cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2020): April 2020" : 6 Documents clear
Proses Penciptaan Komposisi Karawitan Kreasi Baru Paras Paros I Nyoman Yudha Putra Widiantara; Hendra Santosa; Kadek Suartaya
PROMUSIKA Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.3607

Abstract

Komposisi karawitan ini diilhami adat istiadat menyama braya yang bagi masyarakat Bali menjadi landasan moral dalam membangun relasi sosial merupakan kekayaan utama dalam hidup dan sebagai jalan untuk menggapai kedamaian dan keharmonisan yang telah ada sejak lama. oleh Paras Paros merupakan karya karawitan inovatif yang bersumber dari konsep menyama braya. Karya karawitan ini merupakan ungkapan dari gejolak masyarakat yang selalu berjalan dinamis yang menyebabkan banyaknya fenomena-fenomena soaial yang timbul saling bertautan. Komposisi karawitan ini bersifat eksperimental dengan memadukan instrumen gamelan Bali yang memiliki perbedaan karakter jumlah warna suara dalam penggarapannya. Penyusunan komposisi karawitan ini menggunakan metode penciptaan dari Alma M. Hawkins yaitu menggunakan tahapan penjajagan, percobaan, dan pembentukan, Tujuan komposisi ini adalah untuk menyampaikan pesan moral tentang menyama braya sehingga memberikan secercah kesadaran kepada masyarakat bahwa melalui konsep Paras Paros Sarpayana, Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka, Saling Asah, Asih, lan Asuh kita akan terajut dalam sebuah keharmonisan masyarakat yang damai.AbstractThe Process of Creating New Creation Karawitan Composition Paras Paros. This Karawitan composition is inspired by the custom of the menyama braya which for the Balinese people becomes the moral foundation in building social relations as the main wealth in life and as a way to reach peace and harmony that has existed for a long time. Paras Paros is an innovative musical work sourced from the concept of matching braya. This musical work is an expression of the social turmoil that always runs dynamically which causes many social phenomena that arise interlocked. The composition of this instrumental music is experimented with by combining Balinese gamelan instruments that have different characters in the amount of sound in their cultivation. The composition of this musical composition uses the method of creation from Alma M. Hawkins, which uses stages of assessment, experimentation, and formation. The purpose of this composition is to convey a moral message about matching braya to provide a glimmer of awareness to the public that through the concept of Paras Paros Sarpayana, Sagilik Saguluk Salunglung Sabayantaka, Saling, Asah, Asih, lan Asuh our Foster will be woven into a harmony of a peaceful society.
Efektivitas Strategi Latihan Instrumen Musik dan Vokal pada Mahasiswa Mohamad Alfiah Akbar; Layung Jingga Artista
PROMUSIKA Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.4445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strategi latihan instrumen musik dan vokal pada mahasiswa di Jurusan Musik ISI Yogyakarta. Sampel penelitian terdiri dari 55 subjek yang berada di semester tiga dan lima, kami asumsikan mahasiswa yang berada pada semester tersebut telah mendapatkan pengalaman latihan instrumen dan vokal yang diberikan oleh dosen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui analisis skor jawaban subjek pada kuesioner efektifitas strategi latihan sehingga diperoleh gambaran mengenai strategi latihan instrumen musik dan vokal mahasiswa. Dalam menganalisis tingkat efektivitas strategi latihan instrumen musik dan vokal mahasiswa, kami melakukan pengkategorian menggunakan skor hipotetik. Dengan 3 kategori untuk mengetahui tingkat efektivitas latihan mahasiswa yaitu efektif, cukup efektif, dan tidak efektif. Dari hasil analisis skor jawaban subjek pada kuesioner efektifitas strategi latihan, menunjukkan bahwa tidak ada subjek yang berada pada kategori tidak efektif, ada 24 subjek berada pada kategori cukup efektif, dan 33 subjek berada pada kategori efektif.AbstractEffectiveness of Vocal and Musical Instrumen Training Strategies for Students. This study aims to determine the effectiveness of musical instruments and vocal practice strategies for students in the ISI Yogyakarta Music Department. The research sample consisted of 55 subjects who were in the third and fifth semesters, we assume that students who are in that semester have gained experience in vocal and instrument training given by the lecturer. The method used in this research is descriptive quantitative. Quantitative data were obtained through the analysis of the subject's answer scores on the questionnaire on the effectiveness of the practice strategy to obtain an overview of the students' musical instrument and vocal practice strategies. In analyzing the level of effectiveness of the students' musical instrument and vocal practice strategies, we categorized them using a hypothetical score. With 3 categories to determine the level of effectiveness of student training, namely effective, moderately effective, and ineffective. From the results of the analysis of the subject's answer scores on the exercise strategy effectiveness questionnaire, it shows that there are no subjects in the ineffective category, 24 subjects are in the moderately effective category, and 33 subjects are in the effective category.Keywords: Effectiveness; Practice Strategies; Musical Instruments and Vocals
Menelusuri Gejala Decategorization pada Karya Trois Saudade dari Roland Dyens Ovan Bagus Jatmika
PROMUSIKA Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.3348

Abstract

Di era postmodernisme saat ini, muncul berbagai ragam gaya dalam musik yang begitu masif. Kemunculan ragam gaya yang begitu masif ini membuat upaya pengkategorian musik menjadi semakin kompleks. David Cope mengistilahkan fenomena ini dengan istilah “decategorization”. Fenomena decategorization seringkali ditemukan dalam karya, yang, menurut David Cope disusun menggunakan beberapa pendekatan teknis kompositoris sebagai berikut: eclecticism, quotation, sectionalization, overlay, dan integration. Roland Dyens, komponis Perancis abad 21 adalah komponis yang sangat produktif dalam menghasilkan karya-karya untuk permainan gitar tunggal. Apa yang dia lakukan melalui karya-karyanya sejalan dengan tren umum pada musik abad 21 yang cenderung memasukkan berbagai idiom ke dalam karyanya untuk memunculkan unsur kebaruan. Berbagai ragam gaya yang dia gabungkan menjadi satu dalam karyanya menjadikan karyanya memiliki banyak wajah yang cenderung sulit untuk dikategorikan ke dalam salah satu gaya. Walaupun karya yang ia tulis adalah untuk instrument gitar klasik, namun warna jazz, etnis, folklore, hingga rock cukup terasa kuat dalam komposisinya. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menelusuri lebih jauh gejala “decategorization” dalam karyanya yang berjudul “Trois Saudade” lewat parameter yang telah dijabarkan oleh David Cope.AbstractExploring the Symptoms of Trois Saudade's Decategorization from Roland Dyens. In the era of postmodernism today, a variety of styles in music are so massive. The emergence of a variety of styles that are so massive makes the effort to categorize music becomes more complex. David Cope termed this phenomenon with the term "decategorization". The decategorization phenomenon is often found in works which, according to David Cope, are prepared using the following compositional technical approaches: eclecticism, quotation, sectionalization, overlay, and integration. Roland Dyens, 21st century French composer is a composer who is very productive in producing works for solo guitar playing. What he does through his works is in line with general trends in 21st century music that tends to incorporate various idioms into his work to bring out an element of novelty. The variety of styles that he combined in his work makes his work have many faces that tend to be difficult to categorize into one style. Although the work he wrote was for classical guitar instruments, but the colors of jazz, ethnicity, folklore, even rock felt quite strong in its composition. This is the background of the writer to further explore the phenomenon of "decategorization" in his work entitled "Trois Saudade" through parameters that have been described by David Cope.Keywords: decategorization eclecticism; quotation sectionalization; integration; Roland Dyens; Trois Saudade
Aransemen Lagu Lembaga Kita Dalam Ansambel Campuran Hary - Murcahyanto
PROMUSIKA Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.4196

Abstract

Lagu Lembaga Kita karya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid sebelumnya  berbentuk  musik  kasidah  kemudian  diaransemen  dalam  musik electon.  Lagu  Lembaga  Kita  memiliki  bentuk  musik  dan  pola  akor  yang sederhana, tetapi  cukup  dikenal dan  popular dikalangan masyarakat khusunya kalangan masyarakat Nahdlatul Wathan. Seiring perkembangan zaman dan sudah beberapa tahun belum ada bentuk aransemen yang baru, maka peneliti bertujuan untuk mengaransemen lagu tersebut dengan mendeskripsikan bentuk, struktur dan pola aransemen lagu Lembaga Kita dalam ansambel campuran. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif, sedangkan tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan tekhnik triangulasi data yaitu observasi wawancara, dan pengumpulan data dengan dokumen. Data yang didapat kemudian dikaji dan diaransemen atau digubah kedalam bentuk ansambel campuran. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Lagu Lembaga Kita termasuk ke dalam struktur homophony, dilihat dari tekstur musiknya dan dilihat dari struktur aransemennya. Terdapat 88 birama pada lagu Lembaga Kita secara keseluruhan oleh beberapa instrument biola 1, biola 2, biola3, piano, bass, guitar elektrik, guitar klasik, drum dan paduan suara dan dimainkan dalam tangga nada E minor atau tangga nada 1# yang berarti G mayor.AbstractArrangement of Lembaga Kita Songs in Mixed Ensembles. Lembaga Kita song creat by TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid was previously in the form of Kasidah music then arranged in electone music. Lembaga Kita song has a simple form of music and chord pattern, but it is well known and popular among the people, especially the Nahdlatul Wathan people. Along with the times and there have been no new arrangements for several years, the researchers aim to arrange the song by describing the shape, structure and pattern of the arrangements of the Lembaga Kita song in a mixed ensemble. This type of research uses qualitative descriptive methods, while data collection techniques are carried out with data triangulation techniques, namely interview observation, and data collection with documents. The data obtained is then reviewed and arranged or changed into a mixed ensemble. From the results of the research conducted it can be concluded as follows: Lembaga Kita song is included in the structure of homophony, seen from the texture of the music and viewed from the structure of the arrangement. There are 88 bars on the Lembaga Kita song as a whole by several violin instruments 1, violin 2, violin 3, piano, bass, electric guitar, classical guitar, drums and choir and played on the E minor scale which means G majorKeywords: arrangement; Lembaga Kita Song; mixed ensemble
Bagatelle: Penciptaan Musik Dalam Format Duet Biola Dan Gitar Haris Natanael Sutaryo; Alexander Dewanta Candra Yogatama
PROMUSIKA Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.3604

Abstract

Bagatelle berarti sebuah komposisi musik yang pendek untuk piano. Namun demikain, dalam perkembangannya komposisi bagatelle tidak terbatas hanya digubah untuk piano saja, melainkan juga sudah digubah untuk instrumen selain piano. Bentuknya  komposisinya adalah AB atau ABA. Pemakaian bentuk ABA biasanya untuk mewakili dua mood yang kontras antara yang ritmis A dengan yang B. Dengan kembalinya ke A karya ini bersifat melingkar, membuatnya balans dan simetris. Ide dalam penciptaan musik  bagatelle ini muncul  terinspirasi  dari ketertarikan penulis dalam menyaksikan Ujian kompentesi  di auditorium musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI  Yogyakarta. Salah satu repertoar yang dibawakan Bagatelle untuk piano op. 3, op. 119  karya Beethoven. Menurut  pengamatan penulis bentuk musik bagatelle dari segi komposisinya sangat menarik, terdapat kebebasan dalam  mengungkapan ide-ide kreatif dan imajinatif komponisnya.  Perancangan komposisi bagatelle ini intinya menuangkan ide penulis dalam memadukan dua karakter instrument musik Biola dan Gitar, dengan penekanan pada penggarapan ritme, melodi dan  harmoni sehingga menjadi sebuah integritas. Hasil karya ini nantinya selain sebagai apresiasi musik di multimedia, juga sebagai salah satu materi  mata kuliah komposisi 1 pada prodi penciptaan musik FSP ISI Yogyakarta.AbstractBagatelle: The Creation of Music in Violin and Guitar Duet Format. Bagatelle is a short musical composition for piano. However, nowadays Bagatelle wrote not only for piano but for other instruments. The musical form of Bagatelle, either binary or ternary form. In the binary form of Bagatelle usually represents two contrasting rhythmic features which called A and B. This composition is a rondo, and it makes balance and symmetry. The idea of this Bagatelle inspired by Beethoven’s Bagatelle for solo piano Op. 119, no. 3. Bagatelle is an interesting musical composition because there is a freedom to representing the creative idea and imagination form the composer. The essence of its musical composition is representing the composer’s idea about two different characters of musical instruments: Violin and Guitar with emphasized the integration in rhythm, melody, and harmony. This Bagatelle not only can be used as a music appreciation but also as a material for Composition subject in Prodi Penciptaan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.Keywords: Bagatelle; violin and guitar; multimedia
Bentuk Penyajian Kesenian Rebana Grup Al-Hijrah dalam Acara Pernikahan di Kelurahan Karya Jaya Kecamatan Kertapati Palembang Retno Adhalia
PROMUSIKA Vol 8, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.4237

Abstract

Kesenian merupakan salah satu bagian dari kebudayaan. Kesenian sebagai bentuk aktifitas seni budaya yang harus tetap dilestarikan keberadaannya bagi kehidupan masyarakat yang harus dilestarikan sebagai budaya bangsa. Bentuk penyajian kesenian rebana di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati merupakan salah satu budaya yang dapat digunakan sebagai hiburan pada saat acara pernikahan.Penyajiannya yang sederhana pada musik dan penampilan grup Al-Hijrah. Dan saya tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan judul “Bentuk penyajian kesenian rebana grup Al-Hijrah dalam acara pernikahan di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati Palembang.” Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis, yang menggunkan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian mengenai kesenian rebana dalam acara pernikahan di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati Palembang, yaitu mendeskripsikan bagaimana bentuk penyajian kesenian rebana di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati Palembang pada acara pernikahan. Penampilan grup Al-Hijrah yaitu untuk penyambutan tamu undangan sebelum acara inti dimulai, dan dilanjutkan selesai acara inti hingga akhir acara. Agar kesenian rebana di kelurahan Karya Jaya kecamatan Kertapati dapat dikenal luas hendaknya mengajak anak-anak muda untuk mempelajari kesenian rebana dan melestarikannya.AbstractPerformance of Rebana Al-hijrah Group at Wedding at Karyaj Jaya Village, Palembang. Art is one part of the culture. Art as a form of cultural arts activities that must be preserved for the life of the community that must be preserved as the culture of the nation. The form of tambourine art presentation in Karya Jaya sub-district of Kertapati is one of the cultures that can use as entertainment during weddings. Its simple presentation to the music and performances of the al-Hijrah group. Moreover, The research very interested in doing this research with the title "Form of presentation of tambourine art al-Hijrah group in the wedding event in the village of Karya Jaya district Kertapati Palembang." The method used is descriptive qualitative method with analysis approach, which uses data collection techniques by observation, interview, and documentation which is then analyzed with qualitative data analysis and conclusion drawing techniques. The results of research on tambourine art in the wedding ceremony in the village of Karya Jaya district Kertapati Palembang, which describes how the form of presentation of tambourine art in the village of Karya Jaya district Kertapati Palembang at the wedding. Al-Hijrah group's performance was to welcome guests before the core event began, and continued to finish the core event until the end of the event. In order for tambourine art in Karya Jaya sub-district of Kertapati to be widely known, it should invite young people to learn tambourine art and preserve it.Kata kunci: Rebana; music

Page 1 of 1 | Total Record : 6