cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
PENERIMAAN DIRI DAN KECEMASAN TERHADAP STATUS NARAPIDANA Kusumaningsih, Luh Putu Shanti
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14114

Abstract

Abstrak. Permasalahan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara penerimaan diri dan kecemasan terhadap status narapidana. Tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dengan kecmasan terhadap status Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan terhadap status narapidana. Populasinya adalah seluruh narapidana di Lapas Brebes dengan teknik pengambilan sampel yaitu Simple Random Sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 orang untuk try out dan 57 orang untuk penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik Korelasi Product Moment setelah sebelumnya dilakukan uji normalitas dan linieritas. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa diperoleh harga rxy = -0,433 dengan p < 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan terhadap status sebagai narapidana. Artinya, semakin tinggi penerimaan diri, maka makin rendah kecemasan terhadap status sebagai narapidana, dan sebaliknya. Kata Kunci : Penerimaan Diri, Kecemasan, Narapidana  Abstract. The Problem of this research is there is correlation between self acceptance with anxiety of the prisoner status. The purpose is to understanding the corelation between self acceptance with anxiety of the prisoner status. The hypothesis in this research is there is a negative relationship between self-acceptance with anxiety about the prisoner status. Its population is all prisoners in Lapas Brebes with sampling technique that is Simple Random Sampling. The number of samples in this study as many as 50 people to try out and 57 people for research. Hypothesis testing is analysis by Product Moment Correlation technique after previously tested normality and linearity. The result of the calculation shows that the obtained price of rxy = -0.433 with p<0,05 indicates that there is negative relation between self-acceptance with status as prisoner anxiety. That is, the higher of the self-acceptance, can make the status as the prisoner anxiety lower, and vice versa.
Family Resilience pada Keluarga yang Memiliki Anak dengan Spektrum Autistik – Ditinjau dari Perspektif Ibu Maulidia, Fachrun Naja; Kinanthi, Melok Roro; Permata, Atari Suci; Fitria, Nurindah
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i1.9571

Abstract

Abstrak. Memiliki anak dengan spektrum autistik merupakan tantangan tersendiri bagi sebuah keluarga. Bagaimana respon keluarga dalam menghadapi tantangan tersebut akan menentukan perkembangan keluarga selanjutnya. Dibutuhkan respon yang adaptif dan kemampuan untuk bangkit dari situasi sulit bagi keluarga, atau family resilience agar keluarga tetap dapat berfungsi secara optimal. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk melihat gambaran family resilience dari perspektif  ibu selaku caregiver utama yang paling banyak berinteraksi dengan anak yang memiliki spektrum autistik. Partisipan penelitian ini adalah 148 ibu yang memiliki anak autistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan alat ukur Walsh Family Resilience Questionnaire sebagai instrumen untuk mengukur family resilience pada partisipan. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas partisipan (75%) mempersepsikan tingkat family resilience yang dimiliki keluarganya berada pada kategori sedang. Selanjutnya, sebanyak 11% partisipan mempersepsi family resilience dalam kategori rendah, dan 14% kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan mempersepsikan keluarganya cukup mampu beradaptasi dan bangkit dari situasi sulit yang dihadapi walaupun belum cukup optimal. Family resilience yang dimiliki keluarga partisipan merupakan modal bagi keluarga untuk dapat memaksimalkan kualitas hidupnya. Dengan reseliensi yang cukup baik, maka tingkat stres keluarga serta dampak negatif lainnya yang mungkin terjadi akan berkurang sehingga secara otomatis akan berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup keluarga.  Abstract. Having an autistic child was quite challenging. It took adaptive responses and the ability to be resilient for the family so that they able to function optimally in their life. This descriptive study aimed to gain information regarding the potrait of family resilience among families with autistic child. Participants of this study were 148 mothers who have autistic child. With quantitative approach used as methodology paradigm, this study applied Walsh Family Resilience Questionnaire to measure the participants' family resilience. The results of this study revealed that most of participants (75%) perceived the level of their family resilience as moderate level; while 11% of participants perceived it as low level, and the remains (14%) as high level. These results indicated that most participants perceived his family as quite able to adapt and quite resilient to overcome difficult situation, although still less optimal. By knowing the level of family resilience among those who have autistic child, we can manage it as a resource to encrease their quality of life.
INTENSI PEKERJA RUMAH TANGGA KORBAN PELECEHAN SEKSUAL UNTUK MELAPOR Putriningsih, Nediyan; Stanislaus, Sugiyarta
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 3 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i3.13344

Abstract

Abstrak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Unit analisisnya yaitu Intensi Pekerja Rumah Tangga Korban Pelecehan Seksual. Guna mendukung perolehan data yang mendalam digunakan pengambilan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan kepada dua orang narasumber utama, dan empat orang narasumber sekunder penelitian.Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa intensi pekerja rumah tangga korban pelecehan seksual untuk melapor ke kepolisian (studi kasus pada pekerja rumah tangga yang masih di bawah umur sesuai dengan undang-undang no. l3 tahun 2003) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni: bentuk dan dampak dari pelecehan seksual, intensitas pelecehan seksual yang terjadi, ketaatan akan agama, pengetahuan akan etika seksual dalam budaya jawa, faktor kepribadian, serta pengetahuan akan fungsi kepolisian Republik Indonesia. Adapun saran dari penelitian ini ialah pemerintah harus mempertegas kembali tentang larangan untuk memperkerjakan anak dibawah umur serta memberikan sanksi yang jelas bagi pelanggarnya, diharapkan LSM yang terkait dengan Pekerja Rumah Tangga lebih giat untuk membantu memerangi adanya pekerja yang masih dibawah umur dengan terus mengupayakan undang-undang yang dapat menaungi mereka, serta perlunya penggalian data yang lebih mendalam bagi peneliti selanjutnya guna mendapatkan informasi mengenai penyebab intensi Pekerja Rumah Tangga korban pelecehan seksual untuk melapor ke kepolislan. Kata kunci: intensi, pelecehan seksual, pekerja rumah tangga Abstract. Acts of sexual harassment today, has shown how vulnerable the women in his life when the subject of sexual dissatisfaction men. One of the jobs that are vulnerable to sexual abuse is a Domestic Workers, especially for domestic workers who are minors. Employment as domestic workers who are in the domestic sphere, often requiring them to be in the house for 24 hours, so that domestic workers are "isolated" from society. Under these conditions, and with other supporting factors such as economic factors, educational factors, age factors, as well as an inability to resist the employer caused the Domestic Workers are vulnerable to acts of sexual abuse committed by the employer. Sexual harassment is certainly related to intentions to report offenders to the police. Hence, through this research the researchers wanted to know what are the factors that led to the Domestic Workers have the intention to report the perpetrators of sexual abuse to the police. This study uses a qualitative case study approach. The unit of analysis is intention Domestic Workers Sexual Abuse Victims. In order to support the acquisition of the data used in-depth data collection through interviews, observation, documentation, and field notes to the two main speakers, resource persons and four secondary research.  The results of this study indicate, that the intentions of domestic abuse victims to report to police (case study on domestic Workers who are minors in accordance With the law No. l3 of 2003) is influenced by several factors, namely: the shape and impact of sexual harassment, the intensity of sexual abuse that occurred, the observance of religion, knowledge of sexual ethics in Javanese culture, personality factors, and knowledge of police functions of the Republic of Indonesia. The suggestion from this study is that the government should reinforce the back of the prohibition to employ minors as well as providing clear sanctions for violations, is expected to NGOs associated with more aggressive domestic Workers to help fight the Workers who are still minors to continue to pursue legislation which can be overshadowed them, and the need for a more in- depth data mining for further research in order to obtain information about the cause of the intentions of Domestic Workers of sexual abuse victims to report to police. 
SALAT BERJAMAAH DAN PENURUNAN POST POWER SYNDROME PADA PENSIUN St. Fatimah, Az Zahrah; Mansyur, Ahmad Yasser; Ahmad, Ahmad
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i1.11916

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh  salat berjamaah terhadap penurunan post power syndrome pada pensiun. Sebanyak 78 orang pensiun yang tergabung dalam Tim Armada Safari Salat Berjamaah (TASSBEH) Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan dilibatkan dalam penelitian ini. Skala salat berjamaah dan skala post power syndrome digunakan dalam mengumpulkan data penelitian. Dari hasil analisis Regresi menunjukkan salat berjamaah berpengaruh  sinifikan terhadap penurunan  post power syndrome pada pensiun. Didapati pula nilai koefisien korelasi yang sebesar -0,560 menunjukkan hubungan negatif. Ini berarti semakin tinggi kualitas salat berjamaah, maka semakin rendah tingkat post power syndrome yang dimiliki oleh subyek. Kata Kunci   : Salat berjamaah, post power syndrome
PENGARUH MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT STRES KERJA KARYAWAN PT. OTO MULTIARTHA ACCOUNTING Wulandari, Lestari; Mabruri, Moh. Iqbal
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i2.13335

Abstract

Abstrak. Stres kerja merupakan reaksi negatif dalam diri seseorang dari adanya kondisi disekitar lingkungan kerja yang dapat dilihat secara biopsikososial. Stres kerja yang dialami oleh karyawan dapat mengganggu baik secara psikologis, fisiologis, maupun perilaku. Salah satu cara agar stres kerja yang dialami karyawan dapat menurun adalah dengan menggunakan musik klasik. Musik klasik adalah musik yang sebagian besar dimainkan dengan menggunakan alat musik senar, memiliki lebih dari satu tempo pada satu lagu yang ditransfomnasikan secara neurologis sehingga dinilai dapat berfluktuasi dalam susana hati dan memberikan perasaan damai, terhibur serta dapat menyembuhkan. Diharapkan musik klasik dapat menurunkan stres kerja yang dimiliki karyawan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian musik klasik terhadap tingkat stres kerja karyawan. Subjek penelitian ini adalah karyawan PT. Oto Multiartha bagian Accounting yang berjumlah 20 orang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain eksperimen non-randomized pretest-posttest control group design. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan jumlah masing-masing kelompok yaitu 10 subjek tanpa randomisasi. Pengambilan data menngunakan skala stress kerja dengan tingkat reliabilitas sebesar 0,949 dan jumlah aitem yang valid sebanyak 40 aitem. Analisis data menggunakan uji Non Parametric Wilcoxon dan Mann-Whitney.Hasil analisis data yang diperoleh yaitu t= 0,000 artinya terdapat perbedaan tingkat stres kerja karyawan PT Oo Muliartha bagian Accounting pada kedua kelompok tersebut. Tingkat stres kerja karyawan kelompok eksperimen menurun setelah mendengarkan musik klasik dengan rata-rata gain value sebesar 15,50 sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan musik klasik mendapatkan nilai rata-rata gain value sebesar 5,5.Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian musik klasik berpengaruh terhadap penurunan tingkat stres kerja karyawan PT Oto Multiartha bagian Accounting. Oelh karena itu, pemberian musik klasik dapat diadakan secara rutin sebagai pengiring karyawan dalam bekerja. Hal ini dilakukan sebagai sarana untuk mengurangi gejala-gejala stres kerja baik secara psikis, fisiologis, dan perilaku, yang dapat menghambat kinerja karyawan.Kata Kunci: musik klasik; stres kerja Abstract. Job stress is a negative reaction in the one of the condition surrounding the work environment can be viewed in a biopsychosocial. Work stress experienced by employees can impair both the psychological, physiological, and behavioral. One way to work stress experienced b employees can be reduced is to use classical music. Classical music is music that is played mostly with the use of stringed instruments, have more than song at a tempo that transformed neurological so assessed may fluctuate in mood and give a sense of peace, comfort and cure. Classical music is expected to reduce job stress that employees have.            This study aims to determine the effect of giving classical music on employee stress levels. The subject of this study were employees of PT. Oto Multiartha Accounting section numbering 20 people. The research was carried out using non-randomized experimental design pretest-posttest control group design. Subjects were divided into two groups namely experimental group and control group, with each group of 10 subjects without randomization. Retrieval of data using a scale of job stress with the reliability level of 0,949 and a valid number as many as 40 item. Analysis of data using non-parametric Wilcoxon test Mann-Whitney.            The analysis of data obtained by the t= 0.000 means that there are different levels of employee stress PT Oto Multiartha Accounting section in both groups. Employee stress levels decreased after the experimental group listened to classical music with an average gain value of 15.50, while in the control group not given classical music to get the average value of the gain value of 5.5.            Based on the research results can be concluded that administration of classical music influence on employees’ stress levels decrease in PT Oto Multiartha Accounting section. Therefore, the provision of classical music can be held on regular basis as staff accompanist in the works. This is done as a means to reduce the symptoms of job stress, both psychological, physiological, and behavioral, that may hinder the performance of the employee.
SELF DISCLOSURE: DEFINISI, OPERASIONALISASI, DAN SKEMA PROSES Rizki, Binta Mu'tiya
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i1.11617

Abstract

Abstrak. Self Disclosure merupakan salah satu tekhnik atau keterampilan yang lazim dilakukan oleh terapis dalam proses konseling maupun psikoterapi. Self disclosure mencerminkan usaha dari terapis untuk bersikap lebih terbuka dengan menceritakan pengalaman maupun pengetahuan secara proaktif melaui perasaan, pikiran dan fisik terhadap klien sehingga diharapkan klien dapat menceritakan pengalaman, persepsi atau pengetahuannya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran sederhana tentang skema proses dan manfaat dari tekhnik self disclosure dalam proses konseling. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan 1 subjek penelitian. Berdasarkan hasil skema proses dan proses evaluasi menunjukkan bahwa tekhnik self disclosure efektif untuk menggali informasi tentang yang sedang dialami  subjek. Subjek menjadi lebih terbuka dan mudah mengungkapkan perasaan setelah teknik self disclosure diberikan, proses tersebut dapat dilihat melalui skema proses dan evaluasi. Kata Kunci: Self Disclosure dan Skema Proses Abstrack. Self disclosure is one of the techniques or skills commonly used by the therapist in counseling or psychotherapy process. Self disclosure reflects the effort from the therapist to disclose, to share his/her expericence or knowledge in a proactive way through feeling, mind and physical that make client can easily open their experience or their story. This research aimed to describe the process scheme and the benefit of self disclosure in counseling process. Qualitative methode with single subject is used to describe more clearly about the process.  The result shows that self disclosure is an effective way to explore subjects experience, feeling and perception.  Subject becomes easily share their experience after the interviewer self disclosure is given. Keyword: Self Disclosure and Process Scheme  
PENERAPAN PENDEKATAN KONSELING REALITA UNTUK MENGATASI LEARNED HELPLESSNESS (SUATU STUDI EMBEDDED EXPERIMENTAL MODEL PADA MAHASISWA) Mulawarman, Mulawarman; Sunawan, Sunawan
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i1.13326

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan tingkat learned helplessness sebagai hasil dari penerapan pendekatan konseling Realita pada mahasiswa. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan desain Embedded Experimental. Desain ini dapat diwujudkan melalui pemerolehan data yang bersifat kualitatif yang disertakan dalam desain eksperimental. Penelitian ini menggunakan 2 mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling UNNES sebagai subjek Penelitian yang didasarkan pada hasil seleksi subjek dengan teknik sampling purposif. Hasil penelitian ini dilihat dari hasil secara kuantitatif ditemukan bahwa konseling realita dapat menurunkan tingkat learned helplessness tidak signifikan (Z = -1,342, p (one tail) = 0,09). Meskipun rerata setelah dan sebelum konseling menunjukkan adanya penurunan tingkat learned helplessness, tetapi penurunan tersebut tidak signifikan. Pada uji hipotesa kualitatif menggunakan analisis percakapan dapat ditemukan juga bahwa perubahan terjadi pada sisi tuturan atau wicara konseli dan keinginan konseli maupun tindakan konseli untuk berusaha membuat penyelesaian (solusi) atas masalah learned helplessness. Meski ada perubahan namum perubahan yang dilakukan belum direncanakan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan masing-masing konseli
FENOMENA SCHOOL BULLYING YANG TAK BERUJUNG Ulfah, Wiwit Viktoria; Mahmudah, Salasatun; Ambarwati, Rizka Meida
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i2.11608

Abstract

Abstrak. Televisi menjadi media yang mudah mencontohkan perilaku negatif kepada anak sekolah dasar. Contohnya seperti, lebih mudah ditiru oleh anak-anak usia SD. Misalnya, adegan perkelahian yang berujung pada bullying. Dalam dunia pendidikan kasus bullying sering terjadi, hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, seperti orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, keadaan keluarga yang berantakan sehingga diri anak tersisihkan, atau hanya karena anak tersebut meniru perilaku “bullying” dari kelompok pergaulannya serta tayangan bernuansa kekerasan di internet atau televisi. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang tingkat bullying yang terjadi di 2 SDN di Kabupaten Semarang.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian yaitu dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam kegiatan wawancara yaitu kepala sekolah, guru kelas, pelaku bullying dan korban bullying serta orang tua. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kasus bullying yang terjadi memiliki tingkatan yaitu ringan, sedang dan berat. Tingkatan ringan dari kasus bullying  bisa menjadi berat ketika pelaku bullying merasakan rasa sakit hati yang berkepanjangan dan memendam rasa dendam terhadap seseorang yang berujung kematianKata kunci : bullying, anak, pendidikan, SD. Abstract. Television impressions are more easily imitated by elementary school children, especially behavior that is considered unfavorable. For example, a fight scene that culminates in bullying. In the world of bullying cases, it is caused by various factors, such as parents who spoil their children, disheveled family situations so that children are excluded, or simply because the child imitates the bullying behavior of the social group and the nuances of violence in Internet or television.The aim of this research are to describe Bullying that happend at student in two school (SDN) in Kabupaten. This research use descpritive-cualiative approach. Interview, observation and documentation use as a tehnique to collect the data. The Informan of this research are the headmaster, teachers class, the prepetrator and the victim of bullying.  The result shows that bullying cases that occur have levels that are mild, moderate and severe. The mild degree of bullying can be severe when bullying feels a prolonged pain and a grudge against a person who leads to death.Keywords :bullying, child, education, primary school.
Perbedaan Successful Aging pada Lansia Ditinjau dari Jenis Kelamin Agus, Aji Dharma; Andromeda, Andromeda
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i2.13317

Abstract

Abstrak. Peningkatan pertumbuhan lansia secara kuantitas belum diikuti dengan peningkatan kualitas hidup. Menurunnya produktivitas menyebabkan buruknya kondisi sosial, ekonomi, derajat kesehatan dan kemandirian. Successful aging atau menjadi tua dengan sukses merupakan tujuan dari perkembangan tahap akhir pada lansia. Lansia yang telah memiliki pencapaian successful aging yang tinggi tentunya akan merasa bahagia dengan kehidupannya di masa sekarang di dalam successful aging ini terdapat empat aspek meliputi : functional well, selection optimimatization compensation, psychological well-being, primary and secondary control. Perbedaan pencapaian successful aging dipengaruhi oleh perbedaan perubahan salah satunya adalah pada lansia pria tidak semuanya mengalami andropause sedangkan pada lansia wanita kebanyakan telah terjadi menopause, salah satu perubahan pada aspek functional wellmerupakan salah satu indikator terjadinya perbedaan pencapaian successful aging  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan successful aging pada lansia pria dan lansia wanita. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatifsubjek pada penelitian ini adalah sebanyak 90 orang anggota PWRI ranting Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling atau penelitian populasi, skala yang diberikan adalah skala successful aging. Hasil dari uji normalitas lansia pria yaitu K-Sz = 0,976 dan signifikansinya sebesar 0,296 sedangkan pada lansia wanita K-Sz = 0,857 dan signifikansinya 0,454 dan karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,087 (>a = 0,05), maka dapat dikatakan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Uji homogenitas menghasilkan angka signifikasi di atas 0,05 (0,550> 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa data hasil penelitian ini homogen.Hasil dari perhitungan uji hipotesis menunjukkan terdapat perbedaan successful aging pada lansia pria dan wanita, dengan taraf signifikansi p = 0,001. Hasil nilai p < 0,05, berarti bahwa Ha diterima yang artinya ada perbedaan successful aging antara lansia pria dan wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum terdapat perbedaan pencapaian successful aging antara lansia pria dan lansia wanita, hal ini diakibatkan oleh perbedaan perubahan yang terjadi seperti perubahan fisik, mental, kondisi sosial dan ekonomi. Terdapat perbedaan hasil hitung dari meanlansia pria dan wanita. Kata Kunci: Successful Aging, Lansia, Jenis Kelamin Abstract. Elderly growth in quantity has not been accompanied by improved quality of life . Decreased productivity resulted in poor social conditions , economic , health status and self-reliance . Successful aging or getting old with success is the goal of the development of the final stages in the elderly . Seniors who already have a high achieving successful aging will certainly feel happy with life in the present in the successful aging , there are four aspects include : functional well , optimimatization compensation selection , psychological well -being , primary and secondary control. Differences in the achievement of successful aging is influenced by differences in change one of them is not all the elderly men experiencing andropause whereas in older postmenopausal women mostly have occurred , one of the changes in the functional aspects of the well is one of the indicators of successful aging achievement discrepancy purpose of this study was to determine the difference successful aging in elderly men and elderly women .  This study is a comparative quantitative research subjects in this study were as many as 90 members of the district branch PWRI Tambakromo Pati . The sampling technique used in this study is the total sampling or study population , given the scale is the scale of successful aging . Results of tests of normality elderly men 's K - Sz = 0.976 and 0.296 , while the significance of elderly women K - Sz = 0.857 and 0.454 significance and because of greater significance value of 0.087 ( > = 0.05 ) , it can be said that the distribution of normal distribution of data . Homogeneity test gives the figure of significance above 0.05 ( 0.550 > 0.05 ) , it can be concluded that the data from this study homogeneous . Results of the hypothesis test calculations show there is a difference successful aging in older men and women , with a significance level of p = 0.001 . Results of p < 0.05 , means that Ha is accepted that successful aging means that there is a difference between elderly men and women. The results showed that in general there are differences in the achievement of successful aging among elderly men and elderly women , it is caused by differences in the changes that occur as changes in physical , mental , social and economic conditions . There are differences in the results of the mean count of elderly men and women.
GAMBARAN CYBERBULLYING PADA REMAJA PENGGUNA JEJARING SOSIAL DI SMA NEGERI 1 DAN SMA NEGERI 2 UNGARAN Wiryada, Okik Adishya Banu; Martiarini, Nuke; Budiningsih, Tri Esti
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i1.9577

Abstract

Abstrak. Jejaring sosial merupakan media komunikasi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa kegiatan tatap muka secara langsung atau berkomunikasi menggunakan internet. Penggunaan internet jejaring sosial dapat memberikan efek negatif bagi penggunanya, seperti tindakan kekerasan simbolik yang tidak menimbulkan luka fisik, dilakukan seseorang terhadap orang lain melalui jejaring sosial dengan tujuan untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif berjenis deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMAN 1 Ungaran dan SMAN 2 Ungaran, Kabupaten Semarang. Sampel yang diambil berjumlah 622 siswa dengan menggunakan teknik Purposive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan angket, yaitu angket cyberbullying. Hasil penelitian ini adalah Hasil penelitian ini adalah 1) Gambaran cyberbullying pada remaja menunjukan bahwa subjek yang menjadi korban memiliki kategori tinggi. 2) Gambaran cyberbullying di SMAN 1 Ungaran dan SMAN 2 Ungaran menunjukan bahwa subjek yang menjadi korban memiliki kategori tinggi. 3) Gambaran cyberbullying pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan menunjukan bahwa subjek yang menjadi korban memiliki kategori tinggi. 4) Gambaran cyberbullying pada usia 15 tahun, 16 tahun dan 17 tahun menunjukkan bahwa subjek yang menjadi korban memiliki kategori tinggi. Abstract. Social networking are used by people to communicate with the other people without face to face communication or communication with internet. Social networking are used by people to communicate with the other people without face to face communication or communication with internet. But, there are some users in social networking are deviate and use their account as not as it should be. This study is a quantitative research with quantitative descriptive method. The quantitative descriptive type of research with analysis only at the level of description. Samples taken amounted to 622 students by using purposive sampling technique. Measuring instrument in this research using a questionnaire, the questionnaire about cyberbullying. The results of this study were 1) Overview of cyberbullying among adolescents showed that subjects who are victims have a higher category. 2) A description of cyberbullying in SMAN 1 and SMAN 2 Ungaran Ungaran showed that subjects who are victims have a higher category. 3) A description of cyberbullying on gender men and women showed that subjects who are victims have a higher category. 4) A description of cyberbullying at the age of 15 years old, 16 years old and 17 years old are showed that subjects who are victims have a higher category.

Page 9 of 56 | Total Record : 558