cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Saraswati
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 696 Documents
Ritual Semana Santa Di Larantuka Sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis Stanley Emil Tobi Tukan 0912006021
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Murni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1169

Abstract

Berdasarkan pada pemaparan konsep atau gagasan penciptaan yang telah dibuat, maka dari penulisan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Ritual Semana Santa di Larantuka Sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis adalah sebuah proses atau upaya untuk memvisualisasikan berbagai aktivitas religi di Larantuka terkhususnya upacara Semana Santa dan konteks yang melekat pada ritual tersebut, serta berbagai pengalaman yang teringat dalam memori kemudian digambarkan kembali dalam lukisan. Karya-karya yang divisualkan adalah segala aktivitas yang terjadi dalam suatu upacara keagamaan di Flores Timur yang dikenal dengan sebutan Semana Santa. Ide penciptaan karya muncul dari pengalaman-pengalaman selama mengikuti upacara tersebut. Pengalaman yang telah terjadi selalu terekam dalam memori. Konsep perwujudan bermula dari pengalaman, pikiran dan perasaan terhadap ritual Semana Santa yang dimiliki. Perwujudan yang divisualkan dalam bentuk figuratif melalui karakter potret tokoh, ikon dan simbol-simbol yang berhubungan dengan ritual tertentu. Dari karakter tersebut kemudian diwujudkan dengan penggabungan atau peleburan sehingga menimbulkan kesan yang rasional. Kemudian proses perwujudannya diterapkan melalui teknik opaque dan teknik transparan pada kanvas. Dalam perwujudan tema lukisan ini dengan menggunakan bahan yang digunakan adalah spanram, kanvas, lem kayu dan cat. Sedangkan alat yang digunakan adalah gunteker, kamera, printer, pengaris, pensil warna, amplas, palet, kuas, ember, dan lap kain. Adapun beberapa hambatan yang dilalui dalam penyelesaian tugas akhir ini. Hambatannya adalah dari segi gagasan visual dan penulisan, yaitu menentukan peristiwa yang terdapat dalam ritual Semana Santa. Hambatan juga dialami dalam menentukan hasil akhir sebuah karya, di mana dalam prosesnya selalu ada keinginan untuk menambahkan aksen-aksen maupun objek tertentu, sehingga penentuan hasil akhir dari visualisasi karya yang diinginkan menjadi lebih lama. Namun dengan segala usaha dan bimbingan dari dosen, berbagai hambatan tersebut dapat diatasi. Selanjutnya beberapa poin penting tentang permasalahan yang harus dikemukakan dalam penutup ini adalah tentang karya yang tampilkan, di mana pada karya yang dihadirkan terdapat beberapa karya yang kurang maksimal maupun yang sudah sempurna atau optimal. Mengenai karya yang kurang optimal untuk tugas akhir ini adalah karya yang berjudul Reinha City, di mana penggunaan elemen berbentuk bulatan-bulatan masih belum maksimal. Selanjutnya mengenai karya yang sangat optimal adalah karya dengan judul Warning, di mana penggambaran visualnya yang pas sehingga objek utama dalam lukisan menjadi lebih muncul. Dari 20 karya yang tercipta, ada satu karya yang dianggap paling mewakili untuk mengungkapkan semua persoalan dalam tugas akhir ini adalah karya yang berjudul “Queen of The Kingdom Larantuka”. Karya ini memvisualisasikan figur Tuan Ma (Bunda Maria) dengan mengenakan sebuah mahkota kerajaan di atas kepalaNya. Hal ini menunjukan bahwa, selain telah menjadi ikon Semana Santa sejak 500 tahun silam, Tuan Ma merupakan pemimpin tertinggi, sekaligus menjadi Ibu bagi Kota Larantuka yang selalu setia melindungi baik dalam suka maupun duka. Secara teknik, penggunaan elemen berbentuk bulatan-bulatan pada figur sengaja diciptakan sehingga figur pada lukisan hanya bisa terlihat jelas dari kejauhan. Ini merupakan suatu ungkapan kerinduan terhadap Ibu yang saat ini dipisahkan oleh jarak dan waktu. Sehingga pesan dalam karya ini disampaikan kepada masyarakat terkhususnya yang saat ini berada di luar Kota Larantuka untuk tidak perna melupakan figur sang Ibu yang selalu setia menjaga dan mendoakan hingga saat ini. Karya-karya dalam tugas akhir ini dirasakan sudah mampu mewakili gagasan-gagasan untuk menjadikan karaketeristik Ritual Semana Santa di Larantuka sebagai ide penciptaan seni lukis, karena mampu membahas semua visual untuk memperkenalkan dan menginformasikan upacara Semana Santa kepada masyarakat yang lebih luas, serta mengungkapkan rasa kerinduan atas pengalaman-pengalaman yang sebelumnya perna mengikuti upacara tersebut. Jadi dengan kata lain dari ke 20 karya dalam tugas Akhir ini sudah memberikan banyak manfaat baik dalam proses pengerjaan hingga terselesaikannya karya-karya ini. Adapun manfaat yang dirasakan adalah terpenuhinya salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana seni. Manfaat lainnya adalah tercapainya kepuasan dalam diri sekaligus dapat mengembangkan potensi estetis terhadap pengolahan bentuk objek-objek religius di Flores Timur kedalam lukisan, serta menjadikan sarana kontemplasi (renungan) bagi penikmat. Kata kunci : Ritual Semana Santa, Larantuka, aktivitas religi
Eksistensi Kesenian Drumblek di Kampung Pancuran Kota Salatiga Priyanto Adi Nugroho 1010388015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.944

Abstract

Kesenian drumblek merupakan bentuk kesenian yang mengadopsi orkes harmoni ( musik lapangan-drum band ). Hal tersebut dapat dilihat dari setiap pementasannya yang selalu di ruang terbuka, baik di tanah lapang maupun di jalan raya ( pawai ). Apabila orkes harmoni ( musik lapangan-drum band ), alat musik yang digunakan adalah instrument musik Barat, namun dalam kesenian drumblek, alat musik yang dipakai adalah barang-barang bekas. Walaupun kesenian drumblek ini dalam setiap pementasannya hanya menggunakan barang bekas tetapi dari tahunketahun semakin menjamur kelompok kesenian drumblek di Salatiga. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui mengapa kesenian drumblek sangat diminati oleh masyarakat Salatiga, dan juga ingin mengetahui bentuk penyajian kesenian drumblek Gempar yang berada di kampung Pancuran Salatiga. Untuk kepentingan tersebut, maka penulis menggunakan metode deskriptif analitis sebagai alatnya, dan dengan perpekstif Etnomusikologis sebagai pendekatannya. Setelah melalui proses pembahasan, maka dapat dikatakan bahwa kesenian drumblek yang memiliki prinsip, mudah, murah, dan meriah, Ternyata sangat diminati warga masyarakat Salatiga. Kata kunci : Kesenian, drumblek, eksistensi
Jathilan Sebagai Terapi Kejiwaan Di Rsj Prof. Dr. Soerojo Magelang Jawa Tengah Rosana Prade Kusuma 0910365015
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa Etnomusikologi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1207

Abstract

Kesenian Jathilan merupakan kesenian rakyat dalam bentuk tarian dengan gerakan tertentu dan diiringi musik yang banyak diadakan dan sangat dikenal di Jawa. Fungsi dan peran kesenian Jathilan di dalam kehidupan masyarakat berkembang mulai dari fungsi interaksi sosial hingga unsur-unsur dalam Jathilan. Terapi kejiwaan dengan menggunakan latihan Jathilan sudah dan masih dilakukan di RSJ Prof. dr. Soerojo Magelang. Terapi Jathilan mengadung aspek musikal, motorik, dan sensorik yang berjalan seirama dalam penyajiannya sehingga sangat berguna bagi rehabilitan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses terapi Jathilan bagi rehabilitan RSJ Prof. dr. Soerojo Magelang berjalan, dan mengetahui aspek-aspek penting yang berperan terhadap kejiwaan rehabilitan. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana Jathilan dilakukan di RSJ Prof. dr. Soerojo Magelang sebagai salah satu metode terapi psikososial bagi rehabilitan. Aspek musikal Jathilan dalam penelitian ini diuraikan lebih banyak untuk mengetahui hubungan musik Jathilan dengan kejiwaan rehabilitan di RSJ Prof. dr. Soerojo Magelang. Respon emosi musikal menjadi jembatan antara terapi musik dan kejiwaan rehabilitan yang dikaji secara menyeluruh dalam laporan penelitian ini. Kata kunci : terapi Jathilan, respon rehabilitan, manfaat terapi
Pembawaan Lagu Nyidam Sari Dalam Musik Keroncong Bagas Wahyu Prasetyo, 1011633013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.967

Abstract

Langgam Jawa merupakan salah satu jenis musik di Indonesia. Langgam Jawa mempunyai ciri-ciri bentuk yang hampir sama dengan langgam keroncong, diantaranya memiliki 32 birama, sukat 4/4, dan mempunyai kalimat lagu A-A1-B-A2. Namun dalam perbedaanya adalah pada tangga nada serta bahasa, langgam Jawa memakai tangga nada pentatonis dan memakai bahasa daerah (Jawa), sedangkan langgam keroncong memakai tangga nada diatonis dan memakai bahasa Indonesia. Langgam Jawa adalah lagu-lagu dalam keroncong yang memakai tangga nada pentatonis dan bahasa jawa (daerah), yang mengimitasikan bunyi gamelan kedalam instrumentasi keroncong. Lagu Nyidam Sari merupakan langgam jawa adalah salah satu karya terbaik Andjar Any yang sangat populer di kalangan masyarakat, khususnya Jawa. Pembawaan lagu Nyidam Sari ini ada yang diawali dengan istilah bawa, yaitu nyanyian dalam bentuk vokal tanpa iringan musik pada pembukaan sebuah lagu atau gendhing Jawa. Biasanya bentuk bawa mengambil bentuk macapat yang memiliki struktur guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Lagu Nyidam Sari ketika dibawakan dengan langgam jawa, dari segi intrumentasinya terdapat tambahan berupa kendang (bisa juga cello dengan motif permainan kendang) dan siter. Dalam pembawaan vokal nuansa nggandhul tidak terlalu dominan, serta dinamika pembawaan vokal yang lebih tegas daripada dalam langgam keroncong. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembawaan lagu Nyidam Sari dalam musik keroncong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah lagu Nyidam Sari yang dibawakan oleh Waldjinah dalam albumnya “Kethek Ogleng”. Penelitian ini difokuskan pada pembawaan vokal dalam iringan langgam keroncong. Data dalam penelitian diperoleh dengan cara (1) pengumpulan data melalui studi pustaka, (2) wawancara, (3) pengelompokan data, (4) tahap penulisan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah ketika dalam pembawaan vokal lagu Nyidam Sari yang dibawakan Waldjinah dalam albumnya “Kethek Ogleng”, teknik nggandhul sering dipakai, maupun hiasan cengkok, gregel dan luk terlihat jelas dan penempatannya yang pas, sehingga terasa indah dan enak untuk didengar. Penulis tertarik dengan pembahasan ini karena selain untuk media pembelajaran juga agar dapat mengenal lebih tentang musik keroncong dan langgam jawa. Kata kunci : Nyidam Sari, Langgam Jawa, Langgam Keroncong
Perancangan Concept Art Video Game “The Art Of Rwa Bhineda” Fajareka Setiawan 0911907024
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1096

Abstract

Rwa Bhineda memiliki kekayaan akan makna, filosofi, serta ajaran tentang kehidupan yang disimbolkan dalam Mitologi Barong vs Rangda. Kebudayaan ini sudah sepatutnya untuk terus diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Seiring dengan perkembangan teknologi, pelestarian budaya ini akan lebih menarik jika diperkenalkan kembali menggunakan media baru yang lebih modern agar tidak hilang begitu saja ditelan waktu. Mengingat generasi muda saat ini yang banyak terpengaruh oleh budaya-budaya asing dari berbagai media hiburan. Salah satunya video game. Permasalahan diatas merupakan alasan yang melatarbelakangi perancangan Concept Art Video Game “The Art of Rwa Bhineda”. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan konsep sebuah video game yang dari segi konsep cerita maupun visualnya bisa bersaing dengan produk-produk asing. Kesimpulan yang didapat dari perancangan concept art video game ini adalah dengan menggunakan media baru yang lebih dekat dengan generasi muda bisa menyadarkan betapa menariknya budaya-budaya Indonesia jika dikembangkan lebih luas lagi tanpa meninggalkan makna dan filosofi yang terdapat didalamnya. Dengan menggunakan concept art ini diharapkan mampu menggugah hati masyarakat khususnya generasi muda untuk tetap senantiasa melestarikan kearifan lokal sebagai tanggungjawab bersama, bahwasanya kebudayaan itu bukan hanya untuk dinikmati saja namun dibutuhkan perhatian khusus agar apa yang kita miliki tetap terjaga sebagai manifestasi para leluhur. Kata kunci : Rwa Bhineda, Barong, Rangda
Simbolisasi Pengalaman Sosial Manusia Melalui Karakteristik Anemon Dalam Bentuk Keramik Biomimicry Penciptaan Nur Hardiansyah 0911481022
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 Kriya Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1240

Abstract

Karya keramik ini diciptakan sebagai bentuk ekspresi pengalaman sosial manusia yang kemudian digambarkan melalui tekstur anemon dan bentuk biomimicry pada karya keramik. Karya anemon dengan bentuk artistik dapat menempati elemen rupa dan digunakan sebagai aksen interior dengan tatanan display yg inovatif. Diawali dengan mencari sumber penciptaan, membuat sketsa, pemilihan bahan, sampai pada tahapan pengerjaan karya itu sendiri. Dalam proses berkarya ini menggunakan berbagai macam tehnik, yaitu pilin, pijat dan cetak untuk membuat gestur dan gerakan yang menjadi identitas anemon pada karya keramik. Kemudian dilanjutkan dengan tahapan pengeringan, pembakaran, penggelasiran, dan terakhir pemajangan karya. Semua proses tersebut harus dijalankan dengan teliti dan satu-persatu. Dikarenakan keramik mejadi material yang memang membutuhkan kehati-hatian, sama halnya dengan perjalanan kehidupan manusia. Semua pengerjaan karya keramik anemon yang membutuhkan keterampilan dan perlakuan khusus tentu saja akan lebih diperkuat dengan teori-teori yang mendukung ide dan konsep karya tersebut, teori pendukungnya antara lain: anatomi tubuh anemon, teori semiotika, keramik dalam dunia desain kontemporer, wujud dalam bentuk biomimicry, sehingga karya memiliki kekuatan dan bisa dipertanggung jawabkan. Hasil karya yang penulis ciptakan merupakan visualisasi pengalaman yang diperoleh dari pengamatan lingkungan, baik secara sosial maupun personal. Kita bisa belajar dari kehidupan anemon ini, salah yang ternyata memiliki keanekaragaman dalam warna dan bentuk tak ada habisnya jika dipelajari, dengan penggunaan karakter anemon penulis mendapatkan ide dalam mewujudkan karya-karya keramik biomimicry. Kata kunci : Anemon, Biomimicry, Keramik
Analisis Idiomatik Post-rock pada Lagu Sing and Noise Karya A Slow in Dance Nuruz Zaman Adi Setyawan 1011485013
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Musik
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.999

Abstract

Penulisan “Analisis Idiomatik Post-rock pada Lagu Sing and Noise Karya A Slow in Dance” pada dasarnya dipengaruhi oleh minat penulis mendengarkan musik post-rock dan keinginan untuk berkontribusi di dalam wilayah post-rock yaitu dengan cara menganalisis karakteristik post-rock karena memang di wilayah ini belum terdapat literaturnya atau buku referensinya. Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti analisis ini menggunakan metode deskriptif analisis untuk meneliti post-rock secara langsung, selain wawancara dengan beberapa narasumber, penulis juga melakukan observasi secara langsung dengan mendengarkan banyak lagu bergenre post-rock serta melihat secara langsung konser beberapa band post-rock untuk merasakan langsung atmosfirnya. Hasil penelitian ini adalah bahwa musik post-rock hampir memiliki kesamaan dengan rock alternatif dalam progresi akor nya namun yang membedakan yaitu di pengolahan unsur musik di dalamnya seperti repetitif dan pemilihan suasananya. Manfaat dari penelitian ini yaitu menemukan aspek-aspek musik post-rock sehingga mengetahui karakteristik dari musik post-rock karena dengan mengetahui karakteristiknya kita dapat mengetahui ciri-ciri dan pembedanya dengan musik rock yang lain. Kata kunci : post-rock, karakteristik, deskriptif
Perancangan Film Animasi Pendek 3d Tentang Dampak Buruk Junk Food Tatag Yongki Brata 0911929024
Saraswati Jurnal Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1128

Abstract

Sebagai masyarakat modern kita tentu sering mendengar istilah fast food dan junk food. Pada dasarnya kedua istilah tersebut memiliki arti yang berbeda. Junk food bisa diartikan makanan sampah atau makanan yang kandungan nutrisinya sangat rendah. Sedangkan fast food adalah makanan cepat saji. Permasalahan yang terjadi adalah masyarakat terkadang masih sulit membedakan kedua istilah tersebut. Memang sebagian besar fast food yang kita kenal, khususnya western fast food bisa dikelompokkan kedalam jenis junk food. Dalam hal ini istilah junk food yang seharusnya lebih mendapatkan perhatian lebih karena jika junk food di konsumsi secara berlebihan maka dampaknya akan menganggu kesehatan karena kandungan lemak yang besar, banyak mengandung garam, dan rendah vitamin. Permasalahan tersebut melatar belakangi penulis untuk mengangkatnya kedalam film animasi pendek 3D. Dalam film animasi ini terdapat karakter yang dihidupkan dari makanan-makanan jenis junk food yang dekat dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan untuk menginformasikan bahwa junk food bukan hanya makanan yang kita jumpai di restoran cepat saji. Bahkan makanan yang kita masak sendiri bisa jadi junk food yang apabila salah cara mengolah dan dikonsumsi secara berlebihan bisa menimbulkan gangguan kesehatan seperti obesitas, radang usus, dan jantung koroner. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan film animasi “Junk food” ini adalah penggunaan film animasi sebagai media dalam rangka menginformasikan bahwa konsumsi junk food secara berlebihan akan berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang. Selain itu masyarakat diajak mengenal jenis junk food, bukan hanya makanan yang kita makan di restoran cepat saji saja. Film animasi pendek 3D berjudul “Junk food” ini diharapkan menarik perhatian masyarakat, sehingga isi pesan dari film “junk food” bisa diresapi penontonnya bahwa memilih menu makanan bisa menghindarkan kita dari gangguan kesehatan. Kata kunci : Film pendek, Film animasi 3D, Film animasi 3D Junk food
Visual Diary Karimunjawa dalam Fotogafi Azka Amalina 1010497031
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.901

Abstract

Latar belakang penciptaan karya ini berawal dari kebiasaan menulis diary. Diary merupakan arsip sesorang secara personal sehingga merupakan hal yang penting untuk disimpan. Dalam penciptaan karya ini diary yang biasanya berupa bahasa tulis akan diwujudkan dalam bahasa visual dengan medium fotografi, sehingga menjadi visual diary. Foto akan dibuat dalam foto dokumenter dengan lokasi pemotretan di Karimunjawa. Teori yang digunakan untuk mendukung penciptaan karya ini adalah teori foto dokumentasi, estetika, dan etnografi. Pemilihan objek foto dilandasi atas pengalaman estetis, sementara penciptaan karya ini termasuk dalam aktivitas dan memiliki pola etnografi yaitu terjun ke lapangan untuk observasi dan kemudian mencatat hasil observasi tersebut. Hasil observasi belum bisa diketahui sebelum melakukannya, yang dalam hal ini adalah isi dari diary yang akan dibuat. Perwujudan bahasa tulis menjadi bahasa visual ternyata tidak mudah sehingga memerlukan kreativitas dan eksplorasi. Meski demikian, fotografi memiliki kelebihannya sendiri sebagai media penyimpan kenangan karena sang fotografer menyimpan emosi dan ekspresi dirinya dalam momen yang tertangkap pada sebuah foto. Kt Kunci : visual diary, Karimunjawa, fotografi
Kerai Yanti Mei Aryani 1011317011
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.1031

Abstract

Kerai adalah karya tari yang memunculkan dua motif paling khas di Kerajaan Sadurengas Paser, Kalimantan Timur. Kerai memiliki arti yang sangat dalam sebagai pemaknaan untuk mewakili peninggalan dari Kerajaan Sadurengas yaitu Paser. Motif Lampinak dan Motif Pagar merupakan simbol kekuatan masyarakat Paser, kebersamaan dan solidaritas yang tinggi dalam masyarakat Paser. Kedua motif berkaitan erat dengan air yang mengalir. Makna tersebut dituangkan menjadi sebuah koreografi yang disajikan lewat tiga penari perempuan dan dua penari laki-laki dengan motif yang tergambar pada kostum penari, serta vidio pada setting yang khusus menggambarkan ciri khas motif Kerajaan Sadurengas Paser. Penyatuan dalam konsep ini dari ungkapan makna yang erat kaitannya dengan alam menjadi kesatuan yang kuat yaitu “Kerai” (satu). Hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia begitu kuat sejak dahulu hingga Kerajaan Sadurengas berdiri hingga sekarang. Motif Pagar, Motif Lampinak, dan Tari Rembara memiliki makna serta esensi yang kuat dalam bentuk karya tari sebagai persembahan untuk masyarakat Paser. Kata kunci : Motif Lampinak, Motif Pagar, Kerai