cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
SISTEM BUDAYA BAHARI KOMUNITAS NELAYAN LUNGKAK DESA TANJUNG LUAR, LOMBOK TIMUR, NUSA TENGGARA BARAT Husain, Fadly
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.4173

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana sistem pengetahuan komunitas nelayan Lungkak sebagai salah satu kearifan lokal dan modal sosial dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya laut. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Lokasi penelitian tersebut ditentukan secara purposive menurut pokok permasalahan penelitian yang dirumuskan. Data kualitatif akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam (In-depth Interview) dan pengamatan terlibat (observation participation). Dalam penelitian ini pengolahan dan analisis data dilakukan secara bersamaan dalam sebuah proses yang dilakukan secara terus menerus sejak pengumpulan data dilakukan khususnya dalam proses pengorganisasian, pemilihan, dan kategorisasi antar data dalam bentuk uraian naratif atau thick description. Komunitas nelayan Lungkak mempunyai kearifan lokal berupa sistem pengetahuan tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya laut. Sistem pengetahuan ini berupa pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi, pengetahuan tentang tempat penangkapan dan posisi rumah ikan, pengetahuan tentang musim (Pola musim dan waktu-waktu munculnya ikan), pengetahuan tanda-tanda di laut dan di angkasa, pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya, sistem keyakinan/kepercayaan (upacara/ritual dan pantangan-pantangan).The purpose of this study was to determine how knowledge system of fishing community of Lungkak as one of the local knowledge and social capital in managing and utilizing their natural resources. The study was conducted with qualitative methods with the type of descriptive research. The study site is purposively determined according to basic research problems formulation. Qualitative data will be collected through in-depth interview and participation observation. In this study the processing and data analysis carried out simultaneously in a process that is conducted continuously since data collection is done especially in the organizing process, selection, and categorization between data in the form of thick description or narrative description. Fishing community of Lungkak has a system of local knowledge in management and utilization of marine resources. Knowledge system is a knowledge of the economic value of marine life, the knowledge of the location and the location of the house catching fish, the knowledge of the seasons (winter pattern and emergence times of fish), the knowledge of the signs at sea and in space, the knowledge of the socio-cultural environment, system of beliefs (rituals and taboos).
ADAPTASI PETANI DI KALIMANTAN SELATAN Wahyu, -
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2298

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji antropologi transmigrasi, terutama tentang kemampuan adaptif transmigran di lokasi baru. Banyak transmigran  datang dari daerah dengan latar belakang budaya dan alam yang berbeda-beda, ada yang dari daerah pegunungan, daerah sulit air, maupun daerah irigasi. Penelitian ini menganalisis tiga variabel: budaya (tradisi),  motivasi, dan kemampuan dasar petani, yang diperkirakan memiliki hubungan dekat dengan kemampuan adaptif di lokasi yang baru.  Metode  penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Lokasi penelitian dilakukan di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling acak bertahap (multi stages cluster random sampling). Sampel pada penelitian berjumlah 320 yang dengan perincian 160 di sawah pasang surut dan 160 di sawah irigasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah teknik wawancara dengan berpedoman pada daftar pertanyaan dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis faktor (komponen utama), analisis jalur dan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan adaptif  transmigran tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidup fisik tempat baru yang ditinggali, juga darimana mereka berasal tetapi juga oleh faktor-faktor sosial ekonomi dan budaya yang telah menjadi bagian hidup mereka.The objective of this research is to examine the transmigration anthropology, especially about the ability of adaptive migrants in the new location. Many migrants come from areas with cultural backgrounds and of different nature, some from the mountains, the area is water, and irrigation areas. This study analyzes three variables: culture (tradition), motivation and basic skills of farmers, which is estimated to have close ties with adaptive capabilities in the new location. The research method used is quantitative research methods. What research is conducted in two districts, namely Barito Kuala district and Banjar Regency. The sampling method used in this study is multiple stages cluster random sampling. Samples in the study amounted to 320 160 with details on tidal rice fields and 160 in rice irrigation. Data collection techniques used in this study is based on the technique of interview questionnaires and observation. Analysis of the data used is a factor analysis (principal component), path analysis and product moment correlation analysis. The results showed that the ability of adaptive migrants are not only influenced by the physical conditions of the environment they live in a new place, as well as where they came from but also by socio-economic factors and the culture that has become part of their lives.
KEBERADAAN DAN KENDALA PEMBELAJARAN ANTROPOLOGI DI SMA Rochana, Totok
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v2i2.2285

Abstract

Mata pelajaran Antropologi di SMA tergabung dalam kelompok IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Meskipun telah menjadi salah satu bagian mata pelajaran di SMA,  keberadaan mata pelajaran Antropologi tidak pernah berdiri menjadi mata pelajaran sendiri, melainkan menjadi bagian mata pelajaran Sejarah dan Sosiologi. Tujuan artikel ini adalah untuk membahas bagaimanakah keberadaan mata pelajaran antropologi di SMA setelah merger ini dan bagaimana kendala-kendala pembelajaran antropologi di SMA. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tahun terakhir yang sibuk dengan penyempurnaan kurikulum, mata pelajaran Antropologi justru semakin termarjinalisasi. Antropologi hanya menjadi sub-bahasan  saja dalam mata pelajaran lain. Antropologi juga semakin dianggap kurang penting, padahal antropologi sangat penting dalam konteks masyarakat multikultural seperti Indonesia. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kendala-kendala dalam proses pembelajaran di antaranya kendala struktural, kultural, dan keterbatasan sumber daya manusia.Anthropology in high school subjects is incorporated in IPS batch (Social Sciences). Although it has become one of the subjects at the high school, Anthropology is a not an independent subject.  It isonly part of History and Sociology subjects. The objective of this article is to study the existence of anthropological subjects in high school. The research method used is  qualitative approach, data collection was done by observation, interview and documentation. The results show that over the years of curriculum improvement, anthropology subjects are becoming more and more marginalised.  Anthropology is only a sub topics of other school subjects. Many regards anthropology no longer important though in fact anthropology is an important subject in a multicultural society like Indonesia. This maginalization of anthropology subject leads to other constraints in the learning process, which include structural, cultural, and human resource constraints.
Developing Posdaya for Family Empowerment Muljono, Pudji; Agung, Sarwititi Sarwoprasojo; Bachtiar, Mintarti
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3334

Abstract

This study aims to explore the role of Posdaya in creating an ideal and harmonious of family. Poverty, changes in consumer lifestyle and weakening of the meaning of family, have the potential to encourage domestic violence and human trafficking. This study used a participatory action research approach (PAR) for the development of family-based model of empowerment throught local institutions of Posdaya. The pilot project was conducted in Posdaya Jaya Kencana, Pabean Udik Village, Indramayu District, Indramayu Regency (fishermen communities) and in Posdaya Eka Mandiri, Cihideung Udik Village, Ciampea District, Bogor Regency, West Java Province (agriculture communities). The results show that Posdaya is potential institution that can be use to develop activities to strengthen the functions of the family. In addition, Posdaya can also serve as a forum for communication in the prevention and treatment of domestic violence. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Posdaya dalam mewujudkan keluarga yang ideal dan harmonis.  Akibat dari kemiskinan, perubahan gaya hidup konsumtif dan melemahnya makna keluarga, hal tersebut berpotensi mendorong KDRT dan human trafficking.  Penelitian ini menggunakan pendekatan participatory action research (PAR) untuk pengembangan model pemberdayaan keluarga berbasis kelembagaan lokal Posdaya. Pilot project dilakukan di Posdaya Jaya Kencana, Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu (komunitas nelayan) dan di Posdaya Eka Mandiri, Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (komunitas pertanian).  Hasil kajian menunjukkan bahwa Posdaya merupakan lembaga yang potensial dikembangkan  sebagai wadah koordinasi kegiatan penguatan fungsi-fungsi keluarga.  Selain itu, Posdaya juga dapat berfungsi sebagai forum komunikasi dalam upaya pencegahan dan penanganan KDRT.
STUDENT POLITICS IN URBAN TERNATE, NORTH MALUKU Amin, Basri
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2946

Abstract

This article examines student politics articulated by university students in contemporary Ternate, North Maluku. The involvement of students in the political arena in the region is mostly organized through regional (ethnic) organizations.The larger context of such political process is decentralisation, which make religional resource  resources dominated by the state. At the same time competition among local elites and ethnic groups flourish. This is the main background of a new formation of group interests in local level –-including local university students-- to gain group advantages. The case of Ternate, North Maluku, is an example of how groups of students organize their practical interests in the arena of politics by exploiting youth associations and ethnic organizations. Artikel ini mengkaji tentang politik yang diartikulasikan oleh kalangan mahasiswa dalam percaturan politik lokal di Ternate, Maluku Utara. Keterlibatan mahasiswa dalam arena kekuasaan di kawasan ini lebih banyak dilakukan melalui instrumen organisasi kedaerahan (etnis). Konteks besar yang menjadi landasan dari proses sosial ini adalah desentralisasi yang menempatkan sedemikian rupa sumberdaya pembangunan lebih banyak didominasi oleh negara, tapi pada saat yang sama perkembangan politik etnis terus menyertai persaingan kelompok dan elit lokal. Kasus Maluku Utara adalah sebuah contoh bagaimana kaum muda memainkan kepentingannya sendiri dalam percaturan kekuasaan dan dalam hal memanfaatkan kesempatan-kesempatan praktis untuk mereka.
ETIKA MASYARAKAT BADUY SEBAGAI INSPIRASI PEMBANGUNAN -, Suhadi
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i1.2397

Abstract

Krisis multidimensional yang termasuk di antaranya adalah pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol, polusi udara, krisis air, pemanasan global, tekanan hidup merupakan simbol masalah sosial dari proses pembangunan. Kita perlu merefleksikan secara kritis tentang tujuan dan nilai dalam pembangunan yang menghambat pembangunan. Dalam penelitian ini, penulis menggali nilai-nilai etika masyarakat pedalaman yang dapat digunakan sebagai inspirasi untuk menerapkan nilai-nilai dalam pembangunan sehingga dapat meminimalisir masalah-masalah yang muncul dari proses pembangunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelompokan masyarakat pedalaman secara etika dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur mentalitas pembangunan di Indonesia. Sebagai contoh etika Baduy, mencerminkan karakter sosial untuk mengembangkan pilar-pilar nilai budaya nasional, skenario pembangunan teknologi, keamanan pangan, kemerdekaan, gaya hidup, mengangkat ketertarikan masyarakat, fokus pada  program prioritas dan bangkit dari politik transaksi ekonomi dan kekuatan dalam pembangunan. Di sisi lain ada hal-hal yang bersifat merusak bagi etika masyarakat pedalaman di bawah tekanan atas lingkungan yang nyaman dan itu datang dari dalam maupun luar. The multi-dimentional crisis which includes the uncontrolled population explosion, the more dense settlement, the amount of pollutants in the earth, water crisis, global warming, and a lot of life pressure / stress are signs of the social problems of the development process. That is why, we need to reflect critically on the goals of development and values that discourage development. In this article, the author seeks to explore ethical values in traditional Baduy society which can be used as inspiration in applying development values that can minimize the problem raised by development. This research used qualitative approach. Research results show that community grouping in isolated community can be used ethically as a means to measure mentality of Indonesian development. For example the ethics of Baduy reflects social character to develop the pillars for national cultural values, technological development scenario, food security, independence, lifestyle, promoting the interests of society, focus on running projects, and away from the politics of economic transactions and power in development. On the other hand there are symptoms of the destruction of isolated communities ethics under the pretext of environmentally friendly development that comes from inside and outside.
KONTEKSTUALISASI (PENDIDIKAN) ANTROPOLOGI INDONESIA Laksono, P M
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i1.2381

Abstract

Dunia pendidikan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang ambivalen. Pendidikan yang seharusnya dapat secara positif membekali manusia dengan modal pengetahuan praktis maupun substantif yang berguna justru mempunyai potensi yang sebaliknya, yaitu menjadi kendala bagi pembangunan berkelanjutan karena tuntutan-tuntutan praktis, khusus, dan sesaat yang dikehendaki oleh kepentingan-kepentingan ekonomi, politik, dan sosial yang selalu berubah. Fakta tersebut menjadi latar belakang penulisan artikel ini yang bertujuan mengajukan sebuah wacana tentang kontekstualisasi pendidikan Antropologi di Indonesia agar pendidikan dapat berfungsi sebagaimana idealnya. Setelah melakukan pengamatan terhadap fakta yang ada dengan menggunakan analisis berbasis teori-teori Antropologi dan ilmu sosial, diperoleh beberapa kesimpulan, diantaranya, kontekstualisasi pendidikan Antropologi Indonesia harus diupayakan untuk mengisi nasionalisme Indonesia dengan jiwa baru untuk menghadapi krisis akulturasi akibat sistem komunikasi global. Dalam pendidikan antropologi, para peserta didik secara total mestinya diberi kesempatan mengembangkan daya apresiasi, empati/afektif dan kognitifnya sesuai dengan pengalaman hidupnya untuk berwacana dengan subyek yang dipelajarinya. Untuk mewujudkan hal itu salah satu pendekatan yang sesuai adalah pendekatan reflektif partisipatoris agar dapat menjangkau ranah kognitif dan simbolik suatu identitas sosial budaya yang sedang berubah, sehingga akan sampai pada hasil yang lebih bersifat pengetahuan reflektif dan apresiatif, yaitu pada penemuan eksistensi manusia itu sendiri. Education in Indonesia is currently in an ambivalent state. Education should positively equip people with practical and substantive knowledge capital that has the potential to be useful, instead of becoming an obstacle to sustainable development because of the practical, specific, and momentary demand of the ever-changing economic, political, and social interests. The fact has encouraged the authors to write this article which aims to propose a discourse about the contextualization of educational anthropology in Indonesia in order that education can serve its fundamental purposes. After observing the fact by using analysis involving the theories of anthropology and social sciences, it is obtained several conclusions, among them is that contextualization of Indonesian Anthropology education should be made to fill the new spirit of Indonesian nationalism with acculturation to deal with the crisis caused by global communication system. In anthropology education, the learners in total should be given the opportunity to develop the appreciation, empathy / affective and cognitive experience of his life according to a learned discourse on the subject. To realize that, one appropriate approach is reflective participatory approach in order to reach the cognitive and symbolic discourse of a changing socio-cultural identity, so it will create more reflective and appreciative knowledge, namely the discovery of human existence itself.
RELEVANSI KURIKULUM PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI DENGAN KEBUTUHAN MENGAJAR GURU SMA Rochana, Totok
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2417

Abstract

Materi pembelajaran  Sosiologi dan Antropologi yang diajarkan di SMA senantiasa mengalami perubahan. Sementara  kurikulum Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES tidak banyak mengalami perubahan. Dalam penelitian ini, penulis membahas bagaimana relevansi antara Kurikulum Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES dengan kebutuhan mengajar bagi guru Sosiologi dan Antropologi SMA Negeri di Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan  bersifat kasus, pengumpulan data menggunakan metode wawancara tertutup dan terbuka, dan analisis data  menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian  disimpulkan bahwa kurikulum  Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES, masih relevan dengan materi pembelajaran Sosiologi dan Antropologi yang diajarakan di SMA. Saran yang diajukan adalah: perlu diselenggarakan penataran-penataran/diklat-diklat peningkatan penguasaan materi pembelajaran Sosiologi dan Antropologi bagi guru-guru Sosiologi dan Antropologi yang bukan berlatar belakang Pendidikan Sosiologi dan Antropologi. Pengangkatan CPNS Guru Sosiologi dan Antropologi perlu diprioritaskan dari lulusan Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi. Pengembangan kurikulum Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi tetap mengacu pada relevansinya dengan kebutuhan di lapangan.Sociology and Anthropology instructional materials taught in high school are constantly changing, though the curriculum of Sociology and Anthropology FIS Unnes does not change much. In this study, the author discusses the relevance of the curriculum of Sociology and Anthropology of Education Unnes FIS to the needs of teaching for teachers of Sociology and Anthropology Senior high school in Central Java. The method used in this study is a qualitative approach using descriptive methods. Based on the results of the study it is concluded that the curriculum of Sociology and Anthropology Unnes FIS is still relevant to the needs of Sociology and Anthropology classes at the high school. The suggestions are: to be held refresher courses for teachers, upgrading courses  for miss match teachers. The selection of teachers of Sociology and Anthropology should be prioritized from the alumni of sociology and anthropology department and the development of Educational Studies Program curriculum of Sociology and Anthropology should refer to the relevance and needs on the ground.
ANALISIS KARAKTER DAN KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBELAJARAN SOSIOLOGI DI KOTA BANDA ACEH -, Abubakar; -, Anwar
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2758

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan membahas problem-problem dalam pengintegrasian karakter dan kearifan lokal dalam sosiologi. Penelitian dilakukan di kota Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak pengajar belum faham dan tidak menguasai bagaimana membuat rencana pembelajaran  yang sarat dengan nilai-nilai lokal yang perlu dipahami dan diteladani oleh semua pihak sebagai panduan hidupnya,  yang  dijalankan selama ini adalah apa yang telah lama dilakukan, dengan muatan materi yang sangat umum dari buku-buku nasional, bahkan ada yang berpendapat materi dari nilai-nilai lokal tidak diperlukan dengan berbagai alasan,  padahal sesungguhnya apa yang tersurat dalam teori universal faktanya banyak bertebaran pada masyarakat sekitar, usaha pemberdayaan gurupun masih minim, dengan kondisi yang demikian pembelajaran sosiologi pada SMA Kota Banda Aceh belum berbasis lokal,  yang  sedang digalakkan oleh pemerintah daerah sesuai Qanun (perda) Nomor 5 Tahun 2000,  Qanun Nomor 6 Tahun 2000  dan UUPA Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Daerah Aceh. AbstractThis study aims to discuss the problems in the integration of character and wisdom in sociology  learning. The study was conducted in the city of Banda Aceh. The results show that many teachers do not understand and have not mastered the way to make a lesson plan that is loaded with local values??. Learning is not yet based upon lokal wisdom, even some teachers argued that the material of lokal values ??is not necessary for various reasons. Teacher empowerment is still minimum. Therefore, the mandate of Qanun ( regulation ) No. 5 of 2000 , Qanun No. 6 in 2000 and UUPA No. 11 2006 on Regional Government of Aceh for adoption of lokal wisdom has not been achieved. © 2013 Universitas Negeri Semarang
TOLERANSI ANTAR PENGANUT NAHDHATUL ULAMA, MUHAMMADIYAH, DAN KRISTEN JAWA DI BATANG Irfani,, Adistya Iqbal; Alimi, Moh. Yasir; Iswari, Rini
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i1.2366

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bentuk toleransi dan faktor pendorong dan faktor penghambat toleransi masyarakat Jawa dengan studi kasus di Dukuh Medono Kabupaten Batang. Di dukuh tersebut, penganut organisasi agama seperti NU, Muhammadiyah dan Kristen Jawa di Dukuh Medono saling hidup rukun. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa toleransi antar penganut NU, Muhammadiyah, Kristen Jawa tampak berbagai bentuk. Antara NU dan Kristen Jawa dalam bentuk partisipasi dalam ritual tahlilan, sedangkan antar ketiganya tampak dalam bentuk kerja bakti, saling membantu dalam acara hajatan, perkawinan campur dan saling berkunjung bila ada yang sakit. Faktor pendorong toleransi antara lain budaya toleransi yang sudah lama, pernikahan antar penganut yang berbeda, sosialisasi toleransi dalam keluarga, dan kepemimpinan desa yang menekankan pentingnya toleransi. Sedangkan faktor penghambat toleransi yaitu perbedaan pandangan antar penganut NU dan Muhammadiyah dalam pelaksanaan ibadah, pernikahan beda keyakinan, dan sikap menyinggung keyakinan diantara penganut yang ada. The objective of this study is to explore forms of tolerance and the driving factor of religious tolerance in Dukuh Medono, Batang. In that village, the followers of NU, Muhammadiyah, and Kristen Jawa live peacefully and united in tolerance. The research method used here is a qualitative method with phenomenology approach. The result of the research shows that the tolerance between NU followers and Javanese Christians take the form of participation in tahlilan ritual. The tolerance between NU, Muhammadiyah followers, and Kristen Jawa followers are expressed through kerja bakti, mutual support in hajatan rituals, mixed marriage, visits to the sick, and social activities together. The factors which help to create tolerance include the culture of tolerance which exist in the village, marriages between religious followers, the socialization of tolerance within family, the socialization of tolerance within the society and the role of village administrative leaders. On the other hand, the factors which distract tolerance are different point of view between NU dan Muhammadiyah followers in some religious aspects, marriage between different religious followers, and the attitude of insulting others beliefs.

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue