cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 142 Documents
Transformasi Musikal dan Pergeseran Fungsi Sosial Rejung Basemah di Pagar Alam, Sumatra Selatan Elyakim Rohim Ramandey; Agastya R. Listya
PROMUSIKA Vol 14, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v14i1.17408

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi dan perubahan seni rejung pada masyarakat Basemah di Pagar Alam, Sumatra Selatan. Rejung merupakan tradisi lisan berbentuk pantun bersahut yang dilantunkan dengan iringan musik sebagai media komunikasi, penyampai nilai moral, adat, dan identitas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan yang terjadi pada aspek instrumentasi, fungsi sosial, dan bentuk penyajian rejung. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Data lapangan diperoleh dari budayawan dan pelaku seni rejung di Pagar Alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rejung mengalami transformasi yang signifikan. Pada aspek organologi, instrumen tradisional seperti biola sayak, dambus, dan empew-empew sebagian besar telah digantikan oleh gitar, biola modern, akordeon, dan bass elektrik. Pada aspek fungsi sosial, rejung yang semula menjadi sarana komunikasi spontan, pendidikan adat, dan ekspresi personal di ladang, sawah, atau halaman rumah, kini lebih sering hadir sebagai hiburan panggung, festival budaya, dan konten digital. Pada aspek penyajian, rejung berubah dari bentuk spontan dengan dialek Basemah yang kuat menjadi pertunjukan yang lebih terstruktur, menggunakan tata panggung, aransemen modern, serta campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Meskipun demikian, rejung tetap mempertahankan nilai esensialnya sebagai ekspresi budaya kolektif masyarakat Basemah. Penelitian ini menegaskan bahwa perubahan rejung merupakan bentuk adaptasi budaya yang tetap berpijak pada identitas lokal.Musical Transformation and Shifting Social Functions of Basemah Rejung in Pagar Alam, South SumatraAbstractThis study examines the tradition and transformation of rejung in the Basemah community of Pagar Alam, South Sumatra. Rejung is an oral tradition in the form of call-and-response pantun, performed with musical accompaniment, serving as both a medium of communication and a vehicle for conveying moral values, customs, and cultural identity. This research aims to describe changes in its instrumentation, social functions, and performance practices. A descriptive qualitative method was employed through observation, interviews, documentation, and literature review. Field data were collected from a cultural expert and practitioners of rejung in Pagar Alam. The findings show that Rejung has undergone a significant transformation. In terms of organology, traditional instruments such as biola sayak, dambus, and empew-empew have largely been replaced by guitar, modern violin, accordion, and electric bass. In terms of social function, rejung, which was formerly used as a spontaneous medium of communication, customary education, and personal expression in rice fields, farms, and home yards, is now more frequently presented as stage entertainment, cultural festival performance, and digital content. In terms of presentation, Rejung has shifted from a spontaneous form strongly rooted in the Basemah dialect to a more structured performance that incorporates stage design, modern arrangements, and a mix of local and Indonesian languages. Despite these changes, Rejung continues to preserve its essential values as a collective cultural expression of the Basemah community.Keywords: Rejung; Oral Tradition; Cultural Transformation; Local Identity; Musical Transformation
Etnomusikologi sebagai Praktik Artistik: Pendekatan Penelitian Artistik dalam Kajian Musik Tradisi Hebert Lasrohadin Purba; Hery Budawan
PROMUSIKA Vol 14, No 2 (2026): Oktober 2026 In Press
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v14i2.16769

Abstract

Penelitian ini mengkaji integrasi pendekatan penelitian artistik dalam etnomusikologi sebagai metode alternatif yang sah untuk memahami dan merepresentasikan musik tradisi secara kontekstual dan reflektif. Dalam konteks pergeseran paradigma penelitian budaya, pendekatan artistik menawarkan cara baru dalam membangun pengetahuan melalui praktik seni yang bersifat embodied, partisipatif, dan berakar pada pengalaman langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana praktik artistik seperti rekonstruksi musik ritual, kolaborasi lintas budaya, dan komposisi berbasis rekaman lapangan dapat berfungsi sebagai strategi ilmiah dalam kajian musik tradisional. Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif berbasis praktik (practice-based research), dengan praktik seni ditempatkan sebagai inti dari proses riset. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi proses kreatif, serta refleksi kritis terhadap pengalaman artistik. Analisis dilakukan secara reflektif dan hermeneutik untuk menelusuri dimensi makna, simbolisme, serta interaksi budaya yang terwujud dalam praktik musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik artistik tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi budaya, tetapi juga menciptakan bentuk pengetahuan yang transformatif. Rekonstruksi musik ritual Batak Toba (taganing, garantung, sarune, ogung, hesek) menghadirkan pemaknaan baru terhadap warisan leluhur; kolaborasi dengan komunitas Dayak Kenyah melalui permainan sape’ menghasilkan ekspresi kolektif yang memperkuat identitas budaya lokal; sedangkan komposisi berbasis rekaman lapangan di Flores melibatkan bunyi ombak, gong, burung, lonceng gereja, lamin adat, dan pasar menegaskan hubungan spiritual manusia dengan lingkungan bunyi. Peneliti bertindak sebagai komposer yang mengarahkan konsep kepada musisi tradisional dan komunitas lokal dengan dukungan tokoh budaya setempat. Penelitian ini menegaskan legitimasi epistemologis dan kontribusi metodologis pendekatan artistik dalam etnomusikologi, yang menjembatani teori dan praktik, akademisi dan seniman, serta pengetahuan diskursif dan pengalaman afektif, sehingga membuka peluang baru bagi pelestarian dan regenerasi musik tradisi secara kreatif.Ethnomusicology as Artistic Practice: Integrating Artistic Research Approaches in the Study of Traditional MusicAbstractThis study examines the integration of artistic research approaches within ethnomusicology as a legitimate alternative method for understanding and representing traditional music in context and reflection. Within the shifting paradigm of cultural research, the artistic approach offers new ways of generating knowledge through embodied, participatory, and experience-based artistic practice. The study aims to explore how artistic practices such as ritual music reconstruction, cross-cultural collaboration, and field-recording-based composition can serve as scientific strategies in the study of traditional music. Using a qualitative, practice-based approach, artistic practice is positioned at the core of the research process. Data collection techniques include participant observation, in-depth interviews, documentation of the creative process, and critical reflection on artistic experience. Analysis is carried out reflectively and hermeneutically to trace meanings, symbolism, and cultural interactions manifested in musical practices. The findings show that artistic practice not only documents culture but also produces transformative forms of knowledge. The reconstruction of Batak Toba ritual music (taganing, garantung, sarune, ogung, hesek) reveals new interpretations of ancestral heritage; collaboration with the Dayak Kenyah community through sape’ performance generates collective expressions that strengthen local cultural identity; while field-based compositions in Flores, incorporating natural sounds such as waves, gongs, birds, church bells, lamin adat, and market ambiance, affirm the spiritual connection between humans and their sonic environment. The researcher acted as a composer, guiding traditional musicians and local communities in realizing the conceptual framework with the support of cultural leaders. This study affirms the epistemological legitimacy and methodological contribution of artistic approaches in ethnomusicology, bridging theory and practice, academics and artists, and discursive and affective knowledge, while opening new pathways for the creative preservation and regeneration of traditional music.Keywords: ethnomusicology; artistic research; traditional music; practice-based research; cultural reconstruction; community collaboration; contextual composition