cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
KONSEP RWA BHINEDHA DALAM TARI REJANG SAKRAL LANANG DI DESA MAYONG BULELENG BALI Hendra Santosa; I Made Rianta; I Ketut Sariada
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5596

Abstract

ABSTRAKPola lantai Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong berkonsep rwa bhinedha yang terlihat dari garis lurus satu banjar lalu membentuk garis melengkung. Kedua garis tersebut merupakan simbol purusa dan pradana untuk mencapai suatu kehidupan atau keseimbangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsep rwa bhinedha dalam pola lantai tarian tersebut. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah metode observasi tidak berstruktur, metode wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pola lantai Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong pada saat pementasan menggunakan konsep rwa bhinedha yang dilakukan di Jaba Tengah berbentuk kalangan pada setiap pura (Kahyangan Desa) yang terdapat di Desa Mayong. Pola lantai hanya terdiri dari satu banjar panjang yang membentuk garis lurus dan melengkung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan Teori Semiotika dari Ferdinand de Saussure yaitu penanda dan petanda. Garis lurus dan garis melengkung yang membentuk lingkaran pada pola lantai sebagai penanda dan petanda adalah garis lurus tersebut merupakan simbol purusa dan garis lengkung merupakan simbol pradana. Kedua garis tersebut merupakan bagian dari konsep rwa bhinedha. ABSTRACT The floor pattern of the Rejang Sakral Lanang Dance in Mayong Village has a rwa bhinedha concept which is seen from a straight line and forms a curved line. Both of these lines are purusa and pradana symbols to achieve a life or balance. The purpose of this study was to determine the concept of rwa bhinedha in the dance floor pattern. The research data collection techniques are unstructured observation methods, interview methods, documentation studies, and library studies. Based on the data analysis, the results showed that the floor pattern of the Lanang Sacred Rejang Dance in Mayong Village during the staging used the concept of rwa bhinedha which was carried out in Jaba Tengah in the form of circles in each temple (Kahyangan Desa) located in Mayong Village. The floor pattern consists of only one long line that forms a straight and curved line in it. This study uses the Semiotics Theory of Ferdinand de Saussure namely markers and markers. Straight lines and curved lines that form a circle on the floor pattern as markers and markers are straight lines are symbols of the purusa and curved lines are symbols pradana. These two lines are part of the concept of rwa bhinedha.
BENTUK VISUAL KOSTUM TARI MERAK JAWA BARAT KARYA IRAWATI DURBAN ARDJO Venny Agustin Hidayat
Joged Vol 15, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v15i1.4664

Abstract

Tari Merak Jawa Barat, merupakan jenis tarian tontonan (pertunjukan). Tari Merak pertama kali diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri pada tahun 1955. Kemudian pada tahun 1965, tari Merak dikemas kembali oleh Irawati Durban Ardjo, yang bertujuan untuk dipertunjukkan pada misi kesenian Soekarno. Tari Merak yang sering kita jumpai saat ini merupakan Tari Merak karya Irawati Durban Ardjo.Tarian ini mempresentasikan keindahan yang dimiliki oleh burung merak pada saat burung merak jantan melebarkan ekornya. Kebanyakan masyarakat Indonesia salah berasumsi jika tarian ini bercerita tentang kehidupan burung merak betina, sedangkan sang jantanlah yang memamerkan keindahan bulu ekornya. Sang jantan melakukan gerak-gerik yang tampak seperti tarian gemulai untuk menunjukkan pesona dirinya, sehingga sang betina terpesona dan bersedia kawin dengannya. Gerakan itulah yang mengekspresikan dibuatnya Tari Merak. Untuk mendukung keindahan tari, maka dibuat bentuk visual Merak pada kostum Tari Merak yang telah diinovasikan oleh Irawati. Irawati mengonsepnya melalui ide-ide kreatif dan mengindahkan esensi burung merak pada bentuk visual. Beberapa bagian kostum tari Merak Irawati, yaitu siger (mahkota), susumping, giwang (anting), kelat bahu, garuda mungkur, gelang tangan, kemben, ekor, Ikat pinggang, kacih, selendang, dan sinjang. Kostum yang memiliki banyak unsur estetika seperti garis (lurus, lengkung, bergelombang), bentuk (lingkaran, setengah lingkaran, persegi panjang, ekor merak, dan penyederhanaan burung merak), ornamen (ragam hias binatang, ragam hias tumbuhan, geometris, ulir). Beberapa motif yang digunakan yaitu motif ekor, bulu, ataupun keseluruhan bentuk burung merak. ABSTRACT Peacock Dance is a type of spectacle dance (performance). The Peacock Dance was first created by Rd. Tjetje Somantri in 1955. Then in 1965, the Merak dance was repackaged by Irawati Durban Ardjo, which aimed to be performed on Soekarno's art mission. The Peacock Dance that we often encounter at the moment is the Peacock Dance by Irawati Durban Ardjo. This dance presents the beauty of peacocks. The peacock is the inspiration for the creation of the Peacock dance and its beauty is found when the male peacock widens its tail. Most Indonesian people wrongly assume that this dance tells the story of the life of a female peacock, while the male exhibits the beauty of its tail feathers. The male performs movements that look like graceful dances to show his charms so that the female is fascinated and willing to marry him. That movement expresses the Peacock Dance. With the visual form of the Peacock Dance costume that has been innovated by Irawati. Irawati conceptualized it through creative ideas and heeded the essence of the peacock in visual form. Some parts of the Merraw Irawati dance costume, namely siger (crown), susumping, ear studs (earrings), kelat shoulders, garuda mungkur, wristbands, kemben, tail, belt, belts, shawls, and sinjang. Costumes that have many aesthetic elements such as lines (straight, curved, wavy), shapes (circles, semicircles, rectangles, peacock tails, and simplifications of peacocks), ornaments (various animal decoration, plant decoration, geometric, threaded). Some of the motifs used are the tail, feather, or overall shape motif.
MAMPIR NGOMBE: REFLEKSI DI TENGAH PANDEMI COVID-19 MELALUI FILM TARI Arjuni Prasetyorini
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5615

Abstract

ABSTRAK“Mampir Ngombe” adalah film tari yang merefleksikan kondisi Pandemi Covid-19. Sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini, seluruh manusia di bumi sedang menghadapi Pandemi dengan skala global. Memasuki tahun 2020 negara-negara di dunia mulai melakukan lockdown atau pembatasan sosial berskala besar bagi negaranya. Tingkat kematian akibat Pandemi Covid-19 ini selalu diberitakan melalui berbagai media setiap harinya, bahkan terdapat beberapa kerabat dan kawan yang terkonfirmasi positif Covid-19, hingga sembuh kembali namun juga ada yang meninggal. Duka dan kecemasan meliputi hampir disetiap harinya. Pandemi Covid-19 secara langsung dan tidak langsung memberi berbagai dampak. Salah satu dampak yang terjadi jika direnungkan secara dalam akan muncul suatu kesadaran, di mana hidup terasa benar-benar singkat bahwa setiap manusia tidak tahu kapan akan dipanggil pulang.Sebuah pepatah Jawa atau pitutur Jawa mengatakan “Urip iku mung sadermo mampir ngombe, yang memiliki arti hidup itu sangat singkat, ibarat hanya singgah minum. Pepatah itu menjadi sangat terasa pada kondisi saat ini. Waktu yang demikian singkat ini manusia diharapkan mengisinya dengan fikiran yang positif dan dan berusaha memanfaatkannya dengan melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Daripada hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran, sebaiknya diisi dengan doa, serta belajar untuk ikhlas setiap harinya, hingga setiap langkah yang dijalani akan menjadi laku yang migunani tumpraping diri lan liya. Koreografer menggunakan media video/film sebagai media ungkap sebagai respons dan adaptasi pada kondisi Pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 membatasi gerak seni pertunjukan dalam hal ini tari yang secara normatif dapat dinikmati secara langsung oleh mata dan energi dirasakan hadir secara nyata, namun pada kondisi ini harus dinikmati melalui video/film. Karya ini merupakan sebuah ekperimentasi langkah baru bagi koreografer untuk mencoba dan berusaha mengekpresikan tari melalui media video/film dengan durasi 6.44 detik.ABSTRACTThe dance film entitled "Mampir Ngombe" with a short duration is a reflection and introspection on the current conditions of the Covid-19 Pandemic, all people on earth are facing a pandemic on a global scale since the end of 2019, entering 2020 countries in the world have begun. carry out lockdowns or large-scale social restrictions for the country. The death rate due to the Covid-19 Pandemic is always reported through various news media every day, there are even some relatives and friends who have been confirmed positive for Covid-19, until they recover, but some have died. Grief and anxiety always cover almost every day. The Covid-19 pandemic directly and indirectly has various impacts. One of the impacts that occurs if you think about it deeply will emerge an awareness, where life feels really short that every human being does not know when to be called home. A Javanese proverb or Javanese pitutur “states Urip iku mung sadermo mampir ngombe, which means life is like just stopping by for a drink, very briefly. The proverb is very pronounced in the current condition. This time is so short that humans are expected instead of every day filled with worries, fears and worries, it would be nice if they were filled with positive thoughts and and trying to make use of them by doing good and useful things, such as filling them with prayers, working with them. following health protocols, trying to live up to the advice from the government, namely Gerakan 5M Covid-19 (Wearing a mask, washing hands with soap with running water, keeping your distance, keeping away from crowds) and learning to do iklas every day, so that every step you take will become a laku that migunani tumprapting liyan. Choreographers use video / film media as a medium of expression as a response and adaptation to the conditions of the Covid-19 Pandemic. The Covid-19 pandemic limits the movement of performing arts, in this case dance, which can normally be enjoyed directly by the eye and the energy is felt to be present in real terms, but in this condition it must be enjoyed through videos / films. This work is an experimentation of a new step for choreographers to try and try to express dance through video / film media with short duration.
ASUH ASAH BABAKEH: ARYA TARI SEBAGAI UNGKAPAN KERINDUAN CUCU KEPADA ATUK Ayang Sophia
Joged Vol 16, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v16i2.4679

Abstract

Asuh Asah Babakeh merupakan karya yang terinspirasi dari pengalaman empiris tentang kasih sayang seorang Atuk terhadap cucu. Atuk (bahasa Minang: kakek) merupakan salah satu orang yang berperan penting dalam pendidikan awal mengenali kehidupan penata tari. Beliau yang mengajar ilmu pengetahuan, agama, beragam cara hidup di dunia melalui nyanyian, cerita dan contoh peristiwa. Atuk telah wafat meninggalkan kesan yang mendalam sampai saat ini. Karya tari ini merupakan persembahan ucapan terima kasih untuk Almarhum dari lubuk hati yang terdalam. Asuh Asah Babakeh merupakan koreografi kelompok dengan garap kontemporer yang berakar dari tradisi Minangkabau. Garap gerak berpijak pada tari Babuai yang bernafaskan budaya Minangkabau. Demikian juga musik tarinya yang dikomposisi khusus untuk koreografi ini diharapkan dapat membangun nuansa budaya Minangkabau serta imajinasi tema untuk menguatkan dramatisasi pada setiap bagian koreografinya. Tema pada karya ini adalah ungkapan rasa rindu pada kasih sayang antara cucu dengan Atuk. Menggunakan tipe tari dramatik serta cara ungkap simbolis. Struktur Koreografi dibagi menjadi empat adegan. Menggunakan properti tari lampu togok (lampu minyak yang sudah dimodifikasi), serta properti panggung untuk menambah estetika penampilan serta menguatkan ekpresi tarinya. Karya ini ditarikan oleh 9 orang penari dan dipentaskan di panggung proscenium stage. ABSTRACT Asuh Asah Babakeh is a creation inspired by the empirical experience of a choreographer about the closeness and affection of a Atuk for grandchildren. Atuk (Minang language: grandfather) is one that plays an important role in early education in recognizing the lives of dance stylists. He teaches science, religion, various ways of living in the world through songs, stories and examples of events. Atuk has died leaving a deep impression until this day. This dance an offering of thanks to the deceased from the bottom of my heart. Asuh Asah Babakeh is a group choreography with contemporary work rooted in the Minangkabau tradition. Work on movements resting on the Babuai dance that breathes Minangkabau culture. Likewise, the dance music composed specifically for this choreography is expected to build the nuances of Minangkabau culture as well as the theme's imagination and strengthen the dramatization of each part of the dance. The theme in this work is an expression of longing for affection between grandchildren and Atuk. Using the type of dramatic dance and symbolic expression. The structure of Choreography is divided into four scenes. Using the togok lamp dance property (modified oil lamp), as well as the stage property to add aesthetic appearance and strengthen the dance expression. This work was danced by nine dancers and performed on the proscenium stage
GANDRA PITALOKA: VISUALISASI KISAH CINTA DYAH PITALOKA DALAM KARYA TARI Dindin Heryadi; Ela Mutiara
Joged Vol 15, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v15i1.4660

Abstract

Gandra Pitaloka merupakan visualisasi kisah cinta Dyah Pitaloka putri dari Kadipaten Pakuan dengan Prabu Hayam Wuruk raja dari Kerajaan Majapahit dalam kronologi peristiwa perang Bubat dalam karya tari. Gandra berarti wujud dan Pitaloka diambil dari nama tokoh sumber cerita yaitu Citra Resmi Dyah Pitaloka. Judul ini mengandung arti wujud Dyah Pitaloka. Karya tari ini terinspirasi secara auditif dari syair lagu Karembong Koneng yang menceritakan tentang peristiwa Perang Bubat antara kerajaan Majapahit dan Kadipaten Pakuan. Karya ini diwujudkan dalam bentuk koreografi kelompok dengan sembilan orang penari. Tipe penyajian yang digunakan yaitu tipe dramatik, serta disajikan dengan elemen pertunjukan wayang golek sebagai pengantar cerita. Gerak-gerak dasar tari Sunda seperti tumpang tali, lontang, dan capang, serta unsur dasar gerak silat di antaranya bandul, nangkis, dan nyabet digunakan sebagai pijakan dasar dalam proses pencarian gerak. Musik pengiring dalam bentuk instrumen musik elektrik atau MIDI (Musical Instrument Digital Interface) dengan menggunakan laras Salendro, Pelog, dan Madenda. ABSTRACT Gandra Pitaloka dance is a visualization of the love story of Dyah Pitaloka daughter of Kadipaten Pakuan with Hayam Wuruk king of Majapahit Kingdom in the chronology of Bubat war events. Gandra which means form and Pitaloka was taken from the name of the story source of the official image Citra Resmi Dyah Pitaloka. This title contains the meaning of Dyah Pitaloka's form. This dance work is inspired by audio from Karembong Koneng song lyrics. This poem tells about the events of the war Bubat between the kingdom of Majapahit and Kadipaten Pakuan. This work is manifested in the form of group choreography with the composition of nine dancers. The presentation type used is the dramatic type. Basic movements of Sundanese dance such as tumpang tali, lontang, and capang, and elementary motion of silat which is bandul, nangkis, and nyabet used as a foundation in the process of searching motion. This work is accompanied by music in the form of an electric musical instrument or MIDI (Musical Instrument Digital Interface) by using barrel Salendro, Pelog, and Madenda. And presented with elements of wayang golek show as an introduction to the story. The purpose of this choreography creation is to visualize the love story of Dyah Pitaloka with Hayam Wuruk through the development of basic movements of Sunda dance. The benefits of the creation of this work are to provide a creative process creation experience with the development of motion that departs from the basic movements of the dance of Sundanese and silat, as a form of appreciation of the character of a princess from Kadipaten Pakuan existing in West Java.
LABUH LABET: PENGABDIAN PRAJURIT KERATON YOGYAKARTA DALAM KARYA TARI Putra Jalu Pamungkas
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5600

Abstract

ABSTRAKLabuh labet memiliki makna pengabdian. Di dalam karya tari ini, pengabdian yang dimaksud adalah pengabdian seorang prajurit kraton Yogyakarta atau yang dikenal dengan Bregada. Bregada prajurit kraton biasanya disajikan pada upacara-upacara adat di kraton. Banyak para prajurit kraton yang sudah berusia lanjut namun masih tetap memiliki semangat untuk ikut berpartisipasi dalam acara kraton. Dasiyo (77 tahun) sebagai salah satu contohnya, beliau adalah seorang prajurit kraton yang mengalami awal dibentuknya kembali prajurit kraton Yogyakarta. Beliau pernah masuk di tiga bregada prajurit kraton yang berbeda yaitu prajurit Dhaeng, Patangpuluh, dan Wirabraja dengan pangkat yang berbeda-beda. Bregada prajurit kraton Yogyakarta sebagai inspirasi penciptaan karya tari, berawal dari ketertarikan saat melihat barisan prajurit kraton Yogyakarta. Dalam setiap kesatuan masing masing bregada memiliki ciri khusus yang berbeda, baik dalam segi kostum, gerakan dan musik. Ada sebuah motif gerak berjalan yang dilakukan oleh setiap bregada prajurit yaitu lampah macak dan lampah mars. Prajurit identik dengan pengabdian, kedisiplinan, dan kesetiaan. Sifat dan karakter dari prajurit ini dijadikan spirit dalam pengolahan dan pengekspresian setiap motif gerak yang ditemukan. Karya tari ini merupakan koreografi garap kelompok dengan delapan orang penari laki-laki. Enam penari sebagai visualisasi figur tokoh prajurit kraton, satu orang penari sebagai visualisasi masa lalu dari tokoh prajurit tersebut, satu penari lagi sebagai visualisasi figur pak Dasiyo. Lampah macak dan lampah mars menjadi motif awal untuk menciptakan gerak, dengan beberapa variasi dan pengembangannya. Melalui karya ini diharapkan generasi-generasi muda dapat melestarikan sejarah dan tradisi kebudayaan yang ada di wilayah masing–masing.ABSTRACT Terms or word as titles, has the same meaning as dedication. In this dance work, the purpose of dedication is soldiers of the Yogyakarta palace dedication. The soldiers of Yogyakarta palace usually served in the palace ceremony. A lot of older people soldiers of the palace however still have a spirit for participation in the palace event. Dasiyo (77 years old) as one of example, he is soldier of Yogyakarta palace to have experience ever since early reshaping soldiers of Yogyakarta palace. He ever in the three of different soldier of palace which name is Dhaeng, Patangpuluh and Wirabraja with different grade. The soldiers of Yogyakarta palace as inspiration for create this dance work, starting from the interest when looking the line up soldiers of Yogyakarta palace. In the every unity have different special feature, as a costume, movement and the music. Every soldiers have the one of walking movement motive that is lampah macak and lampah mars. The soldiers identic as dedication, discipline and loyalty. Human nature and character of this soldiers to be a spirit in processing and expression every found movement motive. This dance work is a group choreography with eight male dancer. Six dancer as a visualisation figure soldier of palace, one dancer as a visualisation past from soldier of palace, one dancer as a visualisation of Dasiyo. Lampah macak and lampah mars become early motive to create the movement, with the some of variation and development. Through this dance work expected young generation can preserve history and culture of tradition in the each other region.
ANALISIS STRUKTUR JARANAN JAWA TURONGGO BUDOYO DESA REJOAGUNG KABUPATEN TULUNGAGUNG Ristra Zhafarina Ayunindi Safira
Joged Vol 15, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v15i1.4665

Abstract

Penelitian ini menganalisis struktur Jaranan Jowo Turonggo Budoyo. Struktur memandang suatu tari dari sisi bentuk atau teks. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan struktur dan koreografi. Struktur berhubungan dengan tata hubungan yang ada dalam sajian pertunjukan, diawali dari motif sampai pada tataran gugus kalimat gerak. Penelitian ini membahas bagaimana satu kesatuan dalam sebuah tari yang di dalamnya memiliki relasi-relasi atau tata hubung yang terciptakan. Pengertian analisis struktur merupakan sebuah penguraian tata hubungan antara unit atau komponen satu dengan komponen lainnya dalam konteks kesatuan keseluruhan. Secara tekstual kesenian ini ditinjau dari tata hubungan hirarki gramatikal yaitu hubungan di mana satu kesatuan tataran gramatikal yang dimulai dari tingkat motif, frase gerak, kalimat gerak, dan gugus kalimat gerak. Motif-motif gerak tersebut dikombinasikan atau dirangkai dalam hubungan sintagmastis. Analisis ini berdasarkan pola gerak dan pola tempo dalam keseluruhan tari Jaranan Jawa Turonggo Budoyo. Terdapat dua gugus kalimat gerak, mengingat adanya ciri-ciri tersendiri yang membedakan pada kelompok gerak, yaitu jogetan dan perang. Pada gugus jogetan, merupakan penjajaran gerak yang terangkai berupa jogetan yang terdiri dari 39 kalimat gerak. Gugus yang kedua adalah perang, terdapat 3 kalimat gerak. Secara keseluruhan dalam tarian ini tidak ditemukan adanya hubungan paradigmatis, karena tidak ada bagian atau gerak yang dipertukarkan atau dapat saling menggantikan. Strukur tari Jaranan Jawa Turonggo Budoyo ini penting untuk dianalisis dan diketahui, sebab tarian yang ada di desa Rejoagung masih mempertahankan tradisi yang ada seperti gerak-gerak yang dilakukan tidak banyak mengalami perubahan untuk mengikuti perkambangan zaman dan gerak tersebut khas untuk kesenian Jaranan Jawa. Hal yang menarik dalam tari Jaranan Jawa yaitu motif-motif gerak yang dilakukan lebih pada gerakan kaki yang menirukan gerak kuda dan penunggang kuda. ABSTRACT This study is a structure analysis research. The structure considers a dancen as a part of a form or text. A qualitative research is used as a research methodology which combined with structure and choreography approaches. A structure is related to a connection in a part of performance, begins with a pattern of the cluster movement. This study described how the unity of a performance had relations or connections that are created on it. The definition of structure analysis is a description of the relations between a unit and a component with other components in the context of the unity. In the textual meaning, it is reviewed from a relation of grammatical hierarchy; a connection where a unity of the grammatical level starts from a level of pattern, a phrase of dance, motion, and a cluster of dance. Those patterns of dance are combined or coupled together in syntagmatic relations. This analysis is based on the patterns of dance and tempo in the whole of Jaranan Jawa Turonggo Budoyo. There are two clusters of dance, considering there are characteristics that divide to the group of dance. They are jogetan (dancing) and perang (war). First of all, in the cluster of jogetan, it is an alignment which formed as jogetan in the jaranan. In addition, there are 39 clauses; those are alignments of the patterns which formed. The second cluster is perang (war), there are 3 motions. In general, there is no paradigmatic relation in this dance because there is not a part or a motion that is replaceable or interchangeable. The dance structure of Jaranan Jawa Turonggo Budoyo is essential to be analysed and to be known because the dance in Rejoagung still maintains the tradition there such as the movements that has not much change in order to keep up with current development and to represent the uniqueness of jaranan jawa. The interesting part of Jaranan Jawa is the patterns which point out the movement of dancers’ feet in copying horse action and a horseman.
TITIK-TITIK SYNDROME: KONDISI PENDERITA POSSESSION SYNDROME SEBAGAI SUMBER PENCIPTAAN TARI Fetri Ana Rachmawati
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5616

Abstract

ABSTRAKPengalaman sebagai penderita Possession Syndrome yang diderita penulis dijadikan dasar permasalahan dalam karya tari ini. Melalui metode riset kualitatif yang digunakan untuk mengumpulkan hasil riset tentang possession syndrom yang berada di sekitar lingkungan penulis. Kemudian berlanjut ketahap penentuan tema, judul, dan proses penciptaan. Tema yang dipilih untuk karya tari ini yakni “kondisi penderita Possession Syndrome”. Pemilihan tema ini juga mengacu pada permasalahan di masyarakat yang selalu mengaitkan Possession Syndrome dengan hal–hal mistik, sehingga yang terjadi perlakuan yang didapat oleh penderita memberi dampak yang semakin buruk bagi tubuh penderita tersebut. Karya tari ini menggunakan sepuluh penari perempuan, jumlah sepuluh hanya untuk keperluan komposisi, dipilih penari perempuan karena penderita Possession Syndrome lebih dominan perempuan. Dalam karya ini akan dimunculkan teror – teror audio dan teror visual yang hadir dari lighting, kehadiran teror audio visual memberi dampak ketidak nyamanan bagi penonton hal ini merupakan gambaran dari kondisi yang dialami penderita “Possession Syndrome”ABSTRACTThe experience of suffering from a Possession Syndrome suffered by the author was then used as a basis for problems in this dance work. Through qualitative research methods that are used to collect research results on the Possession Syndrome that is around the author's environment. Then it continues to determine the theme, title, and process of creation. The theme chosen for this dance work is "patient’s condition Possession Syndrome". The selection of this theme also refers to problems in society that always associate Possession Syndrome with mystical matters, so that what happens to the treatment obtained by sufferers has an increasingly bad impact on the body of the sufferer. This dance works using ten female dancers, the number ten only for the purposes of the composition, selected dancers woman for Possession Syndrome sufferers more dominant female.In this work an audio and visual terror will emerge that comes from lighting, the presence of audiovisual terror has an impact on the audience's inconvenience, this is a picture of the conditions experienced by sufferers of "possession syndrome".
FUNGSI TARI MANGANJAN DALAM UPACARA TIWAH SUKU DAYAK NGAJU DI KABUPATEN GUNUNG MAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Trisna Loli Anjani
Joged Vol 16, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v16i2.4680

Abstract

Tulisan ini mengupas “Fungsi Tari Manganjan Dalam Upacara Tiwah Dayak Ngaju Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah”. Manganjan adalah tarian yang dilakukan oleh Anak Tiwah untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dalam upacara Tiwah. Tiwah dalam suku Dayak Ngaju adalah ritual tertinggi dalam rukun kematian agama Hindu Kaharingan, dengan tujuan untuk mengantarkan arwah ke negeri para arwah. Tari dan semua aspek pendukung yang telah terstruktur dalam upacara Tiwah memiliki peran yang sangat penting. Untuk memecahkan permasalahan penelitian ini digunakan teori struktural fungsionalisme dalam perspektif antropologi dari landasan pemikiran A.R. Radcliffe Brown. Teori ini mengupas tentang struktur dan fungsi dalam masyarakat primitif. Brown menyatakan sebuah kerangka kerja yang menggambarkan konsep-konsep dasar yang berkaitan dengan struktur sosial dari peradaban masyarakat tertentu, di mana berbagai upacara agama dikaitkan dengan mitologi atau dongeng-dongeng suci yang bersangkutan, dan pengaruh dan efeknya terhadap struktur hubungan antara warga dalam suatu komunitas. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Tari Manganjan dalam upacara Tiwah memiliki unsur-unsur seperti, pelaku, gerak, iringan musik, syair, tempat pertunjukan, busana, properti, pola lantai, perlengkapan upacara, dan sebagainya. Unsur-unsur tersebut saling berhubungan, berelasi antara satu dengan yang lainnya sehingga menjadi sistem yang kompleks dan terstruktur. Unsur-unsur tersebut yang saling berhubungan satu sama lain dalam upacara Tiwah, berfungsi, beroperasi dan bergerak dalam satu kesatuan. ABSTRACT This paper explores "The Function of Manganjan Dance in the Tiwah Dayak Ngaju Ceremony of Gunung Mas Regency, Central Kalimantan Province". Manganjan is a dance performed by Anak Tiwah to communicate with ancestral spirits in a Tiwah ceremony. Tiwah in the Dayak Ngaju tribe is the highest ritual in the pillars of the death of the Hindu Kaharingan religion, with the aim of delivering spirits to the land of the spirits. Dance and all supporting aspects that have been structured in the Tiwah ceremony have a very important role. To solve this research problem, structural theory functionalism is used in the anthropological perspective from A.R. Radcliffe Brown. This theory explores the structure and function in primitive societies. Brown states a framework that describes the basic concepts relating to the social structure of a particular civilization, in which various religious ceremonies are linked to the mythology or sacred tales in question, and their influence and effect on the structure of the relationship between citizens in a community. The results showed that the Manganjan Dance in the Tiwah ceremony had elements such as actors, movements, musical accompaniment, poetry, venues, clothing, property, floor patterns, ceremonial equipment, and so on. These elements are interconnected, related to one another so that it becomes a complex and structured system. These elements which are interconnected with each other in the Tiwah ceremony, function, operate and move in one unit.
Rancangan Multimedia Tari Kreasi Anak “Oray-orayan” Untuk Pembelajaran SBdP di Sekolah Dasar Khaerunnisa Sri Wahyuni; Aan Kusdiana; Oyon Haki Pranata
Joged Vol 15, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v15i1.4661

Abstract

Penelitian yang dilakukan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya rancangan multimedia tari pada pembelajaran SBdP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil dan bentuk rencana multimedia tari kreasi anak “oray-orayan” untuk pembelajaran SBdP di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran SBdP, media pembelajaran yang digunakan berupa video dari internet. Video tersebut masih sederhana didalamnya hanya berupa gerakan tari, tidak terdapat animasi gerak tari dengan menggunakan tokoh kartun, tidak ada langkah-langkah menari serta tidak terdapat gambar dan teks sebagai materi pendukung. Media pembelajaran ini termasuk hal penting dalam proses pembelajaran, karena sebagai alat perantara dalam proses pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan informasi dalam proses pembelajaran antara guru terhadap peserta didik dalam menyampaikan informasi. Diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dengan pengembangan yang dilakukan terhadap salah satu media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis data secara deskriptif dengan menggunakan data hasil FGD (Focus Group Discuss). berdasarkan data FGD yang di dapatkan, rancangan Multimedia Tari Kreasi Anak “Oray-orayan” mendapatkan kelayakan dan memenuhi kriteria yang diinginkan untuk dijadikan sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran SBDP di SD. ABSTRACT This Research is backed the importance of multimedia design dance on SBdP learning. This research aims to describe the results and form of multimedia plan of childern Dance Creations “Oray-orayan” for learning SBdP in elemntary school. In SBdP learning, the learning media used is video from the Internet. The Video is still simple in the form of dance movement, there is no animation of dance motion using cartoon characters, there are no dance steps and there are no pictures and texts as supporting material. This learning Media is important in the learning process, because as an intermediate tool in the learning process used to convey information in the learning process between teachers and students in conveying information. It is hoped that you can create more meaningful learning with the development done with one of the learning media. This research uses qualitative methods with descriptive data analysis using FGD (Focus Group Discuss)result data. Based on the FGD data obtained, the Multimedia design of the children's Dance creations "OrayOrayan" is qualified and fulfills criteria which is desirable to serve as a learning medium that can be used to study SBdP in SD.

Page 10 of 18 | Total Record : 172