cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
Simbol Istana Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas Dalam Penciptaan Karya Kriya Seni Keramik Ekspresi Abdul Muis 0911491022
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Kriya Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1133

Abstract

Saat ini beberapa pemahaman dan eksplorasi masyarakat tentang simbol istana Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas semakin menjauhi acuan aslinya serta penggunaannnya yang dirasa kurang tepat. Untuk itu penulis menciptakan bentuk dimensi dari gambar simbol istana berdasarkan analisis dan sejarahnya. Disamping itu untuk mempublikasikan kepada masyarakat luar tentang keberadaan istana Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas. Mengangkat sejarah istana beserta unsur budaya Melayu, tepatnya di Kabupaten Sambas, sebagai salah satu upaya dalam mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya yang dikreasikan ke dalam karya kriya seni keramik ekspresi. Gambar simbol istana dideformasikan agar pesan yang ingin disampaikan kepada apresiator dapat tercapai melalui visualisasi bentuk tiga dimensi kriya keramik berbahan tanah liat (stoneware) mengikuti rancangan karya. Proses pembentukan menggunakan teknik hollow casting (cetak tuang), press mould (cetak tekan), pinch (pijit), coil (pilin) dan Slab (lempengan). Pendekorasian menggunakan teknik tempel (sprig decoration), ukir (Carving) dan terawang (Pierching). Keseluruhan teknik ini merupakan hand building agar mempermudah penuangan ekspresi serta dapat merasakan lebih dekat dengan karya yang dibuat. Simbol istana ini merupakan perpaduan bentuk dari burung Elang dan Naga. Hasil analisis penulis ini juga sependapat dengan sesepuh istana Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas sebagai narasumber dan beberapa rancangan karya juga telah dikonsultasikan. Upaya ini dilakukan agar karya nantinya dapat diterima oleh masyarakat Sambas karena sudah dibekali dengan rekomendasi izin penelitian dan diskusi bersama pihak yang berwenang, sehingga karya yang diciptakan ini tidak sekedar ekspresi dan imajinasi, melainkan juga sebagai pengetahuan tentang bentuk dimensi dari gambar simbol istananya. Inspirasi ini juga terdorong karena rasa ingin terus menggali kemampuan dan pematangan karakter dalam menggubah bentuk, melestarikan budaya Melayu Sambas dan berestetika dalam keramik seni. Kata kunci : Simbol Istana, Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas, Keramik Seni
Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fotojurnalistik Bencana Alam Tanah Longsor di Banjarnegara pada Harian Kompas Edisi 13-18 Desember 2014 Yudho Priambodo 1110561031
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.908

Abstract

Denotasi dan Konotasi dalam Karya Fotojurnalistik Bencana Alam Tanah Longsor di Banjarnegara pada Harian Kompas Edisi 13-18 Desember 2014 adalah sebuah pengkajian semiotika dalam karya fotografi jurnalistik. Penelitian menggunakan metode yang bersifat interpretatif deskriptif kualitatif, dengan pendekatan metode analisis semiotik denotatif dan konotatif Roland Barthes. Analisis visual dilakukan dari 11 foto yang dimuat pada rentang waktu 6 hari, terhitung tanggal 13 sampai 18 Desember 2014, 11 foto digunakan sebagai bahan kajian akan dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan kesamaan tema foto, yaitu: (1) foto dampak bencana alam tanah longsor, (2) foto kunjungan pejabat negara, (3) foto tindakan dan dampak pasca bencana alam tanah longsor. Selanjutnya fotojurnalistik tersebut dianalisis pemaknaan denotatif dan konotatifnya, sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian. Fotojurnalistik juga akan dianalisis pemaknaannya dengan teori pemaknaan Kempson dan yang terakhir dengan pemaknaan secara estetika fotografi pada tataran ideasional dan teknikal. Kata kunci : Denotasi, Konotasi, Karya Fotojurnalistik
Proses Kreatif Tari Luyung Karya Tejo Sulistyo Ika Mutiara Putri 1111355011
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1036

Abstract

Karya Tari Luyung merupakan sebuah karya tari yang diciptakan oleh Tejo Sulistyo pada tahun 2010. Karya tari ini mencoba untuk mempromosikan potensi daerah Pedan sebagai pusat daerah produsen kain lurik dan Juwiring sebagai pusat daerah produsen payung di Kabupaten Klaten. Penelitian ini menganalisis tentang proses kreatif Tari Luyung dengan menggunakan metode deskriptif analisis melalui pendekatan koreografi.Karya tari ini lahir dari keinginan penata tari untuk turut mempromosikan potensi daerah Klaten yakni lurik dan payung, seiring dengan menggeliatnya industri-industri tersebut di Kabupaten Klaten setelah beberapa masa terpuruk. Keinginan tersebut ia kembangkan menjadi sebuah karya tari. Kegigihan para penenun dalam mempertahankan hidup dalam situasi-situasi sulit, dalam karya tari ini ia munculkan dengan semangat riang gembira para penenun yang sedang menenun. Dalam menciptakan suatu karya, seorang penata tari pastilah melewati fase-fase yang secara sadar maupun tidak sadar dilewatinya. Fase-fase tersebut yakni merasakan, menghayati, mengkhayalkan, mengejawantahkan, dan memberi bentuk. Demikian juga dengan Tejo Sulistyo juga melewati fase-fase tersebut dalam menciptakan karya Tari Luyung. Setiap fase merupakan proses kreatif penata tari yang bermakna dan menghasilkan suatu ide yang nantinya akan diwujudkan dalam suatu karya tari. Dari fase merasakan, diperoleh ide yakni penata tari ingin menampilkan sisi semangat riang gembira para penenun ketika menenun. Fase menghayati menghasilkan ketertarikan penata tari untuk menampilkan proses dari kegiatan menenun. Dari fase mengkhayalkan, penata tari memantapkan untuk menampilkan proses menenun, dari proses memintal dan menarik benang. Sedangkan hasil dari fase mengejawantahkan, penata tari menuangkan ide-ide yang telah terwujud dalam gerak kepada modelnya, geraknya terdiri atas gerak di tempat, dan gerak berpindah tempat. Hasil dari fase memberi bentuk ialah penata tari mencoba untuk memilah dan menyusun gerak sesuai dengan keinginannya. Gerak-gerak tersebut dipilih, disusun dan dikelompokkan menurut temanya dan disesuaikan dengan alur yang telah dibuat. Kemudian penata tari memilah-milah gerak tersebut menurut alur ceritanya yakni bagian eksplorasi payung, distorsi dari menenun dan merawat lurik, kemudian pada bagian eksplorasi kain lurik dan payung. Kata kunci : proses, kreativitas, Luyung
Gebogan Sebagai Inspirasi Dalam Penciptaan Seni Lukis Putu Harimbawa 0911962021
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1165

Abstract

Sebagai masyarakat Hindu Bali yang dikenal relijius, dan kental akan tradisi dalam kehidupan beragama serta berkeseniannya, sangat dekat dengan upacara-upacara keagamaan, dengan menggunakan berbagai sarana yang menujukan kemegahan. Tampak yang paling menonjol dalam kehidupan keagamaan Hindu Bali adalah penggunaan banten sebagai sarana upacara keagamaan. Hampir tidak ada aktifitas kehidupan yang tidak disertai dengan melakukan upacara keagamaan. Warisan nenek moyang yang mengandung nilai-nilai filosofis dan ajaran moral menjadi acuan masyarakat untuk berperilaku. Maka dalam pelaksanaan segala aktivitas keagamaan di masyarakat Hindu Bali tidak bisa dilepaskan dari kegiatan upacara adatnya. Hal ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan keagamaan dalam menghubungkan, atau mendekatkan diri dengan Sang penciptanya untuk selalu berusaha bersikap seimbang terhadap alam sekitarnya. Konsep ini terggambarkan dalam dua sifat alam yang berbeda, yakni Skala alam semesta (kasat mata), maupun Niskala (tidak kasat mata). Dalam masyarakat Hindu Bali dikenal dengan sebutan Rwa Bhineda, yakni baik-buruk, siang-malam, nyata-tidak nyata. Hal ini dilandasi oleh kesadaran bahwa alam semesta mengandung unsur-unsur kesatuan dalam perbedaan yang satu sama lain terkait dan membentuk satu kesatuan alam semesta. Salah satu sarana upacara yang menjadi perhatian adalah gebogan yang banyak mengandung aspek artistik. “Gebogan sebagai Inspirasi dalam Penciptaan Seni Lukis” adalah gebogan sebagai persembahan berupa susunan buah dan jajanan yang dihaturkan kehadapan Hyang Widhi sebagai bentuk rasa syukur atas rejeki yang dinikmati, gebogan sarat akan makna filosofi yang merupakan salah satu cara untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya. Untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Menjadi ilham yang membangkitkan kreatifitas dalam imajinasi untuk menghasilkan karya yang mengandung unsur local genius. Menciptakan sesuatu yang baru dalam bahasa ungkap dari pengalaman artistik maupun ideologis yang menggunakan garis dan warna, guna mengungkapkan perasaan, mengeskpresikan emosi, gerak, ilusi maupun ilustrasi dari kondisi subjektif seseorang yang dibuat dalam bidang dua dimensional yaitu lukisan. Kata kunci : Seni lukis, Gebogan, Banten, Hindu Bali
Musik Ritual Onang – Onang Pada Ensambel Gordang Sambilan Di Penyabungan Mandailing Natal (Perspektif Musikologis) Manuel Simanjuntak 1011530013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.940

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang terjadi di Indonesia pada tahun 2012 yakni tentang pengklaiman Malaysia pada Tor-tor dan Gordang Sambilan. Setelah ditelusuri lebih dalam, ketertarikan akan fenomena itu ternyata bukan hanya pada Gordang Sambilan saja, melainkan juga kepada musik ritual Onang-onang pada etnis Mandailing. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui stuktur dan bentuk dari musik Onang-onang pada ansambel Gordang Sambilan serta fungsi musik ritual Onang-onang pada upacara-upacara adat etnis Mandailing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode analitik kualitatif dengan pendekatan musikologis. Teknik yang digunakan yaitu teknik pengumpulan data yang meliputi observasi langsung ke lokasi penelitian, wawancara dengan beberapa narasumber dan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa struktur musik pada musik ritual Onangonang hanya memiliki introduksi dan lagu pokok, hal ini disebabkan karena musik ritual Onang-onang banyak mengalami pengulangan-pengulangan dan bentuk musiknya hanya terdiri dari satu bagian serta fungsi musik menurut Alan P. Meriam pada musik ritual Onang-onang yang paling mendekati adalah fungsi musik sebagai sarana komunikasi yaitu sebagai pengantar maksud dan tujuan suatu upacara adat. Kata kunci : Analisis, Musik Ritual, Onang-onang
Perancangan Rebranding Produk Tas Merek Think Dalam Rangka Mengangkat Motif Nusantara Esro Sambi Anggitaningrum 0811743024
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1230

Abstract

Dunia fashion, model lama yang boleh dibilang kuno, masih sangat digemari di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Model-model old-fashioned yang sedang –“in” dan kembali menjadi trend setter pada masa kini, inilah yang disebut dengan gaya Vintage. Vintage adalah mode tahun 20-an sampai 60-an. Vintage tampak elegan tetapi lebih simpel dan praktis modelnya. Fashion vintage tak lekang di makan jaman. Hal ini mempengaruhi gaya fashion anak muda saat ini. Baik dalam pakaian, sepatu, aksesoris ataupun tas yang dipergunakannya sehari-hari. Dan kebanyakan barang-barang tersebut diproduksi secara indie ataupun diperoleh dalam keadaan bekas. “Think” adalah brand tas handmade dari Yogyakarta yang memiliki ketertarikan terhadap gaya vintage sekaligus kain-kain motif dari hasil kebudayaan Indonesia yang dituangkannya didalam produk “Think”. Ketatnya persaingan pasar khususnya dalam fashion, memaksa para produsen lokal sekalipun harus menerapkan strategi pemasaran sehingga target penjualan terpenuhi dan untuk memasarkan produk diperlukan perancangan promosi. “Think” merupakan brand tas vintage yang memiliki potensi untuk menjadi trend setter dalam persaingan pasar karena “Think” memiliki karakter pada gaya desain maupun konsep branding yang mengusung style vintage yang dikombinasi dengan etnik Nusantara. Namun “Think” memiliki kendala pada strategi maupun budget promosi yang terbatas. Oleh karena itu penting adanya perencanaan media promosi “Think”. Dimana perencanaan tersebut menggunakan media-media promosi dengan biaya terjangkau namun dapat mengkombinasikan pesan, image, atau karakter produk yang ingin disampaikan kepada target audience secara insight full. Perencanaan ini bertujuan untuk menghasilkan branding “Think” dengan menggunakan perancaangan dan strategi promosi dengan dana seminim mungkin akan tetapi dapan mengkomunikasikan pesan secara insight full kepda pecinta fashion vintage sebagai target audience . Kata kunci : fashion, fashion vintage, bag