cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 136 Documents
Representasi Feminitas dan Maskulinitas dalam Diskografi 88rising
PROMUSIKA Vol 11, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v11i2.9474

Abstract

Gender seringkali dianggap mencerminkan ide atau sikap yang disetujui secara sosial dan budaya, serta memandu interaksi interpersonal manusia. Media diyakini memiliki efek yang kuat dalam kepercayaan gender. Namun, belum banyak didapatkan kajian tentang musik, sebagai salah satu media yang paling populer, mengenai hal ini. Hal ini berkaitan dengan teori kultivasi yang memberikan strategi analitik yang berguna untuk menguji dampak penggunaan media terhadap kepercayaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis isi. Populasi dalam penelitian adalah seluruh diskografi 88rising dengan jumlah sampel 53 lagu. Analisis data dilakukan dengan uji t sampel independen dan menggunakan perangkat lunak SPSS. Penelitian ini menemukan bahwa atribut hegemoni feminitas cenderung lebih merujuk kepada perempuan dan atribut hegemoni maskulinitas merujuk kepada laki-laki. Selain itu, atribut yang paling menunjukkan hiperfeminitas adalah mengurus/suportif, butuh pasangan/cinta, dan emosional, serta atribut yang paling menunjukkan hipermaskulintas adalah dominan, agresif/menantang, dan berorientasi pada materi.AbstractRepresentation of Femininity and Masculinity in 88rising's Discography. Gender is often considered to reflect agreed ideas or attitudes socially and culturally and to guide interpersonal interactions. The media is believed to have a substantial effect on gender beliefs. However, there have not been many studies on music, as one of the most popular forms of media, regarding this. This is related to cultivation theory, which provides a proper analytical strategy to examine the impact of media use on trust. This study uses quantitative methods with a content analysis approach. The population in this study is 88rising Discography with a total sample of 53 songs. Data analysis was performed using an independent sample t-test and SPSS software. It was found that the hegemonic attribute of femininity tends to refer more to women, and the hegemonic fact of masculinity relates to men. In addition, the details that most show hyper-femininity is nurturant/supportive, need a partner/love, and emotional, and the details that most show hypermasculine are dominant, aggressive/challenging, and material goods oriented.Keywords: femininity; masculinity; 88rising; music; cultivation theory; content analysis
Indikator Ideal Pendidikan Vokasional Bidang Musik Abad XXI di Indonesia Fu'adi, Fu'adi; Agustianto, Agustianto; Kusumawati, Heni; Sritanto, Sritanto
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.12557

Abstract

Model Pendidikan abad XXI menjadi hal yang sangat penting untuk dijadikan rujukan dalam penyelenggaraan sebuah pembelajaran. Artikel ini menguraikan berbagai indikator ideal dalam pendidikan vokasional bidang musik di Indonesia. Melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, diperoleh beberapa indikator ideal pendidikan vokasional bidang musik antara lain 1) Konteks pembelajaran vokasional bidang musik dapat ditinjau dari konteks ekonomi, sosial, pendidikan, sejarah dan internasional yang mampu memberikan daya kreatifitas dan skill yang tinggi dengan didukung sarana prasarana yang mutakhir; 2) Proses input melalui pengembangan instrumen tes berbasis kompetensi yang bertujuan untuk mengukur kompetensi; 3) Proses pembelajaran menggunakan strategi, metode, teknik, gaya dan taktik pembelajaran yang efektif; 4) Output pendidikan vokasional musik meliputi kompetensi utama dan tambahan yang harus dimiliki; 5) Outcome pendidikan vokasional musik terkait dengan kemandirian, kepercayaan publik, dan kreatifitas. Indikator-indikator ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan pendidikan musik yang ideal untuk menghadapi tantangan kehidupan yang sangat dinamis dan kompleks di abad XXI.AbstractIdeal Indicators of XXI Century Vocational Education in Music in IndonesiaThe 21st-century education model is very important to use as a reference in organizing learning. This article describes various ideal indicators in music vocational education in Indonesia. Through observation, interviews and documentation studies, several ideal indicators of vocational education in the field of music were obtained, including 1) The context of vocational learning in the field of music can be viewed from economic, social, educational, historical and international contexts which can support high levels of creativity and skill. state-of-the-art infrastructure; 2) Input process through the development of competency-based test instruments which aim to measure competency; 3) The learning process uses effective learning strategies, methods, techniques and tactics; 4) Music vocational education output includes main and additional competencies that must be possessed; 5) The outcomes of vocational music education are related to independence, public trust and creativity. These indicators can be the basis for developing ideal music education to face the very dynamic and complex challenges of life in the 21st century.Keywords: Indicators; vocational education; Indonesia's 21st century music
Pengembangan Metode Pembelajaran Berbasis Modulasi sebagai Stimulus Kepekaan Musikalitas Anak
PROMUSIKA Vol 11, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v11i2.10868

Abstract

Penelitian ini untuk mengembangkan metode pembelajaran bernyanyi berbasis modulasi atau perubahan nada dasar pada anak. Metode ini dilakukan sebagai salah satu cara atau stimulus untuk meningkatkan kepekaan musikalitas anak. Melalui metode ini, anak dapat secara spontan, tepat, dan cepat merespon fenomena musikal. Penelitian dilatarbelakangi praktik pembelajaran musik terutama di Sekolah Dasar yang selama ini lebih bersifat teoritis. Pembelajaran lebih ditekankan pada kemampuan kognitif dibandingkan pengembangan psikomotorik. Dengan metode pembelajaran ini, anak diharapkan dapat berinteraksi dengan musik secara langsung sehingga hakikat substansi pembelajaran musik meliputi aktivitas mengapresiasi, mengkreasi, dan mengekspresikan musik tercapai.  Metode penelitian yang digunakan Research and Development. Adapun tahapan penelitian yaitu: identifikasi kebutuhan, pengumpulan data, desain invention berupa pengembangan metode pembelajaran modulasi; uji coba terbatas, revisi, ujicoba metode pembelajaran berbasis modulasi.  Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran modulasi dapat dilakukan dengan tahapan 1) memperdengarkan iringan lagu saat modulasi menggunakan Do=C, Do=D, dan Do=E;  2) memberikan jembatan berupa akord pada nada dasar lagu yang akan dinyanyikan; 3) pengembangan Ritme lagu yang dapat digunakan sebagai tanda untuk memulai menyanyi; dan 4) pengiring dapat membantu anak-anak untuk menyanyi dengan lagu yang benar pada saat modulasi dari tangga nada mayor ke minor dan sebaliknya, 5) anak-anak  usia antara 5-10 tahun dapat menyanyikan lagu anak-anak dengan mengikuti iringan baik dengan alat musik gitar maupun piano., 8) anak-anak usia antara 7-10 tahun dapat menyanyikan lagu dengan modulasi dan perubahan tangga nada dari mayor ke minor dan sebaliknya.AbstractDevelopment of Modulation-Based Learning Methods as a Stimulus for Children's Musical Sensitivity. This study aims to develop a singing learning method based on modulation or changes scale for children. This method is a way or stimulus to increase children's musical sensitivity. This method allows Children to spontaneously, precisely, and quickly respond to musical phenomena. This study is motivated by the practice of learning music, especially in elementary schools, which is more theoretical. Cognitive abilities are more emphasized than psychomotor development. This method involves children interacting directly with music. Thus, the essence of music learning includes appreciating, creating, and expressing. This study used the Research and Development method. The steps include identification of needs, data collection, design of developing modulation learning methods, tryouts, revisions, and implementation of modulation-based learning methods. There are five steps you can take to learn modulation: 1) Listening to the accompaniment of the song when modulating using Do=C, Do=D, and Do=E; 2) Providing a bridge in the form of song chords on the song's fundamental tone; 3) Creating a rhythm song that could be utilized as a signal to get people to sing, and 4) Accompaniment can help children to sing the correct song at the time of modulation from major to minor scales and vice versa; 5)  children between the ages of 5-10 years can sing several songs by following good musical instrumental accompaniments played by guitar and piano. In addition, children between the ages of 7 and 10 can sing songs with modulations and changes in the pitch of the ladder from major to minor and vice versa.Keywords: modulation teaching and learning; Development of children's musicality; Singing
Minat Pendengar Streaming Lagu K-Pop ‘Super’ Karya SEVENTEEN pada Popular Chart di Spotify
PROMUSIKA Vol 11, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v11i2.9728

Abstract

K-Pop atau Korean Popular adalah jenis aliran atau tipe musik yang berasal dari Korea Selatan dengan arus musik rap, rock, techno, hip-hop, jazz, dan electronic dance music (EDM). SEVENTEEN adalah boy band Korea Selatan yang dikenal sebagai idola yang memproduksi sendiri lagu sekaligus koreografinya. SEVENTEEN merilis mini album ke-10 pada bulan April 2023 dan lagu ‘Super’ sebagai lagu utama dalam album ‘FML’. Streaming sangat lekat dengan aktivitas penggemar K-Pop, salah satu aplikasi musik digital yang dikenal ialah Spotify. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil persentase nilai streaming Lagu K-Pop ‘Super’ karya SEVENTEEN pada platform Spotify. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif desain penelitian survei dengan menggunakan teknik systematic sampling dan  uji analisis data dengan teknik Descriptive Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuktian bahwa lama bertahannya chart tidak mempengaruhi tingkat tangga lagu popular artis melainkan berdasarkan minat streaming pendengar pada lagu tertentu pada waktu yang berjalan.AbstractListeners' fascination with streaming SEVENTEEN's 'Super' K-Pop track on Spotify's famous chart. K-Pop or Korean Popular is a genre or type of music originating from South Korea with rap, rock, techno, hip-hop, jazz, and electronic dance music (EDM). SEVENTEEN is a South Korean boy band known as an idol that produces its own songs and choreography. SEVENTEEN released their 10th mini album in April 2023, and the music 'Super' is the main song on the album 'FML.' Streaming is closely related to the activities of K-pop fans; one of the well-known digital music applications is Spotify. This study aims to determine the percentage value of SEVENTEEN's 'Super' K-Pop song streaming on the Spotify platform. This study used a descriptive quantitative method with a survey research design using a systematic sampling technique and a data analysis test using the Descriptive Statistics technique. The study results show that the length of time the chart lasts does not affect the level of the artist's popular charts but rather is based on streaming listeners' interest in certain songs at the current time.Keywords: K-Pop music; SEVENTEEN; streaming; Spotify.
Musik Klasik dalam Paradigma Kontemporer: Penyelidikan tentang Apresiasi dan Pendengar
PROMUSIKA Vol 11, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v11i2.11076

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melacak pergeseran apresiasi musik klasik pada konteks era kontemporer, selain itu juga menganalisis persentase pendengar musik klasik dalam menghadapi tren musik di era kontemporer, dan menakar tantangan serta strategi yang muncul dalam upaya mempertahankan genre musik klasik dalam  pergereseran atmosfer era kontemporer. Metode yang digunakan dalam penelitian kali adalah mix method (gabungan antara kuantitatif dan kualitatif) yang mana  data bersumber dari bentuk numerik (kuantitatif) dan narasi (kualitatif). Namun, penggunaan kualitatif cenderung lebih dominan dalam menarasikan banyak hal dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini meliputi berapa hal berikut; (1) apresiasi musik klasik di era kontemporer jauh berbeda dengan era lampau, yang mana kini apresiasi musik klasik dapat diakses dengan mudah dengan platform-platform digital yang telah tersedia dan berbagai macam kemudahan lainnya. (2) persentase pendengar musik klasik jauh tertinggal dari genre lain, dalam data pendengar musik di Amerika Serikat pada tahun 2018, genre musik klasik hanya menempati posisi ke tiga belas dari lima belas genre yang diteliti, dengan persentase hanya 0,7%. (3) adapun respon terhadap tantangan dan upaya pembentukan strategi yang bisa dilakukan dalam pelestarian musik klasik di era kontemporer dapat berupa; memaksimalkan penggunaan platform digital, perbanyak tour konser lintas wilayah, manfaatkan penggunaan live streaming untuk konser daring, kolaborasi lintas genre musik, ciptakan konten-konten edukatif, dan banyak libatkan musik klasik pada budaya popularAbstractClassical Music in the Contemporary Paradigm: An Enquiry into Appreciation and Listening. This article aims to trace the shifting appreciation of classical music in the context of the contemporary era while also analyzing the percentage of classical music listeners in the face of music trends in the contemporary era and assessing the challenges and strategies that arise to maintain the classical music genre in the shifting contemporary atmosphere. The method used in this article is a mixed method (a combination of quantitative and qualitative) where data comes from numerical (quantitative) and narrative (qualitative) forms. However, the use of qualitative tends to be more dominant in narrating many things in the research. The results of this research include the following: (1) The appreciation of classical music in the contemporary era is much different from the past era, where classical music appreciation can be accessed easily with available digital platforms and various other conveniences. (2) The percentage of classical music listeners is far behind that of other genres. In the data on music listeners in the United States in 2018, the classical music genre only occupies the thirteenth position out of the fifteen genres studied, with a percentage of only 0.7%. (3) the response to challenges and efforts to form strategies that can be done in the preservation of classical music in the contemporary era can be to maximize the use of digital platforms, increase cross-regional concert tours, take advantage of the use of live streaming for online concerts, collaborate across musical genres, create educational content, and involve classical music in popular culture.Keywords: Classical Music; Contemporary Era; Appreciation; Listeners
Kreasi Musik dalam Gaya Permainan Gitar Keroncong oleh Tukiyo Tjiptomartono Seto, Novan Daru Anggoro; Kiswanto, Kiswanto
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.10347

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan tentang kreasi musik dalam gaya permainan gitar keroncong Tukiyo Tjiptomartono. Tukiyo Tjiptomartono adalah seorang musisi keroncong yang lahir di Surakarta, 15 November 1948 dan wafat di Surakarta, 19 Oktober 2021. Kebiasaan dan kegemaran semasa hidupnya dalam melakukan eksplorasi dan eksperimen untuk mengulik teknik dan pola permainan gitar keroncong telah menjadikan dirinya memiliki gaya yang khas, sehingga banyak seniman dan penikmat musik keroncong yang mengakui dan mengagumi kepiawaiannya dalam membawakan permainan melodi gitar keroncong hingga saat ini. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tukiyo Tjiptomartono sebagai seniman musik keroncong, yang dikenal dan dikenang oleh seniman-seniman musik keroncong dengan ciri khas melodi gitarnya. Ciri khas yang muncul dapat diidentifikasi berdasarkan teknik permainan, pola permainan gitar keroncong, dan variasi atau pengembangan pola gitar gaya Tukiyo Tjiptomartono. Teknik permainan merupakan tata cara teknik dasar dalam permainan gitar keroncong, pola permainan yang dimaksud merupakan bentuk-bentuk melodi pada pola akor dalam struktur keroncong asli akor 1, 2, 4, dan 5. Variasi atau pengembangan merupakan hasil dari kreativitas Tukiyo Tjiptomartono dan dapat dianalisis melalui perpindahan akor, susunan not, dan improvisasi-improvisasi yang dilakukan oleh Tukiyo Tjiptomartono.Music Creation in Keroncong Guitar Playing Style by Tukiyo Tjiptomartono. AbstractThis research aims to identify and explain the musical creations in Tukiyo Tjiptomartono's keroncong guitar playing style. Tukiyo Tjiptomartono is a keroncong musician born in Surakarta on November 15, 1948, and died in Surakarta on October 19, 2021. His lifelong habit and passion for exploration and experimentation to explore the techniques and patterns of keroncong guitar playing have made him a distinctive style that many artists and keroncong music lovers recognize and admire his expertise in performing keroncong guitar melodies to this day. The findings of this study show that Tukiyo Tjiptomartono is a keroncong music artist known and remembered by keroncong music artists for his characteristic guitar melodies. Playing styles, keroncong guitar playing patterns, and modifications or advancements of Tukiyo Tjiptomartono-style guitar patterns can all used to identify the qualities. The playing technique is an essential technical procedure in playing the keroncong guitar. The playing pattern is the melody formed in the chord pattern in the original keroncong structure of chords 1, 2, 4, and 5. Variation or development results from Tukiyo Tjiptomartono's creativity and can be analyzed through chord switching, note arrangement, and improvisations made by Tukiyo Tjiptomartono.Keywords: music creation; playing style; Tukiyo Tjiptomartono; keroncong guitar; artistry
Komodifikasi Musik Bertema Cinta: Pertunjukan Yovie Widianto “Billion Songs Concert and Festival” Zahra, Assalova Schissandra; Koapaha, Royke Bobby
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.12490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap komodifikasi Yovie Widianto pada pertunjukan Billion Songs Concert and Festival dalam konteks komodifikasi musik bertema cinta pada Industri Kebudayaan Massa oleh Theodor W. Adorno. Masalah penelitian yang diangkat adalah bagaimana strategi Yovie Widianto mengkomodifikasi karyanya dalam bentuk pertunjukan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada lokasi pertunjukan, wawancara dengan Yovie Widianto, serta analisis berbagai dokumen terkait seperti materi promosi, artikel berita, dan data streaming. Pertunjukan ini sebagai contoh studi kasus karena menggambarkan fenomena komersialisasi musik bertema cinta dalam industri musik masa kini. Aspek komersialisasi ini dapat terlihat dari seleksi lagu-lagu populer, kolaborasi dengan berbagai musisi populer, yang meningkatkan antusiasme dan daya tarik masyarakat serta menunjang penjualan tiket yang tinggi. Penelitian ini akan melihat bagaimana lagu-lagu bertema cinta dijadikan komoditas, dengan fokus pada model karya yang disajikan, strategi komodifikasi, dan pengaruh komersialisasi terhadap nilai artistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komodifikasi musik bertema cinta melibatkan pemilihan lagu hits, kolaborasi musisi, dan strategi promosi yang menyatukan antusiasme dan daya tarik masyarakat terhadap pertunjukan. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa strategi komodifikasi yang digunakan berhasil meningkatkan popularitas dan eksposur Yovie Widianto, serta mengukuhkan posisi musik bertema cinta sebagai komoditas yang bernilai dalam industri musik masa kini.The Commodification of Love-Themed Music: Yovie Widianto's Performance “Billion Songs Concert and Festival”AbstractThis research aims to study the commodification of Yovie Widianto in the Billion Songs Concert and Festival performance within the context of the commodification of love-themed music in the Mass Culture Industry by Theodor W. Adorno. The research problem addressed is how Yovie Widianto's strategies in commodifying his works through this performance. This study employs a qualitative method with approaches including observation, interviews, and document analysis. Data were collected through direct observation at the performance venue, interviews with Yovie Widianto, and analysis of various related documents such as promotional materials, news articles, and streaming data. The performance serves as a case study example because it illustrates the phenomenon of commercialization of love-themed music in the current music industry. This commercialization aspect is evident from the selection of popular songs, and collaborations with various popular musicians, which enhance public enthusiasm and appeal, and support high ticket sales. This research examines how love-themed songs are commodified, focusing on the model of works presented, commodification strategies, and the impact of commercialization on artistic value. The results of the study show that the commodification process of love-themed music involves the selection of hit songs, musician collaborations, and promotional strategies that unite public enthusiasm and appeal for the performance. These findings imply that the commodification strategies used have successfully increased Yovie Widianto's popularity and exposure, and have cemented the position of love-themed music as a valuable commodity in today's music industry.Keywords: The commodification of music; Yovie Widianto; Billion Songs Concert and Festival; Mass Cultural Industry
Made Mouthpiece Bandung: Produksi dan Organologi Hybrid Alto Saxophone Supiarza, Hery; Ramadhan, Gilang
PROMUSIKA Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i1.12556

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan Made Mouthpiece Bandung: Produksi dan Organologi Mouthpiece Type Hybrid Alto Saxophone. Masalah penelitian ini mengkaji proses produksi mouthpiece  hybrid alto saxophone oleh made mouthpiece Bandung, Diketahui banyak pemain saxophone di Indonesia yang menggunakan produk dan mengakui kualitas mouthpiece produksi made mouthpiece Bandung. Hal ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji secara komprehensip organologi mouthpiece buatan made sebagai keilmuan yang khusus mendalami asal muasal karakter bunyi. Tujuan penelitian menganalisi bahan yang digunakan dalam produksi mouthpiece type hybrid, tahapan – tahapan pembuatan Mouthpiece type hybrid alto saxophone dan karakter bunyi mouthpiece type hybrid produksi made mouthpiece Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dokumentasi, dan analisis data dilakukan dengan tahapan reduksi, klasifikasi data, interpretasi data, dan deskripsi data dalam bentuk kata-kata, kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa karakter suara made mouthpice dihasilkan oleh sistem organologi, dan teknik produksi. Kemudian peneliti menemukan 6 tahapan proses pembuatan sehingga menghasilkan karakter bunyi khas made mouthpiece type hybrid. Tahapan tersebut meliputi 1) Proses pembuatan desain, 2) Proses pembuatan cetakan silicon, 3) proses bubut logam kuningan, 4) Proses pencetakan mouthpiece, 5)  Proses Refacing, 6) Proses Finishing. Implikasi penelitian ini dapat menjadi role model bagi peneliti selanjutnya untuk menganalisis akustik organologi mouthpiece alto saxophone dari berbagai tipe dan pembuat yang beragam.Made Mouthpiece Bandung: Hybrid Alto Saxophone Production and OrganologyAbstractThis research describes Made Mouthpiece Bandung: Production and Organology of Hybrid Alto Saxophone Mouthpiece Type. This research problem examines the production process of the hybrid alto saxophone mouthpiece by made mouthpiece Bandung, It is known that many saxophone players in Indonesia use products and recognize the quality of the mouthpiece produced by made mouthpiece Bandung. This makes researchers interested in comprehensively studying the organology of mouthpieces made by made as a science that specifically explores the origin of sound characters. The research aims to analyze the materials used in the production of hybrid type mouthpieces, the stages of making Mouthpiece type hybrid alto saxophone and the sound character of the hybrid type mouthpiece production made mouthpiece Bandung. This research uses descriptive qualitative methods with data collection techniques including interviews, observation, documentation, and data analysis is carried out with the stages of reduction, data classification, data interpretation, and data description in the form of words, then draw conclusions. The results of the study found that the sound character of made mouthpice is produced by the organological system, and production techniques. Then the researcher found 6 stages of the manufacturing process so as to produce a typical made mouthpiece type hybrid sound character. These stages include 1) Design making process, 2) The process of making silicon molds, 3) brass metal lathe process, 4) Mouthpiece molding process, 5) Refacing process, 6) Finishing process. The implications of this research can be a role model for future researchers to analyze the acoustic organology of alto saxophone mouthpieces of various types and various makers.Keywords: Organology; Sound character; Mouthpiece; Production; Saxophone
Peran Aransemen Gending Jagung-Jagung dalam Meningkatkan Kemampuan Menabuh Gamelan: Sebuah Pendekatan Edukatif Purnama, Bayu; Satoto, Angga Bimo
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13252

Abstract

Orang yang mendengarkan gending Jawa selain merasakan keselarasan tabuhan juga akan mendapatkan berbagai ajaran atau informasi dari syair lagu yang didengarkannya. Salah satu bentuk ajaran dalam gending-gending Jawa ialah sebagai media pembelajaran suatu ilmu tertentu, akan tetapi penggunaan gending sangat jarang dijadikan sebagai media pembelajaran menabuh gamelan itu sendiri. Tujuan dari aransemen ladrang Jagung-Jagung ini ialah sebagai alternatif media pembelajaran tentang teknik menabuh gamelan yang benar. Metode yang digunakan dalam karya ini menggunakan metode perancangan dalam penelitian terapan yang terdiri dari : (1) eksplorasi, (2) improvisasi, (3) pembentukan dan (4) sosialisasi. Hasil dari karya aransemen ini menjelaskan unsur vokal menjadi fokus utama dalam pembuatan karya ini. Komposisi aransemen ini mengungkapkan beberapa teknik memainkan gamelan yang benar yang terdiri dari dimensi sikap yaitu : wiraga (ketepatan dan keterampilan), wirama (irama), wirasa (perasaan) dan dari dimensi hasil bunyi pada instrument tertentu, seperti instrumen balungan, kendang, suling, rebab, dan gambang.The Role of Gending Jagung-Jagung Arrangement in Enhancing Gamelan Performance Skills: An Educational StrategyAbstractThose who engage with Javanese music will not only perceive the harmonious nature of the music itself, but will also gain insight from the lyrics of the songs they listen to. One pedagogical approach in Javanese music is to utilize music as a conduit for imparting specific knowledge. However, the use of music as a means of teaching gamelan music itself is a relatively uncommon phenomenon. The objective of this ladrang Jagung-Jagung arrangement is to serve as an alternative pedagogical tool for learning the proper techniques for playing the gamelan. This work employs a design method in applied research, comprising the following stages: The four stages of the research process are as follows: (1) exploration, (2) improvisation, (3) formation, and (4) socialization. The outcome of this arrangement demonstrates that the vocal element is the primary focus. The composition of this arrangement reveals several techniques for playing the gamelan correctly, which can be divided into two dimensions: attitude and sound. The attitude dimension includes wiraga (accuracy and skill), wirama (rhythm), and wirasa (feeling). The sound dimension encompasses the specific techniques required for certain instruments, such as balungan, kendang, suling, rebab, and gambang.Keywords: arrangement; gending; ladrang Jagung-Jagung; learning media
Metode Kreatif dalam Penciptaan Musik Etnis: Memadukan Tradisi dan Modernitas Blothong, Ari Sumarsono; Sukotjo, Sukotjo
PROMUSIKA Vol 12, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v12i2.13867

Abstract

Musik etnis kaya akan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di era modern, musik ini mengalami perkembangan yang signifikan berkat berbagai inovasi. Inovasi dan tradisi adalah dua aspek yang sering berinteraksi dan saling melengkapi dalam seni dan karya kreatif. Dalam banyak situasi, inovasi berperan sebagai penyegaran dan pengembangan dari tradisi yang ada, sementara tradisi menyediakan dasar yang kuat dan kaya bagi inovasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang memungkinkan peneliti untuk menyelami makna dan pengalaman subjektif dalam konteks musik etnis, sehingga sangat sesuai untuk memahami interaksi antara inovasi dan tradisi dalam karya kreatif. Selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, studi kasus, observasi partisipatif, analisis data, dan validasi data. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana perpaduan elemen tradisional dalam musik etnis dengan pendekatan modern menghasilkan karya-karya kreatif yang tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga relevan bagi audiens saat ini. Dengan memanfaatkan teknologi, teknik komposisi kontemporer, dan kolaborasi lintas budaya, musik etnis mengalami transformasi yang membuka jalan bagi bentuk ekspresi baru. Ethnic Music in the Modern Era: Innovation and Tradition in Creative WorksAbstractEthnic music is rich in traditions passed down from generation to generation. In modern times, however, this music has undergone significant development thanks to various innovations. Innovation and tradition are two aspects that often interact and complement each other in art and creative work. In many situations, innovation acts as a refreshment and development of existing traditions, while tradition provides a strong and rich foundation for innovation. This study uses qualitative methods that allow researchers to delve into subjective meanings and experiences in the context of ethnic music, making it particularly suited to understanding the interaction between innovation and tradition in creative work. In addition, data collection was conducted through interviews, case studies, participant observation, data analysis, and data validation. This paper explores how the fusion of traditional elements in ethnic music with modern approaches results in creative works that not only maintain cultural identity, but are also relevant to today's audiences. Through the use of technology, contemporary compositional techniques, and cross-cultural collaborations, ethnic music is undergoing a transformation that paves the way for new forms of expression.Keywords: Ethnic Music; Innovation; Tradition; Creative Work