cover
Contact Name
Ary Wijayanto
Contact Email
412y.wija@gmail.com
Phone
+6281326177669
Journal Mail Official
selonding@isi.ac.id
Editorial Address
Gedung Lt.2 Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Jl. Parangtritis km. 6,5 Sewon, Bantul Yogyakarta-55141
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
SELONDING
ISSN : 14121514     EISSN : 26859327     DOI : https://doi.org/10.24821/sl.v20i1
Focus & Scope Science: Organology-acoustics, Semiotics, Hermeneutic, Etnomusicology, Transcript, Composition of Ethnic music, Music Exploration, Anthropologi Music, Sosiology Music, Physics, Culture Assesment and Practice: Assesment of Ethnic music, Practice base Research, Practice led Research Ideas, Concept, Thoughts about music ethnic
Articles 129 Documents
IMPLEMENTASI MELODI MANTRA NYANGAHATN MELALUI SISTEM INVERSI DALAM KARYA MUSIK NYANGAHATN Stepanus Ardo
SELONDING Vol 18, No 2 (2022): : September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v18i2.6364

Abstract

Setiap karya merupakan suatu akumulasi dari pengalaman, pendapat, dan pertimbangan kreatif. Nyangahatn dipilih sebagai judul dalam komposisi ini berdasarkan pengalaman empiris penulis ketika mengikuti upacara atau ritual adat Dayak Kanayatn. Mantra yang diucapkan oleh seorang pamaliatn atau dukun dalam sebuah upacara atau ritual dijadikan sebagai ide musikal. Pendekatan pustaka digunakan penulis dengan menggunakan beberapa sumber buku yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam proses komposisi. Komposisi ini terdiri unsur-unsur mengenai kontur melodi ; kesadaran akan Hook ; forerground and background ; flow vs break, continuity vs surprise ; articulation and degree of punctuation ; rate of presentation of information ; stability vs instability ; progression ; momentum ; balance ; balance and length. Penulis menggunakan medium pencon dengan idiom musik Dayak Kanayatn yang diolah dalam komposisi. Pengolahan dan penerapan unsur-unsur musik dalam komposisi musik ini merupakan representasi dari nyangahatn.
Bentuk dan Fungsi Iringan Gamelan pada Ritual Ujungan di Desa Gumelem Wetan Banjarnegara Muhammad Fabian Arrizqi
SELONDING Vol 18, No 2 (2022): : September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v18i2.8080

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi iringan gamelan pada Ritual Ujungan di Banjarnegara. Objek penelitian ini adalah Iringan gamelan pada Ritual Ujungan di desa Gumelem Wetan Banjarnegara. Ritual ujungan merupakan kegiatan adat masyarakat desa Gumelem Wetan Banjarnegara yang digunakan untuk memohon hujan. Iringan Gamelan merupakan komposisi karawitan yang memainkan lagu dan dimainkan selama prosesi Ritual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi.  berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa iringan gamelan berbentuk campursari dan memiliki empat fungsi yaitu sebagai pengungkap emosional, sarana komunikasi, sarana kelangsungan kebudayaan, serta ritual keagamaan
PENERAPAN TANGGA NADA PENTATONIK DALAM IMPROVISASI LAGU TAKARAJIMA KARYA HIROTAKA IZUMI Josias Tuwondai Adriaan; Melisa Octaviana Santoso
SELONDING Vol 18, No 2 (2022): : September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v18i2.8556

Abstract

Tangga nada pentatonik adalah salah satu bahan improvisasi yang relatif sederhana dibandingkan dengan bahan improvisasi lain. Tidak jarang, terjadi praktik improvisasi yang terkesan monoton yang disebabkan oleh kurang berkembangnya ide-ide frasa serta minimnya penggunaan variasi dalam mengolah unsur-unsur tangga nada. Tugas akhir resital ini ditujukan untuk memperkaya konsepsi penerapan unsur-unsur tangga nada pentatonik ke dalam praktik improvisasi melalui pilihan jenis akor serta pengembangan bentuk frasa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan cara mengumpulkan sumber pustaka, webtografi, diskografi, serta melakukan wawancara terhadap narasumber yang berkompeten. Lagu yang dipilih sebagai wadah penerapan teknik-teknik dimaksud adalah lagu Takarajima ciptaan Hirotaka Izumi yang dibawakan dalam formasi trio, yaitu keyboard, bas, dan drum set. Pilihan lagu tersebut didasarkan pada kompleksitas komponen musikal yang terkandung di dalamnya seperti progresi akor yang variatif serta modulasi dan sinkopasi yang sangat menarik untuk diolah secara lebih mendalam. Penerapan tangga nada pentatonik pada lagu Takarajima ini berhasil diterapkan berdasarkan salah satu unsur nada akor menjadi dasar (root) pada akor baru di atas akor sebelumnya atau penumpukkan dua akor yang biasa disebut dengan istilah superimposition. Di dalam harmonisasi (akor) terdapat nada ekstensi seperti nada ke-9, 11, 13 serta nada alterasi yang juga dapat memperkaya atau memperluas wilayah improvisasi. Di sisi lain, pengembangan frasa tangga nada pentatonik dilakukan dengan cara menambahkan unsur blue note, kromatis, grace note, drone note, serta penggunaan double-note dengan interval 4th, 5th, dan 6th.
KESENIAN GLIPANG RHODAT DI DESA NGUTER KECAMATAN PASIRIAN LUMAJANG JAWA TIMUR DALAM PERSPEKTIF ETNOMUSIKOLOGIS Denny Bhagus Syahroni; Supriyadi Supriyadi; Cepi Irawan
SELONDING Vol 18, No 2 (2022): : September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v18i2.7718

Abstract

Glipang Rodhat merupakan jenis pertunjukan kesenian tradisional. Dalam kesenian tersebut terlihat unik, sehingga peneliti ingin memahaminya lebih dalam, yakni bagaimana struktur penyajian musik Glipang Rodhat serta bagaimana penggabungan antara kesenian Glipang dengan kesenian Tari Rodhat.Untuk memahami kesenian tersebut, peneliti menggunakan pendekatanEtnomusikologi. Konsep teks seni pertunjukan dari Marco DeMarinisdigunakan untuk mengupas aspek tekstual, sedang aspek kontekstual menggunakan teori hybrid dari Homi K. Bhabha. Pemaparan secara deskriptif analitik dipakai dalam penelitian kualitatif ini.Hasil yang ditemukan, kesenian Glipang Rodhat merupakan perpaduan kesenian lokal Jawa, Madura dengan kesenian dari Turki. Kesenian lokal sebagai bentuk perlawanan yang berwujud mimicry sekaligus mockery. Sedangkan kesenian dari Turki bernuansa religi yang tampak khususnya dalam simbol-simbol instrumen musik yang digunakan serta lantunan tembang dan parikan yang dimainkan sarat dengan nilai-nilai keislaman.
KONTINUITAS MUSIK ONDEL-ONDEL GRUP WIBAWA SAKTI DALAM SENI HIBURAN DI DESA KEBON KOPI KABUPATEN BEKASI JAWA BARAT Agung Wira Setika Cahya
SELONDING Vol 18, No 2 (2022): : September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v18i2.7773

Abstract

Perkembangan dunia teknologi memberikan dampak perubahan terhadap tata cara sebuah seni disajikan dalam menghibur masyarakat, seperti seni tradisi yaitu Ondel-ondel sebagai kesenian tradisional masyarakat Betawi yang mempergunakan mp3 dan Instrumen tradisional seperti Tehyan, Kendang Tepak, Gong, Kempul dan satu buah gerobak kayu yang digunakan untuk menyimpan alat pengeras suara, tetapi sebuah fenomena menarik terlihat pada Grup kesenian Ondel-ondel Wibawa Sakti yang bermarkas di jalan Kyai Haji Fudholih,  Desa Kebon Kopi, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. tetap mempertahankan instrumen Betawi ketika melakukan sebuah pertunjukan hiburan. Hal ini memberikan sebuah daya tarik untuk melakukan kajian terhadap musik Ondel-ondel Wibawa Sakti.  Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode narasi dengan  pendekatan etnomusikologis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan Hasil penelitian menunjukan bahwa musik Grup Wibawa Sakti masih mempertahankan karakteristik tradisional ditengah masyarakat yang sudah ketergantungan dengan moderenisasi, melalui Grup Wibawa Sakti kesenian Ondel- ondel mampu mempunyai nilai kontinuitas tidak hanya terbatas pada konteks seni ritual tetapi juga aspek kesinambungan dalam tataran ekonomi, edukasi dan hiburan
“ALONE” REINTERPRETASI FENOMENA DEPRESI DALAM KOMPOSISI MUSIK Agung Wira Setika Cahya; Pande Made Sukerta
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.7806

Abstract

Depresi adalah satu di antara keadaan emosi dimana kondisi psikologis, ditandai dengan banyak rasa kehilangan dan kekecewaan yang terjadi selama masa hidup normal. Fenomena depresi ini yang menjadi riset komposisi musik melalui suatu pemikiran, sehingga karya yang diberikan sesuai dengan sumber sebagai acuan utama dan keinginan pengkarya dalam memperkenalkan karya melalui dua media karya musik sebagai estetika dan wahana artikulasi dalam karya seni. Reinterpretasi pengkarya atas fenomena depresi menghasilkan karya berbentuk instrumen artifisial yang diberi nama Qalaba dan karya pertunjukan musik dengan judul Alone. Penciptaan dan penyusunan karya Alone dilakukan dengan tahapan observasi pembuatan instrumen dan observasi aspek musikal yang berikutnya dipraktekan dengan metode psikologis. Dalam penyusunan karya musik Alone, pengkarya menerjemahkan fenomena depresi ke dalam musik, menjadikan karya “Alone” sebagai cara alternatif dalam penyusunan instrumen dan elemen musik. Pengkarya menerjemahkan fenomena depresi ini ke dalam improvisasi bebas dan terkonsep, dengan mengeksplorasi nada instrumen menggunakan teknik modifikasi.
Antinomi Sampah melalui Sublimasi Timbre dalam karya musik Copy Waste I Ketut Sumerjana
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.9199

Abstract

Perilaku membuang sampah sembarangan merupakan kebiasaan yang memberikan dampak terhadap permasalahan ekosistem, baik biotik ataupun abiotik. Sampah sebagai bagian dari aktifitas masyarakat sebenarnya dapat dijadikan nilai guna bagi kepentingan lain, tetapi faktanya memang memerlukan penyadaran emosi, jiwa bagi pelaku. Wujud penyadaran yang paling menarik untuk kritik sosial permasalahan perilaku membuang sampah sembarangan adalah melalui musik, karena bunyi sebagai esensinya mempunyai nilai-nilai personifikasi. berdasarkan hal tersebut maka fokus penelitian penciptaan adalah mengkontruksi bunyi sebagai musik yang bernilai antinomi terhadap perilaku. Metode yang digunakan adalah Praktik Led Rsearch, dimana penciptaan karya musik didahului dengan penelitian terhadap fenomena membuang sampah sembarangan. teknik pengumpulan data mempergunakan observasi, wawancara sedangkan analisis data, interaksi menjadi pilihan. data-data yang sudah dianalisis terkontruksi melalui makna sehingga timbal baliknya memberikan input pada komposisi musik dengan metode sublimasi timbre. Hasil penelitian penciptaan memberikan sebuah pemahaman bahwa musik mampu digunakan sebagai salah satu media kritis untuk perilaku membuang sampah sembarangan melalui optimalisasi perilaku. 
Ekologi Polopalo dalam Lihuta lo Polopalo di Bone Bolango Rahmawati Ohi
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.9293

Abstract

Polopalo merupakan instrumen musik endemik dari Gorontalo yang saat ini keberadaannya dapat ditemukan dalam Lihuta lo Polopalo. Sebagai salah satu alat musik endemik, perkembangan fungsional Polopalo memberikan dampak terhadap ekologi seni dalam aktifitas masyarakat seperti dalam lihuta lo polopalo mempunyai peranan yang sangat penting berhubungan dengan kontinuitas, transmisi ekonomi budaya, contoh adanya wujud nyata simbiosis polopalo pada komponen ekologi yang ada disekitarnya mulai dari infrastruktur lingkungan, tingkat pendapatan sampai transfer ilmu pengetahuan lintas generasi. Besarnya impact yang dihasilkan Polopalo dalam lihuta lo Polopalo terhadap sistem ekologi merupakan sebuah refleksi sistem kemandirian fenomena yang menarik sehingga fokus penelitian adalah mengenai ekologi polopalo dalam lihuta lo polopalo. Upaya memberikan refleksi gambaran mengenai Polopalo dalam lihuta LoPolopalo maka metode penelitian yang digunakan adalah narasi, dimanapengumpulan data dilakukan melalui wawancara, yang didalamnya terdapat observasi lanjutan sedangkan analisis data mempergunakan interaksi budaya sehingga mampu memberikan gambaran mengenai sebuah sistem Hasil penelitian menunjukan bahwa kemunculan Polopalo dalam lihuta lo polopalo merupakan alternatif dalam upaya pelestarian yang ternyata memberikan kemandirian terhadap sistem ekologi yang ada seperti pertumbuhan infrastruktur, kemandirian ekonomi masyarakat dan kesinambungan budaya.
BORU SASADA SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MUSIK ETNIS "ARUNA" Yose Beby Ananda Hutahaean; Krismus Purba
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.5873

Abstract

Anak perempuan Batak Toba memiliki ruang sempit dalam hak dan kewajiban untuk memiliki kebahagiaan dan karir. Boru Sasada  menjadi istilah bagi seorang anak perempuan tunggal keluarga Batak Toba. Reinterpretasi kesetaraan gender secara negatif dalam masyarakat Batak Toba sangat besar. Hal ini ditandai dengan keyakinan bahwa anak laki-laki adalah sebuah akar pohon dalam keluarga, sehingga mengkesampingkan bahwa seorang anak perempuan juga berharga. Globalisasi memberikan banyak perubahan terhadap reinterpretasi tersebut, ada positif, namun  ada yang negatif. Sebuah keluarga tentu mengasihi keturunan mereka, namun masyarakat banyak yang tidak sependapat dan memutuskan bahwa sebuah keluarga tanpa anak laki-laki adalah suatu hal yang hina. Sementara, seorang perempuan pada dasarnya akan selalu bermain perasaan dalam menanggapi cerita dalam hidupnya. Sangat menarik ketika adat dan istiadat menjunjung tinggi kehadiran seorang anak laki-laki, akan tetapi Tuhan memberikan karunia anak perempuan. Mengaplikasikan suasana hati dan perasaan puteri tunggal masyarakat Batak Toba ke dalam penciptaan musik etnis didahului dengan penelitian yang mencari tahu apa saja perasaan dari puteri tunggal  masyarakat Batak, kemudian penciptaan menggunakan ekplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Hasil penelitian ketika anak perempuan dikesampingkan, berdasarkan bagaimana orangtua meyakinkan dan mendukungnya. Masyarakat yang hidup di era globalisasi akan mampu berpikir dengan lebih terbuka, dan tidak seenaknya menghina.  Putri tunggal Batak Toba dan perasaannya menjadi sebuah fokus pada karya musik etnis berjudul “Aruna”
KANA PERANAK DALAM PERAYAAN GAWAI PADI SUKU DAYAK MUALANG DI KALIMANTAN BARAT Alexandrian Mualang Panurian; Eli Irawati; Haryanto Haryanto
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.8970

Abstract

Kana Peranak merupakan nyayian resitatif Suku Dayak Mualang yang disajikan pada saat Perayaan Gawai Padi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan kajian tekstual Kana Peranak. Untuk membedah objek ini, maka digunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis. Hasil analisis dalam tulisan ini menunjukkan bahwa Kana Peranak memiliki delapan dari sepuluh fungsi musik menurut Allan P. Meriam. Fungsi-fungsi tersebut antara lain Fungsi Hiburan, Fungsi Kenikmatan Estetis, Fungsi Ekspresi Emosional, Fungsi Komunikasi, Fungsi Penyelenggaraan Kesesuaian Dengan Norma-Norma Sosial, Fungsi Penopang Keseninambungan dan Stabilitas Kebudayaan, Fungsi Penopang Integrasi Sosial dan Fungsi Penggambaran Simbolik. Pada kajian tekstual, mengambil sampel Kana Peranak yang berjudul ”Limak Penyawak Sak Lempak Mrawai Awak”, terdapat tiga bagian pada bagian analisis musikal yaitu transkrip notasi, analisis motif nyayian serta analisis makna dan lirik. Adapun elemen pendukung musik meliputi pelaku, tempat, waktu, kostum dan suasana.

Page 11 of 13 | Total Record : 129