cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 18581196     EISSN : 23553596     DOI : -
Core Subject : Health,
KEMAS Journal: Research Study in Public Health publishes the article based on research or equivalent to research results in public health or other disciplines related to public health that has not been loaded/published by other media. The journal contains articles about epidemiology and biostatistics, health policy and administration, public health nutrition, environmental health, occupational health and safety, health promotion, reproductive health, maternal and child health, and other related articles in public health. The journal can be used by health practitioners, health caregivers, teachers, medical students, and people who are interested in public health issues. The journal was first published in July 2005 and subsequently published twice a year, in July and January. KEMAS Journal is a peer review journal and can be accessed in http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas. Semarang State University (Unnes) is a leading university in Indonesia with the vision to become a world-class conservation university. The conservation vision is closely related to the study of public health sciences. Unnes also published high quality e-journal from various disciplines, integrated, and managed through Open Access Journals that can be accessed in http://journal.unnes.ac.id. The IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia/The Association of Indonesian Public Health Expert) is a non-profit membership association dedicated to advance public health as a scientific discipline and profession that serves public good for Indonesia and humanity.
Arjuna Subject : -
Articles 1,403 Documents
INSENTIF DAN KINERJA KADER POSYANDU Wirapuspita, Ratih
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drop out kader sangat mempengaruhi perkembangan posyandu. Drop out dikarenakankurangnya insentif, baik uang maupun non uang (pelatihan, piagam, bantuan operasional,seragam, dll), namun insentif apa yang sebenarnya mampu meningkatkan kinerja kader.Masalah penelitian adalah hubungan insentif uang dan non uang dengan kinerja kaderposyandu di Puskesmas Wonorejo Samarinda. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubunganinsentif uang (uang transport) dan non uang (seragam, lomba, tunjangan kesehatan, piagam,sembako, tunjangan hari raya (THR), bantuan operasional, bantuan alat tulis, kunjunganpihak kelurahan, kunjungan ketua rukun tetangga (RT), kunjungan pimpinan puskesmas(pimpus), dan rekreasi) dengan kinerja kader posyandu. Metode penelitian cross sectional,dengan responden adalah seluruh kader di wilayah kerja Puskesmas Wonorejo. Hasilpenelitian menunjukkan ada hubungan antara pemberian bantuan operasional (p=0.002),piagam (p=0.01), uang transport (p=0.009), pelatihan (p=0.018) dengan kinerja kader. Tidakada hubungan antara seragam (p=0.927), lomba posyandu (p=0.936), tunjangan kesehatan(p=0.734), sembako (p=0.954), THR (p=0.493), kunjungan kelurahan (p=0.544), kunjunganketua RT (p=0.1), kunjungan pimpus (p=0.365) dan rekreasi (p=0.239) dengan kinerja kader.Simpulan penelitian, variabel yang berhubungan dengan kinerja kader adalah pemberianbantuan operasional, piagam, uang transport, dan pelatihan. Cadre drop out infl uenced the development of posyandu. Drop out because lack of incentives,both cash and non-cash (training, charter, operational support, uniforms, etc.), but whatincentive is actually capable of improving the performance of cadres. Research problem was howthe relationship of money and non-cash incentives with the cadres performance in posyanduWonorejo health center in Samarinda. Research purpose to determine the relationship ofincentive money (money transport) and non-cash (uniform, competition, health benefi ts, charter,groceries , holiday allowance (THR) , operational support, stationery, head of village visit, RTvisit, head of health center visit, and recreation) with the performance of posyandu cadres. Crosssectionalresearch methods, the respondent were a whole cadre in Puskesmas Wonorejo. Th eresults showed no relationship between the provision of operational support (p=0.002), charter(p=0:01), transport (p=0.009), training (p=0.018) with cadres performance. Th ere were norelationship between the uniform (p=0927), posyandu competition (p=0.936), health benefi ts(p=0.734), groceries (p=0.954), THR (p=0.493), head village visits (p=0.544), RT visit (p=0.1),head of health center visit (p=0.365) and recreation (p=0.239) with the performance of cadres.Th e conclusions, variables related to cadres performance were providing operational support,charter, transport, and training.
REMAJA SEHAT MELALUI PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA DI TINGKAT PUSKESMAS Agustini, Ni Nyoman Mestri; Arsani, Ni Luh Kadek Alit
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya pemerintah dalam mewujudkan remaja sehat, salah satunya melalui pembentukan ProgramPelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Remaja diberikan pelayanan khusus yang disesuaikandengan keinginan, selera, dan kebutuhannya. Masalah penelitian adalah bagaimana peran dari pelayanankesehatan peduli remaja di tingkat puskesmas dalam mewujudkan remaja sehat. Tujuan penelitian untukmengetahui peran dari pelayanan kesehatan peduli remaja di tingkat puskesmas dalam mewujudkanremaja sehat. Metode penelitian kualitatif, di Wilayah kerja Puskesmas Buleleng I, Kecamatan Buleleng.Sumber data terdiri dari informan, tempat dan peristiwa, dokumen. Informan dipilih secara purposivesampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumen. Teknik analisisdata menggunakan analisis interaktive model dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkanperanan puskesmas dalam mewujudkan remaja sehat salah satunya adalah melalui terealisasinya programPKPR, puskesmas sebagai penyedia sarana dan prasarana program PKPR agar program tersebut dapatterlaksana sesuai dengan sasaran. Program PKPR yang dicanangkan Puskesmas Buleleng 1 sebagian besarsudah terlaksana dengan baik, namun masih terdapat 1 sasaran yang belum tercapai yaitu pembentukankonselor sebaya serta belum maksimalnya sosialisasi kepada remaja secara luas. PKPR dirasakan memilikiperanan yang sangat penting bagi remaja. Melalui PKPR di tingkat puskesmas, remaja dapat memperolehpengetahuan mengenai kesehatan, tempat bersosialisasi, hingga mendapatkan pelayanan kesehatan yangmemperhatikan kebutuhan remaja. Simpulan penelitian, pelayanan kesehatan peduli remaja di tingkatpuskesmas berperan penting dalam mewujudkan remaja sehat. Government eff orts in realizing the healthy adolescents, one through by make Adolescent Health Care ServicesProgram (PKPR). Teenagers are given special services suitable with their desire, taste, and need. Researchproblem was how the role of adolescent health service at the health center level care in creating healthyadolescents. Research purpose to determine the role of adolescent health service at the health center levelcare in creating healthy adolescents. Qualitative research methods in Buleleng I health center working area.Data sources consisted of informants, places and events , documents. Informants were selected by purposivesampling. Data collected by interview, observations, and documents . Data analysed by Interaktive analysismodel of Miles and Huberman. Th e results showed the role of health centers in healthy adolescents realize oneof them was through by realization PKPR programs, health center as PKPR infrastructure providers so thisprogram can be implemented its target. PKPR program that launched by Buleleng I health center has wellperforming, but there was one target has not achieved yet, for example making peer counselors and has notsosialization to adolescent maximal widely yet. PKPR perceived have a very important role for adolescents.Th rough PKPR at primary care level, adolescent can get knowledge about health, socialize places, and to gethealth care suitable with adolescents needs. Th e conclusions, adolescent health care at the primary care levelimportant to creat healthy adolescents.
PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS PADAT PADA PUSKESMAS KABUPATEN PATI Pratiwi, Dyah; Maharani, Chatila
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Puskesmas merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan yang menghasilkan limbahmedis padat. Puskesmas di Kabupaten Pati telah memiliki incinerator untuk mengelolalimbah medis padat. Masalah penelitian adalah bagaimana proses pengelolaan limbahmedis padat di Puskesmas Kabupaten Pati dan apakah sudah sesuai dengan KepmenkesNo.1428/Menkes/SK/XII/2006. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana prosespengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Kabupaten Pati. Metode penelitiandeskriptif dengan rancangan studi kasus di 3 Puskesmas, yaitu Puskesmas A, B, dan C.Instrumen penelitian menggunakan pedoman wawancara,alat perekam gambar, dan alatperekam suara. Hasil penelitian menunjukkan proses pengelolaan limbah medis padatpada puskesmas yang seharusnya menggunakan incinerator, belum semua puskesmasmelakukannya. Puskesmas A melakukan penanganan akhir limbah medis padatmenggunakan incinerator, Puskesmas B dengan pembakaran biasa, dan PuskesmasC dengan melakukan pembakaran di dalam tong berdiameter 40 cm tanpa tidakmenggunakan incinerator. Simpulan penelitian, pengelolaan limbah medis padat padaPuskesmas Kabupaten Pati belum sesuai dengan ketentuan dalam pengelolaan limbahmedis menurut Kepmenkes No 1428/MENKES/SK/XII/2006. Public Health Center is one of the health care unit that produces solid medical waste.Public Health Centers in Pati have incinerator to manage solid medical waste. Researchproblem was how to process solid medical waste in health centers Pati and whether it is inaccordance with Kepmenkes No.1428/Menkes/SK/XII/2006. Research purpose to determinethe process of solid medical waste management in health centers Pati. Descriptive researchmethods by case study in 3 health centers, namely A , B , and C. Research instrument wereinterview guides, image recording, and voice recorder. Th e results showed solid medicalwaste management processes in health centers should use the incinerator, but not all healthcenters did it. Health center A handling solid medical waste by incinerators, Health centerB by usual burning, and Health Center C burning in the barrel with diameter of 40 cmwithout incinerator. Th e conclusions, medical management of solid medical waste in healthcenter Pati not accordance with the provision of management medical waste according toKepmenkes No. 1428/MENKES/SK/XII/2006.
DETERMINASI PENYAKIT TUBERKULOSIS DI DAERAH PEDESAAN Suharyo, Suharyo
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut laporan WHO tahun 2013, prevalensi TB di Indonesia menempati urutanketiga setelah India dan China yaitu hampir 700 ribu kasus, angka kematian masihtetap 27/100 ribu penduduk. Karakteristik wilayah pedesaan menjadi determinantersendiri pada kejadian penyakit TB. Masalah penelitian,adalah bagaimana faktordeterminan TB pada penduduk di pedesaan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikanfaktor determinan TB pada penduduk di pedesaan. Metode penelitian kualitatifmelalui wawancara mendalam dan dilakukan analisis deskripsi isi. Hasil penelitianmenunjukkan sebagian besar penderita TB paru berpendidikan menengah, dalam masausia produktif, dan dalam kategori kurang mampu dari sisi ekonomi. Tempat tinggalsebagian besar penderita TB paru belum memenuhi kriteria rumah sehat baik dari sisikepadatan hunian, pencahayaan, ventilasi, dan kelembaban. Hampir semua penderitaTB paru mempunyai pengetahuan cukup baik, namun masih ada sebagian yang masihberperilaku buruk, yaitu tidak menutup mulut saat batuk. Peran tokoh masyarakat dipedesaan belum menunjang program pencegahan dan penanggulangan penyakit TBparu. Peran petugas kesehatan (koordinator TB paru) masih terbatas melaksanakanpengobatan, penyuluhan, dan belum melaksanakan pencarian kasus baru secara aktif.Simpulan penelitian, factor yang menjadi determinan penyakit TB di daerah pedesaanadalah pengetahuan, pendidikan, dan kondisi rumah. According to WHO report in 2013, the prevalence of TB in Indonesia ranks third aft er Indiaand China was nearly 700 thousand cases, the mortality rate was still 27/100 thousandsinhabitants. Characteristics of rural areas as determinant on TB incidence. Researchproblem was how the determinant factors of TB in rural areas. Research purpose to describethe determinant factors of TB in rural areas. Qualitative research method through indepthinterview and analysis content description. Th e results showed the majority of patients withpulmonary tuberculosis have secondary education, in the productive age period, and in lesscategory of economic. Most TB patients have not healthy home, both in residential density,lighting, ventilation, and humidity. Almost all patients with pulmonary tuberculosis havepretty good knowledge, but some of them have bad behaviour, which does not cover themouth when coughing. Th e role of leaders in rural communities not yet support to pulmonaryTB prevent and control programs. Th e role of health workers (coordinator of pulmonaryTB) was still limited for treatment, counseling, and did not make an active search of newcases. Th e conclusions, determinant factors of TB in rural areas were knowledge, education,and house conditions.
SARUNG TANGAN LATEX SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DERMATITIS KONTAK Ningtiyas, Ardhinka Fitri
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan survei pendahuluan di CV. Yuasa Food Wonosobo, ditemukan 3 dari 7pekerja pengupas Karika Dieng merasakan gatal dibagian pergelangan tangan dan sekitarkuku walaupun memakai sarung tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikemampuan sarung tangan latex untuk mencegah dermatitis kontak pada pekerja bagianpengupasan Karika Dieng di CV. Yuasa Food Wonosobo. Jenis penelitian ini adalaheksperimen semu dengan pendekatan Pre-test Post-test Control Group Design yangdilakukan pada tahun 2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling.Populasi dalam penelitian ini adalah 30 pekerja, sedangkan sampel dalam penelitian iniberjumlah 8 pekerja. Hasil uji wilcoxon diperoleh hasil signifi kansi 1,000 berarti tidakterdapat perbedaan yang bermakna antara hasil pre-test dan post-test. Berdasarkan hasilpenelitian dapat disimpulkan bahwa sarung tangan latex dapat digunakan sebagai upayapencegahan dermatitis kontak pada pekerja bagian pengupasan Karika Dieng di CV.Yuasa Food Wonosobo. Based on a pre-study in CV. Yuasa Food Wonosobo, there were 3 from 7 workers who peelKarika Dieng felt itchy in their wrist and around the nails even wore gloves. Th e purposeof the study was to fi nd out the ability latex gloves for preventing the contact dermatitis inworkers parer Karika Dieng in CV. Yuasa Food Wonosobo. Th e study was quasi experimentwith approaches pre-test post-test control group design conducted in 2012. Sampling wasconducted with a random sampling. Population in this study were 30 workers, the sampleswere 8 workers. Wilcoxon test result obtained 1,000 signifi cant results that means therewas no signifi cant diff erences in value between pretest and posttest. Based on the result ofthis study concluded that the latex gloves can be used for preventing dermatitis contact inworkers who peel Karika Dieng in CV. Yuasa Food Wonosobo.
KEPATUHAN DIIT PASIEN HIPERTENSI Novian, Arista
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang munculnya tidak disadari. Faktorpenyebab hipertensi dapat terjadi karena keturunan, umur, pola makan yang salah,aktifi tas yang kurang, gaya hidup dan pikiran atau stres. Kepatuhan diit adalah suatuaturan perilaku yang disarankan oleh perawat, dokter atau tenaga kesehatan. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kepatuhandiit pasien hipertensi (studi pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Islam SultanAgung Semarang). Penelitian ini merupakan penelitian explanation research denganpendekatan secara cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien diithipertensi rawat jalan di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Sampel berjumlah24 pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji ChiSquare dengan nilai signifi kansi alpha 5% (= 0,05) dengan uji fi sher sebagai alternatifnya.Hasil dari penelitian ini adalah adanya hubungan antara tingkat pendidikan, tingkatpengetahuan, peran keluarga, peran petugas kesehatan dengan kepatuhan diit pasienhipertensi dan tidak ada hubungan antara umur, jenis kelamin, pekerjaan dengankepatuhan diit pasien. Hypertension is a degenerative disease emergence is not realized. Factors causinghypertension may occur because of heredity, age, wrong diet, less activity, lifestyle, andmind or stress. Dietary obidience is a conduct that suggested by the nurse, doctors orhealth workers. Th e objective of this research were to know the factors correlated to dietaryobedience of hypertension patients. Th is research was explanatory research with crosssectional approach. Population in this research was diit hypertensive patients. Sample was24 patients. Th e data were analyzed univariantly and bivariantly using Chi-Square orfi sher as an alternative test. Th e conclusion of this research is that there was a signifi cantcorrelations between the level of education, the level of knowledge, the role of the family,the role of health workers with dietary obedience of hypertension patients and there wasn’tcorrelation between age, gender, occupation with dietary obedience of hypertension patients.
ANEMIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK MALNUTRISI Zulaekah, Siti; Purwanto, Setiyo; Hidayati, Listyani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDi Indonesia masalah gizi kurang atau malnutrisi masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Masalah penelitian adalah apakah ada perbedaan pertumbuhan dan perkembangan antara anak malnutrisi yang anemia dan tidak anemia. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan pertumbuhan dan perkembangan antara anak malnutrisi yang anemia dan tidak anemia. Lokasi penelitian di Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Data sosial ekonomi yang dikumpulkan adalah pendapatan keluarga ,umur ayah, umur ibu, dan jumlah anak. Data karakteristik anak meliputi kadar Hb anak, data pertumbuhan anak (berat badan, tinggi badan dan nilai Z-Score BB/U), dan perkembangan anak (motorik kasar, motorik halus, dan perkembangan bahasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada anak malnutrisi sebesar 25%. Anak malnutrisi yang anemia mempunyai berat badan, tinggi badan, dan Z-Score BB/U yang lebih rendah dibandingkan dengan anak malnutrisi yang tidak anemia. Skor perkembangan motorik kasar, motorik halus, dan perkembangan bahasa anak malnutrisi yang anemia lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak anemia. Simpulan penelitian, tidak terdapat beda nyata laju pertumbuhan dan tingkat perkembangan antara anak malnutrisi yang anemia dengan yang tidak anemia. In Indonesia, lack of nutrition or malnutrition remains one of the major public health prob-lems. Research problem was whether difference growth and development between malnutri-tion child with anemic and without anemic. The purpose to analyze the differences growth and development between malnutrition child with anemic and without anemic. Research location Semanggi and Sangkrah Village, Pasar Kliwon District, Surakarta City. Socio-eco-nomic data collected were family income, father’s age, mother’s age, and number of children. Data child characteristics include hemoglobin level of children, child growth data (weight, height, and the Z-Score value of W/A), and child development (gross motor, fine motor, and language development). The result showed that the prevalence of anemia in malnourished children as 25%. Child malnutrition anemia have weight, height, and Z-Score W/A lower than the malnourished children without anemic. Score gross motor development, fine mo-tor, and language development child malnutrition with anemic lower than children without anemic. The conclusions, there was no significant growth and development difference of malnutrition children with anemic or not.
FAKTOR RISIKO UNDERWEIGHT BALITA UMUR 7-59 BULAN Rahim, Fitri Kurnia
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMasalah penelitian adalah faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan status gizi underweight pada balita. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi underweight pada balita. Metode penelitian survei pada balita umur 7-59 bulan di wilayah Puskesmas Leuwimunding sebanyak 200 sampel, menggunakan cluster random sampling. Pengambilan data dengan wawancara dan pengukuran berat badan secara langsung menggunakan alat ukur dacin. Analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian menunjukkan balita yang tergolong status gizi underweight sebanyak 31,40 %, yang mengalami diare kronik 14,90 %, dan pneumonia 8,80 %. Praktik pemberian makan anak balita tergolong kurang baik sebanyak 43,80 %, praktik pengobatan anak balita tergolong kurang baik sebanyak 25,30 %, dan praktik kesehatan anak balita tergolong kurang baik sebanyak 41,80 %. Tingkat konsumsi energi kurang baik pada anak balita sebanyak 60,30 %, dan tingkat konsumsi protein kurang baik pada anak balita 54,60 %. Simpulan penelitian, faktor yang berhubungan dengan status gizi buruk pada balita umur 7-9 bulan yaitu pola asuh pemberian makan balita, tingkat konsumsi energi, dan protein balita. The research problem was whether the factors associated with underweight nutritional sta-tus in children under five. Research purpose to determine the factors associated with under-weight nutritional status in toddler. Survey method in infants aged 7-59 months in the re-gion of Leuwimunding health center amounts 200 samples, using cluster random sampling. Data collected by interview and direct weight measurement using bathroom scales. Data analysis by chi square. The results showed the nutritional status of toddler were classified as underweight as 31.40 %, which was experiencing chronic diarrhea 14.90% and pneumonia 8.80%. Unfavorable practice of toddler feeding as 43.80%, unfavorable treatment practices of toddler as 25.30%, and unfavorable health practices of toddler as unfavorable as 41.80% . The rate of energy consumption is not good for toddler as much as 60.30%, and the rate of protein consumption wass less good in 54.60% of toddler. The conclusions, factors associ-ated with underweight nutritional status in infants aged 7-9 months were toddler feeding, level of energy consumption, and protein toddlers.
KEBERADAAN TPS LEGAL DAN TPS ILEGAL DI KECAMATAN GODEAN KABUPATEN SLEMAN Mulasari, Surahma Asti
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah yang terus bertambah dan tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah baik pada pemerintah, sosial masyarakat, kesehatan, dan lingkungan. Permasalahan penelitian adalah bagaimana gambaran keberadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) legal dan ilegal dan dampak keberadaan TPS legal dan ilegal di Kecamatan Godean Sleman Yogyakarta. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keberadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) legal dan ilegal dan dampak keberadaan TPS legal dan ilegal di Kecamatan Godean Sleman Yogyakarta. Metode penelitian adalah survei deskriptif dengan wawancara dan bantuan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk mengetahui dan menggambarkan lokasi TPS legal dan ilegal di Kecamatan Godean. Hasil penelitian menunjukkan dari tujuh desa yang terdapat di Kecamatan Godean, Desa Sidoagung memiliki TPS ilegal terbanyak dengan jumlah 19 TPS. Desa Sidorejo berjumlah 1 TPS ilegal dan 1 TPS Legal, Desa Sidomulyo memiliki TPS ilegal yang berjumlah 2 TPS, Desa Sidokarto memiliki TPS ilegal berjumlah 4 TPS, Desa Sidoarum memiliki TPS ilegal berjumlah 4 TPS, Desa Sidomoyo memiliki TPS berjumlah 6 TPS ilegal dan 2 TPS Legal. Simpulan penelitian, terdapat 3 TPS legal dan 45 TPS ilegal di Kecamatan Godean. Growing garbage and not managed properly cause problems for government, social, health, and environment. The research problem  was how the description of legal and illegal waste disposal (TPS) and the impact of legal and illegal TPS existence in Godean District of Sleman, Yogyakarta. Research purpose was to descript the presence of legal and illegal waste disposal and their impact. Research method was descriptive survey with interviews and a Geographic Information System (GIS) to identify and describe the legal and illegal polling locations in Godean District. The results showed that there were seven villages in the Godean district, Sidoagung village has the highest number of illegal TPS amounted 19 TPS . Sidorejo village have 1 legal TPS, 1 Illegal TPS, Sidomulyo village have 2 illlegal TPS, Sidokarto village have 4 illegal TPS, Sidoarum village have 4 illegal TPS, Sidomoyo village have 6 illegal TPS and 2 legal TPS. Conclusion, there were 3 legal and 45 illegal TPS in the Godean District.
INTENSITAS PENCAHAYAAN DAN KELAINAN REFRAKSI MATA TERHADAP KELELAHAN MATA Prayoga, Hermawan Ady
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keselamatan dan kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi perkerja agar tidak membawa dampak atau akibat buruk kepada tenaga kerja yang berupa penyakit atau gangguan kesehatan. Salah satu faktor fisik di tempat kerja yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yaitu penerangan. Masalah penelitian adalah bagaimana hubungan antara intensitas pencahayaan dan kelainan refraksi mata dengan kelelahan mata pada tenaga para medis di bagian rawat inap RSUD dr. Soediran Mangun  Sumarso Wonogiri.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara intensitas pencahayaan dan kelainan refraksi mata dengan kelelahan mata pada tenaga para medis. Metode penelitian cross sectional, dengan populasi perawat RSUD dr. Soediran Mangun  Sumarso Wonogiri berjumlah 299 orang. Sampel berjumlah 41 responden, menggunakan random sampling. Instrumen berupa lux meter dan pengukuran reaction timer. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kelelahan mata pada tenaga medis adalah intensitas cahaya (p=0,011) dan kelainan refraksi mata (p=0,018). Simpulan penelitian, ada hubungan antara intensitas pencahayaan dan kelainan refraksi mata dengan kelelahan mata pada tenaga para medis di bagian rawat inap RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Occupational health and safety aimed to protecting worker of bad effect, for example from diseases or health problems. One of the physical factors in the workplace that can lead to accident and occupational disease is lighting. Research problem was how the relationship between light intensity and abnormality eye refractive to eye fatigue on medical staff at dr. Mangun Soediran Sumarso Wonogiri. Research purpose was to determine the relationship between light intensity and abnormality eye refractive to eye fatigue of the medical personnel. Cross-sectional research methods with nurses population from dr. Soediran Mangun Sumarso hospital Wonogiri, amounts 299 people. The samples amounted to 41 respondents, using random sampling. Instruments such as lux meters and reaction timer. The result showed that the variables associated with eye fatigue on medical staff were light intensity (p=0.011) and abnormality eye refractive (p=0.018). The conclusions, there was relationship between light intensity and abnormality eye refractive to eye fatigue on the medical staff at dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.

Page 12 of 141 | Total Record : 1403


Filter by Year

2009 2024