cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2011)" : 27 Documents clear
CAMPURSARI MANTHOUS : ANTARA MUSIK JENIS BARU DAN FENOMENA SOSIAL MASYARAKAT PENDUKUNG -, W a d i y o; Haryono, Timbul; Soedarsono, R.M.; Ganap, Victor
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2204

Abstract

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah hubungan fenomena Campursari Manthous sebagai ‘jenis musik Jawa baru/kreasi’ dengan fenomena kondisi sosial budaya masyarakat pendukung. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian, Gunung Kidul, Klaten, Boyolali, dan Semarang. Hasil penelitian menunjukkan, Campursari Manthous merupakan paduan antara musik diatonik gamelan dengan musik non diatonik utamanya langgam dan pop. Basik  garapan Campursari Manthous ada tiga, yakni berbasis gending,  langgam, dan  pop. Melalui fenomena Campursari Manthous yang dijadikan sebagai sarana berkesenian sehari-hari oleh masyarakat pendukung dapat diketahui aspek kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Aspek kondisi sosial budaya masyarakat tersebut dikaitkan dengan aspek mentalitas. Dalam konteks ini masyarakat pendukung Campursari Manthous adalah masyarakat yang bukan kategori masyarakat  tradisional murni tetapi juga bukan masyarakat yang murni modern. The problem in this research is focused on the relationship between Campursari Manthous as a new Javanese music and social phenomena of its supporting community. This research uses sociological approach by means of descriptive-qualitative method. It was located in Gunung Kidul, Klaten, Boyolali and Semarang. The result shows that Campursari Manthous harmonizes the diatonic traditional Javanese musical instrument and non-diatonic music such as langgam and pop. The basic instruments of Campursari Manthous are three, namely gending, langgam, and pop. The phenomena of Campursari Manthous used as daily musical media by its supporting community could reveal the socio-cultural aspects of its community. These are related to mentality aspect. In consideration of this latter aspect, the community does not either characterize a purely traditional community or a purely modern one.
MAKNA SIMBOLIS DAN PERANAN TARI TOPENG ENDEL Ratnaningrum, Ika
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2205

Abstract

Tari Topeng Endel termasuk dalam jenis tari tradisional kerakyatan, karena di ciptakan oleh masyarakat setempat. Tari topeng Endel penciptaannya pada masa itu dipengaruhi oleh seni pertunjukan dari kota Cirebon, yaitu dengan adanya tari Topeng Cirebon. Tari Topeng Endel yang memiliki makna simbolik yang menjeng, lenjeh, kemayu dan genit, serta gerakan yang kasar. Makna simbolik tersebut menggambarkan karakter masyarakat Tegal sendiri khususnya kaum perempuannya. Tari Topeng Endel sendiri sudah tercatat sebagai rekor Muri, yaitu pernah menampilkan 1000 penari pada saat hari jadi kota Tegal. Setelah mendapatkan predikat rekor Muri, pemerintah kota Tegal mempopulerkan dengan  menjadikan tari Topeng Endel sebagai tarian yang dimanfaatkan sebagai upacara sakral kabupaten, sebagai hiburan dan sebagai sarana pendidikan. Dengan harapan, tari Topeng Endel bisa dikenal dan diakui oleh seluruh kalangan masyarakat kota Tegal sendiri dan masyarakat sekitarnya.Topeng Endel is one of traditional folk dances since it was created by the local people. The creation of Endel mask dance was influenced by performing arts from Cirebon, which was Cirebon Mask Dance. Endel Mask Dance has a symbolic meaning such as being effeminate, coquettish, and having rough motions. The symbolic meaning shows the characters of Tegal people especially the women. Endel Mask Dance has been noted in Muri Record for performing 1000 dancers during the anniversary of Tegal. After having the award from Muri, the local government of Tegal has popularized Endel Mask Dance as a dance used as a sacred rite at Tegal regency, as an entertainment and an education media. Tegal people hope that Endel Mask Dance will be widely known and recognized by the local people as well as by people from other towns.
KEBERADAAN KEYBOARD PADA GENDANG GURO-GURO ARON DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARAKTER MUDA- MUDI KARO Rahmah, Siti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2206

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesenian guro-guro aron pada masyarakat Karo yang menyangkut perubahan, dan pengaruh keyboard pada musik Guro-guro Aron. Pada awalnya keyboard digabungkan dengan ensambel kesenian tradisional Karo dalam mengiringi seni pertunjukan tradisional gendang guro-guro aron, namun belakangan alat musik Barat tersebut digunakan secara tunggal untuk mengiringi gendang guro-guro aron, tanpa disertai musik tradisional.  Masuknya instrumen keyboard, menambah semaraknya pertunjukan. Namun demikian, hadirnya musik keyboard memunculkan masalah yang  baru pada satu sisi, yaitu  masalah etika menjadi tidak diperhatikan bagi muda-mudi Karo sebagai penerus budaya Karo. Tata cara menari yang semakin seronok dan serampangan sering terjadi dengan atau tanpa sengaja oleh komunitas pendukungnya. Terjadinya penyimpangan dan pergeseran justru membuat survive keberadaannya. This research is meant to describe guro-guro aron musical arts of Karo community, dealing with changes and influences of keyboard on Guro-guro Aron music. Formerly, keyboard was combined with ensemble of Karo’s traditional music in accompanying gendang guro-guro aron performance. Yet, recently the western music instrument has been used as a solo instrument to accompany gendang guro-guro aron, without any traditional musical instrument. The use of keyboard embellishes the musical performance. Nevertheless, the use of keyboard causes a new problem, the indifference to local ethics of the Karo youngsters as the next generation of Karo culture. The perfunctory and vulgar dancing styles are often practiced deliberately or unintentionally by the supporting community. Yet, the changing dancing practices have indeed established its existence.
PENGEMBANGAN TEKNIK KONDAKTING DAN PENDOKUMENTASIAN DALAM MEDIA REKAM DAN CETAK UNTUK MENDUKUNG PROSES LATIHAN KONDAKTING Susetyo, Bagus
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2207

Abstract

Ada kebutuhan untuk melakukan formulasi di dalam teori dasar suara dan pengembangan agar dalam pembuatannya menjadi referensi bagi guru seni budaya di kota Semarang, dalam bentuk  pengembangan teknik dan dokumentasi  media rekam dan cetak dalam rangka memungkinkan pelaksanaan yang tepat dan lebih baik serta dalam penerapannya lebih estetis. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang dikombinasikan dengan penelitian dan pengembangan. Pengumpulan data melibatkan reduksi data, interpretasi, presentasi, dan, kemudian, verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya sinkronisasi teori dan pola dasar dan perkembangannya berdasarkan gerakan yang dilakukan oleh guru seni dan budaya dan dilaksanakan di dalam kelas. Pola-pola pembangunan meliputi: postur berdiri,  sikap, insetting dan attack. Pelaksanaan gerakan komando merupakan perkembangan tempo. 2/4, 3/4, 4/4, dan 6/8. Dalam gerakan penutupan, beberapa variasi yang dikembangkan, yaitu MOR, dan thriller. Dinamik, tempo, ekspresi dan fermata dikembangkan lebih bervariasi. There was a need for a conducting formulation under a sound basic theory and development in order to make it a reference for those teachers of arts and cultures in Semarang municipality, in the form of conducting technique development and documentation in recorded and printed media in order to enable appropriate and better implementation as well as more aesthetic conducting. The research method used was a descriptive qualitative one combined with research and development. The data collection involved data reduction, interpretation, presentation, and, then, verification. The research result indicated the presence of synchronization of theory and basic pattern of conducting and its development based on the movement practiced by teachers of arts and cultures and implemented in the classroom. Those development patterns included: standing posture, set attitude, insetting and attack. The implementation of command movement constituted the development of tempo of. 2/4, 3/4, 4/4, and 6/8. In closure movement, several variances were developed, i.e. called, MOR, and thriller. The dynamics, tempo, expression and fermata were developed more variedly.
KIDUNG SEKATEN ANTARA RELIGI DAN RITUS SOSIAL BUDAYA Utami, Hadawiyah Endah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2208

Abstract

Kidung Sekaten merupakan karya tari yang dipentaskan pada upacara gerebeg Sekaten di depan Masjid Agung Surakarta.  Perkembangan pengaruh Islam di pusat kerajaan relatif menggunakan sarana adat yang telah dipelihara masyarakat secara turun-temurun. Masyarakat setempat menerima kehadiran Islam sebagai suatu pelengkap kebutuhan rohaniah sehingga tercapai keseimbangn hidup.  Perayaan Sekaten sebagai salah satu wujud percampuran budaya  menyangkut  berbagai aspek multidimensi.  Islam  menyatu dengan kebudayaan setempat dengan cara  elastis, baik yang berhubungan dengan pengenalan simbol-simbol Islami  maupun  ritus-ritus keagamaan.  Kidung  Sekaten merupakan salah satu garapan  tari untuk mendukung upacara ritual pengucapan shahadatain di depan Masjid Agung Surakarta dengan memanfaatkan bunyi gamelan sekaten,  keramaian bunyi rebana, orang mengaji, santiswaran, Kidungan, mainan gasingan, sebagai iringan tari  yang diselenggarakan bersamaan dengan gerebeg Maulud. Sekaten chants constitute a dance performed during Gerebeg Sekaten ceremony in front of Grand Mosque of Surakarta. The development of Islamic influence in Surakarta royal palace relatively used custom rites that have socially been maintained throughout the generations. Local people accepted Islamic religion as their spiritual need for achieving life balance. Sekaten celebration as one of acculturation forms encompasses many kinds of multidimensional aspects. Islam elastically blends into local cultures, either in Islamic symbols or religious rites. Sekaten chants is one of dancing performances to endorse the ritual ceremony of Shahadatain articulation in front of the Grand Mosque by making use of Sekaten traditional musical orchestra, the jingling of tambourine, man’s praying voice, santiswaran, chants, spinning a top, as the dance accompaniment along with Gerebeg Maulud.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERTUNJUKAN MUSIK DANGDUT ORGAN TUNGGAL Andaryani, Eka Titi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2209

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  : (1) Bentuk pertunjukan dan budaya masyarakat setempat terhadap pertunjukan musik dangdut organ tunggal; (2) Persepsi masyarakat Kota Tegal terhadap pertunjukan musik dangdut organ tunggal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan cara menggambarkan atau menguraikan keadaan yang terjadi pada objek penelitian yang dalam hal ini pertunjukan musik dangdut organ tunggal di kota Tegal. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, observasi, wawancara serta dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis data deskriptif. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pertunjukan musik dangdut organ tunggal di kota Tegal seringkali dihadiri oleh banyak penonton dari berbagai tingkatan usia. Lagu-lagu yang disajikan pada pertunjukan organ tunggal sebagian besar berupa tarling dangdut. Pertunjukan musik dangdut tersebut dijadikan cerminan status sosial masyarakat Kota Tegal. This study is aimed to find out: (1) Performing Arts and Culture of local people in solo organ dangdut musical performance; (2) Tegal People’s Perception towards solo organ dangdut musical performance. This study uses descriptive-qualitative approach by describing or figuring out the facts in the solo organ dangdut musical performance in Tegal. Techniques of data collection in this research include library study, observation, interview and documenting. This research uses descriptive analysis. From this research, it is concluded that the solo organ dangdut performance in Tegal attracts more audience of different ages. The songs that are presented in the solo organ performance are mostly dangdut. The dangdut musical performance can reflect social status of Tegal people.
DESKRIPSI KUALITATIF SEBAGAI SATU METODE DALAM PENELITIAN PERTUNJUKAN -, Subandi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2210

Abstract

Seni pertunjukan merupakan salah satu manivest dari kebudayaan yang awal mulanya  dikenal sebagai seni tontonan.  Seni pertunjukan mulai menjadi perhatian setelah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan anggautanya untuk merefleksikan dirinya dalam berbagai medium. Diperlukan penelitian yang seksama dari berbagai disiplin  ilmu sosial terutama sosiologi seni untuk memperkuat landasan teori yang akan dibangun. Deskripsi sebagai sebuah model penelitian kualitatif dengan pendekatan Sosiologi seni merupakan salah model analisis yang memadai. Seni pertunjukan merupakan proses dan produk kreatifitas pencipatan seniman berkaitan erat dengan masyarakat pendukungnya. Seni Pertunjukan rentan dalam ruang, waktu dan alat, sehingga kecermatan peneliti sebagai instrumen penelitian menjadi kunci untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Performing arts is one manifestation of culture that was once known as a showbiz. Performing arts began to attract people’s interest since people and their members found the need for reflecting themselves in many kinds of medium. It is necessary to have a thorough study from various social sciences especially Art Sociology to bolster theoretical foundation. Description as a qualitative research model by means of Art Sociology approach is an appropriate analysis model. Performing arts is a process and a creative product of the artist in accordance with their supporting community. Performing arts is susceptible to space, time, and tools so that a researcher’s accuracy as a research instrument becomes the key to make a correct decision.
KIDUNG KANDHASANYATA SEBAGAI EKSPRESI ESTETIK PESINDEN WANITA MARDUSARI -, Darmasti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2211

Abstract

Salah satu karya sastra berbahasa daerah yang berbentuk puisi adalah macapat. Macapat bila disuarakan dinamakan tembang macapat. Tembang macapat termasuk seni vokal yang bersifat mandiri atau sajian vokal yang menyertai gamelan. Pada masa Mangkunagara VII, muncul seorang seniwati profesional di bidang tari dan karawitan, memiliki kemampuan sebagai pesindhen, penyusun teks sindhenan berbentuk karya sastra, yang berpengaruh hingga sekarang didunia olah vocal pesinden. Kidung Kandhasanyata merupakan ekpresi estetik yang mencerminkan peristiwa serta ‘nilai-nilai’ yang berlaku. Kidung Kandhasanyata merupakan cakepan sindenan hasil karya sastra Mardusari yang berbentuk tembang mocopat. Macapat kandungan isinya berfungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampai ungkapan rasa, sarana penggambaran suasana, penghantar teka-teki, alat penyuluhan dan dilagukan berirama. One of poetic works written in local language is macapat. It is named so when it is recited. Macapat chants constitute an autonomous recitation or a vocal that accompanies traditional musical instruments. During the times of Mangkunegara VII, there was a professional female artist in dancing and karawitan (traditional music instruments), having skills as pesindhen (Javanese female singer), and in composing literary sindhenan (Javanese chants) texts, that gives influences to pesindhen (Javanese female singers) even to this present time. Kidung Kandhasanyata (Kandhasanyata chants) is an aesthetic expression that reflects prevailing events and values. This chant is cakepan of chants of Mardusari literature in the form of macapat. The contents of macapat function as the harbinger of messages, oracy media, expression of feelings, illustration of atmosphere, delivery of puzzles, instruction media, and rhythmic chants.
KESADARAN ESTETIS MENURUT HANS-GEORG GADAMER (1990-2002) -, Sunarto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2212

Abstract

Hans-Georg Gadamer (1900-2002) adalah seorang filsuf dalam bidang hermeneutika yang sangat terkenal. Menjelang pensiunnya tahun 1960, kariernya menanjak dengan diterbitkan bukunya, Wahrheit und Method atau Truth and Method. Dalam bukunya Gadamer memberikan pemahaman pada tingkatan ontologis bukan metodologis. Di sini Gadamer ingin mencapai kebenaran tidak lewat metode melainkan dengan dialektika. Alasannya, dengan dialektika mengandaikan suatu kebebasan dalam mengajukan berbagai pertanyaan dibanding dalam proses metodis. Berangkat dari hal tersebut Gadamer merambah ke persoalan estetik (seni). Gadamer mengatakan bahwa dalam estetis ditemukan kebenaran, tetapi bukan kebenaran melalui metodis (penalaran) melainkan kebenaran yang menurut faktanya “berlainan dengan kebenaran metodis”. Gadamer juga mencetuskan tentang konsep “permainan”. Hans-Georg Gadamer (1990-2002) is a famous philosopher in Hermeneutics. During his retirement in 1960, his career escalated by the publishing of his book, Wahrheit und Method or Truth and Method. In his book, Gadamer gives an ontological and not a methodological understanding. In this case, Gadamer wanted to achieve the truth, not through method but by dialectics. The reason is that the dialectics enables people to imagine freedom in proposing various questions rather than those in methodical process. Starting from these things, Gadamer explored more on aesthetic subjects (arts). Gadamer said that in aesthetics, he found truth, but not the truth through methodical process (reasoning) but the truth based on its facts, “different from its methodical truth.” Gadamer also proposed a concept of “games.”
KIDUNG SEKATEN ANTARA RELIGI DAN RITUS SOSIAL BUDAYA Utami, Hadawiyah Endah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2208

Abstract

Kidung Sekaten merupakan karya tari yang dipentaskan pada upacara gerebeg Sekaten di depan Masjid Agung Surakarta.  Perkembangan pengaruh Islam di pusat kerajaan relatif menggunakan sarana adat yang telah dipelihara masyarakat secara turun-temurun. Masyarakat setempat menerima kehadiran Islam sebagai suatu pelengkap kebutuhan rohaniah sehingga tercapai keseimbangn hidup.  Perayaan Sekaten sebagai salah satu wujud percampuran budaya  menyangkut  berbagai aspek multidimensi.  Islam  menyatu dengan kebudayaan setempat dengan cara  elastis, baik yang berhubungan dengan pengenalan simbol-simbol Islami  maupun  ritus-ritus keagamaan.  Kidung  Sekaten merupakan salah satu garapan  tari untuk mendukung upacara ritual pengucapan shahadatain di depan Masjid Agung Surakarta dengan memanfaatkan bunyi gamelan sekaten,  keramaian bunyi rebana, orang mengaji, santiswaran, Kidungan, mainan gasingan, sebagai iringan tari  yang diselenggarakan bersamaan dengan gerebeg Maulud. Sekaten chants constitute a dance performed during Gerebeg Sekaten ceremony in front of Grand Mosque of Surakarta. The development of Islamic influence in Surakarta royal palace relatively used custom rites that have socially been maintained throughout the generations. Local people accepted Islamic religion as their spiritual need for achieving life balance. Sekaten celebration as one of acculturation forms encompasses many kinds of multidimensional aspects. Islam elastically blends into local cultures, either in Islamic symbols or religious rites. Sekaten chants is one of dancing performances to endorse the ritual ceremony of Shahadatain articulation in front of the Grand Mosque by making use of Sekaten traditional musical orchestra, the jingling of tambourine, man’s praying voice, santiswaran, chants, spinning a top, as the dance accompaniment along with Gerebeg Maulud.

Page 1 of 3 | Total Record : 27


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue