cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Faktor Eksternal dari Orangtua atau Faktor Internal Diri Sendiri yang Memprediksi Emosi Moral Remaja?
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i1.24080

Abstract

Emosi moral memegang peran penting yang berfungsi sebagai motif munculnya kecenderungan tindakan moral dan mengantisipasi pelanggaran moral remaja, dan mampu memikirkan kesejahteraan orang lain. Namun, belum ada penelitian yang mengkaji model yang memprediksi emosi moral remaja. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan: 1) Menguji model prediktif sosialisasi emosi orang tua yang dipersepsi oleh remaja dan perspective-taking terhadap emosi moral remaja; 2) Menguji peran perspective- taking mediator terhadap emosi moral remaja. Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pemilihan partisipan menggunakan teknik multistage sampling, partisipan berjumlah 936 remaja usia 12-18 tahun di Semarang yang diambil menggunakan Teknik analisis data menggunakan SEM PLS (Partial Least Square ). Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Model prediktif sosialisasi emosi orang tua yang dipersepsi oleh remaja dan perspective-taking terhadap emosi moral remaja mampu membuktikan kesesuaian teoretis dan teruji berdasarkan data empiris. Berdasarkan pengujian model struktural, diperoleh data bahwa: a)Terdapat pengaruh signifikan sosialisasi emosi orangtua yang dipersepsi oleh remaja terhadap perspective-taking ( =0,353,T-Stat 1,96); b) Terdapat pengaruh signifikan perspective- taking terhadap emosi moral( =0,188,T-Stat1,96);c)Terdapatpengaruhsosialisasiemosiorangtuayangdipersepsiolehremaja emosi moral( =0,132,T-Stat 1,96); 2) Peran perspective-taking terbukti sebagai variabel mediator. Berdasarkan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa sosialisasi emosi orangtua yang dipersepsi oleh remaja dapat memengaruhi emosi moral secara langsung maupun secara tidak langsung melalui perspective-taking. Oleh karena itu, penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan teori terkait moral serta memberikan informasi pada masyarakat secara luas, remaja dan orangtua secara khusus berkaitan dengan faktor yang dapat memengaruhi perkembangan emosi moral dan fungsi dari emosi moral.  Moral emotions hold an important role that functions as a motive for the emergence of moral acts and anticipates the moral violations of adolescents, and be able to think about the interests and welfare of other people. However, there has no studies that examine models that predict moral emotions in adolescents. Therefore, this study aims to: 1) Test the predictive model of parental emotions socialization perceived by adolescents and perspective-taking on adolescent moral emotions; 2) Test the role of perspective-taking as mediators mediator between parental emotion socialization and adolescent moral emotion. The research method used is quantitative. Partisipant selection was conducted through multi-stage sampling, 936 teenagers aged 12-18 years in Semarang. The statistical data analysis used is SEM PLS (Partial Least Square). The research results indicate: 1) The predictive model of parental emotions socialization perceived by adolescents and perspective-taking on adolescent moral emotions can prove theoretical and tested suitability based on empirical data. Based on structural testing of the model, the data obtained that: a) There was a significant influence on parental socialization perceived by adolescents on perspective-taking(γ = 0.353, T-Stat 1.96); b) There was a significant influence of perspective-taking on moral emotions (β = 0.188, T-Stat 1.96); c) There was an influence of parental socialization of emotions perceived by adolescents moral emotions (γ = 0.132, T-Stat 1.96) s; 2) The role of perspective-taking is proven as a mediator variable. Based on data analysis, it can be concluded that the parental emotions socialization perceived by adolescents can influence moral emotions directly or indirectly through perspective-taking. Therefore, this study can provide benefits for the development of moral theory, and provide information to the wider community, adolescents and parents specifically related to factors that can influence the development of moral emotions and the function of moral emotions.
PENGARUH PENGETAHUAN PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN MEMBELI PADA MAHASISWA KONSUMEN ORIFLAME DI UNNES
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i2.13337

Abstract

Abstrak. Konsumen melakukan pembelian dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu produk, yaitu pengetahuan produk yang dimilikinya. Pengetahuan produk diperoleh melalui banyak cara. Informasi untuk mendapatkan pengetahuan produk diperoleh melalui media dan pengalaman pribadi. Mahasiswi konsumen Oriflame di UNNES kurang memperoleh infomasi yang memadai dan sesuai kebutuhan mereka, yang akan digunakan dalam mempertimbangkan pembelian produk Oriflame. Mahasiswi konsumen Oriflame di UNNES lebih mengutamakan kesenangan indera dan diskon harga dalam pertimbangan pengambilan keputusan membeli produk Oriflame. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh dari pengetahuan produk terhadap keputusan membeli pada mahasiswi konsumen Oriflame di UNNES.            Responden pada penelitian ini adalah mahasiswi UNNES yang telah menggunakan produk Oiflame minimal 3 bulan sebanyak 120 mahasiswi. Penentuan responden dilakukan dengan teknik cluster ransom sampling dan purposive sampling. Metode pengumpulan data ini adalah skala pengetahuan produk dan skala keputusan membeli. Skala pengetahuan produk mempunyai koefisien validitas item dari 0,224 sampai dengan 0,654 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,932. Uji korelasi menggunakan teknik regresi dikerjakan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Hasil korelasi pengetahuan produk dengan rasional dalam keputusan membeli menunjukkan nilai r = 0,557 dan R = 0,310, pengetahuan produk dengan emosional menunukan nilai r = 0,620 dan R = 0,384, sedangkan pengetahuan produk dan keterlibatan menunjukan nilai r = 0,404 dan R = 0,163, dengan masing-masing p = 0,00 (p,0,01).Hasil penelitian menunjukan pengetahuan produk berada pada kategori sedang. Keputusan membeli konsumen paling banyak dilakukan secara keterlibatan dan emosional. Terdapat korelasi yang positif antara pengetahuan produk dengan keputusan membeli secara rasional, emosional, dan keterlibatan. Pengetahuan produk berpengaruh paling besar terhadap keputusan membeli secara emosinal, daripada pengaruh pengetahuan produk terhadap keputusan membeli secara rasional dan keterlibatan.Kata kunci: pegetahuan produk; kepuasan membeli; oriflame Abstract. Consumer purchases are influenced by several factors. One of the factors that predispose a person to buy a product, the product knowledge they have. Product knowledge gained through many ways. Infomation to gain product knowledge gained through media and personal experience. Oriflame in UNNES student consumers lacks sufficient  infomation and appropriate to their needs, which will be considering the purchase of Oriflame products. Oriflame in UNNES student consumers prefer the pleasure of the senses and the discounted price in consideration of the product purchase decision-making discretion. This study aims to find out is there any influence of product knowledge on consumer buying decisions on a student in UNNES Oriflame.Respondents in this study were students who had used UNNES Oriflame products at least 3 months a total of 120 students. Determination of the respondents was done by using cluster random sampling and purposive sampling. This data collection method is the knowledge scale and the scale of the decision to buy the product. .Product knowledge scale items have validity coefficient of 0.224 to 0.654 and the reliability coefficient of 0.925. While the scale of the decision to buy an item has a validity coefficient from 0.213 to 0.750 and the reliability coefficient of 0.932. Correlation test using the regression technique is done using SPSS 17.0 for windows. Correlation knowledge results in products with a rational buying decision demonstrated the value of r = 0.557 and R = 0.310, product knowledge with emotional show the value of r = 0.620 and R = 0.384, while the involvement of product knowledge and demonstrate the value of r = 0.404 and R = 0.163, with each respective p = 0.00 (p0.01).The results demonstrate knowledge of the products in the category of being. Consumer purchase decisions are the most widely performed and emotional involvement. There is a positive correlation between knowledge of the product purchase decisions in a rational, emotional, and involvement. Knowledge of the most influential product of the buying decisions emotionally, rather than the influence of product knowledge on purchase decisions in a rational and involvement.
PERAN CORE EVALUATIONS TERHADAP KEPUASAN KERJA DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i2.8903

Abstract

This research is in order to empiricaly testing about role of core evaluations against job satisfaction and psychological well-being. Core evaluations are individual dispotitions influence on the individual evaluate it self and environment. Core evaluations consist of five dimentions, locus of control, self-esteem, self-efficacy, neurotism, and edternal core evaluations, which be presumed contribute to the job satisfaction and psychological well-being. This research derivation is carry out by the using of scale in the form of questionnaire. Use 75 employess company in Jogjakarta as respondent, this research conclude that core evaluations leading role to job satisfaction amount of 15,7% and d3,3% to psychological well-being
Work Engagement dengan Intensi Turnover pada Karyawan
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.24073

Abstract

Ketidaksanggupan suatu perusahaan untuk mempertahankan karyawan dapat berdampak pada tingginya tingkat intensi turnover pada karyawan yang pada akhirnya akan merugikan perusahaan. Karyawan dengan kualitas yang baik tetapi tidak didukung oleh perusahaan dengan memberikan masa depan yang baik, membuat karyawan keluar dari pekerjaanya. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap keterkaitan work engagement dengan intensi turnover pada karyawan. Metode purposive sampling dipilih sebagai cara yang digunakan untuk mengambil subjek penelitian. Skala Work Engagement dan Skala Intensi Turnover digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson. Hasil koefisien korelasi (rxy) antara variabel work engagement dan internsi turnover sebesar -0,328 (p0,005). Hipotesis dalam penelitian ini diterima, hal ini ditunjukkan dari hasil tersebut. Artinya work engagement dengan intensi turnover pada karyawan memiliki hubungan yang negatif.The inability of a company to retain employees can have an impact on the high level of turnover intention for employees which in turn will harm the company. Employees with good quality but not supported by the company by providing a good future, make employees quit their jobs. The purpose of this study was to reveal the relationship between work engagement and turnover intentions in employees. The purposive sampling method was chosen as the method used to take research subjects. The Work Engagement Scale and the Turnover Intention Scale were used to collect research data, then analyzed using Karl Pearson's product moment correlation technique. The result of the correlation coefficient (rxy) between work engagement and internal turnover variables is -0.328 (p 0.005). The hypothesis in this study is accepted, this is indicated by these results. This means that work engagement with employee turnover intentions has a negative relationship.
TERAPI REALITAS SEBAGAI SARANA MENINGKATKAN RESILIENSI PADA PENYANDANG TUNA DAKSA (Reality Therapy as a Means of Increasing Resilience to Individual with Physichal Disabilities)
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i1.17381

Abstract

Abstrak. Individu dengan tuna daksa rentan memiliki resiliensi yang rendah. Penelitian inibertujuan untuk melihat pengaruh terapi realitas untuk meningkatkan resiliensi padapenyandang tuna daksa. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada perbedaan tingkatresiliensi antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan terapi realitas pada penyandangtuna daksa. Tingkat resiliensi pada penyandang tuna daksa setelah diberikan perlakuanterapi realitas lebih tinggi dibanding sebelum diberikan perlakuan terapi realitas.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala resiliensi. Skala resiliensi yangdigunakan mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,908. Subjek penelitian ini adalah 5orang penyandang tuna daksa yang mempunyai resiliensi rendah. Desain penelitian yangdigunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest design. Analisis datayang digunakan adalah wilcoxon signed rank untuk melihat perbedaan skor pada subjeksebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan skorskala resiliensi antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan terapi realitas dengannilai Z = -2,023 (p 0,05). Abstract. Indivual with physical disabilities are susceptible to low resilience. This researchaimed to look at the effect of reality therapy to improve resilience in individual withphysical disabilities. The hypothesis of this research is that there is difference ofresilience level before and after treatment of reality therapy given to individual withphysical disabilities, which resilience of individual with physical disabilities aftergiving reality therapy is higher than before giving reality therapy. Methods of datacollection used in this research are resilience scale. Resilience scale has a reliabilityvalue of 0.908. The subjects of this research were 5 persons with physical disabilitieswho had resilience in the low category. The research design used is a one grouppretest-posttest design. Data analysis used is Wilcoxon Signed Rank to see thedifference of score on subject before and after treatment given. Based on the dataanalysis Wilcoxon Signed Rank found difference of resilience scale score before andafter treatment of reality therapy given with value Z = -2,023 (p 0,05).
PERSEPSI IBU TERHADAP KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN ANAK USIA DINI
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i2.8617

Abstract

Peran ayah dalam rumah tangga di Indonesia selama ini jauh dari aktivitas merawat dan mendidik anaknya yang masih berusia dini. Keseimbangan peran ayah dan ibu dalam mengasuh anak usia dini (AUD) memiliki sumbangsih penting dalam perkembangan anak secara holistik. Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui persepsi ibu terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan AUD di Kota Kupang, 2) untuk mengetahui upaya para ibu dalam melibatkan ayah atau mendukung terhadap keterlibatan pengasuhan. Penelitian ini dilakukan di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini adalah lima orang ibu yang berdomisili di Kota Kupang. Teknik pengumpulan data melalui metode wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terlihat bahwa ibu merasa tugas pengasuhan anak adalah tugas besar ibu. Tugas ayah adalah bukan untuk mengasuh anak melainkan mencari nafkah. Waktu yang dihabiskan ayah untuk bersama-sama dengan anak masih sangat kurang. Kurangnya kerjasama serta pemahaman ibu dan ayah dalam pengasuhan anak juga melatarbelakangi minimnya peran ayah dalam pengasuhan. Dukungan dari ibu terhadap ayah yang berkaitan dengan pengasuhan sangat diperlukan untuk perkembangan yang seimbang.Father’s role in household in Indonesia up to now is still far from nurturing and educating their young children. Balance of role between father and mother in raising young children has important contribution in child’s development holistically. This research’s goals are: 1) to understand mother’s perception to father’s involvement in parenting young children in Kupang City: and 2) to know mother’s efforts in involving father or in supporting them to be involved in parenting. This research was done in Kupang City, East Nusa Tenggara Province. Method used was qualitative with descriptive approach. Participants were five mothers resided in Kupang City. Data collection techniques were interview and observation. Results showed that mothers felt that parenting is a big duty for them. Father’s role is not to parenting their children but instead to earn a living. Time spent by fathers to be with their children was still lacking. The lack of cooperation and also father’s and mother’s awareness in child parenting were also serves as cause of the the lack of fathers’ role in parenting. Support from mother to father that is related with parenting is needed for a balanced development process.
Ide dan Upaya Bunuh Diri pada Mahasiswa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i3.20705

Abstract

Agar suatu kematian bisa disebut dengan bunuh diri (suicide), maka harus disertai dengan adanya niat untuk bunuh diri (suicide intent), sehingga percobaan bunuh diri (suicide attempt) merupakan hal yang cukup berbeda namun memiliki hubungan yang kompleks dengan bunuh diri (berhasil). Salah satu ahli teori bunuh diri, David Emile Durkheim meyakini bahwa penyebab terbesar terjadinya bunuh diri adalah akibat pengaruh dari integrasi sosial. Durkheim telah mengklasifikasikan bunuh diri dalam beberapa jenis, yaitu egoistic, anomic, altruistic serta fatalistic. Perilaku bunuh diri merupakan sebuah realitas sosial yang menunjukkan kekhawatiran  dan cukup memprihatinkan. Melalui penelitian ini, kami bertujuan mengeksplorasi fenomena “suicide” pada mahasiswa, salah satunya dengan melihat tingkat kecenderungan ide bunuh diri (suicide ideation) dalam pikiran mereka. Tipe penelitian yang kami gunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling, untuk pengumpulan data menggunakan skala psikologi berupa angket kuisioner. Skala yang kami gunakan mengadaptasi skala The Suicidal Behaviors Questionnarie-Revised (SBQ-R) untuk mengukur ide dan upaya untuk melakukan bunuh diri.In order for a death to be called suicide, it must be accompanied by suicide intent, so suicide attempts are quite different but have a complex relationship with suicide (succeed) . One suicide theorist, David Emile Durkheim believes that the biggest cause of suicide is due to the influence of social integration. Durkheim has classified suicide in several types, namely egoistic, anomic, altruistic and fatalistic. Suicidal behavior is a social reality that shows concern and is quite alarming. Through this research, we aim to explore the phenomenon of "suicide" in students, one of them by looking at the level of suicidal ideation in their minds. The type of research we use is descriptive research with a quantitative approach, sampling using accidental sampling techniques, for collecting data using a psychological scale in the form of questionnaire questionnaires. The scale we use adapts the scale of The Suicidal Behavior Questionnaire-Revised (SBQ-R) to measures ideas and attempts to commit suicide.
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KOMUNIKASI ANAK DAN ORANG TUA DENGAN KEBIASAAN BELAJAR SISWA SMP N 13 SEMARANG TAHUN AJARAN 2011-2012
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i1.13328

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan belajar siswa dan kualitas komunikasi anak dan orang tua pada siswa SMP Negeri 13 Semarang serta untuk mengetahui hubungan antara kualitas komunikasi antara anak dan orang tua dengan kebiasaan belajar siswa SMP Negeri 13 Semarang. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan antara kualitas komunikasi anak dan orang tua dengan kebiasaan belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif korelasional. Subjek pada penelitian ini berjumlah 72 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah proportional stratified random sampling. Kebiasaan belajar diukur dengan skala kebiasaan belajar yang mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,97l. Skala kebiasaan belajar terdiri dari 66 aitem valid dengan rentang koefisien validitas dari 0,344 sampai dengan 0,852. Sedangkan kualitas komunikasi antara anak dengan orang tua diukur dengan menggunakan skala kualitas komunikasi antara anak dan orang tua yang mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,964. Skala kualitas komunikasi antara anak dan orang tua terdiri dari 45 item valid dengan rentang koefisien validitas dari 0,338 sampai dengan 0,771. Uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment yang dikerjakan menggunakan bantuan program SPSS I 7.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan variabel kebiasaan belajar siswa tergolong tinggi. Demikian juga variabel kualitas komunikasi antara anak dengan orang tua juga tergolong tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kualitas komunikasi antara anak dan orang tua dengan kebiasaan belajar siswa. Korelasi kualitas komunikasi antara anak dan orang tua dengan kebiasaan belajar diperoleh koefisien r=0,717 dengan signifikansi atau p=0,000.AbstractThis study aims to determine students’ learning habits and quality of communication of children and parents on the students of SMP Negeri 13 Semarang as well as to determine the relationship between quality of communication between children and parents with the learning habits of students of SMP Negeri 13 Semarang. The hypothesis in this study is no relalionship between quality of communication with children and parents of students learning habits. Quantitative research is a correlational study. Subjects in this study amounted to 72 students. Sampling technique used is proportional stratified random sampling. study habits were measured by the scale of study habits that have a reliability coefficient of 0.97l. The scale consists of 66 study habits aitem valid with validity coefficients range from 0.344 to 0.852. While the quality of communication between children and parents were measured using a scale of quality of communication between children and parents who have a reliability cofficient of 0.964. The scale of the quality of communication between children and parents consisted of 45 aitem valid with validity coefficients range from 0.338 to 0.77 l. Correlation test using the product moment correlation technique is done using SPSS 17.0 for windows. Results showed students’ learning habit variables is high. Similarly, the variable quality of communication between children and parents are also quite high. The rerults showed that there is a relationship between quality of communication between children and parents with students’ learning habits. Correlation of quality of communication between children and parents with learning habits acquired cofficient r = 0.717 with a significance or p = 0.000.
Perbedaan Capaian Perkembangan Sosial antara Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan dan Remaja yang Tinggal Bersama Orang Tuadi MTs Taqwal Ilah Semarang
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i1.11914

Abstract

Abstrak. Tidak semua anak memiliki keluarga yang utuh. Banyak anak menghabiskan masa perkembangan tanpa pengasuhan orang tua kandung.Anak-anak dengan kondisi di atas dapat ditemukan di panti asuhan.ini bertujuan untuk mengetahui perbedaancapaian perkembangan sosialantara remaja yang tinggal di panti asuhan dan remaja yang tinggal bersama orang tuadi MTs Taqwal Ilah Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif.Populasi penelitian ini adalah siswa MTS Taqwa Ilah dengan sampel yang diambil sebanyak 30 subjek remaja yang tinggal di panti asuhan dan 30 subjek remaja yang tinggal bersama orang tua. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah disproportionate stratified random sampling.Data penelitian diambil menggunakan skala perkembangan sosial remaja berdasarkan indikator-indikator perkembangan sosial yang dikemukakan oleh Luellayang terdiri atas 58 item. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan capaian perkembangan sosial antara remaja yang tinggal di panti asuhan dan remaja yang tinggal bersama orang tua di MTs. Taqwal Ilah Semarang. Hubungan interpersonal antara anak asuh dengan ibu asuh harus ditingkatkan supaya dapat mengantarkan remaja pada perkembangan yang sesuai dengan usianya. Kata Kunci : Perkembangan Sosial, Remaja Abstract. Not all children have families that are intact. Many children spend their developmental care giving without biological parents.Children with the above conditions can be found  in orphanages. It aims to tell the difference close to social development between teenagers who live in orphanages and teenagers living with parents in MTs Taqwal llah of Semarang. This study is a comparative quantitative research.The population of this research is the student of  MTs Taqwal llah with the samples taken are 30 subject teenagers who live in orphanages and  30 subjects teenagers who live with parents. Data collection  technique which is  used  in this research is disproportionate stratified  random sampling.Research Data taken using a scale of social development of teenagers based on social development indicators according to Luellayang which is consists of 59 items. The results showed that there is a difference between social developments close to teenagers who live in orphanages and teenagers living with parents in MTS Taqwal Ilah of Semarang. Interpersonal relationships between foster care and foster mother should be improved so that it can deliver on the development of teenagers according to their age.Key Words: Social Development, teenagers
PENGARUH CBT (COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY) TERHADAP NURANI PADA REMAJA DENGAN PERILAKU AGRESIF
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i1.8554

Abstract

Agresifitas yang dilakukan oleh anak-anak dengan latar belakang sekolah disebabkan adanya nurani yang kurang berkembang pada anak, kurangnya kontrol terhadap impuls dan kurangnya sensitivitas terhadap nilai moral. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menguji secara empiris pengaruh CBT (Cognitif Behavior Therapy) terhadap nurani pada remaja dengan perilaku agresif. Desain eksperimen dalam penelitian ini adalah penelitian ini menggunakan model The Untreated Control Group Design with Pretest and Posttest. Metode analisis data yang digunakan secara statistik melalui uji beda (t). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Ada perbedaan tingkat pencapaian nurani remaja dan perilaku agresif sebelum mendapatkan Cognitive Behavior Therapy dan setelah mendapatkan penyampaian nilai-nilai nurani melalui CBT. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala nurani yang memodifikasi skala nurani dan perilaku agresif. Subjek penelitian adalah siswa SMP X dan SMP Y di Kudus. Karakter sekolah yang menjadi syarat untuk dipilih sebagai tempat penelitian adalah sekolah bukan sekolah favorit, memiliki fasilitas yang terbatas, siswa di sekolah tersebut sering melakukan perilaku agresif. Sampel penelitian ditetapkan dengan tidak random atau non random yaitu melalui penunjukan. Siswa yang menjadi sampel penelitian adalah siswa SMP B berperilaku agresif. Jumlah siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama, masing masing 14 peserta. Hasil penelitian ini menunjukkan (a) CBT sebagai stimulasi berperan dalam menurunkan perilaku agresif dan meningkatkan empati pada remaja yang menjadi siswa di sekolah dengan fasilitas terbatas dan bukan sekolah favorit. Tingkat agresifitas setelah mendapatkan CBT lebih rendah dibandingkan tingkat agresifitas sebelum mendapatkan CBT. Berdasarkan nilai partial eta squared ( η2 ) diketahui besarnya sumbangan CBT dalam menurunkan perilaku agresif pada remaja adalah 23,7 %. Tingkat nurani setelah mendapatkan perlakuan CBT lebih tinggi dibandingkan sebelum mendapatkan perlakuan CBT. Berdasarkan nilai partial eta squared ( η2 ) diketahui besarnya sumbangan CBT terhadap nurani adalah 34,4 %. ; (b) tahapan pelaksanan terapi CBT kurang lebih 6 sesi pertemuan selama 2 bulan. Berdasarkan hasil analisis data maka hipotesis dalam penelitian ini diterima. CBT dapat meningkatkan nurani dan menurunkan tingkat agresifitas pada remaja.Aggression committed by children against the background of school due to lack of conscience that develop in children, lack of impulse control and a lack of sensitivity to moral values. This study aimed to test empirically the effect of CBT (cognitive Behavior Therapy) against conscience in teenagers with aggressive behavior. Design of experiments in this study is that the study uses a model The untreated control group design with pretest and posttest. Methods of data analysis used in statistics through different test (t). The hypothesis of this study are as follows: There is a difference in the level of achievement of conscience teenager and aggressive behavior before getting delivery of the values of conscience through CBT and after getting delivery of the values of conscience through CBT. Measuring instruments used in this research is to modify the scale Scale conscience and aggressive behavior. Subjects were junior high school students of X and Y in the sanctuary. Character of the school which is required to be selected as a place of research is not a favorite school school, has limited facilities, students in these schools are often aggressive behavior. The research sample set is not random or non-random is by appointment. Students were selected as sample are junior high school students and behaved aggressively. Number of students in the experimental group and the control group equally, each 14 participants. The results showed (a) CBT as stimulating role in reducing aggressive behavior and increase empathy in adolescents who become students in schools with limited facilities and not a favorite school. The level of aggressiveness after getting CBT lower than the level of aggressiveness before getting CBT. Based on the partial eta squared (η2) note the contribution of CBT in reducing aggressive behavior in adolescents was 23.7%. The level of conscience after getting CBT treatment is higher than before to get CBT treatment. Based on the partial eta squared (η2) note the contribution of CBT against conscience is 34.4%. ; (B) the implementation phase of approximately 6 CBT therapy sessions for two months. Bererdasarkan results of data analysis the hypothesis in this study received. CBT can increase conscience and decrease aggression in adolescents.