cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
Relasi-Kuasa Dalam Dangdut (Studi Kasus Dangdut Sebagai Media Kampanye Politik) Aris Setyawan 1010373015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.809

Abstract

Dangdut adalah salah satu musik yang paling populer dan paling digemari masyarakat Indonesia. Namun sejak tahun 70-an hingga sekarang dangdut tetap mendapatkan stigma sebagai musiknya rakyat atau musik kalangan menengah kebawah. Stigma yang melekat ini yang menjadikan dangdut kemudian dimanfaatkan oleh politisi maupun partai politik untuk menjadi media kampanye politik. Dangdut digunakan sebagai alat mobilisasi massa, untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang ke sebuah titik kemudian para politisi akan menyampaikan orasi politiknya. Penelitian ini bertujuan mencari deskripsi bagaimana relasi-kuasa yang terjadi dalam penggunaan musik dangdut sebagai media kampanye politik. Locus atau lokasi penelitian berada di Yogyakarta dengan focus sebuah grup dangdut bernama Gilas OBB yang disewa oleh salah satu parpol untuk bermain di kampanye terbuka mereka. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa ternyata relasi-kuasa yang terjadi dalam kasus ini persis seperti yang diungkapkan Michel Foucault bahwa kuasa berjalan dalam dua arah, setiap ada kuasa pasti ada perlawanan. Bahwa musik dangdut sebagai sebuah musik dengan bentuk yang sederhana dan mudah dipahami penikmatnya ternyata hanya sebatas sebuah alat mobilisasi massa dalam kampanye politik, tidak serta merta memengaruhi ideologi masyarakat. Ini terbukti saat kuasa (partai politik) mengadakan kampanye, masyarakat yang hadir dalam kampanye (para penikmat dangdut) tidak serta merta mengikuti ideologi partai dan menganggap musik dangdut yang dihadirkan sebatas sebagai hiburan. Begitu juga dengan Gilas OBB yang tidak serta merta mengikuti ideologi partai yang menyewanya, mereka melawan dengan menyatakan diri sebagai netral dan apatis. Kata kunci : dangdut,politik, relasi-kuasa
Embus Arita Bagja Pramudita 1010384015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.810

Abstract

“Embus” merupakan persembahan sebuah komposisi musik etnis yang didedikasikan kepada sosok Ibu. Ibu yang selalu mendo’akan anaknya dengan cara menghembuskan nafas ke kepala anaknya dengan penuh cinta kasih. Dari hembusanya tersebut penulis percaya bahwa hembusannya adalah nafas kehidupan bagi anaknya. Nafas mempunyai kekuatan yang dahsyat, karena tanpa ada nafas kehidupan akan berhenti pula. Di mulai dari nafas ketika bayi dalam kandungan Ibu melalui plasenta. Ketika itulah nafas lahir melalui nafas cinta dan kasih sayang seorang Ibu. Nafas Ibu lah yang menjadikan awal kehidupan bagi sang bayi, hingga apa yang penulis rasakan dari kecil hingga dewasa ini tidak pernah lepas dari nafas atau hembusan nafas Ibu. Salah satu fenomena tentang nafas kehidupan adalah hal pertama dan juga terakhir. Dalam berbagai bahasa, satu kata yang sama bisa memiliki dua arti; bisa berarti nafas atau bisa juga berarti spirit. Ini merupakan petunjuk yang menarik bahwa nafas sangat dekat atau bahkan sama dengan spirit atau rohani kita. Bahkan pola bernafas sangat menggambarkan kondisi batin dan hati kita. Dari hembusan nafas ibu dan penulis percaya bahwa hembusan itu adalah nafas kehidupan menjadikan tema dalam komposisi musik etnis ini. Penyajian “Embus” menggunakan instrumen tiup (suling bambu), diantaranya suling Sunda dan Suling Bali sebagai gagasan awal. Gagasan awal tersebut dimusikalisasikan dengan beberapa idiom yaitu Sunda, Jawa, Bali.Kata kunci : embus, nafas, ibu
Identitas Musik Dalam Indie Label Studi Kasus Band White Shoes And The Couples Company Aurelia Marshal 1010374015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.811

Abstract

Identitas merupakan suatu hal yang penting dimiliki seseorang atau kelompok. Melalui identitas seseorang atau kelompok mampu membedakan dirinya dari orang lain dan kelompok lain. Identitas ini ditunjukan melalui tanda-tanda yang mampu menandai seseorang atau kelompok sehingga mampu menunjukan siapa seseorang atau kelompok tersebut. Subyektifitas pun harus dihadirkan dalam proses pembentukan jati diri atau identitas tersebut. Identitas ini juga tentunya diperlukan bagi seorang pelaku pertunjukan, agar masyarakat mampu mengenali pelaku pertunjukan tersebut. Tanda-tanda yang ditawarkan oleh seorang pelaku pertunjukan ini, secara sadar atau tidak akan diikuti oleh masyarakat penikmatnya, dan tanda tersebut akhirnya mampu menjadi identitas fans atau kelompok yang membedakan kelompok tersebut dengan kelompok yang lain. White Shoes and The Couples Company yang memilih jalur indie sebagai proses pendistribusiannya mampu hadir dengan identitas dan subyektifitasnya dalam industri musik. Melalui konsep retro dan musik jazz/ pop/ funk yang mereka mainkan, White Shoes and The Couples Company mampu memberikan warna baru yang berbeda dalam dunia industri musik di tanah air. Melalui fashion retro yang ditawarkan, White Shoes and The Couples Company mampu menjadikan fansnya menjadi penonton aktif dalam performativitas. Musik jazz/ pop/ funk yang mereka mainkan pun mampu dikemas dengan konsep retro yang mereka usung sehingga mampu membedakan kelompok White Shoes and The Couples Company dengan kelompok musik yang lainKata kunci : identitas, indie label
“Yin - Yang” Darta Meilando 1010377015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.812

Abstract

Komposisi musik Yin-Yang merupakan interpretasi dari konsep dualisme hakekat manusia, yakni mengenai jiwa-raga yang sangat berkaitan erat dengan tujuan hidup manusia. Kajian tentang hakekat hidup manusia memiliki perbedaan antara filsuf Barat dan Timur. Filsuf Barat memfokuskan hakekat jiwa pada rasio (pemikiran). Sementara pendapat filsuf Timur, hakekat jiwa terletak pada qolb. Hal tersebut dalam karya ini digunakan sebagai inspirasi. Dalam konsep diatas, manusia merupakan makhluk yang sempurna, dan didalam konsep dualisme Yin-Yang memiliki empat prinsip. Selanjutnya prinsip-prinsip tersebut digunakan untuk mengeksplorasi mediom dan idiom musikal. Lebih lanjut, pemilihan berbagai model melodi, ritme, harmoni serta dinamika dilakukan. Hal terakhir yang dilakukan ialah menentukan bentuk-bentuk musik yang sesuai dengan komposisi musik yang berjudul Yin-Yang ini. Setelah mengaplikasikan konsep ke dalam komposisi musik, diketahui bahwa di dalam kehidupan musik tidak kalah kompleksnya dengan berbagai unsur yang terdapat dalam diri manusiaKata kunci : dualisme, yin-yang, prinsip
Nol Leo Pradana Putra 1010395015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.813

Abstract

Nol merupakan sebuah komposisi musik etnis yang bersumber dari angka yang ada di dalam kalkulator. Ide ini berkembang menjadi sebuah proses perjalanan kehidupan seorang manusia. Memulai kehidupannya dari nol untuk mencapai nilai yang tertinggi, dan pada akhirnya seorang manusia tersebut akan mengalami nol kembali. Sebuah proses sirkulasi kehidupan manusia menuju ketiadaannya kembali. Secara proses, kelahiran manusia berawal dari bayi kemudian menjadi kanak-kanak, remaja, tumbuh dewasa, tua kemudian mati. Disepanjang perjalanan tersebut, manusia terus berproses dan menemukan makna hidup dibalik perjalanannya menuju kematian agar tidak sia-sia. Komposisi Nol diawali dengan tabuhan gong sebanyak sembilan bar yang menandakan seorang ibu yang mengandung janin. Untuk mencapai sebuah kelahiran janin tersebut, sang ibu menunggu waktu sembilan bulan. Hal tersebut disimbolkan dengan sembilan bar pada komposisi ini. Penulis menggambarkan sebuah ketiadaan, ada, dan akan kembali tiada dalam komposisi ini. Hal tersebut dimusikalisasikan dengan berbagai instrumen etnis Nusantara seperti cak, biola, contrabass, rekorder, hulusi, bedug, cymbal, cowbell, triangle, dan gong, dengan menggabungkan bentuk skema lancaran Jawa dan bentuk tradisi dambus Bangka, melalui proses eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan, sehingga tercipta komposisi baruKata kunci : sirkulasi kehidupan, lancaran, dambus
Duhkha Primadini Dwi Maulinda 0910337015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.814

Abstract

Duhkha merupakan judul yang diambil dari kisah cerita Rajapala/Durma. Kisah Rajapala/Durma memiliki rasa yang sama seperti penyaji rasakan. Durma adalah seorang anak yang ditinggalkan ibunya dan ayahnya. Rasa kesedihan ini yang hampir mirip dengan penyaji rasakan, rasa ditinggalkan seorang ibu (ibu meninggal dunia). Duhkha arti dalam bahasa sansekerta adalah sedih. Berjudulkan Duhkha ini adalah rasa yang ingin disampaikan ke dalam penciptaan musik. Tetapi dengan nuansa yang dipengaruhi lingkungan dalam Durma dan penyaji. Sudah menggabungkan rasa lain dalam garapan ini. Meggunakan rasa yang dialami selain rasa sedih. Garapan juga sangat berpengaruh dari dalam, pengaruh lingkungan penciptaan musik etnis serta pengaruh musik barat. Intrumen dalam karya ini menggunakan gamelan Banyuwangi, dan menggunakan intrumen barat. Kolaborasi antara intrumen Banyuwangi dan instrumen barat adalah sebuah capaian yang awal. Didalamnya ada sebuah intrumen kalimantan, yaitu sampek. Penggabungan intrumen Banyuwangi, Kalimantan dan Instrumen Barat. Pada karya musik ini terdapat tiga bagian, bagia pertama adalah pembuka, bagian kedua adalah isi, dan bagian ke tiga adalah menutup. Capaian dalam karya ini adalah sumber yang sudah ada untuk sebuah penciptaan dan untuk mengetahui nuansa yang tercipta dalam karya seni tersebutKata kunci : duhkha, rajapala, kolaborasi
Model Pembelajaran Musik Gong Untuk Upacara Pernikahan Di Sanggar Ompe Harmoni Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat AG. Bambang Prasetya 0711145013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.815

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Model Pembelajaran Musik Gong Untuk Upacara Pernikahan Di Sanggar Ompe Harmoni Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan tekhnik pengamatan langsung dan teknik wawancara langsung dengan beberapa narasumber yang kompeten. Penelitian ini mengamati kegiatan Sanggar OMPE Harmoni meliputi proses latihan, repertoar musik yang dimainkan, motivasi para anggota serta hambatan-hambatan yang dihadapi oleh sanggar tersebut. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Musik Gong Untuk Upacara Pernikahan Di Sanggar Ompe Harmoni Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat ada beberapa tahap yaitu; (1) Murid mengamati dan mendengarkan (2) Murid mengingat pola melodi dan ritmik (3) Murid melafalkan alunan melodi dengan siulan atau gumaman (4) Murid memainkan instrumen di rumahnya (5) Murid memainkan di depan pengajar (6) Murid memainkan di depan khalayak ramai. endala yang ditemui dapat dilihat sebagai faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah keadaan masyarakat yang cenderung meninggalkan musik tradisi. Faktor internal adalah ukuran ruang, rasa percaya diri murid, sulitnya pengajar untuk memberikan koreksi. serta murid yang tidak selalu memiliki instrument musik gongKata kunci : musik gong, sanggar OMPE Harmoni
Kontribusi Komposisi Variation On A Theme of G. F. Handel, Opus 107 Karya M. Giuliani (1781-1892) Terhadap Peningkatan Kualitas Studi Gitar Klasik Tingkat Lanjut Achmad Tri Juniarto Notoardjo 0711099013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.816

Abstract

Studi ini membahas analisis struktural terhadap komposisi tema-variasi untuk gitar karya Mauro Giuliani yang didasarkan tema G.F. Handel. Tujuan studi ini ialah untuk memperoleh pengetahuan tentang karakteristik teknik gitar dan musikal dari karya tersebut. Metode penelitian yang diterapkan dalam studi ini ialah metode analitikal, yaitu dengan mendekontruksi struktur musikalnya dalam rangka memahami fungsi serta hubungan di antara tiap-tiap bagiannya. Studi analitikal ini menyimpulkan bahwa karya tema-variasi untuk gitar ini ternyata tidak menerapkan teknik-teknik komposisi dan permainan gitar yang khusus. Secara musikologis susunan harmoni klasik bersifat konvensional namun masih menerapkan gaya bass ground yang lazim pada masa BarokKata kunci : tema-variasi, gitar, analitikal
Pertunjukan “Rengget” Dalam Resital Tugas Akhir Minat Utama Pop-Jazz Jurusan Musik Isi Yogyakarta Dodi Verianto 0911293013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.817

Abstract

Rengget merupakan ciri khas musik dan vokal tradisi Batak Karo. Rengget mempunyai pengertian cengkok. Karya Tulis ini membahas gitar elektrik menginterpretasikan karakter musik Batak Karo melalui lagu piso Surit. Pembahasan dilakukan dengan menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan musikologis, untuk memahami inti lagu tersebut sebelum diaransemen. Melodi pokok dalam aransemen lagu piso surit dalam format combo band kolaborasi dengan alat etnis Batak Karo dimainkan oleh vokal, sedangkan instrument lainnya sebagai pengiring. Setiap bagian interlude, instrument yang berimprovisasi menggunakan tangga nada minor pentatonis Batak Karo Kata kunci : rengget, piso surit, aransemen
Eksplorasi Organ Vokal Dan Proses Latihan Beatbox Pada Komunitas Beatboxing Of Jogja (Bejo) Di Taman Budaya Yogyakarta Dwi Okta Renanda 0911310013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.818

Abstract

Beatbox adalah salah satu bentuk seni yang menggunakan organ vokal manusia untuk mengimitasi bunyi-bunyian ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, maupun tiruan bunyi-bunyian lainnya. Organ vokal yang umumnya digunakan untuk berbicara atau berkomunikasi, kini dieksplorasi untuk mengimitasi berbagai bunyi perkusi dan suara efek. Salah satu komunitas yang mewadahi pecinta musik beatbox adalah komunitas Beatboxing of Jogja (BeJo). Para anggota BeJo mengadakan latihan bersama seminggu sekali dan saling bertukar pikiran tentang perkembangan seputar beatbox. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui eksplorasi organ vokal yang diterapkan pada teknik beatbox, (2) untuk mengetahui proses latihan beatbox yang dilakukan oleh BeJo, dan (3) untuk mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi selama proses latihan yang dilakukan oleh BeJo. Setelah melalui penelitian dengan menggunakan metode deskriptif analisis dengan memanfaatkan data kualitatif, beatbox memiliki keunikan dalam hal proses memproduksinya. Banyak teknik yang ditemukan dalam beatbox, tidak hanya bunyi-bunyi perkusi tetapi juga efek suara. Dalam proses latihannya, BeJo dibagi menjadi tiga kelas yang masing-masing kelas mempunyai standar penguasaan teknik tertentu. Latihan akan dipimpin oleh seorang kordinator dari tiap-tiap kelas untuk memberikan contoh dan anggota yang lain akan menirukannya satu per satu. Selama proses penelitian terdapat beberapa hambatan yang ditemukan selama proses latihan BeJo, misalnya kurangnya kedisiplinan anggota dalam berlatih. Tiap-tiap anggota sebaiknya mempunyai waktu latihan individu di luar jam latihan bersama, agar memperoleh hasil yang maksimal Kata kunci : beatbox, eksplorasi, beatboxing of Jogja (Bejo)