cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019" : 6 Documents clear
Pembelajaran Musik Kreatif Dalam Sudut Pandang Pembelajaran Abad ke-21 Oriana Tio Parahita Nainggolan; Vill Alvia Martin
PROMUSIKA Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v7i2.3454

Abstract

Creative music learning is one of the challenging subjects of  learning music for elementary school students. The main topic of creative music is sound. It is the most important element in learning music. Sound must recognized and heard at the beginning of music lesson. Creative music aims not only to develop students’ listening skills but also to develop the ability to in making innovation in music either creating creative musical composition or musical instruments. The students also will get the advantages from creative music learning processes such as critical thinking, communication, collaboration, and creativity and innovation (4C). In the framework of the 21st century learning, the 4C is the ability that must achieved by the students. Although creative music subject is important in learning music, it has not been widely taught in public schools. This paper will examine how 4C integrated  into creative music learning. The data obtained from observations and interviews during the music creative learning process. The results have shown that students integrate 4C in the learning process. Making creative music requires critical thinking finding various possibilities in order to make making innovations in music. Communication skill is also needed to express ideas from critical thoughts. The collaborative ability also used when playing creative music. Critical thinking skills, communication, and collaboration will ultimately result in creativity and innovation in making creative music. Pembelajaran musik kreatif merupakan salah satu pembelajaran yang menarik bagi siswa Sekolah Dasar (SD). Materi utama pembelajaran musik kreatif adalah suara. Suara merupakan materi pertama yang harus dikenali oleh siswa pada pembelajaran musik. Pembelajaran musik kreatif bertujuan tidak saja untuk mengembangkan keterampilan mendengar, tetapi juga mengembangkan kemampuan dalam membuat inovasi mencipta komposisi musik kreratif. Pada saat pembelajaran musik kreatif, siswa juga mendapat keuntungan yaitu melatih kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan kreativitas serta berinvoasi (4C). Kemampuan 4C merupakan kemampuan yang harus dicapai oleh seluruh peserta didik dalam pembelajaran abad 21. Artikel ini bertujuan untuk mendeksripsikan kemampuan 4C pada pembelajaran musik kreatif. Data penelitian diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokuemntasi selama proses pembelajaran musik kreatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan 4C terintegrasi secara langsung pada pembelajaran musik kreatif. Kemampuan 4C dibutuhkan siswa pada saat membuat komposisi musik kreatif. Pada saat membuat komposisi musik kreatif, berpikir kritis dibutuhkan untuk menemukan berbagai macam kemungkinan suara untuk disusun dalam komposisi musik kreatif. Kemampuan berkomunikasi digunakan untuk dapat mengkomunikasikan ide-ide untuk membuat komposisi musik kreatif. Kemampuan berkolaborasi digunakan untuk dapat memainkan komposisi musik kreatif. Kreativitas merupakan hasil dari kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi dan berkolaboasi sehingga dapat membuat dan memainkan komposisi musik kreatif. 
Penerapan Sistem Equal Temperament pada Penalaan Piano di Yogyakarta Eritha Rohana Sitorus; Kustap Kustap; Alief Aditya Subekti
PROMUSIKA Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v7i2.3628

Abstract

This study examines the equal temperament theory on the piano strings tuning methods and their application. The problem raised in this study is how the theory is applied in tuning the pianos in Yogyakarta? To uncover the problem, this study utilizes a theoretical method by confirming the approaches that have been used by two piano tuners in Yogyakarta to the theories about piano tuning. The purpose of this study was to obtain knowledge about the application of the equal temperament principles in piano tuning in Yogyakarta. This study concludes that although all piano tuners were based their tuning on the theory of equal temperament with varied approaches and techniques ear sensitivity has a very important role.Penelitian ini menguji teori equal temperament pada metode penalaan dawai piano dan aplikasinya. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana teori tersebut diterapkan dalam penalaan piano di Yogyakarta? Untuk mengungkap masalah tersebut, penelitian ini menggunakan metode teoritikal, yaitu dengan mengkonfirmasi pendekatan yang telah digunakan oleh dua orang penala piano di Yogyakarta dengan teori-teori tentang penalaan piano. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang penerapan prinsip-prinsip equal temperament dalam penalaan piano di Yogyakarta. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun semua piano tuner mendasarkan penalaan mereka pada teori temperamen yang sama dengan berbagai variasi pendekatan dan teknik, pada kenyataannya sensitivitas telinga memiliki peran yang sangat penting.
Penyajian Musik Goa Tabuhan di Pacitan Jawa Timur Harpang Yudha Karyawanto; Moh. Sarjoko
PROMUSIKA Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v7i2.3516

Abstract

Goa Tabuhan music in Wareng Village, Punung District, Pacitan Regency, East Java, is a unique musical phenomenon, so that its sustainability needs to be preserved. Since the first appearance of the Goa Tabuhan music tradition community until now, percussion music activity with rocks on the cave wall as its media has become a performance art that is accepted as part of the social life of the community in Pacitan. This study tries to uncover the characteristics and structure of the presentation of the music performance of Goa Tabuhan. Based on the nature of the data to be analyzed, this study uses a qualitative research approach. The purpose of this study is to describe the phenomenon of the emergence of Goa Tabuhan musical art in Pacitan, the unique presentation of the position of the stone that hangs naturally as well as its playing techniques, and the overall structure of the performance. This study concludes that the music of Goa Tabuhan, which appeared in rural communities, turned out to have a different form of performance art compared to the others. Its appearance as a natural phenomenon that was created in the cave, then packaged in the form of a unique musical performance, could finally be a musicthat can be accepted by the public in general.Musik Goa Tabuhan di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, adalah fenomena musik yang unik, sehingga keberlanjutannya perlu dilestarikan. Sejak kemunculan pertama komunitas tradisi musik Goa Tabuhan hingga sekarang, aktivitas musik perkusi dengan batu di dinding gua sebagai medianya telah menjadi seni pertunjukan yang diterima sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat di Pacitan. Penelitian ini mencoba mengungkap karakteristik dan struktur presentasi dari pertunjukan musik Goa Tabuhan. Berdasarkan sifat data yang akan dianalisis, penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan fenomena munculnya seni musik Goa Tabuhan di Pacitan, presentasi unik dari posisi batu yang menggantung secara alami serta teknik bermainnya, dan keseluruhan struktur pertunjukan. Studi ini menyimpulkan bahwa musik Goa Tabuhan, yang muncul di masyarakat pedesaan, ternyata memiliki bentuk seni pertunjukan yang berbeda dibandingkan yang lain. Penampilannya sebagai fenomena alam yang diciptakan di dalam gua, kemudian dikemas dalam bentuk pertunjukan musik yang unik, akhirnya bisa menjadi musik yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya.
Bentuk Sonata Konserto Ritornello Klasik pada Gerakan Pertama Concerto in G for Flute karya W.A. Mozart (1756-1791) Andre Indrawan
PROMUSIKA Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v7i2.3452

Abstract

This study analyzes the musical structure of classical ritornello of Mozart’s Concerto in G for Flute, K.131. Problem that is discussed here is where the changing spots of sonata form’s main sections happened in this Mozart work? The purpose is to gain an understanding of the application of sonata form in early ritornello classical concerto. To achieve the goal this study utilizes the theoretic-analytical method. Analitically, subject is reconstructed into parts to understand their relationship that leads into its formal unity as a compositional work. Theoretically, analysis findings are confirmed to theories of musical forms. Through this theoretic-analytical method this study concludes that even though composed in ritornello style this work applies the standard sonata Allegro form. Kajian ini menganalisis bentuk musik konserto ritornello klasik dari Concerto in G for Flute, K.131, karya W.A. Mozart. Permasalahan yang dibahas ialah di manakah titik-titik perubahan seksi-seksi utama bentuk sonata yang terjadi pada karya Mozart ini? Tujuan kajian ini ialah untuk memperoleh pengetahuan mengenai penerapan bentuk sonata pada konserto klasik awal yang bergaya ritornello. Guna mencapai tujuan tersebut kajian ini menerapkan metode analitikal-teoretis. Secara analitikal, karya ini didekonstruksi ke dalam bagian-bagian guna memahami keterkaitan bagian-bagian tersebut  yang membawa pada suatu kesatuan bentuk sebagai sebuah karya. Secara teoretik temuan dari analisis ini dikonfirmasikan pada teori-teori bentuk musik yang relevan. Melalui metode analitikal-teoretis tersebut kajian ini menyimpulkan bahwa walaupun terbingkai oleh gaya ritornello, karya ini menggunakan bentuk sonata Allegro.
Vocalista Harmonic Choir: Konsep dan Peran Show Choir Paduan Suara Tri Wahyu Widodo; Winarjo Sigro Tjaroko; Ferlian Anggy Setyawan
PROMUSIKA Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v7i2.3368

Abstract

Fenomena Show Choir merupakan hal yang menarik dalam proses perkembangan sebuah kegiatan bermusik dalam bentuk paduan suara. Paduan suara merupakan proses musikal dalam bermain musik dengan cara menggabungkan beberapa suara yaitu Sopran, Alto, Tenor, dan Bass atau biasa disingkat dengan SATB. Proses olah suara dalam bentuk paduan suara sudah banyak diteliti, akan tetapi untuk proses pengolahan paduan suara sebagai pertunjukan yang menggunakan kososep Show Choir masih sangat jarang untuk dibahas. Istilah Show Choir muncul saat perlombaan pertunjukan paduan suara dan saat ini menjadi sebuah fenomena dalam festival paduan suara. Konsep Show Choir dapat membentuk sebuah paduan suara menjadi pertunjukan yang menarik jadi sangat penting bila diaplikasikan pada bagian proses pembelajaran paduan suara. Fenomena Show Choir biasanya dilakukan pada saat kompetisi atau lomba paduan suara. Jadi sangat perlu bagaimana untuk mengetahui sebuah konsep Show Choir pada paduan suara dalam festival choir. Konsep Show Choir sangat bermanfaat bagi para pemusik yang menggeluti bidang paduan suara. Selain itu memahami sebuah konsep Show Choir juga bermanfaat membentuk sebuah penampilan musik yang berupa paduan suara lebih menarik dan perlu diterapkan pada sebuah pembelajaran musik pada paduan suara baik untuk peserta didik baik tingkat anak-anak hingga tingkat professional, formal maupun non formalAbstractThe Show Choir phenomenon is an interesting thing in the process of developing a musical activity in the form of a choir. The choir is a musical process in playing music by combining several sounds namely Soprano, Alto, Tenor, and Bass or commonly abbreviated as SATB. The process of choir processing in the form of choirs has widely studied, but for the process of choir processing as a performance that uses the Show Choir concept is still very rare to be discussed. The term Show Choir emerged during the choir performance competition and is now a phenomenon in the choir festival. The concept of Show Choir can form a choir into an interesting show, so it is very important when applied to the choir learning process. The Show Choir phenomenon is usually carried out during a choir competition or competition. So it is very necessary how to find out a Show Choir concept on choir in choir festival. The concept of Show Choir is very useful for musicians who are in the field of choir. Besides understanding a Show Choir concept it is also useful to form a musical performance in the form of choir which is more interesting and needs to applied to music learning in the choir both for students at the level of children to professional, formal and non-formal.Keywords: show choir; choir; show
Orkes Keroncong Nada Kasih di Yogyakarta dan Peranannya dalam Melestarikan Nasionalisme Musik Keroncong Wisnu Mintargo; Iwan Budi Santoso; Andre Indrawan
PROMUSIKA Vol 7, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v7i2.3532

Abstract

This study examines the activities of the Orkes Keroncong (OK) Nada Kasih conducted by Fx Supardi who has given a positive impact on the development of Keroncong music in the Sleman Regency of Yogyakarta. This research reveals how the efforts made by Fx Supardi with his OK Nada Kasih in conserving the keroncong music. To answer these problems, this study utilizes descriptive qualitative methods. This study concludes that the OK Nada Kasih’s programs aim to conserve and develop keroncong music so that it will be favored by the Indonesian community, especially the younger generation. Its program that encompasses public performances, social gatherings, and other social activities has made this band continues to work as the potential keroncong orchestra. By consistently developing as well as disseminating its keroncong music repertoire this band has given a great contribution to public services in strengthening national identity so that public services in developing the nation have chronologically improved. The Penelitian ini mengkaji aktivitas Orkes Keroncong (OK) Nada Kasih pimpinan Fx Supardi yang telah memberikan dampak positif pada perkembangan musik Keroncong di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini mengungkap bagaimana upaya yang dilakukan Fx Supardi dengan OKNada Kasih-nya dalam melestarikan musik keroncong. Untuk menjawab masalah ini, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Studi ini menyimpulkan bahwa program-program OK Nada Kasih bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan musik keroncong sehingga akan disukai oleh masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Program-programnya yang meliputi pertunjukan publik, pertemuan sosial, dan kegiatan sosial lainnya telah membuat kelompok musik ini terus bekerja sebagai orkestra keroncong yang potensial. Dengan secara konsisten mengembangkan serta menyebarkan repertoar musik keroncongnya, OK Nada Kasih ini telah memberikan kontribusi yang besar terhadap layanan publik dalam memperkuat identitas nasional. Sehubungan dengan itu layanan publik dalam membangun bangsa telah meningkat secara kronologis.

Page 1 of 1 | Total Record : 6