cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 136 Documents
Pengembangan Kaulinan Barudak sebagai Atraksi Budaya Berbasis Musik Tradisional untuk Meningkatkan Pariwisata Jawa Barat saryanto, Saryanto; Saputra, Dani Nur; Wijaya, Barkah Bangkit; srimoko, gandung joko; Fatimah, Mutiara Dewi
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13945

Abstract

Kaulinan Barudak merupakan permainan rakyat khas Jawa Barat yang dipadukan dengan elemen musik tradisional dan lagu-lagu lokal. Kesenian ini tidak hanya merepresentasikan kearifan budaya lokal tetapi juga memiliki potensi besar dalam memperkuat identitas budaya dan daya tarik wisata. Namun, eksistensinya saat ini semakin memudar akibat minimnya inovasi, rendahnya minat generasi muda, serta kurangnya perhatian dalam mengemasnya sebagai bagian dari atraksi wisata budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Kaulinan Barudak sebagai atraksi wisata budaya berbasis musik tradisional guna meningkatkan daya tarik dan nilai destinasi wisata di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pelaku budaya, seniman lokal, serta pengelola pariwisata, dan studi pustaka untuk menggali nilai historis, elemen estetis, serta potensi komersial dari kesenian ini. Analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-interpretatif untuk memahami bagaimana revitalisasi Kaulinan Barudak dapat diintegrasikan dalam strategi pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi Kaulinan Barudak dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan strategis, di antaranya: penyelenggaraan festival budaya tahunan yang melibatkan komunitas lokal, program pelatihan interaktif untuk generasi muda, penyelenggaraan lokakarya (workshop) musik dan permainan tradisional, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana publikasi dan promosi. Selain itu, pengemasan atraksi yang lebih kreatif dan menarik—seperti kolaborasi Kaulinan Barudak dengan pertunjukan musik tradisional yang lebih dinamis—dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Temuan ini mengindikasikan bahwa revitalisasi Kaulinan Barudak tidak hanya mampu memperkuat identitas budaya lokal tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan daya tarik wisata budaya di Jawa Barat. Implementasi strategi ini perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata, untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilan pengembangan kesenian ini sebagai aset wisata yang bernilai tinggi. Dengan demikian, Kaulinan Barudak memiliki potensi untuk menjadi ikon wisata budaya Jawa Barat yang mampu menarik minat wisatawan serta mempromosikan kearifan lokal ke panggung global.Developing Kaulinan Barudak as a Cultural Attraction Based on Traditional Music to Enhance West Java TourismAbstractKaulinan Barudak is a traditional children’s game from West Java that incorporates elements of traditional music and local songs. This cultural art form not only represents local wisdom but also holds significant potential in strengthening cultural identity and enhancing tourism appeal. However, its existence is currently declining due to a lack of innovation, decreasing public interest, and insufficient efforts to package it as a cultural tourism attraction. Therefore, this study aims to develop Kaulinan Barudak as a cultural tourism attraction based on traditional music to enhance the appeal and value of tourist destinations in West Java. This research employs a qualitative method with a case study approach. Data were collected through direct observation, in-depth interviews with cultural practitioners, local artists, and tourism managers, as well as literature studies to explore the historical, aesthetic, and commercial potential of this traditional art. Data analysis was carried out using a descriptive-interpretative approach to understand how the revitalization of Kaulinan Barudak can be integrated into sustainable cultural tourism development strategies. The findings indicate that the revitalization of Kaulinan Barudak can be achieved through several strategic approaches, including the organization of annual cultural festivals involving local communities, interactive training programs for younger generations, workshops on traditional music and games, and the use of social media as a platform for publication and promotion. Furthermore, creatively packaging the attraction—such as combining Kaulinan Barudak with more dynamic traditional music performances—can add significant appeal for both domestic and international tourists. These results suggest that revitalizing Kaulinan Barudak not only strengthens local cultural identity but also significantly contributes to enhancing cultural tourism appeal in West Java. Implementing this strategy requires the involvement of various stakeholders, including local governments, cultural communities, and tourism actors, to ensure the sustainability and success of this art form as a high-value tourism asset. Thus, Kaulinan Barudak has the potential to become a cultural tourism icon of West Java, attracting tourists while promoting local wisdom on the global stage.Keywords: Kaulinan Barudak; traditional music; cultural tourism; revitalization of art; cultural identity; West Java
Kritik Pertunjukan pada Sonata Biola Ysaÿe ‘Obsession’ Melalui Teori Kritik Seni Feldman Pinta, Egaputra Tweeda; Wisetrotomo, Suwarno; Garibaldi, Pipin
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13431

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan penilaian dalam bentuk kritik pada pertunjukan (Permainan) Sonata Ysaÿe nomor dua ‘Obsession’ sebagai karya musik yang virtuoso. Sonata ‘Obsession’ dipengaruhi oleh karya Bach yaitu Partita E mayor Prelude. Permasalahan yang disoroti adalah perbedaan interpretasi oleh lima pemain biola pada praktik pertunjukan sonata ‘Obsession’, pada konser musik biola skala internasional dari video media sosial YouTube. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik seni Feldman. Tahapan penelitian yaitu studi literatur, observasi tidak langsung, dan dokumentasi  dari audio-visual.  Analisis data menggunakan kerangka kritik seni Feldman yang meliputi tahapan deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan penilaian. Hasil penelitian yang diperoleh dari lima pemain biola pada konser skala internasional menunjukkan, walaupun karya Sonata Ysaÿe ‘Obsession’ mengandung ritme tempo cepat (virtuos), tetapi secara musikal memikat, menunjukkan unsur ekspresif, estetik, dalam bentuk musik bebas.Performance Critic on Ysaÿe's Violin Sonata 'Obsession' Through Feldman's Art Critic TheoryAbstractThis article aims to provide an assessment in the form of criticism on the Performance (Play) of Ysaÿe's Sonata Number Two 'Obsession' as a virtuoso piece of music. Bach's Partita E Major Prelude influences the' Obsession' sonata. The problem highlighted is the difference in interpretation by five violinists regarding the practice of performing the sonata 'Obsession' at an international scale violin music concert from a YouTube social media video. This research is qualitative research with Feldman's art criticism approach. The research stages are literature study, indirect observation, and audio-visual documentation. Data analysis uses Feldman's art criticism framework, which includes stages of description, formal analysis, interpretation and assessment. The results of research obtained from five violinists at international scale concerts show that, although Ysaÿe's Sonata 'Obsession' contains fast tempo rhythms (virtuosic), it is musically very captivating, showing expressive, aesthetic elements in the form of free music.Keywords: critic, Obsession sonata, Eugene Ysaÿe, Feldman art critic
Dinamika Ekosistem Seni Paduan Suara Voice of Bali dalam Perspektif Pierre Bourdieu Syahrian, Alfin; Sariada, I Ketut; Mudra, I Wayan
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.14360

Abstract

Voice of Bali adalah komunitas paduan suara yang mengelola interaksi antara modal budaya, sosial, ekonomi, dan simbolik dengan struktur ranah seni paduan suara untuk menciptakan praktik sosial yang mendukung keberlanjutan, inovasi, dan penguatan posisi komunitas dalam arena seni, meskipun menghadapi keterbatasan modal ekonomi dan tantangan adaptasi ditengah dinamika global. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana komunitas paduan suara Voice of Bali mengelola interaksi antar struktur modal, habitus, arena, praproduksi dan pasca produksi serta manajemen event untuk menjadi contoh bagi kelompok lain dalam mengembangkan paduan suara di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan mengkontekstualisasikan teori Pierre Bourdieu untuk menganalisis bagaimana interaksi antara habitus, modal, serta arena yang menghasilkan praktik sosial untuk mendukung keberlanjutan, invovasi, dan penguatan posisi komunitas dalam ekosistem seni paduan suara.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Voice of Bali tidak hanya aktif dalam kompetisi nasional maupun internasional, namun juga aktif dalam kegiatan event dan aktif menjadi ruang eksplorasi bagi anggotanya untuk memberikan kontribusi signifikan dalam mengembangkan ekosistem paduan suara di Indonesia. Simpulan penelitian ini mengaskan pentingnya membangun profil yang kuat untuk menjadi kelompok seni yang kompeten dan inovatif, dengan reputasi nasional dan internasional. Melalui ekosistemnya Voice of Bali menggabungkan seni, budaya, dan jejaring sosial melalui kolaboratif kreatif, pengelolaan sumber daya yang strategis, serta dedikasi pada kualitas artistik. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada kajian akademik tentang paduan suara, tetapi juga memberikan panduan praktis bagi komunitas seni dalam mengelola modal dan menghadapi tantangan industri seni di era global.The Dynamics of the Choral Art Ecosystem: A Bourdieusian Analysis of Voice of BaliAbstractVoice of Bali is a choral community that manages the interaction between cultural, social, economic, and symbolic capital with the structure of the choral art domain to create social practices that support sustainability, innovation, and strengthening the community's position in the art arena, despite facing limited economic capital and adaptation challenges amid global dynamics. This research aims to explain how the Voice of Bali choir community manages interactions between capital structures, habitus, arena, pre-production and post-production, and event management to become an example for other groups developing choirs in Indonesia. This research uses a qualitative approach, data collection methods with observation, interviews and documentation by contextualizing Pierre Bourdieu's theory to analyze how the interaction between habitus, capital, and arena produces social practices to support sustainability, innovation, and strengthening the community's position in the choral art ecosystem. The research results show that Voice of Bali is active in national and international competitions and event activities and as an exploration space for its members to significantly contribute to developing the choral ecosystem in Indonesia. The conclusion of this research emphasizes the importance of building a strong profile to become a competent and innovative arts group with a national and international reputation. Through its ecosystem, Voice of Bali combines art, culture and social networking through creative collaboration, strategic resource management and dedication to artistic quality. This research not only contributes to the academic study of choirs but also provides practical guidance for the arts community in managing capital and facing the challenges of the arts industry in the global era.Keywords: Voice of Bali; Choir; Pierre Bourdieu; Habitus; Cultural Capital
Rekonseptualisasi Metode Pembelajaran Ricikan Gender Berbasis Model Aural: Pendekatan Interpretasi Rasa Dalam Pendidikan Formal Nugroho, Aji Santoso; Satoto, Angga Bimo; Saepudin, Asep
PROMUSIKA Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i1.14962

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi evektivitas penerapan model aural dalam pembelajaran  ricikan gender di lingkungan pendidikan formal ISI Yogyakarta. Gender merupakan salah satu ricikan gamelan Jawa yang memiliki peran musikal sangat penting. Pola penyajian ricikan gender dimainkan menggunakan dua tangan secara bersamaan maupun bergantian yang menghasilkan melodi yang disebut dengan cengkok-cengkok genderan.  Cengkok genderan merupakan sebuah tafsir (interpretasi), imajinasi atau kreatifitas seorang pengrawit untuk menentukan pola, teknik dan gaya dalam memainkan ricikan gender. Kemampuan tafsir, imajinasi dan kreatifitas tersebut muncul tidak terlepas dari pengaruh metode belajar. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Obyek materi dalam penelitian terdiri dari mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta semester dua. Total mahasiswa sebanyak 10 anak yaitu terdiri dari 9 mahasiswa dan 1 darmasiswa dari Negara Canada dengan latar belakang belum mengenal gamelan Jawa. Dalam penelitian ini data diperoleh melalui observasi partisipan dan wawancara. Validasi data didapat melalui member checking, selanjutnya dilakukan pengukuran melalui kuesioner self-report serta diskusi kelompok terpadu. analisis tematik akan digunakan untuk mengidentifikasi tema dan pola dalam data dengan Kerangka kerja pengkodean 6 fase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 dari 10 mahasiswa reguler dan darmasiswa menyatakan bahwa model aural lebih efektif digunakan sebagai metode pembelajaran untuk mencapai tingkat daya tafsir (interpretasi), imajinasi atau kreatifitas dalam menguasai cengkok genderan.Reconceptualizing Aural-Based Instruction of the Gender Ricikan: An Interpretive Approach to Inner Musical Sense in Formal EducationAbstractThis study aims to identify the effectiveness of applying an aural model in teaching the Ricikan gender within the formal educational environment of ISI Yogyakarta. Gender is one of the essential ricikan (instrumental components) in Javanese gamelan, holding a critical musical role. It is performed using both hands simultaneously or alternately to produce melodic patterns known as cengkok genderan. These cengkok represent interpretations, imaginative constructs, or creative expressions of a pengrawit (gamelan musician) in determining the patterns, techniques, and stylistic approaches when playing the gender. The chosen learning method profoundly influences interpretative, imaginative, and creative abilities. This research employed a qualitative methodology with a case study approach. The research subjects consisted of second-semester students of the Karawitan Department at ISI Yogyakarta, totaling ten participants: nine local students and one darmasiswa (foreign scholarship student) from Canada, all of whom had no prior experience with Javanese gamelan. Data were collected through participant observation and interviews. Data validation was conducted via member checking, followed by measurements using self-report questionnaires and focused group discussions. Thematic analysis used a six-phase coding framework to identify recurring themes and patterns. The study results indicate that seven out of ten participants, including both regular students and the darmasiswa, affirmed that the aural model proved more effective as a learning method in enhancing interpretative, imaginative, and creative capacities in mastering cengkok genderan.Keywords: Javanese gamelan; gender ricikan; aural learning model; interpretive musical feeling; formal music education
Proses Kreatif Komposisi Karawitan “Gesang” Sebagai Wujud Representasi Sosial Susanti, Vivi Euis; Suhatmini, Tri
PROMUSIKA Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i1.14985

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan proses kreatif dalam penciptaan komposisi karawitan berjudul Gesang, serta mengevaluasi kontribusinya terhadap pengembangan bentuk garap dalam seni karawitan. Masalah utama yang diangkat adalah bagaimana proses penciptaan karya ini mampu memunculkan inovasi dalam bingkai tradisi karawitan Jawa tanpa kehilangan identitas estetikanya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode deskriptif-analitis, serta didasarkan pada teori-teori kreativitas yang menekankan pada proses eksploratif dan transformatif dalam penciptaan karya seni. Karya Gesang merupakan komposisi yang dibangun dari repertoar tradisional yang kemudian diolah secara kreatif melalui penggabungan unsur-unsur musikal tradisi dan elemen inovatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gesang tidak hanya berhasil menyuguhkan bentuk musikal yang estetis, namun juga memperlihatkan bagaimana karawitan dapat menjadi medium ekspresi yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Proses kreatif dalam karya ini mencerminkan interaksi antara pemahaman terhadap struktur musikal tradisi dengan dorongan untuk bereksperimen, menghasilkan bentuk garap baru yang merefleksikan dinamika sosial serta menyampaikan pesan moral melalui bahasa musikal. Dengan demikian, karya ini memiliki peran strategis dalam membuka ruang eksplorasi bagi seniman karawitan untuk terus memperkaya khazanah komposisi melalui pendekatan yang kontekstual dan relevan. Temuan ini diharapkan memberi dampak positif terhadap praktik penciptaan karya di kalangan pelaku seni, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya karawitan baru yang lebih variatif dan inovatif.Artistic Creativity in the Karawitan Composition Gesang: A Representation of Social RealitiesAbstractThis study aims to examine and describe the creative process involved in the composition of a karawitan piece titled Gesang, and to evaluate its contribution to the development of interpretative forms (garap) in Javanese gamelan music. The primary research question focuses on how the creative process of this composition generates innovation within the framework of Javanese karawitan tradition, without losing its aesthetic identity. A qualitative approach was employed using a descriptive-analytical method, underpinned by creativity theories emphasizing exploratory and transformative dimensions in artistic creation (Amabile, 1996; Csikszentmihalyi, 1997). The composition Gesang was developed from a traditional repertoire and creatively restructured through a synthesis of traditional musical elements and innovative components. The findings indicate that Gesang achieves an aesthetically rich musical form and exemplifies how karawitan can function as an expressive medium responsive to contemporary cultural developments. The creative process reflects a dialectical interaction between an internalized understanding of traditional musical structures and an impulse toward experimentation. This process produces novel garap forms that engage with social dynamics and convey moral narratives through musical expression. Thus, Gesang strategically expands the creative horizon for karawitan artists, encouraging contextual and relevant approaches to composition. These findings are expected to contribute positively to artistic creation practices, fostering the emergence of more diverse and innovative karawitan works.Keywords: Karawitan composition; Musical innovation; Social representation; Creative process
Pengembangan Model Pembelajaran Dambus Berbasis Notasi Gitar untuk Pelestarian Musik Tradisional Bangka Susanto, Hadi; Indrawan, Andre
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.15682

Abstract

Dambus merupakan alat musik tradisional khas Bangka Belitung yang menunjukkan perkembangan signifikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Secara kualitas, banyak perajin Dambus tersebar di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memproduksi instrumen ini hingga dipasarkan ke luar negeri. Sementara itu, secara kuantitas, jumlah pembuat, pemain, komunitas, dan penikmat musik Dambus juga terus meningkat. Namun, perkembangan ini belum diimbangi dengan sistem pelestarian yang memadai. Selama ini, pembelajaran Dambus dilakukan secara lisan, seperti halnya tradisi musik tradisional pada umumnya, sehingga berpotensi punah seiring waktu. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pembelajaran Dambus berbasis notasi tertulis sebagai upaya pelestarian dan dokumentasi. Model yang dikembangkan mengadaptasi metode pembelajaran gitar, namun disesuaikan dengan karakteristik khas instrumen Dambus. Rancangan pembelajaran disusun secara bertahap, dimulai dari teknik dasar, notasi, hingga latihan-latihan fundamental. Diharapkan, sistem pembelajaran berbasis notasi ini dapat memperkuat eksistensi musik Dambus dan mendorong lahirnya karya-karya baru yang terdokumentasi dengan baik.Developing a Dambus Learning Model Based on Guitar Notation for the Preservation of Bangka Traditional MusicAbstractDambus is a traditional musical instrument native to the Bangka Belitung Islands that has shown significant development in both quality and quantity. In terms of quality, numerous Dambus craftsmen are spread across the Bangka Belitung Province, producing instruments that are even marketed internationally. Quantitatively, the number of makers, performers, communities, and enthusiasts of Dambus music continues to grow. However, this progress has not been matched by an adequate preservation system. Until now, Dambus learning has been conducted orally, as is common in traditional music practices, making it vulnerable to extinction over time. This study aims to design a written notation–based learning system for Dambus as a means of preservation and documentation. The model developed adapts guitar teaching methods but is modified to suit the distinctive characteristics of the Dambus instrument. The instructional framework is structured gradually, beginning with basic techniques, notation, and fundamental exercises. It is expected that this notation-based learning system will help strengthen the existence of Dambus music and encourage the creation of new, well-documented musical works.Keywords:  Traditional music of Bangka; instrumental music pedagogy; music notation system; Dambus
Representasi Cinta dalam Lirik Lagu Kupu-Kupu oleh Tiara Andini: Analisis Semiotika Roland Barthes Ratnaduhita, Cintya; Riyanto, Edi Dwi; Khusyairi, Johny Alfian
PROMUSIKA Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.15213

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi cinta dalam lirik lagu Kupu-kupu oleh Tiara Andini melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam simbol-simbol yang ada dalam lirik lagu tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika, di mana data penelitian berupa lirik lagu yang diambil dari laman internet. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap lirik lagu Kupu-kupu yang kemudian dianalisis secara mendalam menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Teknik analisis data melibatkan tiga tahap: pertama, analisis makna denotatif yang mengungkapkan arti harfiah dari setiap simbol; kedua, analisis konotatif untuk menggali makna yang lebih dalam terkait dengan perasaan cinta yang digambarkan; ketiga, identifikasi mitos-mitos yang terbentuk melalui simbol-simbol dalam lagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu ini menggambarkan cinta sebagai perasaan yang mempengaruhi fisik dan emosional, dengan simbol-simbol seperti pipi merona, jantung terpompa, dan kupu-kupu yang menggambarkan kebebasan cinta. Cinta digambarkan sebagai kekuatan yang memperkuat hubungan, memberikan ketulusan, dan menjaga kebahagiaan. Kesimpulannya, lirik lagu Kupu-kupu menciptakan representasi cinta yang mendalam, dinamis, dan bebas berkembang sesuai dengan mitos-mitos cinta dalam budaya populer. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika musik Indonesia dengan memperkaya pemahaman tentang bagaimana simbol-simbol dalam lirik lagu membentuk konstruksi makna sosial dan emosional dalam konteks budaya lokal.The Representation of Love in the Lyrics of the Butterfly Song: Barthes's Semiotic AnalysisAbstractThis study aims to analyze the representation of love in the lyrics of the song Kupu-kupu by Tiara Andini through Roland Barthes' semiotic approach. The primary focus of this research is to identify the denotative, connotative meanings, and myths contained in the symbols within the song's lyrics. The research method used is qualitative with a semiotic analysis, where the research data consists of song lyrics taken from an online source. Data is collected by observing the Kupu-kupu lyrics, which are then analyzed in depth using Roland Barthes' semiotic theory. The data analysis technique involves three stages: first, the analysis of denotative meaning, which reveals the literal meaning of each symbol; second, the connotative analysis to explore deeper meanings related to the feelings of love depicted; third, the identification of myths formed through the symbols in the song. The results show that the lyrics of this song depict love as a feeling that affects both the physical and emotional aspects, with symbols such as blushing cheeks, a pumping heart, and butterflies representing the freedom of love. Love is portrayed as a force that strengthens relationships, offers sincerity, and maintains happiness. In conclusion, the lyrics of Kupu-kupu create a profound, dynamic, and freely evolving representation of love in line with the myths of love in popular culture. This finding contributes to the development of semiotic studies of Indonesian music by enriching the understanding of how symbols in song lyrics construct social and emotional meanings within the context of local culture.Keywords: Barthes' semiotics; love in music; lyric symbolism; pop culture; Indonesian songs
Eksplorasi Bunyi Komposisi Harmonic in Ryoanji: Inovasi dalam Proses Kreatif Hendratmoko, Agustinus Welly; Agung Nugroho, Johanes Kristianto
PROMUSIKA Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i1.14988

Abstract

Artikel ini membahas tentang eksplorasi bunyi dalam proses penciptaan karya komposisi musik “Harmonic in Ryoanji”. Proses penggarapan didasarkan pada pengalaman ekstramusikal yang meliputi suasana keindahan dan ketenangan kuil Ryoanji. Eksplorasi bunyi menjadi upaya inovasi dalam proses kreatif. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Proses penciptaan karya terdiri dari tiga tahap, yakni eksplorasi, improvisasi, dan komposisi, yang diterapkan secara dinamis dan fleksibel. Hasil eksplorasi bunyi yang telah dilalui menawarkan empat jenis eksplorasi baru, yaitu (1) eksplorasi suasana, (2) eksplorasi teknik dan timbre, (3) eksplorasi instrumen, dan (4) eksplorasi tangga nada. Tawaran tersebut dieksplorasi dengan memadukan alat musik tradisional Indonesia, Jepang, dan alat musik Barat. Proses kreatif dalam hal pencarian elemen musik memberikan kebebasan bagi musisi untuk mengekspresikan gagasan secara autentik, sementara penggabungan skala pentatonis dan diatonis menambah dimensi interaktif dan inovasi. Karya musik “Harmonic in Ryoanji” tidak hanya berfungsi sebagai sarana pertunjukkan, tetapi berkontribusi terhadap perkembangan komposisi musik eksperimental. Selain itu, karya ini juga memperkaya ranah penciptaan musik antarbudaya dan menciptakan ruang ekspresi yang lebih inovatif.Exploration of Harmonic Composition Sounds in Ryoanji: Innovations in the Creative ProcessAbstractThis article discusses the exploration of sound in creating the music composition work “Harmonic in Ryoanji". The composing process is based on extra-musical experiences that include the atmosphere of beauty and tranquility of Ryoanji temple. Sound exploration becomes an innovation effort in the creative process. The method used in this research is a qualitative approach with a case study method. Creating the work consists of three stages, exploration, improvisation, and composition, which are applied dynamically and flexibly. The results of the sound exploration that has been conducted offer four new types of exploration, namely (1) exploration of atmosphere, (2) exploration of technique and timbre, (3) exploration of instruments, and (4) exploration of scales. These were explored by combining traditional Indonesian, Japanese, and Western instruments. The creative process of finding musical elements gives musicians the freedom to express ideas authentically, while incorporating pentatonic and diatonic scales adds an interactive and innovative dimension. The musical work "Harmonic in Ryoanji" not only functions as a performance tool but also contributes to the development of experimental music composition. It also enriches the field of intercultural music creation and creates a more innovative space for expression.Keywords: sound exploration; intercultural music; creative process; experimental composition
Eksplorasi Balungan Gending Gaya Yogyakarta dan Surakarta kartiman, kartiman; Rokhani, Umilia
PROMUSIKA Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i1.15050

Abstract

Balungan gending merupakan acuan pengrawit dalam menentukan pola permainan ricikan. Secara visual, balungan gending berbentuk susunan nada-nada yang sudah diatur tinggi rendah maupun fungsinya. Karawitan gaya Yogyakarta memiliki balungan gending yang berbeda dengan gaya Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gaya atau ciri khas gending berorientasi kewilayahan sehingga untuk mengeksplorasi dua gaya gending ini tidak akan terlepas dari historisitas kewilayahan empat kerajaan Dinasti Mataram, yaitu Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran Surakarta, dan Pakualaman Yogyakarta beserta dengan pengaruhnya. Dengan mempergunakan metode deskriptif kualitatif, keberadaan gending gaya Yogyakarta dan Surakarta dilihat sebagai suatu fenomena sosial dengan mengacu pada balungan gending. Balungan gending gaya Yogyakarta cenderung melompat, patah-patah. Balungan gending gaya Surakarta cenderung linier, mengalun. Perbedaan balungan gending akan berdampak pada karakter gending. Gending gaya Yogyakarta cenderung berkarakter gagah, mantap, dan bergelora, sedangkan gending gaya Surakarta cenderung berkarakter luwes, mengalir, mengalun. Ketercapaian karakter gending akan terwujud melalui kemampuan pengrawit dalam menginterpretasi kehendak balungan gending.Exploration of Balungan Gending Gaya Yogyakarta and SurakartaAbstractBalungan gending is a reference for musicians who want to determine the pattern of ricikan playing. Visually, balungan gending takes the form of a sequence of notes arranged in terms of pitch and function. The Yogyakarta style of karawitan has a different balungan gending from the Surakarta style. This study aims to explore the regionally oriented styles or characteristics of gending, so that the exploration of these two gending styles cannot be separated from the regional history of the four kingdoms of the Mataram Dynasty, namely the Sultanate of Yogyakarta, the Sunanate of Surakarta, Mangkunegaran Surakarta, and Pakualaman Yogyakarta, along with their influences. Using a qualitative descriptive method, the existence of Yogyakarta-style and Surakarta-style gending is viewed as a social phenomenon based on the gending structure. The structure of Yogyakarta-style gending tends to be jumpy and fragmented, while the structure of Surakarta-style gending tends to be linear and flowing. Differences in gending structure will impact the character of the gending. Yogyakarta-style gending tends to have a bold, steady, and passionate character, while Surakarta-style gending tends to have a flexible, flowing, and melodious character. The gending's character is realized through the performer's ability to interpret the intent of the gending's structure.Keywords: Exploration of Gending; Balungan Gending; Gending style.
Digitalization of Tradition: An Android-Based Gamelan Degung Sundanese Application to Improve Musicianship Skills is Higher Education Maulana, Marsel Ridky; Sukmayadi, Yudi; Sunaryo, Ayo; Tresnadi, Soni
PROMUSIKA Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i1.15712

Abstract

Using the Gamelan Degung Sunda application as an alternative instructional medium has proven effective in addressing the challenges posed by the limited availability of gamelan instruments in higher education settings. The demand for flexible and efficient solutions in developing performance skills for Gamelan Degung has driven the integration of digital technology into arts education. This study adopts a qualitative approach using a case study method, employing direct observation and in-depth interviews with students who engaged with the application as part of their learning process. The findings indicate that the Gamelan Degung Sunda application effectively enhances students' understanding of musical structure and fundamental techniques in playing Gamelan Degung Sunda. It also significantly improves accessibility by enabling students to practice independently outside formal classroom sessions. Moreover, the application fosters active learning, despite its limited content scope, which does not fully represent the complexity of karawitan (Sundanese classical music). These findings underscore that integrating digital technology into arts education is not merely a short-term solution to infrastructural constraints but represents an innovative approach to cultivating adaptive and participatory learning experiences. The practical implication lies in the application's role as a pedagogical aid within academic environments that lack adequate facilities. Academically, the study opens avenues for developing digitally-based arts curricula and further investigating the effectiveness of application-based instructional media within the context of arts education in the digital transformation era. Future application developments are recommended to include more complex instructional content and comprehensive integration within technology-oriented arts study programs.Digitalisasi Gamelan Degung: Aplikasi Berbasis Android untuk Meningkatkan Kemampuan Musikal di Pendidikan TinggiAbstrakPemanfaatan aplikasi Gamelan Degung Sunda sebagai media pembelajaran alternatif terbukti mampu menjawab tantangan keterbatasan instrumen gamelan di lingkungan perguruan tinggi. Kebutuhan akan solusi yang fleksibel dan efisien dalam mengembangkan keterampilan memainkan Gamelan Degung mendorong integrasi teknologi digital dalam proses pendidikan seni. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui observasi langsung dan wawancara mendalam terhadap mahasiswa yang menggunakan aplikasi tersebut dalam pembelajaran. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi Gamelan Degung Sunda efektif dalam mendukung pemahaman struktur musikal dan teknik dasar dalam bermain Gamelan Degung Sunda, sekaligus meningkatkan aksesibilitas mahasiswa untuk berlatih secara mandiri di luar kelas formal. Aplikasi ini juga memotivasi proses belajar secara aktif, meskipun masih memiliki keterbatasan dalam cakupan materi yang belum merepresentasikan keseluruhan kompleksitas karawitan Sunda. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dalam pembelajaran seni bukan hanya solusi jangka pendek atas keterbatasan sarana, tetapi juga pendekatan inovatif dalam menciptakan pengalaman belajar yang adaptif dan partisipatif. Implikasi praktisnya terletak pada pemanfaatan aplikasi ini sebagai alat bantu pedagogis dalam lingkungan akademik yang memiliki keterbatasan fasilitas. Sementara itu, implikasi akademiknya membuka peluang untuk pengembangan kurikulum seni berbasis digital serta kajian lebih lanjut mengenai efektivitas media pembelajaran berbasis aplikasi dalam konteks pendidikan seni di era transformasi digital. Disarankan pengembangan lanjutan terhadap konten aplikasi dengan materi yang lebih kompleks, serta integrasi menyeluruh dalam program studi seni berbasis teknologi.Kata kunci:  media pembelajaran; aplikasi musik; gamelan degung Sunda; aplikasi digital gamelan degung.