cover
Contact Name
Tri Wahyu Widodo
Contact Email
notasi3@yahoo.co.id
Phone
+6287839174055
Journal Mail Official
promusika7@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indoneisa Yogyakarta Jl. Parangtritis Km 6,5 Sewon Bantul Yogyakarta Telp: 0274-384108, 375380, fax: 0274-384108/0274-484928 HP: Hp. 087839174055
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik
ISSN : 2338039X     EISSN : 2477538X     DOI : https://doi.org/10.24821/promusika.v1i2
Core Subject : Art,
PROMUSIKA: Jurnal Pengkajian, Penyajian, dan Penciptaan Musik, focuses on the results of studies in the field of music, that its topics scope encompasses: Western Music Studies; History of music; Music theory/ analysis; Choir; Orchestra/ Ensemble/ Chamber Music; Composition/ Arrangement; Music Pedagogy/ education; Instrumental/ Vocal Studies; Music Technology; Popular/ folk Music; Music Esthetic/ philosophy
Articles 141 Documents
Variasi Gaya Vokal dalam Keroncong Asli: Menafsirkan Estetika Ngeroncongi melalui Penampilan Mus Mulyadi, Toto Salmon dan Ismanto Soladi, Soladi; Setiawan, Aris; Ji Pyo, Chung
PROMUSIKA Vol 13, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i2.15379

Abstract

Kajian ini mengeksplorasi perbedaan gaya vokal dalam interpretasi Keroncong Asli melalui studi komparatif terhadap tiga maestro keroncong Indonesia: Mus Mulyadi, Toto Salmon, dan Ismanto. Ketiganya menyanyikan lagu “Kr. Hanya Untukmu” karya Sapari dan WS Nardi, namun dengan pendekatan vokal yang berbeda secara signifikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis musik tekstual, yang dipadukan dengan data resepsi pendengar sebagai bentuk triangulasi untuk memperkuat validitas temuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Mus Mulyadi menampilkan gaya vokal yang ekspresif dengan cengkok agresif dan penuh ornamen, Toto Salmon menyanyikan lagu dengan artikulasi yang jelas dan mengikuti notasi baku, sementara Ismanto memperlihatkan karakter suara yang sumeleh dengan improvisasi yang terukur dan bersahaja. Ketiga pendekatan tersebut ditelaah lebih lanjut melalui persepsi penghayat musik keroncong untuk mengungkap nilai-nilai estetis yang membentuk identitas vokal Keroncong Asli. Konsep ngeroncongi—yakni cara bernyanyi khas yang ekspresif namun berakar kuat pada struktur estetika tradisi—digunakan sebagai bingkai pemaknaan. Kajian ini menyimpulkan bahwa kreativitas individu, selama tetap berpijak pada koridor estetika genre, memainkan peran penting dalam pembentukan gaya vokal dalam tradisi keroncong yang terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman. Vocal Style Variety in Keroncong Asli: Interpreting the Aesthetic of Ngeroncongi through the Performances of Mus Mulyadi, Toto Salmon, and IsmantoAbstractThis study examines the differences in vocal styles in interpreting Keroncong Asli through a comparative analysis of three Indonesian keroncong maestros: Mus Mulyadi, Toto Salmon, and Ismanto. All three sing "Kr. Hanya Untukmu" by Sapari and WS Nardi, but with significantly different vocal approaches. This research employs a qualitative method with a textual music analysis approach, combined with listener reception data as a form of triangulation to strengthen the validity of the findings. The analysis results indicate that Mus Mulyadi displays an expressive vocal style with aggressive inflections and abundant ornamentation, Toto Salmon sings the song with precise articulation and follows standard notation. At the same time, Ismanto exhibits a smooth vocal character with measured and understated improvisation. These three approaches are further examined through the perceptions of Keroncong music enthusiasts to uncover the aesthetic values that shape the vocal identity of Keroncong Asli. We use the concept of ngeroncongi—a distinctive singing style that is expressive yet deeply rooted in traditional aesthetic structures—as a framework for interpretation. This study concludes that individual creativity, as long as it remains within the aesthetic boundaries of the genre, plays an essential role in shaping vocal styles within the evolving and adapting tradition of keroncong.Keywords: Original Keroncong; Vocal Style; Ngeroncongi; Musical Aesthetics
Integrasi Lagu Dolanan Jaranan dalam Pembelajaran Gamelan untuk Penguatan Keterampilan Sosial Emosional Siswa SMP melalui Model Project-Based Learning Muzaqqi, Ahmad; Cahyani, Amelia Hertha; Arsari, Citra Dyah; Putri, Farida Yudhiani; Widayani, Eko
PROMUSIKA Vol 13, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i2.15301

Abstract

Penelitian ini menerapkan beberapa model dan metode pembelajaran dengan aransemen lagu dolanan “Jaranan” sebagai sarana untuk meningkatkan Pembelajaran Sosial Emosional (SEL) di kalangan siswa SMPN 1 Surabaya. Fokus utamanya adalah menanamkan nilai-nilai dan norma-norma penting sambil mengembangkan keterampilan sosial emosional, yang biasa dikenal sebagai keterampilan lunak. Menggunakan gamelan, salah satu bentuk musik tradisional Indonesia, pendekatan proyek dan proses pembelajaran yang bermakna melalui keterlibatan langsung dan kegiatan pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, di mana siswa menjadi fokus utama melalui tiga tahap bimbingan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Siswa yang awalnya tidak terbiasa dengan gamelan, dibimbing untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui permainan ansambel. Penelitian ini mengamati perubahan penting dalam sikap siswa, yang menggarisbawahi pentingnya komunikasi dan kolaborasi. Metode latihan digunakan untuk meningkatkan kenyamanan siswa dalam interaksi sosial, dan kegiatan tersebut diharapkan dapat mengasah keterampilan motorik halus siswa yang secara efektif mempersiapkan mereka untuk tantangan akademis dan sosial di masa depan. Temuan tersebut menunjukkan adanya peningkatan substansial dalam kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi siswa serta peningkatan koordinasi motorik halus yang menunjukkan perubahan pada setiap latihan dalam bentuk peningkatan teknik bermusik yang lebih halus dan lebih harmonis, yang dimaksudkan sebagai manfaat jangka panjang dari pengintegrasian SEL ke dalam pendidikan musik. Integration of Jaranan Folk Songs in Gamelan Learning to Strengthen Middle School Students' Social-Emotional Skills through a Project-Based Learning Model Abstract This study aims to improve students' Social Emotional Learning (SEL) through the arrangement of the traditional song Jaranan packaged in Project Based Learning (PJBL) music lessons. This activity integrates local cultural values through gamelan as an educational tool to instill social norms and develop soft skills for students. The research was conducted at SMPN 1 Surabaya, involving 35 eighth-grade students as participants. The research method used was Collaborative Classroom Action Research (PTKK) with three cycles, namely the planning, implementation, observation, and reflection stages. The learning process was carried out through gamelan ensemble activities using demonstration, drill, exploration, and participatory evaluation methods, which allowed students to be directly involved in the creative process of traditional music. The results showed a significant improvement in the socio-emotional aspects of the students, especially their fine motor coordination. in This improvement was particularly evident in their self-confidence, communication skills, and collaboration skills. Motorically, students experienced an improvement in their fine motor coordination. The improvement in students' fine motor coordination was evident in their increasingly refined and harmonious drumming techniques. These findings indicate that the integration of SEL in traditional music learning can be an effective approach to shaping character education and training students' skills in facing future academic and social challenges. Keywords: Gamelan; Skills; Values; Social-Emotional Learning
Integrasi Balloon Blowing dalam Pembelajaran Teknik Pernapasan untuk Meningkatkan Kapasitas Paru Mahasiswa Vokal Jannah, Fitdatul; Rumiwiharsih, Rumiwiharsih; Jogjaningrum, Drijastuti
PROMUSIKA Vol 13, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i2.16700

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh treatment balloon blowing terhadap kapasitas paru mahasiswa Praktik Instrumen Mayor (PIM) Vokal, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah Quasi experimental Design dengan desain dua kelompok kelas yang memiliki kondisi yang sama. Sampel terdiri dari dua kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan spirometer untuk mengukur kapasitas paru sebelum dan sesudah perlakuan. Teknik analisis data meliputi analisis deskriptif, uji prasyarat (uji normalitas dan homogenitas) serta uji hipotesis menggunakan paired sample test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balloon blowing memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kapasitas paru pada kelas eksperimen. Hal ini dibuktikan melalui nilai signifikansi hasil uji paired sample test sebesar 0,001 < 0,05. Sementara itu, pada kelas kontrol memperoleh nilai signifikansi 0,506 > 0,05 yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan kapasitas paru yang signifikan. Hasil tersebut diperkuat melalui analisis deskriptif yang menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kelas eksperimen, terlihat pada nilai rata-rata kapasitas paru posttest lebih tinggi dari pretest yaitu 2285.71ml > 1892.86ml. Adapun pada kelas kontrol juga terjadi peningkatan nilai rata-rata antara nilai posttest dan pretest kapasitas paru yaitu 1.950ml > 1.891.67ml, akan tetapi peningkatan yang terjadi pada kelas kontrol tidak signifikan secara statistik. Artinya, meskipun terjadi peningkatan nilai pada kelas kontrol, perubahannya tidak cukup besar untuk menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Penelitian ini memiliki implikasi positif bagi pendidikan vokal, khususnya dalam proses pembelajaran teknik pernapasan. Metode Balloon blowing, yang selama ini diketahui bermanfaat dalam konteks medis, juga terbukti memiliki manfaat yang signifikan dalam bidang pendidikan vokal. Dalam penelitian ini, balloon blowing dimodifikasi sehingga tidak hanya dapat digunakan sebagai media latihan alternatif yang sederhana, murah, dan efektif, tetapi juga berpengaruh meningkatkan kapasitas paru sekaligus melatih pernapasan diafragma, yang merupakan fondasi penting dalam bernyanyi. Balloon blowing dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan vokal sebagai media yang efektif untuk melatih dan mengembangkan teknik pernapasan secara terkontrol dan efisien. Latihan ini berperan dalam memperkuat otot pernapasan, meningkatkan kapasitas paru dan melatih pernapasan diafragma. Berdasarkan temuan penelitian, balloon blowing dapat dijadikan sebagai program rutin dalam pelatihan vokal yang secara khusus bertujuan meningkatkan kualitas pernapasan.Integrating Balloon Blowing into Breathing Technique Instruction to Improve Lung Capacity in Vocal StudentsAbstractThis study aims to determine the effect of balloon blowing treatment on the lung capacity of Vocal Instrument Major Practice (PIM) V students at the Faculty of Fine Arts and Design (FBSB), Yogyakarta State University. The research employs a quasi-experimental design with two classes that share similar conditions: experimental and control classes. Lung capacity data were collected using a spirometer before and after the treatment. Data analysis involved descriptive analysis, prerequisite tests (normality and homogeneity tests), and hypothesis testing using the paired sample test. The results indicate that balloon blowing significantly increases lung capacity in the experimental class, evidenced by a significance value of the paired sample test results at 0.001, which is less than the 0.05 threshold. In contrast, the control class showed a significance value of 0.506, greater than 0.05, indicating no significant difference in lung capacity. Descriptive analysis further supports these findings, showing a substantial increase in the experimental group. The posttest mean lung capacity was higher than the pretest value (2285.71 ml > 1892.86 ml). The control group also experienced an increase in mean lung capacity from pretest to posttest (1950 ml > 1891.67 ml), but this increase was not statistically significant. Although there was a positive change in the control group, it was not substantial enough to indicate a meaningful improvement. These results have important implications for vocal education, particularly regarding learning breathing techniques. The balloon blowing method, which has long been recognized for its benefits, has been adapted in this quasi-experimental design to demonstrate significant advantages in vocal training. Modifying the balloon blowing technique is a simple, inexpensive, and effective exercise medium that increases lung capacity and trains diaphragmatic breathing—a crucial foundation for singing. Incorporating balloon blowing into vocal training can enhance controlled and efficient breathing techniques. This exercise strengthens respiratory muscles, increases lung capacity, and develops diaphragmatic breathing. Based on the research findings, balloon blowing can be incorporated as a routine element in vocal training to improve overall breathing quality.Keywords: Balloon blowing; Lung Capacity; Vocals
Musical Hyperreality in Kampung Jelita: A Case Study of Thematic Tourism in Surabaya Fadhillah, Rifdah; Meyrasyawati, Dewi; Khusyairi, Johny Alfian
PROMUSIKA Vol 13, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i2.15945

Abstract

This study analyzes music's role in shaping visitors' hyperreal experiences in Kampung Jelita, Surabaya. Using a qualitative case study approach, the research focuses on the Japanese and Balinese thematic zones and applies Jean Baudrillard's theory of hyperreality. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, literature review, and documentation conducted in the Kampung Jelita area, Manukan Lor IV E Street, RT 05/RW 01, Banjar Sugihan Subdistrict, Tandes District, Surabaya. The findings reveal that instrumental music is a cultural simulator that evokes illusion and fantasy, supporting Baudrillard's view that simulation can substitute reality. The soundscapes in each thematic zone, Japanese and Balinese, enhance the immersive experience by harmonizing with visual ornaments, prompting visitors to engage emotionally, experience nostalgia, and participate in performative acts such as renting traditional costumes. However, some visitors noted inconsistencies between the music and the intended cultural themes. Theoretically, this study contributes to hyperreality discourse by emphasizing the role of music in reinforcing sensory simulation within thematic tourism village contexts. Practically, the findings suggest that curating culturally coherent soundscapes can strengthen visitors' emotional attachment and enhance destination branding. Thus, music should be regarded as a strategic medium in constructing cultural identity and tourist experience.Hiperrealitas Musik di Kampung Jelita: Studi Kasus Tematik Wisata di SurabayaAbstrakPenelitian ini menganalisis peran musik dalam membentuk pengalaman hiperreal pengunjung di Kampung Jelita, Surabaya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini berfokus pada zona tematik Jepang dan Bali serta menerapkan teori hiperrealitas Jean Baudrillard. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, studi pustaka, dan dokumentasi yang dilakukan di kawasan Kampung Jelita, Jalan Manukan Lor IV E, RT 05/RW 01, Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik instrumental berfungsi sebagai simulator budaya yang membangkitkan ilusi dan fantasi, mendukung pandangan Baudrillard bahwa simulasi dapat menggantikan realitas. Lanskap bunyi (soundscape) di setiap zona tematik Jepang dan Bali memperkuat pengalaman imersif dengan menciptakan keselarasan antara elemen audio dan visual, sehingga mendorong pengunjung untuk terlibat secara emosional, merasakan nostalgia, serta berpartisipasi dalam tindakan performatif seperti menyewa kostum tradisional. Namun, beberapa pengunjung mencatat adanya ketidaksesuaian antara musik yang diputar dengan tema budaya yang dimaksudkan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap wacana hiperrealitas dengan menekankan peran musik dalam memperkuat simulasi sensorik dalam konteks kampung tematik wisata. Secara praktis, temuan ini menyarankan bahwa pengelolaan lanskap bunyi yang selaras secara budaya dapat memperkuat keterikatan emosional pengunjung dan meningkatkan citra destinasi wisata. Dengan demikian, musik perlu dipandang sebagai media strategis dalam membangun identitas budaya dan pengalaman wisata.Kata kunci: hiperrealitas musik; Kampung Jelita; musik instrumental tradisional; simulakra
Kajian Fungsi Nyanyian Kawen dalam Upacara En Heser di Desa Aitoun Kecamatan Raihat Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur Fouk, Agustina Yuliani; Santoso, Iwan Budi
PROMUSIKA Vol 13, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peran nyanyian kawen dalam upacara En Heser di Desa Aitoun, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang berfungsi sebagai penghormatan kepada yang telah tiada serta sebagai medium untuk memperkuat ikatan sosial dan budaya masyarakat. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan etnografi, yang memungkinkan peneliti untuk memahami makna dan fungsi nyanyian kawen dalam kehidupan masyarakat Aitoun secara mendalam. Melalui analisis kualitatif, penelitian ini mengkaji struktur makna lirik dan fungsi nyanyian kawen.  Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana partisipasi masyarakat dalam ritual ini menciptakan solidaritas dan kebersamaan di tengah kesedihan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung selama upacara, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, dan analisis dokumentasi terkait tradisi lokal. Dengan demikian kajian data observasi memberikan gambaran menyeluruh tentang konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi praktik ini. Berdasarkan pengamatan interaksi sosial dan partisipasi individu selama upacara En Heser, penelitian ini menemukan bahwa nyanyian kawen tidak hanya berfungsi sebagai ritual penghormatan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyanyian kawen berperan penting dalam menjaga kesinambungan budaya, memperkuat identitas komunitas, dan menciptakan ruang untuk merayakan kehidupan meskipun dalam suasana duka. Dengan demikian, nyanyian kawen menjadi bagian integral dari warisan budaya yang layak untuk dilestarikan dan dihargai. Study on the Function of Nyayian Kawen in the En Heser Ceremony in Aitoun Village, Raihat District, Belu Regency, East Nusa TenggaraAbstractThis research explores the role of kawen singing in the En Heser ceremony in Aitoun Village, Raihat District, Belu Regency, East Nusa Tenggara. The ceremony serves as a tribute to the deceased and as a way to strengthen social and cultural bonds within the community. The study employs an ethnographic approach, enabling the researcher to gain a profound understanding of the meaning and function of kawen songs in the lives of the Aitoun community. Through qualitative analysis, it examines the structure of wedding songs and their purposes. An equally important aspect is how community participation during the ritual fosters solidarity and togetherness in the midst of grief. Data was gathered through direct observation during the ceremony, in-depth interviews with community leaders, and analysis of documentation related to local traditions. This observational data provides a comprehensive view of the social and cultural context behind the practice. Based on observations of social interactions and individual participation during the En Heser ceremony, the study found that kawen songs serve not only as a mark of respect but also as an educational tool that imparts cultural values to the younger generation. The findings show that kawen songs are vital in preserving cultural continuity, reinforcing community identity, and creating a space to celebrate life even in times of sorrow. Therefore, kawen songs are an essential part of cultural heritage that deserve preservation and appreciation.Keywords: En Heser; Songs; Kawen; Holon
Transformasi Makna Teks Religius dalam Musik Populer Indonesia: Perspektif Reader-response Luwiga, Abraham Anton Febrindo; Djohan, Djohan
PROMUSIKA Vol 13, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i2.17455

Abstract

Lirik lagu merupakan sebagai sebuah medium ekspresi yang kaya akan makna, terutama ketika mengadaptasi teks religius ke dalam konteks musik populer. Artikel ini mengkaji transformasi makna bagian ayat “seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami” dari Doa Bapa Kami dalam lirik lagu “Hagia” ciptaan Barasuara melalui pendekatan hermeneutik teori reader-response Wolfgang Iser. Tujuan utama penelitian adalah mengidentifikasi dan menganalisis perubahan makna teks religius ketika dipindahkan dari ruang sakral ke ruang musik sekuler, serta peran musik dalam proses reinterpretasi makna. Metode penelitian menggunakan Hermeneutic Systematic Review (HSR) dengan analisis kualitatif, meliputi tahapan identifikasi makna asli teks religius, pemetaan konteks kreator (Iga Massardi), dan analisis interaksi teks dengan audiens dalam kerangka reader-response. Hasil analisis menunjukkan bahwa makna religius yang awalnya terbatas pada konteks ritual keagamaan mengalami perluasan menjadi sebuah pesan universal tentang toleransi dan solidaritas sosial. Musik sebagai medium memainkan peran krusial memperluas horizon penerimaan interpretasi terhadap makna baru yang mana dapat melampaui batas-batas keagamaan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa makna teks religius bersifat dinamis, berkembang sesuai konteks sosial budaya pencipta dan pembaca. Implikasi hasil penelitian ini menunjukkan potensi musik populer sebagai media dialog antaragama dan rekonsiliasi sosial dalam konteks Indonesia yang plural. Penelitian ini membuka arah baru dalam kajian hermeneutik musik Indonesia dengan menunjukkan bahwa adaptasi teks religius dapat memperkaya diskursus keagamaan kontemporer tanpa menghilangkan nilai spiritualnya. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada penerapan teori reader-response dalam analisis lirik musik populer Indonesia, yang sebelumnya belum banyak dilakukan secara sistematis. Transformasi makna ini menunjukkan bahwa musik populer dapat menjadi jembatan antara nilai-nilai religius dan kebutuhan masyarakat kontemporer yang beragam. Penelitian ini mengungkapkan bahwa proses perubahan makna tidak menghilangkan nilai spiritual dari teks asli, melainkan memperluas aksesnya kepada audiens yang lebih luas tanpa batasan denominasi agama. Temuan ini memberikan pemahaman baru tentang bagaimana seni dapat berperan dalam membangun dialog antariman dan toleransi di Indonesia yang majemuk. Dengan demikian, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium komunikasi nilai-nilai kemanusiaan universal yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini.The Transformation of Religious Text Meaning in Indonesian Popular Music: A Reader-response PerspectiveAbstractLyrics are a rich medium for expressing meaning, especially when adapting religious texts to popular music contexts. This article examines the transformation of the phrase "as we forgive those who trespass against us" from the Lord's Prayer in the song "Hagia" by Barasuara, using Wolfgang Iser's reader-response hermeneutic theory. The primary goal is to identify and analyse the shift in the meaning of religious texts when they are moved from sacred to secular music spaces and to explore how music influences this reinterpretation process. The research employed a Hermeneutic Systematic Review (HSR) with a qualitative approach, involving the identification of the original meaning, mapping the songwriter's context (Iga Massardi), and analysing the interaction between the text and the audience through reader-response theory. The results reveal that the original religious meaning, once limited to a ritual context, transforms into a universal message of tolerance and social solidarity. Music plays a key role in expanding the scope of meaning reception, surpassing liturgical boundaries. The study concludes that the meaning of religious texts is fluid, changing based on the socio-cultural context of both the creator and the audience. The findings highlight the potential of popular music as a tool for interfaith dialogue and social reconciliation within Indonesia's diverse society. This research opens new avenues in Indonesian music hermeneutics by showing that adapting religious texts can enhance contemporary religious discussions without compromising their spiritual significance. Its main contribution is the systematic use of reader-response theory to analyse Indonesian popular music lyrics, an approach that has been largely overlooked in earlier studies. The research offers a model for understanding how sacred texts can act as bridges for cross-cultural and interreligious understanding today. This transformation shows that popular music can connect religious values with the needs of a modern, diverse society. It also reveals that the process of transforming meaning does not diminish the spiritual worth of the original text; rather, it broadens its reach, crossing denominational boundaries. These insights suggest how art can help promote interfaith dialogue and tolerance in Indonesia's pluralistic society. Therefore, music serves not only as entertainment but also as a medium for conveying universal human values that are relevant to Indonesia's current social landscape.Keywords: hermeneutics; reader-response; popular music; religious text meaning; Barasuara
Tren dan Arah Riset Global tentang Keterampilan Berpikir Kreatif dalam Musik Dendi Septiawiguna; Tono Rachmad; Toni Setiawan Sutanto
PROMUSIKA Vol 14, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v14i1.17457

Abstract

Musik berperan penting bagi manusia dalam berbagai aspek, seperti biologis dan kognitif, emosi dan psikologis, sosial dan budaya, pengembangan kreativitas, dan ekspresi diri. Berpikir kreatif menjadi keterampilan penting pada abad ke-21, termasuk keterampilan berpikir kreatif (KBK) dalam musik. Saat ini, penelitian yang mengkaji pemetaan riset yang telah berkembang tentang KBK di musik masih terbatas. Kajian ini bertujuan untuk (1) memetakan tren riset KBK dalam musik dua dekade terakhir, (2) menelaah pola kolaborasi penulis dan negara serta produktivitasnya, (3) memetakan arah pengembangan ilmu, dan (4) merangkum intervensi peningkatan KBK berbasis bukti. Penelitian menggunakan pendekatan multi-metode, yakni bibliometrik dan ulasan literatur sistematis. Data diambil dari Scopus dan diseleksi dengan protokol PRISMA. Analisis bibliometrik menjangkau 62 artikel jurnal (2006–2025); SLR memfokuskan 19 studi eksperimen yang memenuhi kriteria kelayakan dan weight of evidence. Hasil menunjukkan tren publikasi secara umum mengalami peningkatan. Jejaring kolaborasi penulis relatif lemah meski terdapat klaster produktif di Israel dan Republik Ceko. Pada tingkat negara, kolaborasi lintas negara masih fragmentaris dengan Cina paling produktif (25 dokumen). Hasil pemetaan co-occurrence mengungkap tiga klaster, yakni aplikatif-pedagogis, konseptual-teoretis, dan psikologis-perseptual, di mana arah riset ke depan bergeser menuju integrasi teknologi digital, pembelajaran daring, penguatan pendidikan guru, serta kajian faktor individual. Analisis klaster menunjukkan bahwa riset KBK dalam musik bukan hanya berkaitan dengan bidang pendidikan, tetapi juga dengan aspek fisiologis dan psikologis. Sintesis SLR atas 19 studi eksperimen menunjukkan bahwa seluruh intervensi, baik model/pedagogi kreatif maupun teknologi, berdampak positif pada peningkatan KBK. Secara umum, temuan dalam kajian ini menegaskan kebutuhan untuk memperkuat kolaborasi internasional dan riset lintas disiplin untuk memperkaya ekosistem kreatif dalam pendidikan musik.Global Research Trends and Directions on Creative Thinking Skills in Music: Bibliometric Analysis and Systematic Literature ReviewAbstractMusic plays an important role in humans across various aspects, including biological and cognitive, emotional and psychological, social and cultural, creativity development, and self-expression. Creative thinking has become an important skill in the 21st century, including within music (KBK). Currently, research on mapping KBK research in music remains limited. This study aims to (1) map the trends in CTI research in music over the past two decades, (2) examine the patterns of author and country collaboration and their productivity, (3) map the direction of scientific development, and (4) summarise evidence-based CTI improvement interventions. The study uses a multi-method approach, namely, bibliometrics and systematic literature review. Data were retrieved from Scopus and selected using the PRISMA protocol. Bibliometric analysis covered 62 journal articles (2006–2025); the SLR focused on 19 experimental studies that met the eligibility and weight-of-evidence criteria. The results show that publication trends have generally increased. Author collaboration networks are relatively weak, though productive clusters exist in Israel and the Czech Republic. At the country level, cross-country collaboration remains fragmented, with China being the most productive (25 documents). Co-occurrence mapping revealed three clusters: applied-pedagogical, conceptual-theoretical, and psychological-perceptual. Future research should integrate digital technology and online learning, strengthen teacher education, and examine individual factors. Cluster analysis shows that CBT research in music is not only related to education but also to physiological and psychological aspects. SLR synthesis of 19 experimental studies shows that all interventions, both creative models/pedagogy and technology, have a positive impact on CBT improvement. In general, the findings in this study emphasise the need to strengthen international collaboration and interdisciplinary research to enrich the creative ecosystem in music education.Keywords: creative thinking skills in music; digital technology integration; research trends and directions; bibliometric analysis; systematic literature review.
Kreativitas Musik Campursari Grup Irama Manunggal dalam Perspektif Filsafat Keindahan DeWitt H. Parker Annas Fitria Sa’adah; Aurelia Noven Oktalila; Linda Sitinjak
PROMUSIKA Vol 14, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v14i1.17155

Abstract

Penelitian ini mengkaji kreativitas musik campursari oleh Grup Irama Manunggal dalam peribadatan Gereja Stasi Maria Assumpta, Bawen, Kabupaten Semarang, sebagai bentuk inkulturasi musik liturgi yang memadukan instrumen tradisional Jawa dan instrumen modern. Tujuan penelitian adalah (1) mendeskripsikan bentuk kreativitas aransemen liturgis yang dikembangkan grup, (2) menjelaskan dinamika penerimaan jemaat, serta (3) menganalisis keterpenuhan asas-asas bentuk estetis menurut DeWitt H. Parker. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif pada latihan dan peribadatan, wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap 12 anggota grup, 2 pengurus gereja, dan 5 jemaat, serta dokumentasi (partitur, foto, dan video). Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, disertai triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan: (a) transformasi praktik iringan dari format keroncong menuju ensambel campursari dilakukan sebagai respons atas kebutuhan musikal jemaat; (b) strategi aransemen dibedakan menurut bagian liturgi (pembukaan–ordinarium–persembahan–komuni–penutup) untuk menjaga kesesuaian suasana ibadah; (c) integrasi idiom campursari mendorong keterlibatan jemaat dalam bernyanyi tanpa mengganggu kekhidmatan, melalui pengendalian tempo, ornamentasi, dan dominasi instrumen. Pembahasan dengan teori Parker menunjukkan bahwa praktik musikal grup menampilkan kesatuan bentuk, tema dan variasinya, keseimbangan unsur tradisi–modern, perkembangan bentuk dalam konteks komunitas, serta tata jenjang peran instrumen dalam struktur musikal liturgi. Penelitian ini berimplikasi pada penguatan model inkulturasi musik liturgi berbasis budaya lokal yang tetap selaras dengan norma liturgis, serta membuka peluang kajian lanjutan berupa analisis musikal-notasional dan evaluasi dampak jangka panjang terhadap partisipasi umat.Campursari Creativity in Catholic Liturgy: A Parker Aesthetic AnalysisAbstractThis study investigates the creative use of campursari music by the Irama Manunggal Group in Catholic worship services at St. Maria Assumpta Station Church, Bawen (Semarang Regency, Indonesia), as a contemporary form of liturgical inculturation that combines Javanese musical idioms with modern instruments. The study aims to (1) describe the group's liturgical arrangement practices, (2) examine congregational reception and participation, and (3) assess how the musical practice fulfills DeWitt H. Parker's principles of aesthetic form. A descriptive, qualitative case study design was employed. Data were collected through participant observation during rehearsals and worship services, semi-structured in-depth interviews with 12 group members, 2 church administrators, and 5 congregants, and documentation (scores, photographs, and performance videos). Data were analyzed using an interactive model (data reduction, data display, and conclusion drawing), supported by source and method triangulation. The findings indicate that: (a) the ensemble evolved from a previous keroncong practice into a hybrid campursari format in response to the community's musical expectations; (b) arrangement strategies are differentiated across liturgical sections (opening, ordinary, offertory, communion, and closing) to preserve ritual appropriateness; and (c) congregational engagement is enhanced through controlled tempo, restrained ornamentation, and hierarchical instrumental roles that maintain solemnity while allowing cultural rootedness. The discussion, framed by Parker's aesthetic theory, suggests that the ensemble's practice demonstrates unity, thematic coherence and variation, balance between tradition and modernity, developmental continuity within the community context, and a clear hierarchy of musical functions. This study contributes to the discourse on Indonesian liturgical inculturation by offering an aesthetics-based analytical model and recommending further research using detailed musical transcription and longitudinal evaluation of participatory and spiritual impacts.Keywords: campursari; liturgical music; inculturation; DeWitt H. Parker aesthetics; case study.
Psikoanalisis Musik terhadap Musik Film Sang Pencerah: Aktualisasi Biografis Tya Subiakto Ardy Aprilian Anwar; Pandu Watu Alam; Azuddin Asri
PROMUSIKA Vol 14, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v14i1.17364

Abstract

Proses kreatif komposer dalam musik film, khususnya yang berkaitan dengan dimensi psikologis, merupakan ranah yang masih jarang dieksplorasi dalam literatur musikologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi proses kreatif Tya Subiakto dalam skor film Sang Pencerah guna mengungkap relasi antara impuls bawah sadar dan keputusan musikal menggunakan perspektif mekanisme pertahanan diri Sigmund Freud. Penelitian ini menerapkan metode studi kasus kualitatif yang mengintegrasikan analisis tekstual musikal, wawancara biografis mendalam, dan studi dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan adanya manifestasi konkret mekanisme pertahanan Freud dalam struktur komposisi, yaitu: (1) Sublimasi yang teridentifikasi pada crescendo orkestra penuh tema 'Mars Muhammadiyah' (00:01:06) sebagai penyaluran obsesi masa kecil; (2) Represi yang termanifestasi dalam pola ritmis string section repetitif (00:02:15–00:03:00) sebagai pengelolaan ketegangan emosional; dan (3) Pemindahan (displacement) yang terbukti melalui adopsi progresi akor 'Child's Anthem' (Toto) pada tema dialog Dahlan-Nyai (01:10:00). Studi ini menyimpulkan bahwa biografi komposer bukan sekadar latar belakang sejarah, melainkan elemen konstitutif yang membentuk narasi musikal film. Kontribusi teoritis penelitian ini menawarkan model analisis interdisipliner yang memperkaya diskursus musikologi Indonesia dengan menjembatani psikoanalisis dan kritik musik film.Actualization of Tya Subiakto's Biography in the Music of Sang Pencerah: An Analysis of Musicological PsychoanalysisAbstractThe composer's creative process in film music, particularly its psychological dimensions, remains underexplored in musicological literature. This research aims to deconstruct Tya Subiakto's creative process in the Sang Pencerah film score to clarify the relationship between subconscious impulses and musical decisions, drawing on Sigmund Freud's perspective on defense mechanisms. This study employs a qualitative case study method, integrating musical textual analysis, in-depth biographical interviews, and documentary study. The findings demonstrate concrete manifestations of Freudian defense mechanisms within the compositional structure: (1) Sublimation, identified in the full orchestral crescendo of the 'Mars Muhammadiyah' theme (00:01:06) as a channel for childhood obsessions; (2) Repression, manifested in repetitive rhythmic patterns of the string section (00:02:15–00:03:00) as a means of processing emotional tension; and (3) Displacement, evidenced by the adoption of the 'Child's Anthem' (Toto) chord progression in the Dahlan-Nyai dialogue theme (01:10:00). This study concludes that a composer's biography serves not merely as historical background but as a constitutive element shaping the film's musical narrative. Theoretically, this research contributes an interdisciplinary analytical model that enriches Indonesian musicological discourse by bridging psychoanalysis and film music criticism.Keywords: Creative process; Film scoring; Freud psychoanalysis; Composer's biography; Tya Subiakto
Audio Journal Promusika: Inovasi Literasi Auditori di Pendidikan Tinggi Musik Reza Ginandha Sakti; Hana Permata Heldisari
PROMUSIKA Vol 14, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v14i1.17665

Abstract

Perkembangan budaya digital telah mengubah cara masyarakat dalam mengakses pengetahuan. Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sebagai salah satu kampus seni terbesar di Indonesia, memiliki 23 jurnal ilmiah. Berkembangnya kualitas dan kuantitas jurnal tersebut belum berbanding lurus dengan meningkatnya budaya mengakses artikel ilmiah di kalangan mahasiswa. Sejak era 4.0, kecenderungan budaya auditori semakin meningkat dibandingkan dengan budaya membaca. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya akses masyarakat terhadap podcast di Digital Streaming Provider dibandingkan dengan mengakses media baca. Kurangnya minat untuk mengakses media baca diperparah oleh kondisi mata yang mudah lelah akibat sering terpapar sinar layar dari perangkat komputer. Di lingkungan akademik seni, khususnya pada mahasiswa musik, kecenderungan terhadap gaya belajar auditori menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan literasi ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Audio Journal Promusika, yaitu alih media dari artikel ilmiah dari format teks menjadi format auditori yang dapat diakses melalui platform digital. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model Borg & Gall yang dimodifikasi menjadi 6 tahap, yaitu studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan produk, validasi produk, uji coba, dan produk akhir. Subjek penelitian melibatkan ahli media, ahli komunikasi, dan praktisi industri Digital Streaming Provider, dengan uji coba pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Musik ISI Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Audio Journal Promusika berhasil diproduksi dalam satu volume (Volume 13, Nomor 1, April 2025) dan diunggah ke platform penyedia layanan streaming digital Spotify. Hasil validasi menunjukkan tingkat kelayakan produk sebesar 90%, dengan kategori “sangat layak” dan tanpa revisi mayor. Hasil ini menunjukkan bahwa Audio Journal dapat menjadi inovasi model literasi auditori yang efektif untuk meningkatkan akses terhadap ilmu pengetahuan serta meningkatkan kesadaran mahasiswa musik akan pentingnya teknologi audio dalam pengembangan keilmuan musik. Implikasi penelitian ini mengarah pada perluasan pengembangan media literasi digital dalam bentuk audio melalui integrasi website dan kolaborasi lintas bidang di pendidikan tinggi seni.Promusika Audio Journal: An Auditory Literacy Innovation in Music Higher EducationAbstractThe development of digital culture has transformed how society accesses knowledge. The Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, as one of the largest art universities in Indonesia, manages 23 academic journals. However, the growth in the quality and quantity of these journals has not been matched by an increase in students’ engagement with scholarly articles. Since the emergence of the Industrial Revolution 4.0, an auditory learning culture has grown significantly, as evidenced by the increasing public consumption of podcasts on digital streaming platforms relative to reading media. Low interest in reading is further exacerbated by eye fatigue due to prolonged exposure to digital screens. In arts education, particularly among music students, the preference for auditory learning presents both challenges and opportunities for enhancing academic literacy. This research aims to develop the Promusika Audio Journal, an innovation that converts academic articles into an audio format accessible via digital platforms. The study employs a Research and Development (R&D) method based on a modified Borg and Gall model consisting of six stages: preliminary study, planning, product development, product validation, field testing, and final product. Research subjects included media experts, communication experts, and practitioners from digital streaming platforms, with field testing conducted among Music Education students at ISI Yogyakarta. The results indicate that one complete volume of Audio Journal Promusika (Volume 13, Issue 1, April 2025) was successfully produced and published on Spotify. Expert validation revealed a feasibility rating of 90%, categorized as “highly feasible” with no major revisions required. These findings demonstrate that the Audio Journal can serve as an effective innovation in auditory literacy, enhancing students’ access to academic knowledge and reinforcing awareness of audio technology as a critical component of music scholarship. The study highlights implications for expanding digital literacy media in audio format through integration with institutional websites and cross-disciplinary collaboration in higher arts education.Keywords: Audio Journal; Promusika; literacy; auditory; music