cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
TERAPI KOGNITIF PERILAKU PADA REMAJA DENGAN GANGGUAN KOMORBID PERILAKU MENENTANG DAN DEPRESI YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN Syafitri, Diany Ufieta
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14110

Abstract

Abstrak.Pengasuhan dan kondisi panti asuhan seringkali dianggap kurang kondusif untuk perkembangan anak serta remaja yang ada di dalamnya. Hal ini kemudian dibuktikan oleh banyaknya penelitian yang menyebutkan banyaknya permasalahan anak dan remaja di panti asuhan. Salah satu gangguan yang paling banyak terjadi adalah Gangguan Perilaku (GP), terutama yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Gangguan Perilaku Menentang (GPM). Subjek dalam penelitian ini adalah seorang remaja laki-laki usia 15 tahun yang dirujuk kepada psikolog karena menunjukkan gejala GPM. Penelitian ini menggunakan studi kasus di mana proses pengumpulan data menggunakan multi sumber yaitu wawancara kepada orang di sekitar subjek, observasi, dan asesmen psikologi. Hasilnya menunjukkan bahwa selain gejala GPM subjek juga menunjukkan depresi yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa subjek mengalami gangguan komorbid. Penanganan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kognitif perilaku sebanyak delapan pertemuan, yang terdiri atas penanganan komponen kognitif, emosi, dan perilaku. Hasilnya, subjek mengalami peningkatan dalam berpikir secara seimbang tentang dirinya yang berpengaruh terhadap kondisi emosi dan perilakunya. Di dalam artikel ini juga didiskusikan tentang dimensi gejala dalam GPM yang memprediksi terjadinya komorbiditas dengan gangguan afektif.Kata kunci: gangguan perilaku menentang, remaja, terapi kognitif perilaku, panti asuhan Abstract. Parenting and orphanage are often considered less conducive to the development of children and adolescents. This is evidenced by many studies that mention many problems of children and adolescentsot orphanages. One of the most common disruptions is Behavioral Disorder (GP), those discussed in this study are Behavioral Disorder (GPM). Subjects in this study were a 15-year-old male teenager who is showing symptoms of GPM. This study uses case studies and the process of collecting data using multiple sources of interviews to people around the subject, observation, and psychological assessment. The results showed that in addition to symptoms GPM subjects also showed high depression. This indicates that the subject has comorbid disorders. Handling is done through the cognitive approach to the behavior of eight meetings, which consists of handling cognitive, emotional, and behavioral components. To sum up, the subject has increased in thinking in a balanced about himself that affects his emotional state and behavior. In this article is also discussed about the dimensions of symptoms in GPM that predict the occurrence of comorbidities with affective disorders.
TEXT MINING DAN SENTIMEN ANALISIS TWITTER PADA GERAKAN LGBT Hartanto, Hartanto
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i1.9561

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan frekuensi opini kicauan di Twitter terkait pro dan kontra terhadap gerakan LGBT. Riset ini termasuk dalam penelitian data mining kuantitatif dan terbagi dalam dua tahap. Pertama, analisis text mining wordclouds dan dilanjutkan analisis sentiment dalam tweet. Pendekatan sub metode bags of word dilakukan untuk merangkai sentiment dari twitter. Negative dan positive words murni melakukan perubahan dari sentiment lexicon Bing Liu dengan melakukan adaptasi ke bahasa Indonesia. Stop words yang merupakan bagian dari analisis text mining juga disesuaikan untuk kebutuhan analisis. Hasil yang didapat mengenai gerakan LGBT cukup konsisten dengan kondisi terkini, hasil dari wordclous simetris dengan histogram analisis sentiment, dimana frekuensi kata seperti “kumpul kebo”, “moral”, “Indonesia”, “perbincangan”, “dibui”, “pindah”, “ditantang”, “garis batas” terbilang tinggi, dan sebanyak 379 tweet beropini netral, 79 menyatakan positif dengan gerakan LGBT dan 27 menyatakan sikap negative. Abstract. Aim of this study is to describe the frequency of tweets on Twitter opinion related to the pros and cons of the LGBT movement. The core method research on text mining and sentiment analysis wordclouds with R was aplicated for this research. Bags of word method is done to assemble the sentiment of twitter. Negative and positive word of pure change of sentiment lexicon Bing Liu are adapted to Indonesian. Stop words that are part of the analysis of text mining is also made to meet up the needs of analysis. The results of the LGBT movement is quite consistent with the current conditions, the results of wordclous symmetrical with the analysis of sentiment, where the frequency of words such as "cohabiting", "moral", "Indonesia", "conversation", "jail", "move", " challenged "," borderline "is high, and as many as 379 is neutral tweet opinion, 79 expressed positive with the LGBT movement and 27 expressed negative attitudes toward it.
OPERANT CONDITIONING: SHAPING DANPOSITIVE REINFORCEMENT CONTINGENCIES “DARI PERILAKU OFF-TASK MENJADI ON-TASK” Mahanani, Fatma Kusuma
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14119

Abstract

Abstrak. Pendidikan informal pada jenjang taman kanak-kanak menjadi latihan bagi anak untuk belajar berbagai hal melalui kegiatan bermain. Perilaku off-task kerap muncul pada anak-anak tertentu pada proses tersebut. Perbedaan individu yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal masing-masing anak menjadi penyebab perilaku off-task.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas metode Operant Conditioning dengan teknik Shaping dan Positive Reinforcement Contingenciesdalam meningkatkan perilaku On-task pada anak TK.Subjek penelitian adalah seorang anak laki-laki berusia 4 tahun 7 bulan dengan ditentukan secara purposif berdasarkan hasil observasi awal pada kegiatan inti di TK. Subjek adalah siswa di kelas TK A dan belum pernah mengikuti kelompok bermain sebelum TK. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan subjek tunggal (single case experiment).Pengukuran menggunakan observasi dengan menghitung jumlah tugas yang berhasil diselesaikan pada kegiatan inti. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata jumlah ketuntasan tugas yang dilakukan subjek pada kegiata inti. Rata-rata fase baseline 2 tugas terselesaikan, dua minggu pertama pelaksanaan intervensi rata-rata  4 tugas terselesaikan, dua minggu terakhir pelaksanaan intervensi 4 tugas terselesaikan, dan mampu bertahan pada rata-rata 4 tugas terselesaikan pada saat follow up. Kata kunci: operant conditioning, shaping, positive reinforcement contingencies, off-task, on-task Abstract.Informal education at the kindergarten level becomes an exercise for children to learn various things through play activities. Off-task behavior often appears in certain children in the process. The individual differences that are influenced by the internal and external factors of each child become the cause of the off-task behavior. The purpose of this research is to test the effectiveness of Operant Conditioning method with Shaping technique and Positive Reinforcement Contingencies in improving On-task behavior in kindergarten children. The subject of the study was a boy aged 4 years and 7 months determined purposively based on preliminary observations on core activities in kindergarten. Subjects are students in kindergarten class A and have never attended play group before kindergarten. The research design used was experiment with single subject (single case experiment). Measurement used was observation by counting the number of tasks completed successfully in the core activities. The results showed an increase in the average number of tasks done by subjects on the core activities. Two On-task behaviour showed by subjek in baseline phase, Four on-task behaviour was completed in the first two weeks intervention phase, Four on-task behaviour was completed in the last two weeks intervention phase, and able to withstand an average of 4 on-taskbehaviour completed during follow-up.
ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA PEGAWAI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Mesti, Diah; Nuzulia, Siti
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 3 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i3.13340

Abstract

Abstrak. Permasalahan dalam  penelitian ini adalah bagaimana Organizational Citizenship Behavior peda pegawai Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai tingkat Organizational Citizenship Behavior pegawai Universitas Negeri Semarang. Sampel populasi yang digunakan sebanyah 54 responden dengan analisis data kuantitatif deskriptif.Hasil uji reabilitas diperoleh koefisien reabilitas yang tinggi sebesar 0, 915.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan Organizational Citizenship Behavior pegawai Universitas Negeri Semarang berada pada kategori tinggi. Masing-masing dimensi dalam Organizational Citizenship Behavior meliputi dimensi altruisme, conscientiousness, spotmanship, courtesy, dan civic virtue dapat diketahui bahwa hasilnya adalah tinggi. Artinya, pimpinan unit kerja pusat Universitas Negeri Semarang  melaksanakan pekerjaan dan membantu pegawai lain dalam menyelesaikan tugas-tugas sehingga menjadikan organisasi berjalan dengan efektif dan efisien.Simpulan hasil penelitian bahwa Organizational Citizenship Behavior pimpinan unit kerja pusat Universitas Negeri Semarang adalah tinggi, tinjauan dari masing-masing dimensi juga menunjukkan kategori tinggi. Peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya 1) mengkaji motif yang melandasi tingginya Organizational Citizenship Behavior pimpinan unit kerja pusat Universitas Negeri Semarang. 2) penelitian dengan memadukan Organizational Citizenship Behavior dengan variabel lain. 
KONSEP KEBAHAGIAAN PADA REMAJA YANG TINGGAL DI JALANAN, PANTI ASUHAN DAN PESANTREN Dewi, Eva Meizara Puspita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i1.11912

Abstract

Abstrak. penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsep kebahagiaan remaja yang tinggal dijalanan, dipantiasuhan dan dipondok pesantren. Metode yang digunakan adalah kualitatif, sehingga wawancara dan observasi adalah alat utama dalam pengumpulan data. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsep kebahagiaan pada remaja berpusat pada adanya rasa  kebebasan dalam berpikir dan bertindak. Perbedaan kebahagiaan remaja jalanan, panti asuhan dan pesantren sebagai berikut: pada remaja Jalanan, tidak mendapatkan kebebasan dirumah sehingga melarikan diri untuk mencari kebahagiaan diluar rumah. Pada remaja Panti asuhan: kebebasan yang sangat luas namun tidak terarah sehingga merasa kurang percaya diri dalam menghadapi masa depan dan sosialisasi juga terbatas. Pada remaja pesantren: kebebasan yang diatur secara ketat, namun dapat memenuhi kebutuhannya dalam pengasuhan orangtua dan pesantren. Hal ini menjadikannya lebih mandiri dan bersosialisasi secara luas meski pada komunitas yang terbatas.Kata kunci: Kebahagiaan, Remaja di panti asuhan, pesantren dan jalanan. Abstract. This research aimed to describes adolescent’s concept reviewed by the place setting, which is  adolescents who live on the street, orphanage, and Islamic boarding school. This research uses qualitative approach, which is interview and observation are the main tools to collect data in this research. The conclusion of this research is about the concept of happiness of adolescent that focus on the existence of sense of freedom to think and to act.The differences among the street adolescent, orphanage adolescent, and Islamic boarding school adolescent are: street adolescent, their Islamic oppresed freedom make them escape from that situation to find broader freedom. Orphanage adolescent: lots of freedom but undirected, so it makes them less confident to face their future and their social life is also terminated. Islamic boarding school: freedom is controlled strictly, but they still can fulfill their needs under parents and Islamic boarding school nurture. These things make them more independent to socialize even in a bounded community.Keywords: Happiness, Adolescent at Orphanage, Islamic Boarding School Adolescent and  Street.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PEDIOPHOBIA (Studi Kasus pada Penderita Pediophobia) Ahadiyah, Aliftah; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i2.13331

Abstract

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah yang melatarbelakangi munculnya pediophobia yang dialami seorang mahasiswi. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukan akumulasi kecemasan yang sudah tidak mampu direpresi sebagai latar belakang munculnya pediophobia. Kecemasan pada intinya terkait dengan keinginan untuk diperhatikan oleh keluarga. Interaksi anak yang kurang dengan ibu kandung, perlakuan yang berbeda dari saudara kandung dari keluarga besar dan adanya pembedaan tuntutan antar saudara kandung dari kedua orang tua membuat anak yang merasa dirugikan menjadi cemburu terhadap saudara yang lain. Sibling rivalry kemudian menjadi sebab utama karena pada setiap peristiwa yang membuat anak cemas berkaitan dengan saudaranya. Boneka barbie dijadikan pelampiasan oleh anak karena mempunyai kenangan tidak menyenangkan yang berhubungan dengan anak dan objek yang dibencinya juga mempunyai kemiripan dengan objek yang dibencinya yaitu saudaranya. Boneka barbie menjadi proyeksi dan pengalihan kebencian kepada adiknya. Timbullah ketakutan terhadap boneka barbie. Ketakutan tersebut menetap hingga dewasa. Hal ini karena latar belakang munculnya fobia yaitu rasa terbuang dan tidak diperhatikan oleh keluarga tidak segera disembuhkan. Di saat dewasa, sang anak masih menyimpan perasaannya itu akan membuat fobianya semakin kuat.Kata kunci: pediophobia Abstract. The objective of this research is to identify factors that cause the emerging of pediophobia experienced by a female college student. The research implemented qualitative method using case study approach. The result of this research showed the accumulation of anxiety of which no longer able to be repressived as factors of the emerging of pediophobia. Basically, anxiety is related to willingness to receive parents’ attention. Anxiety may emerge caused by relation gap in the family. The lack of interraction between birth child and her mother, the different treatment among siblings in the big family and the different demand among siblings from both of parents causing jealously feeling to the children who feel neglected. Then, sibling rivalry comes up as the main cause based on each occurance that emerging anxiety often related to her sibling. Barbie dolls become solution to expense her emotion for having unpleasant memory related to her and the dislike objects also have similarity to the dislike objects which are her sibling. Barbie dolls play as projection and distraction of her hatred to her younger sibling. Then, fearfullness feeling stay until she is adult. This would happen because of the factors that emerging this kind phobia are feeling neglected and less of affection from the family are not treated all of sudden. When adult, the feeling that stay will sthrengthen her phobia.
HUBUNGAN ANTARA BERPIKIR POSITIF DENGAN EFIKASI DIRI AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI Rachmawati, Fika; Budiningsih, Tri Esti
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i1.11613

Abstract

Pola pikir mahasiswa yang positif akan mempengaruhi efikasi diri akademiknya. Apabila mahasiswa mampu berpikir secara positif maka mahasiswa tersebut akan memiliki keyakinan dalam melewati tantangan akademik seperti skripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara berpikir positif dengan efikasi diri akademik. Penelitiaan ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri Semarang angkatan 2008 sampai dengan 2010 yang sudah mendapatkan SK (Surat Keputusan) proposal penelitian. Jumlah sampel yaitu sebanyak 61 mahasiswa. Teknik sampling yang dipakai yaitu Total Sampling. Data penelitian diambil menggunakan skala berpikir positif dan skala efikasi diri akademik. Skala berpikir positif terdiri dari 43 aitem, mempunyai koefisien validitas aitem antara 0,283 sampai dengan 0,729 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,892. Adapun skala efikasi diri akademik terdiri dari 35 aitem, mempunyai koefisien validitas aitem antara 0,292 sampai dengan 0,774 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,896. Teknik analisis data menggunakan tekhnik Product Moment dengan hasil koefisien korelasi sebesar 0,526 dengan taraf signifikansi p = 0,000 dimana p 0,01, berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara berfikir positif dengan efikasi diri akademik pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Semakin tinggi berpikir positif maka semakin tinggi pula efikasi diri akademik dan semakin rendah berpikir positif maka semakin rendah pula efikasi diri akademiknya.AbstractPositive mindset will affect student’s academic self-efficacy. If the student is able to think in a positive way the student will have the confidence to pass the academic challenges such as final project.This study aimed to determine the relationship between thinking positively with academic self-efficacy. This study is a quantitative correlation. The population was students from the Department of Psychology, Semarang State University from 2008 to 2010 were already getting Proposal Research decree. The number of samples is amount 61 students.Technique sampling which is used is total sampling. The data were taken using a scale of positive thinking and academic self-efficacy scale. The scale of positive thinking is consists of 43items.This scale has a validity coefficient between 0.283 to 0.729 and the reliability coefficientis 0,892. There are 35 items of academic self-efficacy scale.This self-efficacy scale hascoefficient validitybetween 0.292 to 0.774 and reliability coefficient is 0.896. The method of analysis using Product Moment by the results of the correlation coefficient is 0.526 with a significance level of p = 0.000 where p <0.01, the result shows that ”there is a positive relationship between positive thinking with academic self-efficacy in students whom preparing final project”. The higher the positive thinking, the higher academic self-efficacy and lower positive thinking will get lower academic self-efficacy. Positive thinking and academic self-efficacy in students fromPsychology Departmentare on high category.
HUBUNGAN KUALITAS MANAJEMEN WAKTU DAN WORK FAMILY BALANCE PADA PEKERJA WANITA Maulana, Muhammad Afiz
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14115

Abstract

Abstrak. Terlepas dari hal apa yang melatar belakangi wanita bekerja, ada konsekuensi yang sering kali muncul. Konsekuensi tersebut adalah adanya second shift yang berpotensi menimbulkan role-overload pada wanita. Padahal jika role-overload ini muncul akan berpotensi mengganggu work family balance yang dimiliki. Berdasar studi awal dijumpai pandangan bahwa kualitas manajemen waktu berpotensi memainkan peran pentingnya dalam mempengaruhi work family balance. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui gambaran kualitas manajemen waktu pekerja wanita, 2) mengetahui gambaran work family balance pekerja wanita, 3) mengetahui hubungan kualitas manajemen waktu dan work family balance pada pekerja wanita; yang sudah menikah di PT. Sai Apparel Industries Semarang. Penelitian ini dilakukan pada 183 orang pekerja wanita PT. Sai Apparel Industries bagian produksi. Sampel dimbil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi, yaitu skala work family balance (30 aitem) dan skala kualitas manajemen waktu (26 aitem). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran kualitas manajemen waktu dan work family balance pekerja wanita berada pada kategori sedang. Koefisien korelasi rxy = -0,109 dengan p = 0,140 (p>0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ditolak. Ditolaknya hipotesis penelitian ini diduga disebabkan besarnya alokasi waktu yang digunakan untuk bekerja di luar rumah dan waktu pelaksanaan kerja yang berkesinambungan menjadikan sebagian besar waktu (selain digunakan untuk tidur) digunakan untuk bekerja di luar rumah . Sebaik apapun kualitas manajemen waktu apabila sebagian besar waktu telah tersita untuk pekerjaan maka tetap akan sulit untuk mengatur waktu guna menjalankan tugas lainnya di dalam setting rumah tangga. Kata kunci: kualitas manajemen waktu, work family balance, pekerja wanitaAbstract. Being a housewife who also works is a phenomenon commonly encountered today. This is done to help the family economy and as a means of self-actualization. Regardless of what the background of working women, there are consequences that must be lived. The consequence is the existence of secondshift that potentially lead to role overload. It takes a strategy to allow every activity to get all work done. Work family balance is the degree or level of achievement of balance in the role of work and family. This study aims to: 1) find out the description of the quality of time management of women workers, 2) description of work family balance of female workers, 3) to know the relation between time management quality and work family balance on married women workers at PT. Sai Apparel Industries Semarang. This research was conducted on 183 female workers of PT. Sai Apparel Industries parts production. Samples were taken by using purposive sampling technique. Data collection used two psychological scales, namely work family balance scale (30 valid aitem) and time quality management scale (26 valid items). The results of this study indicate that the description of quality management time and work family balance of female workers are in the medium category. Coefficient of correlation rxy = -0.109 with p = 0,140 (p> 0,05). These results indicate that the hypothesis proposed by the researcher is rejected. The rejection of the hypothesis of this study is suspected to be due to the dense working hours and sustainable working system. No matter how good the quality of time management is when most of the time has been consumed for the job it will still be difficult to manage the time for other tasks.
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS ATASAN TERHADAP DISIPLIN KERJA PEGAWAI Rosanti, Amalia; Nuzulia, Siti
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i1.13322

Abstract

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional. Hipotesis yang diajukan adalah terdapat pengaruh positif yang signifikan gaya kepemimpinan demokratis atasan terhadap disiplin kerja pegawai Kantor Dinas Kelautan Dan Pertanian Kota Tegal. Subjek penelitian berjumlah 50 orang yang ditentukan menggunakan teknik total sampling. Gaya kepemimpinan demokratis atasan diukur dengan menggunakan skala gaya kepemimpinan demokratis atasan. Skala gaya kepemimpinan demokratis atasan berjumlah 23 item dengan nilai reliabilitas sebesar 0,949. Disiplin kerja pegawai diukur dengan menggunakan skala disiplin kerja pegawai dengan 42 item dan nilai reliabilitas sebesar 0,955. Hasil penelitian menunjukkan variabel gaya kepemimpinan demokratis atasan pada subjek penelitian berada pada kategori tinggi, yang berarti bahwa gaya kepemimpinan demokratis atasan yang dimiliki pimpinan tinggi. Variabel disiplin kerja pegawai pada subjek penelitian berada pada kriteria tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara gaya kepemimpinan demokratis atasan dengan disiplin kerja pegawai dengan nilai r = 0,914 dengan nilai signifikansi atau p = 0,00. Saran bagi pegawai, agar dapat mempertahankan disiplin kerja baik dalam hal kualitas dan kuantitas kerja yang lebih baik sebagai upaya tercapai tujuan organisasi. Kemudian diharapkan pimpinan dapat mendukung adanya peningkatan disiplin kerja pegawai dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh para pegawainya, serta melakukan pembinaan terhadap karyawan secara berkala sehingga dapat melakukan disiplin kerja yang stabil. The research conducted is correlational research. The hypothesis advanced is that there is a significant positife effect of democratic leadership style work tops to discipline an employee of Dinas Kelautan Dan Pertanian Kota Tegal. Subjects numbered 50 people who were determined using total sampling technique. Democratic leadership style of superiors was measured using a scale of democratic leadership style of superiors. The scale of the democratic leadership style tops totaling 23 items with a reliabitity value of 0.949. Labor discipline employees is measured using a scale of labor discipline an employee with 42 items and the reliability value of 0.955. The results showed superior democratic leadership style variables on the subject of research is in the high category, which means that the democratic leadership style of superiors who held high leadership. variable labor discipline an employee on the subject of research is on higher criteria. The results showed that there is a positive relalionship between democratic leaderships style tops with work discipline an employee with a value of r = 0.914 with a significance value or p = 0.00. Advice for employees, in order to maintain labor discipline in terms of qualitv and quantity of work as an effort to better achieve organizational goals. Then the leaders are expected to support an increase in labor discipline employees by providing facilities and infrastructure needed by its employees, and to provide guidance to employees on a regular basis so as to make discipline a stable job.
MAKNA HIDUP PECANDU NAPZA PADA KOMUNITAS PEMULIHAN 12 LANGKAH Aryanata, Nyoman Trisna; Pangkahila, Evan; Damayana, I Wayan
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i2.11604

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pemaknaan hidup pecandu NAPZA dalam komunitas pemulihan 12 langkah serta untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi pada pemaknaan hidup mereka. Data diperoleh melalui wawancara mendalam pada 2 pecandu NAPZA yang aktif dalam komunitas pemulihan 12 langkah di sebuah yayasan di Bali. Analisa kualitatif menunjukkan bahwa pemaknaan hidup pecandu NAPZA terbangun melalui keterlibatannya, dimana mereka menempatkan usaha menjaga kesehatan secara terus-menerus sebagai tujuan utama hidupnya. Keberhasilan menjaga kesehatan melalui keterlibatan dalam komunitas pemulihan 12 langkah memberikan rasa damai dan bahagia dalam diri mereka. Pemaknaan hidup ini terutamanya berkat dukungan dari sponsor dan kelompok sebagai faktor primer dalam komunitas pemulihan 12 langkah. Kata kunci: makna hidup, pecandu NAPZA, komunitas pemulihan 12 Langkah Abstract. The focus of this research is to study the process of achieving meanings in life and its contributing factors of substance abuser in 12-steps recovery community. The data was gathered from in-depth interview with 2 substance abusers who joins 12-steps recovery community at a rehabilitation center in Bali. Qualitative analysis indicates that their meanings in life were constructed through continuous participation in the program. The commitment to continuously maintain self-health became the center of their life purpose and resulted in the feelings of peacefulness and happiness. These meanings in life are especially contributed by the supports from sponsor and the group in 12-steps recovery community. Keywords: meaning in life, substance abuser, 12-steps recovery community

Page 10 of 56 | Total Record : 558