cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
PENGAWETAN KAYU SENGON MELALUI RENDAMAN DINGIN MENGGUNAKAN BAHAN PENGAWET ENBOR SP DITINJAU TERHADAP SIFAT MEKANIK Pangestuti, Endah Kanti; Lashari, Lashari; Hardomo, Agus
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of wood in construction world continues to increase both for the use of structural and non-structural.  Needs a very large timber impact on the availability of wood shrinks every year as a result of exploitation by large scale. One attempt to extend the service life of wood is the wood preservation. This study aims to determine mechanical properties of wood by soaking sengon due to cold preservation with preservative EnborSP. The method used is the method of experiments carried out in the Laboratory of Materials of Civil Engineering, Faculty of Engineering, State University of Semarang. The preservation process used isa process with a cold soaking method, with a preservative solution EnborSP with a concentration of 0%, 3%, 6% and 9%. The response observed was the value-the value retention of preservatives, and mechanical properties (compressive strength of parallel fiber direction, flexural strength and surface hardness) of wood. Preservation method applied is cold soaking (for 5 days or 120 hours). Average retention value-average increase of 2.57kg/m3 (3%), 4.89kg/m3 (6%), and 6.74kg/m3 (9%). Value - average compressive strength of parallel to the direction of the wood fiber sengon increase of 149.39kg/cm2 (0%), 156.35kg/cm2 (3%), 187.80kg/cm2 (6%), and 216, 44kg/cm2 (9%). Value – average flexural strength sengon increase of 175.36kg/cm2 (0%), 202.55kg/cm2 (3%), 272.64kg/cm2 (6%), and 362.81kg/cm2 (9%). Value – average penetration sengon wood decreased from 0.93cm (0%), 0.67cm (3%), 0.57cm (6%), and 0.43cm (9%). This decrease shows that there is an increase in the value of the wood sengon surface hardness. Salah satu usaha untuk memperpanjang umur pemakaian kayu adalah dengan pengawetan kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik kayu sengon akibat pengawetan secara rendaman dingin dengan bahan pengawet Enbor SP. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Laboratorium Kerja Kayu Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Proses pengawetan yang digunakan adalah proses dengan metode rendaman dingin, dengan larutan bahan pengawet Enbor SP dengan konsentrasi 0 %, 3 %, 6 %, dan 9 %. Respon yang diamati adalah nilai – nilai retensi bahan pengawet dan serta sifat mekanis (kuat tekan tekan sejajar arah serat, kuat  lentur dan kekerasan permukaan) kayu. Metode pengawetan yang diterapkan adalah rendaman dingin (selama 5 hari atau 120 jam). Nilai retensi rata – rata mengalami kenaikan dari 2,57 kg/m3 (3 %), 4,89 kg/m3 (6 %), dan 6,74 kg/m3 (9 %). Nilai rata – rata kekuatan tekan sejajar arah serat kayu sengon mengalami kenaikan dari 149,39 kg/cm2 (0 %), 156,35 kg/cm2 (3 %), 187,80 kg/cm2 (6 %), dan 216,44 kg/cm2 (9 %). Nilai rata – rata kekuatan lentur kayu sengon mengalami kenaikan dari 175,36 kg/cm2 (0 %), 202,55 kg/cm2 (3 %), 272,64 kg/cm2 (6 %), dan 362,81 kg/cm2 (9%). Nilai rata – rata penembusan kayu sengon menurun dari 0,93 cm (0 %), 0,67 cm (3 %), 0,57 cm (6 %), dan 0,43 cm (9 %). Penurunan ini memperlihatkan bahwa ada peningkatan nilai kekerasan permukaan kayu sengon.
FENOMENA RETAIL DI KAWASAN PENDIDIKAN TEMBALANG Pigawati, Bitta
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of shopping centers have a high competition. Bussiness competition development of retail shopping centers are fast nearby locations, and it will lead to pressure the market, also it have a weakening effect on the carrying capacity of the region. What if the competition is at the same location and target the same market? This study has aims to assess the sitting Alfamart and Indomaret stores in the District Tembalang and Banyumanik, based on the teory of location through geographic analysis approach that emphasizes aspects of deployment and interaction in space include: characteristic, distribution patterns. And distribution area as determining the location of retail. Analysis include: the characteristics of retail, distribution patterns of retail, and distribution services territory as well as determining the location of retail. The result showed the existence of overlapping service areas. Location retail closer to the market rather than raw materials. The nearby retail location doesn’t cause a problem because the number of demand more than the number of supply.Perkembangan pusat belanja khususnya retail cenderung mengalami kompetisi yang sangat pesat. Persaingan bisnis merupakan kondisi umum dan normal dalam sistem perekonomian. Fenomena perkembangan pusat belanja retail yang cepat pada lokasi yang berdekatan akan menimbulkan tekanan pasar serta berpengaruh pada melemahnya daya dukung wilayah. Bagaimana jika persaingan tersebut berada pada lokasi yang sama dan target pasar yang sama pula? Fenomena ini terlihat pada keberadaan lokasi toko Indomaret dan Alfamart di kawasan pendidikan Tembalang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penentuan lokasi toko Indomaret dan Alfamart di Kecamatan Tembalan dan Banyumanik yang ditinjau berdasarkan teori lokasi melalui pendekatan analisa geografi yang menekankan pada aspek penyebaran dan interaksi dalam ruang. Kajian penentuan lokasi retail di kawasan pendidikan Tembalang meliputi : karakteristik, pola sebaran retail, distribusi wilayah pelayanan serta  strategi penentuan lokasi retail.  Hasil penelitian menunjukkan adanya wilayah layanan yang tumpang tindih. Strategi pemilihan lokasi lebih mendekati pasar daripada bahan baku meskipun target pasar kedua toko ini sama namun pada kenyataannya menimbulkan masalah sebagai pesaing karena jumlah demand lebih banyak daripada jumlah supply.
BETON BERTULANGAN BAMBU WALESAN Purnomo, Mego
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bamboo has a tensile strength close to normal steel, it can be used as a substitute tensile steel reinforcement. Bamboo is used with a length of 3 m, base diameter 20 mm, 10 mm tip. Bamboo reinforcement beams in this study is 15 cm x 20 cm x 250 cm. This study uses the characteristic strength of concrete is fc 22 MPa. The tensile strength of bamboo walesan 147.15 Mpa, E 4900 MPa and 3 Listed below dial gauge specimens was investigated. Loading for flexural testing used two concentrated loads. From the results of this research is that keruntuh flexure marked by vertical cracks in the tensile reinforcement. The collapse of the beam is marked with some bamboo has been broken and the beam is not able to withstand the load again. Ultimate load of 12.25 KN and KN 12.985. Comparison of the mean value between the ultimate load experiment with theoretical calculations of 105.33%. Reinforcement tensile strain to work effectively while loading an average of 30.43% of ultimate loadBambu mempunyai kuat tarik yang mendekati baja normal maka dapat digunakan sebagai tulangan tarik pengganti baja. Bambu yang digunakan adalah Bambu dengan panjang 3 m, diameter pangkal 20 mm, ujung 10 mm. Balok bertulangan bambu pada penelitian ini adalah 15 cm x 20 cm x 250 cm. Penelitian ini menggunakan kekuatan karakteristik beton adalah fc’ 22 Mpa. Kuat tarik bambu walesan 147,15 MPa dan E 4900 MPa Dipasang 3 dial gauge di bawah benda uji bagian tengah. Pembebanan untuk pengujian lentur digunakan dua beban terpusat. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa keruntuh lentur ditandai dengan retak-retak tegak lurus di daerah tulangan tarik. Keruntuhan balok ditandai dengan sebagian bambu telah putus dan balok tidak mampu menahan beban lagi. Beban ultimit sebesar 12,25 KN dan 12,985 KN. Perbandingan nilai rata-rata antara beban ultimit eksperimen dengan perhitungan teoritis sebesar 105,33%. Regangan tarik tulangan bekerja efektif saat pembebanan rata-rata 30,43% terhadap beban ultimit
KONSEP DASAR ARSITEKTUR TATA RUANG RUMAH TINGGAL TRADISIONAL JAWA TENGAH PADA PERKEMBANGAN TATA RUANG MASJID KADILANGU DEMAK DARI AWAL BERDIRI SAMPAI SEKARANG Kusyanto, Mohhamad
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mosque of Kadilangu represent inheritance mosque of Sunan Kalijaga, one of nine Wali in Java (Walisongo) propagating Islam with local culture approach.  Mosque of Kadilangu from early standing to date have experienced of some architecture growth that are phase of Sunan Kalijaga period, Mataram kingdom government period and year of 1990s till now. Growth of Kadilangu Mosque architecture estimated to use basic concept of traditional residence architecture of Central Java. This Research aim to know relation of basic concept of traditional architecture of Central Java with architecture of Kadilangu mosque in it’s growing from early standing to date. Result of this research shows relation existence among both of the architecture.Masjid Kadilangu merupakan masjid peninggalan Sunan Kalijaga, salah seorang dari sembilan wali di Jawa (Walisongo) yang menyebarkan agama Islam dengan pendekatan kebudayaan setempat. Masjid Kadilangu dari awal berdiri sampai saat ini telah mengalami beberapa perkembangan tata ruang yakni fase masa Sunan Kalijaga, fase masa pemerintahan Kerajaan Mataram dan fase tahun 1990-an sampai sekarang. Perkembangan tata ruang Masjid Kadilangu diduga menggunakan konsep dasar tata ruang rumah tinggal tradisional Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan mengetahui keterkaitan konsep dasar tata ruang rumah tinggal tradisional Jawa Tengah dengan tata ruang Masjid Kadilangu dalam perkembangannya dari awal berdiri sampai saat ini. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan diantara kedua tata ruang tersebut.
KAJIAN OPTIMALISASI DAN STRATEGI SUMBER DAYA AIR DI KABUPATEN REMBANG Hidayat, Guswakhid
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing population and the need for land settlements and other activities (cultivation) will lead to increased demand for water. Current water resources in the district of Apex is quite difficult to obtain both surface water and ground water, while the rate of consumption is increasing day by day. Of the calculations have been done, the existing water supply to meet the needs of the peoples in Rembang district maximum reached a critical point in the year 2027. To meet the water needs in the district of Apex, we need a policy that is environmentally friendly to society based on the concept of social learning in which the policy will provide learning to the community about the need for efforts to conserve water resources and stewardship of water resources in Rembang district. Based on the principles and policies that support the use of resources, organized strategy regarding water resource optimization in Rembang district, such: optimization of ground water recharge channels; optimization function surface water; function optimization of PDAM; making rorak, clogged drain, catch pit and biopori; controlling groundwater abstraction; making ponds and seawater desalination.. Meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan lahan permukiman serta kegiatan lainnya (budidaya) menyebabkan peningkatan permintaan akan air. Saat ini sumber daya air di Kabupaten Rembang cukup sulit diperoleh baik air permukaan maupun air tanah, sementara tingkat konsumsi dari hari ke hari semakin meningkat. Dari perhitungan yang telah dilakukan, ketersediaan air yang ada untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Kabupaten Rembang maksimal mencapai titik kritis pada Tahun 2027. Untuk memenuhi kebutuhan air di Kabupaten Rembang, diperlukan suatu kebijakan yang berwawasan lingkungan yang ramah terhadap masyarakat yang berdasar pada konsep social learning yang mana pada kebijakan ini akan memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang perlunya upaya menjaga kelestarian sumber daya air serta penatagunaan sumber daya air yang ada di Kabupaten Rembang. Berdasarkan pada prinsip dan kebijakan yang mendukung pemanfaatan sumber daya, disusun strategi mengenai optimalisasi sumber daya air di Kabupaten Rembang yaitu: optimalisasi saluran peresapan air tanah; optimalisasi fungsi air permukaan; optimalisasi fungsi PDAM; pembuatan rorak, saluran buntu, lubang penampungan air dan biopori; pengendalian pengambilan air tanah; pembuatan embung dan desalinasi air laut
UJI KOMPARASI PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR DAN KAKU METODE AASHTO 1993 (STUDI KASUS PROYEK KBK PENINGKATAN JALAN NASIONAL BANYUMANIK – BAWEN) Apriyatno, Totok
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KBK project Tujauan Road Improvement Banyumanik - Bawen besides increasing the capacity of the road, also aims to improve the quality of the pavement in the form of rigid pavement in order to overcome the damage to roads, especially in the area of incline / derivatives and around traffic light .. This is because the pavement in regional incline / derivatives or traffic light is always damage in the form of Ruts (groove). This study analyzes the thick rigid pavement CBC project is implemented and compared with if the use is thick flexible pavement (asphalt). In terms of cost requirements and the design life of pavement, the results of this study might be useful for research studies on the next, remembering of several studies found that for the same length, rigid pavement construction costs more expensive than flexible pavement, but the life of the plan rigid pavement longer than flexible pavement. Thick rigid pavement were implemented in this project is 27 cm, while the results of the analysis, using concrete K-350 and a 20-year design life of rigid pavement thickness obtained by 29 cm and when using flexible pavement with a design life of 10 years obtained a total thickness of 47.5 cm consisting of: (a). Surface layer (AC) 4 cm, (b). Base layers Over 12 cm, and (c). Under the foundation layers of 31.5 cm.Tujauan proyek KBK Peningkatan Jalan Banyumanik – Bawen selain meningkatkan kapasitas jalan, juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas perkerasan jalan berupa rigid pavement guna mengatasi kerusakan jalan, terutama di daerah tanjakan/turunan dan di sekitar traffic light.. Hal ini disebabkan karena perkerasan jalan di daerah tanjakan/turunan maupun traffic light selalu mengalami kerusakan berupa ruts (alur). Penelitian ini menganalisis tebal rigid pavement yang dilaksanakan proyek KBK ini serta membandingkannya dengan jika yang digunakan adalah tebal perkerasan lentur (aspal). Dalam hal kebutuhan biaya dan umur rencana perkerasan jalan, hasil penelitian ini barangkali akan bermanfaat  untuk kajian pada penelitian-penelitian berikutnya, mengingat dari beberapa kajian didapat bahwa untuk panjang jalan yang sama, biaya konstruksi perkerasan kaku lebih mahal dari perkerasan lentur,akan tetapi umur rencana perkerasan kaku lebih panjang daripada perkerasan lentur. Tebal rigid pavement yang dilaksanakan di proyek ini adalah 27 cm, sementara dari hasil analisis, dengan menggunakan beton K-350 dan umur rencana 20 tahun didapat tebal rigid pavement  sebesar 29 cm dan jika menggunakan perkerasan lentur dengan umur rencana 10 tahun didapat ketebalan total 47.5 cm yang terdiri dari : (a). Lapis permukaan (AC) 4 cm, (b). Lapis Pondasi Atas 12 cm, dan (c). Lapis Pondasi Bawah 31.5 cm. 
EFEKTIFITAS PEMANFAATAN TANAMAN RUMPUT AKAR WANGI UNTUK PENGENDALIAN LONGSORAN PERMUKAAN PADA LERENG JALAN DITINJAU DARI ASPEK RESPON PERTUMBUHAN AKAR Cahyo Andiyarto, Hanggoro Tri; Purnomo, Mego
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vetiver system applications in surface soil erosion control measures still seems to require further study. This is because the root of the composite system of land cultivation is a complex biological material so that the stability of the slope would be difficult to predict. To that end, efforts vetiver system application in compacted soil embankment as it has done in several ring roads Ambarawa root growth response need to be investigated. Dense soil structure will inhibit root penetration, and this has implications on fiber berkontribusnya no roots on soil shear strength due to increased root fibers not cut plane skidded on the surface of the avalanche.  d) ranged from 1.28 - 1.34 gr/cm3 and 16.8 cm thick. At the bottom of the pot occurs due to the collection of roots can not penetrate the roots peralon covers (hubcaps). Length of roots may reach an average of 29.69 cm and a diameter of 0.40 mm root. This shows that Vetiver is able to thrive on the slope in a roundabout way Ambarawa the silt soil type kelempungan coarse grained reddish brown or red soil is often called.gOn soil planting medium coarse grained silt kelempungan reddish brown or red soil that is often referred to, in the age of the plant 90 days, vetiver grass plant roots to penetrate compacted soil layers red with a dry weight of soil volume (  d) would be possible greater average root diameter. In addition, the length and diameter of root relationships showed similarities to the distribution pattern of the same relative density.g d), number of roots, root length and root diameter in response to a growing number of pertumbuan root is the average number of roots will be possible greater average root diameter. The higher the volume of dry soil weight (gThe relationship between variables such as the volume of dry soil weightAplikasi sistem vetiver dalam upaya pengendalian longsoran permukaan nampaknya masih membutuhkan studi lebih lanjut. Hal ini mengingat sistem komposit akar perkuatan tanah merupakan material biologis yang kompleks sehingga stabilitas lereng akan sulit diprediksi. Untuk itu, upaya aplikasi sistem vetiver pada tanah timbunan yang dipadatkan seperti yang telah dilakukan di beberapa ruas jalan lingkar Ambarawa perlu diteliti respon pertumbuhan akarnya. Struktur tanah yang padat akan menghambat laju penetrasi akar, dan kondisi ini berimplikasi pada tidak berkontribusnya serat akar pada peningkatan kuat geser tanah karena serat akar belum memotong bidang gelincir pada longsoran permukaan. Pada media tanam berupa tanah lanau kelempungan berbutir kasar berwarna coklat kemerahan atau yang sering disebut tanah merah,  pada umur tanaman 90 hari, akar tanaman rumput akar wangi mampu menembus lapisan tanah merah yang dipadatkan dengan berat volume kering tanah (gd) berkisar 1,28 - 1,34 gr/cm3 dan setebal 16,8 cm. Pada dasar pot terjadi pengumpulan akar akibat akar tidak dapat menembus penutup peralon (dop). Panjang akar dapat mencapai rata-rata 29,69 cm dan diameter akar 0,40 mm. Hal ini menunjukkan bahwa akar wangi mampu berkembang baik pada lereng jalan di jalan lingkar Ambarawa yang jenis tanahnya lanau kelempungan berbutir kasar berwarna coklat kemerahan atau yang sering disebut tanah merah. Keeratan hubungan antar variabel seperti berat volume kering tanah (gd), jumlah akar,   panjang akar dan diameter akar sebagai respon dari pertumbuan akar adalah semakin banyak rata-rata jumlah akar akan dimungkinkan semakin besar rata-rata diameter akar. Semakin tinggi berat volume kering tanah (gd) akan dimungkinkan semakin besar rata-rata diameter akar. Selain itu, hubungan panjang dan diameter akar menunjukkan kemiripan pola sebaran untuk tingkat kepadatan yang relatif sama. 
METODE PEREKATAN DENGAN LEM PADA SAMBUNGAN PELEBARAN KAYU Handayani, Sri
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Widening system of timber connecting can be made in various methods. Nowadays, the gluing method is more useful. Connection by the gluing method is more quick and easy to do, it takes time shorter. This study aims to determine the strength of the glue (Cyanocrylate and epoxy) on the connection method in terms of shear strength. Results of analysis showed that the epoxy glue to hold the sliding force of 173.090 kg/cm2 and hold Cyanocrylate glue shear force of 169.902 kg/cm2. Based on the test of the mean difference analysis of the results obtained by a sliding strength has no significant difference between Cyanocrylate glue and epoxy glue. In other hand, based on the length of workmanship, the use of glue cyanocrylate more effective than the use of epoxy glue. Therefore Cyanocrylate glue can be used as a substitute for epoxy glue to consider the efficiency of time, but need precision in the process because of the nature of easy Cyanocrylate glue dry and brittle.Penyambungan kayu ke arah melebar dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode yang pada saat ini banyak dipakai adalah metode perekatan dengan lem. Metode penyambungan dengan lem relatif lebih cepat dan mudah dikerjakan sehingga waktu yang diperlukan lebih singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan lem (Cyanocrylate dan Epoksi) pada metode sambungan ditinjau dari kuat geser. Hasil analisis menunjukkan bahwa lem Epoksi kuat menahan gaya geser sebesar 173,090 Kg/cm2  dan lem Cyanocrylate kuat menahan gaya geser sebesar 169,902 Kg/cm2.  Berdasarkan uji analisis perbedaan mean dari kuat gesernya diperoleh hasil tidak ada perbedaan yang signifikan antara lem Cyanocrylate dan lem Epoksi. Sementara itu berdasarkan lamanya pengerjaan,  penggunaan lem cyanocrylate lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan lem epoksi. Oleh karena itu Lem Cyanocrylate dapat dipakai sebagai pengganti lem Epoksi dengan mempertimbangkan efisiensi waktu, akan tetapi perlu kecer
BATA BETON BERLUBANG DARI ABU BATUBARA (FLY ASH DAN BOTTOM ASH) YANG RAMAH LINGKUNGAN Sulistyowati, Nurul Aini
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coal ash (fly ash and bottom ash) is the waste produced by industries that use coal as a fuel source energy. Currently, the textile industry in Pekalongan city has been using coal fuel. Coal combustion waste if not dealt with seriously will be caused of environmental problems. These problems can be overcome by utilizing coal combustion waste in the manufacture of hollow block. This research uses experimental methods of making cube mortar 5 cm x 5 cm x 5 cm and hollow block 10 cm x 19 cm x 39 cm. Composition of the mix used to  cube mortar 1 PC : 8 aggregate (sand + coal ash) with aggregate percentage of 4 variations. The aggregate percentages with optimum compressive strength used to manufacture of hollow block. The compressive strength tested on age 7, 14, 21 and 28 days with repetition as much as 5 times. Testing outcomes showed that hollow block manufacture with aggregate percentages in 20 % sand + 60 % bottom ash + 20 % fly ash has compressive strength 24.15 kg/cm2 and included to IV quality and its product may be utilized for non-structural wall. TCLP test showed that hollow block using fly ash and bottom ash are classified as B3 waste has a test value  below the quality standards of established by the government.Abu batubara (fly ash dan bottom ash) merupakan limbah yang dihasilkan oleh industri yang menggunakan  bahan bakar batubara sebagai sumber energi. Pada saat ini industri tekstil di Kota Pekalongan telah menggunakan bahan bakar batubara. Limbah pembakaran batubara bila tidak ditangani dengan serius berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah pembakaran batubara dalam pembuatan bata beton berlobang. Penelitian ini menggunakan metoda eksperimen pembuatan mortar kubus 5 cm x 5 cm x 5 cm dan bata beton berlobang 10 cm x 19 cm x 39 cm. Komposisi campuran mortar kubus 1 PC : 8 agregat (pasir+abu batubara) dengan persentase agregat sebanyak 4 variasi. Persentase agregat dengan kekuatan tekan tertinggi digunakan dalam pembuatan bata beton berlobang. Pengujian kekuatan tekan pada umur 7, 14, 21 dan 28 hari dengan ulangan sebanyak 5 kali. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bata beton berlobang dengan persentase agregat 20 % pasir + 60 % bottom ash + 20 % fly ash mempunyai kekuatan tekan sebesar 24,15 kg/cm2 termasuk kedalam mutu IV dan dapat digunakan untuk dinding non struktural. Uji Total Characteristic Leaching Procedure (TCLP) memperlihatkan bahwa bata beton berlobang yang menggunakan fly ash dan bottom ash yang tergolong limbah B3 mempunyai nilai uji dibawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. 
FAKTOR- FAKTOR UTAMA PEMBENTUK PREFERENSI MASYARAKAT MENYIKAPI PELEBARAN JALAN H.M. SUWIGNYO TERHADAP PROSPEK ASET PRIBADI Hidayat, Muhammad; Kurniadi, Fery
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The broadening of H.M. Suwignyo Street have triggered the street corridor expansion. The propertys owners take benefit from the increasing of asset value. They will have choices to manage and determine preferences for the asset. This study was aimed to find out the prominent factors that determine assets owner preferences toward street broadening consequences. In first phase, analysis is performed qualitatively to construct the quantitative instruments for next research. Data are gathered from observation and semi-structured interview to informans. Data are categorised and codified  with the result as initial hypotheses, which indicate community preferences to employ the property asset. The result showed that the social strata of assets owner; asset tangible and intangible value comprehension; economic motif; gentrification; and the intervening factor/ government role are the prominent factors.Pelebaran jalan H.M. Suwignyo memicu perkembangan pesat di koridor jalan tersebut. Pemilik rumah dan lahan merasakan manfaat dengan kian meningkatnya nilai aset mereka. Mereka akan dihadapkan kepada pilihan-pilihan didalam pengelolalaannya dan akan disikapi secara berbeda oleh pemilik aset sesuai dengan pilihan dan apa yang lebih disukai (preferensi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor utama pembentuk preferensi Pemilik Aset terkait dampak pelebaran jalan H.M. Suwignyo. Pada tahap pertama, analisis dilakukan secara kualitatif untuk mengembangkan instrumen kuantitatif di penelitian selanjutnya. Data diambil dengan cara observasi dan wawancara semi terstruktur terhadap beberapa informan. Selanjutnya akan dikategorikan dan dikodifikasi sedemikian rupa sehingga di dapat konstruksi masalah (hipotesis awal) terkait dengan fenomena pilihan masyarakat dalam mendayagunakan aset propertinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stratafikasi sosial pemilik aset; pengetahuan terhadap nilai tangible dan intangible aset, tingkat pemanfaatan aset untuk motif ekonomi; gentrifikasi; dan intervening factor / peran Pemerintah adalah faktor-faktor utama pembentuk preferensi masyarakat.

Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue