cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
Penerapan Pola Ritme Kendang Jaipong Pada Instrumen Drum Set Gagah Pacutantra 1011563013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.982

Abstract

Penulisan ini mengangkat tentang penerapan pola ritme kendang jaipong pada instrumen drum set sebagai sebuah komposisi solo drum untuk melakukan eksplorasi dan menghasilkan sesuatu yang baru dalam permainan drum set yaitu sebuah pola ritme kendang Jaipong. Penulisan ini menggunakan pendekatan musikologis dengan melakukan studi kasus, observasi dan wawancara. Diharapkan dari penulisan iniakan muncul pola ritme bahkant eknik permainan untuk instrumen selain drum set yang berbau tradisi sebagai usaha untuk melestarikan budaya Indonesia serta menambah apresiasi dan kreativitas dalam bermusik. Kata kunci : PolaRitme, Kendang Jaipong, Drum Set  
Novel Grafis Tentang 10 Tahun Perjalanan Susilo Bambang Yudhoyono Memimpin Indonesia Muhammad Ilham Dwi C 1210007224
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1111

Abstract

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan Presiden ke-6 Indonesia yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia dalam dua pemilihan langsung Presiden. SBY banyak menghadapi tantangan bersifat global dan juga tantangan yang belum diselesaikan oleh Presiden sebelumnya. Gaya kepemimpinan SBY dapat menginspirasi generasi muda sebagai sosok pemimpin yang mempunyai kharisma dan dapat membuat banyak orang percaya terhadap cara kepemimpinan beliau. Dalam merancang karya novel grafis yang menceritakan 10 tahun kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden ke-6 Republik Indonesia, diperlukan sumber yang menceritakan tentang ketokohan SBY. Sumber buku Harus Bisa! Seni Memimpin a’la SBY dari Dr. Dino Patti Djalal, buku Tetralogi Sisi Lain SBY dari Wisnu Nugroho ,buku 10 Tahun Bersama SBY dari Saldi Isra, dan buku SBY, Selalu Ada Jalan dari Susilo Bambang Yudhoyono digunakan sebagai acuan dalam membuat karya novel grafis agar kisah tentang SBY tidak melenceng dan dapat dipertanggungjawabkan. Karya novel grafis menggunakan gaya gambar clear line, agar target sasaran dapat dengan mudah mengenal setiap tokoh yang ada dalam cerita. Konten yang disajikan dalam novel grafis merupakan gambaran dari yang dilakukan SBY selama 10 tahun saat beliau menjabat sebagai Presiden. Kata kunci : Presiden, Pemimpin, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Komposisi Musik “Romantika Kehidupan” Untuk Ansambel Campuran Yoga Manggala 1011551013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1255

Abstract

Karya musik Romantika Kehidupan ini adalah musik program. Musik Program adalah karya musik yang dibuat dengan menggunakan unsur-unsur ide ekstra musikal. Ide ekstra musikal penulis adalah ketika manusia menghadapi masalah. Masalah yang dihadapi oleh manusia adalah sebuah proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika manusia menghadapi masalah tersebut ada yang berhasil dan tidak. Manusia yang tidak berhasil menghadapi masalah tesebut karena kehilangan hubungan karib, sedangkan yang behasil meghadapi masalah terebut memilIki hubungan karib, dan ikhlas menghadapi masalah tesebut. Dengan ide musikal ini penulis membagi kejadian tersebut menjadi empat bagian yang berjudul Bahagia, Berjuang, Bebas, dan Semangat. Karya musik ini dimainkan dengan ansambel campuran, yaitu flute, oboe, horn, biola, biola alto, cello, kontra bas, snare drum, vibrapone, dan timpani. Dengan menggunakan ansambel campuran penulis dapat merealisaikan idenya dengan efektif. Kata kunci : Musik Program, Romantika Kehidupan, Ansambel Campuran
Suita Tiga Ekspresi (Sebuah Komposisi Musik Untuk Bigband) Winardi 1011564013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1014

Abstract

Karya Suita Tiga Ekspresi untuk big band, pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan penulis untuk membuat sebuah karya musik tentang kehidupan pribadi penulis. Tujuan penciptaan karya ini adalah mengemukakan isi dari perasaan penulis yang berupa kesedihan, kebahagiaan, dan kemarahan. Proses penciptaan karya ini memiliki tahapan-tahapan dalam penggambaran tiga ekspresi melalui musik. Tahapan tersebut antara lain menentukan ekspresi, menentukan kejadian-kejadian berdasarkan ekspresi, kemudian mempertimbangkan penggunaan unsur-unsur musik yang ada untuk mewujudkan penggambaran ketiga ekspresi tersebut. Karya ini dibuat berdasarkan pengalaman hidup penulis serta peninjauan pustaka mengenai makna dari ekspresi sehingga kejadian-kejadian yang dialami dapat dikelompokan ke dalam ekspresi-ekspresi yang ada. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penulis mengelompokan tiga ekspresi yang umum dirasakan oleh manusia, yaitu sedih, bahagia, dan marah yang di dalamnya terdapat kejadiankejadian yang mewakili masing-masing ekspresi. Berbagai macam teknik digunakan, baik dalam teknik komposisi maupun teknik pada instrumentasinya untuk lebih dapat menggambarkan perasaan penulis. Penulis kerap menggunakan teknik komposisi seperti repetisi, imitasi, eliminasi, augmentasi, dan pengembangan. Sedangkan dalam instrumentasinya penulis menggunakan teknik glissando dan penggunaan mute. Kata kunci : Musik, Suita, Ekspresi
Badak Jawa Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Seni Kriya Logam M. Imam Khamdani 1011539022
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Kriya Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1143

Abstract

Menciptakan karya dengan sumber inspirasi Badak Jawa didasari atas ketertarikan penulis terhadap binatang badak khususnya Badak Jawa. Badak Jawa memiliki keunikan tersendiri dari badak lainnya dan fenomena kepunahan yang terjadi saat ini seperti bentuk fisik kulit badak yang belipat seperti membentuk baju baja, cula, dan tergolong hewan yang hampir punah sehingga penulis tertarik untuk menciptakan sebuah karya seni kriya logam bertemakan badak jawa ke dalam tugas akhir ini sekaligus sebagai syarat menyelesaikan studi S1 jurusan kriya Metode pendekatan yang digunakan adalah ekspresi, kontemplasi, estetis, kemudian metode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan observasi. Proses penciptaan karya seni ini memalui tiga tahapan yaitu, eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Karya logam yang disajikan dalam Tugas Akhir ini merupakan karya figuratif dan dikembangkan objeknya yang merupakan hasil dari perwujudan badak Jawa. Hasil karya ini adalah seni kriya logam tiga dimensi dengan bentuk badak Jawa sebagai inspirasi dari penciptaan seni kriya dan memiliki pengembangan bentuk yang sedemikian rupa. Diharapkan karya ini dapat berkomunikasi dengan masyarakat secara baik. Karya seni kriya logam ini dibuat bukan dimaksudkan untuk mencari solusi ataupun menyelesaikan masalah, tetapi merupakan sebuah sentuhan ekspresi dan sarana penyampaian ide pribadi yang disampaikan kepada penikmat seni pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kata kunci : Badak Jawa, Seni kriya, Kriya logam
Penyutradaraan Program Instruksional “Happy Cooking” Dengan Grafis Sebagai Unsur Pelengkap Daya Tarik Endaka Wahyu Putri Dewanti 1010479032
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.918

Abstract

Penyutradaraan program instruksional “Happy Cooking” dengan grafis sebagai unsur pelengkap daya tarik bertujuan untuk: Memperkenalkan bahan makanan pokok alternatif selain beras kepada khalayak. Mengajak khalayak untuk beralih pada makanan berbahan dasar non-beras dengan variatif yang memiliki nilai gizi sama dengan beras bahkan lebih baik. Menciptakan alternatif tontonan yang mengandung informasi pengetahuan diantara tayangan hiburan. Karya Seni ini berbentuk program instruksional memasak. Objek penciptaan dalam program instruksional ini adalah bahan makanan pokok alternatif selain beras. Konsep estetik penciptaan Karya Seni ini adalah dengan memberikan grafis sebagai penambah daya tarik bagi penonton. Program instruksional ini menggunakan grafis dengan gaya postmodern dipadu dengan warna-warna pastel. Gaya dan warna dipilih untuk menambah daya tarik penonton. Kata kunci : penyutradaraan, instruksional, grafis
Unsur Sensualitas Dalam Seni Pertunjukan Angguk Sripanglaras Pripih, Hargomulyo, Kokap, Kulonprogo Risah Mursih 1111354011
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1046

Abstract

Tulisan ini mengupas Tari Angguk Sripanglaras dari Kabupaten Kulonprogo. Kesenian ini merupakan transformasi Angguk putra yang awalnya berfungsi sebagai bagian dari ritual agama, kini berfungsi menjadi hiburan. Perubahan fungsi Angguk sebagai hiburan ditandai dengan perubahan pada pelaku pertunjukan dan bentuk pertunjukan. Dengan ditarikan oleh penari perempuan, Angguk Putri Sripanglaras menjadi sebuah pertunjukan yang populer dan diminati oleh penonton yang didominasi oleh kaum laki-laki. Pendekatan penelitian yang dipilih adalah pendekatan gender. Dari perubahan bentuk pertunjukan, daya tarik Angguk Sripanglaras sangat kuat pada unsur sensualitas penari. Unsur sensualitas berkaitan dengan perempuan, pencitraan secara kultural ditunjukkan melalui tubuh perempuan. Angguk Sripanglaras sebagai sebuah pertunjukan mampu menyajikan tontonan yang “memanjakan” mata penonton terutama laki-laki namun juga sekaligus dipercaya oleh sebagian masyarakat berperan sebagai sarana ritual. Pencitraan perempuan di panggung pertunjukan mampu menyajikan pertunjukan yang mampu memikat penonton melalui unsur-unsur tari baik itu gerak, ekspresi, musik, dan kostum. Dari pendekatan di atas diperoleh kesimpulan bahwa Angguk berfokus pada sensualitas yang berkaitan langsung dengan inderawi, wanita erat kaitannya dengan sensualitas, entah melalui lekuk tubuh, ekspresi, gaya busana, aksesori, maupun wewangian yang digunakan. Ketika pertunjukan Angguk berlangsung, penari Angguk menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan. Penampilan utuh hasil paduan wajah cantik dengan ekspresi penuh senyum, lirikan mata, dengan balutan busana celana pendek ketat (hot-pants) ditambah gerak-gerak kekirig, goyang ngebor, megol, maka lengkaplah sudah sensualitas dalam sajian Angguk putri Sripanglaras. Melalui penelitian ini diperoleh pula tentang nilai-nilai estetis Angguk yang nantinya bisa dikembangkan baik oleh grup Sripanglaras maupun masyarakat Kulonprogo pada umumnya. Kata kunci : Gender, Sensualitas, Tari
Eksplorasi Material Lidi Dalam Penciptaan Seni Patung Nur Wiyanto 0811894021
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1175

Abstract

Dalam penciptaan karya pada Tugas Akhir ini, penulis melakukan proses berkarya yang dimulai dari proses penentuan dan eksplorasi material sampai terciptanya karya. Pemilihan pada dua jenis material lidi, yaitu lidi kelapa dan aren karena mempunyai karakter dan potensi yang menarik untuk dilakukan eksplorasi.Dalam prosesnya, penulis membuat rancangan bentuk sebagai alasan berbuat atau bertindak untuk mengolah lidi, menggali berbagai kemungkinan kebentukan yang lain ketika proses kreatif berlangsung. Bentuk yang hadir belum tentu sama dengan bentuk pada rancangan awal dikarenakan menyesuaikan pada karakter lidi. Dalam perwujudan karya digunakan teknik anyam bebas sebagai ungkapan ekspresi, teknik anyam ini tidak terikat oleh motif tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan unsur estetis seperti keselarasan, keseimbangan dan irama. Proses lahirnya bentuk pada perwujudan karya, entah itu termasuk representasional maupun non representasional merupakan otoritas dari penikmat untuk menerjemahkan atau menafsirkan, karena proses kreasi yang dijalankan tidak melalui prakonsepsi atau pamrih kebentukan. Masalah representasional atau non representasional lebih bersifat interpretativ atau penafsiran individu yang melihat dan mengamati.Eksplorasi material yang dilakukan adalah untuk melihat sejauh mana potensi material dapat dimaksimalkan sehingga bentuk yang dihasilkan akan beragam. Penulis memutuskan bahwa karya dianggap selesai apabila sudah mantap dari pribadi penulis baik dari segi bentuk maupun dari olahan pada karakter alaminya. Setelah melakukan proses eksplorasi terhadap lidi, didapati sebuah pembelajaran terhadap material yang digunakan. Beda perlakuan terhadap lidi juga pasti berbeda penanganan. hal inilah yang menjadi landasan dalam eksplorasi material lidi, mengerti akan kekuatan material yang selanjutnya dilakukan penanganan yang sesuai. Menuntun material berdasarkan potensi yang dimilikinya adalah syarat utama atas terciptanya sebuah bentuk dari karya, bukan pada keinginan untuk manaklukan material. Bentuk – bentuk yang dihasilkan dari eksplorasi tersebut didapati berupa bentuk volumentrik, organik, biomorfik dan bentuk linier tanpa anyaman. Semua bentuk tersebut dapat dicapai melalui proses anyaman secara acak tanpa berdasar pada pola tertentu. Proses berkarya yang menuntun material pada proses kebentukan berdampak pada rasa kebebasan dan lepas tanpa adanya beban, yang pada prosesnya mengalir begitu saja sehingga menjadi kesan kepuasan tersendiri bagi penulis. Begitu juga bagi masyarakat agar lebih dapat memanfaatkan material-material alami sehinggga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang mempunyai nilai estetis dan fungsional. Khususnya dalam dunia seni rupa di Indonesia. Kata kunci : Lidi, tiga dimensional, pelepah daun pohon kelapa
Akulturasi Budaya Pada Interior Masjid Indrapuri Di Aceh Besar Faisal 0911706023
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Interior
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1069

Abstract

Masjid indrapuri merupakan sebuah masjid yang terletak di kecamatan Indrapuri kabupaten Aceh Besar, Aceh. Sebelum ajaran Islam masuk di Aceh, bangunan ini diduga sebagai candi Hindu milik kerajaan yang oleh orang arab disebut sebagai Lamuri dan disebut Lambri oleh Marcopolo. Di masa Sultan Iskandar Muda, bangunan candi ini dirombak menjadi masjid. Puncak perkembangan kerajaan Aceh terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1637). Masa pemerintahan Sultan ini merupakan masa kejayaan kerajaan Aceh, baik politis maupun ekonomi. Pada masa ini banyak dibangun masjid sebagai tempat beribadah umat Islam. Ekspansi-ekspansi teritorial di daerah-daerah tetangga dilakukannya. Dari tahun 1612-1621, ia telah berhasil menaklukkan sejumlah kerajaan pantai di sekitar selat malaka dan di pantai bagian barat pulau Sumatera. Sepulangnya dari Malaka, dibangunlah masjid Indrapuri diatas reruntuhan Candi tersebut. Pondasi Candi yang bertingkat di robohkan hingga tingkatan ke empat. Di tingkat ke empat inilah tiang-tiang masjid didirikan. Banyaknya kebudayaan yang masuk dan berkembang di Aceh, membuat penulis tertarik untuk meneliti akulturasi budaya yang terdapat pada masjid Indrapuri tersebut. Keunikan letak masjid Indrapuri yang dibangun diatas Candi Hindu itu juga membuat penulis ingin mengetahui bagaimanakah interior masjid Indrapuri tersebut ditinjau dari mihrab dan mimbar, ruang utama dan ornamen. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa masjid ini merupakan akulturasi dari budaya Hindu dengan budaya tradisional Aceh. Kebudayaan hindu dapat terlihat dari denah masjid, atap, lantai, dinding, dan mihrab masjid. Sedangkan kebudayaan Aceh dapat terlihat dari dinding, tiang dalam masjid, dan plafon. Kata kunci : Studi Akulturasi, Masjid, Indrapuri
Laut Bak Ghindu Rapi Arapat 1111372011
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1213

Abstract

Laut Bak adalah nama sebuah dermaga di Sungai Kayu Ara, tempat menyimpan segala saksi kehidupan ayah. Sebagai seorang nelayan, ayah sering meniti jembatan di laut Bak menuju pompong yang digunakan untuk pergi menangkap ikan (menyagheng). Melihat kegiatan nelayan di laut Bak mengingatkan pada kegiatan meniti jembatan dan memompa air di dalam pompong yang sering ayah lakukan. Jaring yang sering ayah gunakan untuk menangkap ikan masih membekas di ingatan. Kegiatan belajar menggambar pompong pada masa kecil teringatkan dengan melihat deretan pompong yang ditambatkan di jembatan. Suara air dan angin yang tenang di laut Bak membawa suasana hati damai yang mengingatkan sifat tenang ayah. Berada di laut Bak senantiasa membangkitkan kerinduan, dan mengingatkan tentang ayah serta masa kecil bersamanya. Laut Bak memberikan inspirasi untuk membuat sebuah karya tari yang berbicara tentang kerinduan anak terhadap ayahnya yang telah meninggal dunia dengan konsep kehidupan nelayan sebagai potret kehidupan ayah dahulu. Ayah yang pergi tanpa pesan sedikitpun ketika mencari ikan di laut lepas untuk syukuran menyambut bulan suci Ramadhan membuat rasa rindu ini menjadi dalam dan menjadi kegelisahan batin. Kegelisahan batin ini harus diantisipasi agar tidak membuat patah semangat. Kerinduan ini diceritakan untuk menunjukkan bagaimana keteguhan penata dalam menghadapi hidup tanpa seorang ayah yang mendampingi serta menunjukkan rasa rindu yang dijadikan motivasi penata untuk tetap melangkah maju dan tegar menghadapi rintangan hidup. Karya Tari yang berjudul Laut Bak Ghindu merupakan koreografi kelompok tujuh orang penari. Baju kurung teluk belanga yang merupakan busana Melayu harian dijadikan kostum yang menunjukkan kesederhanaan para nelayan melakukan kegiatan harian di laut Bak. Laut Bak Ghindu diiringi dengan rentak Melayu yang diolah dan dikembangkan hingga terdengar lebih syahdu. Setting panggung memberikan keterangan latar tempat cerita yang diangkat. Unsur dramatik hadir memberi warna untuk menyampaikan kerinduan dengan pengolahan gerak dari kegiatan nelayan meniti jembatan dan memompa air di pompong serta pengolahan unsur garis. Laut Bak Ghindu merupakan wujud dedikasi untuk ayah tercinta. Kata kunci : Laut Bak, Kerinduan, Melayu