cover
Contact Name
Mochamad Rochim
Contact Email
mochammad.rochim@unisba.ac.id
Phone
+6224-8508013
Journal Mail Official
yasir.alimi@gmail.com
Editorial Address
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas/about/editorialTeam
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE
ISSN : pISSN246     EISSN : eISSN246     DOI : DOI: 10.15294/komunitas.v8i1.4516
Core Subject : Education, Social,
Di Data GARUDA saya, jurnal KOMUNITAS yang diterbitkan oleh UNNES belum terakreditasi, seharusnya sudah terakreditasi SINTA 2 sesuai data SINTA. https://sinta.kemdikbud.go.id/journals?q=komunitas
Articles 855 Documents
PANDATARA DAN JARLATSUH: MODEL PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SMA TARUNA NUSANTARA MAGELANG Octaviani, Laila
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i1.2383

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas model pendidikan multikultural di SMA Taruna Nusantara (TN) Magelang Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Implementasi pendidikan multicultural tercermin dalam beberapa aspek: (1) aspek visi dan misi, (2) kehidupan keseharian peserta didik; (3) kegiatan seni yang dikenal dengan nama pandatara, (4) nilai-nilai yang dikembangkan di SMA TN berkaitan dengan wawasan kebangsaan, kejuangan, dan kebudayaan; serta (5) proses pendidikan melalui tahap-tahap pembentukan kepribadian dan karakter melalui jarlatsuh (pengajaran, pengasuhan, dan pelatihan). The objective of this study is to discuss the implementation and a model of multicultural education in Taruna Nusantara (TN) high school, Magelang, Central Java. The research method used in this study is phenomenological approach. The study shows that the implementation of multicultural education is reflected in several aspects: (1), vision and mission; (2) daily life activities of the learners; (3) activities related to culture and arts, which are called pandatara; (4) the values associated with the concept of nationalism, effort, and culture; and (5) the implementation of developmental stages of the personality and character of the students through jarlatsuh which include teaching activities, care, training.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INKUIRI SOSIAL PADA MATERI INTERAKSI SOSIAL MATA PELAJARAN SOSIOLOG Wirawan, Andri
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v2i2.2286

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran inkuiri di SMA Wahid Hasyim Tersono. Apa saja kendala dalam pengembanganpembelajaran inkuiri sosial tersebut dan bagaimana upaya mengatasi kendala dalam pengembanganpembelajaran inkuiri disekolah tersebut? Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran inkuiri sosial di SMA Wahid Hasyim Tersono sangat mempengaruhi sistem pembelajaran siswa di sekolah. Siswa dapat menemukan hal-hal yang baru yang terjadi dalam interaksi sosial seperti hubungan antar siswa, siswa dengan guru atau dalam masyarakat sehingga dapat memberikan akibat siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran maupun pergaulan sehari-hari. Kendala-kendala yang dihadapi  antara lain siswa yang tidak setara SDMnya, guru yang sulit menyetarakan masalah dengan materi dan keterbatasan waktu, sarana prasarana yang kurang kondusif dalam proses pembelajaran.The purpose of this study is to describe the implementation of inquiry learning in Wahid Hashim Tersono High School. What are the obstacles in the development of social inquiry learning and what efforts are used to overcome the obstacles in the development of inquiry learning? The results shows that the implementation of social inquiry learning in school Wahid Hashim Tersono shapes student’s creativity in the school. Students can discover new things that are happening in social interactions such as the relationship between students, between studentsand  teacher, and students with the community. It can be said that the method helps students become more active in learning and daily life. The constraints of the methodinclude the different level of students’ capacity, a teacher difficult to equate with material issues and time constraints, and a lack of infrastructure conducive to the learning process.
PLURALITAS AGAMA DALAM KELUARGA JAWA Prasetyo, Agus
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i1.2374

Abstract

Dalam masyarakat Jawa terdapat pemahaman dan pemaknaan sendiri terhadap agama yaitu ”agami ageming aji”. Artinya apa pun agama yang dipeluk sama saja karena semua agama mengajarkan keselamatan. Oleh sebab itu menjadi sebuah fenomena menarik di kalangan masyarakat Jawa karena mereka cenderung lebih toleran dalam menyikapi perbedaaan dan keragaman beragama. Salah satu contoh masyarakat yang menghargai pluralitas agama adalah masyarakat Desa Getas Kaloran Temanggung. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan tentang sejumlah keluarga yang dapat menerima pluralitas agama dan toleransi terhadap pluralitas agama dalam keluarga Jawa. Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah masyarakat Desa Getas yang memiliki keragaman agama dalam keluarganya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Desa Getas dapat menerima pluralitas agama karena menurut mereka agama adalah urusan pribadi seseorang jadi tidak ada pihak yang dapat memaksakan suatu keyakinan kepada individu lain. Pluralitas agama tersebut tidak menimbulkan masalah berarti karena masyarakat memiliki derajat toleransi yang tinggi antar anggota keluarga, yang ditunjukkan melalui saling menghargai dan mengormati dan tidak mencampuri urusan keagamaan orang lain, serta saling membantu antar anggota keluarga untuk memperlancar kegiatan ibadah masing – masing. In Javanese community there is a specific principle on the meaning of religion, namely ”agami ageming aji”. This pilosophy means whatever religion people believe, it doesn’t matter because they all teach salvation. This is an interesting phenomenon among the Javanese community because they tend to be tolerant in dealing with differences and diversity of religion that happen in one household. The objective of this article is to discuss the practices of religious tolerance found in a rural community of Getas, Kaloran, Temanggung Central Java. Techniques of data collection is done by interviews and observation. The study subjects were villagers of Getas, which has a diversity of religion in families. Based on the research results, it can be concluded that the villagers embrace a tradition of religious pluralism because they think religion is one’s personal affairs so that no party can impose a conviction for another individual. The plurality of religion does not cause significant problems because the public has a high degree of tolerance among family members, which is demonstrated through mutual respect and attitude not to interfere in religious affairs of others, and mutual help among family members to facilitate the worship activities of their relatives.
KAJIAN STRATEGI ADAPTASI BUDAYA PETANI GARAM Pri Haryatno, Dhedy
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2414

Abstract

Bledug Kuwu merupakan fenomena semburan lumpur yang mengandung garam sehingga dimanfaatkan sebagai garam dapur. Profesi sebagai pembuat garam dapur yang dilakukan penduduk sekitar dalam sepuluh tahun terakhir ini telah mengalami penurunan cukup drastis yaitu dari seratus orang pada tahun 2000 menjadi hanya enam orang pada tahun 2010. Dalam penelitian ini penulis menggambarkan strategi adaptasi budaya petani garam. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif serta teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Lokasi penelitian adalah di desa Kuwu, Grobogan. Hasil penelitian menunjukkan adanya permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh petani garam yakni perubahan cuaca yang tidak menentu, kondisi lumpur yang selalu berubah, dan karakteristik air garam. Untuk menghadapi problem lingkungan, petani garam melakukan adaptasi kultural yaitu menghindari bahaya yang ada di lingkungan. Selain itu, petani juga memiliki keterbatasan dalam teknologi pembuatan garam. Juga ditemukan perubahan teknologi yang digunakan dalam pembuatan garam seperti klakah, blonjong, siwur, kepyur, payon, ember, dan kerik juga harus dilakukan. Ada juga upaya lain antara lain melalui perilaku penimbunan garam, membuat peralatan pembuat garam sendiri, dan mencari pekerjaan sambilan lain yang dapat menjadi alternatif pemenuhan ekonomi warga. Sementara itu dukungan secara moral dan material dari pemerintah juga sangat dinantikan.Bleduk Kuwu is a salt mudflow phenomena in Kuwu Grobogan that can processed into table salt. Profession as salt makers in the last ten years has decreased quite dramatically, from a hundred people in 2000 to just six people in 2010. The objective of this study is to explore the adaptation strategy of the salt peasant in Kuwu Grobogan. In this study, the author uses a qualitative approach to its base, with observation techniques, interviews, and documentation in its data collection. The research found that the challange of salt farmers are environmental problems, which include erratic weather changes, the ever-changing sludge conditions, and characteristics of salt water. To deal with environmental problems, salt farmers adapt culturally to avoid the dangers that exist in the environment. Changes in technology used in the manufacture of salt as klakah, blonjong, siwur, kepyur, payon, buckets, and kerik is also observed. There are also other strategies, which include salt buildup, making their own salt-making equipment, and look for other jobs for economic fulfillment. Meanwhile, the moral and material support from the government is also highly needed.
TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA MASYARAKAT PERUMAHAN Faridah, Ika Fatmawati
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i1.2368

Abstract

Perumahan modern yang anggota masyarakatnya terdiri dari penganut agama yang berbeda sangat rentan terhadap konflik. Tetapi pada masyarakat warga Perumahan Penambongan yang dikaji dalam penelitian ini, perbedaan latar belakang keagamaan tidak membuat mereka berkonflik. Hal ini disebabkan oleh adanya toleransi antar umat beragama yang tinggi dan interakasi sosial yang berkembang dengan baik di Perumahan Penambongan. Toleransi yang tinggi antar umat beragama terlihat dengan tidak pernah terjadi konflik terbuka antarumat beragama, bahkan diantara mereka terjadi kerjasama antara kelompok agama yang satu dengan kelompok yang lainnya. Mereka berpandangan bahwa agama dan keyakinan merupakan urusan pribadi masing-masing dimana terdapat kesadaran untuk saling menghormati dan adanya kesepakatan untuk tidak mengganggu keyakinan orang lain. A modern village, inhabited by people of different religious backgrounds are vulnerable to religious conflict. But the village residents of Penambongan studied in this article tell different stories. Religious differences in the village do not develop into conflict due to high religious tolerance and social interaction that thrive in Penambongan Village. There have never happen open conflict among religious believers in the village, even there are intensive cooperation between religious groups that contribute to religious harmony. Most of the residents argue that religion and belief is a private affair, that there should be mutual respect, and there should be awareness not to interfere with others’ beliefs among the residents.
FAKTOR STRUKTURAL DAN KULTURAL PENYEBAB KESENJANGAN SOSIAL: KASUS INDUSTRI BATIK PAMEKASAN MADURA Sutopo, Oki Rahadianto
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2741

Abstract

AbstrakSecara teoretis, pembangunan ekonomi diandaikan akan menghasilkan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Pasca ditetapkan sebagai sentra batik, yang terjadi di Kecamatan Proppo Pamekasan Madura justru sebaliknya, tingkat prasejahtera warga berdasarkan alasan ekonomi justru tertinggi di antara kecamatan yang lain. Dengan menggunakan metode kualitatif secara spesifik dengan teknik wawancara mendalam dan observasi, sebagai studi awal analisis dalam artikel ini akan menjelaskan mengenai faktor struktural, kultural serta proses reproduksi sosial yang menyebabkan kesenjangan sosial tersebut. Reproduksi struktur sosial yang timpang menyebabkan distribusi kuasa juga tidak merata, menciptakan relasi dominasi subordinasi dan pada prosesnya akses juga tidak merata. Struktur sosial yang timpang ini diperkuat dengan kultur patriarkhis yang semakin meneguhkan kesenjangan sosial. AbstractTheoretically, economic development will create equality of wealth distribution to  people. This is not the case in Proppo disctrict Pamekasan Madura after being declared as one of Batik centre, Proppo has the highest rate of disadvantaged people compared to other districts. Using qualitative method, specifically in-depth interview and observation, this article  explains the structural, cultural factors as well as the process of social reproduction that resulted in social inequality in Proppo district. This article concludes that the reproduction of unequal social structure results in unequal power distribution, dominant-subordinant relation and also unequality of access.This unequal social structure is also reinforced by patriarchalculture which later strengthened social inequality.© 2013 Universitas Negeri Semarang
PENDEKATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI SMA KELAS XI Riyadi, Akbar Wahyu
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i2.2315

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan penggunaan pendekatan pendidikan multikultural pada pelajaran Sosiologi SMA kelas XI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan di SMAN 4 Purworejo. Data dikumpulkan melalui metode pengamatan dan wawancara dengan guru Sosiologi SMAN 4 Purworejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik Pendekatan Pendidikan multikultural yang dilakukan oleh guru sosiologi SMA menekankan pada tiga bentuk: optimalisasi peran rasionalitas bagi siswa, praktek dan pembiasaan perbedaan pendapat. Pendekatan ini tepat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran pada materi kelompok sosial dalam masyarakat multikultural. Kendala dalam pelaksanaan pendekatan multikultural di SMA adalah, alokasi waktu pertemuan, konsentrasi siswa dalam menerima materi pelajaran yang berhubungan dengan multikultural, keterbatasan media pembelajaran yang digunakan saat pembelajaran serta minat siswa dalam belajar. Hal ini membuat guru bekerja ekstra untuk membuat variasi dalam pembelajaran agar kegiatan belajar mengajar dapat berhasil dengan baik.The objective of this article is to describe the use of multicultural education approach to the study of sociology for senior high school student class XI. This study is a qualitative study conducted in SMAN 4 Purworejo. Data were collected through a method of observation and interviews with teachers of Sociology. The results show that the characteristics of a multicultural approach to education implemented by high school sociology include three forms: teacher’s emphasis on the optimization of students’ rationality, practice and dissent habituation. This approach is appropriate for the learning activities on material of social groups in multicultural societies. Constraints in the implementation of a multicultural approach in high school include time allocation, student’s concentration, the limitations of instructional media used during the learning process, and finally the student’s interest in learning. This makes teachers work hard to make the variation in learning in order that teaching and learning activities can have good results.
EKSPLOITASI EKONOMI DAN SEKSUAL PARA PENARI LENGGER Septianingsih, Eka
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2403

Abstract

Awalnya kesenian lengger digunakan dalam upacara-upacara ritual di pedesaan serta upacara-upacara yang berkaitan dengan kesuburan. Saat ini kesenian lengger lebih mengarah pada fungsi hiburan dan komersial. Hal ini membuat penari lengger rentan terhadap eksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertunjukan lengger; bagaimana tanggapan masyarakat terhadap keberadaan penari lengger;  bagaimana bentuk eksploitasi yang dialami oleh penari lengger; dan apa respon penari lengger tentang tindakan eksploitasi itu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan analisis data interpretatif. Lokasi penelitian di desa Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa unsur yang terkait dengan bentuk pertunjukan lengger, yaitu: pemain, gerak, iringan musik, tata rias dan busana, serta tempat pementasan. Citra negatif penari lengger biasanya diasosiakan dengan gerakan tari yang erotis sehingga dapat memancing pelecehan, seperti diraba, dicolek, dipeluk dan dicium oleh para pengibing. Bentuk eksploitasi ekonomi terjadi karena tuntutan ekonomi sehingga mendorong para penari mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang.  Perlakuan tidak senonoh dari penonton merupakan bagian dari resiko profesi yang harus dijalani. Fenomena ini diharapkan dapat mendorong masyarakat dan pemerintah untuk melindungi para pelaku kesenian dari tindakan eksploitasi.Originally lengger is performed in ceremonies and rituals in rural ceremonies associated with fertility. Currently the performance of lengger has more entertainment and commercial functions. This makes the dancers vulnerable to exploitation lengger both economically and sexually. The objectiveof this study is to explore the form of lengger show, forms of exploitation experienced by dancers lengger, and the responses of the lengger dancer towards exploitation. Research methods used are qualitative approach, with interpretive data analysis. Research was done in the village Selanegara, Sumpiuh, Banyumas. The results show that there were some elements associated with this form lengger performances, namely: players, body movement, music, makeup and fashion, as well as staging. The negative image normally rise from lengger dancer’s erotic movements, which are responded by various form,s of abuse, such as touched, poked, hugged and kissed by pengibing. Economic exploitation occurs due to the economic demands so that the dancers exploit her body to get money. Dances of Lengger are very prone to sexual and economic ebuse. This phenomenon should encourage the public and the government to rethink how to to protect the dancers from exploitation.
DILEMA KEBERADAAN SEKTOR INFORMAL Sulistyo Rini, Hartati
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v4i2.2415

Abstract

Sebagai sistem ekonomi alternatif, keberadaan sektor informal mengundang pro dan kontra. Peranannya yang signifikan sebagai katup pengaman ekonomi nasional belum diimbangi dengan proteksi atau perlindungan dari pemerintah. Tujuan penelitian ini adalah membahas peran sektor informal dalam mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat dan dilema yang dialami oleh sektor informal dalam menjalankan perannya tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat peran sektor informal pada bidang ketenagakerjaan dan penyerapan angka pengangguran. Sektor formal dianggap tidak mampu menyediakan kesempatan kerja untuk seluruh lapisan masyarakat, apalagi mereka yang ada pada posisi marjinal. Pada beberapa kasus-khususnya yang berhubungan dengan sektor informal perkotaan perlakuan dan kebijakan negara menjadi sangat diskriminatif karena seringkali berhadapan dengan kebijakan negara yang bahkan berakhir dengan kekerasan.  Perlindungan terhadap sektor informal salah satunya adalah pada pedagang kaki lima di Surakarta.  Kota ini menjadi contoh representatif dalam pengorganisasian kepentingan  pemerintah  dan pedagang kaki lima. Ini dapat menjadi inspirasi positif bagi penanganan sektor informal di tempat yang lain untuk memperluas lapangan kerja bagi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan sosial. As an alternative economic system, the existence of informal sector invites pros and cons. The significant role of informal sector as a safety valve of the national economy has not been matched by government with the protection or support The objective of this study is to discuss the role of the informal sector in addressing social and economic issues, and the dilemma faced by the informal sector in carrying out this role. The results of this study shows that there is an important role of the informal sector in the field of employment and unemployment absorption. The formal sector is not considered able to provide job opportunities to all levels of society, especially those in marginal positions. In some cases, particularly with regard to the urban informal sector-treatment and state policy became very discriminatory because often faced with state policies and even lead to violence. The protection of the informal sector one is on street vendors in Surakarta. The city is become representative example in organizing between the government’s interest and street vendors. It can be a positive inspiration for handling informal sector in other places to expand employment opportunities for the community and increase social welfare.
PEMBELAJARAN SOSIOLOGI YANG MENGGUGAH MINAT SISWA Insriani, Hezti
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2300

Abstract

Mata pelajaran Sosiologi dipandang oleh sejumlah siswa sebagai mata pelajaran yang membosankan. Muatan materi sosiologi yang menyajikan banyak teori dan konsep seperti mengandung konsekuensi kepada siswa untuk menuntut semuanya dihafal secara baik. Model pembelajaran yang membosankan semakin membuat mata pelajaran ini kurang diminati oleh siswa. Strategi inovatif sudah dilakukan, namun pada prakteknya operasionalisasi model pembelajaran itu kurang efektif sehingga guru banyak yang kembali menggunakan model pembelajaran konvensional. Artikel ini ditulis untuk menyampaikan model pembelajaran Sosiologi bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan pengalaman saya mengajar. Menurut pengalaman saya, strategi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran sosiologi antara lain adalah mengajukan pertanyaan kritis, eksplorasi artikel dan gambar/foto, nonton film, penelitian sederhana, dan membuat catatan harian. Melalui startegi ini, pembelajaran yang bersifat konstruktivisme lebih mudah dioperasional. Cara ini lebih dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pembelajaran secara mandiri dan menjadikan siswa lebih dekat memahami kenyataan sosial sebagai bagian dari kehidupannya sekaligus sebagai materi pembelajaran sosiologi. Students often regard Sociology as a boring subject. The subject presents many sociological theories and concepts students to memorize. Boring method of teaching further makes the course less attractive to students. Innovative strategy have been used, but in practice the method is not effective and teachers return to conventional models. This article is written based on the author’s experience in teaching Sociology among high school students. Based on my experience, strategies that can be used to create innovative learning include asking critical questions, exploring articles and pictures / photos, analyzing movies, doing simple research, and keeping a diary. Through this strategy, constructivist learning is much easier to run. This method is better able to provide the opportunity for students to develop independent learning and make students more intensively to understand social reality as a part of his life as well as the learning materials of sociology.

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2023): September Vol 15, No 1 (2023): March Vol 14, No 2 (2022): September 2022 Vol 14, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2022): September Vol 13, No 2 (2021): September 2021 Vol 13, No 1 (2021): March 2021 Vol 12, No 2 (2020): September 2020 Vol 12, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2020): September Vol 12, No 1 (2020): March Vol 11, No 2 (2019): September 2019 Vol 11, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 1 (2019): Komunitas, March 2019 Vol 11, No 2 (2019): September Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): September 2018 Vol 10, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March 2018 Vol 10, No 1 (2018): Komunitas, March Vol 9, No 2 (2017): September 2017 Vol 9, No 2 (2017): Komunitas, September 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017 Vol 9, No 1 (2017): March 2017 Vol 8, No 2 (2016): September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 2 (2016): Komunitas, September 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 8, No 1 (2016): March 2016 Vol 8, No 1 (2016): Komunitas, March 2016 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 2 (2015): September 2015 Vol 7, No 2 (2015): Komunitas, September 2015 Vol 7, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 7, No 1 (2015): Komunitas, March 2015 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 2 (2014): September 2014 Vol 6, No 2 (2014): Komunitas, September 2014 Vol 6, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 6, No 1 (2014): Lokalitas, Relasi Kuasa dan Transformasi Sosial Vol 5, No 2 (2013): September 2013 Vol 5, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 5, No 1 (2013): Tema Edisi: Multikulturalisme dan Interaksi Sosial Vol 4, No 2 (2012): September 2012 Vol 4, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 2 (2012): Tema Edisi: Kelompok-Kelompok Sosial Anak Tiri Modernitas Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 4, No 1 (2012): Tema Edisi: Kearifan Lokal Tidak Pernah Kering Vol 3, No 2 (2011): September 2011 Vol 3, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 2 (2011): Tema Edisi: Pendidikan Karakter Perspektif Sosial Budaya Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 3, No 1 (2011): Tema Edisi: Tempat sebagai Aspek Kebudayaan Vol 2, No 2 (2010): September 2010 Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal Vol 2, No 2 (2010): Tema Edisi: Perempuan - Perempuan Marginal More Issue