cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Persepsi Remaja Terhadap Peran Orang Tua dalam Pengambilan Keputusan Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i2.17792

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peranan persepsi remaja terhadap peran orangtua dalam pengambilan keputusan memilih jurusan di perguruan tinggi. Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah terdapat peranan persepsi remaja terhadap peran orangtua dalam pengambilan keputusan memilih jurusan di perguruan tinggi.  Subjek penelitian ini berjumlah 2 orang. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dan wawancara serta analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif yaitu mendeskripsikan hasil yang diperoleh di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peranan persepsi remaja terhadap peran orangtua dalam pengambilan keputusan memilih jurusan di perguruan tinggi yang ditunjukkan dari adanya persepsi positif yang dimiliki kedua subjek terhadap peran orangtua
Pengaruh Religiusitas Terhadap Resiliensi Pada Pasien Rehabilitasi Narkoba Yayasan Rumah Damai Semarang
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i2.13319

Abstract

Abstrak. Kemampuan resiliensi sangat dibutuhkan oleh pasien rehabilitasi narkoba agar mampu bangkit dari keterpurukan dan terbebas dari ketergantungan narkoba secara fisik maupun psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap resiliensi pada pasien rehabilitasi narkoba Yayasan Rumah Damai Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek pada penelitian ini berjumlah 33 yang merupakan pasien rehabilitasi narkoba Yayasan Rumah Damai Semarang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Uji pengaruh digunakan analisis regresi yang dikerjakan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan variabel religiusitas dan resiliensi pada pasien rehabilitasi narkoba Yayasan Rumah Damai Semarang tergolong pada kategori tinggi. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh religiusitas terhadap resiliensi pasien rehabilitasi narkoba dengan R Square sebesar 40,5%. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara religiusitas terhadap resiliensi pada pasien rehabilitasi narkoba Yayasan Rumah Damai Semarang.
FORGIVENESS ISTRI PADA SUAMI YANG PERNAH BERSELINGKUH DAN MENGANGGUR
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i1.11615

Abstract

Abstrak. Forgiveness adalah sikap individu yang telah disakiti untuk tidak melakukan perbuatan balas dendam terhadap pelaku, sebaliknya adanya keinginan untuk berdamai dan berbuat baik terhadap pelaku, Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran forgiveness pada istri sebagai upaya untuk mengembalikan keutuhan rumah tangga akibat suami yang tidak bekeraja dan perselingkuhan dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan istri memaafkan kesalahan yang dilakukan suami. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini berjumlah dua orang yang masih bertahan dalam perkawinan. Karakteristik subjek pada penilitian ini ialah istri berusia 50 tahun keatas (dewasa madya) yang bekerja maupun tidak bekerja , subjek yang menikah lebih dari 10 tahun, memiliki suami yang pernah berselingkuh dan menganggur total. Hasil penelitian ini menunjukan walaupun suami telah melakukan kesalahan besar dan membuat kedua subjek terluka, namun kedua subjek masih bisa memaafkan kesalahan suaminya. Hal ini terjadi karena subjek merasa memiliki kualitas hubungan yang baik dengan suami setelah suami meminta maaf dan merasa bahwa pernikahannya masih berharga, menurut subjek pernikahan merupakan hal yang sacral dimana pernikahan hanya boleh sekali dilakukan dalam seumur hidup, sehingga tidak menghalangi dirinya untuk memaafkan.Subjek dapat mengekspresikan secara konkret pemaafan melalui perilaku, dan sudah dapat merasakan dan menghayati adanya pemaafan dalam dirinya.  Kata Kunci : forgiveness, berselingkuh, menganggurAbstract. Forgiveness is the attitude of individuals who have been hurt to not commit acts of revenge against the perpetrators , otherwise the desire to make peace and do good to the offender. The purpose of this study is to look at the picture of his wife Forgiveness as an attempt to restore the integrity of the household due to a husband who does not work and infidelity and what factors are causing the wife to forgive the mistakes made by the husband . This study used a qualitative method with a case study approach . Subjects in this study amounted to two people who remained in the marriage . Characteristics of the subjects in this research wife is aged 50 years and older ( middle age ) who worked or did not work, subjects who were married more than 10 years , has a husband who had an affair and the total unemployed These results indicate although the husband has made a big mistake and make the two subjects was injured, but the subject still can not forgive her husband's fault . This happens because the subject was to have a good quality relationship with her husband after her husband apologized and felt that her marriage is still valuable, according to the subject of marriage is a sacred thing that marriage should only be done once in a lifetime, so it does not prevent him to forgive. Subjects can be expressed in concrete terms forgiveness through behavior, and has been able to feel and appreciate their forgiveness in him . Keywords : Forgiveness, affair, unemployee
Peran Harmonious Passion Sebagai Mediator Hubungan antara Job Resources dengan Organizational Citizenship Behavior
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 3 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i3.18866

Abstract

Abstrak. Performa kerja karyawan dapat menjadi tolak ukur keberhasilan suatu organisasi. Salah satu konsep dalam psikologi yang dapat menggambarkan performa kerja adalah organizational citizenship behavior (OCB). OCB adalah konsep yang digunakan pada pembelajaran di bidang indsutri dan organisasi, yang biasanya di asosiasikan dengan efektivitas organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti peran harmonious passion sebagai mediator antara job resource dan OCB. Pengambilan data pada penelitian ini mengikutsertakan 240 responden yang bekerja di Bank Pembangunan Daerah (BPD). Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah OCB Scale (2002) untuk mengukur OCB; Questionnaire on The Experience and Evaluation of the Work (QEEW) Scale (2017) untuk mengukur otonomi, umpan balik performa kerja, dan technology resource; dan Passion Scale (2003) untuk mengukur harmonious passion. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji peran mediator adalah dengan menggunakan Process Macro for SPSS and SAS 3.0. Konsisten dengan teori job demand-resource, penelitian ini mendapatkan hasil bahwa ketersediaan job resource di lingkungan kerja memberi motivasi dan dapat membantu karyawan mengembangkan OCB dan asosiasi ini di mediasi secara parsial oleh harmonious passion. Penelitian ini memberikan pemahaman lebih lanjut tentang pentingnya perilaku extra-role di organisasi dan bagaimana menghasilkan perilaku tersebut.Kata Kunci: Organizational citizenship behavior, Job resource, Harmonious passion, Job demand-resource model. Abstract. Employee work performance can help to identify the success of an organization. One of many concepts in psychology that can describe work performance is organizational citizenship behavior (OCB). OCB is a concept used in industrial and organizational behavior learning, which usually being associated with the organizational effectiveness. The purpose of this research is to examine the role of harmonious passion as a mediator on the relationship between job resource and OCB. The data collection in this study included 240 employee respondents who work in Bank Pembangunan Daerah (BPD). The measurements used in this study are OCB Scale (2002) to measure OCB; Questionnaire on The Experience and Evaluation of the Work (QEEW) Scale (2017) to measure job autonomy, performance feedback, and technology resource; and Passion Scale (2003) to measure harmonious passion. The analysis statistic method of Process Macro for SPSS and SAS 3.0 were used to examine the mediational hypotheses. Consistent with job demand-resource theory, result shows that when job resource exist in working environment, it can motivates and encourages employee to develop OCB and this association is partially mediated by harmonious passion. This study provides a deeper understanding about the importance of extra-role behavior in organization and how to generate this behavior in future.
KETIDAKPATUHAN PENDERITA DIABETES DALAM MENJALANI PENGOBATAN (Studi Kasus Di Desa Kaligayam Kecamatan Talang Kabupaten Tegal)
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i1.8894

Abstract

The research is aimed to find out what are the factors that influenced non adherence of diabetics regiment behavior, to find out the kinds of non adherence diabetics behavior, and to find out what is the reason that caused diabetics does not adherence to take a medical treatment. The subjects of this research were 2 people; they are diabetics, who do not have adherence behavior to experiencing medication, they are more than 50 years old, and have suffered from diabetes for more than 3 years. The data were collected with 3 methods that are observation and interview methods and psychological testing (DAM), and tested with interview and observation result transcript analysis, and interpretation of psychological test result. Based on the result, there are 7 factors that influencing non adherence behavior of diabetics on taking the medical treatments, they are patients have wrong understanding of diabetes experrancing disease, lack of knowledge about a risk if impinge the treatment regiment (medication), difficulties of communication between the doctor and patients, the wrong belief and perception about the disease, family and social (significant others) supports, attitude towards health treatment system, and individual characteristic of the patients, The result of research also shows that kinds of non adherence behavior of diabetics on experiencing treatment regiment (medication) can be seen from 5 matters, they are the irregular schedule of doctor control, stopping consuming medicine that not following the rules, impinge the rules of eat pattern which doctor has suggested, irregular exercise, and irregular and even undone bloods sugar levels checking. The reasons of non adherence diabetics on experiencing treatment regiment (medication), they are abundant trust of traditional medicine, feeling slack and tire feeling of the patient, bad communication between doctor and patients. Also, the diabetics personality such as less confidence level tendencies, less acceptance of challenge and reality, and unstable emotional condition influence a non adherence diabetic 's behavior in experiencing treatment regiment (medication).
Intensi Berwirausaha Ditinjau dari The Big Five Personality pada Mahasiswa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.26006

Abstract

Lulusan perguruan tinggi di Indonesia lebih banyak memilih untuk menjadi pencari kerja (job seeker) daripada menciptakan lapangan pekerjaan yang pada akhirnya secara mandiri hal tersebut meningkatkan angka pengangguran setiap tahunnya. Oleh karenanya, peningkatan kualitas dan kuantitas wirausahawan dibutuhkan di Indonesia. Prediktor terbaik bagi perilaku yang direncanakan seperti berwirausaha adalah intensi, oleh karenanya penting untuk menumbuhkan intensi berwirausaha pada mahasiswa. Salah satu faktor yang membuat individu memutuskan berwirausaha adalah kepribadian the big five personality dari mahasiswa yang akan dikaji dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan intensi berwirausaha ditinjau dari the big five personality pada mahasiswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif komparasi dengan teknik sampling proportional stratified cluster random sampling dengan sampel sejumlah 390 mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan one way anova menggunakan bantuan program statistik. Hasil uji hipotesis menunjukan signifikansi sebesar 0,000 yang menunjukan adanya perbedaan intensi berwirausaha ditinjau dari the big five personality. Analisis lebih lanjut dengan uji post hoc multiple comparisons ditemukan ada perbedaan intensi berwirausaha pada trait kepribadian openness to experience dengan trait kepribadian neuroticism dengan signifikansi 0,000 (p0,05), trait kepribadian conscientiousness dengan trait kepribadian neuroticism dengan signifikansi 0,000 (p0,05), trait kepribadian extraversion dengan trait kepribadian neuroticism dengan signifikansi 0,000 (p0,05), trait kepribadian agreeableness dengan trait kepribadian neuroticism dengan signifikansi 0,014 (p0,05). Trait kepribadian opennes to experience memiliki mean empirik intensi berwirausaha tertinggi sedangkan trait kepribadian neuroticism memiliki mean empirik intensi berwirausha terendah.Higher education graduates in Indonesia prefer to become job seekers rather than creating jobs which in the end independently increases the unemployment rate every year. Therefore, increasing the quality and quantity of entrepreneurs is needed in Indonesia. The best predictor of planned behavior such  as entrepreneurship is intention, therefore it is important to foster entrepreneurial intention in students. One of the factors that make an individual decide to become an entrepreneur is a personality that will be studied further in this study through the big five personality. This study aims to determine whether there are differences in entrepreneurial intentions in terms of the big five personality of students. The type of research used is quantitative comparison. The sampling technique used was proportional stratified cluster random sampling with a sample size of 390 students. Data analysis using One Way Anova using the help of a data processing program. Hypothesis test results showed a significance of 0,000 which means there are differences in entrepreneurial intentions in terms of the big five personality. Further analysis using the post hoc multiple comparisons test found that there were differences in entrepreneurial intentions in the personality trait of openness to experience with the trait of neuroticism with a significance of 0,000 (p 0,05), the trait of conscientiousness with the trait of neuroticism with a significance of 0,000 (p 0,05), extraversion personality trait with neuroticism trait with a significance of 0,000 (p 0,05), personality trait agreeableness with neuroticism trait with a significance of 0.014 (p 0.05. The opennes to experience personality trait has the highest empirical mean for entrepreneurial intention, while the neuroticism personality trait has the lowest empirical mean for entrepreneurial intention).
STRATEGI SELF REGULATED LEARNING DAN PROKRASTINASI AKADEMIK TERHADAP PRESTASI AKADEMIK
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14112

Abstract

Abstrak.  Prokrastinasi (menunda pekerjaan untuk melakukan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan atau tugas yang harusnya diselesaikan) dapat berdampak pada beberapa masalah psikologis seperti tertekan, stres, dan juga depresi. Dalam setting pendidikan, prokrastinasi biasa disebut dengan prokrastinasi akademik dan hal tersebut dapat diminimalkan dengan menggunakan strategi self regulated learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan strategi self regulated learning, prokrastinasi dan prestasi akademik, serta mencari sumbangan masing-masing terhadap variabel Y. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan teknik pemilihan sampel berupa stratified random sampling. Subjek pada penelitian ini sebanyak 222 orang terdiri dari 66 laki-laki dan 156 perempuan. Data penelitian ini, dianalisa dengan menggunakan teknik statistik regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan negatif dan sumbangan antara prokrastinasi akademik terhadap prestasi akademik (r=-0,199; r2=0,039). Strategi SLR tidak berhubungan dengan prestasi akademik namun berhubungan dengan prokrastinasi akademik (r=0,479 dan r2= 0,229) selain itu, penelitian ini menemukan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan dan sumbangan terhadap prestasi akademik (r=0,267; r2=0,071). Kata Kunci : Strategi Self Regulated Learning, Prokrastinasi dan Prestasi Akademik Abstract. Procrastination (delaying tasks to doing other tasks does not correlation with tasks that have to done) can be impact to several psychological problems such as feeling intention, stress, depression. In educational setting, procrastination usually called as academic procrastionation. this is can be solved by self regulated learning strategy. This research to aim knows the relation of self regulated learning, procrastination and academic achievement, and to find the contribution each X variables to Y variable. Method of this research  is quantitative, with stratified random sampling. Sample of the research is 222 collages (66 men, and 156 woman). The Data analysis by regression statistic technique. The result shows negative correlation and contribution academic procrastination and academic achievement (r=-0,199; r2=0,039). There is no relation self regulation learning strategy and academic achievement, but positive correlation self regulation learning strategy and academic procrastination (r=0,479, r2= 0,229). Additional, there is positive correlation and contribution, gender and academic achievement (r=0,267; r2=0,071).
KEBERMAKNAAN HIDUP PADA PUNKERS DI SURAKARTA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i2.11605

Abstract

Abstrak. Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri bagi setiap manusia  Pada fase inilah seorang individu mengalami masa-masa labil dan mencari komunitas demi terpenuhinya hasrat eksistensi. Individu yang berada dalam dalam tahap perkembangan remaja, membutuhkan penerimaan yang besar dari kelompok sosial. Salah satu kelompok remaja yang banyak mendatangkan pertanyaan dari masyarakat luas karena stereotip negatifnya adalah kelompok punk. Punker adalah suatu komunitas yang memiliki banyak stigma negatif di mata masyakarat. Pada penelitian kali ini, tim peneliti tertarik untuk mengetahui makna hidup anak punk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan wawancara sebagai metode pengumpulan datanya. Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan perspektif subjektif anggota komunitas punk dalam memaknai kehidupannya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan eksploratif maka analisis data yang digunakan adalah analisis data induktif deskriptif yaitu melakukan abstraksi setelah rekaman fenomena-fenomena khusus dikelompokkan menjadi satu. Kebermaknaan hidup pada punkers di Surakarta lebih kepada kebebasan berkehendak. Kebebasan berkehendak mempunyai arti kebebasan menjadi diri sendiri, seperti; bebas bermain musik, bergaul dan lain sebagainya. Kehendak hidup bermakna menurut punker adalah perasaan senang dan nyaman serta dapat diterima oleh keluarga dan teman sesama punkers. Punk merupakan jalan yang dianggap benar sebagai penuntun kehidupan mereka. Kata kunci : Makna hidup, punker.  Abstract. Adolescence is a period of searching for identity of everyone. In this phase an individual experiences unsteady periods and seeks community for the fulfillment of the existence desires. Someone who are in the adolescent development phase, require a great acceptance from social groups. One of many teenagers who get questions from the wider community because of its negative stereotypes is punk. Punker is a community that has a lot of negative stigma in society. In this research, the research team is interested to know the meaning of punk kids’ life. This research uses qualitative approach by using interview as the data collection method. The focus of this research is to describe the subjective perspective of punk community members in understanding their life. This is a qualitative research  with explorative approach, hence the data analysis uses descriptive inductive  that is doing abstraction after recording of special phenomena grouped into one. The result showed that the meaning of life on punkers in Surakarta is to get freedom of will. Freedom of will means the freedom to be oneself, such as; feel free to play music, hang out and so forth. The meaning of life will, according to punker is feeling of pleasure and comfort and also can be accepted by punkers family and friends. Punk is a way that is considered as something true as their life guide. Keywords: Meaning of life, punker
Terapi Menulis Ekspresif Berbasis Online Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Fakultas Psikologi Unissula
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.26388

Abstract

Menjadi mahasiswa merupakan bagian dari tahap perkembangan dewasa awal yang penuh perubahan. Banyak penelitian menunjukkan kondisi ini berakibat pada adanya masalah pada kesejahteraan psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi menulis ekspresif berbasis online untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Terapi ini dilakukan secara online, di mana subjek menerima instruksi melalui group chat dan mengirimkan hasil tulisan melalui email, dilakukan sebanyak empat hari berturut-turut dengan durasi masing-masing 65 menit. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 1 dan 3 di Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung. Penelitian ini menggunakan eksperimen kuasi dengan desain two group pre and post test design, di mana terdapat 1 Kelompok Eksperimen (KE) yang berisi 10 subjek dan 1 Kelompok Kontrol (KK) yang berisi 9 subjek. Analisis generalized linear model menunjukkan bahwa F = 0,000, p = 0,989 (p0,05), yang berarti terapi menulis ekspresif berbasis online tidak berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis subjek. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi hasil ini, yaitu dari kontrol eksperimen yang kurang, waktu pengukuran yang kurang panjang, dan perbedaan kultural yang didiskusikan dalam artikel ini.Being a college student is part of emerging adult development stage which full of changes. As a result, studies reported many of students experienced problems with their psychological well-being. This study aimed to examine the effectivity of online based expressive writing therapy to increase college students’ psychological well being. This therapy was conducted online, where subjects accepting instruction through group chat and send their writing through email in 4 consecutive days, in 65 minutes for each days. Subjects in this study were students in semester 1 and 3 in Faculty of Psychology Sultan Agung Islamic University. This study employed quasi experiment with two group pre and post test design with 1 experimental group which consisted of 10 subjects and 1 control group which consisted of 9 subjects. Generalized linear model analysis showed F = 0,008, p = 0,838 (p0,05) which showed online based expressive writing therapy did not has any significant impact towards students’ psychological well-being. There were various factors contributing to this result which were the lack of experimental control, the neccessary to lengthen the measurement period, and cultural differences which discussed thoroughly in the article
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN SELF COMPASSION REMAJA DI PANTI ASUHAN
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17494

Abstract

Abstrak. Self compassion merupakan kemampuan untuk berbelas kasih pada diri sendiri, tanpa kemampuan itu individu mungkin tidak siap untuk berbelas kasih pada orang lain. Proses dalam keluarga seperti dukungan keluarga akan berkontribusi menumbuhkan self-compassion. Pada kenyataannya, banyak anak-anak harus ditempatkan di  panti asuhan untuk dapat memenuhi kebutuhan. Remaja di panti asuhan memiliki self compassion di mana tidak meyakini bahwa di dalam dirinya memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan, belum dapat belajar memahami kondisi keluarga, menganggap orang lain lebih bahagia, masih berandai-andai jika keluarga berkumpul, merasa sendirian. Memiliki sikap belas kasih terhadap diri sendiri bisa menjadi awal dalam mengatasi segala emosi negatif yang dirasakan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan self compassion remaja di panti asuhan. Penelitian ini menggunakan penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja yang terdapat di yayasan panti asuhan desa Sadeng kecamatan Gunungpati. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling atau penelitian populasi dengan jumlah populasi sebanyak 95 subjek. Dukungan keluarga diukur menggunakan skala dukungan keluarga yang terdiri dari 37 item dan self compassion diukur menggunakan skala self compassion  yang berjumlah 25 item. Analisis validitas menggunakan product moment dimana instrument skala dukungan keluarga dinyatakan valid dengan koefisien validitas tertinggi sebesar 0,831 dan terendah sebesar 0,203. Validitas tertinggi pada skala self compassion sebesar 0,920 dan terendah sebesar 0,290. Koefisien reliabilitas skala dukungan keluarga sebesar 0,959 dan koefisien reliabilitas skala self compassion sebesar 0,760. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara dukungan keluarga dengan self compassion remaja yang artinya jika dukungan keluarga pada kategori tinggi maka self compassion berada pada kategori tinggi. Hasil ini dapat dilihat berdasarkan analisis korelasi Product Moment yang menunjukkan bahwa nilai r = 0,205 dengan nilai signifikansi atau p = 0,046. Peneliti menyimpulkan bahwa hipotesis kerja yang berbunyi “ada hubungan positif antara dukungan keluarga dengan self compassion remaja”, diterima.  Abstract. Self compassion is the ability to be compassionate to oneself, without that ability individuals may not be ready to be compassionate to others. The process in the family such as family support will contribute to fostering self-compassion. In fact, many children must be placed in an orphanage to meet needs. Teenagers in orphanages have self-compassion where they do not believe that they have something to be proud of in themselves, have not been able to learn to understand family conditions, consider other people happier, still imagine if the family gathers, feels alone. Having a compassionate attitude towards yourself can be the beginning in overcoming any negative emotions that are felt. The purpose of this study was to determine the relationship of family support with adolescent self-compassion in orphanages. This study uses correlational research. The population in this study were all teenagers found in Sadeng village orphanage in Gunungpati district. This study uses a total sampling technique or population research with a population of 95 subjects. Family support was measured using a family support scale consisting of 37 items and self compassion was measured using a self-compassion scale totaling 25 items. Validity analysis uses a product moment where the family support scale instrument is declared valid with the highest validity coefficient of 0.831 and the lowest is 0.203. The highest validity on the self-compassion scale is 0.920 and the lowest is 0.290. The reliability coefficient of family support scale is 0.959 and the reliability coefficient of self compassion scale is 0.760. The results in this study indicate that there is a positive relationship between family support with adolescent self-compassion which means that if family support is in the high category, self-compassion is in the high category. This result can be seen based on the Product Moment correlation analysis which shows that the value of r = 0.205 with a significance value or p = 0.046. The researcher concluded that the working hypothesis which reads "there is a positive relationship between the support of a family with adolescent self-compassion", is accepted. Â