cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2013): December 2013" : 18 Documents clear
ANALISIS KEBUTUHAN GURU SENI MUSIK DALAM KONTEKS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS ACTION LEARNING DI SEKOLAH Utomo, Udi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2777

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendiskripsikan kompetensi yang diperlukan para calon guru seni musik dalam konteks pelaksanaan pembelajaran berbasis action learning dan kendala-kendala yang dihadapinya. Artikel hasil penelitian ini merupakan temuan pada tahap kegiatan analisis konteks penelitian pengembangkan materi ajar mata kuliah keahlian Program Studi Pendidikan Seni Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian pengembangan yang diadaptasi dari desain penelitian model spiral yang dikembangkan oleh Cennamo dan Kalk. Berdasarkan data yang diperoleh pada kegiatan analisis konteks yang terkait dengan kebutuhan yang diperlukan dalam penelitian pengembangan materi ajar mata kuliah keahlian Program Studi Pendidikan Seni Musik dalam Konteks Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Action Learning ini diperoleh informasi pentingnya beberapa hal seperti: (1) penguasaan konsep dan simbul-simbol musik yang diperoleh melalui berbagai pengalaman musikal (bernyanyi, bermain alat musik, berkreasi  musik, dan lain-lain); (2) strategi pembelajaran seni musik yang mencakup metode, kegiatan pembelajaran, dan media pendukung; (3) kemampuan memainkan alat musik pengiring seperti keyboard, piano atau gitar; dan (4) kemampuan menciptakan lagu model yang diperlukan dalam pembelajaran seni musik.This study aims to identify and describe competencies required by students of   music education in the context of action learning-based and learning constraints that their face. This article is the result of research findings in the step of context analysis of development research  of subject matter expertise, Musical Arts Education Program, Faculty of Languages and Arts, Semarang State University.  The study was conducted by the development  research approache adapted of the research model design developed by Cennamo and Kalk. Based on the data obtained in the context of analytical work related to the research needs required in the course of teaching material development expertise at Music Education Program Implementation in  the context of action learning-based is obtained the importance  information of things such as: (1) mastery of concepts and music symbols obtained through a variety of musical experiences (singing, playing musical instruments, creating music, etc.), (2) the art of music learning strategy  includes methods, learning activities, and media support, (3) the ability to play a musical instrument such as keyboards, piano or guitar , and (4) the ability to create a song model required in music learning.
MAKNA SIMBOLIK SENI BEGALAN BAGI PENDIDIKAN ETIKA MASYARAKAT Lestari, Peni
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2782

Abstract

Kesenian Begalan merupakan seni pertunjukan yang memberi keuntungan pada masyarakat karena di dalam acara inti seni hiburan tersebut mengandung nasehat perkawinan dengan mengungkapkan arti simbolik tersirat yang ditunjukkan dalam bentuk properti, seperti ian, ilir, kukusan, pedaringan, layah, muthu, irus, siwur, beras, wangkring, sapu sada, suket, cething, daun salam, dan tampah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan: (1) bentuk seni pertunjukan Begalan, (2) arti simbol-simbol yang terkandung dalam brenong kepang (properti pertunjukan), (3) nilai etika masyarakat Begalan yang terkandung dalam seni pertunjukan. Digunakannya metode kualitatif dalam penelitian adalah agar terdapat diskusi dengan mengekspos subyek dan obyek penelitian sesuai dengan fakta-fakta yang ditemui di lapangan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sarannya adalah agar pemerintah Banyumas perlu membuat kebijakan untuk mengembangkan seni Begalan, nilai-nilai pendidikan etika dapat diterapkan dalam kehidupan. Seni Begalan dapat dimasukkan sebagai materi subjek seni dan budaya di sekolah, khususnya di Banyumas. Begalan is an art performance that gives benefits to the community because the essence of the show contains the advice of marriage by breaking the symbolic meanings implied in the form of show properties, such as ian, ilir, kukusan, pedaringan, layah, muthu, irus, siwur, rice, wangkring, sada broom, suket, cething, laurellike leaves, and tampah. The study aims to determine: (1) the forms of Begalan performance, (2) the meaning of the symbols contained in brenong kepang (the properties of the performance), (3) the value of ethics for Begalan people reflected in the performing arts. The use of qualitative method in research intend to get the discussion of the issue conducted by exposing a state subject and object of research in accordance with the facts encountered in the field. The collection of data uses observation techniques, interviews, and documentation. The suggestion is that Banyumas government should create policies to preserve and develop Begalan performing arts in which ethical values can be applied in life. Begalan performing arts can be included as a subject of art and culture in schools, especially in Banyumas.
MAKNA SIMBOLIK TARI BEDHAYA TUNGGAL JIWA Pebrianti, Sestri Indah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2778

Abstract

Bedhaya Tunggal Jiwa merupakan  elemen penting dalam upacara Grebeg Besar. Pada penelitian ini fenomena yang menarik untuk dikaji (1) Mengapa tari Bedhaya Tunggal Jiwa dipertunjukkan, (2) Bagaimana bentuk pertunjukan, dan (3) Apa makna simbolik yang terkandung pada tari Bedhaya Tunggal Jiwa. Di dalam memahami fenomena yang terjadi pada Bedhaya Tunggal Jiwa, penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggali berbagai data lapangan dalam menjelaskan mengenai persoalan yang terjadi. Perolehan data lapangan itu kemudian diolah dan dituliskan dengan metode deskriptif analisis dengan pendekatan etnokoreologi. Bedhaya Tunggal Jiwa merupakan salah satu unsur budaya masyarakat Demak, yang dipertunjukkan sebagai bagian dari rangkaian upacara tradisi Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Kehadirannya sebagai kebutuhan estetis manusia serta menimbulkan keserasian manusia dan lingkungannya. Unsur yang ditampilkan pada pertunjukan Bedhaya Tunggal Jiwa terdiri dari beberapa eleman di antaranya: penari, gerak, pola lantai, musik, rias, busana, properti dan tempat pementasan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolik Bedhaya Tunggal Jiwa sebagai gambaran menyatunya pejabat dengan rakyat dalam satu tempat untuk menyaksikan tari Bedhaya Tunggal Jiwa sehingga tampak sebuah kekompakkan, kedisiplinan dan kebersamaan langkah untuk menggapai cita- cita. Unsur-unsur simbolik ditunjukan pada peralatan yang digunakan dalam rangkaian upacara, tindakan yang dilakukan penari, arah dan angka,  integritas dan sosial kemasyarakatan. Makna simbolik terdapat pada gerak, pola lantai, kostum, iringan tari, dan properti yang sesuai dengan kondisi sosial budaya Kabupaten Demak. Keseluruhan menggambarkan kegiatan hubungan vertikal dan horisontal umat manusia. The Bedhaya is the important element in Grebeg Besar ceremony. In this research, the phenomenon that will be interesting to be studied are (1) Why Bedhaya Tunggal Jiwa dance is showed?, (2) How the pattern of the show is?, and (3) What the symbolic meaning of Bedhaya Tunggal Jiwa dance is?. In understanding the phenomenon happened in Bedhaya Tunggal Jiwa, this research applies the qualitative method to discover all the field data in explaining the problems occur. The result of field data, processed and written in descriptive analysis method etnokoreologi approach. That approach is done by textual and contextual analysis. The textual study, can lineout or describe in detail about the structure in Bedhaya Tunggal Jiwa dance, while the contextual study can reveal socio-cultural condition the residents in Demak regency. Bedhaya Tunggal Jiwa is one of the cultural elements in Demak society that is showed as a part of series traditional ceremony Grebeg Besar in Demak regencey. The presences human aesthetic need and also create the harmony of human and their environment. The performance of Bedhaya Tunggal Jiwa consists of several elements, including: motion, floor pettern, music, make up, clothing, properties and place of performing that overall is simple. The research result shows that Bedhaya Tunggal Jiwa is understood as teaching of life that cantains togetherness, unity and discipline to archive the useful purpose of live individually or in group. The symbolic meaning is contained in motion, floor pattern, costume, dance accompaniment, and properties that appropriate with the socio-cultural condition in Demak regency. The symbolic elements showed in the equipment that is used in the ceremonial series, the dancer actions, directions and number, integrity and social. The whole show vertical and horizontal relation activities of human being.
SHAMANISME: FENOMENA RELIGIUS DALAM SENI PERTUNJUKAN NUSANTARA -, Sunarto
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2783

Abstract

Budaya Shamanisme ini telah memberikan kepada Nusantara musik ritual dengan waditra: gendang, gong, dan kecrek; dengan pertunjukan yang mempunyai maksud untuk memuliakan arwah para leluhur. Bentuk seni yang ditampilkan, seperti: tari topeng. Budaya ini juga telah membawa skala Pentatonik yang berasal dari tradisi Melayu-Nusantara untuk wilayah belahan barat, dan tradisi Asiatik untuk belahan Timur. Hal tersebut mirip dengan paham Cina kuno (3500 SM), yang memandang musik sebagai seni yang mengungkapkan persatuan sorga dan bumi. Konsep seni adhiluhung (yang berarti damai dan agung) dalam Gamelan Jawa diturunkan dari paham tersebut. Sedangkan dalam Hinduisme menganggap musik sebagai Yoga untuk bersatu dengan Brahman dan sarana pengembangan rasa estetis-religius. Suhardjo Parto dalam Disertasinya, Folk Traditional as a Key to the Understanding of Music Cultures of Java and Bali (Osaka University, 1990), membuat peta dengan sebutan wilayah etnomusikologis “Indonesia Barat Daya”: suatu wilayah yang terbentang dari Sumatra Selatan, Jawa (Madura), Bali, dan Lombok. This Shamanism culture has given the archipelago music: ritual music of waditra: drums, gongs, and kecrek; with performances that had the intention to honour deceased ancestors. The form of the performance art shown is Tari Topeng (mask dance). This culture has also brought a pentatonic scale derived from the Malay-Indonesian tradition in the Western hemisphere to Asiatic tradition in the Eastern hemisphere. It is similar to ancient China concept (3500 BC), which looked at music as an art that expresses the unity of Heaven and Earth. This is from which the concept of art adhiluhung (peaceful and great) in Javanese Gamelan is derived. Hinduism considers music as Yoga for uniting with Brahman and a means of developing a sense of the aesthetic-religious. Suhardjo Parto in his dissertation, Traditional Folk as a Key to the Understanding of Music Cultures of Java and Bali (Osaka University, 1990), made a map as the ethnomusicologist “Southwest Indonesia”: an area stretching from South Sumatra, Java (Madura), Bali, and Lombok.
SEJARAH MUSIK SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN ILMIAH UNTUK BELAJAR TEORI, KOMPOSISI, DAN PRAKTIK MUSIK Martopo, Hari
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2779

Abstract

Dalam ranah pendidikan music, mata sejarah musik memiliki fungsi paling dasar dan penting sebagai pengetahuan ilmiah bagi semua mata pelajaran dan minat-minat studi yang terkait dengan bidang studi musik. Sejarah musik sangat bermanfaat untuk belajar teori-teori (musicology), atau penciptaan musik (composition), dan juga praktik-praktik vokal maupun instrumen musik (performance). Sekalipun sejarah musik penting sebagai pengetahuan ilmiah, tetapi perlu dilengkapi dengan sumber informasi tambahan antara lain pengetahuan tentang kebudayaan; sejarah filsafat; sejarah umum; perkembangan teknologi dan sains; bahkan mitologi. Artikel ini diharapkan akan dibaca dan bermanfaat bagi siapa saja terutama para pelajar musik dan juga termasuk para pengajar sejarah musik. Pembelajaran sejarah musik dapat dieksplorasi agar menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan mencapai tujuannya yakni sebagai ilmu pengetahuan ilmiah musik. In the domain of music education — the history of music has the most basic and important function as scientific knowledge for all subjects and interests – the interests of related subjects with majors in music. It is very beneficial to learning theories (musicology), or music creation (composition), and also practices of vocals and music instruments (performance). Though it is important as scientific knowledge, but it needs to be complemented by additional information sources like knowledge of culture, the history of philosophy, public history, the development of technology and science, and even mythology. This article will hopefully be useful for anyone, especially the students and also teachers of music history. Learning music history can be explored in order to become more attractive and fun, and achieve the goal of learning; that is a source of scientific knowledge.
VALUE OF MORALITY IN MUSIC OF CONFUCIUS (551-479 BC) Budi Santosa, J.C.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2775

Abstract

In line with the basic concept of ”jen” and some things related to the virtue, Confucius emphasized on the maintenance of beauty and music. The emphasis of those two things illustrated the feeling of self-dualism that is morals and aesthetics. Talking about the development of one’s personality, Confucius said, ”Through the poetry one’s attention will grow, through the various rites one’s mentality will be set; through music one becomes perfect (Analects of Confucius, chapter 8, section 8). The maintenances of beauty and music were expected to be part of one’s sublime nature and human civilization, according to Confucius, maintenance and reasonable combination between the yen and the beauty was indeed necessary for the self perfection and the improvement from disgraceful deeds. Just like a house with a strong base had certainly a proportional shape; then, one with his opportunities to do well was supposed to be able to express it with deep thoughts (feelings) and with good manners. Sejalan dengan konsep dasar dari “jen” dan beberapa hal yang berkaitan dengan kebaikan, Konfusius lebih menekankan pada pemeliharaan keindahan dan musik. Dua hal penekanan itu menggambarkan perasaan dualisme akan diri pribadi yaitu moral dan estetika. Membicarakan tentang perkembangan kepribadian seseorang, Konfusius berkata, “lewat puisi perhatian seseorang akan tumbuh, lewat berbagai upacara tabiat seseorang diatur; lewat musik seseorang menjadi  sempurna (Ana¬lects of Konfusius, bab 8, seksi 8). Pemeliharaan keindahan dan musik diharapkan mampu menjadi bagian dari sifat luhur seseorang dan peradaban masyarakat menurut Konfusius, pemeliharaan dan kombinasi yang wajar antara yen dan keindahan memang perlu untuk kesempurnaan diri dan perbaikan dari sifat-sifat tercela. Seperti halnya sebuah rumah dengan pondasi (dasar) yang kuat tentu memiliki bentuk yang menyenangkan  maka seharusnya orang dengan kesempatan yang dimilikinya untuk berbuat baik mampu mengungkapkannya dengan pikiran yang mendalam (perasaan) dan dengan cara-cara yang baik).
FUNGSI TOPENG IRENG DI KURAHAN KABUPATEN MAGELANG Hapsari, Lisa
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2780

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan kedudukan kesenian rakyat di Kurahan Kabupaten Magelang Indonesia. Topeng Ireng merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Kehidupan seni ini tergantung masyarakat pendukungnya. Seni rakyat bisa tetap eksis apabila masyarakat masih mendukung, baik secara pasif maupun aktif. Keberadaan Topeng Ireng menjadi suatu bentuk terapi bagi masyarakat pendukungnya, terapi secara fisik maupun psikis. Ditengah arus modern yang melanda masyarakat kita dewasa ini, membuat beberapa bentuk seni rakyat semakin kabur keberadaanya. Kehidupan seni rakyat semakin memprihatinkan secara kuantitas maupun kualitas. Akan tetapi tidak sama halnya bagi masyarakat Kurahan Kabupaten Magelang. Bagi mereka kesenian Topeng Ireng menjadi sarana penyaluran ekspresi yang pada akhirnya akan berkembang terkait dengan paradigma masyarakat mengenai kesenian rakyat. Upaya-upaya pelestarian tetap dilakukan dari waktu ke waktu sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kesenian yang hidup di Kurahan Magelang ini. Pertumbuhan seni tradisi di Kurahan Magelang selalu menyertakan banyak aspek, diantaranya seniman dan masyarakat pendukungnya. The aim of this research is to show the position of folk art in Kurahan Magelang Regency.Topeng Ireng is one of the folk performing arts alive and thriving in the middle of rural communities. The survival of this art depends on the community support. Folk arts can still exist in the community that still supports, either actively or passively. The existence of Topeng Ireng can be a form of physical and psychological therapy for the community supporters. In modern life nowadays, folk arts are precisely hard to find. Its existence is increasingly concerned in quantity as well as quality. However, this condition does not occur in the society of Kurahan Magelang Regency. Here, Topeng Ireng has become a means of channeling the expression that will eventually develop along with the paradigm of society of folk art. The efforts of preserving folk arts are undertaken from time to time as a form of people’s attention toward arts existing in Kurahan, Magelang. The growth of artistic traditions in Kurahan always includes many aspects, including artists and community supporters.
JAROG DANCE FOR CHILDREN WITH SPECIAL Needs : Case Study in The Celebration of The International Dance Day in Surakarta Wahyu, Eko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2776

Abstract

The International Dance Day is celebrated every year as a self-expression since dances belong to the world. Jarog dance was created to facilitate children with special needs in order to celebrate the International Dance Day in Surakarta in 2013. The research method applied was data collection consisting of observation, interview and documentation. The data analysis was the narrative one by using qualitative approach. The research result shows that Jarog is a new creation dance which combines Jaranan dance and Reog dance. The main functions of Jarog dance are character education, entertainment, and self-confidence improvement. Persistent learning, special commands by beating kendhang loudly and raising hands highly in every movement change and the rhythm of the instruments supporting the dance are needed. There were internal and external factors which support and obstruct the dance performance. The internal supporting factors were motivation, identification, sympathy and audience’s interest, while the external supporting factors were the influence of the world recognition, the motto ”Solo Berseri”, and the development of technology. The obstructing internal factors were the difficulties in practicing and adapting the movement, gendhing which was memorized easily, the beats of kendhang and other instruments which should have been louder. The external obstructing factors were the time-consuming rehearsal which interfered the children’s study hours, less attention from their parents, and the poor cooperation with the supporting karawitan musicians. Hari tari dunia diperingati setiap tahun sebagai ekspresi diri karena tari dianggap sebagai milik dunia. Tari Jarog diciptakan untuk memenuhi anak berkebutuhan khusus dalam rangka merayakan hari tari dunia di Surakarta tahun 2013.  Metode penelitian meliputi pengumpulan data yang terdiri atas observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data bersifat naratip, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang dicapai, Jarog merupakan tari kreasi baru yang menggabungkan antara tari Jaranan dengan tari Reog. Fungsi utama tari Jarog adalah sebagai pendidikan karakter, hiburan yang menyenangkan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Diperlukan pembelajaran yang ulet, aba-aba khusus melalui pukulan kendhang yang keras dengan angkatan tangan yang tinggi pada waktu perpindahan gerak tari serta bunyi irama instrumen sebagai pendukung tari. Terdapat faktor  yang mendukung dan menghambat dalam pentas tari, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor  internal yang mendukung adalah motivasi, identifikasi, simpati dan animo penonton dari luar. Adapun faktor eksternal yang mendukung adalah pengaruh pengakuan dunia, slogan Solo berseri, dan perkembangan teknologi. Faktor penghambat dari dari dalam antara lain kesulitan dalam berlatih dan membiasakan gerak, gendhing mudah yang dihafal, bunyi kendhang dan instrumen tertentu harus lebih keras. Faktor penghambat dari luar antara lain pada saat berlatih  menyita banyak waktu belajar, kurangnya perhatian orang tua, kerjasama dengan musik  karawitan pendukungnya.
KONSEP KEPESINDENAN DAN ELEMEN-ELEMEN DASARNYA Budiarti, Muriah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2781

Abstract

Sindhenan merupakan bagian kesatuan dengan karawitan dalam rangka meningkatkan rasa estetik. Sindhenan adalah olah vokal mengikuti  irama musik gamelan dengan teknik penyuaraan yang khas  yang didasarkan konsep  estetika  Jawa. Teknik penyuaraan meliputi,  teknik luk, wiled, gregel, angkatan, seleh dan teknik pernafasan. Konsep sindhenan  yang berkualitas dikenal dengan sebutan nggendingi, mencakup mungguh, ngledheki, lelewa, pas, ngenongi, nggandhul, selingan, dan andhegan. Olah vokal yang dilakukan pesinden melalui pelatihan yang lama berulang-ulang menyesuaikan dengan laras gamelan yang dibunyikan. Beberapa pesinden adakalanya melakukan gerak serta sikap yang menarik. Pesinden untuk asambel dan  iringan pakeliran lazimnya mengutamakan warna suara, teknik penyuaraan dan vokabuler penguasaan kalimat lagu. Pesinden dituntut selalu dalam kondisi prima dalam penampilan oleh karena  menjadi perhatian penikmat. Fungsi utama sindhenan  adalah memperkaya nilai estetik dalam pertunjukan. Sindhenan is a part of karawitan in order to enhance the sense of aesthetics. It is a voice of pesinden following the rhythm of gamelan music with a distinctive voicing technique according to aesthetic concepts of Java. The voicing technique includes luk technique, wiled, gregel, angkatan, seleh, and respiratory techniques. The concept of qualified sindhenan is known as nggendingi, including mungguh, ngledheki, lelewa, pas, ngenongi, nggandhul, andhegan, and selingan. The vocal training has been through a long process of training adjust with the rhythm of gamelan music. Some of the pesindens sometimes do some interesting motions. Pesinden for ansambel and pakeliran performances often give priority to the accompaniment of voice colors, voicing techniques, pronuncing technique of song lyrics. Pesinden is demanded in good condition in their performances as they are the main attention of the audience. The main function of sindhenan is to enrich the value of aesthetics in the show.
MAKNA SIMBOLIK SENI BEGALAN BAGI PENDIDIKAN ETIKA MASYARAKAT
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2782

Abstract

Kesenian Begalan merupakan seni pertunjukan yang memberi keuntungan pada masyarakat karena di dalam acara inti seni hiburan tersebut mengandung nasehat perkawinan dengan mengungkapkan arti simbolik tersirat yang ditunjukkan dalam bentuk properti, seperti ian, ilir, kukusan, pedaringan, layah, muthu, irus, siwur, beras, wangkring, sapu sada, suket, cething, daun salam, dan tampah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan: (1) bentuk seni pertunjukan Begalan, (2) arti simbol-simbol yang terkandung dalam brenong kepang (properti pertunjukan), (3) nilai etika masyarakat Begalan yang terkandung dalam seni pertunjukan. Digunakannya metode kualitatif dalam penelitian adalah agar terdapat diskusi dengan mengekspos subyek dan obyek penelitian sesuai dengan fakta-fakta yang ditemui di lapangan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sarannya adalah agar pemerintah Banyumas perlu membuat kebijakan untuk mengembangkan seni Begalan, nilai-nilai pendidikan etika dapat diterapkan dalam kehidupan. Seni Begalan dapat dimasukkan sebagai materi subjek seni dan budaya di sekolah, khususnya di Banyumas. Begalan is an art performance that gives benefits to the community because the essence of the show contains the advice of marriage by breaking the symbolic meanings implied in the form of show properties, such as ian, ilir, kukusan, pedaringan, layah, muthu, irus, siwur, rice, wangkring, sada broom, suket, cething, laurellike leaves, and tampah. The study aims to determine: (1) the forms of Begalan performance, (2) the meaning of the symbols contained in brenong kepang (the properties of the performance), (3) the value of ethics for Begalan people reflected in the performing arts. The use of qualitative method in research intend to get the discussion of the issue conducted by exposing a state subject and object of research in accordance with the facts encountered in the field. The collection of data uses observation techniques, interviews, and documentation. The suggestion is that Banyumas government should create policies to preserve and develop Begalan performing arts in which ethical values can be applied in life. Begalan performing arts can be included as a subject of art and culture in schools, especially in Banyumas.

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue