cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
PENAMBAHAN LIMBAH ABU BATU BARA PADA BATAKO DITINJAU TERHADAP KUAT TEKAN DAN SERAPAN AIR Pangestuti, Endah Kanti
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increase of compression strength of hollow block can be conducted with addition cooal waste with ash fly. This research use mixture composition with comparison of materials compile hollow block which consist of pozolan portland cement, fly ash and sand. The comparison with  composition fly ash equal to 0 is% ( normal), 10%, 20%, 30%, 40%, 70% to cement weight. Sampel in the form of hollow block of the size 40 x cm 10 x cm 20 cm. Sampel in the form of batako of the size 40 x cm 10 x cm 20 cm. Experiment of various ratio of cement, sand and fly ash to make hollow block showed that subtitution of cement with fly ash 10 to 30 percent increased hollow block strength to 4,5 to 19,8 percent, while at  addition fly ash  to exceed 30% strength hollow block down progressively. Addition fly ash at pozolan portland cement make hollow bock become more waterproof because absorption value irrigate batako become lower progressively. Absorption at hollow block with fly ash 0% is equal to 12,55%, at 10% equal to 12,45%, at 20% equal to 11,92%, at  30% equal to 11,48%, at 40% equal to 11,07%, at  70% equal to 8,81%Peningkatan kuat tekan batako dapat dilakukan dengan penambahan limbah batu bara yang dikenal dengan abu terbang. Penelitian ini menggunakan   komposisi   campuran   dengan   perbandingan   berat bahan susun batako yang terdiri dari semen portland pozolan, abu terbang dan pasir. Perbandingan tersebut adalah dengan komposisi abu terbang sebesar 0% (normal), 10%, 20%, 30%, 40%, 70% terhadap berat semen. Sampel berupa batako dengan ukuran 40 cm x 10 cm x 20 cm. Dari hasil percoban dengan berbagai perbandingan antara semen, pasir dan abu batubara yang ditambahkan Dilihat dari kuat tekan penambahan abu batubara sebagai pengganti semen sebanyak 10 % sampai 30 % mampu meningkatkan kuat tekan produk batako 4,5 % dan 19,8 % dibanding tanpa penambahan abu batubara, sedangkan pada penambahan abu terbang melebihi 30% kuat tekan batako semakin menurun. Penambahan abu terbang pada  bahan ikat semen portland pozolan membuat batako menjadi lebih kedap air  karena nilai serapan air batako  menjadi  semakin  lebih  rendah.  Serapan  air  pada  batako dengan abu terbang 0% adalah sebesar 12,55%, pada persentase 10% sebesar   12,45%,   pada   persentase   20%   sebesar   11,92%,   pada persentase   30%  sebesar  11,48%,  pada  persentase  40%  sebesar 11,07%,  pada persentase 70% sebesar 8,81%.
PENGARUH KEHIDUPAN SOSIO-KULTURAL TERHADAP SPASIAL PERMUKIMAN DI KELURAHAN SEKARAN SEBAGAI DAERAH PINGGIRAN KOTA SEMARANG Prihanto, Teguh
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aims of This research are: (1) to explain The Government’s policies which applied to Sekaran Village as urban fringe area; (2) to explain the influences of Unnes Campus to the socio-cultural life of Sekaran peoples; (3) to explain the physical configuration of spatial settlements of Sekaran Village since Unnes Campus existed. The researcher applied rationalistic which based on the grand concept that may be as the grand theory. The design of rationalistic approach built from the results of previous research, the contextual theories and the expert’s minds. The results of this research are generally describes that Sekaran Village as the hinterland of Semarang City is the sprouting up area as well as the city agglomeration. That was regulated by Detailed Urban Plan 2000-2001 section 13 of Semarang City which located on Part of Urban Region VIII. One of the regulations is determined that Sekaran Village as an higher educational area. The specific results of this research are: (1) There is a socio-cultural change, from mutual cooperation to profit; (2) Based on the typological study, the first building is the owner house and the last is the commercial building which grew up nearest the main street since 1990; (3) Commonly, the functions of spatial are: external yard, internal yard, owner  house, boarding house, shop and toilet; (4) In hierarchy, the outer side is a shop and the inner side is a boarding house; (5) The communal places existed in a boarding house terrace and a owner house terrace (6) There are open accesses between owner house, boarding house and external yard which has more less owner’s control.Tujuan penelitian ini adalah: (1) menjelaskan penerapan kebijakan Pemerintah terhadap spasial Kelurahan Sekaran sebagai daerah pinggiran kota; (2) menjelaskan pengaruh Kampus Unnes terhadap kehidupan sosio-kultural masyarakat Sekaran; dan (3) menjelaskan pola perubahan spasial permukiman Kelurahan Sekaran sejak keberadaan Kampus Unnes. Peneliti menggunakan pendekatan rasionalistik yang bertolak dari konstruksi “grand concept” yang mungkin sudah merupakan “grand theory”. Desain penelitian rasionalistik yang bertolak dari kerangka teori, dibangun dari pemaknaan hasil penelitian terdahulu, teori-teori yang dikenal dan pikiran para pakar. Kesimpulan umum menggambarkan bahwa Kelurahan Sekaran merupakan kawasan tumbuh kembang seiring terjadinya aglomerasi Kota Semarang. Hal tersebut telah diatur dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota  (RDTRK) Tahun 2000 – 2010  pasal 13 Kota Semarang Bagian Wilayah Kota (BWK) VIII, yang salah satunya sebagai kawasan perguruan tinggi. Kesimpulan khusus penelitian adalah: (1) Adanya perubahan sosial dari kehidupan gotong royong ke arah profit; (2) Dari kajian tipologi bangunan ditemukan bahwa: bangunan pertama berfungsi sebagai rumah hunian pemilik dan yang terbaru berfungsi sebagai tempat usaha komersial yang tumbuh mendekati jalan utama sejak Tahun 1990an; (3) Secara umum, fungsi spasial permukiman berupa: halaman luar, rumah pemilik, rumah kos, kios, halaman dalam dan kamar mandi; (4) Hierarki ruang terluar adalah kios yang terdalam adalah rumah kos; (5) Ruang komunal berada di teras rumah kos dan teras rumah pemilik; (6) Terbukanya akses antara pemondok dan lingkungan luar secara tidak langsung memberikan keleluasaan kontrol pemilik kos.
EKSPLORASI MODEL TINGKAT KECELAKAAN LALU-LINTAS JALAN TOL DENGAN TEKNIK GLM (GENERALIZED LINEAR MODELING) Haryadi, Bambang
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objectives of the presents study was to explore mathematical models that could be used to estimate the number of accidents on inter-urban toll roads. Preditive models were developed by relating traffic exposure (average daily traffic and road section length) with the number of accidents per unit of time.Accident, roadway section and traffic volume data were obtained from Jagorawi, Jakarta-Cikampek, padaleunyi, and palikanci toll road. Accident rate models were developed from those data using  generalized linear modelling (GLM) techniques. The conclusions from the study were: (1) linier regression model was not appropriate to be used to predict accidents number, because accident occurence did not follow normal distribution, (2) Poisson regression possessed accident occurence characteristics: descrete, rare and random, and (3) Negative Binomial distribution was more appropriate to represent accident occurence phenomenon with overdispersion.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi model matematis yang dapat digunakan untuk meramalkan jumlah kecelakaan, pada suatu ruas jalan tol antar kota. Model prediksi dikembangkan dengan menghubungkan paparan lalulintas, yang dinyatakan dengan volume lalulintas dan panjang ruas jalan, dengan keselamatan, yang dinyatakan dalam jumlah kecelakaan per satuan waktu. Data jalan, kecelakaan, dan lalulintas selama dua tahun, diambil dari jalan tol antar kota Jagorawi, Jakarta-Cikampek, Padaleunyi dan Palikanci. Model tingkat kecelakaan dikembangkan dari data tersebut dengan teknik generalized linear modelling (GLM), dan dikalibrasi dengan menggunakan teknik-teknik statistik. Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah: (1) Model regresi linier dengan distribusi normal tidak memadai untuk memprediksi kecelakaan; tingkat kecelakaan tidak terbukti mengikuti distribusi normal; (2) Penggunaan regresi Poisson lebih mencerminkan karakteristik kejadian kecelakaan: diskrit, acak, langka;  dan (3) Distribusi Binomial Negatif paling baik merepresentasikan kejadian kecelakaan dengan adanya gejala overdispersi pada data. 
FUNNY HAND PUPPET STORY TELLING SEBAGAI METODE PENGENALAN BENCANA LONGSOR Kusumawardani, Rini; Andiyarto, Hanggoro Tri Cahyo; Fansuri, Muhammad Hamzah; Anggraini, Kurnia Dwi; Mindiastiwi, Tigo
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia, as a tropical region, shows high potential for rainfall. At highlands, enormous rainfall triggers both soil and coastal erosion. Landslides are frequently occured in Semarang in which some of whose areas are indicated as highlands with unstable soil. This study was carried out in DeliksariSukerejo, Gunungpati sub-district of Semarang. Various effort have been done to prevent the disaster such as socialization of preventing landslide given by government, private institutions, colleges, and non-governmental organizations. However, most of those method only involve for the adults, involving of the children in effort to understandthe disaster mitigation concept are less. One of the effort used was FHP (Funny Hand Puppet) Story Telling. This method tried to draw children’s attention by handy-puppets shows, so the the purpose which is hoped could be well-transferred. As many as 24 children attended this shows. From the pre-test, it was gained 84.3% of those who did not know simple ways to avert the landslide. After the socialization had been given, post-test results showed 94.8% of the children significantly understood the danger of landslide. From the results depicted the increasing of landslide awareness as 10.5%. All respondent were children between 4-13 years old.This method provided broader education about landslide happening in their surroundings.  Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi curah hujan yang tinggi. Pada daerah perbukitan, curah hujan yang tinggi merupakan faktor pemicu terjadinya longsoran baik pada tanah maupun batuan. Bencana longsor juga sering terjadi di kota Semarang yang sebagian wilayahnya perbukitan dengan kondisi tanah yang tidak stabil. Dilaksanakan penelitian yaitu di kawasan Dukuh Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati Semarang. Berbagai upaya telah dilakukan dalam pencegahan bencana tersebut, misalnya sosialisasi pencegahan bencana longsor yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan LSM. Kebanyakan upaya tersebut hanya melibatkan orang dewasa, sehingga anak-anak belum memiliki pemahaman sejak dini mengenai lingkungan tempat tinggal mereka yang rawan longsor. Salah satu metode yang digunakan adalah FHP (Funny Hand Puppet) Story Telling. Metode ini mencoba menarik perhatian anak-anak dengan menggunakan boneka tangan yang ditujukan kepada anak-anak sehingga pesan yang dibawa dapat tersampaikan dengan baik. Sebanyak 24 anak-anak yang mengikuti metode ini didapatkan dari hasil pre test 84,3% belum mengetahui cara sederhana menangani bencana longsor. Hasil dari post testmenunjukkan bahwa 94,8% anak-anak menjadi lebih paham. Dengan hasil tersebut anak-anak mengalami peningkatan sebesar 10,5%. Melalui metode ini, sesungguhnya anak-anak mendapatkan pendidikan yang jauh lebih luas tentang bencana longsor yang benar-benar terjadi di tempat mereka tinggal. 
KAJIAN TEKNIS PERENCANAAN KORIDOR JALAN PANDANARAN SEMARANG -, Diharto
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandanaran Road is one of corridor the golden triangle area of trade and services the city of Semarang, is a road that is quite important as a connecting node Simpang Lima and node Tugu Muda. The problems that occurred in the corridor Street Pandanaran including: the high intensity of traffic disrupt the ease and convenience of pedestrians, lack of greenery and arrangement of green belt, Cadger are concentrated at the center by-by, wide walkways between 2.1 - 3.8 m, and yet the (gate) Pandanaran Road corridor with the Simpang Lima area and Tugu Muda. The concept of using a futuristic design, green building architecture, and sustainable. Design approach based on the Regulation of the Director General of Highways, reviews building and environmental planning Regions Simpang Lima Semarang City, and field measurement. The result of the design is the arrangement of roads 14 m wide (four-lane two-way), 2 m road shoulder (as a bike path), the arrangement of pedestrian width 3 m, the addition of greenery, the addition of pedestrian lighting, street lighting additions, adding bookmarks, adding the sitting group , The arrangement of the panel box, and the gate area.Jalan Pandanaran merupakan salah satu koridor kawasan segitiga emas perdagangan dan jasa Kota Semarang, merupakan jalan yang cukup penting sebagai menghubungkan simpul Simpang Lima dan simpul Tugu Muda. Permasalahan yang terjadi di koridor Jalan Pandanaran diantaranya : tingginya intensitas lalu lintas mengganggu kemudahan dan kenyamanan pejalan kaki, kurangnya penghijauan dan penataan jalur hijau, Pedagang Kaki Lima terkonsentrasi di depan pusat oleh-oleh, lebar jalur pejalan kaki antara 2,1 - 3,8 m, dan belum adanya (gerbang) koridor Jalan Pandanaran dengan kawasan Simpang Lima dan Tugu Muda. Konsep desainnya menggunakan futuristik, green building architecture, dan sustainable. Pendekatan desain mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Bina Marga, review Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Simpang Lima Kota Semarang, dan pengukuran lapangan. Hasil desain adalah penataan lebar jalan 14 m (empat lajur dua arah), bahu jalan 2 m (sebagai jalur sepeda), penataan lebar pejalan kaki 3 m, penambahan penghijauan, penambahan lampu pedestrian, penambahan lampu penerangan jalan, penambahan penanda, penambahan sitting group, penataan box panel, dan gerbang kawasan.
ANALISIS ASAL MULA ARSITEKTUR BANJAR STUDI KASUS : ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMAH BUBUNGAN TINGGI Mentayani, Ira
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to find out germinal of traditional Banjarese architecture in South Kalimantan. Using descriptive analysis method based on existing literature and the empirical evidence, hence it can be found germinal of  the traditional Banjarese architecture. Architecture that lifted as a comparison  is a traditional  architecture of Rumah Bubungan Tinggi (House of High Cam). Rumah Bubungan Tinggi is a traditional Banjarese architecture coming from  architecture of Malay that exists on coastal area. It has been formed far before the Banjarese formed itself. In its growth, the culture of  Dayak dan Java tribes and including Islam had also influenced. Physically, the environmental condition become primary factor of its physical form.Penelitian ini bertujuan untuk menemukenali asal mula arsitektur tradisional Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Dengan metode analisis deskriptif berdasar literatur yang ada dan bukti empiris, maka dapat ditemukankenali asal mula arsitektur Masyarakat Banjar. Arsitektur yang diangkat sebagai perbandingan adalah arsitektur tradisional Rumah Bubungan Tinggi. Rumah Bubungan Tinggi adalah arsitektur tradisional Masyarakat Banjar yang berasal dari arsitektur masyarakat Melayu yang ada di pesisir, yang telah terbentuk jauh sebelum terbentuknya Masyarakat Banjar. Dalam perkembangannya, kebudayaan Suku Dayak dan Jawa, serta ajaran Islam turut pula mempengaruhi. Secara fisik, kondisi lingkungan alam menjadi faktor utama bentuk/wujud fisik.
IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA SEMARANG Agung Nugradi, Didik Nopianto
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

According to the regulation in Indonesia, Urban Green  Open Space much covered to 30% of  the city area and  20% much be for public space. The aim of this study is for identification Urban Green Open Space in Semarang City. The method is joint for primary data and secondary data. Interview with questioner and observation is for primary data, and mapping  documentary is for secondary data. The result of this study indicate Urban Green Open Space in Semarang City covered   23,146.70 ha or  61.94 %, so this is suitable to the regulation. Further, for Public Green Open Space, there are not suitable to the regulation, because Semarang City has only 1,483.32  ha  or just only 3.97 %. The recommendation is, the Government of Semarang City much increase more Public Green Open Space  for  area   5.990,76  ha, so that covered about 20% city area.  Public Green Open Space could  developed  from Private Green Open Space, because there are many  areas all around Semarang City still under developed. Development of Public Green Open Space in Semarang City  consist of : Urban Forestry, Wayside Trees,  River Green Belt, Beach Green Belt, Public Recreation Area, and Public Park and Square.Berdasarkan ketentuan dari Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ditetapkan luas Ruang Terbuka Hijau (RTH)  adalah sebesar 30% dari luas kota dan 20% dari RTH tersebut harus bersifat publik. Penelitian ini bertujuan  mengidentifikasi  Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang. Metoda yang digunakan  untuk mendapatkan data adalah menggabungkan data primer dari kuesioner, pengukuran lapangan dengan data sekunder yang diperoleh dari dokumen buku dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas RTH di Kota Semarang mencapai 23.146,70 ha atau 61,94 % dari luas kota, ini berarti telah memenuhi ketentuan Undang-undang. Untuk RTH publik, Kota Semarang  belum memenuhi ketentuan, karena RTH publik yang ada hanya seluas 1.483,32  ha atau hanya sebesar 3,97 % dari luas kota. Saran yang diajukan adalah agar Pemerintah Kota Semarang perlu segera  merencanakan penambahan RTH publik sebesar minimal   5.990,76  ha untuk mencapai RTH publik Kota Semarang mencapai 20%. Pengembangan RTH publik dapat dilakukan pada RTH yang semula bersifat privat yang  memiliki luas  relatif besar, yaitu  sebesar  44,7 % dari luas kota. Pengembangan RTH publik ini dapat berupa hutan kota, lapangan bermain, lapangan sepak bola, tempat rekreasi publik dan pemakaman umum. Pengembangan RTH publik juga dapat dilakukan pada sempadan pantai dan sungai, dengan melakukan pengelolaan yang memadai.
DESAIN BANGUNAN PENANGKAP SEDIMEN DENGAN TEKNOLOGI BAFFLE (SEKAT) Hanwar, Suhendrik; Herdianto, Revalin
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suspended load transported by irrigation water should be inhibited to enter irrigation channels and farms due to its effects on channel and land aggradations. Current sediment traps are perceived to be costly in land requirement and construction cost. This research is intended to obtain an optimum length: width ratio for sediment traps, in order to minimize land requirement by extending their length without extra land. Experiment was conducted by introducing 1, 3, 5, and 7 cross baffles, and 0, 1, 2, and 3 elongated baffles into the model with 5 discharge for each configuration. From the experiment, it was found that the optimum sedimentation was gained by introducing 5 cross baffles into the current model, since the increment in discharge does not significantly increase sediment outcome.Muatan sedimen layang yang terbawa oleh air irigasi harus dicegah memasuki jaringan irigasi dan lahan karena dampaknya yang merugikan terhadap pendangkalan saluran dan peninggian lahan. Kantong lumpur yang dipakai saat ini dirasakan tidak efisien dalam hal biaya dan lahan. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh perbandingan panjang:lebar yang ideal untuk kantong lumpur, untuk meminimalkan kebutuhan lahan dengan cara meningkatkan panjangnya tanpa menambah luas lahan. Penelitian dilakukan dengan menambahkan 1, 3, 5, dan 7 sekat arah melintang,dan 1, 2, dan 3 sekat arah memanjang, dengan perlakuan 5 debit untuk masing-masing sekat. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pengendapan sedimen yang optimum diperoleh dengan 5 sekat melintang, dimana peningkatan debit tidak meningkatkan persentase sedimen yang lolos melalui sekat secara signifikan.
ANALISIS PANJANG JALAN TERHADAP KONSUMSI BBM PADA BAGIAN WILAYAH KOTA (BWK) I SEMARANG Handajani, Mudjiastuti; Muldiyanto, Agus; Paramita, Nur Indah; Permata, Aulia Nur
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fuel consumption is closely related with transportation, then when we conservation about efficiency of fuel consumption, we also must give attention for transportation system. The development of transportation system give impact for each region, such as air pollution and increase fuel consumption. Fuel consumption influenced by several factors, it is number of people, length of roads, and road conditions. Number of people for each region depend of number of births, number of deaths and migration. Length of roads depend from needs of the transportation facilities and access for mobilizing. Road conditions influenced by several factor, such as: planing of road, implementation of road construction, road used and natural condition. The growth length of roads less than quantity of vehicles, it means there are over weight on the road that made damage on the road. Correlation analysis from length of road, number of people and road condition with fuel consumption needed for give information to public about impact of it. . Highest influence of fuel consumption is length of road (R2= 0,804). Number of people also give high influence for fuel consumption (R2= 0,768). While influence for road conditions on fuel consumption is 0.617.Konsumsi BBM erat hubungannya dengan sektor transportasi, sehingga dalam memperhatikan efisiensi konsumsi BBM, hendaknya diperhatikan pula sistem transportasinya. Perkembangan sistem transportasi dapat berdampak negatif pada suatu wilayah, antara lain tercemarnya suatu lingkungan, dan kebutuhan bahan bakar yang meningkat. Kebutuhan bahan bakar dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya jumlah penduduk, panjang jalan, dan kondisi jalan. Jumlah penduduk tiap tahun sebuah wilayah tergantung pada jumlah kelahiran, kematian dan migrasi. Panjang jalan suatu wilayah tergantung pada tingkat kebutuhan penduduk akan sarana transportasi dan akses dalam bermobilisasi. Faktor yang mempengaruhi kondisi jalan antara lain: faktor perencanaan jalan, pelaksanaan pembuatan jalan, penggunaan jalan dan kondisi alam. Pertumbuhan jalan jauh lebih kecil daripada tingkat pertumbuhan kendaraan, hal ini berarti menunjukkan terjadinya pembebanan yang belebihan pada jalan, sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan pada jalan. Analisa hubungan panjang jalan, jumlah penduduk dan kondisi jalan terhadap konsumsi BBM dibutuhkan agar masyarakat tahu seberapa besar pengaruh ketiga faktor tersebut dengan peningkatan konsumsi BBM. Pengaruh paling tinggi terhadap konsumsi BBM adalah panjang jalan, (R2= 0,804). Jumlah penduduk juga berpengaruh kuat dalam konsumsi BBM (R2= 0,768). Sedangkan pengaruh kondisi jalan terhadap konsumsi BBM yaitu 0,617
EVALUASI GEOTEKNIK KELONGSORAN LERENG 23 JANUARI 2014 DI PERUMAHAN TRANGKIL SEJAHTERA GUNUNGPATI SEMARANG Cahyo A, Hanggoro Tri; Nugroho, Untoro; Widodo, Aris
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trangkil Housing Welfare and the New Trangkil - Sukorejo Village, District Gunungpati Semarang experiencing heavy rains triggered landslide Continuous Semarang City area since Wednesday (22/01/2014) until Thursday (01/23/2014). Successive landslides occurred early Thursday until 07.30. For 15 years Trangkil Sejahtera housing residents live, the worst avalanche of new events happening this time. Seven houses in Trangkil Sejahtera RT 3 RW 10 damaged by the landslide that occurred. While in New Trangkil Housing RT 6 RW 10, 32 houses were severely damaged and even some of them to the ground. The sliding slope in Housing Trangkil Sejahtera and Trangkil New - Village Sukorejo, District Gunungpati Semarang on January 23, 2014 is one of many landslide in a residential area in the district Gunungpati Semarang declared as landslide prone areas by the Directorate of Environmental Geology, Bandung. It is necessary for geotechnical evaluation to support the effectiveness of the slope reinforcement design selection, the necessary understanding of the physical and mechanical properties of soil based on soil test series. Barrow unfavorable, changes in land use, drainage systems are poorly integrated and rain triggered avalanches are the main factors causing the landslide. These four factors are interrelated core is Trangkil Sejahtera Housing Gunungpati Semarang infrastructure is not well prepared to anticipate landslides.Perumahan Trangkil Sejahtera dan Trangkil Baru – Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati Semarang mengalami kelongsoran yang dipicu hujan deras yang  terus mengguyur wilayah Kota Semarang sejak Rabu (22/1/2014) hingga Kamis (23/1/2014). Longsor secara beruntun terjadi Kamis dini hari sampai pukul 07.30. Selama 15 tahun Perumahan Trangkil Sejahtera ditinggali warga, peristiwa longsor terparah baru terjadi kali ini. Tujuh rumah di Trangkil Sejahtera RT 3 RW 10 rusak akibat kelongsoran yang terjadi. Sedangkan di Perumahan Trangkil Baru RT 6 RW 10, 32 rumah mengalami rusak parah bahkan beberapa di antaranya rata dengan tanah. Terjadinya kelongsoran lereng di Perumahan Trangkil Sejahtera dan Trangkil Baru – Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati Semarang pada tanggal 23 Januari 2014 merupakan satu dari sekian banyak kejadian longsor pada daerah pemukiman di Kecamatan Gunungpati Semarang yang dinyatakan sebagai daerah rawan longsor oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Bandung. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi geoteknik untuk menunjang efektivitas pemilihan desain perkuatan lereng, diperlukan pemahaman tentang sifat fisik dan mekanis dari tanah berdasarkan serangkaian pengujian tanah. Timbunan tanah yang kurang baik, perubahan tata guna lahan, sistem drainase yang kurang terintegrasi dan terjadinya hujan pemicu longsoran adalah faktor utama penyebab terjadinya kelongsoran. Keempat faktor tersebut saling berkaitan yang intinya adalah Perumahan Trangkil Sejahtera Gunungpati Semarang tidak dipersiapkan secara baik infrastrukturnya untuk mengantisipasi bencana longsor.

Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue