cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011" : 8 Documents clear
Legenda Penciptaan Teater Boneka Tiongkok dan Persebarannya di Nusantara Hirwan Kuardhani; C. Bakdi Soemanto; Lono Lastoro Simatupang; Timbul Haryono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.451

Abstract

Wayang Cina berkembang pesat di Indonesia. Beberapa legenda Cina berkembang mengikuti berkembangnyawayang tersebut, misalnya: Legenda Madame Li, legenda Chen Ping, dan legenda Yan. Beberapa lagenda tersebutdibawa oleh imigran Cina ke wilayah Indonesia, seperti Marionette, yang dikenal sebagai wayang gantung , yangdikembangkan di sekitar Pontianak dan Singkawang. Marionette disajikan dalam dialek Hakka dan menyajikanlegenda Cina. Sementara boneka sarung tangan yang dikenal adalah wayang Potehi, tumbuh di Jawa berasal dariFujian, awalnya dalam dialek Hokkian. Dalam perjalanannya, Potehi menggunakan bahasa Melayu Rendah yangmenjadi bahasa Indonesia. Potehi dan Boneka Gantung ( wayang gantung) telah menjadi bagian dari kebudayaanIndonesia. Mereka layak mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat, terutama pelaku dan pengamatseni.Kata kunci: Wayang Potehi, legenda Cina, marionette, wayang gantung.ABSTRACTThe Chinese Puppet Theatre Legend and Its Spreading in Nusantara. Chinese Puppet Theatre is growingrapidly. Some legends followed to rise Chinese Puppet, for example: Legend of Madame Li, legend of Chen Ping, andlegend of Yan. Some of them were brought by Chinese immigrants into Indonesian territory, such as Marionette, known ashanging puppet (Wayang gantung), which is developed around Pontianak and Singkawang , West Kalimantan Province.Marionette was performed in Hakka dialects and performed Chinese legend. While the glove puppet known is wayangPotehi, grown in Java, originated from Fujian, was originally in Hokkian dialect. In its journey, Potehi used Low Malaylanguage which became bahasa Indonesia. Potehi and Hanging Puppets( wayang gantung) have become parts of ourculture. They deserve more attention from the goverment and public, especially the actors and art observers.Key words: Chinese Puppet theatre, legend, marionette), Glove Puppet ( Potehi / 布袋戲))
Pengaruh Islam dalam Kesenian Setrek di Magelang Langen Bronto Sutrisno
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.452

Abstract

Setrek adalah jenis kesenian tradisional terbangan atau slawatan yang berfungsi sebagai media dakwah agamaIslam. Sebagai jenis kesenian tradisional slawatan, perpaduan unsur-unsur estetis seni yang bernafaskan Islamdengan unsur-unsur estetis kesenian rakyat tradisional merupakan akulturasi budaya yang mencerminkan bentukkreativitas lokal. Pengaruh seni Islam tidak dimaksudkan untuk merubah wujud keseluruhan koreografi nya, tetapilebih merupakan formalitas nilai Islam dalam wajah kesenian tradisional untuk tujuan dakwah. Oleh karena itubentuk penyajiannya tetap dalam format tradisi dengan sedikit sentuhan nafas Islam. Misalnya penyajian gerak tarihampir tidak dijumpai nafas Islam kecuali gerak takbiratul ihram Allohu Akbar, tokoh Kyai Ba’in yang merupakanrefresentasi seorang ulama dengan tata busana khas Islam, iringan diberi nafas Islam dengan syair-syair kitab AlBarjanzi dilengkapi instrumen terbang dan jidor mewakili musik Islam. Nafas Islam sebenarnya lebih merupakanlegalitas spirit Islam dalam kesenian setrek dengan harapan semua pemain dan penonton dapat mengamalkan agamaIslam dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu media dakwah dapat dilihat dalam setiap ungkapan nilainilaiajaran Islam berkait dengan Tuhan Allah SWT dan Rosul-Nya Nabi Muhammad SAW. Dengan demikiansetiap gerak dan musik iringan atau syair dalam kesenian setrek harus dijiwai nilai-nilai ajaran Islam. Ikon-ikondemikian penting untuk dipahami agar mereka dapat selamat hidup di dunia dan di akhirat. Kehadiran agama Islamdalam nafas perkembangan kesenian setrek tampak memperkaya penampilannya, sehingga kehadiran kesenian inidalam kehidupan masyarakat semakin menumbuhkan kualitas dalam beragama Islam, meskipun disadari sisa-sisakepercayaan kuno masih mewarnai kesenian setrek, seperti atraksi ndas-ndasan yang berupa atraksi mengimitasibinatang. Variasi atraksi arak-arakan ndas-ndasan dengan mengelilingi dusun bertujuan untuk mengusir pengaruhroh-roh jahat.Keywords: setrek, kesenian Islam, slawatan.ABSTRACTIslam infl uence on Setrek art in Magelang. Setrek is a type of traditional terbangan art or slawatan (Islamicsong) that serves as a medium for preaching Islam. As a kind of traditional slawatan art, it seems to blend Islamic aestheticelements with aesthetic traditional elements which become a form of cultural acculturation refl ecting the local creativity.The infl uence of Islamic art is not intended to change the overall form of the choreography, but the Islamic elements aremore of Islamic value formality in the form of traditional arts for the purpose of preaching Islam religion. Therefore, theform of presentation remains in the format of Islamic tradition. For example, the presentation of dance movement hardlyfi nds Islam infl uence except takbiratul ihram Allohu Akbar, KyaiBa’in as the representation of Islam priest wearing typicalIslamic outfi t; the music is also Islamic with given poems from Al Barjanzi’s book equipped with terbang and jidor. Islaminfl uence is actually more of a Islamic spirit legacy in setrek art with the hope that all the players and audience can practiceIslam in their daily lives. Therefore, the preaching media of Islam can be seen in any expression of Islamic values in relationto Allah SWT and His diciplesNabi Muhammad SAW. Thus every movement and musical accompaniment or poem insetrek art should be imbued the values of Islam. Icons, thus, are important to understand so that the people can live safelyin this world and in the hereafter. The presence of Islam in the breath of the setrek artistic development looks enriching itsperformance, so the presence of this art among the people living in Kedungan III improves the quality of embracing Islam,although there are the remnants of ancient beliefs which still characterize setrek art, such as ndas-ndasan attraction in theform of imitating animal . Variations in ndas-ndasan attraction parade around the village aims to expel the infl uence ofevil spirits.Keywords: setrek, Islam music, slawatan.
Menemukan Formula Sinematografi Seni Pertunjukan Arif Eko Suprihono; Andri Nur Patrio
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.453

Abstract

Fokus dari sinematografi untuk seni pertunjukan dimaksudkan untuk diskusi tentang pembuatan pilihanpencahayaan dan kamera saat merekam aktivitas seni pertunjukan di panggung untuk program televisi. Televisiadalah bentuk di mana sesuatu disampaikan, dicapai, atau ditransfer ke sejumlah besar orang. Isu ‘efek’ televisikehilangan program-program yang mengarah perlu diminta tidak hanya dalam hal efek atau kegiatan penontontetapi juga dalam hal kesempatan yang hilang bagi keanekaragaman budaya yang akan diekspresikan pada kreativitastelevisi. Setiap aspek dari televisi menunjukkan ketergantungan pada genre, yang merupakan kelompok kategorisproses diskursif yang transek teks melalui interaksi budaya mereka dengan industri, penonton, dan konteks yanglebih luas. Kita mungkin mulai diskusi dengan memulai dengan contoh tekstual seperti ketoprak humor, wayangkulit, opera van java sebagai praktek industri, pergeseran sejarah, atau kontroversi penonton.Kata kunci: sinematografi , seni pertunjukan, ketoprak humorABSTRACTThe Formula of Performing Arts Cinematography. The focus of cinematography for performing arts is intendedto a discussion about the making of lighting and camera choices when recording performing arts activities on stage for thetelevision programs. Television is the form in which something is conveyed, accomplished, or transferred to a large numberof people. The issues of ‘the effects’ of television miss leading programs needs to be asked not only in terms of effects oraudience activity but also in terms of missing opportunities for cultural diversity to be expressed on television creativities.Every aspect of television exhibits a reliance on genre, which are categorical clusters of discursive processes that transect textsvia their cultural interactions with industries, audiences, and broader contexts. We might begin a discussion by startingwith a textual example such as ketoprak humor, wayang kulit, opera van java as an industrial practice, a historical shift,or an audience controversy.Key words: cinematography, performing arts, cultural values, aesthetical consideration, television effects
Mapalalian Agus Kastama Putra
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.456

Abstract

Komposisi “ Mapalalian” merupakan representasi dari sebuah aktifi tas permainan anak-anak di Bali yaitu Meduldulan.Di balik kesederhanaan permainan Medul-dulan terkandung nilai-nilai seperti belajar untuk menghormatisesama teman, bersifat sportif dan saling tenggang rasa. Di samping itu dalam permainan Medul-dulan terdapat pulasuasana kegembiraan, kelincahan, riang, gembira, senang, bersembunyi, serta berlarian. Hal-hal tersebut dicobadiolah melalui proses musikalisasi menjadi suatu bentuk komposisi musik etnis. Beberapa tahap yang dilalui dalampembuatan komposisi ini ialah eksplorasi, improvisasi, pembentukan, serta evaluasi. Instrumen yang dipilih sebagaimedia ungkap dalam komposisi ini adalah instrumen yang diambil dari Gong Kebyar, kendang Banyuwangi, sulingGambuh, Ongek-ongekan. Instrumen-instrumen tersebut dipilih karena memiliki karakter suara yang sesuai denganide garapan dalam komposisi ini.Kata Kunci: mapalalian, medul-medulan, komposisi musik.ABSTRACT” Mapalalian” Composition. This composition represents a children’s play activity in Bali called Medul-dulan.Behind its simplicity Medul-dulan game contains values such as learning to respect peers, sportsmanship and mutualtolerance. In addition, Medul-dulan game also presents the atmosphere of excitement, agility, cheerful, happiness, hidingand running. Those things were tried to be processed through the music and resulted in a form of ethnic musical composition.Some of the stages traversed in making this composition were exploration, improvisation, creation, and evaluation. Theinstruments selected as the showing media in this composition were partly taken from Gong Kebyar, Banyuwangi drums,Gambuh fl ute, and Ongek-ongekan. These instruments were selected due to their voice character which fi t the idea of thiscomposition.Keywords: mapalalian, medul-medulan, musical composition, Balinese music
Penciptaan Naskah Drama Ambu Hawuk Berdasarkan Tradisi Lisan dan Perspektif Jender Budi Darma
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.460

Abstract

Artikel ini membahas proses penciptaan naskah drama Ambu Hawuk . Naskah ini diadaptasi dari cerita lisandan mitologi lokal yang berkembang di daerah Sunda. Cerita lisan dikumpulkan melalui wawancara mendalamdengan para informan yang mewakili berbagai versi. Setidaknya terdapat enam versi tradisi lisan mengenai tokohini, yaitu versi Cikawungading, Manonjaya, Cianjur, Sukaraja, Parungponteng, dan Galunggung. Dari keenamversi tersebut terdapat variasi dan kesamaan. Naskah ini mencoba membangkitkan kembali semangat feminismedalam peristiwa-peristiwa yang dijalin dalam legenda Ambu Hawuk. Sistem patriarki masyarakat Sunda lebih seringmemandang perempuan sebagai sebuah kaum yang memiliki keterbatasan dibandingkan dengan kaum laki-laki.Cerita ini menggambarkan seorang perempuan yang dianggap berada di belakang laki-laki dan menjadi bayangbayangseorang laki-laki, muncul menjadi seorang pemimpin.Kata kunci: Ambu Hawuk, naskah drama, tradisi lisan.ABSTRACTThe Creating Process of Drama Script Ambu Hawuk Based on the Oral Tradition and the GenderPerspective. This article discusses about the creating process of the drama script Ambu Hawuk. This script was adaptedfrom the oral story and the local mythology developed in Sunda. This oral story was compiled through the intensive interviewwith some sources of information that represented many kinds of versions. There are six versions of the oral traditiontalking about this character, namely: the version of Cikawungading, Manonjaya, Cianjur, Sukaraja, Parungponteng, and Galunggung. Of those six versions, there are varieties and similarities. This script tries to develop feminism spirit on someinterrelated events in Ambu Hawuk legend. From the perspective of Sundanese’ point of view on the patriarchy system, women are regarded as God’s creature who have more basic physical and mental limitations than men. This story describes a woman who is regarded as a person behind the man’s existence and becomes the man’s shadow; but soon afterwards, she becomes a leader.Keywords: Ambu Hawuk, Drama Script, Oral Tradition
Karawitan Pakeliran Gaya Kedu Bagelen Suhardjono Suhardjono; Trikoyo Trikoyo
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.464

Abstract

Karawitan pakeliran gaya Kedu Bagelen merupakan salah satu gaya Kedu yang berkembang di wilayahPurworejo. Fungsi karawitan tertuang dalam sajian-sajian gending yang disesuaikan dengan adegan-adeganpakeliran. Karawitan berfungsi membantu menciptakan suasana adegan dan karakter tokoh wayang. Strukturpenyajian gending terdiri dari gending Pengawe-awe yang berbentuk ladrang dilanjutkan dengan bagian gendingGagalan berbentuk ketuk 2 kerep minggah ketuk 4 kerep. Gending tersebut laras slendro patet sanga. Bagian gendingpakeliran terangkai dari awal pertunjukan atau bedhol kayon sampai akhir pertunjukan atau tancep kayon. Metodedeskriptif analisis digunakan dalam penelitian ini untuk mengungkap penyajian gending-gending dalam karawitanpakeliran gaya Kedu Bagelen. Ciri khas yang membedakan dengan karawitan pakeliran yang lain terletak pada garapbalungan gending.Kata kunci: karawitan, pakeliran, wayang Kedu, BagelenABSTRACTGammelan Music for Wayang of Kedu Bagelan Style. The Javanese musical functions are expressed in gendinginstruments adjusted into pakeliran scenes; the instrument helps in creating the scene atmosphere and puppet characters.Kedu Bagelen musical style has its own characteristics which are different from other styles. The structure of gendinginstrument presents gending Pengawe-awe in ladrang notation followed by parts of gending Gagalan which consists of 2 kerepminggah rhythms and 4 kerep rhythms. Gending instrument applies the notation of laras slendro patet sanga. The seriesof gending pakeliran are sequenced from bedhol kayon / opening scene until tancep kayon/ending scene of the puppet show. The research applied descriptive method of analysis in revealing the presentation of gending in Kedu Bagelen pakeliran musical style. There were several characteristics that distinguished it from other pakeliran music. The most prominent specifi cation of pakeliran work on Bagelen Kedu musical styles lied on the work of balungan gendingKeywords: gamelan music, wayang performance, Kedu Bagelen
Lakon Laire Antasena: Konsep ”Jembar Tanpa Pagut” dalam Tradisi Wayang Ngayogyakarta Aris Wahyudi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.465

Abstract

Antansena adalah putra Dewi Urangayu, salah satu istri Bima. Dia adalah karakter yang unik di dunia wayangNgayogyakarta. Sebagai seorang ksatria Pandawa, Antasena mewakili kekuatan dan kebijaksanaan, rendah hati, danunik. Dia memiliki perilaku yang aneh terhadap saudara yang lain. Dia tidak pernah berkata sopan kepada siapapun, seperti Bima, ayahnya. Dia memiliki karakter yang khas yang tidak ditemukan dalam tradisi Mahabharata atautradisi wayang lainnya. Keberadaannya dilengkapi dengan karakternya, sejarah, dan kehidupan dari lahir sampaimati di dunia. Antasena yang benar-benar dibuat untuk menempatkan ide. Melalui mitologi wayang, karakterAntasena dari aspek kedatangannya adalah identifi kasi laut sebagai budaya Jawa akan menjelaskan konsep ’JembarTanpa pagut’, kualitas jiwa yang harus dibangun oleh orang Jawa untuk menghadapi kehidupan. Melalui hubungananalogi tersebut, kehidupan nyata orang Jawa harus memahami diri mereka ke tempat itu.Kata kunci: Antasena, wayang, konsep ’jembar tanpa pagut’ABSTRACTThe Antasena Play: ”Jembar Tanpa Pagut” Concept in Wayang Ngayogyakarta Tradition. Antansena was Dewi Urangayu’s son, one of Bima’s wives. He was a unique character in Ngayogyakarta wayang world. As a Pandawa knight, Antasena represented a powerful, wise, low-profi le but unique knight. He had such an odd behavior against his other brothers’. He never said politely to anyone, just like Bima, his father. He is the specifi c character in Ngayogykarata wayang tradition, because it will not be found in Mahabharata tradition or other wayang traditions. His existence comes with his character, history, and life from birth to death in wayang world. As a culture, Antasena is absolutely made for placing an idea. Through wayang mythology, a mean in Antasena character from his coming aspect is an identifi cation of ocean as Javaneses culture would explain the concept of ‘jembar tanpa pagut’, a soul quality which must be built by Javaneses to face life. Through such analogy relation, Indonesian’s real life (especially Javaneses) should understand themselves to place it.Keywords: Antasena, ocean aspect, ”jembar tanpa pagut” concept, life quality perfection leading.
Musik Keroncong Campur Sari dalam Pluralitas Budaya Masyarakat Sawahlunto Yon Hendry
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i1.468

Abstract

Artikel ini membahas fenomena musik keroncong campur sari yang berkembang di daerah Sawahlunto. Untukmemahami fenomena ini digunakan studi kasus pada Orkes Keroncong Campur Sari Irama Masa Sawahlunto.Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa musik Keroncong Campur Sari yang hidup di dalam masyarakatSawahlunto sangat berbeda dengan yang hidup di Jawa. Alat musik yang digunakan mengakomodasi alat musikdari berbagai etnis yang hampir mewakili semua etnis masyarakat yang hidup di Sawahlunto. Kondisi demikianpula yang menjadi alasan bahwa kesenian tersebut tidak bernama Campur Sari seperti di Jawa. Meskipun masihmenggunakan istilah campur sari, tetapi pola permainan musiknya dan repertoar lagunya pun merupakanpercampuran dari berbagai tradisi masyarakat yang hidup di dalamnya. Dengan demikian jelas bahwa pluralismemasyarakat Sawahlunto di sini terrefl eksikan pada pluralisme alat musik dan permainan orkesnya.Kata kunci: keroncong, campursari, musik tradisi.ABSTRACT Keroncong Campur Sari Music in Pluralism Sawahlunto People. This article mainly discusses about thekeroncong music phenomenon, campur sari, that has been developed well in Sawahlunto. In order to understand thisphenomenon, a case study was used for the research in campur sari keroncong orchestra “Irama Masa” Sawahlunto.Based on the research, it can be concluded that there is a signifi cant difference between the keroncong music campursari in Sawahlunto and in Java. The music instruments used for campur sari are those which accommodate some musicinstruments from the ethnic groups live in Sawahlunto. Based on this characteristic, therefore, the name of this keroncongmusic is not similar to the music that is well known in Java, Campur Sari. Although the name of campur sari is stillbeing used, but basically, the pattern in performing the music and its repertory are based on the mixing of many culturalaspects of people living there. Therefore, the pluralism of people in Sawahlunto is refl ected clearly on the pluralism of music instruments and of the orchestra performance.Keywords: keroncong, campur sari, traditional music.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue