be faded, supported by empirical experiences, and also self-reflection brings out energy to raise this issue into a dance work. The Watu Gilang site is the starting point of the artistic research in this dance work creation. The result of the field research, literature research, and information gathered from various resources are processed to be a power from the dance Bali Jawi. The ideas are transformed into bodily symbols, music, dance properties, and other supporting elements. Every symbol presented on this dance are expected to tell the meaning and core values of the dance itself so Bali Jawi could be a meaningful yet high-quality that has honorable values of Java. The dance work is as well expected to inspire people in order to revive Javanese human honorable values. The choreographer is trying to look back to the past and connect it with the present time, as a provision to understand and forecast the future. The honorable values of Javanese human are back to its realm and become the initial gate into the glory of Nuswantara.
ANALISIS KOREOGRAFI TARI MELINTING LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Rahma Fatmala
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.19 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2810

Abstract

Tari Melinting adalah tari tradisional Lampung yang diciptakan oleh Ratu Melinting di Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur pada abad ke-16. Tari ini ditarikan oleh delapan orang penari yang terdiri dari empat orang penari putra dan empat orang penari putri dengan pola lantai yang unik. Keunikan lainnya adalah kostum yang dipakai, yakni siger Melinting yang menutupi sebagian wajah penari perempuan, musik iringan,  dan properti yang dipakai yaitu kipas, Cara menggerakkan kipas, serta henjutan kaki penari menjadikan penulis tertarik untuk menganalisis koreografi tari ini.   Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan pendekatan koreografi dengan menganalisis teks koreografi melalui aspek bentuk, teknik dan isi, serta digunakan pendokumentasian motif gerak melalui notasi Laban. Aspek bentuk Tari Melinting terbagi menjadi empat bagian, bagian ini dapat ditandai dengan perubahan musik iringan, pola lantai, dan motif geraknya. Tari Melinting memiliki dua belas motif gerak. Gerak tersebut meliputi gerak babar kipas lapah tebeng, jong sumbah, balik palau, kenui melayang, mapang randu, ngiyau bias nginjak lado, sughung sekapan, salaman, timbangan, babar kipas suali, ngiyau bias nginjak tahi manuk, dan luncat kijang.   Gerak Tari Melinting memiliki makna tentang kegagahan dan kelembutan putra putri Lampung. Gerak pada penari putra yang gagah dan lincah merupakan bentuk tanggung jawab lakilaki untuk menyejahterakan dan melindungi keluarga. Gerak pada penari putri yang lembut dan halus melambangkan kelembutan wanita Lampung. Serta gerak Tari Melinting memiliki ciri khas dalam geraknya yaitu terdapat efek enjutan ketika melakukan gerak Tari Melinting. Melinting Dance is a traditional dance created by Lampung Ratu Melinting in Labuhan Maringgai East Lampung Regency in the 16th century. Melinting dance is categorized as a group dance composition, because it can be seen from the form of performances that are danced by eight dancers. Melinting Dance uses the fan property held by the dancers. Melinting Dance describes the valor of Lampung princess. Along with its development, Melinting Dance has changed the function of dance ceremony to dance entertainment. From the change of the function Melinging Labuhan Maringgai Dance undergoes choreography changes but does not eliminate the basic movements that have been there since the first. Clothing on Melinting Dance wearing traditional clothes Lampung with corrective makeup. The accompaniment of Melinting Dance uses three types of percussion / Lampung accompaniment.  In this case the main problem is the choreography analysis Dance Melinting Labuhan Maringgai East Lampung regency. To answer the problem then used a choreography approach by analyzing choreographic texts through aspects of form, technique and content, and used documentation motion motion through Laban notation. Aspects of the form Melinting Dance is divided into four parts, this section can be marked by changes in music accompaniment, floor patterns and motion motifs. Melinting Dance has twelve motive motifs. The motion includes babar kipas lapah tebeng, jong sumbah, balik palau, kenui melayang, mapang randu, ngiyau bias nginjak lado, sughung sekapan, salaman, timbangan, babar kipas suali, ngiyau bias nginjak tahi manuk, lompat kijang. On the motion of Melinting Dance has a meaning about the valor of Lampung daughter. The motion of a handsome and agile male dancer is a form of male responsibility for the welfare and protection of the family. The motion of the soft and delicate female dancer symbolizes the softness of the Lampung woman. As well as the motion of Melinting Dance has a characteristic in motion that there are effects of driving when doing motion Dance Melinting.
BENTUK PENYAJIAN TARI LUKAH GILO DI MASYARAKAT SIJUNJUNG, SUMATERA BARAT Devi Kurnia Santi
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.938 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2809

Abstract

Tari Lukah Gilo merupakan salah satu kesenian yang hidup dan berkembang di Sijunjung, Sumatera Barat yang syarat dengan kekuatan supranatural dan unsur magis. Tari ini menggunakan lukah (bubu) sebagai properti utamanya. Pada dasarnya, tarian ini berupa kontrol atau pengendalian lukah (bubu). Keunikan pada tarian ini terletak pada  properti lukah yang dapat menari dan bergerak sendiri setelah dibacakan mantera oleh kulipah, sehingga lukah tersebut akan melompat dan juga menari tanpa digerakkan oleh seseorang.    Masalah dalam penelitian ini adalah bentuk penyajian tari Lukah Gilo di masyarakat Sijunjung, Sumatera Barat. Dalam membedah masalah yang ada, penelitian ini menggunakan metode deskripsi analisis dengan menggunakan pendekatan antropologi sebagai konteks dalam melihat keberadaan tari Lukah Gilo, yang dipengaruhi oleh aspek sosial, budaya, sejarah, latar belakang dan masyarakat pendukungnya. Untuk membedah bentuk penyajian tari dengan melihat analisis bentuk penyajian tari Lukah Gilo melihat tiga tahap proses pertunjukan, yaitu (1) proses persiapan yang meliputi mempersiapkan lukah, lukah direndam, lukah dipakaikan baju dan dirias, (2) pelaksanaan atau pementasan dipimpin oleh kulipah dengan menghadirkan jin untuk meng-gilo-kan lukah, (3) penutup untuk mengembalikan para jin ke tempat semula saat dipanggil.   Berdasarkan hasil yang diperoleh, penyajian tari Lukah Gilo menarik dikarenakan tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, akan tetapi juga untuk menguji ketangkasan dari anak-anak muda dan masyarakat Minang dalam mengontrol lukah yang sudah diberi mantera. Bentuk penyajian juga telah mengalami banyak perkembangan, terlihat pada penggunaan kostum dan alat musik sebagai iringannya. Meskipun bertentangan dengan agama Islam, namun tari Lukah Gilo tetap berada pada undang-undang adat, yaitu adat nan diadatkan sebagai warisan nenek moyang, dan  tidak bertentangan dengan falsafah adat Minangkabau “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.   Lukah Gilo dance is one of the arts that is alive and thriving in the Sijunjung, West Sumatera that terms with supernatural powers and magical elements. This dance used lukah (bubu) as its main property. Basically, this dance form’s the control of lukah (bubu). The uniqueness of this dance lies in lukah’s property who’s can dance or moves on its own after the spell was recited by kulipah.   The problem in this research is a presentation form of Lukah Gilo dance in Sijunjung society, West Sumatera. In dissecting the problem, this research using the method of the description of the analysis with the use of anthropology approach as context in view of the existence of the Lukah Gilo dance which is influenced by social, cultural, history, background, and community supporters. To dissect the form of the presentation of dance by looking at the analysis of the presentation form of Lukah Gilo dance sees three stages of the show process, (1) the preparatory process which includes preparing lukah, soaked the lukah, lukah wearing costume and applied makeup, (2) the implementation or performance is led by kulipah for presenting jin, (3) cover to restore the jin to the original place when called.   Based on the results obtained, presenting of Lukah Gilo dance are interesting, because the dance is not only serves as an entertainment, but also to test the agility of young kids and Minang’s society in controlling lukah already given a mantra. The presentation form also has undergone many developments, looks at the use of costume and musical instruments as accompaniment. Although contrary to Islam religion, but Lukah gilo dance remains on customary law, there is adat nan diadatkan  as the inheritance of the ancestors, and doesn’t conflict with the Minangkabau philosophy “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.   
A-Na(d) tayaSati Hubungan Anapanasati (Nafas Buddha) di dalam Struktur Tari Klasik Thailand Potchanan Pantham
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.52 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.3319

Abstract

RingkasanA-Na(d)tayaSati adalah penciptaan karya tari dengan menyatukan prinsip hubungan Anapanasati (napas Buddha) dengan struktur gerak tari klasik Thailand. Tujuan penciptaan agar bisa mengarah pada salah satu bentuk atau metode gerakan tari Thailand yang berfokus pada penggunaan napas sebagai landasan struktur gerakan independen, alami, dengan mengambil kekuatan energi dari dalam ke luar. Hal ini untuk membuat gerakan tersebut bertahan lama sehingga bisa bergerak dalam jangka waktu yang lebih lama, dan merupakan gerak yang tenang melalui meditasi yang alami, tanpa memaksa tubuh. Karya ini bertujuan pula untuk menciptakan gerakan lain dalam tarian Thailand yang konsisten dengan doktrin Buddha, yang sadar akan jangkauannya saat ini dan alami melalui latihan dan kesadaran diri. Dengan menerapkan prinsip-prinsip meditasi dalam bentuk Anapanasati dan teori gerakan tubuh sesuai dengan (teori Pemrograman Motor) dalam anatomi untuk menemukan hubungan dari gerakan tari klasik Thailand yang memberikan arti penting bagi gerakan dengan napas penari. Proses penciptaan hubungan Anapanasati (Napas Buddha) dengan struktur gerak tari klasik Thailand, sebagai pengakuan adanya gerakan baru yang memiliki energi aerobik (Aerobic system) yang beredar sepanjang waktu. Hal ini merupakan sistem tubuh yang menggunakan oksigen untuk membakar sepenuhnya dan terbentuk sebagai energi yang berkelanjutan dan damai dari dalam tubuh yang disebabkan oleh meditasi dengan metode pernapasan sambil melalukan gerakan tari klasik Thailand. Selain itu, tubuh tetap memiliki postur yang jelas, kuat dan unik dengan struktur gerakan tari klasik Thailand namun menjadi lebih ringan, lebih nyaman dan lebih alami. Energi dari napas masuk dan ke luar itu membuat gerakan menjadi terus-menerus, tanpa akhir, tanpa masalah kelelahan dan kontraksi otot saat bergerak ketika menari.AbstractThe dance work creation with the principle of the relationship of Anapanasati (Buddha's breath) in the structure of the classical Thai dance movement. In the aim of being able to lead to one form or method of Thai dance movements that focuses on the use of breath as a foundation for the structure of independent movements, natural, and take energy from the inside to outside. This makes the movement very durable so that it can move for a longer period of time and is a quiet movement through natural meditation, without force. To create another movement in Thai dance that is consistent with Buddhist doctrine, which is aware of its current and natural reach through practice and self-awareness. By applying the principles of meditation in the form of Anapanasati and the theory of appropriate body movements (Motor Programming theory) in anatomy to find the connection of classical dance movements Thailand which gives importance mean to movement with the breath of dancers. The process of creating Anapanasati (Buddha's Breath) with the movement structure of the Thai classical dance as recognition of a new movement that has an aerobic system circulating around the time. This is a body system that uses oxygen to burn completely and is formed as a continuous and peaceful energy from the inside caused by meditation with the breathing method while moving the Thai classical dance movement. Besides that, the body still has a clear and strong posture that is unique with the structure of Thai classical dance movements such as lighter, more comfortable and more natural. The energy of in and out breath makes the movement become continuous, endless, without a problem of fatigue and muscle contraction during movements in the dance.
PERANAN SENI PERTUNJUKAN BARIKAN QUBRO DALAM MENDUKUNG PARIWISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH Surojo Surojo; Iqbal Satrio Wicaksono
Joged Vol 10, No 1 (2019): APRIL 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.565 KB) | DOI: 10.24821/joged.v10i1.2806

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang peranan pertunjukan Barikan Qubra dalam mendukung pariwisata di Karimunjawa. Barikan Qubra semula adalah upacara adat bulanan, di mana setiap penduduk Karimunjawa membuat sesaji tumpeng kecil, telur, garam, kacang ijo,  dan cabe merah. Sesaji ini diletakkan di perempatan desa (sekarang sudah menjadi di tengah kota), dengan maksud sebagai ungkapan rasa syukur warga atas panen ikan setiap hari, harapan keselamatan setiap warganya, dan agar dijauhkan dari gangguan penyakit.  Adat Barikan Qubra dilaksanakan setiap hari Kamis Wage menjelang Jumat Pon. Namun 5 tahun belakangan ini dijadikan sekali dalam setahun. Pemerintah desa dengan segenap simpatisan budaya membentuk panitia penyelenggara dengan konsep pergelaran budaya yang lebih besar. Setelah dilaksanakan pertama kali di tahun 2015 dan mendapat tanggapan positif dari seluruh elemen masyarakat, maka ujicoba  ini dijadikan event penting di setiap tahunnya, guna meningkatkan kedatangan wisatawan. Barikan Qubra yang dahulu sebagai upacara adat kini dikemas sebagai seni pertunjukan arak-arakan yang menarik, namun tidak meninggalkan nilai ritual mereka. Arak-arakan atau pawai upacara Barikan Qubra menjadi hal yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pawai Barikan Qubra dilaksanakan dari perempatan desa menuju pelabuhan atau dermaga di mana para nelayan  beraktivitas mencari ikan. Tidak hanya sampai di situ, puncak acara pertunjukan berakhir di Alun-alun desa Karimunjawa di mana para warga dan pengunjung menjadi satu dengan wisatawan. Gunungan yang dibuat dengan ukuran besar menjadi rebutan para pengunjung yang hadir. Masyarakat percaya, apabila mendapatkan bagian dari gunungan tersebut, mereka akan mendapat banyak berkah dari Tuhan. This paper presents the results of research on the role of the Barikan Qubra show in supporting tourism in Karimunjawa. The original Qubra was a monthly traditional ceremony, in which every Karimunjawa resident made small cone offerings, eggs, salt, green beans and red chili. These offerings are placed at the village intersection (now in the middle of the city), with the intention of expressing gratitude for waraga for harvesting fish every day and being kept away from diseased diseases and the safety of every citizen.   Indigenous Barikan Qubra which is held every Thursday Wage before Friday Pon, the past 5 years are made once a year. The village government with all cultural sympathizers formed an organizing committee with the concept of a larger cultural performance. After being implemented in 2015 received a positive response from all elements of society, the trial was made an important event every year, to increase tourist arrivals. Baring the Qubra which used to be a traditional ceremony is now packaged as an interesting performing art but does not abandon the value of their rituals.   Indigenous Barikan Qubra which is held every Thursday Wage before Friday Pon, the past 5 years are made once a year. The village government with all cultural sympathizers formed an organizing committee with the concept of a larger cultural performance. After being implemented in 2015 received a positive response from all elements of society, the trial was made an important event every year, to increase tourist arrivals. Baring the Qubra which used to be a traditional ceremony is now packaged as an interesting performing art but does not abandon the value of their rituals.
NGIDAK CINCING Dwi Purnama
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.908 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2499

Abstract

Ngidak Cincing terispirasi dari upacara Cing Cing Goling. Cing Cing Goling adalah sebuah rangkaian upacara adat Rasulan yang diselenggarakan di Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Sejarah Cing Cing Goling diawali dari peperangan tentara Keraton Majapahit dengan Keraton Demak. Cing Cing Goling berasal dari kata cincing yang berarti menyingkapkan kain dalam bahasa Jawa, dan goling yang berarti ngglimpang.Melihat fenomena di atas muncul ide untuk menciptakan sebuah karya tari yang bersumber dari upacara adat Cing Cing Goling. Keunikan seorang penari yang menyincingkan kainnya dalam upacara adat Cing Cing Goling menjadi hal yang menarik dan menjadi fokus perhatian. Karya tari ini menyajikan rasa ketakutan, kebersamaan dan ritual yang ada dalam prosesi upacara adat Cing Cing Goling dengan menggunakan motif gerak cincing.Karya koreografi Ngidak Cincing ini ditarikan oleh tujuh penari putri. Adapun jumlah penari sebagai pertimbangan untuk komposisi koreografi, sedangkan untuk pemilihan jenis kelamin karena yang terjadi dalam cerita Cing Cing Goling adalah seorang istri Raja. Karya koreografi mengangkat konsep tentang ritual khusus dari upacara adat Cing Cing Goling. Musik yang digunakan dalam karya tari ini adalah Gamelan Jawa Laras Slendro.

Page 8 of 18 | Total Record : 172