cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
GARAP LAKON KRESNA DHUTA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA KAJIAN TEKTUAL SIMBOLIS -, Sudarsono
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2220

Abstract

Klimak alur ceritera lakon wayang versi Mahabarata adalah terjadinya perang besar baratayuda yang melibatkan Kurawa dan Pandawa. Sebelum perang berlangsung, Kresna menjadi duta Pandawa untuk melengkapi duta yang ketiga kalinya. Kresna mengendarai kereta Jaladara yang ditarik empat kuda yang berwarna merah, putih, hitam dan kuning, simbol kendaraan kebesaran sebagai kendaraan wisnu. Sebagai sais dipercayakan kepada Setiyaki. Ditengah perjalanan dihadang dewa Narada, Janaka, Kanwa dan Parasu. Para dewa diperintahkan Guru Dewa untuk menyaksikan perundingan antara Kresna dengan Duryudana. Setelah sampai di Astina ternyata Duryudana telah mempersiapkan banyak prajurit untuk berperang. Dalam perundingan Duryudana tidak bersedia memenuhi kewajibanya untuk mengembalikan hak bagian keluarga Pandawa tanpa diperjuangkan melalui adu kekuatan. Di Aloon-aloon Kresna telah dihadang prajurit untuk dibunuh, ternyata yang ada adalah Setiyaki. Terjadilah perang tanding antara Burisrawa melawan Setiyaki. Oleh karena gelagat akan adanya pengeroyokan, Setiyaki lari mencari Kresna. Di pendapa pasewakan terjadilah keelokan setelah Duryudana menolak permintaan Kresna. Munculah kekuatan mantram sakti Kresna yang menakutkan sehingga terjadi huru hara. Melihat gelagat yang kurang baik Narada menenteramkan Wisnu agar segera berubah kembali menjadi Kresna. Sebagai duta berarti gagal, Kresna segera kembali ke Wiratha bersama Setiyaki. Kresna melaporkan bahwa Astina sudah bersiap berperang melawan Pandawa. Story plot climax of puppet play of Mahabharata version is the great war involving Baratayuda Kurawas and Pandawas. Before the war, the Pandawas Krishna became ambassador to complement the third time. Krishna ride Jaladara fulled by four red, white, black and yellow horses vehicle , a symbol of the greatness of the vehicle as a vehicle of Vishnu. The gods instructed Guru Dewa to witness the talks between Krishna and Duryudana. After reaching Astina Duryudana apparently many soldiers have been preparing for battle. In talks Duryudana not willing to fulfill its obligations to return the part without the Pandavas fought through a power struggle. In Aloon-aloon and sisters, Krishna had been ambushed soldiers to  be killed, it turns out that there is Setiyaki. Duel ensued between Burisrawa against Setiyaki. Therefore, the existence of signs beatings, Setiyaki run for Krishna. Krishna comes the power of magic spells daunting resulting riots. Seeing unfavorable Vishnu Narada reassuring to immediately turn back into Krishna. As ambassador he felt fail, Krishna soon returned to Wiratha with Setiyaki. Krishna report that Higashi was ready to fight against the Pandawas.
USAHA MENUJU INTERNALISASI SENI TARI MELALUI KETEPATAN ALAT UKUR KETRAMPILAN SENI TARI (Efforts to Internalise Dancing Througt the Creation of Appropriate/Valitd Dancing Skills Measuring/Evaluation Instruments ) Lestari, Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.857

Abstract

Setiap proses pembelajaran akan menyiapkan anak dalam proses peningkatan intelektual (kognitif) sikap serta nilai (afektif), dan ketrampilan (psikomotor). Ketiganya sangat diperlukan dalam penilaian ketrampilan seni tari, sesuai tujuan pembelajarannya, yaitu agar anak tidak saja bisa menari, tetapi bisa mengetahui bagaimana menari. Bagaimana menari memerlukan pemahaman mendalam serta kecerdasan mendemonstrasikan ketrampilan tari. Siswa yang trampil menari, berarti dapat memainkan kaidah-kaidah seni tari, sehingga diharapkan tercapai internalisasi seni tarinya. Perubahan sikap, kepekaan rasa akan muncul dengan sendirinya apabila tujuan pembelajaran ketrampilan seni tari dipenuhi. Alat ukuryang baik adalah yang dapat mengukur apa yang akan diukur, menghindari subjetivitas, menegagkan objectivitas. Mengukur ketrampilan seni tari ditentukan oleh beberapa indikator antara lain pengambil/petugas pengukur, waktu, tempat (apakah memenuhi syarat) serta alat yang dipergunakan untuk pengukuran. Internalisasi seni tari tercapai apabila usaha menanamkan sikap kepada siswa dilaksanakan, yaitu dengan menggunakan alat ukur yang valid dan realibel. Kata Kunci:      Internalisasi, Seni Tari, Alat Ukur, Ketrampilan.  
Permasalahan Musikal dan Lingual dalam Penerjemahan Lirik Lagu (The Musical and Linguistic Problems in Lyrics Translation) Suharto, S.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.756

Abstract

Lagu merupakan jenis musik yang memiliki unsur non-musikal yang berfungsi sangat penting yang memberi kesan tertentu bagi musiknya, yaitu lirik lagu. Syair lagu yang berupa bahasa memberikan dimensi baru dalam lagu itu sendiri. Kesan megah, agung, gembira, sedih, dll. adalah efek yang ditimbulkan saat lagu itu dinyanyikan atau diperdengarkan. Jika lagu ituditerjemahkan ke dalam bahasa lain yang berlatar budaya lain bisa mengakibatkan efek lagu menjadi berbeda terutama jika penerjemah tidak tepat dalam mencari padanannya. Hal lain yang utama adalah tentang tekanan kata pada lagu terjemahan yang sering tidak diperhatikan penerjemah. Padahal ada jenis bahasa, misalnya bahasa Inggris, yang dikenal sebagai bahasa yang berirama yang sangat memperhatikan masalah tekanan ini. Bisa kita amati bahwa lagu yang diciptakan para penutur aslisangat memperhatikan hal ini. Bagaimana dengan lagu  terjemahan yang dibuat bukan penutur aslinya? Bisa terjadi lagu yang tidak memperhatikan masalah-masalah seperti di atas akan memiliki efek yang berbeda dengan lagu aslinya.
Creativity Education Model through Dance Creation for Students of Junior High School Malarsih, M.; Herlinah, H.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 14, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v14i2.3296

Abstract

This study aims to realize dance as a real product of a dance education process. The product is packaged in a form of audio-visual as well as a scientific publication. As the benefit from this study, the product can be used by school and specifically by dance teacher as a guidance in conducting dance lesson at school. The study on the model of creativity education through the creation is being understood as a form of developmental research. As a developmental research, the research plan is initiated by analyzing the teaching material related to dance lesson, and relate it to the creativity education which has to be accomplished through dance lesson, specifically for Junior High School students. The study will be continued with theoretical/ conceptual analysis and observation which is related to creativity education through the dance creation. In the end of this study, model of creativity education through dance creation is produced, particularly for students of Junior High School level. Results of the study show that, in doing creativity activity through dance creation, the value of the dance as an art is not become the primary aim. Moreover, the main aim of this process is towards the creativity process itself. While producing and creating the dance, two major educational points are derived, which are: the creativity and product value in a form of dance. Based on background of the idea, through this pilot project, the creativity of creating dance for public schools students, especially Junior High School, is possible to be done and used as a dance creativity learning model in Junior High School. Two suggestions are formulated in this study: (1) it is suggested for dance teachers in public schools, in this context is Junior High School teachers, to set their teaching and learning process into the creativity education as it is implied in curriculum. (2) In order to achieve the creativity education itself, the dance creation as one of art subject which is given to schools, should become the main priority in its learning implementation as an instrument to build students character to be more creative in thinking.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN BAGI WANITA UNTUK MENJADI  PEMAIN WAYANG (Studi Peranan Wanita Pada Kelompok Wayang Orang  di Jawa Tengah)  Decision making of the Woman to Become Puppet Player (Study of Woman Role of Wayang Wong Groups in Central Java) Ratih, Endang; Lestari, Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 1 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i1.697

Abstract

Pengambilan keputusan terhadap segala sesuatu baik dalam kehidupan rumah  tangga maupun dalam hal pekerjaan dewasa ini bukan lagi menjadi monopoli laki­laki melainkan juga dapat dilakukan oleh kaum wanita. Masalah sentral dalam penelitian adalah fakta yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan untuk  mendapatkan faktor dalam atau motivasi para wanita dalam pengambilan keputusan  untuk menjadi pemain wayang. Penelitian peranan wanita pemain wayang,  menggunakan pendekatan kualitatif guna mengungkap permasalahan secara  holistik, lokasi penelitian di perkumpulan wayang orang terkenal di wilayah Jawa  Tengah. Subyek penelitian adalah perempuan pemain wayang yang telah bekerja selama minimal lima tahun dan masih aktif bekerja sebagai pemain wayang. Teknik  pengumpulan data digunakan, wawancara dan observasi, dianalisis melalui reduksi,  verifikasi dan penyajian data. Hasil penelitian mewujudkan bahwa secara umum semua subyek dalam mengambil keputusan untuk menjadi pemain wayang dipengaruhi oleh bakat,  keturunan selanjutnya menjadi hobi yang sekaligus dapat dimanfaatkan menjadi  pekerjaan, untuk menambah kebutuhan ekonomi keluarga. Keberhasilan lain juga ditunjukkan dalam peran gandanya yaitu perempuan sebagai pekerja dan pendidik  anak­anaknya meraih sukses kehidupan. Penelitian dapat merekomendasikan  beberapa hal antara lain agar para wanita tidak ragu­ ragu tetap menekuni  pekerjaannya secara profesional, tanpa harus melalaikan kewajiban sebagai ibu  rumah tangga. Profesi pada bidang seni tidak hanya sebagai pemain wayang saja,  melainkan pada bidang lain, seperti pesinden atau penyanyi, untuk membantu  memperoleh penghasilan tambahan.Kata kunci: pengambilan keputusan, pemain wayang, wanita.
OPTIMALISASI HASIL BELAJAR MEMAINKAN MELODI TANGGA NADA PERUBAHAN MENGGUNAKAN ALAT MUSIK PIANIKA DENGAN TEKNIK JIGSAW Hardilan, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i2.641

Abstract

Then study was coducted clasroom action research study in which was 8th-gradestudents. The study was conducted in two cycles beginning with the pre-cycle andfollowed-up with the cycle II which each cycle through the for stages, namelyplanning, implementation of action, observation and reflection.Data collection techniques used were technical tests, observations, andinterviews. Techniques of data analysis using quantitative techniques toprocess data from the test results of students based on the number of values,while the techniques used to analyze qualitative data such as non-testquestionnaire, observation, and interviews. The results showed that an increasein each cycle, from pre-cycle of 38 students who attended by 37 studentsbecause of 1 student permit in sick, as many as 24 students or 64.85% completeand as many as 13 students or 35.15% have not completed. In cycle I of 38students there are 34 students or 89.47% have been completed and 4 studentsor 10.53% have not finished studying. In cycle II, an increase of more than 38students by 36 students or 94.74% and 2 or 5.26% of students have not studiedthoroughly. Based on the above results it is impotant that learning to cooperatewith jigsaw technique is one alternative that can be used to improve the qualityof teaching and student learning outcomes.Kata kunci: optimalisasi, hasil belajar, melodi, tangga nada perubahan, jigsaw
VALUE OF MORALITY IN MUSIC OF CONFUCIUS (551-479 BC) Budi Santosa, J.C.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2775

Abstract

In line with the basic concept of ”jen” and some things related to the virtue, Confucius emphasized on the maintenance of beauty and music. The emphasis of those two things illustrated the feeling of self-dualism that is morals and aesthetics. Talking about the development of one’s personality, Confucius said, ”Through the poetry one’s attention will grow, through the various rites one’s mentality will be set; through music one becomes perfect (Analects of Confucius, chapter 8, section 8). The maintenances of beauty and music were expected to be part of one’s sublime nature and human civilization, according to Confucius, maintenance and reasonable combination between the yen and the beauty was indeed necessary for the self perfection and the improvement from disgraceful deeds. Just like a house with a strong base had certainly a proportional shape; then, one with his opportunities to do well was supposed to be able to express it with deep thoughts (feelings) and with good manners. Sejalan dengan konsep dasar dari “jen” dan beberapa hal yang berkaitan dengan kebaikan, Konfusius lebih menekankan pada pemeliharaan keindahan dan musik. Dua hal penekanan itu menggambarkan perasaan dualisme akan diri pribadi yaitu moral dan estetika. Membicarakan tentang perkembangan kepribadian seseorang, Konfusius berkata, “lewat puisi perhatian seseorang akan tumbuh, lewat berbagai upacara tabiat seseorang diatur; lewat musik seseorang menjadi  sempurna (Ana¬lects of Konfusius, bab 8, seksi 8). Pemeliharaan keindahan dan musik diharapkan mampu menjadi bagian dari sifat luhur seseorang dan peradaban masyarakat menurut Konfusius, pemeliharaan dan kombinasi yang wajar antara yen dan keindahan memang perlu untuk kesempurnaan diri dan perbaikan dari sifat-sifat tercela. Seperti halnya sebuah rumah dengan pondasi (dasar) yang kuat tentu memiliki bentuk yang menyenangkan  maka seharusnya orang dengan kesempatan yang dimilikinya untuk berbuat baik mampu mengungkapkannya dengan pikiran yang mendalam (perasaan) dan dengan cara-cara yang baik).
APLIKASI TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL RADCLIFFE-BROWN DAN TALCOT PARSONS PADA PENYAJIAN TARI GAMBYONGAN TAYUB DI BLORA JAWA TENGAH Malarsih, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i1.825

Abstract

Kelengkapan sebuah bentuk penyajian tari, antara lain jika ada materitarinya dalam bentuk komposisi gerak secara utuh, pola lantai, musik iringan,dan rias serta busana yang mendukung penyajian tari itu. Penyajian tarigambyongan tayub di Blora poada acara-acara pementasan resmi selalulengkap, dalam arti telah menggunakan komposisi gerak secara utuh, polalantai yang serasi, musik iringan yang tertata, dan rias serta busana yangmenunjang penyajian tari itu. Masing-masing bagian pada tari itu menunjukkansuatu ikatan struktur yang utuh pula. Diantara bagian-bagian yang ada salingberhubungan secara fungsional., namun bukan merupakan suatu hubungansebab akibat. Hubungan bagian atau unsur satu dengan yang lain secarafungsional yangd emikian itu, berkesuaian dengan teori struktural fungsionalRadcliffe-Brown Talcott parsons dalam kaitannya dengan sebuah struktursosial masyarakat sebagaimana diungkapkan oleh Radcliffe-Brown dan TalcottParsons itu.Kata Kunci : Tari gambyongan tayub, strutur fungsional, penyajian tari
KIDUNG KANDHASANYATA SEBAGAI EKSPRESI ESTETIK PESINDEN WANITA MARDUSARI -, Darmasti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v11i2.2211

Abstract

Salah satu karya sastra berbahasa daerah yang berbentuk puisi adalah macapat. Macapat bila disuarakan dinamakan tembang macapat. Tembang macapat termasuk seni vokal yang bersifat mandiri atau sajian vokal yang menyertai gamelan. Pada masa Mangkunagara VII, muncul seorang seniwati profesional di bidang tari dan karawitan, memiliki kemampuan sebagai pesindhen, penyusun teks sindhenan berbentuk karya sastra, yang berpengaruh hingga sekarang didunia olah vocal pesinden. Kidung Kandhasanyata merupakan ekpresi estetik yang mencerminkan peristiwa serta ‘nilai-nilai’ yang berlaku. Kidung Kandhasanyata merupakan cakepan sindenan hasil karya sastra Mardusari yang berbentuk tembang mocopat. Macapat kandungan isinya berfungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampai ungkapan rasa, sarana penggambaran suasana, penghantar teka-teki, alat penyuluhan dan dilagukan berirama. One of poetic works written in local language is macapat. It is named so when it is recited. Macapat chants constitute an autonomous recitation or a vocal that accompanies traditional musical instruments. During the times of Mangkunegara VII, there was a professional female artist in dancing and karawitan (traditional music instruments), having skills as pesindhen (Javanese female singer), and in composing literary sindhenan (Javanese chants) texts, that gives influences to pesindhen (Javanese female singers) even to this present time. Kidung Kandhasanyata (Kandhasanyata chants) is an aesthetic expression that reflects prevailing events and values. This chant is cakepan of chants of Mardusari literature in the form of macapat. The contents of macapat function as the harbinger of messages, oracy media, expression of feelings, illustration of atmosphere, delivery of puzzles, instruction media, and rhythmic chants.
Peranan Komunitas Mangkunagaran dalam Meperkembangkan Tari Gaya Mangkunagaran (Role of Mangkunagaran Community to Develop Dance of Mangkunagaran Style) Malarsih, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.795

Abstract

Tari gaya Mangkunagaran merupakan jenis tari klasik Jawa yang masih banyak digunakanuntuk berbagai kepentingan oleh masyarakat pendukungnya. Komunitas Mangkunagarandiprediksi mempunyai andil besar dalam menjaga keeksistensian tari gaya Mangkunagarantersebut. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, adalah bagaimana peranan komunitasMangkunagaran dalam memperkembangkan tari gaya Mangkunagaran. Metode penelitianyang diterapkan adalah kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian, Pura Mangkunagaran.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi.Teknik analisis data yang digunakan adalah analilisis interaktif mengikuti alur analisisMiles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan, komunitas Mangkunagaran berperanpenting dalam usaha memperkembangkan tari gaya Mangkunagaran. Usahamemperkembangkan utamanya berkait dengan fungsi dan materi tari gaya Mangkunagaran,yaitu tari itu sebagai sarana upacara perkawinan bagi masyarakat umum, penyambutantamu, pariwisata, festival, dan pertukaran budaya dengan negara sahabat. Perkembanganmateri dilakukan dengan cara mencipta materi tarian baru namun pijakan garapannyamenggunakan sebagian dari unsur tari gaya Mangkunagaran. Selain itu, juga melakukanpelatihan-pelatihan pada masyarakat umum. Berdasar hasil penelitian, disarankan: (1)hendaknya komunitas Mangkunagaran dalam memperkembangkan tari gayaMangkunagaran tetap menggunakan pijakan tari gaya Mangkunagaran yang asli, (2) perluadanya regenerasi untuk pelatih dan juga penari tari gaya Mangkunaran yang loyal terhadapperkembangan tari gaya Mangkunagaran.Kata kunci: peranan, gaya tari, komunitas, fungsi tari, interaksi.

Page 56 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue