cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian
ISSN : 25493078     EISSN : 25493094     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian welcomes high-quality, original and well-written manuscripts on any of the following topics: 1. Geomorphology 2. Climatology 3. Biogeography 4. Soils Geography 5. Population Geography 6. Behavioral Geography 7. Economic Geography 8. Political Geography 9. Historical Geography 10. Geographic Information Systems 11. Cartography 12. Quantification Methods in Geography 13. Remote Sensing 14. Regional development and planning 15. Disaster
Arjuna Subject : -
Articles 555 Documents
PENGEMBANGAN MODEL PEMANFAATAN LAHAN DI BAWAH TEGAKAN (PLDT) UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN DAN REALISASI KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN PATI Eva Banowati; Dyah Rini Indriyanti; Juhadi Juhadi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i1.15266

Abstract

Penggunaan lahan di pedesaan sebagian besar dimanfaatkan sebagai areal untuk aktivitas bertani/ pertanian dalam arti sempit maupun dalam arti luas yang meliputi pertanian, perhutanan, peternakan dan perikanan sebagai mata pencaharian mayoritas penduduk. Eksisting lahan sebagai sumber daya merupakan ruang kehidupan berkait erat dengan situasi lingkungan alam di sekitarnya yang harus ditinjau aksesnya terhadap pengaruh cuaca dan iklim (cahaya matahari, curah hujan, angin, erosi, perubahan kondisi iklim, dll.) serta faktor pembentuknya (sebagai akibat kegiatan alam: letusan gugung berapi).Lokasi pada lahan hutan muria. Pemilihan lokasi lapangan (field sites) didasarkan pada beberapa faktor antara lain: a) telah ditetapkan sebagai desa model PHBM, b) mempunyai jumlah petak terbanyak dengan pangkuan luas, c) umur tegakan hutan bervariasi, d) jumlah pesanggem banyak, e) sebagai lokasi Integrated Farming. Pada kedua lokasi dilakukan pembuatan demplot pemodelan sebagai media edukasi dan pendampingan.Pada demplot yaitu monokultur dan polikultur yang merupakan hasil pengkajian kondisi biofisik. Komoditas tanaman pangan di Indonesia ada 7 jenis yakni padi, jagung, kacang tanah, kedelai, kacang hijau, ubi jalar dan ubikayu/ singkong. Hasil analisis data sekunder menunjukkan bahwa kacang hijau dan ubi jalar di Kabupaten Pati merupakan prioritas ke 6 dan ke tujuh (BPS, 2014; 2015; 2015). Tanaman pangan unggulan: kacang tanah, singkong, padi, kedelai, dan jagung. Indikasi keberhasilan pengembangan model PLDT dalam pengentasan kemiskinan dan realisasi ketersediaan pangan dilihat dari aspek sosial, ekonomi, dan keputusan stakesholder. Indikator keberhasilan merupakan sub bagian keberhasilan pembangunan ekonomi non moneter, yakni: pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sukap), standar hidup layak, angkatan kerja, tingkat konsumsi per kapita, serta akses media massa. 
PEMANFAATAN PANTAI AYAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR GEOGRAFI KELAS X MATERI POKOK HIDROSFER SMA NEGERI SUMPIUH TAHUN AJARAN 2014/2015 Alin Anggini
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v13i2.7970

Abstract

This study aims to determine the implementation of learning Geography, to analyze learning outcomes ofGeography, and to discover the advantages as well as obstacle factors in implementation of learningGeography of class X subject matter Hydrosphere, which used “Pantai Ayah” as learning source. Thisresearch methodology used descriptive quantitative. Population of this research were all student of class Xin Sumpiuh Senior High School. Sampling technique were using random sampling. Data collected throughtests, questionnaires, observation, documentation, and interview. Results of this research showed thatlearning implementation was great with the preparatory percentage stage 100%, the implementation 83,3%,and the follow up 91,6%. It showed 24 students got mark over minimum rate criterion and 6 students gotunder minimum rate criterion. The advantages of this learning were increased knowledge of outdoor studymethod, interesting learning increased creativity, increased learn interest, enthusiastic attitude as well asgood infrastructure provision. Obstacle factors were cost, time, distance, physical condition, and security.
LAND COVER CHANGES STUDY OF UPSTREAM COKROYASAN WATERSHED ON MAXIMUM RETENTION Fahrudin Hanafi; Wahid Aksin Budi Nur Sidiq
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v14i2.11515

Abstract

This research takes location on upstream of Cokroyasan watershed, especially on Bandung weir catchment on Purworejo and Wonosobo District. Research objective is knowing maximum retention changes which represented by upstream Cokroyasan watershed curve number, related to land cover data series, soil type, rain, and peak flow (Qp). Research data quality controlled with data survey and overland flow data observed. Thus the relationship of particular land cover and watershed responses in generating peak flow can be determined.The land covers determine using multispectral classification of Landsat which detailed with manual interpretation and Google Earth image. Sampling selection defines by stratified random sampling technique of the smallest unit of land form. Effective rain determines by consistency test of rainfall data, frequency analysis, survey data and curve number composites. The effective rainfall generate using SCS model (Soil Conservation Service) which influenced by design rainfall, soil type, texture, and land cover.The results showed that within 15 years, the land cover of Bandung weir catchment change significantly. Especially plantation was reduced by 56% or 40.76 km2 while the settlements increased 412% to 64.20 Km2, and other land cover changes not significant (2% ). The analysis showed the peak flow in the upstream of Cokroyasan watershed changes on different return period. Although the different can only see on a more than two years return period. This means there was an increase of peak flow (discharge), as a result of maximum retention DAS dropped from 16- 18.29 m3/ s.The conclusion of this research indicate that land cover changes that occur within 15 years, influence on Curve Number changes, maximum retention, effective precipitation, and peak flow of upstream Cokroyasan watershed.
PEMODELAN TINGKAT PELAYANAN JALAN (LEVEL OF SERVICES) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENGURAI KEMACETAN LALU LINTAS KOTA SEMARANG Saptono Putro
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v6i2.97

Abstract

Kemacetan lalu-lintas merupakan masalah yang dihadapi oleh kota-kota besar, termasuk Kota Semarang, yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk baik secara alami maupun penduduk pendatang. Selama ini kemacetan sulit dipecahkan karena ratio pertambahan jalan sudah tidak seimbang dengan petambahan jumlah kendaraan yang melaluinya. Dalam penelitian ini yang akan menjadi obyek penelitian adalah faktor pendorong kemacetan lalulintas yang dijabarkan menjadi dua kelompok, yaitu: 1) Sarana lalu-lintas yang meliputi jenis dan jumlah kendaraan yang melewati ruas jalan, dan fungsi kendaraan (umum atau pribadi); 2) Prasarana lalu-lintas yang meliputi, klas/ fungsi jalan, kalitas jalan, dan penggunaan badan jalan selalin sebagai jalur lalu-lintas kendaraan. Populasi dalam penelitian ini meliputi semua jaringan jalan di Kota Semarang, sedangkan sampel diambil 4 jalan utama lingkar luar (dari luar kota), Aspek yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengukur Tingkat Pelayanan (Level of Services) masing-maing titik pengamatan, dimana dapat dipergunakan standar pengukuran tingkat pelayanan sesuai dengan DLLAJR yaitu lebih dari 0,7 (tingkat pelayanan klas D ke atas). Aspek lain yang dikaji adalah sebaran titik-titik kemacetan dan waktu terjadinya kemacetan lalu-lintas yang berbeda-beda tiap ruas jalan, dan waktu masing-masing kegiatan sehari-hari, waktu pencatatan setiap jam pada titik pengamatan mulai pagi hari pukul 06.00 sampai sore hari pukul 18.00, juga diteliti penyebab kemacetan pada jaringan jalan. Hasil penelitan pada jalan jalan lingkar luar yang meliputi Jalan Kaligawe. Jalan Sudiarto (Majapahit), Jalan Setya Budi, Jalan Siliwangi, mengalami tingkat pelayanan yang sangan rendah, yaitu di atas 0,7 yang berarti jalan dalam kondisi macet terbatas hingga macet padat di atas 1,0. Keadaan demikian terjadi hampir sepanjang hari, terutama pada jam-jam sibuk pukul 7.00 sampai 9.00 pagi dan pukul 16.00 sampai pukul 18.00 sore. Kemacetan disebabkan disamping kapasitas jalan yang tidak mampu menampung arus lalulintas juga oleh penggunaan badan jalan yang menghambat arus lalulintas seperti parkir, ngetem, dan berjualan di badan jalan.Moda angkutan jalan yang paling mempengaruhi tingkat pelayanan jalan di semua titik pengamatan adalah sepeda motor diikuti mobil baik umum maupun pribadi. Simpulan Tingkat Pelayanan Jalan di Kota Semarang sudah sangat rendah diatas 0,7( C), puncak kemacetan terjadi pada pukul 7.00 sampi jam 9.00 dan jam 16.00 sampai jam 18.00, moda peneybab rendahnya tingkat pelayan jalan adalah sepeda motor. Kapasitas efektif ruas jalan berkurang karean penggunaan badan jalan di luar kegiatan transportasi. Saran perlu pengaturan arus lalulintas oleh instansi berwenang untuk mengtur jumlah kendaraan yang melewati jalan raya, terutama kendaraan pribadi, dan pengaturan diisipiln lalu-lintas untuk kendaraan umum. Untuk melihat kemacetan dalam Kota Semarang perlu pemetaan kemacetan dan pemanfaatan Sistem Informasi Geografi secara interkatif, karena dapat dengan cepat menganalisis penyebabnya dan penangulangannya secara terpadu. Kata kunci: Tingkat pelayanan, kemacetan lalu lintas, sistem informasi geografis
PEMANFAATAN TEKNOLOGI SIG UNTUK PEMETAAN TINGKAT ANCAMAN LONGSOR DI KECAMATAN KEJAJAR, WONOSOBO Satya Budi Nugraha; Wahid Akhsin Budi Nur Sidiq; Andi Irwan Benardi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v12i2.8035

Abstract

Kejajar District of Wonosobo Regency was one of region in Central Java Province which has landslide risk.Mountainous topographical factor, steep slope in some area, high rainfall, and low-density of vegetation wereaffected factors of high risk of landslide hazard in that region. This research aimed to determine thedistribution of landslide hazard in Kejajar. Geography Information System (GIS) technology could be used tosupport in mapping of landslide hazardous area in Kejajar District. Through overlay method of someparameter maps, it was hoped that could give imagery of landslide hazard level in study location. Hence,based on information of the map, could be analyzed to give supporting idea in term of landslide management.Based on resulted map of landslide hazard area, there were 4 (four) classification levels. Low level oflandslide hazard were in Sigendeng and Tambi Village. Medium level of landslide hazard were in KreoVillage. High level of landslide hazard was the largest area distribution, included Kejajar, Bantu, Sembungan,Serang, Parikesit, Patakbanteng, Dieng, and Igirmanak Village. While, the very high level of landslide hazardwas in Campursari, Sikunang, Tieng, and Surenggede Village.
PENGEMBANGAN MODUL KESIAPSIAGAAN BENCANA ANGIN PUTING BELIUNG UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN GEOGRAFI UNNES Sigit Bayhu Iryanthony
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v12i2.8002

Abstract

Angin puting beliung is a disaster which frequently happens in Indonesia. Based on National Agency ofDisaster Management (BNPB) data, it contributed 21% of all disasters in Indonesia. This study aimed todetermine appropriate learning modules to recognize angin puting beliung by utilizing maritimemeteorological information from BMKG and to determine students cognitive level in learning andunderstanding maritime meteorological information data from BMKG by using the developed module.Research conducted on Geography Education students UNNES. The method used in this research wasresearch and development (Research and Development). The research process started with a preparatorystudy, media arrangement, media validation by media and material experts. The modul feasibility wasdecalred as very feasible with average value of 78.58. The results showed that there were cognitive levelincreasement of 1st, 5th, and 7th semester Students at 29.5 (out of range 0-100). More significant improvementoccurred in the 7th semester students at 38.4 (out of range 0-100). Hence, this module feasible and proven toimprove learning outcomes of Geography Education Students of UNNES.
KELAYAKAN TEKNIS PENAMBANGAN PASIR PADA WILAYAH PERTAMBANGAN RAKYAT DI SUNGAI PROGO, KABUPATEN KULON PROGO Dian Hudawan Santoso; Muammar Gomareuzzaman
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.15454

Abstract

Kegiatan penambangan oleh masyarakat di Kabupaten Kulonprogo dilakukan tanpa didahului kajian kelayakan teknis sehingga berpotensi mengakibatkan kerusakan lahan dan kecelakaan bagi penambang dan masyarakat. Kegiatan penambangan pasir di Kabupten Kulon Progo banyak dilakukan di Sungai Progo.Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui kelayakan teknis penambangan rakyat material pasir. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian survei dan pemetaan. Analisis kelayakan teknis pertambangan rakyat pasir dilakukan dengan metode pengharkatan (rating). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan evaluasi analisis kelayakan teknis, dari 4 lokasi penambangan pasir aktif yang dinyatakan “layak” secara teknis adalah Dusun Dlaban dan Dusun Nepi, sedangkan lokasi yang “kurang layak” secara teknis adalah Dusun Karang Wetan dan Dusun Sapon.
POLA DISTRIBUSI KERUANGAN MCK KOMUNAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN KAWASAN KUMUH DI PERKOTAAN YOGYAKARTA Ariyani Indrayati
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v8i1.1656

Abstract

Kota Yogyakarta dilalui tiga sungai utama, yaitu Sungai Winongo, Code, dan Gajahwong. Lahan di bantaransungai, khususnya yang terletak di tengah kota menjadi pilihan masyarakat berpenghasilan rendah untuk bermukim.Semakin lama, kawasan ini semakin padat penduduknya, sehingga memunculkan gejala kemiskinan dan diikuti dengankekumuhan. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di bantaran sungai berpendapatan rendah dan belum mampumenempati rumah dengan fasilitas sanitasi yang layak, sehingga keberadaan MCK komunal menjadi hal yang sangatpenting. Tulisan ini berusaha mengulas mengenai pola distribusi keruangan MCK Komunal yang sudah ada di KotaYogyakarta, dan menghubungkannya dengan distribusi keruangan Kawasan kumuh yang ada di kota tersebut. Metodepenelitian, menggunakan metode kuantitatif, di mana pola distribusi spasial dihitung menggunakan teknik statistikberbasis area kelurahan, sedangkan distribusi kawasan kumuh dilakukan dengan analisis spasial dengan unit analisistitik. Analisis spasial kawasan kumuh divisualisasikan dengan peta citra yang memanfaatkan Citra Quick-Bird dansurvei GPS untuk menentukan referensi geografis titik-titik (lokasi) yang diteliti. Penjelasan lebih lanjut mengenaigejala keruangan yang ditemukan adalah menggunakan analisis diskriptif. Distribusi keruangan MCK Komunal yangada di Kota Yogyakarta menunjukkan pola yang spesifik yaitu mengelompok di sepanjang bantaran sungai. Gejala iniberasosiasi dengan gejala tersebarnya kawasan kumuh di Kota Yogyakarta yang sebagian besar juga berpolamengelompok di sepanjang bantaran sungai. Dengan demikian secara keruangan dapat dikatakan bahwa distribusiMCK Komunal di Kota Yogyakarta sudah sesuai dengan kebutuhan di lapangan, yaitu berada di tempat-tempat dimana sebagian besar keluarga-keluarga miskin yang tidak mampu untuk membangun MCK secara mandiri berada.
Analisis Potensi Kekeringan Pertanian di Kabupaten Bandung Agung Fathony; Lili Somantri; Nanin Trianawati Sugito
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v19i1.33724

Abstract

Kabupaten Bandung sering mengalami kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mempengaruhi produktivitas pertanian dan ketersediaan air bersih. Belum ada penelitian mengenai kekeringan di Kabupaten Bandung. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi kekeringan pertanian yang terjadi di Kabupaten Bandung dan mengetahui tingkat akurasi dari citra penginderaan jauh yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Citra yang digunakan yaitu Landsat 8 dan Sentinel-2. Hasil penelitian berdasarkan hasil Landsat 8, luas paling tinggi pada kelas kekeringan sangat rendah yaitu Kecamatan Rancabali, kelas rendah Kecamatan Pangalengan, kelas sedang Kecamatan Kertasari, kelas tinggi Kecamatan Nagreg, kelas sangat tinggi Kecamatan Ciwidey. Berdasarkan hasil Sentinel-2, kelas sangat rendah yaitu Kecamatan Pangalengan, kelas rendah yaitu Kecamatan Pangalengan, kelas sedang Kecamatan Pacet, kelas tinggi Kecamatan Baleendah dan kelas sangat tinggi Kecamatan Margaasih. Tingkat akurasi citra Landsat 8 pada peta NDVI yaitu sebesar 68,87% dan peta penggunaan lahan sebesar 76,42%. Tingkat akurasi citra Sentinel 2 pada peta NDVI yaitu 40,5% dan peta penggunaan lahan 72,64%. Peta yang memenuhi tingkat akurasi hanya peta penggunaan lahan citra Landsat 8. Bandung Regency often experiences drought in the dry season. This affects agricultural productivity and the availability of clean water. There has been no research on drought in Bandung Regency. The purpose of this study was to determine the potential for agricultural drought that occurred in Bandung Regency and to determine the level of accuracy of remote sensing imagery used. This research uses remote sensing method and Geographic Information System. The images used are Landsat 8 and Sentinel-2. The results of the study based on Landsat 8 results, the highest area was in the very low drought class, namely Rancabali District, low class Pangalengan District, medium class Kertasari District, high class Nagreg District, very high class Ciwidey District. Based on the results of Sentinel-2, very low class is Pangalengan District, low class is Pangalengan District, medium class is Pacet District, high class is Baleendah District and very high class is Margaasih District. The accuracy level of Landsat 8 images on NDVI maps is 68.87% and land use maps is 76.42%. Sentinel 2 image accuracy rate on NDVI map is 40.5% and land use map is 72.64%. Maps that meet the level of accuracy are only Landsat 8 image land use maps.
PENGARUH GEOMETRI JALAN DAN INTENSITAS HUJAN TERHADAP KEDALAMAN GERUSAN DI BAHU JALAN YANG TIDAK DIPERKERAS Sanidhya Nika Purnomo; Purwanto Bekti Santoso; Wahyu Widianto; Dimas Baiqun; Miftah Muslihudin
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v14i1.9778

Abstract

Scour on the unpaved shoulder of the road is an interesting phenomenon that is still quite new in terms of analysis and discussion so that still needs further publication, since most of the roads in Indonesia has many national, provincial, district and village roads have unpaved shoulders. One cause scours in the shoulder of the road is the runoff of rain. The runoff flowing on the unpaved shoulder road, resulting in sediment transport from the upstream to the lower elevation of road shoulder. It is necessary to analyse the influence of the road geometry and intensity of the rain to scour depths of the road shoulder. In this publication conducted multivariable analysis in the influence of road geometry and rain intensity against scour depth in the unpaved shoulder of the road. The analysis starts from primary data collection in the form of a soil sample originating from the road shoulder and road geometry on some streets in Central Java, as well as secondary data in the form of rainfall data at the rain station in Central Java. The primary data in the form of soil samples, were tested in the laboratory to obtain sediment grain diameter D50, specific gravity, and the type of soil samples. Primary data that have been tested in the laboratory, as well as secondary data, then analyzed using multivariate analysis to obtain the equation model for the depth of scour at the shoulder of the road due to the influence of the road geometry and intensity of rainfall. Equation depth of scour at the curb multivariable analysis provides equal results are quite close to the depth of the data collection in the field. The results of the equation also shows that the scour depth of scour at the shoulder of the road were most affected by the slope of the cross street (Sl), and successively followed by the influence of the slope of the elongated path (Sp), the rainfall intensity (I), and the diameter of the granules (D50), where each regression coefficient row is 1223.067; 941.233; 0.8321; and 0.183. Results of multivariable analysis on shoulder scour equation provides multiple regression statistical value R of 0.946, R square of 0.894, adjusted R square of 0.869, and the standard error of 55.344.

Filter by Year

2007 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2023) Vol 20, No 1 (2023) Vol 19, No 2 (2022) Vol 19, No 1 (2022) Vol 18, No 2 (2021): In progress [July 2021] Vol 18, No 2 (2021) Vol 18, No 1 (2021) Vol 18, No 1 (2021): January Vol 17, No 2 (2020): July Vol 17, No 2 (2020) Vol 17, No 1 (2020): January Vol 17, No 1 (2020) Vol 16, No 2 (2019): July Vol 16, No 2 (2019) Vol 16, No 1 (2019): January Vol 16, No 1 (2019) Vol 15, No 2 (2018): July 2018 Vol 15, No 1 (2018): January 2018 Vol 15, No 2 (2018) Vol 15, No 1 (2018) Vol 14, No 2 (2017): July 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 2 (2017) Vol 14, No 1 (2017) Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2016) Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 2 (2015) Vol 12, No 1 (2015) Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 2 (2014) Vol 11, No 1 (2014) Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013) Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 2 (2011) Vol 8, No 1 (2011) Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 2 (2010) Vol 7, No 1 (2010) Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009) Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 2 (2007) Vol 4, No 1 (2007) More Issue