cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015" : 9 Documents clear
Kebersyukuran dan Subjective Well-Being pada Lanjut Usia Bersuku Jawa di Provinsi Jawa Tengah Utami, Nugraheni Putri; Dahriyanto, Luthfi Fathan; Liftiah, Liftiah
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.44155

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kebersyukuran dan subjective well-being (SWB) pada lansia bersuku Jawa di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan Indigenous Psychology dengan responden penelitian sebanyak 500 lansia bersuku Jawa yang diambil menggunakan teknik incidental sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan open-ended questionnaire yang terdiri dari 4 pertanyaan tentang kebersyukuran dan 3 pertanyaan tentang SWB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Tuhan pada masyarakat Jawa serta prinsip hidup nrimo, rukun, dsb., memberikan pengaruh cukup besar pada responden dalam memaknai kebersyukuran dan SWB. Bersyukur merupakan wujud terima kasih responden yang diwujudkan dalam bentuk beribadah kepada Tuhan. Adapun yang paling mendorong responden untuk bersyukur adalah kesehatan, terpenuhinya kebutuhan, serta kondisi keluarga dan hubungan sosial. Sedangkan teraihnya SWB disebabkan oleh terjalinnya relasi sosial yang baik, keberhasilan dalam hidup, terpenuhinya kebutuhan, serta kesehatan. Efek yang paling dirasakan saat responden telah meraih SWB adalah muncul perasaan yang  menyenangkan, serta lebih dekat dengan Tuhan. Dalam kaitannya dengan SWB, bersyukur menjadi salah satu faktor pendorong responden meraih SWB. Namun tidak hanya itu, bersyukur juga menjadi efek yang muncul saat responden telah meraih SWB. The purpose of this study to describe gratitude and subjective well-being (SWB) in elderly Javanese tribes in Central Java Province. This research approach to Indigenous Psychology study of 500 elderly respondents Java tribes taken using incidental sampling technique. Data was collected using open-ended questionnaire consisting of 4 questions about gartitude and 3 questions about SWB. The results showed that the concept of God in the Java community as well as the principle of life “nrimo”,peaceful, etc. , giving considerable influence on the respondents in meaning grtaitude and SWB. Thankful is a form of gratitude respondents are realized in the form of worship to God. The most encouraging respondents to give thanks is health, fulfillment of needs, as well as the condition of the family and social relationships. While the attainment of SWB due to the establishment of good social relations, success in life, fulfillment, and health. The effects are most felt when the respondent has won SWB is a pleasant feeling arises, as well as closer to God. In relation to SWB, gratitude to be one of the driving factors of the respondents earned SWB. But not only that, gratitude also be effects that arise when respondents have achieved SWB.
Dampak Psikologis pada Remaja Korban Pemerkosaan di Kabupaten Temanggung Sari, Kausar Rafika; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48749

Abstract

Penelitian ini berusaha menggambarkan secara lebih jelas dan mendalam tentang bagaimana dampak psikologis pada remaja korban pemerkosaan di Kabupaten Temanggung . Penelitian ini menggunakan metode wawancara (interview) dan observasi. Subjek pada penelitian ini yaitu satu orang remaja putri yang telah diperkosa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di latar belakangi oleh ketidakharmonisan keluarga, hubungan yang buruk antar peer group nya dan kurangnya perhatian orang tua. Terdapat temuan baru pada faktor yang mempengaruhi timbulnya dampak psikologis pemerkosaan yaitu pengalaman traumatik masa lampau yaitu pernah mengalami pelecehan seksual, dinamika keluarga, hubungan sosial dan perilaku negatif orang tua. Sedangkan dampak psikologis yang dialami oleh subjek adalah subjek mengalami kejadian traumatic yang dialami kembali oleh subjek, subjek menghindari hal yang berhubungan dengan trauma, Subjek mengalami peningkatan kesadaran dan dampak psikososial pasca pemerkosaan subjek memisahkan diri dari lingkungan This research trying to describe more clearly and deeply about how psychology impact on teen rape victims in Temanggung regency. This research uses interview method and observation. Subject in this observation is a girl teenager who has been raped. Research result shows that subject has been raped and it caused by not harmonic family, bad relationship between peer group and lack of parent attention. There is a new factor which influence impact rape psychologist, that is traumatic experience in the past and ever has sexual harassment, family dynamic, social relationship and bad treatment from parent. While psychologist impact that experienced by the subject is subject gets traumatic experience and experienced again by the subject, subject avoids something that has relationship with trauma. Subject has increasing realize and psychosocialimpact after rape subject separate herself from the environment.
Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Kesejahteraan Psikologis Guru Sekolah Luar Biasa Muttaqinah, Asyiah Ummul; Novitasari, Resnia
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48727

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis guru sekolah luar biasa. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis guru sekolah luar biasa. Responden dalam penelitian ini berjumlah 105 orang guru sekolah luar biasa. Pada penelitian ini menggunakan 2 skala, yakni: (a) Skala Dukungan Sosial berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Zimet, Dahlem, Zimet Farley (1988) yang memiliki nilai α= 0,868 terdiri dari 11 aitem, dan (b) Skala Kesejahteraan Psikologis mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Ryff dan Keyes (1995) dengan nilai α= 0,818 berjumlah 13 aitem. Hasil analisis data dengan menggunakan korelasi product moment dari Spearman diketahui bahwa dukungan sosial berkorelasi dengan kesejahteraan psikologis guru Sekolah Luar Biasa r= 0,359 dan p= 0,001 (p 0,05). Dengan demikian, hipotesis yang diajukan diterima. This study was aimed to test empirically the relationship between social support with psychological well being for children with special needs’s teachers. The hypothesis of this study is there’s a relationship between social support with psychological well being for children with special needs’s teachers. Respondents in this study were 105 male and female teachers. This study has 2 measurments (a) Social Support scales which refers to Zimet, Dahlem, dan Farley (1988) α= 0,868 with 11 item. (b)  psychological well being from Ryff and Keyes (1995) α= 0,818 with 13 item. Based on the analysis with Product Moment Correlation from Spearman, researchers can concluded that there is a relationship between social support with psychological well being for children with special needs’s teachersr= 0,359 and p= 0,001 (p 0,05) and the hypothesis is accepted. The result of this study will discuss leter.
Perbedaan Resiliensi Pada Wanita Bercerai Ditinjau Dari Lamanya Menikah Saragih, Erianson; Stanislaus, Sugiyarta
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48743

Abstract

Berumah tangga dan menjadi orang tua merupakan proses yang penuh tantangan dan dibutuhkan kesiapan besar. Tidak sedikit permasalahan bisa menerpa sebuah pernikahan. Ketidakmampuan pasangan dalam melalui permasalahan itulah yang sering menjadi pemicu perceraian dalam berumah tangga. Manusia pada dasarnya telah memiliki insting tersendiri dalam menghadapi dan menyelesaikan cobaan-cobaan dalam hidup, namun tingkatan kemampuan itu berbeda-beda. Hal itu lah yang disebut Resiliensi. Perceraian pada umumnya memberikan tekanan psikologis, namun kedewasaan dan pengalaman dalam menghadapi masalah hidup memberikan keunggulan dalam menghadapi situasi kehilangan pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat resiliensi wanita bercerai dengan masa menikah 10 tahun dan wanita bercerai dengan masa menikah ≥20 tahun. Populasi pada penelitian ini adalah wanita bercerai di Ungaran Barat yang berjumlah 154 orang.  Untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini digunakan teknik purposive sampling sebanyak 60 orang, masing-masing 30 dari wanita bercerai dengan masa menikah 10 tahun dengan wanita bercerai dengan masa menikah ≥20 tahun. Setelah dilakukan analisis statistik, hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan resiliensi wanita bercerai dengan masa menikah 10 tahun dan wanita bercerai dengan masa menikah ≥20 tahun. Dimana tingkat resiliensi wanita bercerai yang menikah ≥20 tahun lebih tinggi dibanding wanita bercerai yang menikah 10 tahun. Become a parent is a challenging process and it takes a great readiness. The inability of the pair in through the problems that are often the trigger for a divorce in a marriage. Humans are basically already have their own instincts in the face and finish trials in life, but the skill levels vary. It is what is called resilience. Divorce in general provide psychological pressure. They are more mature maturity and experience in dealing with life's problems gives them an advantage in a situation loss of a spouse. This research aims to determine whether there are differences in the level of resilience to duration married divorced women 10 years old and divorced with a period of married women ≥20 years. The population in this study were women divorced in West Ungaran totaling 154 people. For sampling used in this research using purposive sampling of 60 people, each of the 30 married women divorcing period 10 years with a divorced woman with a period of ≥20 years married. After statistical analysis, the results of this reseach showed a difference of resilience to future married divorced women 10 years old and divorced with a period of married women ≥20 years. Where in the level of resilience divorced women who married ≥20 years higher than divorced women who married 10 years.
Gambaran Psychological Well-Being Keluarga Miskin Kampung Nelayan Tegal Sari Kota Tegal Wijaya, Mario Indrianto; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48745

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran psychological well-being keluarga miskin kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal. Subjek penelitian berjumlah 65 orang yang merupakan keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian simple random sampling. Metode penelitan yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar atau 78,46 persen (51 orang) menyatakan dirinya memiliki psychological well-being berada pada tingkat sedang. Sedangkan yang termasuk dalam kriteria tinggi hanya sebesar 15,38 persen (10 orang) dan 6,15 persen (4 orang) berada pada kategori rendah. Dari enam dimensi yang diteliti yaitu dimensi penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi, berada tingkat sedang,  dimensi yang paling besar proporsinya dalam terbentuknya psychological well-being pada keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal adalah dimensi pertumbuhan pribadi, sedangkan  dimensi yang paling kecil hubungan positif dengan orang lain. Gambaran secara umum masyarakat kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal mempunyai psychological well-being yang berada pada kategori sedang. Berarti setengah dari masyarakat kampung nelayan berada pada tingkat ekonomi yang tergolong berkecukupan, karena mereka masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dapat menyekolahkan anak mereka walau mereka berpenghasilan sangat rendah. The purpose of this study was to determine how the image of psychological well-being of poverty families fishing village Tegal Sari, Tegal. Subject numbered 65 people who are poor fishing village . This research uses simple random sampling study. Research method used is descriptive quantitative method. The results showed that most or 78.46 percent (51 people) claimed have psychological well-being was at a moderate level . While the criteria are included in the height of only 15.38 percent (10 people) and 6.15 percent (4 people) are in the low category. Of the six dimensions studied were the dimensions of self acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth, to be moderate, the dimensions of the greatest proportion in the formation of psychological well-being for the poverty fisher village of Tegalsari, Tegal is the dimension of personal growth, while the smallest dimension of positive relationships with others. Picture of the general public fisher village Tegal Sari has psychological well-being that are in the medium category. Means half of the public fisher village is at a level that is relatively affluent economies, because they are still able to meet their daily needs and can send their children even though they income very low.
Intimacy Pasangan Suami Istri yang Menjalani Hubungan Jarak Jauh Arifah, Nur; Purwanto, Edy
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48748

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran intimacy dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi baik atau tidaknya intimacy pada pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi fenomenologi dengan menggunakan alat pengumpul data wawancara dan observasi. Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh. Hasil penelitian ini terdapat intimacy yang baik pada pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh karena dari sepuluh aspek intimacy Stemberg subjek memiliki sembilan aspek intimacy. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi baik  atau tidaknya intimacy pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh yaitu: komunikasi yang terbuka, mampu mengungkapkan dan mengekspresikan segala jenis emosi termasuk yang tidak menyenangkan, memberikan perhatian satu sama lain, komitmen dan empati dan prilaku menjaga. Implikasi dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi serta masukan bagi para calon ataupun pasangan suami istri serta para konsultan pernikahan mengenai intimacy pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh, sehingga informasi atau masukan tentang intimacy pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh ini dapat dijadikan pertimbangan ketika pasangan suami istri akan ataupun sedang menjalani hubungan jarak jauh. The objective of this study is to find out descriptions about intimacy and factors influencing good or bad intimacy of long distance relationship spouses. The research uses qualitative approach in form of phenomenological study using interview sheets and observations. The subject of this study is a couple of married who is in a long distance relationship. The result of the study involves a good intimacy of spouses who are in long distance relationships for the subject has nine out of ten of Stemberg’s intimacy aspects. Intimacy has many factors influencing whether it is a good or bad intimacy, among of them are: communication especially deep self-disclosure; expression of genuine emotions, even unpleasant ones; paying attention to each other; commitment; and empathic and nurturing behaviors. The study can be implied as a source of information and also as an input for them who are going to be in a long distance relationship and for marriage consultants in case of long distance spouses’ intimacy so that information and input of this kind of intimacy can be a consideration for spouses whether they will or are going to be in a long distance relationship.
Efektivitas Pelatihan Kepercayaan Diri dalam Public Speaking untuk Mengurangi Kecemasan Berbicara di Depan Umum Dwisatoto, Singgih Agung; Muhammad, Amri Hana
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.49410

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan pelatihan public speaking untuk mengurangi kecemasan berbicara di depan umum. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi kependidikan UNNES yang berjumlah 15 orang. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen one group pretest posttest design; dengan pretest dilakukan sebanyak 2 kali. Perlakuan yang diberikan adalah pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking yang terbagi dalam 3 sesi dan kegiatan pelatihan berupa pemberian materi, diskusi kelompok, menumbuhkan keyakinan, dan simulasi berbicara di depan umum. Hasil analisis data yang diperoleh dengan menggunakan uji Wilcoxon signed ranks test diperoleh nilai Z = -3,241 dengan  probabilitas 0,0005 (p 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini terdapat perbedaan secara signifikan tingkat kecemasan berbicara di depan umum sebelum dan sesudah diberikan pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking efektif untuk mengurangi tingkat kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa program studi kependidikan, hal ini terbukti dengan adanya perbedaan tingkat kecemasan berbicara di depan umum yang signifikan antara sebelum (pretest 1 dan pretest 2) dengan sesudah (posttest) pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking. This study aims to determine effectiveness of public speaking training to reduce the anxiety of public speaking. Subjects in this study were students UNNES education courses (15 people). This research uses experimental design one group pretest posttest design; with pretest was done 2 times. The treatments were training in public speaking confidence which is divided into 3 sessions and training activities for the provision of material, group discussions, to gain confidence, and simulation of public speaking. The results of analysis of data obtained using the Wilcoxon signed ranks test obtained by value Z = -3.241 with probability 0.0005 (p 0.05), it can be concluded that in this study there were significant differences in the level of anxiety of public speaking before and after the training given confidence in public speaking. Based on the results of the study, self-confidence training in public speaking effectively to reduce the level of anxiety, it is proved by differences in the level of anxiety of public speaking were between before (pretest 1 and pretest 2) with after (posttest) training of confidence in public speaking.
Studi Korelasi Antara Identitas Sosial dengan Orientasi Dominasi Sosial pada Aparat Hankamnas di Jawa Tengah Budiarto, Dwi; Martiarini, Nuke
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.49413

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara identitas sosial dengan orientasi dominasi sosial pada aparat Hankamnas di Jawa Tengah. Orientasi dominasi sosial dalam penelitian ini merujuk pada mekanisme pemeliharaan orientasi dominasi sosial guna mempertahankan posisi dominan kelompok. Sedangkan identitas sosial dalam penelitian ini berkaitan dengan institusi atau lembaga yang menaungi aparat Hankamnas, yaitu Kopassus yang merupakan perwakilan dari TNI dan Brimob yang merupakan Polri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi positif antara identitas sosial dengan orientasi dominasi sosial pada aparat Hankamnas, Kopassus dan Brimob. Dengan demikian penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya orientasi dominasi sosial pada aparat Hankamnas, dalam hal ini Kopassus dan Brimob tidak bisa dijelaskan dengan tingkatan identitas sosial mereka sebagai bagian dari anggota kelompok institusinya masing-masing. Diprediksi terdapat faktor lain yang berkorelasi positif dengan orientasi dominasi sosial pada aparat Hankamnas di Jawa Tengah. The purpose of this study was to investigate the relationship between Social Identity (X) with Social Dominance Orientation (Y) at aparat Hankamnas (TNI and Kopassus) in Central Java. This study is a quantitative correlation. The result if this research were indicates that there is a positive correlation between social identity with social dominance orientation on Hankamnas forces (Kopassus and Brimob). This study was concluded that the social dominance orientation on Hankamnas forces, in this case Kopassus and Brimob can not be explained by the level of their social identity as part of the group members of each institution  It can be predicted that there are other factors that correlated positively with social dominance orientation on Hankamnas forces in Central Java. 
Pengintegrasian Karakter Konservasi dalam Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Karakter Sebagai Media Pembelajaran Karakter Bagi Mahasiswa Psikologi FIP UNNES Azis, Abdul; Fitrianto, Abdul Haris
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.49440

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan karakter konservasi dalam proses pembelajaran MK Pendidikan Karakter dan mengungkap sebuah model penanaman karakter konservasi yang sesuai dengan kurikulum MK Pendidikan Karakter. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data yang akurat dalam penelitian ini adalah observasi (pengamatan), angket (kuesioner) dan interview (wawancara). Data kualitatif yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik deskriptif model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengintegrasian karakter konservasi dalam MK Pendidikan Karakter, ada beberapa tahap pengintegrasian karakter konservasi, yakni: tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Tahap perencanaan dimulai dengan analisis kompetensi dasar, pengembangan silabus berkarakter, penyusunan RPP berkarakter, dan penyiapan bahan ajar berkarakter. Tahap pelaksanaan dalam kegiatan pembelajaran meliputi tahapan ice-breaking atau pendahuluan, inti, dan penutup dipilih dan dilaksanakan agar peserta didik mendiskusikan dan mempraktikkan nilai-nilai karakter konservasi yang ditargetkan. Dalam tahapan evaluasi, peneliti membuat instrumen penilaian yang dilengkapi dengan rubrik penilaian untuk menghindari penilaian yang subjektif, baik dalam bentuk instrumen penilaian pengamatan (lembar pengamatan) maupun instrumen penilaian skala sikap. Hasil dari analisis interview dan kuesioner mengungkapkan bahwa mahasiswa memahami pentingnya karakter dalam pembentukan manusia seutuhnya dan perannya dalam perlindungan alam (konservasi). This research aims to integrate the conservation characters in Character Education learning process and unveil a model of conservation plantings character in accordance with the Character Education curriculum. This research is a qualitative descriptive study. The instruments in this study are observation, questionnaire, and interview. Qualitative data were analyzed using descriptive techniques interactive model. The results showed that the integration of conservation character in the Character Education, there are several stages of integration of the character of conservation : planning, implementation, and evaluation of learning. The planning stage begins with an analysis of basic competence, character syllabus development, the preparation of RPP character, and preparation of teaching material character. The implementation phase in the learning activities include ice-breaking stage or introductory, core, and the cover chosen and implemented so that learners discuss and practice the values of conservation targeted character. In the evaluation phase, the researchers made the assessment instrument is equipped with a scoring rubric to avoid subjective judgments, whether in the form of assessment instruments of observation (observation sheet) as well as the attitude scale assessment instrument. Results showed that students understand the importance of character in the formation of the whole man and his role in the protection of nature (conservation).

Page 1 of 1 | Total Record : 9