cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
MAKNA SIMBOLIS LAKON KANGSA ADU JAGO DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA -, Randiyo
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i1.1499

Abstract

Lakon Kangsa Adu Jago merupakan salah satu lakon carangan yang bermutu yang mengandung nilai dan bermakna simbolis. Adu Jago mewakili suatu tindakan simbolis karakter generasi tua melawan generasi muda. Disebabkan oleh simbolis yang kurang adil, bijaksana, terjadilah keteledoran penguasa Mandura yaitu Basudewa. Di balik peristiwa adu jago sebenarnya Kangsa ingin merebut kekuasaan dari tangan Basudewa. Yang dapat dipetik dari lakon ini adalah munculnya tokoh Pandawa, simbol kesatria pembela keadilan, penuh pengabdian yang berhasil membantu menyelasaikan kewajibannya. Melalui lakon Kangsa Adu Jago, semangat persatuan, keadilan, kebenaran menjadi lebih kuat, terbentuklah kesatuan nasib antara keluarga Yadawa dengan Barata. Simbol karakter tokoh dalam lakon memunculkan nilai herois dan pendidikan untuk dijadikan contoh teladan dalam hidup manusia.   Symbolic Meaning of Kangsa Adu Jago (Cock Fighting) Play in Purwa Shadow Leather Puppet Show   Abstract Kangsa Cock Fighting Play is a qualifi ed carangan play containing certain symbolic meaning. Adu Jago (Cock Fighting) represents a symbolic action of old generation character against young generation one. Behind the cock fi ghting, Kangsa actually desired to seize power out of Basudewa’s hand. This play especially reveals certain values through the fi gure of Pandawa, a knightly character who strove for justice and with his great dedication succeeded in carrying out his duties. The values conveyed by this Kangsa Cock Fighting play are hopefully expected to be able to build up a stronger spirit of unity, justice, and truth by especially learning from the destiny unity between Yadawa and Barata families. The symbolic characters in the play accordingly reveal heroic and educative qualities as examples for human’s lives. Keywords: adu jago, lakon, wayang kulit purwa, kangsa
SENI ORNAMEN DALAM KONTEKS BUDAYA MELAYU RIAU Prihatin, Purwo
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 3 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i3.778

Abstract

Tulisan ini untuk mengungkapkan seni ornamen dalam konteks budaya masyarakatMelayu Riau. Berkaitan dengan itu maka pelacakannya dilakukan dengan mengetahuibagaimana fungsi dan makna seni ornamen dengan kontekstual masyarakat Melayu Riau.Bahwa seni ornamen Melayu Riau merupakan suatu hasil budaya yang diwariskan dari tradisileluhurnya yang telah mengalami proses perjalanan yang panjang sehingga pada akhirnyamembentuk identitas budaya. Pengaruh luar serta kedinamikaan yang ada pada masyarakatMelayu Riau telah membawa seni ornamen Melayu Riau sebagai bagian dari historis perilakuyang pernah diwariskan oleh pendahulunya. Kreativitas dalam penciptaan seni ornamen tidakterlepas dari pola perilaku masyarakat Melayu Riau. Sebagai hasil budaya tradisi seni ornamenMelayu Riau menjadi identitas budaya (cultural identity) dari local genius atau kearifan lokalbagi masyarakat penciptanya.Seni ornamen dalam konteks budaya Melayu Riau ternyata memiliki fungsi sertamakna bagi masyarakat Melayu Riau. Keanekaragaman bentuk memunculkan motif-motifseperti jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, geometris, nama alam benda maupun gabungan motif.Seni ornamen Melayu Riau yang merupakan pengalaman dan pelajaran yang didapat dari alamdan didukung oleh kreatifitas masyarakat sehingga melahirkan seni ornamen yangmengandung muatan estetis dan etis yang sarat akan nilai-nilai tradisi yang berlaku dalambudaya Melayu Riau.Kata Kunci : seni ornamen, budaya dan Melayu Riau.
PROSES EVOLUSI MULTILINIER WAYANG KULIT DAN WAYANG SADAT (Multilinier Evolotion Proces Puppetry and Sadat) Masturoh, Titin
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 3 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i3.734

Abstract

Wayang Sadat merupakan seni pertunjukan wayang kulit yang berisi tentang ajaran agama Islam. Wayang Sadat diciptakan sebagai evolusi dan wayang sebelumnya yaitu, wayang kulit, wayang gedog, wayang beber, yang ada sejakjaman Hindu dan jaman Islam di Jawa. Bentuk pertunjukan yang berdurasi empjam, lakon atau isi cerita berasal dan sejarah Islam, media wayang Sadat menggunakan kulit yang dimodivikasi sesuai dengan nafas Islam, seperti padakayon, karakter tokoh­tokoh, dan iringannya menggunakan seperangkat gamelaslendro dan pelog dengan bentuk vokal yang terinspirasi dari surat­surat dalamayat suci AI­Qur'an, sedang antawacana menggunakan bahasa Jawa. Semua penyaji ternasuk dalang, pengrawit. sinden, menggunakan pakaian yang bernuansakan Islam. Wayang Sadat muncul di Klaten pada tahun 1986, kemudiaberkembang hingga sekarang.Kata Kunci: Sadat, Wayang, Evolusi, Islam
Skala Pengukuran sebagai Alat Evaluasi dalam Menilai Tari Karya Mahasiswa (Measurement Scale as Instrument of Evaluation in Assessing Student’s Piece of Dance) Triana, Dinny Devi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.680

Abstract

Paparan ini hanyalah sebuah wacana dan pemikiran yang mungkin dapat diterima, khususnya bagi para pendidik di institusi kependidikan, karena penilaian terhadap satu bentuk seni masih sulit diukur secara kuantitatif. Penilaian mata kuliah koreografi sebagai hasil  proses pembelajaran yang komprehensif bagi mahasiswa tari seringkali dirasakan sangat subjektif, bahkan keputusan  tim penguji tidak lagi melihat kepada produk yang dihasilkan sebagai penilaian performance, tetapi juga dipengaruhi oleh penilaian proses. Penilaian performance lebih kepada penilaian penampilan tari itu sendiri yang harus dipahami sebagai kesatuan bentuk atau gagasan kreatif yang divisualkan. Oleh karenanya dibutuhkan alat evaluasi sebagai pedoman observasi untuk penilaian tersebut, sehingga hasil akhir dapat  berupa nilai secara kuantitatif yang dapat mempengaruhi terhadap indeks prestasi mahasiswa dan tentu saja nilai performance dapat dipertanggungjawabkan. Pedoman observasi dengan skala pengukuran yang tepat dapat memperkecil pengaruh unsur subjektivitas dan sense of art penguji.   Kata kunci : Penilaian, Performance,Eevaluasi, Psikomotor, Skala Pengukuran
PENDIDIKAN SENI SEBAGAI ALTERNATIF PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Pratjichno, Bambang
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v10i1.54

Abstract

Multicultural as one of the art learning approach is essential in one’s character building process in order to own relatively strong personality. Multicultural approach should be flexible depending on the ability of the learner, society, and cultural and social condition of the environment. The multicultural approach learning should emphasize on the development of the sensitivity of feeling, esthetics, and ability to imagine and to create. It implies on the role and competence of the art teachers. Art teacher is demanded to be knowledgeable, skillful, and responsible of his/her profession; to master art, and to be able to develop teaching material; to master the theories and practices in the frame of art learning; to be able to plan and manage art learning. Kata kunci: multikultural, plural, pendidikan seni.
IMPLEMENTASI METODE PENDEKATAN KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN PADUAN SUARA Destiannisa, Ayugi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i2.2524

Abstract

Pendekatan pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran yang diduga berpengaruh terhadap baik buruknya hasil pembelajaran kelak. Peran pembimbing ataupun pelatih dalam suatu kegiatan non formal seperti ekstrakulikuler paduan suara menggunakan pendekatan dalam pembelajaran yang tepat kepada siswa yang mengikuti agar dapat mencapai tujuan secara efektif, efisien, dan kondusif sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler paduan di SMP N 2 Kendal pelatih menggunakan metode yang efektif yaitu metode pendekatan kognitif. Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan atau aplikasi metode pendekatan kognitif dalam pembelajaran ekstrakulikuler paduan suara di SMP N 2 Kendal adalah melalui tahapan–tahapan seperti, (1) persepsi, (2) perhatian, (3) bahasa, (4) materi pembelajaran ekstrakulikuler paduan suara, (5) ingatan, (6) imajeri, (7) penalaran, dan (8) pemecahan masalah. Learning approach is one of important components in learning process since it will influence on the results of the following learning. The role of supervisor or trainer in a non-formal activity such as extracurricular choirs should take an appropriate learning approach into account so that students would grasp the learning effectively, efficiently, and conducively as it is expected. In the choir extracurricular learning activity at Public Junior High School 2 Kendal, a trainer used a cognitive approach method. The result shows that the use or application of the approach was conducted through stages including (1) Perception, (2) Attention, (3) Language, (4) Choir extracurricular learning material, (5) Memory, (6) Imagery, (7) Reasoning, (8) Problem Solving.
Estetika Ketidaksadaran: Konsep Seni menurut Psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939) (Aesthetics of Unconsciousness: Art Concept according Sigmund Freud Psychoanalysis) Zaenuri, Ahmad
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 3 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i3.811

Abstract

Psikoanalisis Sigmund Freud mendasarkan pemikirannya pada ketidaksadaran sebagaianalisis ilmiah. Ketidaksadaran dalam perilaku digambatkan sebagai kesalahan-kesalahanperilaku, keseleo lidah, kelupaan, imajinasi, fantasi dan mimpi yang disebabkankarena dorongan psikis tidak sadat yang disebut sebagai libido. Libido, dalampsikoanalisis merupakan energi psikis yang mendasari segala perilaku manusia sejakkeberadaan manusia di dunia. Libido sebagai energi yang paling dalam pada individubersifat naluriah, instinktif dan primitif yang mendorong makhluk hidup untuk bertahanhidup, memiliki hasrat seksual dan naluri kematian. Libido (id), mendorongmanusia untuk melakukan segala sesuatu yang berprinsip pada kesenangan, namundorongan ini dibatasi oleh ego yang berprinsip pada realitas sehingga perilaku yangdimunculkan adalah super ego. Dorongan yang terpendam karena represi menekanpsikis sehingga muncul perilaku tidak sadar sebagai manifestasinya. Ketidaksadaran,oleh seniman Surealisme bermanfaat sebagai ide untuk menciptakan karya seni yangimajinatif dan fantastik. Seni Surealisme merupakan bentuk estetika ketidaksadarandalam kesadaran manusia yang menggambarkan mimpi-mimpi sebagai produk fantasidari dorongan energi psikis yang direpresi. Surealisme adalah otomatisme murni dariperilaku yang terlepas dari kontrol kesadaran dan masuk dalam permainan pikiran.Kata kunci: Psikoanalisis, Seni, Surealisme, Esatetika
Puppet Visual Adaptation on Playing Cards as Educational Media Wiyoso, Joko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 16, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v16i2.5816

Abstract

This study aims at presenting an effective media in a form of puppet picture playing cards as a means to introduce traditional puppet to the society. Research and Development (R&D) was chosen as the method to develop the playing cards. Results were presented in a form of the design of puppet picture playing cards as many as 54 cards as well as 54 puppet characters as the background pictures. The design of the playing cards is adjusted to the common playing cards which are distributed widely in the society, including both the sizes and symbols, like the pictures of spade, heart, diamond, and club. In detail, the design comprises: (1) the size of playing cards which is 6 cm width of the upper and lower sides and 9 cm length for the left and right sides. (2) The playing cards’ background is in a bright color so does the puppet picture on the card can be seen clearly.
MENULUSURI SARANA PENYEBARAN MUSIK KRONCONG (EXPLORING A DISSEMINATION MEDIUM OF KERONCONG MUSIC) Widjajadi, R.Agoes Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 2 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i2.721

Abstract

Keberadaan dan keberlangsungan musik keroncong di Indonesia hingga kini masih tampak jelas sebagai suatu genre musikal yang menjadikan tipikal musik Indonesia. Menyimak pada tahun 1920-an musik keroncong sudah mendapat tempat di hati masyarakat, selain itu lagu-lagu keroncong pun sudah menyebar luas dan digemari masyarakat luas, kendatipun pada waktu itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang. Dengan demikian persoalan tersebut tak lepas dari suatu proses penyebaran dengan melalui berbagai sarana yang ada. Musik keroncong yang semakin terjaga keberadaannya, berkembang pada berbagai aspek musikal, serta meluas daya jangkaunya. Oleh karena itu ada beberapa peran sarana penyebaran yang ditelusuri, yaitu pola penyebaran melalui: (1) lomba musik keroncong; (2) media cetak; (3) media rekam; (4) radio dan televisi; (5) layar lebar; (6) pementasan; (7) pertumbuhan kelompok orkes keroncong.Kata kunci: penyebaran, musik keroncong
EKSPRESI ESTETIS DAN MAKNA SIMBOLIS KESENIAN LAESAN Kusumastuti, Eny
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i1.666

Abstract

Laesan art is a kind of traditional art, which is a result of aesthetic expression of people with trancephenomenon in side. Here, implicit symbols occur in Laesan art, then it is interpreted by theaudiences and applied in terms of behavior patterns of people in Bajomulyo. From that phenomenon,research studies are form of aesthetic expression and meaning of symbols of Laesan art. Thisresearch uses qualitative approach, with data collection technique done by interview, observation ofparticipants, and documentation study. Analyzing data done by reducing, clarifying, decrypting,concluding, and interpreting all information selectively. Techniques of checking relevance data weredependability and conformability. Research result show that Laesan art having aesthetic expressionin: a) in the beginning, core, and the end of the show, b) supporting substance of the show consist ofperformance equipments; dance movement; offbeat; make up and clothing; and stages. Symbol thatshape meaning in the process of symbolic interaction consists of incense, offerings, accompaniedsing, and meaning of trance in Laesan. Suggested that Laesan art need to be repackaged in order tomake it better and have a high sale price, it is need to be conserved and inherited to the nextgeneration to avoid extinction.Kata Kunci : laesan, laes, ekspresi estetis, makna simbolis, trance

Page 55 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue