cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
KEHADIRAN TARI GAYA SURAKARTA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (The Existence of Surakarta Classical Dance stile in the special  of Propinci Yogyakarta) Sumaryanto, Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i2.711

Abstract

Studi ini bertujuan untuk melacak serta mengungkap perkembangan tari gaya Surakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir dapat dipastikan, pecahnya Mataram menjadi dua pada tahun 1755, merupakan peristiwa yang melatarbelakangi pembentukan tari gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Tari gaya Yogyakarta lebih bersifat klasik dengan garis­garis lurus yang kokoh, sedangkan gaya Surakarta telah mengarah ke gaya romantik dengan garis­garis lengkung yang indah.Mengingat masyarakat Yogyakarta dan Surakarta yang sejak pecahnya Mataram selalu terlibat persaingan, maka suatu kejanggalan yang sangat menarik apabila saat ini di Yogyakarta ternyata banyak dipergelarkan tarian gaya Surakarta, demikian sebaliknya. Asumsi semula memperkirakan perubahan struktur masyarakat mengakibatkan adanya perubahan selera estetis, ternyata terdapat faktor­faktor lain penyebab tari gaya Surakarta dapat diterima oleh masyarakat Yogyakarta, bahkan kehidupannya cukup subur.Perkembangan tari gaya Surakarta di Yogyakarta berkaitan erat dengan masyarakat Yogyakarta sebagai pendukungnya. Sebagai masyarakat kota yang memiliki akar kebudayaan tradisional yang kuat dan terbuka bagi cita kebangsaan baru dan cita modernitas, masyarakat kota merupakan komunitas yang ambivalent dlam sikap budayanya. Disisi lain peranan pemerintah yang secara sadar telah memberikan sarana dan prasarana, serta eksisnya organisasi­organisasi tari gaya Surakarta relatif baru, artinya bagi perkembangan tari gaya Surakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Seniman­seniman tari gaya Surakarta yang disesuaikan dengan tuntutan “kekinian”, disamping juga mampu mengemas seni pertunjukan tari menjadi sebuah bentuk kesenian yangmenarik untuk diikuti.Kata Kunci : Tari, Gaya, Surakarta, Yogyakarta
NILAI-NILAI LUHUR DALAM LELAGON DOLANAN Widodo, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i2.646

Abstract

Lelagon dolanan (children) contains a variety of high values of national culturewhich is useful for building character and identity of the nation. Dewasa inikondisi lelagon dolanan (anak) ibarat hidup segan mati tak mau. He wassurrounded by a variety of industrial art products that appear more glamorous,practical, and economical. To preserve, develop, and distribute it needs to supportfrom various parties both actors musical arts, government, media entrepreneurs,and society. Javanese gamelan music art perpetrators should be creative,innovative, creative, and productive working lelagon dolanan (children) whoactually follow the new development era. The government is expected to makepolicy, especially through formal education institutions in favor of thepreservation and development of lelagon dolanan. Employers can participate in themass media through the production and dissemination of copyrighted workspublicly lelagon dolanan. Thus, the public can access easily and cheaply lelagondolanan products (children).Kata kunci: lelagon dolanan, nilai, luhur, pelestarian, pengembangan
FUNGSI TOPENG IRENG DI KURAHAN KABUPATEN MAGELANG Hapsari, Lisa
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2780

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan kedudukan kesenian rakyat di Kurahan Kabupaten Magelang Indonesia. Topeng Ireng merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Kehidupan seni ini tergantung masyarakat pendukungnya. Seni rakyat bisa tetap eksis apabila masyarakat masih mendukung, baik secara pasif maupun aktif. Keberadaan Topeng Ireng menjadi suatu bentuk terapi bagi masyarakat pendukungnya, terapi secara fisik maupun psikis. Ditengah arus modern yang melanda masyarakat kita dewasa ini, membuat beberapa bentuk seni rakyat semakin kabur keberadaanya. Kehidupan seni rakyat semakin memprihatinkan secara kuantitas maupun kualitas. Akan tetapi tidak sama halnya bagi masyarakat Kurahan Kabupaten Magelang. Bagi mereka kesenian Topeng Ireng menjadi sarana penyaluran ekspresi yang pada akhirnya akan berkembang terkait dengan paradigma masyarakat mengenai kesenian rakyat. Upaya-upaya pelestarian tetap dilakukan dari waktu ke waktu sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kesenian yang hidup di Kurahan Magelang ini. Pertumbuhan seni tradisi di Kurahan Magelang selalu menyertakan banyak aspek, diantaranya seniman dan masyarakat pendukungnya. The aim of this research is to show the position of folk art in Kurahan Magelang Regency.Topeng Ireng is one of the folk performing arts alive and thriving in the middle of rural communities. The survival of this art depends on the community support. Folk arts can still exist in the community that still supports, either actively or passively. The existence of Topeng Ireng can be a form of physical and psychological therapy for the community supporters. In modern life nowadays, folk arts are precisely hard to find. Its existence is increasingly concerned in quantity as well as quality. However, this condition does not occur in the society of Kurahan Magelang Regency. Here, Topeng Ireng has become a means of channeling the expression that will eventually develop along with the paradigm of society of folk art. The efforts of preserving folk arts are undertaken from time to time as a form of people’s attention toward arts existing in Kurahan, Magelang. The growth of artistic traditions in Kurahan always includes many aspects, including artists and community supporters.
STUDI TENTANG LAKON WAHYU DALAM PAKEURAN WAYAN6 KULTT PURWA DI SURAKARTA (A Study of Lakon Wahyu in the Surakarta- Style Puppetry in the Last Decade) Suratno, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i1.830

Abstract

Lakon-lakon wahyu dalam wayang kulit mengalami perubahan kearah perkembangan seiring dengan dinamika masyarakat. Dalam satu dasawarsa terakhir ini, jenis lakon wahyu mengalami variasi dalam hal garap unsur pakeliran terutama garap lakon. Besarnya rasa simpatik masyarakat terhadap lakon wahyu,menunjukkan bahwa lakon wahyu mampu mewadahi tuntutan kebutuhan hiburan masyarakat. Kehadiran lakon wahyu disamping memberikan hiburan masyarakat, juga masih dipercaya akan adanya keyakinan tentang wahyu dan makna lakonwahyu. Untuk mencapai kebahagiaan dan kemuliaan hidup,seseorang memertukanwahyu yang dicariakn dengan jalan laku brata, sesirih, nenepi. Kata Kunci: jenis-jenis lakon wahyu, perjalanan lakon wahyu, makna lakon wahyu.
BENTUK PERTUNJUKAN ORKES DANGDUT PARODI SENGGOL TROMOL DI SEMARANG: KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI Alviani, Euis Septia
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2216

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pertunjukan musik dan fungsi musik Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol bagi masyarakat Kota Semarang. Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol adalah orkes dangdut parodi yang berada di Kota Semarang. Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol memiliki keunikan yang berbeda diantara orkes musik parodi lainnya. Hal ini ditunjukan bahwa keunikan kolaborasi musik dangdut dan parodi merupakan kolaborasi yang sangat menjunjung nilai norma-norma yang berlaku. Orkes Dangdut Parodi Senggol Tromol memiliki nilai musikalitas yang sangat tinggi karena kelompok musik ini berpendidikan di bidang seni, khususnya seni musik. Ide kreatifitas yang tinggi dan menghasilkan warna baru dalam dunia musik dangdut, menjadikan musim Senggol Tromol menjadi musik yang bisa diterima di semua kalangan masyarakat kota Semarang. This research is aimed to find out the form and function of dangdut orchestra of Senggol Tromol parody for Semarang community. This Dangdut Orchestra is a parody dangdut orchestra in Semarang. This orchestra has its unique characteristics, different from those of other parody music. This is shown by the unique collaboration of dangdut music and parody by respecting prevailing norm values. This orchestra has a very high musical value because the members of the orchestra have education background in music. The high creativity and innovative idea in the music make Senggol Tromol be a favorite music for people from all  groups in Semarang.
(Components in Music-Culture) Sunarto, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.799

Abstract

Seorang filsuf wanita dari Amerika Serikat, Susanne K. Langer, pernah berucapbahwa, musik telah mampu merasuk ke dalam umat manusia setua umurmanusia di bumi ini. Musik telah membentuk suatu buaya tersendiri di anaraseni-seni yang lainnya. Ia hadir di setiap saat dalam suatu budaya di mana punbudaya itu tumbuh. Ada semacam universalitas: di mana ada budaya di situ pulamusik bereksistensi. Rangkaian yang membentuk komunitas dalam musik itusendiri hadir sebagai sebuah harmonisasi dari alam yang melahirkannya. Dalamkomponen-komponen budaya-musik terdapat empat yang melingkupinya, yaitu:1) ide-ide tentang musik (musik dan sistem kepercayaan, estetika musik, konteksmusik); 2) organisasi sosial musik ; 3) repertoar musik (gaya, jenis aliran, teks,komposisi, transmisi, gerakan); dan 4) budaya material musik.Kata Kunci: musik, budaya, sosial, estetika, etnisitas.
ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN (KAJIAN MANAJEMEN) (The Organization of Performing Art (a Management Study) Hartono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 2 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i2.852

Abstract

Memasuki millenium ketiga, era industri, era teknologi era informasi, atauera gloal, menuntut semua organisasi tidak terkecuali organisasi senipertunjukan untuk lebih efektif, memenuhi kebutuhan pelanggan, danpeningkatan kualitas terus menerus, pengelolaan organisasi seni harusmengoptimalkan nsi sumber daya manusia dalam mendorong peningkatanpengetahuan dan kecakapan, serta perencanaan secara terpadu. Untukmemenuhi harapan-harapan peningkatan kualitas dan kepuasanpelanggan menuntut perubahan manajemen. Upayamengimplementasikan sistem manajemen kontemporer adalah suatupendekatan yang seharusnya dilaksanakan oleh organisasi masa ini yaituuntuk memperbaiki outputnya, menekan biaya produksi, danmeningkatkan produktifitasnya.Kata Kunci : Menejemen Mutu Terpadu, organisasi, seni pertunjukan.
Nuansa Laras Diatonik dalam Macapat Semarangan (Diatonic Scale Atmosphere in Semarang Style Macapat). -, Widodo
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 1 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i1.751

Abstract

Tembang macapat pada berbagai gaya baik daerah maupun seniman atauseniwati umumnya dilagukan dengan menggunakan laras slendro atau pelog. Lagupada tembang macapat Semarangan bukan hanya disajikan dengan menggunakanlaras slendro atau pelog melainkan juga tangga nada musik Barat atau diatonik.Beberapa tembang macapat Semarangan yang sering disebut berlaras slendro yaknidhandhanggula dan sinon ternyata bukan slendro “murni” yang digunakan melainkanslendro yang amat kental dengan nuansa laras diatonik. Karena itulah maka laraspada kedua lagu tembang macapat tersebut juga sering disebut slendro-diatonik.Penotasian lagu tembang macapat dhandhanggula dan sinon Semarangan selain dapatmemakai notasi Kepatihan juga dapat, bahkan lebih mudah menggunakan notasidiatonik.Kata Kunci : Laras (tangga nada), diatonik, pentatonik, macapat.
Ethical Values of Malangan Shadow Puppet Show from East Java in the Lakon of Kalakerna Gugat Sudarsono, S.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 14, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v14i2.3292

Abstract

There are many values which an artist wants to express through a shadow puppet show in order to attract the attention of the audience. Malangan shadow puppet show acts not only as an entertainment but also as a guidance for character education. In the story of Kalakerna Gugat, ethical and aesthetic values in the story are in the form of etiquette in the dialogues or the characters. The value of having rights after completing duties becomes guidance for nobleness. Equality between rights and duties demanded by Kalakerna and propriety of characters are expressed straight to the point and they are easy to understand as well as entertaining. Impropriety in the world is critically corrected. Bethara Guru Dewa, the tritagonist, felt that he made a mistake by arranging life unjustly so that he was reminded by Kalakerna and had to agree with his request to keep the justice and preserve the world.
POPULARITAS SINDHEN Jazuli, M
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i2.637

Abstract

Apparently, the sindhèn life, today, have not been far from celebrities one or otherarties with many other styles and beautiful tricked performances. Therefore, it isnatural, that every sindhèn always wants to be popular, famous, and amazed bymany people with the result that they can do the ways to reach what they wantto. But, how to be a sindhèn, what trick to get to become a popular sindhèn, andhow to hold their existence so that they constantly get interest of wide society.The questions above will be answered in this article which is a research result ofpopular sindhèn in Semarang by using quantitative paradigm. First, the ways tobe a sindhèn has four factors, namely the way to learn, its surrounding, socialassociate, and laku brata. Second, the sindhèn popularity is appeared from theirhigh stage-performance (20 to 25 times per month), the stage area reach out ofprovince, quality of artistic trough their special style, having wide influentialsponsor, and getting compensation between four to five millions each their stage.Third, the ways of sindhèn to maintain their attractive power for society attentionare taken on such as : (1) maintaining pattern and increasing quality and itscharacteristic, namely trough the colour of their soft voices, making gregel andwiledan so that their voices always impress such as tregel, rongêh, renyah, and berakfor the listeners; (2) they must be self confidence in pesindhênan, there is no otherjob except the sindhèn , such as langgam, campursari, and keroncong dangdut; (3)they must plait together social relation to the people who have wide influence aswell as art organisations; (4) they always surrender to the god trough laku brataas their belief.Key word: sindhén, popularitas

Page 59 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue