cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian
ISSN : 25493078     EISSN : 25493094     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian welcomes high-quality, original and well-written manuscripts on any of the following topics: 1. Geomorphology 2. Climatology 3. Biogeography 4. Soils Geography 5. Population Geography 6. Behavioral Geography 7. Economic Geography 8. Political Geography 9. Historical Geography 10. Geographic Information Systems 11. Cartography 12. Quantification Methods in Geography 13. Remote Sensing 14. Regional development and planning 15. Disaster
Arjuna Subject : -
Articles 555 Documents
Dampak Siklon Tropis Savannah pada Karst Window Kalinongko, Karst Gunungsewu, Kabupaten Gunungkidul, Indonesia Indra Agus Riyanto; Ahmad Cahyadi; Fajri Ramadhan; Muhammad Naufal; Margaretha Widyastuti; Tjahyo Nugroho Adji
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v17i1.21419

Abstract

Siklon Tropis Savannah melewati Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 17 Maret 2019. Curah hujan yang disebabkan oleh Siklon Tropis Savannah terekam pada stasiun Geofisika badan meteorologi, klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta sebesar 170,6 mm/hari dan terekam pada Stasiun Cuaca Beton milik Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada sebesar 78,3 mm/hari. Curah hujan menunjukkan bahwa siklon tropis ini menyebabkan terjadinya hujan ekstrim. Siklon Tropis Savannah menyebabkan bencana banjir di beberapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta salah satunya terjadi di Karst Window Kalinongko, Kawasan Karst Gunungsewu, Kabupaten Gunungkidul. Karst Window Kalinongko terdampak banjir dari meluapnya sungai bawah tanah. Proses terjadinya banjir di Karst Window Kalinongko disebabkan oleh aliran air yang melebihi kapasitas pengaliran dari lorong konduit pada sungai bawah tanah. Sistem konduit yang penuh kemudian meluap ke permukaan dan menggenang pada bagian dolin di sekitar Karst Window Kalinongko. Waktu surut banjir airtanah di Karst Window Kalinongko adalah selama 10 hari. Banjir Siklon Tropis Savannah yang menggenang memiliki volume sebesar 4.894.258 m3, luasan area terdampak seluas 13.723 m2, dan ketinggian genangan 6 meter. Dampak genangan banjir airtanah yang disebabkan Siklon Tropis Savannah di Karst Window Kalinongko merendam lahan sawah seluas 10.586 m2 dan perkebunan seluas 3.137 m2.
Perbandingan Metode Supervised Classification dan Unsupervised Classification terhadap Penutup Lahan di Kabupaten Buleleng Rosi Septiani; I Putu Ananda Citra; A Sediyo Adi Nugraha
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v16i2.19777

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Buleleng menggunakan citra Landsat 8 OLI/TIRS (Operational Land Imager/ Thermal Infrared Sensor), dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan metode supervised classification terhadap klasifikasi penutup lahan, (2) mendeskripsikan metode unsupervised classification terhadap klasifikasi penutup lahan, dan (3) membandingkan tingkat akurasi metode supervised classification dengan unsupervised classification terhadap klasifikasi penutup lahan. Metode yang digunakan yaitu metode komparatif dengan membandingkan metode supervised classification dengan unsupervised classification terhadap penutup lahan di Kabupaten Buleleng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) diperoleh delapan kelas penutup lahan pada metode supervised classification yang ditentukan oleh pengambilan training area, (2) diperoleh delapan kelas penutup lahan pada metode unsupervised classification yang ditentukan dengan memberikan nilai range statistik, dan (3) tingkat akurasi yang tertinggi dimiliki oleh metode supervised classification yaitu maximum likelihood dengan nilai overall accuracy sebesar 92% dibandingkan dengan metode unsupervised classification (k-means dan ISODATA) yang memiliki nilai overall accuracy yaitu 82,07%. Kesimpulannya adalah untuk deteksi klasifikasi penutup lahan metode yang paling baik dilakukan di Kabupaten Buleleng yaitu supervised classification dengan metode maximum likelihood.This study was conducted in Buleleng Regency using Landsat 8 OLI/TIRS imagery (Operational Land Imager/ Thermal Infrared Sensor), with the aim of (1) describing the supervised classification method for land cover classification, (2) describe the method of unsupervised classification on the classification of land cover, and (3) compare the level of accuracy of the supervised classification method and unsupervised classification on the classification of land cover. The method used is a comparative method  by comparing the supervised classification method with unsupervised classification of land cover in Buleleng Regency. The results showed that (1) eight land cover classes were obtained in the supervised classification method determined by the taking of the training area, (2) eight land cover classes were obtained in the unsupervised classification method determined by providing statistical range values, and (3) the accuracy level the highest is owned by the supervised classification method, namely maximum likelihood with the overall accuracy value of 92% compared to the unsupervised classification method (k-means and ISODATA) which has the overall accuracy value of 82,07%. The conclusion is that the detection of land cover classification method that is best done in Buleleng Regency is the supervised classification with the maximum likelihood method.
Aplikasi Model Rusle untuk Estimasi Kehilangan Tanah Bagian Hulu di Sub Das Garang, Jawa Tengah Fahrudin Hanafi; Dany Pamungkas
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v18i1.28079

Abstract

The Garang watershed is one of the main rivers passing through Semarang City, Central Java. Garang uptream is mostly a buffer zone and a catchment area for the water and soil resources conservation of Semarang City and surroundings. This research is located in the upstream Garang watershed, with the aim of knowing the level of erosion or soil loss tolerance due to land use change.The erosion model is specific to sheet erosion which modeled with RUSLE (Revised Universal Soil Loss Equation) method. The data used are (R) ground rainfall from 7 hydrological stations for 10 years, (K) soil types derived from land form interpretation, (LS) length and slope from SRTM radar data, (CP) conservation and land cover derived using a multispectral supervised classification (maximum likelihood). The quality of modeling is maintained through validation of input data, such as the normal ratio method and consistency test of rain data, soil texture and color surveys for soil data, confusion matrices for land cover and slope validation.The research results of the upstream Garang watershed area of 1191,56 hectares (14.14%), the erosion that occurred was still below the allowable erosion limit, while the area of 7.232,67 hectares (85.86%) was erosion that occurred above the allowable erosion value. The average soil loss is 222 tonnes / ha / year with the potential for soil loss up to 39,236 tonnes per year or soil loss thickness of 3.8 cm. Even though it is within the threshold, this must be controlled considering the importance of the upstream Garang watershed, whose land cover has begun to change its function to agriculture and plantations on sloping land.
Penerapan Model Statistik Multivariat dalam Studi Kerawanan Longsorlahan di Daerah Aliran Sungai Kodil, Jawa Tengah Elok Surya Pratiwi; Danang Sri Hadmoko
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v16i1.4961

Abstract

Tingginya jumlah kerugian yang ditimbulkan dari bencana longsorlahan di DAS Kodil Jawa Tengah membuktikan bahwa upaya manajemen bencana di daerah tersebut masih lemah. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi resiko bencana yakni dengan cara merekonstruksi peta kerawanan longsorlahan. Peta kerawanan longsorlahan direkonstruksi menggunakan salah satu metode indirect mapping untuk mengurangi tingkat subjektivitas yang tinggi  yakni metode Logistic Regression Model. Hasil peta kerawanan longsorlahan DAS Kodil menunjukkan bahwa 11,9% luas area termasuk dalam kategori daerah kerawanan tinggi dan 5,8% luas area termasuk dalam kategori daerah kerawanan sangat tinggi. Tingkat akurasi peta kerawanan longsorlahan yang dihasilkan adalah sebesar 69,5%, dimana variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian longsorlahan di daerah penelitian adalah jarak buffer jalan.High numbers of loss from the previous landslide hazard proved that hazard management in Kodil Watershed Central of Java was still low. One of the way to decrease the hazard risk occurrence are with analyzing dynamic of landslide distribution observed from building landslide susceptibility map. Landslide susceptibility map was built using one of indirect method that is Logistic Regression Model (LRM) to reduce the subjectivity result. The result of landslide susceptibility map reveals that 11,9% of area in Kodil Watershed have high susceptibility rate, even more 5,8% area have very high susceptibility rate. Landslide susceptibility map built by LRM reached an accuracy as high as 69,5%, where variable distance from road performs as the biggest influence for landslide occurrence in that area.
Kajian Kualitas Air Tanah Dampak Intrusi Di Sebagian Pesisir Kabupaten Tuban Erik Febriarta
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v17i2.24143

Abstract

Wilayah Kabupaten Tuban bagian utara berbatasan langsung dengan Laut Jawa dengan pembangunan terpusat pada daerah pesisir. Salah satu isu permasalahan yang timbul dari pertumbuhan kota pesisir adalah penurunan kualitas air tanah akibat intrusi air laut.  Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas air tanah yang terdapak intrusi air laut. Metode yang digunakan untuk mengetahui kondisi kualitas air tanah dengan analisis perbandingan dengan nilai baku mutu PermenKes RI No.32 Tahun 2017. Unsur yang dianalisis e.coli, e.coli total, nitrit (N02), nitrat (N03), bau, total zat padat terlarut (TDS), rasa, daya hantar listrik (DHL), besi (Fe), khlorida (Cl), sulfat (S04), kesadahan (CaC03), keasaman (pH), natrium (Na), kalium (K), bikarbonat (HC03), karbonat (C03), kalsium (Ca). Unsur yang melebihi baku mutu antara lain ecoli yang bersumber dari limbah rumah tangga (domestik), nitrat (N03) yang bersumber dari pupuk pertanian, daya hantar litrik (DHL) bersumber dari ion garam terlarut dan kesadahan (CaC03) yang bersumber dari batuan kapur. Sedangkan metode untuk mengetahui dampak intrusi air laut adalah dengan perbandingan ion mayor yaitu Mg2+ dan Ca 2+, dan Cl- dan HC03-. Hasil penelitian menunjukkan 11 dari 12 sampel atau 91% terpengaruh intrusi air laut.
Poverty In Bengkulu Province 2010-2017 Seri Aryati; Ghina Salsabila; Muthia Hasna Thilfatantil; Aprillia Christianawati; Fitri Riswari Prima
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v16i2.20857

Abstract

Bengkulu is one of the provinces with the highest poverty in Indonesia. The Poverty Gap Index in 2017 is also higher than Indonesia. The purpose of this research is to determine the development of poverty in Bengkulu Province in 2010-2017. The method used in this research is descriptive quantitative based on secondary data. The variables include the percentage of poor people, poverty gap index, poverty severity index and gini index. The results are analyzed descriptively with a macro analysis unit based on the district /city administration unit. The results of this research show that poverty in Bengkulu Province was increasing from 2010 to 2015 and then it’s decreasing until 2017, this increasing was caused by inflation that made the prices of needs increase. The lowest poverty rate is in Bengkulu Tengah District, while the highest level is in the southern part of Bengkulu Province includes Bengkulu Selatan Regency, Seluma Regency, Kaur Regency, and Bengkulu City.
Kajian Daerah Imbuhan Airtanah di Kabupaten Ngawi Setyawan Purnama; Tommy Ardian Tivianton; Ahmad Cahyadi; Erick Febriarta
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v16i1.18358

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan daerah imbuhan airtanah di daerah penelitian dan mengkaji keterkaitan daerah imbuhan dengan bentuk lahan wilayahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan klasifikasi daerah imbuhan airtanah berdasarkan parameter konduktivitas hidrolik batuan, curah hujan, tanah penutup, kemiringan lereng dan kedalaman muka freatik. Masing-masing parameter mempunyai pengaruh terhadap resapan air ke dalam tanah yang dibedakan dengan nilai bobot. Parameter yang mempunyai nilai bobot paling tinggi merupakan parameter yang paling menentukan kemampuan peresapan untuk menambah air tanah secara alamiah pada suatu cekungan airtanah Hasil skoring dari beberapa parameter tersebut kemudian dianalisisi dengan unit analisis bentuk lahan daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Ngawi terdapat dua klasifikasi daerah imbuhan airtanah yaitu daerah imbuhan utama, dan daerah imbuhan tidak berarti. Klasifikasi daerah imbuhan airtanah utama didapatkan pada daerah tengah dan sisi selatan hingga bagian tengah daerah ini. Menurut bentuk lahannya, wilayah yang merupakan daerah imbuhan utama merupakan lereng Gunungapi Lawu, dataran aluvial, hingga lembah Sungai Bengawan Solo, sedangkan pada daerah perbukitan struktural (sinklinal dan antiklinal) terklasifikasikan menjadi imbuhan airtanah tidak berarti. Secara keseluruhan apabila dilihat dari luas total Kabupaten Ngawi, maka Kabupaten Ngawi memiliki 74,5% daerah imbuhan utama, dan 25,5 % daerah imbuhan tidak berarti.The purpose of this study is to determine the groundwater recharge area in the research area and examine the linkages between the recharge area and the region’s landform. To achieve this goal, classification of groundwater recharge areas is carried out based on rock hydraulic conductivity parameters, rainfall, , soil material, slope and depth of phreatic. Each parameter has an influence on water absorption into the soil which is distinguished by the weight value. Parameters that have the highest weight value are the parameters that most determine the ability of infiltration to naturally add groundwater to a groundwater basin. The final score  of these parameters were then analyzed with a unit of analysis of the research area’s landform. The results of the study show that in Ngawi Regency there are two classifications of groundwater recharge areas, namely the main recharge areas, and insignificant recharge areas. The main classification of groundwater recharge areas is found in the central and southern regions to the central part of this area. According to the landform, the area which is the main recharge area is the slope of Lawu Volcano, alluvial plain, to the Bengawan Solo River valley, while in the area of structural hills (sinklinal and anticlinal) classified as groundwater recharge is meaningless. Overall, when viewed from the total area of Ngawi Regency, Ngawi Regency has 74.5% of the main recharge area, and 25.5% of the recharge area is meaningless.
Analisis Sebaran Spasial Tingkat Kejadian Kasus Covid-19 Dengan Metode Kernel Density di Kota Ambon Heinrich Rakuasa; Mangapul Parlindungan Tambunan; Rudy Parluhutan Tambunan
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v18i2.28234

Abstract

Kota Ambon merupahkan daerah dengan kasus COVID-19 tertinggi di provinsi Maluku yaitu 435 orang terkonfirmasi positif dan yang terkonfimasi suspek 10 orang. Kasus COVID-19 di Kota Ambon dari bulan maret-desember, cenderung meningkat setiap bulannya. Jumlah penderita COVID-19 di Kota Ambon meningkat disebabkan karena wilayah tersebut merupakan wilayah dengan jumlah penduduk yang banyak dibandingkan wilayah lain, jumlah penduduk Kota Ambon saat ini yaitu 371.650 Jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial tingkat kejadian kasus positif COVID-19 dengan metode Kernel Density di Kota Ambon  dan untuk menganalisis hubungan antara kepadatan penduduk dan jumlah kasus Positif COVID-19 di Kota Ambon. Hasil analisis pola spasial sebaran tingkat kejadian kasus Positif COVID-19 terkonsentrasi pada wilayah-wilayah tertentu mengikuti jumlah penduduk dan faktor lingkungan lain di Kota Ambon. Sebaran spasial tingkat kejadian kasus Positif COVID-19 menunjukan, kelas tertinggi terdapat disekitar 22 desa dan Kelurahan dengan luas 1420 Hektar atau 4%, kelas sedang terdapat di 8 desa dan kelurahan dengan luas 2258 atau 7%, dan kelas rendah terdapat di 29 desa dan kelurahan  dengan luas 28877 atau 89%. Hubungan kepadatan penduduk dengan jumlah kejadian kasus Positif COVID-19 di Kota Ambon mempunyai korelasi yang  kuat dengan nilai (r) 0,620 dan mempunyai hubungan yang positif.
Kerentanan Gerakan Tanah Menggunakan Teknik Geospasial Statistik Di Macang Pacar, Nusa Tenggara Timur Erik Febriarta; Yunus Aris Wibowo
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v18i1.26234

Abstract

Kecamatan Macang Pacar merupakan kecamatan di Kabupten Manggarai Barat yang berada diatas Formasi Bari (Tmb) yang didominiasi batugamping berlapis yang mudah terlapuk menjadi rombakan parafargmen dengan sifat lepas lepas dan kurang padat. Strukur geologi disekitar Kecamatan Macang Pacar berupa sesar, lipatan dan kelurusan, termasuk zona rawan bencana. Terdapat sesar mayor yaitu sesar normal dan geser terdapat pada perbukitan batugamping dan perbukitan batubreksi lava. Berdasarkan kenampakan tersebut, potensi bencana yang dapat terjadi adalah gerakan tanah (longsor). Maka tujuan dari penelitian ini adalah menetukan zona kerentanan gerakan tanah dengan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) dari parameter tujuh parameter, yaitu: kemiringan lereng, jenis batuan, struktur geologi (kekar,sesar), penggunaan lahan, ditribusi gerakan tanah, kegempaan, dan intensitas curah hujan. Penilaian dengan pembobotan disetiap parameter bertingkat (hierarki). Pembobotan dengan dengan nilai 1, merupakan faktor yang paling mempengaruhi kerentanan, sedangkan pembobotan dengan nilai 2 menunjukkan faktor yang tidak dominan terhadap kerentanan. Dari nilai dan pembobotan tersebut menghasilkan nilai skor total indek kerentanan. Hasil atau skor diperoleh dari perhitungan linier dari seluruh parameter kerentanan gerakan tanah. Untuk menentukan kelas zona kerentanan gerakan tanah, dilakukn klasifikasi kelas (zona) menjadi kerentanan tinggi, menengah, rendah dan sangat rendah. Pembagian zona klasifikasi kerentanan gerakan tanah dengan metode equal interval. Hasil dari penentuan zona kerentanan diketahui zona kerentanan gerakan tanah tinggi seluas 63,97 km2 (14,49%), kerentanan menegah seluas 147,65km2 (33,53%), kerentanan rendah seluas 114,19km2 (25,93%) dan kerentanan sangat rendah seluas 114,72km2 (26,05%). Secara umum di Kecamatan Macang Pacar tingkat kerentanan gerakan tanah adalah kerentanan menengah.
Teknik Rekayasa Lereng untuk Pengelolaan Gerakan Massa Tanah di Dusun Bengle, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah Ayuni Pirenaningtyas; Eni Muryani; Dian Hudawan Santoso
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v17i1.21757

Abstract

Gerakan massa tanah terjadi pada tanggal 28 November 2017 di Dusun Bengle, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tipe gerakan massa tanah dan mengetahui nilai faktor keamanan pada lereng berdasarkan sifat fisik dan mekanika tanah. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode survei dan pemetaan lapangan. Teknik pengambilan sampel tanah yaitu purposive sampling ditentukan berdasarkan jarak panjang longsoran. Hasil laboratorium digunakan untuk menghitung kestabilan lereng menggunakan Metode Fellenius. Data pendukung yang diperoleh dengan pemetaan diantaranya kemiringan lereng, ketebalan dan tekstur tanah, penggunaan lahan dan kapasitas infiltrasi kemudian curah hujan diperoleh dari analisis data sekunder. Seluruh data yang diperoleh dianalisis sesuai dengan kondisi rona lingkungan. Tipe gerakan massa tanah di daerah penelitian adalah debris slide. Nilai faktor keamanan lereng diperoleh nilai 0,687 yang termasuk ke dalam klasifikasi tidak stabil. The ground mass movement took place on 28th  November 2017 in Bengle Hamlet, Dlepih Village, Tirtomoyo Sub-District, Wonogiri Regency, Central Java Province. The purpose of this study was to determine type of soil mass movements and determine the value of safety factors on slopes based on physical and mechanical properties of the soil. The methods used in collecting the data were survey and field mapping methods. The soil sampling technique used in this study was purposive sampling based on the long of the avalanche distance. The laboratory results were used to calculate slope stability using the Fellenius Method. The Supporting data obtained by mapping were include the  slope of land, the soil thickness and texture, land use and infiltration capacity and rainfall obtained from secondary data analysis. All data obtained were analyzed according to environmental conditions. The type of soil mass movement is debris slide. The value of slope safety factor was 0.687 which was included in the unstable classification.

Filter by Year

2007 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2023) Vol 20, No 1 (2023) Vol 19, No 2 (2022) Vol 19, No 1 (2022) Vol 18, No 2 (2021): In progress [July 2021] Vol 18, No 2 (2021) Vol 18, No 1 (2021): January Vol 18, No 1 (2021) Vol 17, No 2 (2020): July Vol 17, No 2 (2020) Vol 17, No 1 (2020) Vol 17, No 1 (2020): January Vol 16, No 2 (2019): July Vol 16, No 2 (2019) Vol 16, No 1 (2019): January Vol 16, No 1 (2019) Vol 15, No 2 (2018): July 2018 Vol 15, No 1 (2018): January 2018 Vol 15, No 2 (2018) Vol 15, No 1 (2018) Vol 14, No 2 (2017): July 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 2 (2017) Vol 14, No 1 (2017) Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2016) Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 2 (2015) Vol 12, No 1 (2015) Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 2 (2014) Vol 11, No 1 (2014) Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013) Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 2 (2011) Vol 8, No 1 (2011) Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 2 (2010) Vol 7, No 1 (2010) Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009) Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 2 (2007) Vol 4, No 1 (2007) More Issue