cover
Contact Name
Ary Wijayanto
Contact Email
412y.wija@gmail.com
Phone
+6281326177669
Journal Mail Official
selonding@isi.ac.id
Editorial Address
Gedung Lt.2 Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Jl. Parangtritis km. 6,5 Sewon, Bantul Yogyakarta-55141
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
SELONDING
ISSN : 14121514     EISSN : 26859327     DOI : https://doi.org/10.24821/sl.v20i1
Focus & Scope Science: Organology-acoustics, Semiotics, Hermeneutic, Etnomusicology, Transcript, Composition of Ethnic music, Music Exploration, Anthropologi Music, Sosiology Music, Physics, Culture Assesment and Practice: Assesment of Ethnic music, Practice base Research, Practice led Research Ideas, Concept, Thoughts about music ethnic
Articles 129 Documents
Gendang Sarune sebagai Iringan Gendang Morah – Morah di Desa Kemenangan Tani Kota Medan Januar Alfaredo Purba
SELONDING Vol 19, No 1 (2023): : Maret 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i1.6830

Abstract

Gendang Sarune merupakan instrumen yang digunakan dalam menyampaikan pesan repertoar Gendang Morah-Morah yang dimainkan pada tari Lima Serangkai. Repertoar ini bersifat khusus, diciptakan sebagai tanda pembuka pada iringan tariannya. Nilai kekhusuan tersebut memberikan permasalahan terhadap penyajian yang sekarang ini mempergunakan mp3, walaupun masih ada sajian yang original seperti di Desa Kemenangan Tani sehingga fokus penelitian adalah mendeskripsikan fungsi Gendang Sarune sebagai iringan Gendang Morah-Morah di Desa Kemenangan Tani. Metode penelitian mempergunakan deskripsi analitis yang mencoba menggambarkan fenomena dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa Gendang Sarune mempunyai beberapa fungsi seperti integrasi sosial, penghayatan estetis, pengungkapan emosional, hiburan.
KERONCONG BIRU DALAM PERTUNJUKAN VIRTUAL DI PLATFORM YOUTUBE Tri Prasetyo; Citra Aryandari; Sudarno Sudarno
SELONDING Vol 19, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i2.7899

Abstract

Keroncong Biru adalah kelompok Keroncong yang berasal dari Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta sejak tahun 2016. Ia adalah pemuda Katolik St. Maria Assumpta Pakem. Tujuan Keroncong Biru adalah menjadi musik pengiring gereja untuk melestarikan dan memperkenalkan musik keroncong kepada generasi muda; dan memperkenalkan komunitas keroncong di Yogyakarta kepada dunia melalui Community, Scene, Tribe, Subculture, Audience, dan Consumer. Keroncong Biru mengemas musik populer ke dalam keroncong. Situasi pandemi mau tidak mau membuat grup ini tampil live (offline) yang dihadiri penonton, namun berubah menjadi virtual performance. Penelitian ini menganalisis aktivitas Keroncong Biru dalam situasi pandemi dengan menggunakan metode etnografi. Makalah ini menggambarkan alam semesta maya sebagai ruang belajar.
INSTRUMEN TIUP PUIK-PUIK DALAM PERSPEKTIF EKOMUSIKOLOGIS: PEDAGOGIS, ALAM DAN BUDAYA Rahmat Kurniawan
SELONDING Vol 19, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i2.10761

Abstract

Instrumen tiup Puik-puik merupakan instrumen tiup kayu dari Sulawesi Selatan suku Bugis-Makassar yang biasanya digunakan dalam ansambel gandrang makassar pada acara tunrung rinci dan juga upacara tradisional. Melalui objek materi ini instrumen pui-puik sangat jarang sekalai dijadikann bahan pembelajaran pedagogik untuk di pelajari dari segi organologi maupun akustika musik. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melakukan penerapan intrumen tiup puik-puik dalam pembelajaran akademis melalui pendekatan ekomusikologis dan juga etnomusikologis. Hasil dari analisis tulisan ini yaitu, ekomusikologi sebagai alat yang dapat digunakan banyak orang dan dapat bermanfaat, menawarkan kepada kita cara untuk menjembatani antara alam dan budaya khususnya dalam bidang musik. Musik berasal juga dari soundscape (bunyi-bunyian dari alam) tentu juga menghubungkan dengan masalah pedagogis yang sebagai wadah lebih besar memahami peran studi lingkungan dan musik dalam konteks pendididikan musik formal. Sarana pembelajaran ini mengajarkan untuk berpikir kritis yang kreatif, karena perlu diingat bahwa krisis lingkungan bukan hanya  krisis sains tetapi juga krisis budaya, sehingga perlu kumpulkan semua sumber daya humanistik dan ilmiah untuk membayangkan, memahami dan menghadapinya. Lingkungan akademis merupakan tempat untuk diskursus dan sebagai tempat memikirkan hal-hal preventif terkait lingkungan kedepan nya melalui musik.Kata kunci: Puik-Puik, Ekomusikologis, Pedagogis
PERUBAHAN GENRANG PALILI’ DALAM RITUAL ADAT MAPPALILI’ DI KELURAHAN BONTOMATE’NE KECAMATAN SEGERI KABUPATEN PANGKAJE’NE DAN KEPULAUAN SULAWESI SELATAN Agim Gunawan; Ela Yulaeliah; Amir Razak
SELONDING Vol 19, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i2.7743

Abstract

ABSTRAKGenrang palili’ merupakan ansambel musik yang memiliki peran penting dalam ritual adat Mappalili’ di Kelurahan Bontomate’ne, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkaje’ne dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Ritual ini menyangkut keselamatan dan kemakmuran masyarakat Bontomate’ne, terutama agar terhindar dari penyakit, bencana, serta gangguan hama dari segi pertanian. Mappalili’ merupakan ritual adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Bontomate’ne, dengan tujuan mengarak alat kerajaan berkeliling kampung, dalam hal ini ialah rakkala (alat bajak). Seiring berjalannya waktu, terdapat perubahan-perubahan yang terjadi di dalam Mappalili’, baik itu perubahan secara musikal, maupun non musikal. Perubahan tersebut dibagi menjadi faktor eksternal, yaitu perubahan yang terjadi akibat masuknya teknologi dan globalisasi ke dalam masyarakat, dan faktor internal, yaitu perubahan karena pemilik kebudayaan itu sendiri.
Dendang Ratok dalam Acara Baralek di Nagari Guguak Malalo Sumatera Barat Ratna Wulan Sari
SELONDING Vol 19, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v19i2.8329

Abstract

Ratok dalam Bahasa Indonesia berarti “Ratap, Ratapan, Meratap” yaitu, tangisan yang disertai dengan ucapan yang menyedihkan. Dendang ratok merupakan jenis dendang yang disuguhkan dalam kesenian bansi malalo, ditampilkan sebagai hiburan dalam acara baralek (perkawinan) yang notabene identik dengan pesta suka cita. Sehingga, muncul rumusan masalah mengenai bagaimana bentuk penyajian dan apa fungsi dendang ratok dalam acara baralek di Nagari Guguak Malalo Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melalui pendekatan Etnomusikologis, dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil dari analisis teks musik menunjukkan, dendang ratok memiliki karakteristik dan ciri khas yang dapat dilihat dari vokal bergaya melismatik dan irreguler (tidak terikat) tempo dan pola ritme, teks dendang berupa pantun bertema kontekstual fenomena-fenomena kehidupan masyarakat Nagari Guguak Malalo. Dendang ratok merupakan manifestasi atau perwujudan dari masyarakat Nagari Guguak Malalo yang digambarkan dalam bentuk dendang. Dapat dilihat dalam bentuk penyajian dendang ratok dalam acara baralek yang ditampilkan sebagai ungkapan emosional, sebagai hiburan, sebagai komunikasi, sebagai sarana pendidikan,yang diminati dan dikehendaki oleh masyarakat pemiliknya sebagai suatu produk budaya.
Sholawat Global: Jalinan Makna Lintas Iman Nurvijayanto, Ribeth; Kiswanto, Kiswanto
SELONDING Vol 20, No 1 (2024): : Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i1.12411

Abstract

Sholawat Global adalah karya seni musik  yang merepresentasikan sikap toleransi praktik keberagamaan. Karya ini menyimpan pelbagai makna-makna yang mendalam. Penelitian ini dikerjakan dengan pendekatan kualitatif eksplanatoris dengan mewacanakan analisis semiotika yang ditawarkan Umberto Eco yang ditinjau dari kesatuan teks dan konteks Etnomusikologis. Penggalian makna  dalam Sholawat Global dianalisis menggunakan perspektif semiotika yang ditawarkan oleh Umberto Eco yaitu pemaknaan konotatif dan denotatif. Makna denotatif dalam karya ini ditinjau dari simbol-simbol hasil  manifestasi agama dunia yaitu kristen, Yahudi, dan Islam berupa lagu-lagu yang disajikan. Lagu-lagu yang dibawakan mengandung ekspresi yang menyuarakan perdamaian dalam konteks kehidupan sosial agama-agama dunia. Ekspresi musikal dan non musikal dalam karya ini merepresentasikan sebuah konten berupa kontruksi budaya dan konflik sosial yang hadir dalam persinggungan antar agama-agama dunia tersebut. Sholawat Global memiliki makna konotasi yang memposisikan lagu tersebut sebagai media komunikasi masyarakat. Pemaknaan denotasi dan konotasi mencerminkan kesatuan makna yang saling menguatkan. Lewat ekspresi musikal dan non musikal, pesan dari perdamaian yang memberikan efek keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia yang dikumandangkan. Kata kunci: Sholawat Global, Semiotika, Etnomusikologis
Kabata Tanrasula “Seeking Tuan Guru”: Konstelasi Artistik Indonesia (Pertunjukan Musik) terhadap Diseminasi Geopolitik dan Geokultural Kurniawan, Rahmat
SELONDING Vol 20, No 1 (2024): : Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i1.12280

Abstract

Kabata Tanrasula merupakan karya pertunjukan lintas media dan lintas unsur seni, ada unsur tari, teater dan juga seni rupa dengan melekat audio visual yang dikolaborasikan sedemikan rupa. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah Study Literatur Review (SLR) dan juga Studi kasus, hal ini dilakukan perihal data yang dikumpulkan melalui berbagai penelitian dalam dan luar negeri, dalam misinya Tuan Guru menyiarkan islam sampai ke Cape Town Afrika Selatan. Adorno mengatakan dalam teori sosial yaitu memberikan analisis konseptual tentang bagaimana pencerahan, yang pada mulanya ditujukan untuk mengamankan kebebasan dari ketakutan dan otoritas manusia, berubah menjadi beberapa bentuk dominasi politik, sosial dan budaya dimana manusia kehilangan individualitas dan masyarakat kehilangan makna kemanusiaan. Hasil dari penelitian ini adalah bentuk dari resistensi Tuan Guru yaitu Syech Yusuf Al-Makassari dan Syech Imam Abdullah Tidore dalam perlawan belanda hingga diasingkan dan meninggal di Cape Town. Residensi ini disampaikan kemasyarakat dalam bentuk pertunjukan musik Kabata Tanrasula memberikan konteks pada musik, menginvestasikannya dan signifikansinya, namun musik itu sendiri mengartikulasikan bentuk-bentuk sosial solidaritas yang berfungsi sebagai aksi sosial teladan, musik menyediakan cara memberikan kesaksian dan mengatakan kebenaran menceritakan kisah itu yang mendasari dampak geopolitik dan geokultural.
BREGADA REKSO WINONGO KAMPUNG NGAMPILAN DALAM ACARA BREGADA RAKYAT MALIOBORO Sardjono, Aryapandu Zikri; Warsana, Warsana; Sudarno, Sudarno
SELONDING Vol 20, No 1 (2024): : Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i1.10994

Abstract

Bregada merupakan nama lain dari brigade yang berarti kelompok prajurit. Bregada merujuk kepada kelompok prajurit yang terdapat pada Keraton Yogyakarta, dalam sejarah perkembangannya bregada menjadi sebuah pertunjukan atraksi budaya yang diminati oleh masyarakat biasa. Oleh sebab itu masyarakat biasa berinisiatif untuk membuat sebuat kelompok atau grup baris berbaris dengan konsep meniru kepada kelompok prajurit Keraton yaitu bregada, sehingga muncul kelompok baris-berbaris dimasyarakat yang dinamakan Bregada Rakyat. Bregada rakyat terdiri dari berbagai unsur dalam masyarakat sehingga banyak hal yang menarik dalam sebuah kelompok atraksi budaya ini. Pada tahun 2021 tepatnya bulan November Dinas Pariwisata bersama dengan Dinas Kebudayaan membuat suatu kegiatan dimana Bregada Rakyat menjadi peran penting didalamnya yaitu Bregada Rakyat Malioboro. Salah satu kelompok atraksi budaya Bregada Rakyat yang terpilih adalah Bregada Rekso Winongo. Bregada Rekso Winongo merupakan kelompok atraksi budaya dengan konsep peniruan prajurit Keraton yang berada di bantaran sungai Winongo oleh sebab itulah di namakan Rekso Winongo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis dimana pola garap menjadi teks dan fungsi Bregada Rekso Winongo sebagai konteks. Pada pola penyajian dari Bregada Rekso Winongo ini terdapat beberapa unsur didalamnya yaitu penggarap, sarana garap, perabot garap. Dalam fungsinya Bregada Rekso Winongo ini juga berfungsi untuk menghibur,membantu, serta memberikan informasi seputar kawasan wisata Malioboro.
Genikng Niti dalam Upacara Adat Kematian Suku Dayak Tunjung Rentenukng Desa Linggang Muara Batuq Kabupaten Kutai Barat Alya, Farah; Arsana, I Nyoman Cau; Laksono, Joko Tri
SELONDING Vol 20, No 1 (2024): : Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i1.7677

Abstract

Genikng menurut masyarakat suku Dayak Tunjung Rentenukng berarti Instrumen Gong dan Niti berarti sebutan bunyi dari pada Genikng ketika terdapat adanya kabar duka. Genikng Niti merupakan tindakan yang wajib dalam upacara adat kematian suku Dayak Tunjung Rentenukng. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian Genikng Niti dalam upacara adat kematian serta mengetahui wujud komunikasi Genikng Niti dalam upacara adat kematian. Untuk menganalisis objek material tersebut, menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis. Genikng Niti dalam upacara adat kematian suku Dayak Tunjung Rentenukng, memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat dari aspek tekstual dalam penyajiannya yaitu, pelaku, instrumen, pola Genikng, tempat, dan waktu. Wujud komunikasi pada Genikng  dapat dilihat dari komunikasi vertikal dan horizontal. Komunikasi horizontal yaitu, komunikasi Genikng Niti sebagai aktivitas simbolis, komunikasi Genikng Niti sebagai proses upacara adat kematian, komunikaasi Genikng Niti sebagai makna.Kata kunci: Genikng Niti, Upacara adat kematian, Suku Dayak Tunjung Rentenukng, Komunikasi.
PENGARUH LATIHAN PADUAN SUARA TERHADAP LEVEL EMPATI DI MASA DEWASA AWAL Wiryantari, Novanda Debora; Zahra, Fifyan Nisrina; Ikalor, Edwin Gilberth Adolfino; Muntasya, Alya Syabina
SELONDING Vol 20, No 1 (2024): : Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i1.11604

Abstract

ABSTRAKPentingnya empati sebagai sebuah keterampilan sosial meningkatkan fokus penelitian terkait hal ini. Salah satu penelitian yang banyak dilakukan adalah mengeksplorasi peran aktivitas bermusik secara kelompok terhadap peningkatan empati individu yang terlibat di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan paduan suara selama tiga bulan dengan menitikberatkan pada aspek-aspek yang dianggap mempromosikan empati terhadap level empati mahasiswa. Penelitian dilakukan pada kelompok mahasiswa di Yogyakarta (N=60) dengan desain pretest-posttest antara kelompok kontrol dan kelompok treatment. Pengukuran empati menggunakan terjemahan kuesioner Interpersonal Reactivity Index (IRI) menunjukkan tidak terdapat pengaruh latihan paduan suara terhadap level empati pada partisipan yang terlibat dalam penelitian.ABSTRACTThe Effect of Choir Practice to Empathy Level in College Students The importance of empathy as a social skills increases the research interest in this area. Among many researches in this topic, music and its potential to promote empathy is one of the most explored. This research aim to find the effect of intensive choir training to the improvement of empathic level in college students. The research is conducted through a quantitative research in a pretest-posttest design between experiment and control group (N=60). The empathic level is measured by Interpersonal Reactivity Index (IRI) and the result shows there is no effect of choir practice to the empathic level in college students.

Page 12 of 13 | Total Record : 129