cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
EKSPLOITASI ANAK JALANAN SEBAGAI PENGAMEN DAN PENGEMIS DI TERMINAL TIDAR OLEH KELUARGA Yuniarti, Ninik
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2416

Abstract

Fenomena anak jalanan ada di kota-kota di seluruh Indonesia, seperti halnya fenomena anak jalanan di terminal Tidar Kota Magelang. Dalam penelitian ini penulis mengkaji bagaimana profil anak jalanan di terminal Tidar Kota Magelang, bagaimana eksploitasi keluarga terhadap anak jalanan tersebut dan bagaiamana kebijakan Pemerintah Kota Magelang untuk mengatasi masalah anak jalanan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak jalanan di Terminal Tidar berasal dari keluarga miskin dan pendidikan rendah, bentuk eksploitasi keluarga terhadap anak jalanan tersebut adalah menjadikan mereka sebagai pengemis dan pengamen. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan anak jalanan, tetapi hasilnya belum maksimal.Street child phenomenon exist in cities through out Indonesia like street child phenomenon in Tidar bus terminal Magelang. The purpose of this study is to explore the profiles of street children in Tidar Terminal, the exploitation of family upon these children and  the policies of the city government to engage these street children. Research methods used are observation, interviews, and documentation. Research shows that the street children in Terminal Tidar originateds from poor families and education lower. The explotation by family that they experience include the family’s demands to the children be street singers and beggar. The government has done many efforts to resolve the problem children street but there are no maximum results in overcoming street children phenomenon.
MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PASCAERUPSI GUNUNG MERAPI DI JAWA TENGAH DAN YOGYAKARTA -, Masrukin; Sugito, Toto; Suswanto, Bambang; Sabiq, Ahmad
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2736

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan membuat model pemberdayaan masyarakat pascaerupsi Gunung Merapi di lokasi yang terkena dampak paling parah yaitu: di Desa Tlogolele Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, Desa Jumuyo Kecamatan Salam Kabupaten Magelang dan Desa Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah serta Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Provinsi Yogyakarta. Menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk melakukan pengkajian keadaan desa secara partisipatif melalui wawancara mendalam, observasi dan focus group discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukan dari keempat lokasi, memiliki kesamaan dalam model pemberdayaan yaitu: (1) Masyarakat  membutuhkan serangkaian kegiatan pemberdayaan secara menyeluruh, antara kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. Karena selama ini, masyarakat telah mendapat penyuluhan, pelatihan dan bantuan, akan tetapi untuk program pendampingan yang dibutuhkan tidak diberikan. Akibatnya kurang mendukung pada keberlanjutan, peningkatan produktivitas dan pemasaran.  (2) Masyarakat membutuhkan lembaga koperasi yang memiliki badan hukum sebagai pusat usaha perekonomian untuk memenuhi kebutuhan permodalan, bahan baku, dan akses jaringan pemasaran. (3) Masyarakat membutuhkan pelatihan secara periodik dan penguatan kembali kelompok siaga bencana di tingkat desa. AbstractThis research aims to create empowerment model after the eruption of Mount Merapi in locations most severely affected: Tlogolele Village of Selo District in Boyolali Regency, Jumoyo Village of Salam District in Magelang Regency and  Balerante Village in Kemalang District of Klaten Regency in Central Java Province and Kepuharjo Village of Cangkringan District in Sleman Regency in Yogyakarta Province. The research used Participatory Rural Appraisal (PRA) method for assessing participatory village situation through in-depth interviews, observation and focus group discussion (FGD). The results showed that the four villages, had similarities in the empowerment model: (1) Community requires a series and comprehensive of empowerment activities between extension, training and mentoring. (2) Community requires cooperative institution as a business center to obtain capital, raw materials and network marketing access. (3) Finally the community should receive periodic training and transformed to be a disaster task force at the village level.© 2013 Universitas Negeri Semarang
MASALAH DAN USAHA MEMBANGUN KARAKTER BANGSA Wahyu, -
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i2.2310

Abstract

Merajalelanya korupsi menandai bahwa persoalan pendidikan karakter bangsa harus menjadi perhatian semua pihak, pemimpin bangsa, aparat penegak hukum, pendidik dan tokoh-tokoh agama, golongan dan lain sebagainya. Pembangunan karakter harus dibentuk. Studi ini dilakukan berangkat dari keprihatinan saya persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam hal pendidikan karakter, lalu menganalisis fakta-fakta yang ada, dan dari sana menawarkan berbagai alternatif penyelesaian. Dari hasil analisis dan pembahasan, didapatkan kesimpulan bahwa pembangunan karakter jika ingin efektif dan utuh mesti menyertakan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyambung kembali hubungan dan educational networks yang nyaris putus antara ketiga institusi pendidikan ini. Tanpa tiga institusi itu, program pendidikan karakter sekolah hanya menjadi wacana semata tidak akan berhasil karena tidak ada kesinambungan dan harmonisasi. The current state of corruption should encourage every citizens of the nation, all parties, the leaders of the nation, law enforcement officials, educators and religious leaders, to focus their attention to character building. Character development should be established as part of the national strategy to improve nation’s life. The study begins from my concern about the backwardness of character education in Indonesia, and then from there I attempts to propose alternative solutions. The article concludes that to be successfull, character development should include the participation of three important institutions of social life: family, school and community. Therefore, the first step  is  to reconnect the educational institutions with other institutions. Without the three institutions, the school character education program is only a discourse which will not succeed because there is no continuity and harmonization.
PERAN GANDA IBU RUMAH TANGGA YANG BEKERJA SEBAGAI TUKANG AMPLAS KERAJINAN UKIR KAYU Sosan, Isna
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v2i2.2279

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana ibu rumah tangga yang bekerja sebagai tukang amplas kerajinan ukir kayu menjalankan peranannya dalam rumah tangga dan bagaimana peran mereka dalam industri kerajinan ukir kayu di Desa Keling Kecamatan Keling Kabupaten Jepara.  Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat ibu-ibu tukang amplas mempunyai peran penting sebagai “penyempurna produk” dalam industri kerajinan ukir kayu. Namun disisi lain sebagai ibu rumah tangga, mereka tidak dapat melepaskan tanggung jawab sosial budaya sebagai “pengurus rumah tangga”. Dengan demikian pekerjaan mengurusi rumah, melayani suami dan anak – anak tetap mereka lakukan bersamaan dengan peran mereka sebagai pekerja tukang amplas. Peran ganda yang mereka jalani tersebut membawa dampak secara sosial mereka memiliki prestise lebih dibanding ibu yang tidak bekerja, namun disisi lain peran ganda tersebut menyebabkan para ibu rumah tangga tukang amplas tersebut menjadi terbebani baik dari segi waktu maupun tenaga mereka.The purpose of this study is to analyze the domestic burden of a housewife who worked as a wood carving craft sandpaper and the role they play in handicraft industry. The research is conducted in Keling, Jepara. The research results show that these women have important role  in wood carving handicraft industry as ”product perfector” and in their house hold as ”domestic manager”. As a housewife, they can not leave their domestic responsibilities regarded by society as their main tasks. Consequently, they have double tasks, serving her husband and children  in the house as well as performing their roles as labours. This dual role gives them more prestige than women who do not work, but on the other hand this dual role also give them double burden.
Empowerment Strategy Through Salak Fruit Prajanti, Sucihatiningsih Dian Wisika; Fafurida, Fafurida; Setiawan, Avi Budi; Sutanto, Himawan Arif
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3622

Abstract

This articles aims to understand the practice of empowerment through assistance to salak farmers. The study includes 60 salak fruit farmers which are taken as the samples. Descriptive analysis is used to analyze the obtained data from the study. The research result shows that most respondents have the relative low level of empowerment. The empowerment level from business aspect explain that most of the respondent (73%) are never and could not got the financial assistant to develop their business. Likewise, it could be happen in the technological access, most of the respondent (56,7%) explain that in the production process the technology that used is base on traditional and hereditary. So, it is depend on labour relieves when the production and harvest process. Furthermore, the research shows that a low level of a capability to access the market information. It could be seen that most of the farmers (38,3%) directly selling their product to the consumers and 33,3% sell their product to the broker. The empowerment from non economic aspect could be seen from the low ability of lobbying aspect, like the asking for a relieves from their colleagues at the local government officer (10%), financial institution like cooperation, bank and etc (25%), society figures (32,1%), employees (32,1%), non government institution/ academision (10%) and a families (93,3%). To empower the farmers in order to make them sustainable, it is necessary to built a partnership by empowerment strategy. The empowerment strategy that involves industry as the farmers’ partner is carried out to improve the empowerment of the farmers of salak fruits.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi praktek pemberdayaan melalui pendampingan petani buah salak. Sebanyak 60 orang petani salak diambil sebagai sampel. Analisis deskriptif telah digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah penelitian mengaku pada saat panen melimpah harga jual buah salak sangat rendah. Tingkat keberdayaan dari Aspek Usaha menunjukkan bahwa dalam mengakses kredit sebagian besar responden (73%) menyatakan tidak pernah atau tidak mampu mendapatkan kredit untuk pengembangan usahanya. Demikian juga dalam megakses teknologi sebagian besar responden (56,7%) menyatakan bahwa dalam melakukan proses produksi berdasarkan turun-temurun dimana teknologi dalam melakukan produksi bersifat tradisonal dan menggunakan insting, sehingga masih tergantung adanya bantuan dari orang lain pada saat terjadi masalah baik dalam proses produksi maupun pada saat panen. Selajutnya kemampuan dalam mengakses informasi pasar menunjukkan rendah yang dapat dilihat dari pemasaran hasil panen sebagian besar (38,3%) dijual langsung ke konsumen dan kepada tengkulak (33,3%). Tingkat keberdayaan dari aspek non-ekonmi yang dilihat dari kemampuan lobbying menunjukkan masih relative rendah, seperti keberhasilan dalam meminta bantuan kenalannya di Pemda sebsar 10%, lembaga keuangan seperti koperasi, bank, dan lain sebagainya sebesar 25%, tokoh masyarakat sebesar 32,1%, pengusaha sebesar 32,1%, akademisi/LSM sebesar 10% dan saudara 93,3%.  Untuk meningkatkan keberdayaan petani agar mampu menjalankan usahataninya secara berkelanjutan serta meningkatkan nilai tambah, diperlukan adanya kemitraan yang dapat dilakukan melalui Strategi Pemberdayaan.  
RELASI JARINGAN ORGANISASI PEMUDA DALAM PEMILIHAN GUBERNUR SUMATERA UTARA Amin, Muryanto
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2951

Abstract

Penelitian ini dilatari oleh munculnya para ”preman” sebagai aktor lokal di Sumatera Utara yang berperan mendukung Syamsul Arifin sebagai calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008. Sebagian aktor lokal itu berasal dari kader Pemuda Pancasila. Mereka mengandalkan kekerasan dan uang yang dimiliki untuk memperoleh serta memaksimalkan akses sumber daya dari pemerintah daerah. Untuk menjelaskan model relasi jaringan yang digunakan Pemuda Pancasila sebagai modal memenangkan calon gubernur yang didukung, penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan studi kasus dan analisis tipologi dipilih sebagai sebagai cara untuk menyusun interpretasi atas data tertulis, wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model relasi yang terjalin antara Pemuda Pancasila dengan birokrasi, pengusaha, dan media cetak lokal dilakukan atas dasar hubungan yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme. Jalinan relasi jaringan tersebut dilakukan dengan cara yang beragam, saling mengait, dan penuh intrik untuk mempertahankan akses kekuasaan dan memanfaatkan sumber daya yang dikuasai. Pemuda Pancasila tetap ingin memperoleh akses sumber daya yang dikuasai negara di tingkat lokal. Sementara, para pejabat birokrasi, pengusaha, dan pengelola media cetak lokal membutuhkan kekuatan Pemuda Pancasila untuk mempertahankan kekuasaan dan usaha mereka seperti menghindari ancaman dan menjaga keamanan di lokasi-lokasi kekuasaan dan usaha mereka. The background of this study is the emergence of “gangsters”—some of whom were cadres of Pemuda Pancasila—as local actors who played an important role to support Syamsul Arifin as governor candidates in North Sumatera. They rely intimidated with violence and money to gain access resources from the local government and maximize them. This study used qualitative methods that would explain network relation models of Pemuda Pacasila used as capital backed winning candidate for governor. The qualitative analysis with typology technique is chosen as a way to arrange interpretations on data—written materials, in depth interviews, and observations. The findings showed that the network relation models among Pemuda Pancasila, bureaucracy, businessman, and local print media was performed based on mutualistic symbiosis. Interwoven network of relationships is done in stepwise manner, interlocking, full of intrigue, and power to maintain access and utilize resources owned. Pemuda Pancasila still want to gain resources accsess that local state controlled. While bureaucrats, businessman, and local media managers need strength of Pemuda Pancasila to maintain their power and attempt to avoid such threats and security at sites and their efforts.
Persepsi Masyarakat Sekaran Tentang Konservasi Lingkungan Luthfi, Asma; Wijaya, Atika
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2290

Abstract

Isu konservasi lingkungan menjadi sebuah studi yang menarik belakangan ini karena efek dari global warming sudah semakin dirasakan oleh manusia. Kebijakan nasional dan international dengan perspektif konservasi lingkungan semakin dikuatkan, begitu pula dengan Unnes dengan visi kampus konservasinya. Selain kebijakan tersebut, komunitas lokal sebenarnya memiliki persepsi sendiri tentang konservasi lngkungan dari sistem nilai dan pengetahuannya. Tujuan penelitian ini adalah melihat persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan dan penerapan persepsi dalam aktivitas masyarakat. Metode yang digunakan adalah kuliatatif untuk memperoleh data yang akurat dan valid. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat sebagai petani. Tingkat ketergantungan pada lingkungan membentuk persepsi akan konservasi melekat pada pola hidup keseharian mereka. Tapi persepsi tersebut berubah seiring dengan perubahan sosial di masyarakat. Interaksi antara msyarakat Sekaran dengan mahasiswa sebagai pendatang mendorong perubahan pandangan tentang alam dan mata pencaharian. Ketika sistem mata pencaharian mereka tidak lagi tergantung sepenuhnya pada manajemen sumber daya alam, begitu pula percepsi akan konservasi lingkungan turut berubah. Hal ini dibuktikan dengan pola aktivitas mereka yang tidak lagi berkomitmen sepenuhnya pada konservasi lingkungan. Ritual kolektif yang dahulu berfungsi untuk pemeliharaan lingkungan, kini digantikan oleh aktivitas personal dengan makna yang sempit.  The issue of environmental conservation is an interesting study nowadays because the effect of global warming has been felt by mankind. Many national and international policies that toward environmental conservation perspective is encouraged, so did Unnes with its vision of conservation. Besides these policies, local communities actually have a perception about environmental conservation from their values and knowledge systems. The aim of this research is to find out society perception about environment conservation and the appearance of perception on the daily activities of the society. The research method is qualitative to gain accountable and valid data. Perceptions of environmental conservation can not be separated from their activities as farmers. The level of dependency on environtment makes perception of conservation is embedded well within the pattern of their daily lives. But this perception has shifted in line with social changes that occur. The presence of Unnes in their territory is the main factor of social changes in society. Interaction between Sekaran society with students as immigrant helped change their views about the nature and the occupation system. When the occupation system no longer depend entirely on the management of natural resources, so the perception of environmental conservation also shifted. This can be seen on their activity patterns that no longer has a full commitment to environmental conservation. Communal ritual that used to function as a place of transformation values of environmental conservation has been replaced with the personal activities of environmental hygiene has a narrower meaning.
Self-Conception of The Vagrants in Jakarta Rohim, Syaiful
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v7i1.3595

Abstract

This research aims to identify the self construction and communicating acts amongst the homeless while they are doing their daily activities as a vagrant in downtown Jakarta. The method being used for this research is a qualitative method with phenomenologist paradigm which aims to understand human behaviors from an experimental perspective. Result shows that vagrants, especially those who has the same profession, tend to share the area of work in order to avoid conflicts among them. Description from the subject in establishing communication with other vagrants are done by sharing area of expertise from himself and other vagrants. Results also showed that almost all the subjects tend to close their “darker” side from others who don’t know that they are vagrants by impression management. These people came into existence not only because of a poor culture which shows nomadic type of living habit, but it’s also because of the structure and vast majority which sees them with a negative stigma for every type of occupation they choose including a forced action because they were left without any choices other being a vagrant.  
POLITIK RELASI ETNIK: MATRILINEALITAS DAN ETNIK MINORITAS CINA DI PADANG, SUMATRA BARAT Alfirdaus, Laila Kholid; Hiariej, Eric; Risakotta, Farsijana Adeney
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2941

Abstract

Relasi etnik Minang dan etnik Cina di Padang, Sumatra Barat, menarik untuk dikaji. Melalui desk-study atas kajian Minang dan Cina, yang diperkuat dengan penelitian lapangan pada 2010 dan 2013 secara kualitatif dengan wawancara dan observasi, tulisan ini menemukan bahwa tidak cukup melihat relasi etnik Minang dan Cina dari perspektif ekonomi politik. Kita perlu memberikan perhatian terhadap faktor budaya dan budaya politik masyarakat Minang di Padang yang bercorak matrilineal. Jika literatur yang ada cenderung deterministik, menghasilkan dua pandangan yang secara ekstrem berbeda, yang dalam artikel ini disebut pandangan “manis” dan “sinis”, tulisan ini berargumen sebaliknya. Relasi etnik Minang dan etnik Cina tidak bisa secara buru-buru disebut “manis” hanya karena etnik Cina telah menetap dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial ekonomi Padang sejak zaman penjajahan, atau karena Padang relatif minim kerusuhan dibandingkan kota lainnya. Demikian juga, ia tidak bisa serta merta dilihat secara “sinis” hanya karena segregasi sosial terlihat lebih kentara. Tulisan ini berargumen bahwa dua wajah yang secara bersamaan terjadi tidak lepas dari bentukan budaya Minang yang lekat dengan nilai-nilai matrilineal yang tertuang dalam ide feministik Bundo Kanduang Inter-etnic relations between Minang and Chinese in Padang, West Sumatra, that looks different compared to other societies in Indonesia is interesting to discuss. Through  a desk study about Minang and Chinese, being strengthened with fieldworks in 2010 and 2013 using qualitative methods in which in-depth interview and non-participatory observations, this article found that political economy perspective being used to explain Minang-Chinese relations is not enough. We need to pay attention on culture and political culture of Minangkabau society in Padang, that is matrilineal in the nature. While the existing lieratures tend to strictly classify the relations into “sweet” and “cynical” (good and bad relations), this article argue the contrary. The relatively long encounter of Chinese with Minang in Padang as well as the less conflicts (mass violence) against Chinese compared to the other regions could not be simply categorized as “manis” (sweet relations). Similarly, we should not undermine the good relations between Minang and Chinese, existing in some ocassions merely as formalistic practices just because of segregation in Minang and Chinese’s residential areas. This article argues that the twocontrary  but inseparable faces of Minang-Chinese’s relations are inseparable from the Minangkabau culture that is matrilineal in the nature, as manifested in Bundo Kanduang containing the idea of femininity.
THE ROLE OF RELIGION AND AGRICULTURAL TECHNOLOGY IN SOCIAL TRANSFORMATION Saputro, M. Endy
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i1.2393

Abstract

Tujuan penelitan ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana agama dan teknologi pertanian dapat memberdayakan masyarakat dan mendorong sebuah transformasi sosial. Survei dan wawancara diterapkan guna mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Objek penelitian ini adalah komunitas petani di Banjarnegara yang tergabung dalam organisasi petani yang difasilitasi oleh organisasi massa islam Muhammadiyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama, dalam hal ini ajaran agama yang dipegang erat oleh organisasi massa Islam (Muhammadiyah) dapat meningkatkan kondisi ekonomi sebuah komunitas petani di Banjarnegara. Muhammadiyah memfasilitasi komunitas petani tersebut untuk menerapkan teknologi pertanian yang tepat sehingga dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa agama dan teknologi pertanian memainkan peranan penting dalam memberdayakan masyarakat dan membawa transformasi sosial bagi komunitas petani di Banjarnegara. The objective of this study is to reveal how religion and agricultural technology can empower a peasant community and foster a social transformation. Survey and interview were implemented to gain the data. The object of the study was a community of peasants in Banjarnegara district that belong to a peasant organization facilitated by Muhammadiyah. The results show that religion, in this case is religious teaching tightly-hold by an Islamic mass organization (Muhammadiyah), can improve the economic condition of a community of peasants in Banjarnegara. Muhammadiyah facilitated the peasants community to apply a proper agricultural technology which can improve the crops significantly.  The study conclude that religion and agricultural technology play a great role in empowering society and bring about social transformation for peasants community in Banjarnegara.

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue